Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kultur jaringan merupakan salah satu metode perbanyakan tanaman secara vegetatif.

Kultur jaringan tertua dilakukan pada biji anggrek dengan tujuan untuk mengecambahkannya dalam media yang kaya nutrisi karena biji dari anggrek tidak mempunyai cadangan makanan. Kultur jaringan terus berkembang dari mengkulturkan biji berkembang dengan mengkulturkan jaringan dan terus berkembang hingga mampu mengkulturkan satu sel dari tanaman. Penggunaan kultur jaringan mempunyai kelebihan yaitu mampu memproduksi bibit yang seragam dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relatifr singkat. Oleh karena itu kultur jaringan sering dijadikan solusi sebagai metode perbanyakana tanaman dan juga dapat digunakan sebagai suatu metode penyimpanan plasma nutfah yang tidak membutuhkan temapat yang besar. Keberhasilan dari kultur jaringan sangat bergantung dari ketepatan konsentrasi nutrisi yang berada di dalam media kultur. Ketepatan konsentrasi ini menyangkut pada ketersediaan nutrisi bagi eksplan tanaman. Kelebihan nutrisi dari tanaman akan menyebabkan tanaman mengalami keracunan unsur hara. Oleh karena itu, pembuatan larutan stock dan sterilisasi media dianggap penting untuk diketahui sebagai sarana penenunjang kebutuhan informasi akan kultur jaringan. 1.2 Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah : a. Mengetahui prosedur pembuatan larutan stock mikro dan makro b. Mengetahui prosedur sterilisasi alat dan media kultur c. Mengetahui langkah-langkah dalam pembuatan media kultur jaringan d. Mengetauhi cara menanam eksplan pada media e. Melakukan pengamatan perakaran pada eksplan 1.3 Waktu dan Tempat Praktikum dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 10 April 2012 bertempat di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Botani Tanaman Anggrek Dendrobium adalah salah satu kelompok terbesar kedua di antara genus dalam keluarga anggrek (Orchidaceae), kurang lebih 1600 spesies tersebar mulai dari Jepang, Korea, Malaysia, Indonesia, New Guinea dan Australia (Teo, 1979 dalam Jenimar, 1990). Anggrek dendrobium termasuk anggrek epifit memiliki sifat hidup menumpang tetapi tidak merugikan tanaman yang ditumpangi. Akar tanaman anggrek berfungsi sebagai tempat menempelkan tubuh tanaman pada media tumbuh. Akar anggrek epifit mempunyai lapisan velamen yang berongga. Lapisan ini berfungsi untuk memudahkan akar dalam menyerap air hujan yang jatuh di kulit pohon media tumbuh anggrek. Di bawah lapisan velamen terdapat lapisan yang mengandung klorofil. Akar anggrek epifit yang berambut pendek atau nyaris tak berambut. Pada anggrek terestrial (jenis anggrek tanah),

akar mempunyai rambut yang cukup rapat dan cukup panjang. Fungsi rambut akar ini adalah untuk menyerap air dan zat organik yang ada di tanah (Iswanto, 2002). Anggrek dendrobium berbatang ganda yang tumbuh ke samping dari rhizome yang menjalar ke medium tempat tumbuh. Pada ruas-ruas rhizome atau pangkal batang terdapat tunas tidur yang dapat tumbuh menjadi tanaman baru dan batangnya di sebut bulb atau pseudobulb (Ginting, 1990). Bentuk daun tanaman anggrek menyerupai jenis tanaman monokotil pada umumnya, yakni memanjang seperti pedang dan ukuran panjang daunya bervariasi. Selain itu, daun juga mempunyai ketebalan berbeda tergantung jenisnya (Ashari, 1995). Anggrek dendrobium yang tumbuh secara simpodial berbunga saat batang semunya telah dewasa dan dengan cadangan makanan yang memadai sehingga pembungaannya terpacu. Begitu selesai mengalami proses pembungaan, segera tumbuh tunas vegetatif baru yang akan berubah menjadi bunga setelah tunas serabut dewasa. Proses pembungaan dapat terpacu lebih cepat jika jumlah batang semu dan daun dendrobium dewasa sudah cukup banyak (Sandra, 2001). Setelah bunga diserbuki dan dibuahi, sekitar 3-9 bulan kemudian muncul buah yang sudah tua. Kematangan buah sangat tergantung pada jenis anggreknya. Misalnya, pada dendrobium akan matang dalam 3-4 bulan. Pada anggrek vanda, umumnya buah matang setelah 6-7 bulan. Sementara itu, pada anggrek cattleya, buah baru matang setelah 9 bulan. Buah anggrek merupakan buah lentera, artinya buah akan pecah ketika matang. Bagian yang membuka adalah bagian tengahnya, bukan di ujung atau pangkal buah. Bentuk buah anggrek berbeda-beda, tergantung jenisnya (Iswanto, 2002). 2.2 Syarat Tumbuh Tanaman 2.2.1 Iklim Tanaman anggrek dapat tumbuh pada berbagai ketinggian tempat. Di India, tanaman ini dapat tumbuh mulai dari 0-5000 m di atas permukaan laut. Jenis anggrek yang tumbuh pada dataran rendah (0-300 m dpl) antara lain Vanda roxburghii, Acampe praemorsa. Sedangkan jenis anggrek dataran tinggi (ketinggian 3500-5000 m dpl) yang tumbuh di pegunungan Himalaya yaitu jenis Bulbophyillum retusiusculum, Habenaria cummisiana, Herminium longilobatum (Ashari, 1995). Secara umum dapat dikatakan bahwa anggrek dendrobium memerlukan sinar sebanyak 50-60 %; ini berarti bahwa jenis anggrek tersebut menyukai tipe sinar yang agak teduh. Anggrek dendrobium merupakan jenis anggrek epifit, sehingga keteduhan yang diperlukannya diperoleh dengan selalu berada di bawah dedaunan pohon yang ditumpanginya tersebut (Gunadi, 1985). Suhu maksimum untuk anggrek ialah 40 0 C dan minimum 10 0 C. Suhu berhubungan erat dengan intensitas cahaya dan mempengaruhi proses asimilasi. Intensitas cahaya yang tinggi akan lebih cepat meningkatkan suhu. Proses asimilasi pada anggrek akan meningkat melampaui titik optimumnya. Pembungaan jenis anggrek tertentu dipengaruhi oleh suhu malam hari kira-kira 210 C. Anggrek Cymbidium sp yang berbunga besar membutuhkan suhu malam 15-170 C. Pada dendrobium, suhu malam yang tinggi menyebabkan terbentuknya anakan pada ujung batang (Ginting, 1990). Tanaman anggrek pada umumnya membutuhkan kelembaban cukup tinggi yang disertai dengan kelancaran sirkulasi udara. Kelembaban nisbi (RH) yang dibutuhkan tanaman anggrek berkisar antara 60-80 %. Fungsi kelembaban yang tinggi ini antara lain untuk menghindari proses respirasi atau penguapan yang berlebihan (Iswanto, 2002).

1.

2. 3. 4. 5.

2.2.2 Tempat Tumbuh Berdasarkan habitatnya, anggrek dibedakan menjadi lima jenis, yaitu : Anggrek epifit, yakni anggrek yang tumbuh menumpang pada tanaman lain tanpa merugikan tanaman yang ditumpangi (tanaman inang). Anggrek epifit membutuhkan naungan dari cahaya matahari. Contohnya, anggrek dendrobium, cattleya, oncidium, dan phalaenopsis. Anggrek semi-epifit. Anggrek ini tumbuh menumpang pada tanaman lain, namun akarnya menggantung sebagai akar udara. Contohnya, anggrek brassavola, epidendrum, laelia. Anggrek terrestrial, yakni anggrek yang tumbuh di atas tanah. Anggrek jenis ini membutuhkan cahaya matahari penuh dan cahaya matahari langsung. Anggrek litofit, yakni anggrek yang tumbuh pada batu-batuan. Contohnya, anggrek dendrobium dan phalaenopsis. Anggrek saprofit, yakni anggrek yang tumbuh pada media yang mengandung humus atau daundaun kering. Contohnya, Goodyera sp. (Iswanto, 2002). 2.3 Media Tumbuh Aklimatisasi Pertumbuhan tanaman anggrek baik vegetatif maupun generatif tidak hanya ditentukan oleh faktor genetik, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti cahaya, suhu, kelembaban, kadar O2 dan media tumbuh. Media tumbuh merupakan salah satu syarat penting yang perlu diperhatikan dalam budidaya anggrek, karena media berfungsi sebagai tempat berpijaknya tanaman, mempertahankan kelembaban dan tempat penyimpanan hara serta air yang diperlukan (Batchelor, 1981, dalam Wuryan, 2008). Dalam usaha pengembangan budidaya, salah satu syarat penting yang perlu diperhatikan adalah penggunaan media tumbuh. Media tumbuh yang baik harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu : tidak cepat melapuk, tidak menjadi sumber penyakit, mampu mengikat air dan zat-zat hara secara baik, mudah didapat dalam jumlah yang diinginkan dan murah, ramah lingkungan. Beberapa jenis media yang dapat digunakan untuk anggrek dendrobium antara lain : arang sekam, sekam padi, sabut kelapa, pakis, atau mos. Adapun keutamaan dari arang sekam yaitu : tidak lekas melapuk, tidak mudah ditumbuhi cendawan dan bakteri, sukar mengikat air dan miskin zat hara, hanya mengandung unsur karbon (C) saja sehingga penggunaannya harus diimbangi dengan pemberian unsure hara lain, daya tahan 2 tahun. Sedangkan pada sabut kelapa yaitu, mudah melapuk, mempunyai daya menyimpan air sangat baik sehingga perlu diatur penyiramannya, merupakan sumber kalium (K) (http://jakarta.litbang.deptan.go.id, 2008). Sekam bakar dikenal sebagai campuran media yang cukup baik untuk mengalirkan air, sehingga media tetap terjaga kelembabannya. Arang sekam atau sekam bakar adalah sekam yang sudah melewati proses pembakaran yang tak sempurna. Komposisi kimiawi dari arang sekam terdiri dari SiO2 dengan kadar 52% dan C sebanyak 31%. Sementara kandungan lainnya terdiri dari Fe2O3, K2O, MgO, CaO, MnO, dan Cu dengan jumlah yang kecil. Karakteristik fisik dari sekam bakar yaitu : berat yang sangat ringan dan kasar, membuat sirkulasi udara dan air dalam media tanam jadi lebih tinggi (http://tabloidgallery.wordpress.com, 2008). Yang dimaksud dengan media tunggal yakni penggunaan satu jenis bahan baku, diantaranya : humus andam, sekam mentah, atau serbuk sabut kelapa (cocopeat). Di tanah air, Dr. Benny Tjia, praktisi tanaman hias di Bogor, menggunakan media serbuk sabut kelapa. Serbuk sabut kelapa itu sanggup menahan air dalam jumlah banyak dan waktu lama. Struktur pori-porinya berkemampuan tinggi menangkap dan menahan air, apalagi coir dus (nama lainnya) mudah didapat dan harganya relatif murah. Umumnya derajat keasaman coir dust

mendekati 6. Pada kondisi hampir netral itu, unsur hara yang bisa diserap tanaman banyak tersedia, seperti nitrogen, kalsium, fosfor, dan sulfur (www.duniaflora.com, 2006). Penggunaan media campuran cenderung mendorong pertumbuhan anggrek menjadi lebih baik dibanding dengan media tunggal. Karena masing-masing media dapat saling mendukung. Campuran dua macam bahan dapat memperbaiki kekurangan sifat masing-masing bahan antara lain : kecepatan pelapukan, tingkat pelapukan, tingkat tersedianya hara dan kondisi kelembaban dalam media tanam (Ginting, 2008). Intinya, media harus bersifat menyimpan air dan tidak mudah memadat. Media padat menyebabkan air tergenang sehingga aerasi udara rendah. Gejala yang tampak, daun dan batang menjadi layu. Akar sehat biasanya berwarna putih dan memiliki rambut-rambut halus. Jika aerasi rendah, akar yang putih berubah jadi coklat lalu menghitam. Jumlah rambut akar berkurang bahkan tak ada. Padahal akar berfungsi untuk menyerap hara. Selain masalah aerasi, media padat juga mengundang bakteri dan cendawan penyebab busuk (www.duniaflora, 2008) 2.4 Teknik Kultur Jaringan Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional. Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah: Pembuatan media Inisiasi Sterilisasi Multiplikasi Pengakaran Aklimatisasi Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

1) 2) 3) 4) 5) 6)

Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas. Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril. Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar. Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri). Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif. 2.5 Keunggulan Teknik Kultur Jarimgan Keunggulan atau kelebihan teknik kultur jaringan pada tanaman adalah : Pengadaan bibit tidak tergantung musim Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif lebih cepat (dari satu mata tunas yang sudah respon dalam 1 tahun dapat dihasilkan minimal 10.000 planlet/bibit) Bibit yang dihasilkan seragam Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (menggunakan organ tertentu) Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah Dalam proses pembibitan bebas dari gangguan hama, penyakit, dan deraan lingkungan 2.6 Kekurangan Teknik Kultur Jaringan Secara rinci, kekurangan teknik kultur jaringan pada tanaman adalah : Bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap hama penyakit dan udara luar Bagi orang tertentu, cara kultur jaringan dinilai mahal dan sulit. Membutuhkan modal investasi awal yang tinggi untuk bangunan (laboratorium khusus), peralatan dan perlengkapan. Diperlukan persiapan SDM yang handal untuk mengerjakan perbanyakan kultur jaringan agar dapat memperoleh hasil yg memuaskan. Produk kultur jaringan pada akarnya kurang kokoh Lepas semua dari kendala-kendala tersebut diatas, kita harus mengakui bahwa teknik kultur jaringan sangat bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan, terutama untuk pengembangan bioteknologi.

1. 2. 3. 4. 5. 6.

1. 2. 3. 4. 5.

BAB III BAHAN DAN METODE

3.1 Alat a. Alat pembuatan larutan stock -Timbangan analitik - Sendok - Pipet - Erlenmeyer b. Alat pembuatan media tanaman - Timbangan analitik - Pipet - Scalpel - Ph meter - Gelas ukur - Gelas piala - Botol-botol kultur - Plastik pp 0.3 mm - Isolasi bening - Kertas label - Laminar air flow cabinet - Indikator pH c. Alat sterilisasi - Autoklaf 3.2 Bahan a. Bahan tanaman - Sub kultur/kalus anggrek dendro (Dedrobium sp) b. Bahan pembuatan larutan stock - Aquadest - Bahan kimia untuk nutrisi, vitamin, (NH4)2 SO4, MgSO4, MnSO4 c. Bahan pembuatan media tanam - Gula - Agar-agar - Aquadest - Larutan stock terdiri atas hara makro, hara mikro, vitamin - FeS04, Ca3(P04) d. Bahan-bahan lain - Alkohol 96% - Spirtus - Korek api

- dll

3.3 Metode a. Membuat larutan stock media - Menimbang bahan-bahan kimia yang telah dikalikan atau dijumlahkan menjadi beberapa kali konsentrasi. Untuk unsur hara makro kombinasinya adalah sebagai berikut : (NH4)2S04 = 5000 mg/5 gr MgS04 = 250 mg/2,5 gr Aquadest = 1000 ml/10 mg Untuk unsur hara mikro kombinasinya adalah sebagai berikut : MnS04 = 750 mg/7,5 gr Aquadest = 1000 ml/10 mg - Melarutkan bahan bahan tersebut kedalam aquadest dengan volume tertentu, misalnya 500 ml - Masukkan masing masing larutan kedalam botol yang sudah diberi label dan menyimpannya kedalam refrigerator atau pendingin. b. Membuat media kultur - Mengambil larutan stok hara mikro dan makro - Memasukkan larutan stok mikro sebanyak 10cc - Memasukkan larutan stock makro sebanyak 100cc - Memasukkan larutan FeS04 sebanyak 10cc - Memasukkan larutan Ca3(P04)2 sebanyak 200mg/0,2gr - Masukkan ke dalam bekerglass - Memasukkan gula sebanyak 20 gr, dan tunggu sampai larut - Mengukur pH dan mengkondisikannya menjadi 5,0 6,0 / 5,8 6,2 - Memasukkan agar sebanyak 8 gr/l - Mendidihkan larutan tersebut - Memasukkan larutan yang sudah jadi ke dalam botol kultur - Menutup botol kultur dengan plastik pp dan mengikatnya dengan isolasi bening - Memasukkan botol kultur tersebut ke dalam autoklaf untuk disterilkan
c. Melakukan sterilisasi Alat dan Media kultur - Sterilisasi alat dan media kultur jaringan dilakukan secara bersama-sama menggunakan autoklaf - Membungkus alat-alat kultur seperti petridish, pisau scalpel dan pinset dengan kertas. - Memasukkan botol-botol berisi media dan alat-alat kultur yang telah dibungkus kertas ke dalam autoklaf untuk proses sterilisasi pada suhu 121 C, tekanan 1,5 kg/cm2 selama 45 menit. - Menyimpan alat-alat kultur dalam LAF atau oven - Menyimpan media pada rak penyimpanan media yang bertujuan untuk mengantisipasi ada tidaknya kontaminasi pada media. Sehingga dapat dicegah penggunaan media yang telah terkontaminasi pada saat penanaman.

3.4 Cara Kerja - Mempersiapkan alat dan bahan media tanam

o Sebelum digunakan, alat dan bahan media disterilisasikan dulu kedalam LAF dengan sinar UV salama 60 menit - Melakukan penanaman kalus atau sub kultur o Cuci kedua tangan dengan air sampai benar-benar bersih kemudian bersihkan lagi menggunakan alkohol o Gunakan pelindung masker o Mempersiapkan tanaman kalus o Matikan UV pada LAF kemudian nyalakan lampu dan fan pada LAF o Bersikan bagian-bagian dinding pada LAF menggunakan alkohol o Sterilisasikan mulut botol dan tutup botol media tanam yang akan digunakan diatas api untuk menghindari kontaminasi o Sterilisasikan scalpel dengan membakar diatas api o Mengambil kalus dan menanam dimedia berikutnya dengan menggunakan scalpel o Rendam kembali scalpel yang telah digunakan kedalam alkohol o Sterilisasikan lubang dan tutup botol media yang sudah ditanami kalus diatas api o Tutup botol dengan rapat dan simpan di rak penyimpanan tanaman kultur o Matikan lilin api spirtus dan bersihakan kembali permukaaan/dinding LAF menggunakan alkohol o Matikan lampu dan fan o Tutup LAF dan nyalakan UV - Melakukan pengamatan selama 2 minggu, yang diamati : o Melakukan pengamatan 1 minggu sekali pada munculnya akar, jumlah akar, tunas dan daun o Melakukan deskripsi kalus pada akhir pengamatan - Melakukan perhitungan prosentase keberhasilan pada akhir pengamatan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Tabel 1. Rekapan kultur jaringan tanaman anggrek Macam Ulangan Saat Saat Saat eksplan muncul muncul muncul akar tunas daun

Jumlah akar

Jumlah tunas

Jumlah daun

% Keberhasilan

Anggrek

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

0%

4.2 Pembahasan Bahan yang digunakan dalam kultur jaringan ini adalah tanaman sub kultur atau kalus tanaman anggrek dendro yang diambil dari hasil eksplan tanaman anggrek yang dikulturkan. Dalam kultur kalus anggrek ini tingkat keberhasilan yang didapat adalah 0%, Kalus yang dikulturkan tidak ada yang hidup. Kalus yang ditanam menjadi kekuningan karena browning dan sebagian lagi mengalami kontaminasi oleh berbagai macam jamur. Kontaminasi oleh berbagai macam jamur disebabkan oleh sterilisasi yang kurang sempuna baik terhadap alat, bahan dan pelaku kultur itu sendiri. Sehingga mikroba-mikroba yang ada didalam maupun disekitar kalus berkembang biak di dalam media. Sterilisasi yang kurang sempurna kemungkinan besar terjadi pada saat pemindahan tanam kalus dalam botol kultur berikutnya. Apabila pemindahan kalus terlalu lama, maka mikroba yang ada disekitar kemungkinan terbawa sehingga peristiwa kontaminasi tidak dapat dihindarkan. Kalus anggrek tekontaminasi oleh jamur dan bakteri, pada kontaminasi jamur terlihat hifa putih hingga hitam (jenis yang berbeda) muncul pada media ataupun pada bahan tanam. Sedangkan kontaminasi oleh bakteri terlihat cairan kental di sekitar bahan tanam maupun media yang merupakan kumpulan massa bakteri. Kontaminasi yang terjadi disebabakan oleh faktor media ataupun bahan tanam yang sterilisasinya kurang sempurna. Sterilisasi yang kurang sempurna ini mengakibatkan tumbuhnya mikroba dalam media yang sangat kaya akan nutrisi. Sebagian dari kalus anggrek terkontaminasi oleh bakteri dan jamur sedangkan sebagian yang lain mengalami browning.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan a) Kegagalan dari kultur jaringan dari tanaman mawar ini dikarenakan terjadinya bowning, kontaminasi media tanam dan sifat bahan tanam yang agak sulit untuk menyerap media b) Kontaminasi yang terjadi karena sterilisasi dari bahan maupun media kurang sempurna sehingga mikrobia-mikrobia masih hidup dan berkembang di dalam botol kultur. c) Pemindahan tanam dari botol sub kultur ke botol sub kultur berikutnya terlalu lama sehingga mikroba yang ada disekitar akan masuk kedalam media dan berkembang didalam media.

d) Prosentase keberhasilan dari kultur jaringan mawar ini adalah 0% 5.2 Saran Saran yang bisa kami berikan adalah pada saat pemindahan tanam kalus jangan terlalu lama, hal ini mengakibatkan peluang masuknya mikroba kedalam media cukup besar. Proses sterilisasi alat dan bahan dilakukan sebaik mungkin, pada saat akan melakukan kegiatan kultur jaringan kondisi tubuh harus bersih

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Perbanyakan Mawar secara Stenting (Stek dan http://hortikultura.litbang.deptan.go.id. Diakses pada tanggal 22 Desember 2008. grafting).

Ibrahim,M.S.D., N. Nova K., Nurliani B. 2004. Studi Pendahuluan : Induksi Kalus Embriogenik Dari Eksplan Daun Echinaceae purpurea.Buletin TRO Vol. XV No. 2, 2004

1.

Aklimatisasi

Dalam proses perbanyakan tanaman secara kultur jaringan, tahap aklimatisasi planlet merupakan salah satu tahap kritis yang sering menjadi kendala dalam produksi bibit secara masal. Pada tahap ini, planlet atau tunas mikro dipindahkan ke lingkungan di luar botol seperti rumah kaca , rumah plastik, atau screen house (rumah kaca kedap serangga). Proses ini disebut aklimatisasi. Aklimatisasi adalah proses pengkondisian planlet atau tunas mikro (jika pengakaran dilakukan secara ex-vitro) di lingkungan baru yang aseptik di luar botol, dengan media tanah, atau pakis sehingga planlet dapat bertahan dan terus menjadi bibit yang siap ditanam di lapangan. Prosedur pembiakan dengan kultur jaringan baru bisa dikatakan berhasil jika planlet dapat diaklimatisasi ke kondisi eksternal dengan keberhasilan yang tinggi. www.kultujaringan.blogspot.com Tahap ini merupakan tahap kritis karena kondisi iklim mikro di rumah kaca, rumah plastik, rumah bibit, dan lapangan sangatlah jauh berbeda dengan kondisi iklim mikro di dalam botol. Kondisi di luar botol bekelembaban nisbi jauh lebih rendah, tidak aseptik, dan tingkat intensitas cahayanya jauh lebih tinggi daripada kondisi dalam botol. Planlet atau tunas mikro lebih bersifat heterotrofik karena sudah terbiasa tumbuh dalam kondisi berkelembaban sangat tinggi, aseptik, serta suplai hara mineral dan sumber energi berkecukupan. Disamping itu tanaman tersebut memperlihatkan beberapa gejala ketidak normalan, seperti bersifat sukulen, lapisan kutikula tipis, dan jaringan vaskulernya tidak berkembang sempurna, morfologi daun abnormal dengan tidak berfungsinya stomata sebagai mana mestinya. Strutur mesofil berubah, dan aktifitas fotosintesis sangat rendah. Dengan karakteristik seperti itu, palanlet atau tunas mikro mudah menjadi layu atau kering jika

dipindahkan ke kondisi eksternl secara tiba-tiba. Karena itu, planlet atau tunas mikro tersebut diadaptasikan ke kondisi lngkungan yang baru yang lebih keras. Dengan kata lain planlet atau tunas mikro perlu diaklimatisasikan ( Yusnita, 2004).

1.

SUBKULTUR

Subkultur merupakan salah satu tahap dalam perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan. Pada dasarnya subkultur kita memotong, membelah dan menanam kembali eksplan yang telah tumbuh sehingga jumlah tanaman akan bertambah banyak. Pada dasarnya subkultur merupakan tahap kegiatan yang relatif mudah dibandingkan dengan kegiatan lain dalam kultur jaringan. Subkultur dilakukan karena beberapa alasan berikut:

1. 2. 3. 4.

Tanaman sudah memenuhi atau sudah setinggi botol Tanaman sudah berada lama didalam botol sehingga pertumbuhannya berkurang Tanaman mulai kekurangan hara Media dalam botol sudah mongering

Kegiatan subkultur dilakukan sesuai dengan jenis tanaman yang dikulturkan. Setiap tanaman memiliki karakteristik dan kecepatan tumbuh yang berbeda-beda. Sehingga cara dan waktu subkultur juga berbeda-beda. Tanaman yang harus segera atau relatif cepat disubkultur adalah jenis pisang-pisangan, alokasia, dan caladium. Tanaman yang relatif lama adalah aglaonema. (Pelatihan, 2009) Untuk tanaman yang diperbanyak dengan multifikasi tunas, maka subkultur dapat dilakukan dengan memisahkan anakan tanaman dari koloninya atau melakukan penjarangan. Contoh tanamannya adalah anggrek, pisang, dan tanaman lain yang satu tipe pertumbuhan. Untuk tanaman yang tipe pertumbuhannya dengan pemanjangan batang maka subkultur bisa dilakukan dengan memotong tanaman perruas tanaman yang ada. Namun jika ada planlet yang masih terlalu kecil dan beresiko tinggi untuk dipotong, maka subkulturnya cukup dilakukan dengan dipisahkan dari induknya dan ditanam kembali secara terpisah. Contoh tanamannya adalah jati, krisan, dan tanaman lain yang memiliki karakteristik pertumbuhan yang sama. kita dapat menghitung kecepatan produksi tanaman dengan mengetahui kecepatan tanaman melakukan multifikasi hingga siap disubkultur.

1.

ANGGREK

Anggrek merupakan salah satu anggota family Orchidaceae yang dapat dijumpai hampir diseluruh belahan dunia terutama daerah tropis mulai dari dataran rendah hingga tinggi, bahkan sampai ke daerah perbatasan pegunungan bersalju. Bermacam variasi bentuk, warna, bau, dan ukuran dengan cirri-ciri yang unik menjadi daya tarik anggrek yang dikenal sebagai tanaman hias berbunga indah. Contonya adalahArundina graminifolia, Bulbophylum binnendijkii, Calanthe sp., Paphilopedilum sp.,dan lain sebagainya.

Anggrek merupakan salah satu tanaman yang mempunyai kecepatan tumbuh lambat dan berbeda-beda. Hal ini sangat berpengaruh jika yang menjadi tujuan pemeliharaan adalah memproduksi bunga. Tanaman anggrek mempunyai pola pertumbuhan yang berbeda dengan tanaman hias lainnya. Pertumbuhan anggrek, baik vegetatif (pertumbuhan tunas, batang, daun, dan akar) serta pertumbuhan generatif (pertumbuhan primordial bunga, buah, dan biji) tidak hanya ditentukan oleh faktor genetic, tetapi juga oleh faktor iklim dan faktor pemeliharaan. (Widiastoety, 2007) Pada dasarnya tanaman anggrek merupakan tanaman yang sulit untuk melakukan penyerbukan sendiri, sehingga perkembangbiakannya pun cukup sulit. Selain itu, biji yang kecil, tidak mengandung cadangan makanan dan kulit yang sangat keras serta tebal membuat tanaman anggrek sulit ditumbuhkan tanpa bantuan manusia, kecuali anggrek yang tumbuh liar di hutan. Untuk mengatasi hal tersebut dan menumbuhkan anggrek secara masal, maka tindakan yang bisa dilakukan adalah dengan mengawinkan anaman anggrek (dapat sekaligus memperoleh varietas persilangan yang baru). Perbanyakan anggrek pada umumnya dilakukan dengan cara perkecambahan biji secara invitro (young et.al., 2001 dalam Rianawati dkk., 2009), sehingga hasil yang diperoleh tidak seragam dan menghasilkan warna bunga yang beragam. (Rianawati, dkk. 2009) Setelah membentuk buah dan berbiji, maka penumbuhan bijinya dilakukan secara invitro hingga menjadi tanaman yang siap ditanam di area terbuka untuk berproduksi atau dipasarkan. Berdasarakan pola pertumbuhannya, tanaman anggrek dibedakan menjadi dua tipe yaitu, simpodial dan monopodial. Anggrek tipe simpodial adalah anggrek yang tidak memiliki batang utama, bunga ke luar dari ujung batang dan berbunga kembali dari anak tanaman yang tumbuh. Kecuali pada anggrek jenis Dendrobium sp. yang dapat mengeluarkan tangkai bunga baru di sisi-sisi batangnya. Contoh dari anggrek tipe simpodial antara lain : Dendrobium sp., Cattleya sp., Oncidium sp. dan Cymbidium sp. Anggrek tipe simpodial pada umumnya bersifat epifit. Anggrek tipe monopodial adalah anggrek yang dicirikan oleh titik tumbuh yang terdapat di ujung batang, pertumbuhannnya lurus ke atas pada satu batang. Bunga ke luar dari sisi batang di antara dua ketiak daun. Contoh anggrek tipe monopodial antara lain : Vanda sp., Arachnis sp., Renanthera sp., Phalaenopsis sp., danAranthera sp. Habitat tanaman anggrek dibedakan menjadi 4 kelompok sebagai berikut : Anggrek epifit, yaitu anggrek yang tumbuh menumpang pada pohon lain tanpa merugikan tanaman inangnya dan membutuhkan naungan dari cahaya matahari, misalnya Cattleya sp. memerlukan cahaya +40%, Dendrobium sp.5060%, Phalaenopsis sp. + 30%, dan Oncidium sp. 6075%. Anggrek terestrial, yaitu anggrek yang tumbuh di tanah dan membutuhkan cahaya matahari langsung, misalnya Aranthera sp., Renanthera sp., Vanda sp. dan Arachnis sp. Tanaman anggrek terestrial membutuhkan cahaya matahari 70 100 %, dengan suhu siang berkisar

antara 19 380C, dan malam hari 18210C. Sedangkan untuk anggrek jenis Vanda sp. yang berdaun lebar memerlukan sedikit naungan. Anggrek litofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada batu-batuan, dan tahan terhadap cahaya matahari penuh, misalnya Dendrobium phalaenopsis. Anggrek saprofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada media yang mengandung humus atau daun-daun kering, serta membutuhkan sedikit cahaya matahari, misalnya Goodyera sp. (www.deptan.go.id) Perbanyakan anggrek pada umumnya dilakukan dengan cara perkecambahan biji secara invitro (young et.al., 2001 dalam Rianawati dkk., 2009), sehingga hasil yang diperoleh tidak seragam dan menghasilkan warna bunga yang beragam. (Rianawati, dkk. 2009) Pada dasarnya

1.

KRISAN

Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain seruni atau bunga emas (golden flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning dari dataran cina dikenal dengan Chrisanthenum indicum (kuning). C.morifolium (ungu dan pink) dan C.daisy (bulat, ponpon). (www.docstoc.com) Tanaman krisan dapat diperbanyak dengan cara vegetative, yaitu dengan anakan, setek pucuk dan kultur jarinngan.

1.

Bibit asal anakan, diperoleh dari tanaman kecil krisan yang dibudidayakan. 1. Bibit stek pucuk didapat dengan menentukan tanaman yang sehat dan cukup umur, pilih tunas pucuk yang tumbuh sehat, diameter pangkal 3-5mm, panjang 5cm, mempunya tiga helai daun dewasa berwarna hijau terang, potong pucuk teersebut, langsung semaikan atau disimpan dalam ruangan dingin bersuhu udara 4oC, dengan kelembaban 30% agar tetap tahan segar selama 34minggu. Cara penyimpanan stek adalah dibungkus dengan beberapak lapis kertas tisu, kemudian dimasukkan kedalam kantong plastik rata-rata 50 stek. 2. Bibit dengan kultur jaringan didapat dengan cara : menentukan mata tunas atau eksplan dan ambil dengan pisau silet, sterilisasi mata tunas dengan sublimat 0,04% (HgCl) selama 10menit, kemudian bilas dengan air suling steril. Melakukan perbanyakan tanaman dalam media padat MS. Hasil penelitian lanjutan perbanyakan tanaman krisan secara kultur jaringan : 1. Medium MS padat ditambah 150 ml air kelapa/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 1,5 mg kinetin/liter, paling baik untuk pertumbuhan tunas dan akar eksplan. Pertunasan terjadi pada umur 29 hari, sedangkan perakaran 26 hari. 2. 3. Medium MS padat ditambah 150 ml air kelapa/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5 BAP/liter, kalus bertunas waktu 26 hari, tetapi medium tidak merangsang pemunculan akar. Medium MS padat ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5-0.2 mg kinetin/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5-2,0 BAP/liter pada eksplan varietas Sandra untuk membentuk akar pada umur 21-31 hari. Penyiapan bibit pada skala komersial dilakukan dengan dua tahap yaitu:

1)

Stok tanaman induk : Fungsinya untuk memproduksi bagian vegetatif sebanyak

mungkin sebagai bahan tanaman Ditanam di areal khusus terpisah dari areal budidaya. Jumlah stok tanaman induk disesuaikan dengan kebutuhan bibit yang telah direncanakan.

Tiap tanaman induk menghasilkan 10 stek per bulan, dan selama 4-6 bulan dipelihara memproduksi sekitar 40-60 stek pucuk. Pemeliharaan kondisi lingkungan berhari panjang dengan penambahan cahaya 4 jam/hari mulai 23.30 03.00 lampu pencahayaan dapat dipilih Growlux SL 18 Philip. 2) Perbanyakan vegetatif tanaman induk : Pemangkasan pucuk, dilakukan pada umur 2 minggu setelah bibit ditanam, dengan cara memangkas atau membuang pucuk yang sedang tumbuh sepanjang 0,5-1 cm. Penumbuhan cabang primer. Perlakuan pinching dapat merangsang pertumbuhan tunas ketiak sebanyak 2-4 tunas. Tunas ketiak daun dibiarkan tumbuh sepanjang 15-20 cm atau disebut cabang primer. Penumbuhan cabang sekunder. Pada tiap ujung primer dilakukan pemangkasan pucuk sepanjang 0,5-1 cm, pelihara tiap cabang sekunder hingga tumbuh sepanjang 10-15 cm. (www.docstoc.com)

BAB III METODOLOGI 1. A. Waktu dan tempat pelaksanaan : Jumat / 10 Desember 2010 Hari / tanggal

Waktu Tempat

: Pkl. 08.00 11.00 WIB : Laboratorium Kultur Jaringan

1.

B. Alat dan bahan

Alat: Dissecting set

Lampu bunsen Bahan : Media MS0 Planlet bunga krisan yang siap disubkultur

Kertas steril

Tissu Alkohol 96%

Petridish Alkohol 70%

Botol semprot Planlet anggrek yang sudah siap disubkultur

1. 1. 2.

Media MS0+arang+sari buah pisang

Prosedur Kerja Menyiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan Melakukan subkultur terhadap tanaman krisan dengan cara : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Menyemprot tangan menggunakan alkohol 70% sebelum bekerja. Mengambil kertas steril dan diletakkan pada papan kaca sebagai alas pada saat melakukan pemotongan eksplan. Mensterilkan semua alat diseksi yang akan digunakan dengan cara mencelupkannya kedalam alkohol lalu membakarnya dengan lampu Bunsen. Mengambil planlet tanaman krisan dar botol kultur awal sesuai kebutuhan dengan cara memotong batangnya secara hati-hati. Memotong bagian nodus krisan sepanjang + 1,5cm atau satu ruas jika jarak antar ruas cukup panjang dan dua ruas jika jarak antar ruas pendek Menyimpan hasil potongan planlet kedalam petridish agar tidak layu sementara kita menyiapkan media tanam baru yaitu media MS0 Menanam hasil stek krisan pada media tanam baru dengan jarak yang proporsional dan rapi agar tanaman tidak berebutan unsur hara, (biasanya +7 potong per botol kultur) lalu menutupnya.

8. 9.

Memberikan label pada botol kultur yang baru ditanamami yang berisi keterangan mengenai nama tanaman, tanggal penanaman, dan nama penanam. Menyimpan hasil subkultur pada ruang pertumbuhan. 1. 2. 3. 4. 5. Menyemprot tangan menggunakan alkohol 70% sebelum bekerja. Mengambil kertas steril dan diletakkan pada papan kaca sebagai alas. Mensterilkan media dengan mendekatkannya pada lampu spirtus dan menyiapkannya. Mengambil plantlet tanaman anggrek satu persatu dengan menggunakan pinset, dan membersihkannya dari kotoran maupun sisa media yang terikut pada akar. Memasukkan satu persatu tanaman anggrek kedalam media MS0+arang+jus pisang yang telah disiapkan sebanyak 7-10 batang per botol dan diatur agar tersusun rapi dengan jarak proporsional agar tidak berebutan nutrisi. 6. 7. 8. 9. Menutup botol kultur yang telah ditanami dan memberi label yang berisi informasi tentang nama tanaman, tanggal penanaman, dan nama penanam. Menyimpan botol kultur diruang pertumbuhan. Mengemasi semua alat yang telah digunakan dan mengembalikannya ketempat semula. Melakukan pengamatan terhadap hasil subkultur satu minggu setelah dilaksanakan subkultur.

10. Melakukan subkultur tanaman anggrek dengan cara :

10. Melakukan diskusi, pembahasan dan membuat laporan praktikum BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN 1. A. Hasil Hasil yang didapatkan dari praktikum subkultur ini adalah:

1. 2.

Didapatkan kultur krisan sebanyak 7 nodus krisan dengan bentuk melingkar pada setiap botolnya. Didapatkan kultur anggrek sebanyak 7 10 batang anggrek dengn bentuk melingkar rapi pada media yang menggunakan arang aktif

Dengan hasil pengamatan setelah satu minggu disimpan di ruang pertumbuhan dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Tanaman krisan setalah 1 minggu

Tanaman anggrek setelah 1 minggu

1.

B. Pembahasan :

Dari hasil yang kita dapat di atas, kita dapat mengetahui kondisi hasil subkultur setelah satu minggu di simpan di ruang pertumbuhan. Untuk tanaman krisan, kondisi awal ketika sebelum disubkultur tanaman krisan berada dalam botol kultur bersama tanaman krisan lainnya yang sudah mengalami pertambahan panjang. Tanaman tersebut memiliki panjang hampir bahkan sudah mencapai tutup dari botol kultur tersebut. Untuk kenampakan dari dari krisan tersebut juga tidak menarik yaitu berwarna hijau pucat, kurus dan agak layu. Hal ini sangat wajar terjadi karena tanaman tersebut mulai berebut unsur hara dengan tanaman krisan lainnya yang tumbuh pada media dan botol yang sama. Setelah dilakukan subkultur, terjadi perubahan kenampakan pada tanaman krisan tersebut. Yaitu warna tanaman hijau segar dan tanaman tumbuh tegar dan segar. Hal ini dikarenakan tanaman tersebut telah mendapatkan penyegaran ketika subkultur. Penyegaran tersebut dapat berasal dari media baru maupun udara baru yang masuk ketika melakukan subkultur. Ada hal yang harus diperhatikan ketika melakukan subkultur tanaman krisan. Yaitu ketika tanaman krisan dikeluarkan untuk dipotong dan ditanam kembali pada media baru, tanaman tersebut jangan dibiarkan berada di LAFC terlalu lama secara terbuka. Karena tanaman ini sangat sensitif terhadap panas dan cahaya. Apabila tanaman tersebut dibiarkan di LAFC terlalu lama secara terbuka dapat menyebabkan tanaman tersebut layu. Untuk itu dalam melakukan subkultur harus dilakukan secara tepat dan cepat. Selain menghindari hal tadi kecepatan dan ketepatan dalam melakukan subkultur juga dapat mengurangi tingkat kontaminasi yang bisa terjadi. Sedangkan untuk tanaman anggrek kondisi awal tanaman pada saat subkultur ialah karena kuantitas eksplan pada media sebelumnya sudah sangat padat. Untuk itu diperlukan pergantian media sehingga tanaman tersebut dapat tumbuh dengan optimal karena tidak kekurangan unsur hara untuk diserap. Pada saat subkultur, tanaman anggrek lebih mudah dan tidak terlalu rentan terhadap cahaya ataupun panas. Selain itu tanaman ini cukup menempel pada media, tidak perlu menancapkan terlalu keras pada media. Hal ini disebabkan akar tanaman anggrek lebih mudah untuk menyesuaikan dengan kondisi media tersebut. Setelah satu minggu disimpan di ruang pertumbuhan terjadi perubahan kenampakan dan ukuran pada tanaman tersebut. Tanaman anggrek tersebut tampak lebih segar sedangkan ukurannya lebih panjang dibandingkan ketika sebelum disubkultur. Akan tetapi karena kedua tanaman tersebut disubkultur pada media MS0 dimana belum ditambahkan ZPT sintetis untuk merangsang pertumbuhan secara cepat. Akan tetapi media

ini telah ditambahkan jus pisang sebagai ZPT alami akan tetepi tanaman tersebut tidak mengalami perubahan secara signifikan. Mungkin disebabkan butuhnya waktu yang cukup lama untuk mengetahui perubahan pertumbuhan eksplan tersebut.

BAB V PENUTUP 1. A. SIMPULAN Dari hasil dan pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal dalam melakukan subkuktur,diantaranya: Subkultur harus dilakukan karena memperhatikan beberapa faktor untuk kelangsungan hidup eksplan tersebut. Lakukan subkultur sebaik mungkin untuk menghindari melukai eksplan ketika dipindahkan ke dalam media baru. Kedua tanaman yang disubkultur belum mengalami perubahan yang signifikan dalam pertumbuhannya. Kedua tanaman tersebut tidak mengalami kontaminasi baik pada media maupun tanamannya. Kecepatan dan ketepatan ketika melakukan subkultur berpengaruh terhadapa hasil yang didapatkan. 1. B. SARAN Kepada para pengamat selanjutnya semoga dapat mendapatkan hasil yang lebih akurat dan lengkap dibandingkan dengan hasil pengamatan saya yang masih sangat sederhana ini. Semoga Laporan Praktikum ini dapat bermanfaat dan digunakan seperti sebagaimana mestinya.

DAFTAR PUSTAKA Budiarta, Atat. (2004). Dasar Dasar Kultur Jaringan. Cianjur: Pusat Pengembangan dan Penataran Guru Pertanian ______,2010. [online] dokumen Budidaya Tanaman Krisan tersedia dihttp://www.docstoc.com/docs/19913335/Budidaya-Tanaman-Krisan, diunduh pada Selasa, 21 Desember 2010, pukul 19.00WIB

______, 2005. [online] artikel Budidaya Tanaman Anggrek tersedia di :http://www.deptan.go.id/ditlinhorti/ , diunduh pada Jumat, 17 Desember 2010, pukul 16.40 WIB Wetherell, 1976 [online] dokumen Tahapan-tahapan Kultur Jaringan tersedia diwww.kultujaringan.blogspot.com diunduh pada sabtu 20 November 2010, pukul 17.00 WIB Yusnita, 2003 [online] dokumen Tahapan-tahapan Kultur Jaringan tersedia diwww.kultujaringan.blogspot.com diunduh pada sabtu 20 November 2010, pukul 17.00 WIB Yusnita, 2004 [online] dokumen Tahapan-tahapan Kultur Jaringan tersedia diwww.kultujaringan.blogspot.com diunduh pada sabtu 20 November 2010, pukul 17.00 WIB Materi yang di sampaikan Dosen pengajar Pengantar Kultur Jaringan Tanaman Subkultur dan pemeliharaan tanaman in vitro yaitu bapak Ir. Heru Sugito, MP dan Ibu Wangi Satutik,SP.

Hendaryono, D.P.S, dan A. Wijayani. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Suryowinoto, M. 1985. Budidaya Jaringan dan Manfaatnya. Yogyakarta: Fakultas Biologi, UGM