Anda di halaman 1dari 3

Faktor Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri (Lathifany R.W.

., 1206218833) Setiap individu memiliki karakteristik yang unik dan berbeda satu sama lain. Termasuk konsep diri yang dimilikinya. Konsep diri menentukan bagaimana seorang individu memandang apa yang terdapat dalam dirinya sendiri. Konsep diri bersifat dinamis yang artinya selalu berubah dan berkembang selama rentang hidup seseorang. Sebab konsep diri muncul atau di pelajari melalui pengalaman pribadi seseorang, hubungan dengan orang lain, serta interaksi dengan dunia luar (Stuart&Laraia, 2005). Konsep diri memiliki empat komponen, diantaranya identitas personal, citra tubuh, peforma peran, dan harga diri. Individu yang memiliki konsep diri yang positif lebih mampu mengembangkan dan mempertahankan hubungan interpersonal dan lebih tahan terhadap penyakit psikologis dan fisik (Kozier, 2010). Konsep diri yang dimiliki seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Craven & Hirnle (2007) dalam buku Fundamental of Nursing : Human Health and Function 5th Ed, menyebutkan bahwa terdapat delapan faktor yang mempengaruhi konsep diri seorang individu, diantaranya : 1. Biologic Makeup Karakteristik tubuh seperti jenis kelamin, tinggi badan, berat badan, warna kulit yang terdapat pada diri individu akan mempengaruhi konsep dirinya. Sebagian besar individu yang memiliki karakteristik tubuh tidak sesuai dengan harapannya dan memiliki perbedaan yang signifikan dengan masyarakat sekitarnya akan mengalami konsep diri yang negatif. Seorang yang berkulit hitam yang berada di masyarakat dominan kulit putih akan mengalami kesulitan memiliki konsep diri yang positif jika persepsi masyarakat disekitarnya sering mendiskriminasi.

2. Cultures, Values, Beliefs Budaya, nilai, dan kepercayaan yang didapatkan oleh seorang individu dari lingkungannya akan mempengaruhi konsep dirinya. Lingkungan tersebut bisa dari keluarga, teman sebayanya, masyarakat, dan lain sebagainya. Misalnya seorang anak yang dibawah umur yang merokok dan minum minuman keras karena berada di lingkungan yang sering melakukan hal tersebut.

3. Coping & Stress Tolerance Individu yang mampu beradaptasi terhadap stres dan menyelesaikan konflik melalui koping cenderung mampu mengembangkan konsep diri.

4. Self-Efficacy Self-efficacy merupakan derajat percaya diri yang seseorang miliki berkaitan dengan kemampuannya dalam melakukan kegiatan tertentu. Seseorang yang memiliki self-efficacy yang tinggi akan mengembangkan konsep diri yang positif.

5. Previous Experience Konsep diri seseorang dipengaruhi oleh pengalamannya yang lalu dengan dunia. Pengalaman tersebut meliputi kesempatan untuk sukses dan gagal. Jika seseorang meraih kesuksesan, maka ia akan membangun harga dirinya dan kepuasan perannya. Dengan terbangunnya harga diri akan terbentuk pula konsep diri yang positif. Pengalaman juga dapat membuat seseorang mengembangkan dan menggunakan strategi coping.

6. Developmental Level Tingkatan perkembangan individu mempengaruhi pembentukan konsep dirinya sejak lahir hingga tumbuh dewasa. Tiap tingkat perkembangan akan

menghadirkan pengalaman unik yang akan memperkuat atau merubah konsep diri individu. Jika tugas perkembangan tidak selesai, maka masalah konsep diri akan terjadi. Kemungkinan tugas pada tingkat perkembangan selanjutnya juga tidak selesai. Hal tersebut akan menyebabkan masalah pada konsep diri.

7. Role Transition Setiap orang memiliki bermacam-macam peran sepanjang kehidupannya. Perkembangan transisi peran umumnya dikaitkan dengan penuaan dan pertumbuhan. Misalnya transisi dari siswa menjadi pencari nafkah, status seseorang dari beristri menjadi duda. Tiap transisi peran dapat menimbulkan masalah peran, diantaranya ambiguitas peran, keterpaksaan peran, dan konflik peran. Ambiguitas peran terjadi ketika seseorang kekurangan pengetahuan tentang harapan terhadap perannya, yang dapat menimbulkan kecemasan dan

kebingungan. Misalnya pada seseorang yang menerima suatu pekerjaan tanpa

mendapatkan orientasi tentang performa dan tanggung jawab yang diharapkan. Keterpaksaan peran terjadi ketika seseorang merasa dirinya tidak cocok dengan suatu peran. Misalnya pada seorang wanita yang memiliki banyak peran seperti menjadi istri, ibu, pegawai, dengan perasaan bahwa dia tidak memenuhi perannya sesuai dengan apa yang sesungguhnya dapat ia lakukan. Konflik peran berkaitan dengan harapan menyangkut peran. Bisa terjadi dalam bentuk intrapersonal, interpersonal, atau, antar peran.

8. Illness, Trauma, Surgery Konsep diri yang positif biasanya berdasar pada kesehatan tubuh. Penyakit akut dan kronis, trauma, atau operasi dapat berdampak negatif pada harga diri dan citra tubuh, dengan demikian dapat menyebabkan stres dan keterpaksaan peran, menurunkan harga diri, dan mengubah citra tubuh. Perasaan terkait dengan terganggunya citra tubuh meliputi ketidakberdayaan, keputusasaan, ketakutan akan reaksi orang lain, dan kemarahan. Misalnya pada seorang atlit lari yang mengalami kecelakaan yang mengakibatkan ia tidak mampu lagi berlari lagi. Hal tersebut bisa menimbulkan konsep diri negatif pada dirinya. Pemahaman akan faktor-faktor yang berperan dalam pembentukan konsep diri seorang individu dapat membantu perawat dalam mengidentifikasi dan memberikan intervensi yang tepat dalam menangani klien yang memiliki permasalahan dengan konsep dirinya. Agar selanjutnya klien dapat dibantu untuk mendapatkan konsep diri positifnya kembali. Dengan konsep diri yang positif akan berkembang pula kesehatan yang seutuhnya. Referensi Craven, R.F., Hirnle, C.J. (2007). Fundamental of Nursing : Human health and function. Fifth edition. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins. Stuart, G.W., Laraia, M.T. 2005. Principles and Practice of Psychiatric Nursing Eighth edition. Philadelphia : Mosby Elsevier. Kozier, Barbara. 2010. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, proses, dan praktik ed.7. Jakarta : EGC