Anda di halaman 1dari 6

Percobaan 1 PENENTUAAN TITIK BEKU LARUTAN 1.

Tujuan Percobaan - Menentukan tetapan penurunan titik beku molar perarut - Menentukan BM. Zat non volatil 2. Tinjauan Pustaka 2.1 Material Safety Data Sheet (MSDS)
Air Nama IUPAC Nama Lain Sifat : Dihidrogen monoksida, oksidan : Asam hidrosilik, hidrogen hidroksida

a. Rumus Molekul b. Massa molar c. Penampilan

: H2O : 18.01528(33) g mol-1 : Cairan tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau pada keadaan standar : 1000 kg m-3, liquid (4 C), 917 kg m-3, solid : 0 C, 32 F (273.15 K) : 100 C, 212 F (373.15 K) : larut dalam berbagai perbandingan : 0.001 Pa saat 20 C : Hexagonal : 1.85 D (Anonim, 2011).

d. Densitas e. Titik leleh f. Titik didih g. Kelarutan dalam air h. Viskositas i. j.

Bentuk molekul Momen dipol

Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O. Satu molekul air tersusun dari dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 1bar. Selain itu air merupakan pelarut polar yang penting yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak molekul organik (Fessenden, 1997 : 360).

2.1.1

Air Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O. Satu molekul air tersusun dari dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi

standar, yaitu pada tekanan 1 bar. Selain itu air merupakan pelarut polar yang penting yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya. Sifat-sifat kimia yang dimiliki air adalah nama IUPAC : Dihydrogen monoxide, Oxidane , nama lain : Hydroxylic acid, Hydrogen Hydroxide, rumus molekul : H2O, massa molar : 18.01528(33) g mol-1, penampilan : cairan tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau pada Keadaan standar, densitas : 1000 kg m3 , liquid (4 C), 917 kg m-3, solid, titik leleh : 0 C, 32 F (273.15 K), titik didih : 100 C, 212 F (373.15 K), kelarutan dalamair : larut dalam berbagai perbandingan, viskositas : 0.001 Pa saat 20 C, bentuk molekul : Hexagonal, momen dipol : 1.85 D. 2.1.2 Asam Cuka glacial Beracun, berbahaya dan korosif. dapat menyebabkan luka bakar parah untuk semua jaringan tubuh. Mungkin fatal jika tertelan. Berbahaya jika dihirup. Terhisap dapat menyebabkan paru dan kerusakan gigi. Potensi efek kesehatan: Inhalasi: Menghirup uap pekat dapat menyebabkan kerusakan serius pada lapisan hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Kesulitan bernapas dapat terjadi. Baik bau maupun tingkat iritasi cukup untuk menunjukkan uap konsentrasi. Tertelan: Menelan dapat menyebabkan cedera parah menyebabkan kematian. Gejala termasuk sakit tenggorokan, muntah, dan diare. Menelan sesedikit 1,0 mL telah mengakibatkan perforasi esofagus. Kulit: Kontak dengan larutan pekat dapat menyebabkan kerusakan serius pada kulit. Efek dapat mencakup kemerahan, nyeri, luka bakar kulit. Tinggi konsentrasi uap dapat menyebabkan sensitisasi kulit. Kontak Mata: Kontak mata dengan solusi terkonsentrasi dapat menyebabkan kerusakan mata yang parah diikuti dengan hilangnya penglihatan. Paparan uap dapat menyebabkan penyiraman intens dan iritasi pada mata. Paparan kronis: Eksposur berulang atau berkepanjangan dapat menyebabkan penggelapan kulit, erosi gigi depan terbuka, dan peradangan kronis dari hidung, dan tenggorokan. Tindakan pertolongan pertama Inhalasi: Hapus untuk udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernapas, berikan oksigen dan segera hubungi dokter. Tertelan: Berikan sejumlah besar air atau susu jika tersedia. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada orang yang tidak sadar. Dapatkan perawatan medis dengan segera. Kulit: Dalam kasus terjadi kontak, segera basuh kulit dengan banyak air sedikitnya selama 15 menit saat mengeluarkan terkontaminasi pakaian dan sepatu. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali dan segera hubungi dokter.

Kontak Mata: Segera siram mata dengan banyak air sedikitnya selama 15 menit, mengangkat kelopak mata bawah dan atas sesekali. Dapatkan perawatan medis dengan segera 2.1.3 Naftalen Naftalen merupakan senyawa dengan formula C10H8, yang berbentuk kristal , berwarna putih, berbau tajam, titik lebur 80C, titik didih 218 C, tidak larut dalam air dan larut dalam benzena, eter dan alkohol. Naftalen merupakan senyawa hidrokarbon aromatik yang memiliki dua cincin benzena yang terfusi. Naftalen digunakan dalam pembuatan hidrokarbon ion seperti naftol, dekalin dan tetralin. Naftalen dihasilkan secara penyulingan bertingkat fase batu bara. Naftalen adalah salah satu komponen yang termasuk benzena aromatik hidrokarbon, tetapi tidak termasuk polisiklik. Naftalen memiliki kemiripan sifat yang memungkinkannya menjadi aditif bensin untuk meningkatkan angka oktan. Sifat-sifat tersebut antara lain: sifat pembakaran yang baik, mudah menguap sehingga tidak meninggalkan getah padat pada bagian-bagian mesin. Penggunaan naftalen sebagai aditif memang belum terkenal karena masih dalam tahap penelitian. Sampai saat ini memang belum diketahui akibat buruk penggunaan naftalen terhadap lingkungan dan kesehatan, namun ia relatif aman untuk digunakan (Anonim, 2012).
Sodium klorida atau natrium klorida (NaCl) yang dikenal sebagai garam adalah zat yang memiliki tingkat osmotik yang tinggi. Zat ini pada proses perlakuan penyimpanan benih recalsitran berkedudukan sebagai medium inhibitor yang fungsinya menghambat proses metabolisme benih sehingga perkecambahan pada benih recalsitran dapat terhambat. Dengan kemampuan tingkat osmotik yang tinggi ini maka apabila NaCl terlarut didalam air maka air tersebut akan mempunyai nilai atau tingkat konsentrasi yang tinggi yang dapat mengimbibisi kandungan air (konsentrasi rendah) yang terdapat di dalam tubuh benih sehingga akan diperoleh keseimbangan kadar air pada benih tersebut. Hal ini dapat terjadi karena H2O akan berpindah dari konsentrasi yang rendah ke tempat yang memiliki konsentrasi yang tinggi (Anonim, 2011). Natrium klorida, juga dikenal dengan garam dapur atau halit, adalah senyawa kimia dengan rumus kimia NaCl. Senyawa ini adalah garam yang paling mempengaruhi salinitas laut dan cairan ekstraseluler pada banyak organisme multiseluler.
3

Massa

molar

58.44

g/mol,

tidak

berwarna/berbentuk kristal putih, densitas 2.16 g/cm ,titik leleh 801 C (1074 K), titik didih 1465 C (1738 K), kelarutan dalam air 35.9 g/100 mL (25 C) (Anonim, 2011).

2.2 Dasar teori Larutan adalah campuran homogen dari molekul atom maupun ion dari dua zat atau lebih. Larutan disebut campuran karena susunannya berubah-ubah. Larutan disebut homogen karena susunannya begitu seragam sehingga tidak dapat diamati adanya bagian-bagian yang berlainan bahkan dengan mikroskop optik sekalipun. Campuran heterogen, permukaan-permukaan tertentu dapat dideteksi antara bagianbagian atau fase-fase yang terpisah. Meskipun semua campuran fase gas bersifat

homogen dan karena itu disebut larutan, molekul-molekulnya begitu terpisah sehingga tidak dapat saling menarik dengan efektif (Alberty, 1991). Suatu larutan campuran akan memiliki titik beku yang lebih rendah dibandingkan pelarut murninya, dalam sifat koligatif. Hal ini dikarenakan adanya penghalang antar partikel pelarut yang sejenis oleh larutan terlarut, sehingga larutan campuran memerlukan suhu yang lebih rendah agar partikel-partikel pelarut sejenisnya menjadi rapat (membeku). Hal ini sesuai dengan pengertian bahwa semakin tinggi suhunya, maka jarak antar partikel sejenis akan merenggang (Syukri, 1999).
Pada setiap suhu, suatu larutan memilki tekanan yang lebih rendah dari pada pelarut murninya. Akibatnya pada diagram hubungan antara tekanan dan suhu terlihat jelas jika bahan titik didih larutan selalu tinggi serta titik beku larutan selalu rendah jika dibandingkan dengan titik beku pelrut murninya. Air murni pada tekanan 1 atm memiliki titik beku 0oC. Jika dalam air kita larutkan zat, maka titik beku larutannya akan lebih rendah dan titik didihnya akan lebih tinggi dari 100oC. Besarnya penurunan titik beku (Tf) dan kenaikan titk didih (Tb) hanya ditentukan oleh jumlah partikel zat tersebut . Makin banyak partikel zat terlarut maka makin besar pula Tf dan Tb (Anshory.1999:03).

Titk beku larutan adalah temperatur pada saat larutan setimbang dengan pelarut padatnya. Larutan akan membeku pada temperature lebih rendah dari pelarutnya. Pada setiap saat tekanan uap larutan selalu lebih rendah dari pada pelarut murni. Sifat penurunan titik beku bergantung pada jumlah molekul zat terlarut yang ada dan tidak bergantung pada ukuran atau berat molekul zat terlarut. Penentuan penurunan titik beku lebih mudah dilaksanakan daripada untuk menentukan kenaikan titik didih. Dengan peralatan yang lebih sederhana dan dapat dilakukan dengan lebih mudah. Pada suhu tinggi beberapa pelarut bersifat kurang stabil sehingga menyulitkan pengukuran (Sukardjo, 1997). Salah satu sifat koligatif larutan adalah penurunan titik beku. Titik beku larutan ialah temperatur pada saat larutan setimbang dengan pelarut padatnya. Larutan akan membeku pada temperatur lebih rendah dari pelarutnya. Berikut rumus penurunan titik beku larutan adalah: Tf = Kf . m dimana, Tf = penurunan titik beku Kf m = tetapan penurunan titik beku molal atau tetapan krioskopik = kemolalan

Saat tekanan tetap, penurunan titik beku suatu larutan encer berbanding lurus dengan konsentrasi massa (Achmad, 1996). Sifat sifat koligatif adalah sifat sifat yang hanya ditentukan oleh jumlah partikel dalam larutan dan tidak tergantung oleh jenis partikelnya, tidak bergantung pada ukuran ataupun berat molekul zat terlarut. Sifat koligatif larutan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sifat larutan non elektrolit dan elektrolit. Hal itu disebabkan zat terlarut dalam

larutan elektrolit bertambah jumlahnya karena terurai menjadi ion-ion, sedangkan zat terlarut pada larutan non elektrolit jumlahnya tetap karena tidak terurai menjadi ion-ion, sesuai dengan hal-hal tersebut maka sifat koligatif larutan non elektrolit lebih rendah daripada sifat koligatif larutan elektrolit. Larutan merupakan suatu campuran yang homogen dan dapat berwujud padatan, maupun cairan. Akan tetapi larutan yang paling umum dijumpai adalah larutan cair, dimana suatu zat tertentu dilarutkan dalam pelarut berwujud cairan yang sesuai hingga konsentrasi tertentu (Bird, 1993). Kegunaan sifat-sifat koligatif banyak dan beragam. Sifat-sifat tersebut memainkan peranan penting dalam metode penetapan bobot molekul dan pengembangan teori larutan () Perhitungan sifat koligatif larutan elektrolit selalu dikalikan dengan faktor Van't Hoff: i=1+(n-1) Keterangan: i = faktor Van't Hoff n = jumlah koefisien kation = derajat ionisasi Terdapat empat sifat yang berhubungan dengan larutan encer atau kira-kira pada larutan yang lebih pekat, yang tergantung pada jumlah partikel terlarut yang ada. Jadi, sifatsifat tersebut tidak tergantung pada jenis larutan. Keempat sifat tersebut ialah penurunan tekanan uap, peningkatan titik didik, penurunan titik beku, dan tekanan osmosisi. Pada tahun 1880-an kimiawan Prancis F. M. Raoult mendapati bahwa melarutkan suatu zat terlarut mempunyai efek penurunan tekanan uap dari pelarut. Banyak penurunan tekanan uap (P) terbukti sama dengan hasil kali fraksi mol terlarut (XB) dan tekanan uap pelarut murni (PAo), yaitu: P = XB.PAo Dalam dua larutan komponen, XA + XB = 1, maka XB = 1XA. Juga apabila tekanan uap pelarut di atas larutan dilambangkan PA, maka P = PAoPA. Sehingga dapat ditulis kembali menjadi: PAo PA = (1XA) PAo Dan penataan ulang persamaan ini menghasilkan bentuk yang umum dikenal dengan Hukum Raoult. Hukum Raoult menyatakan bahwa Tekanan uap pelarut di atas suatu larutan (PA) sama dengan hasil kali tekanan uap pelarut murni (PAo) dengan fraksi mol dalam larutan (XA). Apabila zat terlarut mudah menguap dapat ditulis pula PB = XB.PBo. Dalam larutan ideal semua komponen (pelarut dan zat terlarut) mengikuti Hukum Raoult pada seluruh selang

konsentrasi. Namun zat terlarut dalam larutan tak ideal encer mengikuti Hukum Hendry, bukan Hukum Raoult (Petrucci, 1984: 63-64).

3. Metodologi Percobaan