Anda di halaman 1dari 5

LIPARITE

Pada tugas kali ini, batuan yang akan di analisa adalah Liparite. Liparite merupakan istilah yang diambil dari kata Lipari yaitu sebuah pulau di laut Thyrrenia, sebelah utara Pulau Sicilia di Italia. Pulau ini merupakan pulau vulkanik mendapat pengaruh langsung dari sebuah gunung yang berada di pulau tersebut. Liparite merupakan sinonim dari Rhyolite yang dipakai di Russia dan Jerman. Nama Liparite diberikan oleh Roth pada tahun 1861. Seperti yang tercantum di website http://www.mindat.org , A syn. of Rhyolite used by German and Soviet authors. Its name, given by Roth in 1861, is derived from the Lipari Islands, in Thyrrhenian Sea the much more widely used syn. rhyolite has priority by 1 yr. Sehingga dapat ditarik sebuah garis bahwa Liparite merupakan rhyolite, dan secara petrologi memiliki kesamaan baik mineralogi, kimiawi, dan genesanya. 1. Kenampakan Megaskopis Liparite Batuan ini memiliki warna yang cenderung abu abu terang, warna ini dipengaruhi oleh mineral mineralnya yang cenderung berwarna cerah . struktur batuan ini vesikuler karena batuan ini membeku diluar permukaan atau dengan kata lain disebut dengan batuan beku ekstrusi. Tekstur secara megaskopis pada batuan beku adalah granularitas, dari derajat granularitasnya batuan ini hypohyaline, artinya penyusun batuan ini sebagian berupa kristal dan sebagian berupa gelasan. Granularitas batuan ini adalah equigranular dengan jenis porfiroafanitik. Mineral yang memiliki ukuran yang besar disebut fenokris dan bagian yang lain disebut massa dasar. Batuan ini terdiri dari fenokris dan massa dasar. Bentuk kristal dari batuan ini secara umum adalah Subhedral anhedral. Dengan ukuran kristal yang halus dan sedang. Dari warna batu ini yang cenderung terang dan massa dasar yang tidak terlihat atau bahkan dari gelasan, sehingga memiliki tekstur halus, dikarenakan batuan beku hasil ekstrusi. 2. Mineralogi, Tekstur dan Struktur Liparite Pada prinsipnya batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari hasil pembekuan magma. Karena hasil pembekuan, maka ada unsur kristalisasi material penyusunnya. Kompisisi mineral yang menyusunnya merupakan kristalisasi dari unsur unsur secara kimiawi, sehingga bentuk kristalnya mencirikan intensitas kristalisasinya. Sama halnya dengan Liparite, dimana komposisi mineralnya secara umum terdiri dari beberapa mineral mineral utama. Kuarsa dan Sanidin merupakan mineral yang dominan, sedangkan Plagioklas, Mika, Amfibol, dan Piroksen merupakan mineral mineral sekunder yang tidak mendominasi

(Rosenbusch, 1951). Didasarkan atas komposisi mineral mafik dan felsik yang terkandung di dalamnya, batuan beku dapat dikelompokkan dalam tiga kelas, yaitu asam, intermediet dan basa. Batuan beku asam tersusun atas mineral felsik lebih dari 2/3 bagian; batuan beku intermediet tersusun atas mineral mafik dan felsik secara berimbang yaitu felsik dan mafik 1/3 hingga 2/3 secara proporsional; dan batuan beku basa tersusun atas mineral mafik lebih dari 2/3 bagian. Sedangkan pada Liparite, mineral mineral mafik: piroksen ( olivin, klino- dan ortho-piroksen, amfibol dan biotit) dan mineral mineral felsik: Sanidin, Kuarsa. Dan liparite termasuk kedalam batuan beku yang asam/felsik yang kaya akan Silika. Tekstur khusus secara umum dari batuan beku hasil intrusi dangkal dan Ekstrusi adalah Porfiritik poikilitik atau ofitik sub ofiotik danatau Pilotaksitik. Tekstur Porfiritik adalah tekstur batuan yang dicirikan oleh adanya kristal besar yang dikelilingi oleh massa dasar kristal yang halus dan gelas. Apabila massa dasar seluruhnya gelas disebut vitrophyric, namun jika fenokris yang berkelompok dan tumbuh bersama, maka membentuk tekstur yang disebut glomeroporphyritic. Tekstur Ofitik adalah tekstur batuan beku yang dibentuk oleh mineral plagioklas yang tersusun secara acak dikelilingi oleh mineral piroksen atau olivin. Jika plagioklasnya dikelilingi oleh mineral ferromagnesian, maka membentuk tekstur subofitik. Struktur batuan beku adalah masif, skoria, vesikuler, dan Amigdaloidal. Pada batuan Liparite ini yang ditemui struktur vesikuler karena struktur vesikuler ini berafinitas dengan batuan intermediet asam. 3. Komposisi kimiawi dan tipe magma Liparite Jenis dan sifat batuan beku ditentukan dari tipe magmanya. Tipe magma tergantung dari komposisi kimia magma. Komposisi kimia magma dikontrol dari limpahan unsur-unsur dalam bumi, yaitu Si, Al, Fe, Ca, Mg, K, Na, H, dan O yang mencapai hingga 99,9%. Semua unsur yang berhubungan dengan oksigen (O) maka disebut sebagai oksida, SiO2 adalah salah satunya. Sifat dan jenis batuan beku dapat ditentukan dengan didasarkan pada kandungan SiO2 di dalamnya. Menurut keterdapatannya, berdasarkan tatanan tektonik dan posisi pembekuannya batuan beku diklasifikasikan sebagai batuan intrusi plutonik (dalam) berupa granit, syenit, diorit dan gabro. Intrusi dangkal yaitu dasit, andesit, basaltik andesitik, riolit, dan batuan gunung api. Pada Liparite ini tipe magma nya adalah Tipe Rhyolitic dengan komposisi kimia SiO2 65 75%, Fe, Mg, Ca rendah dan K, Na yang tinggi. Magma tipe ini mengkristal pada suhu 650 800 derajat Celcius, memiliki kekentalan yang tinggi dan juga memiliki kandungan gas yang tinggi. Sehingga dari kekentalan magma yang tinggi ia akan semakin eksplosif dalam cara ia keluar ke permukaan, mengkristal pada suhu yang rendah karena semakin

keatas maka suhu akan semakin turun, dan kandungan gas yang dibuktikan dengan struktur vesikuler yang ada pada batuan ini secara umum. Sehingga dengan suhu dan derajat kristalisasi tertentu dan suhu kristalisasi yang relatif sama dapat hadir bersama sama ( sebagai mineral asosiasi)
Tabel 3.1 Tipe batuan beku dan sifat-sifatnya (Nelson, 2003)

Tabel 3.2 Klasifikasi batuan beku berdasarkan letak dan keterdapatannya.

4. Genesa Liparite Berdasarkan tekstur, kenampakan megaskopis, komposisi mineral, dan tipe magma, maka dapat di simpulkan bagaimana batuan ini terbentuk. Berdasarkan atas lokasi terjadinya pembekuan, batuan ini dikelompokkan menjadi batuan beku ekstrusif yang membeku di permukaan bumi sebagai bagian dari kegiatan vulkanisme. Batuan ini memiliki komposisi mineral yang dominan felsik dan magma tipe rhyolitik yang memiliki seri magmatik tipe Toleeitik. Dari tipe

toleeitik dapat diketahui tempat berkembangnya magma yang membentuk batuan ini yaitu di daerah MOR, Busur magmatik, dan Gunung api belakang busur magmatik. Kelompok batuan ini menempati lebih dari 70% batuan beku yang tersingkap di Indonesia, bahkan di dunia. Limpahan batuannya dapat dijumpau di sepanjang busur vulkanisme, baik pada busur kepulauan masa kini, jaman Tersier maupun busur gunung api yang lebih tua. Kelompok batuan ini juga dapat dikelompokkan sebagai batuan asal gunung api.
Tabel 4.1 Bowens reaction series

Pembentukan mineral diawali dari pembentukan mineral mineral piroksen pada suhu antara 800 derajat celcius yang berbarengan dengan pembentukan NaCa Plagioklas, kemudian diikuti oleh amfibol dan mineral mineral mika, dan terakhir terbentuk Kuarsa pada suhu 600 derajat celcius. Piroksen hadir sebagai mineral asesori dengan plagioklas dan feldspathoid. Batuan ini mengandung plagioklas dalam jumlah yang besar, jarang atau sulit hadir bersama sama dengan mineral feldspar.

DAFTAR PUSTAKA
Ir. Sutarto, M.T. 2005. Album Mineralogi Optik. Yogyakarta : Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Mackenzie, W.S. Guilford, Charles. 1984. Atlas of Rock-Forming Minerals in Thin Section. Machester. Manchester University.