Anda di halaman 1dari 2

Jenis penyakit Jenis penyakit adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kekambuhan gangguan jiwa psikotik Selain

kepatuhan terhadap terapi dan peranan keluarga. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan penderita gangguan jiwa psikotik akan mengalami kekambuhan, banyak dari penelitian tersebut yang kemudian menyertakan jenis penyakit sebagai salah satu dari variabel yang berpengaruh terhdap munculnya kekambuhan. Gangguan bipolar adalah jenis gangguan jiwa psikotik yang paling sering menimbulkan relaps. Menurut jimenez at. Al (2012), dari 100% pasien dengan ganggguan jiwa psikotik yang mengalami relaps, 62% diantaranya adalah pasien dengan diagnosis gangguan bipolar, dan 35% adalah pasien dengan skizofren, dan 3% sisanya dalah gangguan jiwa psikotik yang lain. Bahkan menurut sajatovic (2005), recurrence rate pada gangguan bipolar akan tetap tinggi meskipun telah dilakukan terapi. Dalam penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa 83% pasien gangguan bipolar akan mengalami relaps dalam 1 tahun pertama setelah terdiagnosis pertama kali. Penelitian tersebut dilalukan prospecive selama 5 tahun. Kekambuhan yang terjadi tidak hanya terjadi satu kali dalam periode 1 tahun tersebut, tetapi sekitar 2/3 dari total sampel penelitian tersebut kekambuhan bisa terjadi sampai 3 kali dalam 1 tahun. Hal tersebut terjadi baik pada gangguan bipolar episode manik ataupun depresif. Menurut Gitlin et al (2004), pada sebagian besar kasus gangguan bipolar dengan psikotik, kekambuhan bisa terjadi seumur hidup, meskipun telah dilalukan terapi farmakologi yang agresif, hal tersebut tidak cukup mencegah munculnya kekambuhan pada penderita gangguan bipolar. Kekambuhan pada gangguan bipolar sebagian besar hanya dapat diperpanjang masa tenang nya, dalam periode tanpa gejala tersebut dibutuhkan peranan keluarga yang sangat besar dalam menjaga agar penderita tetap dalam situasi yang kondusif dan terhindar dari pemicu seperti stress psikososial yang dapat memunculkan atau mempercepat terjadinya kekambuhan, baik episode manik maupun depresif (Price et al., 2012) Gangguan skizofren merupakan gangguan jiwa psikotik yang memiliki kemungkinan kambuh nomor 2 setelah ganggguan bipolar (jimenez et al, 2012). Dahulu, ketika seseorang terdiagnosis skizofren, maka kemungkinan untuk sembuh sangat kecil, tetapi saat ini dengan perkembangan dunia kedokteran, peluang untuk munculnya kekambuhan pada penderita skizofren telah diturunkan. Menurut Kazadi (2008), penderita skizofren yang mendapatkan terapi hanya akan memiliki peluang terjadi kekambuhan sebesar 40%. Kemungkinan

kekambuhan pada penderita skizofren cenderung akan meningkat jika penderita menghentikan terapi, dan peluang terjadinya kekambuhan akan sangat menurun jika terapi dijalankan dengan baik dan patuh (kazadi, 2008). Dengan intervensi dini yang komprehensif, seperti pemberian antipsikotik secara optimal, terapi kognitif perilaku, peranan keluarga yang optimal, angka kesembuhan skizofren dapat ditingkatkan (Maramis, 2009). Kejadian kekambuhan pada gangguan psikotik lainnya selain gangguan bipolar dan skizofren bervariasi, tetapi kemungkinan kekambuhan yang terjadi masih dibawah gangguan bipolar. Secara umum, ketika penderita mengalami gangguan jiwa psikotik, maka kombinasi antara terapi farmakologi dan terapi intervensi psikososial dibutuhkan untuk mencapai kesembuhan dan mengurangi keumungkinan untuk terjadinya relaps (Byrne, 2007)