Anda di halaman 1dari 3

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengamatan Tabel 4.

1 Hasil Percobaan Untuk Membedakan Larutan Sejati, Suspensi dan Koloid SIFAT CAMPURAN Larut/Tidak Bening/Keruh Homogen/Heterogen Mengendap/Tidak Stabil/Tidak Jenis Larutan CAMPURAN AIR DENGAN PASIR Tidak Keruh (Didiamkan: Bening) Heterogen Mengendap Tidak stabil Suspensi MINYAK Tidak Bening Heterogen Minyak diatas permukaan air Tidak stabil Suspensi MINYAK+DETER GENT Larut Keruh Tampak Homogen Tidak Stabil Koloid (Emulsi) GULA Larut Bening Homogen Tidak Stabil Larutan Sejati

Tabel 4.2 Hasil Percobaan Untuk Membedakan Koloid Reversibel dan Koloid Irreversibel SISTEM KOLOID Air+ Bubuk Agar-agar Putih telur DIPANASKAN DIDINGINKAN DIPANASKAN REVERSIBEL /IRREVERSIBEL Reversibel

Cair (Kental) Padat (Menggumpal)

Padat

Cair (Kental)

Padat

Padat

Irreversibel

B. Pembahasan Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat bahwa campuran air dengan pasir merupakan salah satu contoh jenis suspensi karena saat mencampurkan air dengan pasir, pasir tidak larut dalam air. Walaupun campuran ini diaduk, lambat laun pasir akan memisah dan mengendap di dasar gelas. Hal itu terjadi karena partikel-partikel pasir yang terdispersi relatif besar dan tersebar merata di dalam medium pendispersinya dan bersifat heterogen. Dan jenis suspensi ini dapat

dipisahkan dengan metode mekanik, contohnya penyaringan. Namun pada percobaan kali ini kami belum melakukan hal tersebut. Selanjutnya hasil percobaan pada campuran minyak dan air juga merupakan contoh suspensi karena butiran-butiran minyak yang relatif besar pada mulanya tersebar pada pendispersinya, namun setelah lama-kelamaan akan terbentu 2 lapisan, dimana butiranbutiran minyak terdapat di atas permukaan air. Lalu k ami melakukan percobaan kedua dengan menambahkan larutan detergent ke dalam campuran minyak dan air tadi dan hasilnya minyak dan air dapat bercampur dan terlihat homogen. Campuran minyak, air dan detergent merupakan sistem koloid yang disebut dengan emulsi yang merupakan suatu sistem dispersi dimana fase pendispersi maupun fase terdispersinya adalah zat cair yang tidak saling berbaur. Minyak dan air dapat bercampur karena adanya detergent yang berperan sebagai emulsifier atau zat emulgator dimana detergentt tersebut merupakan ester dari asam lemak dan alkali dan termasuk ke dalam golongan sabun yang termasuk dalam emulsifier buatan yang terdiri dari garam natrium dengan asam lemak yang dapat menurunkan tegangan permukaan air dan meningkatkan daya pembersih air dengan jalan mengemulsi lemak yang ada sehingga pada percobaan ini minyak dan air dapat bersatu. Pada percobaan ini kami juga membuktikan bahwa campuran gula dan air merupakan larutan sejati karena pada saat gula dilarutkan kedalam air, gula tersebut akan terlarut dengan sempuran tanpa adanya pengendapan jika didiamkan. Hal tersebut terjadi karena partikel-partikel pada gula relatif kecil dan tidak dapat

dibedakan dengan partikel pendispersinya, yaitu air. Setelah kami melakukan percobaan untuk membedakan mana larutan yang merupakan suspensi, koloid dan larutan sejati, yang terakhir kami melakukan percobaan untuk membedakan koloid reversibel dan irreversibel. Berdasarkan tabel 4.2, sistem koloid yang merupakan koloid reversibel adalah campuran air dan bubuk agar-agar, karena pada saat terjadi koagulasi atau penggumpalan pada partikel koloid yang membuat agar-agar menjadi padat karena didinginkan hal itu menunjukkan stabilitas sistem telah rusak atau agar-agar tersebut bisa dikatakan sudah bukan merupakan sistem koloid, namun agar-agar tersebut bisa kembali lagi menjadi sistem koloid seperti semula setelah dilakukan pemanasan kembali, terbukti dengan mencairnya kembali agar-agar yang telah menggumpal tadi, sama seperti wujud semulanya sebelum didinginkan. Selain itu, agar-agar juga merupakan koloid liofil dimana partikel terdispersinya mudah menarik (mengadsorpsi) atau menyukai medium pendispersinya dan memiliki kekentalan yang lebih tinggi dibanding mediumnya sehingga

sukar terkoagulasi dan jika koloid-koloid tersebut memang terkoagulasi, maka dapat diubah menjadi koloid seperti semula dengan mudah. Hasil tersebut berbanding terbalik dengan sistem koloid pada putih telur, dimana putih telur tidak dapat kembali menjadi sistem koloid setelah dipanaskan kembali karena kenaikan suhu pada putih telur akibat pemanasan menyebabkan jumlah tumbukan antara partikel-partikel putih telur dengan molekul-molekul cairan putih telur bertambah banyak. Hal ini melepaskan elektrolit yang teradsorpsi pada permukaan koloid yang mengakibatkan partikel tidak bermuatan dan sifat koloidpun hilang. Selain itu, putih telur juga merupakan jenis koloid sol yang memiliki sifat liofob yang tidak menyukai pendispersinya dan mudah terkoagulasi dan jika partikel-partikelnya sudah terkoagulasi dan rusak maka tidak dapat diubah menjadi koloid seperti semula. Hal tersebut dibuktikan dengan tidak mencairnya putih telur saat dipanaskan kembali, karena putih telur tersebut telah kehilangan sifat-sifat koloidnya.

Anonim. 2008. System of Coloid My Chemistry Assignment . Didapatkan dari situs http://drveggielabandresearch.blogspot.com.(Diakses pada tanggal 25 Oktober 2013). Winarno, F. G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi . Penerbit. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta. Zulfikar. 2010. Macam-Macam Koloid. Didapatkan dari situs http://www.chem-istry.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/sifat-koligatif-dan-koloid/macam-macamkoloid/. (Diakses pada tanggal 25 Oktober 2013)