Anda di halaman 1dari 29

1

BAB I
PENDAHULUAN



1.1. Dasar Teori
Geologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bumi, terutama bagian
kerak bumi (earths crust), meliputi sifat-sifat fisik dan kimia, proses -
proses geologi yang pernah terjadi, asal mula, penyebaran, pembentukan,
dan pemanfaatan material-material pernbentuk bumi serta interaksi antara
bumi dengan hidrosfer, atmosfer, dan biosfer (Billings, 1977).
Dari ketiga obyek tersebut, obyek yang paling erat hubungan dengan
Mineralogi Fisik ini adalah batuan (rock). Menurut Flint & Skinner (1977),
batuan adalah suatu massa padat yang tersusun oleh satu atau lebih
mineral, dan mineraloid yang terbentuk oleh 1 macam mineral saja disebut
batuan polimineralik.
Dengan demikian ada hubungan yang sangat erat antara mineral atau
mineraloid dengan batuan yang dibentuknya, terutama dalam hal penamaan
batuan, misalnya : suatu batuan bernama GRANIT karena komposisi mineral
yang dominan adalah mineral-mineral asam (felsic mineral) seperti kuarsa
dan ortoklas, lain halnya dengan batuan yang bernama PERIDOTIT dimana
komposisi mineral yang dominan adalah piroksen dan olivine (mineral-
mineral basa/mafic mineral).
Kristalografi dan mineralogi merupakan cabang ilmu yang
mempelajari tentang kristal dan mineral-mineral penyusun pembentuknya,
serta dasar disiplin ilmu kristalografi. Bidang ini terkait dalam ilmu geologi
tentang kimia dan fisika. Secara mendalam pokok bahasan yang dikaji
meliputi sifat-sifat geometri kristal serta fisis kristal. Secara tersendiri

2



kristalografi diartikan sebagai satu cabang ilmu yang mempelajari tentang
sifat-sifat di dalam geometri kristal terutama berkaitan dengan
permasalahan perkembangan, pertumbuhan, kenampakan luar suatu
struktur dalam sifat fisis lainnya. Sedangkan mineralogi merupakan ilmu
yang secara dalam mempelajari tentang sifat-sifat mineral pembentuk
batuan yang terdapat di bumi dan manfaat bagi manusia serta dampaknya
terhadap sifat tanah.
Mempelajari kristalografi berarti akan membahas tentang
bagaimana serta dimana kristal terbentuk. kristal dapat diartikan sebagai
zat padat homogen yang memiliki bidang polyhedral tertentu, memiliki
permukaan yang licin biasanya bersifat anisotrop. Sedangkan di dalam
mempelajari mineralogi berarti akan membahas mineral. Dimana mineral
merupakan benda padat homogen yang ada di alam dengan komposisi kimia
tertentu, mempunyai atom yang teratur dan biasanya terbentuk secara
alami.
Proses terbentuknya kristal dan mineral di alam merupakan akibat
dari proses geologi, yaitu :
a. Endogenik, merupakan proses kristal yang dibentuk pengkristalan
magma.
b. Eksogenik, merupakan proses pengkristalan yang dipengaruhi oleh gaya-
gaya dari luar.
c. Tektonik lempeng, dimana proses ini adalah dasar dari penyatuan jalur
magnetik dengan sumbu zona pelapukan.

Oleh karena itu, Acara Praktikum Kristalografi dan Mineralogi ini
sangat penting artinya untuk melengkapi mata kuliah Kristalograi dan
Mineralogi. Kesalahan dalam mendeskripsi mineral secara Fisik
(megaskopis) akan menimbulkan kesalahan di dalam penamaan batuan, dan

3



hal ini akan berakibat fatal mengingat batuan merupakan salah satu obyek
geologi yang penting, terutama berhubungan dengan ilmu-ilmu geologi
terapan, seperti geologi teknik, geologi minyak dan gas bumi, geologi panas
bumi, geohidrologi, dan sebagainya.

























4



BAB II
KRISTALOGRAFI




2.1. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari praktikum kristalografi ini adalah :
1. Menentukan sistem kristal dari berbagai macam bentuk kristal
berdasarkan panjang, posisi dan jumlah sumbu kristal yang ada pada
setiap bentuk kristal.
2. Menentukan kelas simetri berdasarkan jumlah unsur simetri setiap
kristal.
3. Menggambarkan semua bentuk kristal berdasarkan parameter dan
parameter ratio, jumlah dan posisi sumbu kristal dan bidang kristal
yang dimiliki oleh setiap bentuk kristal baik dalam bentuk proyeksi
streografis.

2.2. Dasar Teori
Kristal adalah benda padat homogen, yang dibatasi oleh bidang muka
tertentu yang teratur, biasanya bersifat anisotrop serta mengikuti hukum-
hukum ilmu pasti sehingga susunan bidang-bidangnya mengikuti hukum
geometri, jumlah dan kedudukan dari bidang - bidangnya dapat ditentukan
dan teratur.
Kristalografi adalah ilmu yang mempelajari tentang sifat - sifat
geometri dari kristal terutama perkembangan, pertumbuhan, kenampakan
bentuk luar, struktur dalam dan sifat-sifat fisis lainnya.


5



a. Unsur-unsur Simetri Kristal
Unsur simetri kristal terbagi menjadi tiga, yaitu :
1. Sumbu Simetri
2. Bidang Simetri
3. Titik Simetri atau pusat simetri

b. Sistem Kristalografi
Sistem kristalografi dibagi menjadi 7, Tujuh sistem kristal
tersebut, antara lain :
1. system isometric
2. system tetragonal
3. system hexagonal
4. system trigonal
5. system ortorhombic
6. system triklin
7. system monoklin

Pembagian sistem kristalografi menjadi 7 sistem kristal,
didasarkan pada :
1. perbandingan panjang sumbu-sumbu kristalografi
2. letak atau posisi sumbu kristalografi
3. jumlah sumbu kristalografi
4. nilai sumbu c atau sumbu vertical

c. Proyeksi Stereografis
Proyeksi streografis pada prinsipnya sama dengan proyeksi bola,
tetapi bidang proyeksinya merupakan bidang ekuator bola atau bidang
horizontal yang melalui ekuator bola.

6



2.3. Alat dan Bahan
Peralatan praktikum yang digunakan antara lain adalah :
1. Jangka
2. Busur Derajat
3. Penggaris
4. Pensil Warna / spidol
5. pensil mekanik (0,5 mm)
6. Penghapus
7. Milipen (0,1 mm) warna hitam
8. Clipboard
9. Kertas HVS ukuran A4/A4S

2.4. Penggambaran Sistem Kristal
A. Sistem Isometrik
Konstanta kistalografi :
Panjang sumbu : a = b = c
Sudut : = = = 90
Parameter penggambaran :
Panjang sumbu = 1 : 3 : 3 atau b = c dan a = 1/3 b
Sudut : = 90
o
, = 120
o
, = 150
o
Analisa sistem :
Sistem ini juga disebut sistem reguler, bahkan sering dikenal
sebagai system kubus/kubik karena bentuknya yang menyerupai kubus
atau kubik. Jumlah sumbu kristalnya 3 dan saling tegak lurus satu
dengan yang lainnya. Masing- masing sumbu sama panjangnya. Dalam
penggambaran sistem kristal ini, nilai sudut antara -a dan b adalah 30
dengan perbandingan panjang penggambaran antara sumbu a, b dan c

7



adalah 1: 3 : 3 .Contoh mineral yang memiliki sistem sumbu isometrik
adalah intan, galena, halit, flourit, dan pirit.


















Gambar 2.1
Sistem isometrik


B. Sistem Tetragonal
Konstanta Kristalografi :
Panjang sumbu : a = b c
Sudut : = = = 90
Parameter penggambaran :
Panjang sumbu = 1 : 3 : 6
Sudut : = 90
o
, = = 135
o

8



Analisa sistem :
Sama dengan sistem isometrik, sistem ini mempunyai 3 sumbu
kristal yang masing-masing saling tegak lurus. Sumbu a1 dan a2
mempunyai satuan panjang yang sama. Sedangkan sumbu c tidak sama
panjang,. Sumbu c dapat lebih panjang atau lebih pendek (umumnya
lebih panjang). Dalam penggambaran sistem kristal ini sudut antara a1
dan a2 adalah 45 dengan perbandingan panjang penggambaran antar
sumbu a1, a2, dan a3 adalah 1:3:6. Contoh mineral yang memiliki sistem
sumbu tetragonal adalah zirkon, rutile, dan kalkopirit.

















Gambar 2.2
Sistem Tetragonal



9



C. Sistem Hexagonal
Konstanta Kristalografi :
Panjang sumbu : a = b = d c
Sudut : = = = 90
Parameter penggambaran :
Panjang sumbu = 3 : 4 : 8 : 2
Sudut : = 90
o
, = 120
o
, = 150
o
Analisa sistem :
Sistem ini mempunyai empat sumbu kristal, dimana sumbu c
tegak lurus terhadap ketiga sumbu yang lain. Sumbu a1, a2, dan a3
masing-masing saling membentuk sudut 120 satu terhadap yang lain).
Sumbu a1, a2, dan a3 mempunyai panjang yang sama. Sedangkan
panjang c berbeda, dapat lebih panjang atau lebih pendek (umumnya
lebih panjang). Dalam penggambaran sistem kristal ini, sudut antara a3
dan a2 adalah 45, dan sudut antara a1 dan a2 adalah 30
o
. Contoh
mineral yang memiliki system sumbu heksagonal adalah kuarts, grafit,
dan apatit.












10














Gambar 2.3
Sistem Heksagonal



D. Sistem Ortorhombik
Konstanta kistalografi :
Panjang sumbu : a b c
Sudut : = = = 90
Parameter penggambaran :
Panjang sumbu = 1 : 2 : 3
Sudut : = 90
o
, = = 135
o
Analisa sistem :
Sistem ortorombik ini mempunyai 3 sumbu kristal yang saling
tegak lurus satu dengan yang lain. Ketiga sumbu kristal tersebut
mempunyai panjang yang berbeda. Sumbu a merupakan sumbu
terpendek, dan sumbu c merupakan sumbu terpanjang. Dalam
penggambaran sistem kristal ini, sudut antara a dan -b adalah 45

11



dengan perbandingan panjang penggambaran antara sumbu a, b, dan c
adalah sembarang dengan sumbu a terpendek dan sumbu c terpanjang.
Contoh mineral yang memiliki sistem sumbu ortorombik adalah olivin,
topas, dan barit.






















Gambar 2.4
Sistem Ortorhombik


12



E. Sistem Trigonal
Konstanta kistalografi :
Panjang sumbu : a = b = d x
Sudut : = = = 90
Parameter penggambaran :
Panjang sumbu = 1 : 2 : 1 : 4
Sudut : = 90
o
, = 120
o
, = 150
o
Analisa sistem :
Beberapa ahli memasukkan sistem ini ke dalam sistem
heksagonal. Demikian pula cara penggambarannya juga sama.
Perbedaannya bila pada trigonal setelah terbentuk bidang dasar, yang
berbentuk segienam kemudian dibuat segitiga dengan menghubungkan
dua titik sudut yang melewati satu titik sudutnya. Contoh mineral yang
memiliki sistem sumbu trigonal adalah kalsit, magnesit, siderit, dan
ilmenit.











Gambar 2.5
Sistem Trigonal


13



F. Sistem Monoklin
Konstanta kistalografi :
Panjang sumbu : a b c
Sudut : = = 90, 90
Parameter penggambaran :
Panjang sumbu = 1 : 2 : 3
Sudut : = 90
o
, = = 135
o
Analisa sistem :
Monoklin artinya hanya mempunyai satu sumbu yang miring dari
tiga sumbu yang dimilikinya. Sumbu a tegak lurus terhadap sumbu b, b
tegak lurus terhadap c, tetapi sumbu c tidak tegak lurus terhadap
sumbu a. Ketiga sumbu tersebut mempunyai panjang yang berbeda.
Dalam penggambaran sistem kristal ini, sudut antara a dan -b adalah
45 dengan perbandingan panjang penggambaran antara sumbu a, b, dan
c adalah sembarang dengan sumbu c terpanjang dan sumbu a
terpendek. Contoh mineral yang memiliki sistem sumbu monoklin adalah
azurit, malasit, amfibol, mika, dan gipsum.











Gambar 2.6
Sistem Monoklin

14



G. Sistem Triklin
Konstanta kistalografi :
Panjang sumbu : a b c
Sudut : 90
Parameter penggambaran :
Panjang sumbu = 6 : 3 : 1 atau b = 2a dan c = 3 b
Sudut : = 145
o
, = 130
o
, = 85
o
Analisa sistem :
Sistem ini mempunyai tiga sumbu yang satu dengan lainnya tidak
saling tegak lurus. Demikian juga panjang masing- masing sumbu tidak
sama. Dalam penggambaran sistem kristal ini, sudut antara a dan -c
adalah 50, dan sudut antara b dan c adalah 145. Perbandingan panjang
penggambaran antara sumbu a, b, dan c adalah sembarang dengan
sumbu c terpanjang dan sumbu a terpendek. Contoh mineral yang
memiliki sistem sumbu triklin adalah albitdan anortit.















Gambar 2.7
Sistem Triklin

15



BAB III
MINERALOGI





3.1. Maksud dan Tujuan
Maksud dan Tujuan dari praktikum Mineralogi ini antara lain adalah :
1. Agar dapat mengenal, mendeskripsikan dan menentukan nama mineral
mineral pembentuk batuan berdasarkan sifat sifat fisiknya (secara
megaskopis)
2. Agar dapat membuat beberapa kesimpulan mengenai struktur kristal,
komposisi kimia asosiasi dengan mineral lain dan mengetahui proses
pembentukkan mineral
3. Agar dapat menerapkan manfaat sifat fisik mineral dalam berbagai
praktek dibidang teknik.

3.2. Dasar Teori
Mineral adalah suatu zat padat homogen yang terbentuk di alam
dengan komposisi kimia tertentu, mempunyai susunan atom yang teratur
dan biasanya terbentuk secara proses anorganik. Zat padat homogen
berarti suatu fase padat yang tidak dapat dipisahkan secara fisika menjadi
senyawa kimia yang lebih sederhana. Terjadi di alam berarti terbentuk
secara alamiah di alam dan tidak bisa dibuat oleh manusia.
Mineral dapat pula diartikan sebagai zat atau benda padat dan
homogen yang dihasilkan oleh alam (bersifat alamiah), berupa senyawa
anorganik, mempunyai sifat-sifat fisik dan sifat-sifat kimia tertentu, dan

16



pada umumnya berbentuk kristalin (pasti mempunyai system kristal) (Flin &
Skinner, 1977). Dengan demikian, batu bara dan minyak bumi tidak dapat
disebut sebagai mineral, karena terbentuk oleh proses organic (berasal
dari tetumbuhan atau binatang).

Sifat-sifat fisik suatu mineral sangat diperlukan di dalam pengenalan
mineral secara megaskopis, yaitu mengenal dan mendeterminasi mineral
tanpa pertolongan mikroskop. Dengan cara ini seseorang dapat
mendeterminasi sekitar ratusan mineral. Sifat-sifat fisik suatu mineral
tersebut antara lain : warna, kilap kekerasan, cerat, belahan, pecahan,
bentuk dan struktur, berat jenis, sifat dalam, kemagnetan, dan sifat-sifat
lain.
Sifat-sifat fisik suatu mineral sangat diperlukan di dalam
pengenalan mineral secara megaskopis, yaitu mengenal dan mendeterminasi
mineral tanpa pertolongan mikroskop. Dengan cara ini seseorang dapat
mendeterminasi sekitar ratusan mineral.

Beberapa dari sifat fisik mineral tersebut telah membuktikan
kegunaanya. Kemajuan litbang tentang iptek penggunaan serta pemanfaatan
mineral yang masih berlangsung saat ini khususnya terhadap sifat-sifat
fisik yang dimiliki mineral, terlihat dari makin banyaknya penggunaan
berbagai macam atau jenis mineral di segala aspek kehidupan.

Mineralogi adalah suatu ilmu pengetahuan cabang dari ilmu geologi
yang mempelajari tentang sifat dan ciri mineral-mineral pembentuk batuan
yang terdapat dalam bumi dan manfaatnya bagi manusia serta dampaknya
terhadap sifat dan ciri tanah.


17




3.3. Alat dan Bahan
a. Alat
Alat-alat yang digunakan didalam praktikum ini, antara lain :
1. Kuku jari tangan
2. Kikir baja
3. Jarum
4. Amplas (kasar)
5. Uang logam tembaga
6. Porselin
7. Paku besi
8. Palu
9. Pisau baja / pisau lipat
10. Magnet
11. Kaca
12. Lilin
13. Lup

b. Bahan
Bahan yang digunakan di dalam melakukan praktikum ini adalah
beberapa contoh mineral yang terdapat di Laboratorium Geologi
Jurusan Teknik Pertambangan, Akademi Teknik Pembangunan Nasional
(ATPN) Banjarbaru.

3.4. Prosedur Praktikum
Adapun Prosedur-prosedur yang harus dilakukan dalam praktikum ini
yaitu untuk menentukan Sifat Fisik Mineral adalah sebagai berikut:


18



A. Warna (colour)
Warna adalah warna yang kita tangkap dengan mata apabila
mineral terkena cahaya, atau spectrum cahaya yang dipantulkan oleh
mineral.
Cara menentukan Warna Mineral
1. Ambil salah satu contoh mineral yang ada.
2. Dekatkan mineral tersebut dengan sumber cahaya, kemudian
amati warna mineral atau spektrum cahaya yang dipantulkan oleh
mineral yang paling jelas terlihat oleh mata.
Warna mineral dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :
Warna idiokhromatik : apabila warna mineral selalu tetap, pada
umumnya dijumpai pada mineral-mineral yang tidak tembus
cahaya (opaque) atau berkilap logam. Contoh : magnetite, galena,
pryte, pyrolusite, dan lain-lain.
Warna allokhromatik : apabila warna mineral tidak tetap
tergantung pada mineral pengotornya, pada umumnya dijumpai
pada mineral yang tembus cahaya (transparent/translucent) atau
berkilap non logam. Contoh : kuarsa, gypsum, calcite, dan lain-lain
Beberapa warna khas yang terdapat pada mineral antara lain :
^ Permainan warna : warna mineral berubah bila digerakkan.
^ Opalesen : warna bergelombang seperti mutiara
^ Iridesen : permainan warna yang cemerlang, karena
adanya selaput pada permukaan mineral
^ Chatoyancy : warna pantulan seperti mutiara
^ Tarnish : warna muka mineral yang lapuk karena
pengaruh udara
^ Asterisme : pantulan sinar yang memberi gambaran
seperti bintang

19



Beberapa mineral kadang-kadang dinamakan menurut warnanya,
seperti:
Albit (albus = putih)
Chlorite (hijau)
Rhodopsite (merah)
Melanite (hitam)
Erythrite (merah darah)

B. Kilap (Luster)
Kilap adalah kesan mineral yang ditunjukkan oleh pantulan
cahaya yang dikenakan padanya, atau intensitas cahaya yang
dipantulkan oleh permukaan Kristal.
Cara menentukan Kilap Mineral
1. Ambil salah satu contoh mineral yang ada.
2. Dekatkan mineral tersebut dengan sumber cahaya, kemudian
amati kilap dari mineral tersebut atau intensitas cahaya yang
dipantulkan oleh permukaan kristalnya.

Kilap mineral dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :
a. Kilap logam (metallic luster)
Bila terkena cahaya, mineral akan memberikan kesan seperti
logam, contoh : galena (abu-abu logam), pyrite (kuning emas),
graphite, pyrolusite, chalcopyrite, arsenopyrite (putih timah),
dan lain-lain.
b. Kilap non logam (non metallic luster)
Bila terkena cahaya, mineral tidak memberikan kesan seperti
logam. Kilap non logam dapat dibedakan menjadi 7 macam, yaitu:


20



Kilap kaca (vitreous luster)
Bila terkena cahaya, mineral memberikan kesan seperti kaca,
contoh : kuarsa, kalsit, dan lain-lain.
Kilap intan (adamantin luster)
Bila terkena cahaya, mineral memberikan kesan cemerlang
seperti intan, contohnya : intan
Kilap sutera (silky luster)
Bila terkena cahaya, mineral memberikan kesan seperti
sutera dan pada umumnya terdapat pada mineral yang
berserat, contoh : asbes, actinolite, gypsum dan lain-lain,
Kilap damar (resinous luster)
Bila terkena cahaya, mineral memberikan kesan seperti
getah damar (kuning), contoh : sphalerite
Kilap mutiara (pearly luster)
Bila terkena cahaya, mineral memberikan kesan seperti
mutiara atau bagian dalarn dari kulit kerang, contoh : talk,
muscovite, dolmite, dan lain- lain.
Kilap lemak (greasy luster)
Bila terkena cahaya, mineral memberikan kesan seperti
lemak atau sabun, contoh : talk, serpentine, dan lain-lain.
Kilap tanah (earthy luster)
Bila terkena cahaya, mineral memberikan kesan seperti
tanah lempung, contohnya : kaolin, limonite, bauxite, dan lain-
lain.
Kilap mineral penting diketahui, karena sifat fisik ini dipakai
dalam menentukan mineral yang diselidiki secara megaskopis. Untuk
itu perlu dibiasakan membedakan kilap mineral satu dengan yang lain,

21



walaupun kadang - kadang akan dijumpai kesulitan, karena batas kilap
yang satu dengan kilap yang lain tidak begitu tegas.

C. Kekerasan (Hardness)
Kekerasan adalah ketahanan mineral terhadap suatu goresan.
Kekerasan secara relatif ditentukan dengan menggunakan SKALA
MOHS yang dimulai dari skala 1 untuk mineral terlunak sampai skala
10 untuk mineral terkeras (lihat table di bawah ini).
Skala MOHS Mineral
1 Talk
2 Gypsum
3 Calcite
4 Fluorite
5 Apatite
6 Feldspar
7 Quartz
8 Topaz
9 Corundum
10 Intan

Tabel 3.1
Tabel skala kekerasan mineral/ SKALA MOHS

No Benda Kekerasan No Benda Kekerasan
1 Kuku jari 2,5 5 Pisau baja 5,5
2 Jarum 3,0 6 Kaca 5,5-6,0
3 Uang tembaga 3,5 7 Kikir baja 6,0 - 7,0
4 Paku besi 4,5 8 Amplas (kasar) 8,0 - 9,0

Tabel 3.2
Tabel data benda pembanding kekerasan mineral

Menentukan Kekerasan Mineral
1. Ambil salah satu contoh mineral dan ambil juga salah satu benda
pembanding / penguji kekerasan mineral yang ada.

22



2. Goreskan benda pembanding / penguji kekerasan pada bagian
permukaan mineral sampai terbentuk bekas goresan pada bagian
badan (tubuh) mineral tersebut (dimulai dengan menggoreskan
benda pembanding / penguji kekerasan yang paling kecil tingkat
kekerasannya, misalnya kuku jari tangan).
3. Hentikan penggoresan pada mineral apabila mineral yang
diselidiki tidak tergores oleh benda yang paling keras, kemudian
bandingkan kekerasan mineral dengan suatu urutan mineral
tertentu yang dipakai sebagai standart kekerasan (biasanya
membandingkan dengan skala Mohs).






Gambar 3.1
(A) Cara mendapatkan cerat mineral, (B) Cara menentukan kekerasan mineral

D. Cerat (Streak)
Cerat atau warna goresan adalah wama mineral dalam bentuk
serbuk atau goresan. Cerat dapat sama atau berbeda dengan warna
mineral. Pada umumnya warna cerat suatu mineral adalah tetap. Cerat
diperoleh dengan menggoreskan mineral pada keping porselin (bagian
belakang, bukan bagian yang licin) (lihat gambar di atas). Bila
mineralnya lebih keras dari keeping porselin, maka mineral yang
diselidiki dapat digoreskan pada skala kekerasan yang lebih keras dari
mineral tersebut. Contoh belerang yang berwama kuning cerah akan
bercerat putih kekuningan, pyrite berwarna kuning emas akan
bercerat hitam kecoklatan. Dengan demikian wama cerat adalah khas
bagi senyawa atau mineral tertentu.

23



Menentukan Gores / Cerat Mineral
1. Ambil salah satu contoh mineral yang ada dan ambil juga
kepingan porselin.
2. Goreskan bagian permukaan mineral pada bagian yang kasar suatu
keping porselin sampai terbentuk serbuk halus dari mineral
tersebut (Bila mineralnya lebih keras dari keping porselin, maka
mineral yang diselidiki dapat digoreskan pada skala kekerasan
yang lebih keras dari mineral tersebut).
3. Amati warna serbuk mineral tersebut.

E. Belahan (Cleavage)
Belahan adalah kenampakan mineral untuk membelah melalui
bidang yang rata, halus dan licin sama pada umumnya selalu
berpasangan.
Menentukan Belahan Mineral
1. Ambil salah satu contoh mineral yang ada dan ambil juga palu.
2. Pukulkan palu pada bagian permukaan mineral, kemudian amati
bagian yang pecah yang kecenderungan arah dan bentuk bidang
belahan yang terjadi sesuai dengan struktur kristalnya
Belahan dapat dibedakan menjadi :
^ Belahan sempurna (perfect cleavage) : ada bidang belahan dan
mudah belah. Contoh : muscovite dan biotite
^ Belahan baik (good cleavage) : ada bidang belahan tetapi tidak
mudah dibelah, contoh : calcite, ortoklas, dan gypsum.
^ Belahan tidak jelas (indistinct cleavage) : bidang belahan seperti
garis atau kenampakan striasi pada bidang belahannya, contoh :
plagioklas
^ Belahan jelas (distinct cleavage) : dimana bidang belahan jelas,

24



b. Belahan dua arah, contoh : felspar
tapi tidak begitu rata, dapat pecah pada arah lain dengan mudah.
^ Belahan tidak menentu (imperpect cleavage) : tidak ada bidang
belahan, contoh : kuarsa, opal, kalsedon
Apabila ditinjau dari arah belahannya, maka belahan dapat dibedakan
menjadi :
e Belahan satu arah, contoh : muskovit
e Belahan dua arah, contoh : felspar
e Belahan tiga arah, contoh : halite dan calcite

F. Pecahan (Fracture)
Pecahan adalah kenampakan mineral untuk pecah melalui bidang
yang tidak rata, tidak halus, tidak licin, dan tidak teratur.
Menentukan Pecahan Mineral
1. Ambil salah satu contoh mineral yang ada dan ambil juga palu.
2. Pukulkan palu pada bagian permukaan mineral, kemudian amati
bagian yang pecah tidak beraturan / tidak sesuai dengan
struktur kristalnya.
Pecahan mineral dapat dibedakan menjadi 5, yaitu :
* Pecahan konkoidal (conchoidal fracture) : memperlihatkan
gelombang yang melengkung dipermukaan, seperti kenampakan
bagian luar kulit kerang atau botol yang dipecah.
contohnya : kuarsa.
* Pecahan berserat (splintery/fibrous fracture) : menunjukkan
gejala seperti serat atau daging
contoh : serpentine, asbes, augit
* Pecahan tidak rata (uneven fracture) : menunjukkan kenampakan
permukaan yang tidak teratur dan kasar
contoh : garnet.

25




* Pecahan rata (even fracture) : permukaannya rata dan cukup
halus
contoh : mineral lempung (bentonit dan kaolin)
* Pecahan runcing (hackly fracture) : permukaannya tidak teratur,
kasar, dan ujungnya runcing-runcing
contoh : mineral kelompok logam native element, seperti emas,
tembaga.

G. Sifat Dalam / Ketahanan (Tenacity)
Sifat dalam adalah reaksi mineral terhadap gaya yang
mengenainya, seperti penekanan, pemotongan, pembengkokan,
pematahan, pemukulan, atau penghancuran.
Menentukan Ketahanan Mineral
1. Ambil salah satu contoh mineral yang ada.
2. Berikan efek gaya pada salah satu bagian dari mineral tersebut,
seperti: penekanan, pemotongan, pembengkokan, pematahan,
pemukulan, atau penghancuran.
3. Amati bentuk mineral tersebut setelah diberikan efek gaya yang
ada.

Sifat dalam dapat dibagi menjadi 6 macam, yaitu :
+ Rapuh (brittle)
Bila digores mcnjadi tepung, tetapi bubuknya tidak meloncat ke
segala arah dan mudah hancur, Contoh : kuarsa, kalsit, feldspar.
+ Dapat diiris (sectile)
Dapat diiris dengan pisau dan memberikan kenampakan yang
halus dan rata pada bekas irisannya. Contoh : gypsum

26



+ Dapat dipintal (ductile)
Bila mineral tersebut dapat dipintal seperti kapas. Contoh :
asbes
+ Dapat ditempa (maleable)
Bila mineral dipukul dapat menjadi lebih tipis dan melebar.
Contoh : emas dan tembaga
+ Lentur (elastic)
Bila dibengkokkan dapat kembali seperti semula kalau dilepaskan
lagi. Contoh: mika
+ Fleksibel
Dapat dibengkokkan tetapi tidak dapat kembali seperti semula
kalau dilepaskan lagi. Contoh ; tembaga

H. Kemagnetan
Kemagnetan adalah sifat mineral terhadap gaya tarik magnet.
Menentukan Kemagnetan Mineral
1. Ambil salah satu contoh mineral yang ada dan ambil juga magnet.
2. Dekatkan mineral tersebut sedikit demi sedikit dengan magnet
3. Amati reaksi antara magnet dan mineral tersebut, kemudian
rasakan pula kekuatan tarikan antara magnet dan mineral
tersebut.
Kemagnetan dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
^ Ferromagnetik : tertarik kuat oleh magnet, seperti magnetite,
pyrhotite
^ Paramagnetik : tertarik agak kuat oleh magnet, seperti pyrite
^ Diamagnetik : tidak tertarik oleh magnet, seperti kuarsa,
gypsum, dan lain- lain.

27



Untuk melihat apakah mineral mempunyai sifat magnetik atau
tidak, kita gantungkan pada seutas benang sebuah magnet dan dengan
sedikit demi sedikit mineral kita dekatkan padanya. Bila benang
bergerak mendekatinya, berarti mineral tersebut magnetic. Kuat
tidaknya bisa kita lihat dari besar kecilnya sudut yang dibuat benang
tersebut terhadap garis vetikal. Pada umumnya mineral-mineral yang
mengandung unsure Fe dan Ni dalam rumus kimianya akan mempunyai
sifat magnetic.

I. Menentukan Diaphaneity / Ketransparanan Mineral
1. Ambil salah satu contoh mineral yang ada.
2. Dekatkan mineral tersebut dengan sumber cahaya, kemudian
atur sedemikian rupa sehingga antara sumber cahaya, mineral,
dan mata terletak pada satu bidang datar atau dapat ditarik satu
garis lurus dengan mineral terletak di tengah-tengah.
3. Amati seberapa banyak cahaya yang dapat terlihat atau cahaya
yang dapat menembus mineral

J. Bentuk (Perawakan)
Menentukan Perawakan Mineral
1. Ambil salah satu contoh mineral yang ada.
2. Amati bentuk yang khas dari mineral tersebut, seperti bidang
bidang yang membangunnya termasuk ukurandan bentuk yang
relatif dari bidang itu.
Bentuk mineral ada 2 macam, yaitu :
- Bentuk kristalin
apabila mineral mempunyai bidang kristal yang ideal dan biasanya
terdapat pada mineral yang mempunyai bidang belahan.

28



- Bentuk amorf
apabila mineral tidak mempunyai batas-batas kristal yang jelas.

K. Berat Jenis (Specific Gravity)
Berat jenis adalah perbandingan antara berat mineral di udara
terhadap volumenya di dalam air. Yang dimaksud dengan volumenya di
dalam air adalah berat volume air yang sama dengan volume mineral
tersebut. Berat jenis mineral adalah tetap apabila susunanya tetap.
Penentuan berat jenis mineral dapat digunakan alat Timbangan Jolly,
piknometer, atau Neraca Analitik. Hasil tersebut dapat tepat apabila
mineralnya dalam keadaan mumi, homogen, padat, dan tidak berongga
sena dalam keadaan segar. Oleh karena perhitungan berat jenis
memakan waktu yang cukup lama, dan memerlukan peralatan yang
khusus, maka tidak dilakukan pada praktikum kali ini. Berat jenis
mineral dapat dilihat pada text book yang membahas tentang mineral,
seperti Mineralogy karangan Kraus, Hunt & Ramsdell (1951).

3.5. Beberapa Istilah Dalam Mineralogi
+ Mineraloid adalah zat atau benda padat bersifat alamiah dan
terbentuk melalui proses anorganik, tetapi bersifat amorf, tidak
mempunyai sifat-sifat fisik dan kimia tertentu, serta tidak
mempunyai warna yang tertentu pula. Contoh : obdisian dan opal
+ Pseudomorf adalah kristal yang mengalami perubahan komposisi
kimianya, tetapi bentuk kristalnya tetap
+ Isomorf adalah mineral yang mempunyai bentuk/system kristal (sifat
fisik) sama, tetapi komposisi kimianya (sifat kimia) berbeda. Contoh :
pyrite (FeS
2
) dengan galena (PbS) yang mempunyai system kristal

29



isometric, kalsit (CaCO
3
) dengan dolomit (CaMg(CO
3
)
2
) yang
mempunyai system Kristal rhombohendral (trigonal).
+ Polymorf/allotropi adalah mineral yang mempunyai komposisi kimia
(sifat kimia) sama, tetapi bentuk / system kristalnya (sifat fisik)
berbeda. Contoh : lihat label di bawah ini.










Tabel 3.3
Tabel mineral polymorf / allotropi

No Unsur/Senyavva Nama Mineral System Kristal
1 C
Graphite
Diamond (Intan)
Hexagonal
Isometric
2 CaC0
3

Calcite
Aragonite
Hexagonal
Orthorombik
3 FeS
2

Pyrite
Marcasite
Isometric
Orthorombik
4 Si0
2

Quartz
Cristobalite
Tridymite
Coesite
Stishovite