Anda di halaman 1dari 11

REAKSI TANAH DAN PENGAPURAN APA pH TANAH? Istilah pH tanah menentukan keasaman atau kebasaan relative suatu substansi.

. Skala pH mencakup kisaran mulai 0 s.d. 14, dan pH = 7.0 adalah netral. Nilai pH < 7 = asam, dan pH > 7 = basa.

pH Measurements
Possible pH Ranges Under Natural Soil Conditions
Neutral Acidic
Very stron g

Basic
Very stron g

Stron g

Moderat e

Sligh t

Sligh t

Moderat e

Stron g

8 7 Most desirable Most agricultural soils

10

11

12

13

14

Extreme pH range for most mineral soils

apple: 5.0-6.5 spinach: 6.0-7.5 tomato: 5.5-7.5 cranberry:4.2-5.0 wheat: 5.5-7.5 cucumber: 5.5-7.0 carrot: 5.5-7.0 white pine: 4.5-6.0

Pada kebanyakan tanah-tanah produktif kisaran pH antara 4.0 s.d 9.0. Al juga bertindak sebagai elemen yang bersifat asam dan mengaktifkan H+. pH = - log (H+). Aktivitas H+, (H+) pada tanah dengan pH = 6.0 adalah 10x lipat dari (H+) pada tanah dengan pH = 7.0. Karenanya, kapur perlu ditambahkan saat pH tanah turun.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI pH TANAH pH tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor meliputi: bahan induk, curah hujan, dekomposisi BO, tumbuhan asli setempat, tumbuhan yang ditanam, kedalaman tanah, pemupukan N, dan penggenangan. Bahan induk tanah berkembang dari bahan induk yang umumnya batuan basa akan memiliki pH > daripada yang dibentuk dari batuan asam (misal: granit). Curah hujan saat air hujan melalui tubh tanah, hara-hara basa seperti; Ca, dan Mg akan tercuci, dan digantikan oleh elemen-elemen asam seperti Al,
Halaman: 1

Kesuburan Tanah

H, dan Mn. Karenanya, tanah-tanah yang terbentuk pada kondisi curah hujan tinggi akan lebih asam daripada yang terbentuk pada kondisi arid. Dekomposis BO BO secara terus menerus mengalami perombakan oleh mikroorganisme menjadi asam-asam organik, CO2, dan air membentuk asam karbonat. Asam karbonat akan bereaksi dengan Ca dan Mg karbonat dalam tanah menjadi H+ dan membentuk bikarbonat yang lebih larut yang kemudian tercuci sehingga meninggalkan suasana tanah yang asam. Gambar 2.2. (Lihat di Web Kuliah Kesuburan Tanah, PNT 341) menunjukkan efek jangka panjang akumulasi BO (dan mineralisasi) pada C-organik (C), organik N, dan pH tanah. Habitat tanaman asal tanah-tanah yang terbentuk dibawah kondisi vegetasi hutan cenderung untuk lebih asam daripada yang dibentuk dibawa padang rumput. Hutan tanaman berdaun jarum menyebabkan keasaman daripada hutan deciduous. Pertumbuhan tanaman beberapa tanah menjadi lebih asam setelah tanaman dipanen, sebab basa-basa tanah telah hilang. Macam tanaman menentukan banyaknya hara yang hilang. Tanaman legume umumnya mengandung basa yang tinggi daripada tanaman rumput. Kandungan Ca dan Mg juga bervariasi bergantung pada bagian tanaman apa yang dipanen. Pengambilan Ca dan Mg oleh Tanaman.
Tanaman Alfalfa Pisang Jagung Kapas Kedele Produksi (t/ha) 8 (jerami) 60 (buah) 9 (biji) 1 (serat) 3 (biji) Hara Yang diambil (kg/ha) Ca Mg 196 45 23 25 2 15 2 3 7 15

Jika jerami dan dedaunan yang dipanen, kesimbangan keasaman masih terjaga. Jika biji yang dipanen, hasil akhirnya menyebabkan kenaikan pH, karena biji mengandung komponen asam. Banyak tanaman legume yang melepas ion H+ ke daerah perakaran ketika memfiksasi N2 udara. Keasaman yang ditimbulkan berkisar dari 0.2 s.d. 0.7 satuan pH per mole N difiksasi.

Lihat Gambar 2-3


Kedalaman tanah kecualidi daerah yang bercurah hujan rendah, keasaman umumnya bertambah seiring dengan kedalaman. Jadi, hilangnya tanah atas (top soil) karena erosi dapat menyebabkan pH pada lapis olah lebih asam. Penyebabnya, adalah lebih banyak bagian subsoil yang masuk kedalam lapisan olah, akibat lapisan topsoil yang hilang. Namun ada beberapa daerah yang pH subsoilnya lebih tinggi dari topsoilnya.

Kesuburan Tanah

Halaman: 2

Pemupukan N N, baik dari pupuk, BO, manure dan fiksasi N legume, ... semuanya menyebabkan keasaman. N-pupuk mempercepat pembentukan keasaman. Pada dosis N rendah, kecepatan keasaman juga rendah; dan dipercepat dengan peningkatan dosis pemupukan N. Pada tanah-tanah berkapur, efek pengasaman dapat meguntungkan. Jika Fe, Mn, atau hara mikro lainnya deficient, penurunan pH menyebabkan mereka lebih tersedia, kecuali Mo. Penggenangan pengaruh umum dari penggenangan adalah meningkatkan pH pada tanah asam dan menurunkanph pada tanah-tanah basa. Tanpa memperhatikan pH asalnya, pH tanah akan mencapai 6.5 7.2 dalam satu bulan setelah penggenangan dan tetap pada level itu sampai dikeringkan. Konsekuensinya, pengapuran tidak berpengaruh banyak pada produksi padi. Terlebih, pengapuran dapat menyebabkan defisiensi hara-mikro, seperti Zn.

Pengukuran pH Tanah, dan Menentukan Kebutuhan Kapur Dua metode yang paling umum dipakai dalam menentukan pH tanah adalah: (1) kertas warna indikator, dan (2) pH meter. pH tanah tidak dapat menentukan kebutuhan kapur. Karena, pH tanah hanya mengukur keasaman aktif dalam larutan tanah. Sedangkan untuk menentukan kebutuhan kapur, keasaman potensial juga harus diperhitungkan. Keasaman potensial, menunjukkan ion H+ yang diikat oleh lempung dan BO tanah. Kebutuhan kapur untuk tanah, tidak saja berhubungan dengan pH tanah, tetapi juga dengan kapasitas penyanggaan atau KTK tanah. Banyaknya lempung dan BO, serta jenis mineral lempung akan menentukan seberapa kuat tanah disangga, ... seberapa kuat mereka menahan perubahan pH. Daya sangga tanah meningkat dengan meningkatnya jumlah lempung dan BO. Tanah-tanah seperti itu membutuhkan kapur lebih banyak daripada tanahtanah dengan kapasitas penyanggaan yang rendah untuk menaikkan pH tanah. Dalam tanah yang didominasi lempung 2:1 (smectites) pengurangan Kejenuhan Basa (KB) (hilangnya Ca, Mg, K, dll) menyebabkan pengasaman, dengan konsekuensi pecahnya mineral lempung, dan lepasnya Al. Yang kemudian menempati kompleks pertukaran untuk menggantikan basa-basa yang hilang. Tanah-tanah seperti itu dapat dinaikkan pH-nya sampai mendekati netral untuk meningkatkan produktivitasnya tanpa banyak mempengaruhi KTK. Lain halnya dengan tanah merah tropika, dimana Al dan Fe dominan dalam mineral lempung dan stabil pada pH rendah sampai pH 5.0. Al terikat dalam struktur mineral dan meracun untuk tanaman hanya jika oksida Fe-Al dan Kaolinite larut pada kisaran pH tanah < 5.0-5.3. Dalam hal ini, keracunan Al dapat diatasi dengan pengapuran untuk menaikkan pH sampai 5.5-6.0. pada pH tersebut menyebabkan pengendapan Al dapat-ditukar (Al-dd) menjadi

Kesuburan Tanah

Halaman: 3

Al(OH)3, dan pada saat yang sama meningkatkan KTK (tanah dengan muatan berubah). Oleh karenanya, disarankan agar rekomendasi pengapuran lapisan atas tanahtanah tersebut berdasarkan banyaknya Al-dapat ditukar.
KTKE meq/100g

Pengaruh Pengapuran pada Ultisol Merah Kejenuhan, meq/100gr Perlakuan pH Ca Mg K

Al

Tanpa Kapur Dikapur (4 t/ha)

4.9 5.8

1.79 7.90

1.12 6.73

0.11 0.14

2.15 0.09

5.17 14.86

Kebutuhan kapur pada kebanyakan tanah-tanah tropika dapat dihitung dengan rumus berikut: CaCO3 ekivalen (t/ha) = 2.0 x meq Al/100 g Pada tanah yang berbahan induk abu volkan, kapasitas penyanggaan yang tinggi membuat evaluasi kebutuhan kapur menjadi kompleks. Bila kapur diaplikasikan pada Andisols yang asam, akan berinteraksi dengan bahan-bahan yang sangat reaktif (allofan, imogolite, kompleks humus-Al) membentuk muatan (meningkatkan KTK) tetapi tidak menaikkan pH maupun mengendapkan Al. Lihat Tabel 2-4.

Penggunaan data Al-dd dapat menyebabkan pendugaan kebutuhan kapur yang lebih rendah pada kasus-kasus tertentu. Kebutuhan kapur untuk mengendapkan Al pada Andisols dapat bervariasi (bergantung pada ketinggian tempat, iklim, dan tingkat serta intensitas pelapukan) dan ditentukan dengan tepat melalui percobaan spesifik lokasi. Tanpa memperhatikan metode untuk menentukan pH dan kebutuhan kapur; kapur yang digunakan jangan sampai berlebihan. Karena kelebihan kapur dapat menyebabkan tanah terlalu basa dan defisiensi Fe, Mn, Zn dan hara mikro.

Mengapa Tanah Asam Harus Dikapur Berikut adalah beberapa konsekuensi dari kondisi pH rendah. o Konsentrasi beberapa elemen: Al, Fe, dan Mn dapat mencapai tingkatan meracun, karena kertelarutannya meningkat dalam tanah asam. o Keracunan Al mungkin menjadi faktor utama penghambat pertumbuhan pada tanah sangat asam (pH < 5.0 atau pH 5.5 pada tanah-tanah berkaolinit). Keracunan ion H+ dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman hanya pada pH < 4.2. o Organisme yang bertanggungjawab terhadap perombakan BO dan mineralisasi N, P, dan S mungkin menjadi terbatas dalam jumlah dan aktivitasnya.
Kesuburan Tanah

Halaman: 4

o Ca mungkin defisien ketika KTK tanah menjadi sangat rendah, demikian pula dengan defisien Mg. o Kinerja dari herbisida yang diaplikasi ke tanah dapat terpengaruh secara negatif ketika pH tanah sangat rendah. o Fiksasi N oleh simbiotik legume menjadi berkurang dengan nyata. Hubungan simbiotik membutuhkan kisaran pH yang lebih sempit untuk pertumbuhan yang optimum daripada tanaman yang tidak membutuhkan fikasasi N. Bakteria simbiotik untuk kedele berfungsi baik pada pH 6.0 6.2; bakteria alfalfa pada pH 6.8 7.0. o Tanah dengan lempung sangat asam kurang beragregasi. Hal itu akan menyebabkan permiabilitas dan aerasi yang rendah. Efek tak langsung dari pengapuran akan meningkatkan residu tamaman, yang seterusnya memperbaiki struktur tanah. o Ketersediaan hara P dan Mo menjadi berkurang. o Kecenderungan K tercuci menjadi lebih tinggi. Gambar 2-4. menunjukkan kisaran pH yang mempengaruhi ketersediaan hara dalam tanah. Keberagaman pH yang Diharapkan Kebanyakan tanaman tumbuh baik pada pH tanah 6.0 -7.0. Keasaman tanah tidak menghambat pertumbuhan semua tanaman. Beberapa tanaman membutuhkan kondisi asam untuk tumbuh baik.

Lihat Tabel 2-5.


Tanaman-tanaman yang asalnya dikembangkan pada tanah basa, seperti kapas, sorghum, dan alfalfa rentan terhadap kejenuhan Al. (% Al dlam KTKE). Sedangkan tanaman lain seperti padi dan kapri (cowpeas) menunjukkan toleransi yang lebih lebar. Kopi, nanas, tea, sawit, dan beberapa rumput tropika dan legume mungkin dapat tumbuh pada tanah dengan kejenuhan Al tinggi. Tetapi pengapuran dibutuhkan untuk mengatasi defisiensi Ca dan Mg atau untuk mengoreksi keracunan Mn.

Lihat Tabel 2-6.

Kesuburan Tanah

Halaman: 5

PENGAPURAN Pengapuran, jika diaplikasikan untuk pH optimum, akan berfungsii lebih dari sekedar menetralkan tanah, ... Pengapuran ... Mengurangi keracunan Al dan metal lain. Memperbaiki kondisi fisik tanah Merangsang aktivitas mikrobia dalam tanah Meningkatkan KTK dalam tanah-tanah bermuatan berubah Meningkatkan ketersediaan beberapa hara Mensuplai Ca. Sedangkan kapur Dolomit mensuplai Ca dan Mg. Memperbaiki fiksasi N simbiotik oleh legume Tanah-tanah tropika yang kaya oksida-oksida Fe dan Al, pengapuran berlebih sampai mencapai pH > 6.0 atau 7.0 dapat menurunkan produksi dengan nyata, dapat menyebabkan kerusakan struktur tanah, mengurangi ketersediaan P, dan menyebabkan defisiensi Zn, Bo, Mn.

Lihat Gambar Hal 2-5


Sifat tanah berbeda berdasarkan lokasinya. Keasaman (pH) tanah optimum di satu lokasi mungkin bukan yang terbaik di daerah lain. Pengetahuan praktis tentang tanah maupun tanaman merupakan hal penting untuk memenuhi pH optimum dan kebutuhan kapur. Bgaimana Kapur Mereduksi Keasaman Tanah Proses dan reaksi bagaimana kapur mereduksi keasaman tanah sangat kompleks. Tetapi, suatu model sederhana akan menunjukkan bagaimana kapur bekerja. o pH tanah mengekspresikan aktivitas H+. Sumber utama ion H+ pada sebgaian besar tanah dari pH < 5.5 merupakan reaksi Al dengan H2O: AL+3 + H2O Al(OH)+2 + H+ Reaksi di atas melepaskan H+ (pengasaman) yang sebaliknya meningkatkan banyaknya Al+3 siap bereaksi lagi. o Kapur mengurangi keasaman tanah (menaikkan pH) dengan mengkonversi beberapa H+ menjadi air. Pada pH > 5.5, pengendapan Al menjadi Al(OH)3. Sehingga, efek yang meracun dan sumber utama H+ dihilangkan. o Reaksi diatas bekerjanya sebagai berikut: ketika Ca+2 dari kapur menggantikan Al+3 pada permukaan pertukaran, ion karbonat (CO3-2) bereaksi dalam larutan tanah membentuk kelebihan OH- yang selanjutnya bereaksi dengan H+ (keasaman) membentuk air. Lihat Gambar 2-5. o Kebalikan dari proses di atas dapat juga terjadi. Suatu tanah asam akan menjadi lebih asam jika program pengapuran tidak dilakukan/diberlanjutkan.

Kesuburan Tanah

Halaman: 6

o Kation-kation basa: Ca+2, Mg+2, dan K+ hilang, umumnya diambil tanaman, dan mereka dapat digantikan oleh Al+3. Basa-basa ini dapat juga hilang karena tercuci, juga akan digantikan oleh Al+3. Proses tersebut akan meningkatkan H+ secara kontinyu, sehingga akan menurunkan pH tanah,jika tanah tidak dikapur dengan benar. Waktu dan Frekuensi Pengapuran Untuk rotasi tanaman termasuk tanaman legume yang membutuhkan pH tinggi, kapur sebaiknya diaplikasikan 3-6 bulan sebelum pembibitan, khususnya pada tanah sangat asam. Pengapuran beberapa hari sebelum pembibitan alfalfa atau Clover sering memberikan hasil yang mengecewakan karena tidak cukup waktu untuk kapur bereaksi dengan tanah. Pernyataan umum tentang frekuensi pengapuran mungkin kurang bijak karena banyak faktor yang imut berperan. Cara yang terbaik untuk menentukan pengapuran ulang adalah dengan uji tanah. Beberapa faktor berikut akan mempengaruhi frekuensi pengapuran. o Tekstur tanah tanah-tanah berpasir harus dikapur lebih sering daripada tanah-tanah berlepung. o Dosis pemupukan N aplikasi N dosis tinggi mrnyebabkan keasaman yang berarti. o Pengambilan oleh tanaman bergantung pada tanamannya, hasil dan bagian-bagian lain yang dipanen, sejumlah besar Ca dan Mg diambil/hilang. o Banyaknya kapur yang diaplikasikan aplikasi dosis yang lebih tinggi umumnya membuat tanah tidak butuh di kapur ulang sering. o Kisaran pH yang diharapkan untuk mempertahankan pH tinggi umumnya berarti kapur harus diaplikasikan lebih sering daripada mempertahankan pH yang rendah. Sering terjadi bahwa kisaran pH yang diharapkan tidak tercapai, karena kurangnya pengapuran, kualitas kapur yang rendah, atau pencampuran yang tidak sempurna. Uji tanah dapat memonitor perubahan pH berdasarkan waktu. Pemilihan Bahan Kapur Aspek Kualitas Dalam pemeilihan bahan kapur yang harus diperhatikan adalah kemampuan penetralannya, derajat kehalusan, dan reaktivitasnya. Karena Mg mungkin rendah atau defisien pada kebanyakan tanah tropika, kandungan Mg dalam kapurharus menjadikan salah faktor pemilihan bahan pengapuran. Dolomit sebaiknya digunakan jika tersedia. Jika dolomit tidak tersedia maka Mg harus disuplai dari sumber lain. Kemampuan penetralan dari semua bahan kapur ditentukan dengan membandingkan mereka terhadap kemampuan pentralan CaCO3 murni. Kalau ditentukan kemampuan penetralan CaCO3, 100, maka nilai kemampuan penetralan bahan kapur lain dapat ditentukan. Nilai tersebut sering disebut Nilai/Kemampuan Penetralan Relatif (NPR) atau Ekivalen CaCO3.

Kesuburan Tanah

Halaman: 7

Nilai/Kemampuan Penetralan Relatif beberapa bahan kapur yang umum adalah sebagai berikut. Nilai/Kemampuan Penetralan Relatif (NPR) Beberapa Bahan Kapur BAHAN KAPUR CaCO3 Kapur Dolomit Kapur Calcitic Kulit Oyster (kerang Oyster) yang dipanggang Marmer Kapur yang dibakar Kulit Oyster dibakar Kapur terhidrasi Basic Slag Adu Kayu bakar Gipsum Produk-produk sampingan NPR, % 100 95-108 85-100 80-90 50-90 150-175 90-110 120-135 50-70 40-80 Bervariasi

Jika sejumlah tertentu kapur dicampur dengan tanah, kecepatan reaksinya dan derajat kereaktivitasannya dipengaruhi oleh ukuran partikel. Kapur dengan ukuran kasar bereaksi lebih lambat dan kurang sempurna. Partikel kapur yang halus bereaksi lebih cepat dan sempurna. Harga kapur meningkat dengan makin halusnya partikel. Tujuannya adalah ukuran partikel bahan kapur yang memenuhi persyaratan minimum tapi tetap mengandung cukup bahan untuk cepat menaikkan pH. Pentingnya ukuran partikel terhadap NPR ditunjukkan pada Gambar 2-6. partikel ukuran besar (4-8 mesh) efisiensinya bereaksi dengan tanah hanya 10%. Partikel yang berukuran halus (80-100 mesh) bereaksi sempurna. Walaupun reaksi pengapuran bergantung kepada ukuran partikel, pH awal dan tingkat pencampuran dengan tanah, sifat kimia dari bahan kapur itu sendiri merupakan bahan pertimbangan penting. CaO dan CaOH bereaksi lebih cepat daripada CaCO3. Kapur terhidrasi dapat bereaksi demikian cepat dan dapat mensterilkan tanah. Jika diaplikasikan mendekati waktu tanam dapat menyebabkan defisiensi K sementara, karena kertesediaan Ca tinggi. Pertumbuhan tanaman terhambat dan dapat pula menyebabkan kematian pada kasus-kasus ekstrim. PENEMPATAN KAPUR Faktor lain yang juga penting dalam menentukan keefektifitasan pengapuran adalah penempatannya. Penempatan untuk kontak maksimum dengan tanah dalam lapisan olah adalah faktor yang sangat penting. Kebanyakan bahan pengapuran memiliki kelarutan yang rendah dalam air, jadi pendistribusiannya dalam tanah merupakan keharusan untuk reaksi
Kesuburan Tanah

Halaman: 8

pengapuran. Namun, walaupun kapur dicampur rata dengan tanah, kapur akan memberikan sedikit pengaruh terhadap pH jika tanahnya kering. Kelembaban/kelengasan tanah sangat penting agar reaksi tanah-kapur terjadi. Jika kapur diaplikasikan dalam jumlah besar pada tanah berlempung, pencampuran yang baik dihasilkan dari mencampur sebagian sebelum pengolahan tanah utama dan sisanya kemudian. Pada tanah berpasir cukup dengan aplikasi sekaligus pada pengolahan tanah pertama. Kapur yang diaplikasikan dipermukaan akan bereaksi lebih lambat dan juga tidak sesempurna dibandingkan jika dicampur dengan tanah. Lahan sebaiknya dikapur ulang sebelum pH turun dibawah kisaran yang diharapkan untuk menghindari keasaman berlebih didaerah perakaran. TANAH_TANAH ber pH TINGGI: CALCAREOUS, SALINE dan SODIC Tanah-tanah di daerah beriklim Arid memiliki pH tinggi yang dapat mempengaruhi sifatnya dan mempengaruhi produktivitasnya. Yang jelas mereka tidak butuh pengapuran, tetapi pH yang tinggi mempengaruhi ketersediaan hara, kesuburan tanah, dan pengelolaan pemupukan. o Tanah berkapur (calcareous) mengandung CaCO3, kapur tak larut, dengan pH sekitar 7.3-8.4. Adanya kapur bebas mempengaruhi praktikpraktik pengelolaan seperti pemakaian herbisida, penempatan P (karena fiksasi), dan ketersediaan hara mikro-khususnya Fe. Penurunan pH tanah berkapur pada umumnya tidak ekonomis. Namun dengan manajemen yang tepat, tanah ini merupakan tanah yang sangat produktif. o Tanah Bergaram (saline) mengandung garam-garam dalam jumlah banyak dan cukup untuk menghambat pertumbuhan tanaman karena tanaman tidak dapat mengambil air dengan cukup dan berfungsi dengan baik. Tanaman yang tumbuh pada tanah bergaram sering menunjukkan kelayuan walaupun kandungan air tanah (lengas tanah) dalam jumlah yang cukup. Tingkat kegaraman diukur dengan EC (electrical conductivity). Tanah-tanah bergaram dapat direklamasi dengan pencucian garam-garam sampai keluar dari daerah perakaran dengan menggunakan air berkualitas. Beberapa tanaman juga toleran terhadap kegaraman tanah, lihat Tabel 2-8. BAIK Barley (gandum) Bit gula Canola Kapas Rumput Bermuda TINGKAT TOLERANSI CUKUP Biji-bijan sereal Jagung Alfalfa Rumput Orchard Rye Sweet Clover RENDAH Clover pada umumnya Field bean Seledri Apel Jeruk Peach

o Tanah berSodium (Sodic, alkali) mengandung Na berlebihan pada daerah pertukaran tanahnya (tapak jerapan). Tanah diklasifikasikan sebagai tanah ber-Na jika kejenuhan Na >15% pada kompleks KTK-nya. Umumnya
Kesuburan Tanah

Halaman: 9

memiliki pH >8.5. kelebihan Na dapat mendispersikan tanah sehingga menyebabkan penghambatan pada pergerakan air, dan udara. Tanah bersodium dapat direklamasi dengan menggantikan Na pada tapak jerapan dengan Ca. Pemberian gipsum (Ca-sulfat) merupakan perlakuan yang banyak dilakukan. Elemen S (belerang) juga dapat dipakai pada tanah yang berkapur. Reklamasi yang baik ditandai dengan keluarnya Na dari daerah perakaran. Pengalian yang dalam dan/atau pengaplikasian manur telah digunakan untuk memperbaiki pergerakan air dalam tanah. Sering terjadi bahwa tanah ber-Na juga bergaram. Tanah-tanah bergaram ataupun ber-Na dikarakteristikkan dengan kejenuhan Na >15%, EC tinggi, dan pH 8.4 atau <. Rekalamasi tanah-tanah bergaram/ber-Na sama seperti untuk tanah ber-Na. Beberapa Bahan PENGAPURAN o Kalsium oksida (CaO) o Kalsium hidroksida (Ca(OH)2) o Calcitic limestone (CaCO3) dan Dolomitic limestone [CaMg(CO3)2] o Marl CaCO3 lunak/rapuh. o Slags sisa pembakaran tanur o Stack dust debu terendapkan pada industri semen. o Water softening sludge produk sampingan industri o

Kesuburan Tanah

Halaman: 10

KEBUTUHAN KAPUR BERDASARKAN MODIFIKASI COCHRANE

KK = 1.4 [Al terekstrak (KAK*KTKE)/100] x (Z/15) x BD Dimana: KK = kebutuhan kapur Al terekstrak = Al terekstrak KCl KAK = %-Kejenuhan Al Kritikal KTKE = KTK Efektif Z = kedalaman kapur dibenam (cm) BD = bulk density = Berat Jenis Volum. Angka 1.4 berasal dari 1.9 cmolc CaCO3/cmolc Al dan kedalaman 15 cm. Hitunglah kebuthan kapur untuk mengurangi kejenuhan Al dari 90% menjadi 75% pada suatu tanah yang memiliki KTKE 3 cmol/kg. Tuliskan asumpsi anda bila diperlukan. Jawaban: Perhitungan dengan menggunakan pendekatan rumus Cochrane. KAK Al tereks. KTKE Kedalaman BD %Al Cmol/kg Cmol/kg Cm g/cm3 75 2.7 3 10 1.0 75 2.7 3 15 1.0 75 2.7 3 30 1.0 Kebutuhan Kapur Cochraxne.xls KK t/ha 0.420 0.630 1.260

Kesuburan Tanah

Halaman: 11