Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Tubuh manusia mempunyai berbagai cara untuk melakukan proteksi. Pertahanan pertama adalah barier mekanik, seperti kulit yang menutupi permukaan tubuh.1 Kulit termasuk lapisan epidermis, stratum korneum, keratinosit dan lapisan basal bersifat sebagai barier yang penting, mencegah mikroorganisme dan agen perusak potensial lain masuk ke dalam jaringan yang lebih dalam. Misalnya asam laktat dan substansi lain dalam keringat mengatur pH permukaan epidermis dalam suasana asam yang membantu mencegah kolonisasi oleh bakteri dan organisme lain. Terdapat berbagai infeksi pada anak disertai dengan kelainan (tanda) pada kulit. Pada beberapa kasus kelainan kulit dapat merupakan tanda penting penyebab infeksi yang merupakan indikator bermakna adanya infeksi yang mendasarinya. Walaupun kebanyakan penyakit eksantema pada anak bersifat ringan, diagnosis banding penting sekali oleh karena beberapa infeksi pada anak yang fatal sering mempunyai kelainan (tanda) pada kulit sebagai manifestasi awal. Dermis dengan kolagen dan elastin memberikan dukungan dan pencegahan banyak elemen seperti saraf, pembuluh darah, dan lain-lain sedangkan subkutis merupakan insolator panas dan persediaan kalori. Kekurangan kolagen akan memudahkan terjadinya edema, terutama pada bayi prematur. Penyebab disfungsi integumen pada anak masih banyak yang akan kita bicarakan pada makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah a. apa yang dimaksud dengan sistem disfungsi integumen? b. bagaimanakah pembagian terhadap disfungsi integumen pada anak? 1.3 Tujuan Makalah 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui sistem disfungsi integumen pada anak. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui sistem disfungsi integumen pada anak. b. Untuk mengetahui pembagian terhadap disfungsi integumen pada anak.

1.4 Manfaat Makalah Diharapkan para pembaca dapat mengetahui pengetahuan mengenai sistem disfungsi integumen, dimana kami juga mengharapkan pembaca lebih bisa memahami dan menjadi edukator, disini kami mencoba memaparkan sistem disfungsi integumen secara kompleks, mulai dari definisi, pembagian terhadap disfungsi integumen sebagai tambahan ilmu dalam aplikasi kehidupan. Sebab disfungsi integumen pada anak merupakan suatu patologi yang menjadi

pembicaraan kalangan masyarakat, dan tentunya dilandasi pemahamahan yang lebih spesifik untuk menghindari hal tersebut.

BAB II
LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Integumen menurut ilmu bahasa latin diambil dari kata integumentum yang berarti penutup. Sistem integumen adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan, melindungi, dan menginformasikan terhadap lingkungan sekitarnya. Sistem ini seringkali merupakan bagian sistem organ yang terbesar yang mencakup kulit, rambut, bulu, sisik, kuku, kelenjar keringat dan produknya (keringat atau lendir). Kulit merupakan organ tubuh paling besar yang melapisi seluruh bagian tubuh, membungkus daging dan organ-organ yang ada di dalamnya. Luas kulit pada manusia ratarata 2 meter persegi dengan berat 10 kg jika ditimbang dengan lemaknya atau 4 kg jika tanpa lemak atau beratnya sekitar 16 % dari berat badan seseorang. Kulit adalah lapisan terluar pada tubuh manusia. Pada vertebrata struktur kulit dibagi menjadi 2 bagian, bagian terluar disebut epidermis, dan bagian dalam dermis. Epidermis merupakan lapisan luar yang selalu terdiri dari jaringan epitel berlapis banyak dan berasal dari derivat ectoderm. Dermis atau torium.Di dalam dermis terdapat kelenjar keringat, kelenjar minyak, pembuluh darah, ujung-ujung saraf dan kantung rambut. Kulit dibagi kedalam dua kategori : a. Kulit tebal Dapat dijumpai pada telapak tangan dan telapak kaki. Menurut seorang bangsa scot : Henry Faudlus (1880), kulit dari telapak tangan mempunyai alur yang selalu konstan polanya yang digunakan dalam dactiloscopy atau ilmu merajah tangan (astrologi).dilihat dari penampang meintangnya tampak tidak merata karena adanya papilla dermis yang menonjol ke epidermis. Terbentuknya kulit tebal antara lain : Mula-mula terjadi pembelahan mitos pada stratum germinativum Dilanjutkan denga pedorongan sel-sel hasil pembelahan mitosis ini keluar Sel-sel yang terdorong keluar ini akan mengalami proses penandukan (kornivikasi) Kemudian sel-sel yang telah mengalami penandukan akan terlepaskan Lapisan epidermis kulit tebal : 1. Stratum germinativum, lapisan in terdiri 2 lapisan 2. Lapisan basal
3

3. Stratum spnosium 4. Stratum granulosum 5. Stratum lusidum 6. Stratum corneum. b. Kulit tipis Kulit tipis meliput semua permukaan kulit kecuali pada telapak tangan dan kaki, kulit yang paling tipis terdapat pada kelopak mata 0,5 mm, sedangkan yang tertebal di bagian punggung yaitu 5 mm. pada kulit tipis dapat di jumpai : kelenjar keringat, kelenjar keringat , kelenjar lemak atau minyak yang berhubungan dan tidak berhubungan dengan akar rambut . Struktur yang membangun epidermis tipis, terdiri dari : 1. Stratum germinativum 2. Stratum spinosum, tipis saja 3. Stratum granulosum, yangtidak kontinyu 4. Stratum korneum juga tipis, stratum lusidum tidak ada. Fungsi fungsi kulit 1. Sebagai alat pengeluaran berupa kelenjar keringat. 2. Sebagai pelindung organ dibawahnya. 3. Tempat dibuatnya Vit D dengan bantuan sinar matahari. 4. Pengatur suhu tubuh. 5. Tempat menimbun lemak. Kelenjar kelenjar adalah alat tubuh yang menghasilkan getah atau sekret tertentu. kelenjar keringat kelenjar keringat berupa saluran melingkar dan bermuara pada kulit ari dan berbentuk pori-pori halus. Produksi keringat dimulai dari kapiler darah, kelenjar keringat menyerap air dengan larutan NaCl dan sedikit urea . air beserta larutannya di keluarkan melalui pori-pori kulit, yaitu tempat air dikeluarkan dan merupakan penyerapan panas tubuh. Kegiatan kelenjar keringat di bawah pengaruh pesat pengatur suhu badan sistem saraf pusat, kecuali pengeluaran keringat yang tidak rutin. Sekresi kelenjar keringat disebut keringat atau sudor. Secara histologis kelenjar keringat termasuk tipe tubuler bergelung dan mirokrin.

Faktor- faktor yang mempengaruhi pengeluaran keringat, antara lain : 1) pancaran terik matahari
4

2) pada waktu berolah raga 3) rangsangan saraf yang kuat, dan lain sebagainya. Fungsi kelenjar keringat selain sebagai alat sekeresi juga berperan sebagai alat pengatur suhu ( thermoregulasi ). kelenjar lemak atau kelenjar sebaceous Kelenjar keringat menghasilkan minyak unuk mencegah kekeringan. pada kelenjar lemak terdapat butir sekresi yang disebut sebolina. Secara histologi tergolong dalam tipe alveolar / achiner bergelung dan holokrin,serta mempunyai fungsi sebagai proteksi . kelenjar sebolina tidak terdapat pada mamalia yang tidak berambut . kelenjar-kelenjar yang tidak umum pada mamalia: 1) Kelenjar bau ( scanet gland ), terdapat pada cucurut, biasanya terdapat pada ssekitar anus/ perineal, peranan biologisnya mempunya hubungan dengan kehidupan kelamin. 2) kelenjar meibom, terdapat pada kelopak mata 3) kelenjar lakrimal, juga pada kelopak 2.2 Fungsi Sistem Integumen a. Pelindung dari kekeringan, invasi mikroorganisme, sinar ultraviolet dan mekanik, kimia, atau suhu b. Penerima sensasi, sentuhan, tekanan, nyeri, dan suhu c. Pengatur suhu, menurunkan kehilangan panas saat suhu dingin dan meningkatkan kehilangan panas saat suhu panas d. Fungsi metabolic, menyimpan energi melelui cadangan lemak, sintesis vitamin D. e. Ekskresi dan absorpsi .

BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Disfungsi Integumen Pada Anak 1. Lesi Pada Kulit Berdasarkan penyebabnya, Lesi pada kulit dapat digolongkan menjadi 2 yaitu : a. Lesi Primer 1. Makula Ukuran : Titik sampai bercak Warna : Merah, coklat keputihan, dsb 2. Vesikula Vesikel merupakan lepuh kecil yang dibentuk dengan akumulasi cairan dalam epidermis ; mereka biasanya diisi dengan cairan serosa dan ditemukan pada anakanak yang menderita eksema. 3. Keratosis Adalah penebalan yang tidak normal dari lapisan terluar epitel (stratum korneum). Warna: putih sampai keabuan. Contoh: linea alba bukalis, leukoplakia, lichen planus. 4. Gelegata Gelegata merupakan elevasi sementara kulit yang disebabkan oleh edema dermis dan dilatasi kapiler sekitarnya. Biasanya berkaitan dengan respon alergi terhadap bahan asing. b. Lesi Skunder 1) Skuama Skuama merupakan lapisan tanduk dari epidermis mati yang menumpuk pada kulit yang dapat berkembang sebagai akibat perubahan inflamasi. Keadaan ini ditemukan pada psoariasis. 2) Krusta Ini terbentuk dari serum, darah atau nanah yang mengering pada kulit. Masing-masing dapat dikenal dengan warna berikut : merah kehitaman (krusta darah), kuning kehitaman (krusta nanah), berwarna madu (krusta serum).

3) Fisura Ini merupakan retakan kecil yang meluas melalui epidermis dan memaparkan dermis. Mereka dapat terjadi pada kulit kering dan pada inflamasi kronik. 4) Ulkus Ulkus merupakan lesi yang terbentuk oleh kerusakan lokal dari seluruh epidermis dan sebagian atau seluruh korium di bawahnya. 3.2 Luka Luka adalah keadaan hilang/terputusnya kontinuitas jaringan (Mansjoer, 2000:396). Menurut InETNA, luka adalah sebuah injuri pada jaringan yang mengganggu proses selular normal, luka dapat juga dijabarkan dengan adanya kerusakan pada kuntinuitas/kesatuan jaringan tubuh yang biasanya disertai dengan kehilangan substansi jaringan.

1) Klasifikasi Luka Berdasarkan penyebabnya, luka terjadi melalui beberapa cara berikut : a) Ekskoriasi atau luka lecet b) Vulnus scisum atau luka sayat c) Vulnus laseratum atau luka robek d) Vulnus punctum atau luka tusuk e) Vulnus morsum atau luka karena gigitan binatang f) Vulnus combotio atau luka bakar

Berdasarkan ada / tidak nya kehilangan jaringan bisa terjadi melalui beberapa cara: a) Ekskoriasi b) Skin avulsion c) Skin loss Berdasarkan derajat kontaminasi a) Luka bersih b) Luka sayat elektif c) Steril, potensial terinfeksi d) Tidak ada kontak dengan orofaring, traktus respiratorius,traktus elimentarius, traktus genitourinarius. e) Luka bersih tercemar
7

f) Luka sayat elektif

2) Tipe Penyembuhan luka Terdapat 3 macam tipe penyembuhan luka, dimana pembagian ini dikarakteristikkan dengan jumlah jaringan yang hilang. 1. Primary Intention Healing (penyembuhan luka primer) yaitu penyembuhan yang terjadi segera setelah diusahakan bertautnya tepi luka biasanya dengan jahitan. 2. Secondary Intention Healing (penyembuhan luka sekunder) yaitu luka yang tidak mengalami penyembuhan primer. Tipe ini dikarakteristikkan oleh adanya luka yang luas dan hilangnya jaringan dalam jumlah besar. Proses penyembuhan terjadi lebih kompleks dan lebih lama. Luka jenis ini biasanya tetap terbuka. 3. Tertiary Intention Healing (penyembuhan luka tertier) yaitu luka yang dibiarkan terbuka selama beberapa hari setelah tindakan debridement. Setelah diyakini bersih, tepi luka dipertautkan (4-7 hari). Luka ini merupakan tipe penyembuhan luka yang terakhir (Mansjoer,2000:397 ; InETNA, 2004:4).

3) Fase Penyembuhan Luka Proses penyembuhan luka memiliki 3 fase yaitu fase inflamasi, proliferasi dan maturasi. Antara satu fase dengan fase yang lain merupakan suatu kesinambungan yang tidak dapat dipisahkan. 1. Fase Inflamasi 2. Fase Proliferasi 3. Fase Maturasi 4) Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka Penyembuhan luka merupakan suatu proses yang kompleks dan dinamis karena merupakan suatu kegiatan bioseluler dan biokimia yang terjadi saling berkesinambungan. Proses penyembuhan luka tidak hanya terbatas pada proses regenerasi yang bersifat lokal saja pada luka, namun dipengaruhi pula oleh faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik (InETNA,2004:13). 1. Faktor Instrinsik adalah faktor dari penderita yang dapat berpengaruh dalam proses penyembuhan meliputi : usia, status nutrisi dan hidrasi, oksigenasi dan perfusi jaringan, status imunologi, dan penyakit penyerta (hipertensi, DM, Arthereosclerosis).

2. Faktor Ekstrinsik adalah faktor yang didapat dari luar penderita yang dapat berpengaruh dalam proses penyembuhan luka, meliputi : pengobatan, radiasi, stres psikologis, infeksi, iskemia dan trauma jaringan (InETNA,2004:13). Komplikasi Penyembuhan Luka Komplikasi dan penyembuhan luka timbul dalam manifestasi yang berbeda-beda. Komplikasi yang luas timbul dari pembersihan luka yang tidak adekuat, keterlambatan pembentukan jaringan granulasi, tidak adanya reepitalisasi dan juga akibat komplikasi post operatif dan adanya infeksi. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah : hematoma, nekrosis jaringan lunak, dehiscence, keloids, formasi hipertropik scar dan juga infeksi luka (InETNA,2004:6). 3.3. Infeksi Bakteri Berikut ini adalah gambaran secara jelas beberapa Infeksi Bakteri yang sering terjadi pada anak yang dapat menyebabkan infeksi bakteri : a. Bullous Impetigo Bullous impetigo ialah pioderma superfisialis (terbatas pada epidermis). Etiologi dari penyakit ini disebabkan oleh : Staphylococcus aureus, Staphylococcu pyogenic dan Group A Streptococcus B hemolyticus (GABHS) (Djuanda,2007) Sumber infeksi biasanya dari trauma minor di kulit. Bullous Impetigo biasanya sering menyerang pada anak anak dan bayi. Faktor resiko dari penyakit ini antara lain kurang gizi, kebersihan kurang, usia muda dan pemakaian glukokortikoid jangka panjang. Morfologi lesi dari bullous impetigo adalah eritema, bulla, vesikel, bulla hipopion, krusta dan erosi. Biasa pasien datang dengan koleret yang dasarnya masih eritematosa dan krusta berwarna kuning seperti madu. Tempat predileksi dari penyakit ini adalah di ketiak, dada, dan punggung. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk membantu diagnosa penyakit ini adalah dengan pewarnaan gram. Spesimen kulit diambil dan dapat ditemukan bakteri. Tanda Nikolsky negatif. Terapi dari bullous impetigo adalah dengan antibiotik, bisa secara topikal menggunakan salep dan sistemik. Komplikasi dari bullous impetigo adalah glomerulonefritis akut, selulitis dan scarlet fever. b. Staphylococcal scalded skin syndrome (SSSS) Staphylococcal scalded skin syndrome (SSSS) merupakan penyakit yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus ( Hamzah M, 2007 )

Epidemiologi dari penyakit ini adalah umumnya menyerang anak anak usia dibawah 5 taun dan jenis kelamin laki laki. Sumber infeksi berasal dari fokus infeksi yang bisa berada di mulut, hidung, tenggorokan dan umbilikus. Faktor risiko dari penyakit ini adalah sistem imunitas yang melemah, gangguan ginjal dan renal clearance yang rendah. Morfologi lesi berupa eritema, bula yang besar dengan dinding yang kendor, erosif, deskuamasi dan bisa menimbulkan jaringan parut. Tempat predileksi adalah di seluruh bagian tubuh kecuali mukosa, telapak tangan dan telapak kaki. Pemeriksaan penunjang dengan pemeriksaan bakteriologik. Tanda Nikolsky positif. Terapi dapat diberikan antibiotik dan menjaga keseimbangan elektrolit. Komplikasi dari penyakit ini adalah sepsis, dehidrasi dan shock.

3.4. Infeksi Virus Infeksi yang sering menyerang anak adalah sebagai berikut Varicella Varisella atau cacar air ( Chiken pox ) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh infeksi virus Varicella zooster. Sumber infeksi berasal dari udara. Chicken Pox atau istilah medisnya Varicella simplex merupakan penyakit yang menyerang kulit dan mudah menular . Infeksi virus ini akan menyerang setiap orang baik anak-anak maupun sudah dewasa yang belum mengalami cacar air, namun jika seseorang sudah mengalami cacar air tubuhnya akan kebal terhadap serangan infeksi virus ini, namun pada anak gejala akan lebih ringan dan kesembuhan akan lebih menjadi lebih mudah tanpa masalah sedangkan pada orang dewasa infeksi ini bisa menjadi berat baik gejala maupun penyembuhannya. Etiologi Adapun etiologinya adalah sebagai berikut : 1. Timbulnya bintik-bintik merah pada kulit dan akan menyebar ke seluruh tubuh. 2. Setelah beberapa hari bintik merah baru akan timbul dan lebih banyak serta timbulnya gelembung berisi air. 3. Setelah gelembung berisi air terbentuk biasanya masa inkubasinya sekitar 2 hingga 3 minggu. 4. Tubuh akan mengalami demam. 5. Rasa gatal membuat penderita akan menggaruk dan mengakibatkan parut.

10

6. Gejala lain yang dimbulkan seperti nyeri di pergelangan sendi, sakit kepala, sakit perut, nafsu makan berkurang, rasa lelah da tidak nyaman. 7. Sebelum bintik merah timbul biasanya penderita cacar air akan mengalami batuk ringan serta hidung berair. 8. Jika daya tahan tubuh seseorang yang terkena cacar air ini kuat maka cacar air yang ditimbulkan akan lebih sedikit serta cepat mengering. Faktor resiko dari varisela adalah sistem imunitas yang melemah, pemakaian glukokortikoid jangka panjang, dan di daerah tersebut sedang terjadi wabah varisela. Manifestasi klinis, morfologi lesi varisela berupa papul eritematosa yang beberapa jam kemudian menjadi vesikel, pustul, dan krusta. Bentuk khas dari vesikel varisela adalah vesikel yang berbentuk tear drops. Selain itu, terdapat juga ulserasi dangkal. Tempat predileksinya adalah batang tubuh yang akan menyebar secara sentrifugal ke daerah wajah dan ekstermitas. Varisela juga bisa menyerang selaput lendir mata, saluran nafas atas dan mukosa mulut. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk membantu diagnosa penyakit ini adalah dengan tes Tzanck, yaitu pengambilan spesimen dari vesikel dan ditemukannya sel datia langhans. Tanda Nikolsky negatif. Terapi dari varisela adalah simptomatik yaitu diberikan antipiretik dan analgetik jika ada demam, diberikan antipruritus jika ada gatal, dan antibiotik jika ada infeksi sekunder. Komplikasi 1. Infeksi kulit sehingga kulit menjadi merah, sakit dan bengkak. 2. Radang sendi terjadinya bengkak dan sakit pada sendi. 3. Infeksi paru, seperti susah bernafas, batuk, sakit didada dan mengi. 4. Peradangan di otak, seperti sakit kepala, leher mengeras dan tidak sadarkan diri. 5. Terjadinya dehidrasi, karena muntah berkelanjutan mengakibatkan mulut kering.

3.5. Dermatitis Dermatitis atau eksim adalah penyakit kulit reaksi inflamasi yang didasari oleh faktor herediter dan faktor lingkungan, bersifat kronik residif dengan gejala eritema, papula, vesikel, kusta, skuama dan pruritus yang hebat. Bila residif biasanya disertai infeksi, atau alergi, faktor psikologik, atau akibat bahan kimia atau iritan ( Meiner, 2006 )
11

Dermatitis terkait dengan penyakit imunoglobulin E [IgE] misalnya, reaksi alergi akut terhadap makanan, asma, urtikaria, dan rhinitis alergi. Dermatitis ini memiliki morbiditas yang sangat besar, dan kejadian dan prevalensi tampaknya. akan meningkat. Dermatitis merupakan penyakit pertama yang hadir dalam serangkaian penyakit alergi seperti alergi makanan, asma, dan rinitis alergi, memprovokasi atopik march teori, yang menunjukkan bahwa Dermatitis awal atau berat dan sensitisasi kulit untuk lingkungan alergen dapat menyebabkan penyakit alergi berikutnya di lain permukaan epitel penghalang misalnya, saluran pencernaan atau pernapasan. Etiologi Hal ini dilihat dari keadaan penderita yang pada umumnya a. kurang memperhatikan kebersihan b. dipengaruhi faktor genetic c. Idiopatik

d. aktifitas daya tahan tubuh yang berlebihan, Hal ini menyebabkan tubuh melakukan reaksi yang berlebihan terhadap iritan atau bakteri yang sebenarnya tidak berbahaya bagi kulit ( Scully, 2004 ). e. kondisi stres, alergi dan infeksi pathogen . Tanda dan gejala Dermatitis cenderung datang dan pergi sendiri. Beberapa anak akan mengatasi itu sementara yang lain akan terus diganggu oleh selama bertahun-tahun yang akan dating . Penyakit ini disebut penyakit terkendali. a. Dermatitis kadang muncul pada beberapa bulan pertama setelah bayi lahir. b. Pada wajah, kulit kepala, daerah yang tertutup popok, tangan, lengan, kaki atau tungkai bayi terbentuk ruam berkeropeng yang berwarna merah dan berair. c. Dermatitis seringkali menghilang pada usia 3-4 tahun, meskipun biasanya akan muncul kembali. d. Pada anak-anak dan dewasa, ruam seringkali muncul dan kambuh kembali hanya pada 1 atau beberapa daerah, terutama lengan atas, sikut bagian depan atau di belakang lutut. e. Warna, intensitas dan lokasi dari ruam bervariasi, tetapi selalu menimbulkan gatal-gatal. f. Rasa gatal seringkali menyebabkan penggarukan yang tak terkendali sehingga penyakitnya semakin buruk.

12

g. Penggarukan dan penggosokan juga bisa merobek kulit dan menciptakan jalan masuk untuk bakteri sehingga terjadi infeksi. Dengan alasan yang belum pasti, penderita dermatitis dalam jangka panjang kadang mengalami katarak pada usia 20-30an tahun. Pada penderita dermatitis biasanya hanya menyerang daerah yang kecil dan ringan, bisa menyebabkan penyakit serius berupa eksim dan demam tinggi (eksim herpetikum).

Pengobatan non farmakologis diantaranya adalah : Dermatitis atopik umumnya tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikontrol. Sebagian penderita mengalami perbaikan sesuai dengan bertambahnya usia. Langkah pertama dalam penatalaksanaan penderita dermatitis adalah menghindari dan mengurangi faktor penyebab, misalnya makanan, faktor inhalan, atau faktor pencetus sel, walaupun masih kontroversial ternyata bayi yang memperoleh air susu ibu lebih jarang menderita dermatitis atopik dibandingkan bayi yang memperoleh pengganti air susu ibu 1. Perawatan Kulit Hidrasi adalah terapi dermatitis yang esensial. Dasar hidrasi yang

adekuat adalah peningkatan kandungan air pada kulit dengan cara mandi dan menerapkan sawar hidrofobik untuk mencegah evaporasi. Mandi selama 15-20 menit 2 kali sehari tidak menggunakan air panas dan tidak menambahkan oil (minyak) karena mempengaruhi penetrasi air. 2. Pengobatan topikal adalah untuk mengatasi kekeringan kulit dan peradangan. Mengatasi kekeringan kulit atau memelihara hidrasi kulit dapat dilakukan dengan mandi memakai sabun lunak tanpa pewangi. Jangan menggunakan sabun yang bersifat alkalis Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis) Obat-obatan dermatitis. Terdapat banyak jenis obat dermatitis yang beredar saat ini. Untuk pemilihan obat yang tepat diharapkan menghubungi dokter. Antibiotik : Empiris terapi antimikroba harus komprehensif dan harus mencakup semua patogen mungkin dalam konteks pengaturan klinis. Untuk pengobatan infeksi klinis oleh S aureus, kloksasilin atau sefaleksin digunakan. Pada infeksi streptokokus, sefaleksin lebih disukai. Jika tidak efektif, penisilin dan klindamisin dalam kombinasi yang efektif. Pertimbangkan infeksi stafilokokus dalam setiap suar dermatitis atopik.

13

BAB IV PENUTUP

4.1 KESIMPULAN Integumen menurut ilmu bahasa latin diambil dari kata integumentum yang berarti penutup. Sistem integumen adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan, melindungi, dan menginformasikan terhadap lingkungan sekitarnya. Sistem ini seringkali merupakan bagian sistem organ yang terbesar yang mencakup kulit, rambut, bulu, sisik, kuku, kelenjar keringat dan produknya (keringat atau lendir). Disfungsi integumen pada anak dapat dibagi menjadi 5 yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. Lesi pada kulit Luka Infeksi Bakteri Infeksi virus Dermatitis

Pengobatan - Pengobatan non obat (non farmakologis) - Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis) 4.2 SARAN Kami mengharapkan partisipasi pembaca juga pembimbing dalam penyusunan makalah ini, juga saran, kritikan yang bersifat membangun tentu sangat kami butuhkan demi kesempurnaan makalah ini.

14

DAFTAR PUSTAKA

Sriyono,dkk.2005. Ilmu Pengetahuan Alam Biologi. Jakarta : Sunda Kelapa Pustaka. Djuanda A, Hamzah M. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Jakarta: BP FKUI, 2007 Aisah S,. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Jakarta: BP FKUI, 2007

15