Anda di halaman 1dari 18

KEPRIBADIAN TOKOH WANITA (ANNA LEONOWENS) DALAM NOVEL ANNA AND THE KING KARYA ELIZABETH HAND: KAJIAN

PSIKOANALISIS Niken Pramulatsih Universitas Sains Al-Quran Jawa Tengah di Wonosobo

Pendahuluan Karya sastra tersusun dari beberapa unsur pembangunnya, unsur-unsur tersebut saling berkaitan sehingga dapat membentuk kesatuan makna yang mengandung arti. Karya sastra dibedakan atas prosa, puisi dan drama. Sedangkan Prosa juga terbagi lagi kedalam jenis novel, cerita pendek (cerpen) dan roman. Menurut M.H Abrams dalam bukunya berjudul A Glossary of Literary Term, The term "novel" is now applied to a great variety of writings that have in common only the attribute of being extended works of fiction written in prose . The term for the novel in most European languages is roman, which is derived from the medieval term, the romance. The English name for the form, on the other hand, is derived from the Italian novella (literally, "a little new thing"), which was a short tale in prose. (p.190). Dari kutipan diatas menjelaskan bahwa novel merupakan karya fiksi yang tertulis dalam bentuk prosa. Fiksi itu sendiri merupakan cerita rekaan yang diciptakan oleh pengarang dengan alur cerita yang menggambarkan kehidupan sehari-hari didalam masyarakat. Abrams menjelaskan bahwa, The realistic novel is characterized as the fictional attempt to give the effect of realism, by representing complex characters with mixed motives who are rooted in a social class, operate in a developed social structure, interact with many other characters, and undergo plausible, everyday modes of experience. (p.192). Novel Anna and The King karya Elizabeth Hand dapat disebut sebagai novel realistic karena dalam isi cerita novel tersebut menggambarkan kehidupan sosial di negara kerajaan Siam dimana kerajaan tersebut memiliki aturan-aturan tertentu dan dipimpin oleh seorang raja yang memiliki kewenangan mutlak. Salah satu unsur intrinsik untuk membangun novel

adalah tokoh. Penokohan dalam novel dapat mempengaruhi tema dan alur cerita yang akan dibangun oleh pengarang. Sehingga tokoh membawa peranan penting dalam menentukan isi cerita. Menurut Abrams bahwa,
Characters are the persons represented in a dramatic or narrative work, who are interpreted by the reader as being endowed with particular moral, intellectual, and emotional qualities by inferences from what the persons say and their distinctive ways of saying it the dialogueand from what they dothe action. The grounds in the characters' temperament, desires, and moral nature for their speech and actions are called their motivation. (p.32-33)

Dalam novel Anna and The King memiliki cerita yang menarik karena menggambarkan tokoh Anna yang memiliki kepribadian yang sangat tangguh dalam menghadapi hidup sebagai orangtua tunggal. Selain itu karakter Anna membangun isi cerita berkembang, dengan personalitas dia sebagai guru dari anak-anak Raja Mongkut dan sering dihadapkan pada permasalahan yang menguji sisi personalitasnya sebagai seorang perempuan. Tokoh Anna memiliki kepribadian yang sangat menarik, sebagai seorang wanita Inggris yang hidup dengan Louise, anak laki-lakinya dengan bekerja sebagai seorang guru di Kerajaan Siam. Dari sisi sosial, budaya, dan kepercayaan Kerajaan Siam sangat berbeda dengan negara asalnya, Inggris. Namun karena kecerdasan Anna ia mampu mengatasi konflik apapun yang ia hadapi dengan pola pikirnya yang sangat logis. Kerajaan Siam dipimpin oleh raja Mongkut yang memiliki banyak istri dan selir. Perlakuan Raja Mongkut yang semula sangat otoriter membuat pertahanan dirinya semakin kuat, konflik-konflik yang ia alami baik berupa konflik sosial maupun konflik kejiwaan yang menimpanya dapat ia atasi karena ia memiliki sikap dan karakter yang kuat. Sisi kejiwaan Anna dalam mengolah sistem kepribadian seperti Id, Ego, dan Superego mampu membentuknya menjadi tokoh dengan karakter yang cerdas karena ia mampu mengendalikan Id-nya dengan baik. Selain itu cara ia mengolah pertahanan Ego membentuknya menjadi wanita yang kuat dan tangguh dalam menghadapi hidup.

Dalam penelitian ini akan dianalisis tokoh utama Anna Leonowens sebagai seorang wanita yang memiliki kecerdasan dalam mengendalikan Id-nya dan mampu mengolah pertahanan ego-nya dengan baik sehingga ia memiliki kepribadian yang sangat kuat. Penelitian ini menggunakan teori psikoanalisis karena dengan teori tersebut dapat mengungkap makna dibalik karya tersebut. Psychoanalysis is believed to enable readers to find out the hidden meaning in literary works (Bressler, 1999). Melalui teori psikoanalisis Sigmund Freud akan dianalisis kepribadian dan mekanisme pertahanan ego tokoh Anna Leonowens dalam novel Anna and The King. Berdasarkan uraian latar belakang yang telah disampaikan diatas, rumusan pokok permasalahan adalah sebagai berikut: 1. Struktur kepribadian Anna yang tergambar dalam novel Anna and The King berdasarkan teori
kepribadian psikoanalisis Sigmund Freud.

2. Mekanisme pertahanan ego tokoh Anna dalam novel Anna and The King Penelitian ini mengkaji tentang struktur kepribadian dan mekanisme pertahanan ego yang mempengaruhi tindakan Anna dalam mengambil keputusan dan mempertahankan jati dirinya sebagai perempuan yang cerdas dan tangguh. Landasan Teori Struktur Kepribadian Manusia Freud membagi mind ke dalam consciousness, preconsciousness dan

unconsciousness. Dari ketiga aspek kesadaran, unconsciousness adalah yang paling dominan dan paling penting dalam menentukan perilaku manusia (analoginya dengan gunung es). Di dalam unsconscious tersimpan ingatan masa kecil, energi psikis yang besar dan instink. Preconsciousness berperan sebagai jembatan antara conscious dan unconscious,

berisi ingatan atau ide yang dapat diakses kapan saja. Consciousness hanyalah bagian kecil dari mind, namun satu-satunya bagian yang memiliki kontak langsung dengan realitas. Freud mengembangkan konsep struktur mind di atas dengan mengembangkan mind apparatus, yaitu yang dikenal dengan Struktur Kepribadian Freud dan menjadi konstruknya yang terpenting, yaitu id, ego dan super ego.
o

Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera.

Ego berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego, berkembang dari ego saat manusia mengerti nilai baik buruk dan moral.

Superego merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntuta moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego dengan menimbulkan rasa salah.

Menurut Freud dalam jiwa manusia terdapat 3 sistem yang saling berkaitan yaitu id, ego dan superego. Keseluruhan personalitas ini bekerja sama untuk pemenuhan kebutuhan dan hasrat dasariah manusia. Freud (1961) menjelaskan bahwa human beings consists of three personality structure; i.e. the Id, ego and superego. Freud melalui Calvin S Hall menjelaskan bahwa, The total personality as conceived by Freud consists of three major systems. There are called the id, the ego and the superego. Das es atau dalam bahasa Inggris The Id (The Instinctual Demand, drives, desires). Keseluruhan personalitas tersebut bekerja sama untuk pemenuhan kebutuhan dan hasrat dasariah manusia. The id is the first phase of the human personality structure, which

operates based on pleasure principle since it is concern only with pleasure. (Freud, 1961). Dalam hal ini dorongan id merupakan bagian personalitas manusia yang bekerja berdasarkan dorongan kesenangan/kepuasan untuk melepaskan ketegangan. Sementara ego merupakan personalitas berupa insting untuk memenuhi kebutuhan id namun juga beroperasi untuk memenuhi kebutuhan moral. Freud dalam Civilization and Its Discontents menjelaskan bahwa, A futher incentive to a disengagement of the ego from the general mass of sensations that is, to the recognation of an outside , an external world is provided by the frequent, manifold and unavoidable sensation of pain and unpleasure the principle, in the excercise of its unrestricted domination. A tendency arises to seperate from the ego everything that can become a source of such unpleasant, to throw it outside to create a pure pleasure-ego which is confronted by a strange and threatening outside. (p.14)

Dari kutipan diatas menjelaskan bahwa prinsip ego untuk mengatur, mengendalikan sensasi/sumber yang tidak menyenangkan dan untuk mendapatkan kesenangan yang murni. Selanjutnya Freud menjelaskan bahwa ego mengatur id dan super-ego. Super-Ego menentang ego apabila hanya mengandalkan naluri dasariahnya saja tanpa menggunakan prinsip yang ideal. Dalam hal ini ego dan superego berlangsung tidak harmonis. The effect of instinctual renunciation on the conscience then is that every piece of aggression whose satisfaction the subject gives up is taken over by superego and increase the latters aggessiveness (against the ego) this does not harmonize well with the view that the original aggressiveness of concious is a continuance of the severity of the external authority and therefore has nothing to do with renunciation (p. 76) . Super-Ego merupakan kekuatan moral dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Sebagai lawan dari prinsip kepuasan id dan prinsip realistik dari ego. Super-ego primarilly serves the purpose of controlling and regulating the impulses whose uncontrolled expression would endanger the stability of the society. (Calvin Hall 1958:34). Freud melalui Subur

Wardoyo (2003: 223) menegaskan bahwa, In brief Freuds three basic terms can be defined as: Superego Moral Censor Ego Id Reality Principle Pleasure Principle

The ego is what popular psychology generally identifies as the personality. It is the conscious portion of human psychology (although the entire Ego is not conscious; part of it suffers repression and become unconscious). It is the reality-testing mechanism. The id is the instinctual unconscious. It is the source of instinctual energies. The ego develops out of the id. It is the most organized portion of the Id. It function to mediate betwen the instinctual demands of the id and the requirement of the external world. The Super-ego represents the survival of parental attitudes in the psyche and their incorporation in what is colloquially termed conscience. But the super-Ego is for the most part unconscios. (p.224) Demikianlah struktur kepribadian menurut Freud, yang terdiri dari tiga aspek yaitu Id, Ego dan Super Ego yang ketiganya tidak dapat dipisahkan. Secara umum, Id bisa dipandang sebagai komponen biologis kepribadian, Ego sebagai komponen psikologisnya sedangkan Super Ego adalah komponen sosialnya.

Mekanisme Pertahanan Ego Mekanisme pertahanan merupakan cara seseorang untuk bertahan dengan cara menciutkan dorongan-dorongan atau dengan meciutkan dorongan-dorongan (kecemasan) menjadi wujud yang lebih dapat diterima konsepsi dan tidak terlalu mengancam

(http://indonesiaindonesia.com/f/76497-mekanisme-pertahanan-ego-psikoanalisa-sigmundfreud/). Mekanisme pertahanan ego adalah strategi psikologis yang dilakukan seseorang,

sekelompok orang, atau bahkan suatu bangsa untuk berhadapan dengan kenyataan dan mempertahankan citra-diri. In Freudian psychoanalytic theory, defence mechanisms (or defense mechanisms) are psychological strategies brought into play by the unconscious mind[1] to manipulate, deny or distort reality (through processes including, but not limited to, repression, identification, or rationalization), to defend against feelings of anxiety and unacceptable impulses to maintain one's self schema. (https://en.wikipedia.org/wiki/Defence_mechanisms)
https://en.wikipedia.org/wiki/Defence_mechanisms - cite_note-3 Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa mekanisme pertahanan ego merupakan strategi psikologis pertahanan ego yang tidak disadari untuk menghindari ancaman yang dapat menimbulkan kecemasan dan untuk mempertahankan citra diri.

Konflik antara id, ego dan superego memunculkan kecemasan. Menurut Freud dalam Calvin S Hall, Anxiety is a painful emotional experience which is produced by excitations in the internal organs of the body. The excitations result from internal or external stimulus and are governed by the autonomic nervous system. (Hall, 1954: 61). Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kecemasan merupakan bentuk rasa sakit (perasaan terancam) yang ditimbulkan oleh dorongan internal maupun eksternal. Untuk melindungi diri dari kecemasan seseorang tanpa disadari dapat melakukan bentuk pertahanan. Menurut Freud melalui Calvin S Hall (1958:85-95) menjelaskan bahwa, the ego may try to master danger by adopting the
realistic problem-solving methods, or it attempt o alleviate anxiety by using methods that deny or distort reality and that impede the development of personality. The latter methods are called defense mechanisms of the ego. There are a number of defense mechanism: 1. Repression a cathexis of the id, ego or super-ego which produces anxiety may be prevented from registering itself in consciousness by being opposed by an anti-cathexis. The nullifying or restraining of a cathexis become anti-cathexis is called repression. 2. Projection when a person is made to feel anxiety by pressure upon the ego from the id or superego, he/she can try to relieve the anxiety by attributing its cause to the external world.

3. Reaction formation a certain feeling is hidden from awareness by concentrating on an opposite feeling 4. Fixation Normally a person progresses through the stages of infancy, childhood, adolesence, and adulthood, but sometimes he/she is afraid to progress to the next stage because of the dangers/hardships that he/she sees ahead. 5. Regression having reached a certain stage of development, a person may retreat to an earlier stage because of some fear or trauma. 6. Denial Refusal to accept external reality because it is too threatening; arguing against an anxiety-provoking stimulus by stating it doesn't exist; resolution of emotional conflict and reduction of anxiety by refusing to perceive or consciously acknowledge the more unpleasant aspects of external reality.

Untuk menghadapi tekanan kecemasan yang berlebihan, sistem ego terpaksa mengambil tindakan ekstrim untuk menghilangkan tekanan itu. Tindakan yang demikian itu, disebut mekanisme pertahanan, sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan ego terhadap tekanan kecemasan. Dalam teori Freud, bentuk-bentuk mekanisme pertahanan yang penting adalah: (1) represi; ini merupakan sarana pertahanan yang bisa mengusir pikiran serta perasaan yang menyakitkan dan mengancam keluar dari kesadaran, (2) memungkiri; ini adalah cara mengacaukan apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dilihat seseorang dalam situasi traumatik, (3) pembentukan reaksi; ini adalah menukar suatu impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan melawannya dalam kesadaran, (4) proyeksi; ini berarti memantulkan sesuatu yang sebenarnya terdapat dalam diri kita sendiri ke dunia luar, (5) penggeseran; merupakan suatu cara untuk menangani kecemasan dengan menyalurkan perasaan atau impuls dengan jalan menggeser dari objek yang mengancam ke sasaran yang lebih aman, (6) rasionalisasi; ini cara beberapa orang menciptakan alasan yang masuk akal untuk

menjelaskan disingkirnya ego yang babak belur, (7) sublimasi; ini suatu cara untuk mengalihkan energi seksual kesaluran lain, yang secara sosial umumnya bisa diterima, bahkan ada yang dikagumi, (8) regresi; yaitu berbalik kembali kepada prilaku yang dulu pernah mereka alami, (9) introjeksi; yaitu mekanisme untuk mengundang serta menelaah sistem nilai atau standar orang lain, (10) identifikasi, (11) konpensasi, dan (12) ritual dan penghapusan.
Bentuk-bentuk mekanisme pertahanan ego diatas merupakan pertahanan yang dilakukan oleh individu untuk mempertahankan citra diri atau melindungi diri dari kecemasan. Bentuk lain dari mekanisme pertahanan ego yang terjadi dalam diri orang dewasa adalah sublimasi. Sublimation is

transformation of negative emotions or instincts into positive actions, behaviour, or emotion. (ex. Playing a heavy contact sport such as football or rugby can transform aggression into a game). (https://en.wikipedia.org/wiki/Defence_mechanisms). Penjelasan tersebut menegaskan bahwa sublimasi merupakan bentuk positif mekanisme pertahanan ego karena mampu merubah dorongan negatif menjadi tindakan/sikap yang positif dan dapat diterima secara sosial. Freud melalui Calvin S Hall (1958:82) menyatakan bahwa, When the subtitute object is one that represent higher cultural goal, this type of displacement is called a sublimation. Example of sublimation are the deflect of energy into intellectual, humanitarian, cultural, artistic pursuits. Jadi jelas bahwa bentuk sublimasi mengarah pada penyaluran energi kedalam bentuk penyaluran kecerdasan, kemanusiaan, kebudayaan maupun bentuk kesenian.
Selain struktur kepribadian dan mekanisme pertahanan ego, simbol kastrasi juga berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Freud melalui Ivan Ward (2003: 3) mengungkapkan bahwa, The castration complex is a constellation of childhood beliefs and emotions that pertain to the dawning awareness of a fixed sexual identity. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, The castration complex

transforms the emotional tone of relationships. Psychical values are realigned so that good becomes bad or pleasure becomes pain . (p.25). Tindakan kastrasi mengacu pada pengalaman masa kanakkanak yang mengerti akan perbedaan identitas seksual. Kastrasi menjadi penentu bagi karakter dan takdir seseorang. The castration complex is: a set of infantile beliefs; a developmental moment; a phylogenetic inheritance; an organiser of sexual difference; a key determinant of a persons character and destiny. The effects of the castration complex are wide ranging and incalculable, for the individual and for culture. Through its role in the formation of the superego, the castration complex helps explain why the horrors of humanity spring from the same source as our highest ideals. (p.74). Kastarsi merupakan bentuk pengebirian atau dapat juga menyakiti diri sendiri/menyiksa diri sendiri dengan menekan id sehingga dapat mempengaruhi karakter dan taksir seseorang. Tindakan kastrasi dapat menjelaskan mengapa seseorang.

Analisis Struktur Kepribadian Anna Leonowens Dorongan id merupakan dorongan kesenangan/kepuasan untuk melepaskan ketegangan. Id dalam tokoh Anna Leonowens adalah keinginan untuk mencintai (menyalurkan hasrat) King Mongkut, ketika tatapan mata Anna dan King Mongkut saling berpandang, tatapan tajam Anna tidak mampu untuk membiarkannya. Sebagai mana kutipan berikut:She hesistated and turned back to the King. His gaze remained fixed on Anna, his dark eyes bright, almost questioning. Despite his avid look Anna found herself unable to glance away. (Hand 1999:112). Sistem personalitas yang kedua setelah id adalah Ego. Freud menjelaskan bahwa Ego, timbul karena kebutuhan-kebutuhan organisme melakukan transaksi- transaksi yang sesuai dengan dunia kenyataan objektif.

Setelah Anna membaca surat balasan dari Raja Mongkut ia menyadari akan keinginannya untuk pergi dari Bombay, hal ini menyiratkan bahwa ia tidak ingin terkungkung dalam kesepian karena tinggal sangat jauh dari negara asalnya. Selain itu ia juga ingin melepaskan kesedihannya dengan pergi ke Siam, ada semacam harapan bahwa Raja Mongkut akan bersanding dengannya. A sharp rap at the door of her stateroom. Anna looked up, biting her lip; she quickly folded the letter and replaced it in the envelope. She stood, running her hands across her hair in its neat coif and then resting her palms upon her cheeks. Hot, and there were tears at the corner of her eyes, the only outward signs of her fear-oh, say it!-her terror at being alone in this place, a thousand miles from anyplace she had ever called home, and with no one to blame but herself-and, perhaps, the man who had written the letter on her bed. (hand 1999:5)

Bilamana ego mampu menjalankan fungsinya dengan bijak, harmonis maka kesesuaian dapat terbangun, namun apabila ego hanya tunduk pada id dan superego maka yang terjadi adalah disharmoni. Dorongan untuk mencintai King Mongkut selalu mendesak Ego Anna untuk menerima cintanya dan dalam kondisi tertentu Anna dapat merasa senang ketika bersama King Mongkut. Personalitas yang ketiga adalah superego. Freud mengatakan bahwa Superego merupakan cabang moral/judisial dari personalitas yang merepresentasikan ideal untuk memperjuangkan kesempurnaan. Secara tersirat supersego merupakan kode moral seseorang. Meskipun Anna memiliki keinginan untuk mencintai King Mongkut namun ia tidak dapat dengan mudah melepaskan hasrat tersebut hal ini karena superego anna yang sangat kuat sehingga merepresi hasratnya tersebut. King Mongkut memiliki banyak istri dan selir bagi Anna cinta itu suci, selain itu sebagai umat kristen ia menganut ajaran monogami

sebagaimana kutipan berikut Most of the world believes a man and women should have a relationship which is sacred unto them. (p. 214).

Mekanisme Pertahanan Ego Konflik antara id, ego dan superego memunculkan anxiety. Menurut Freud Anxiety is a painful emotional experience which is produced by excitations in the internal organs of the body. The excitations result frominternal or external stimulus and are governed by the autonomic nervoussystem. (Hall, 1954: 61). Ketidakpuasan gairah cinta sebagai prinsip Id menjadi stimulus ego untuk membela. Jika tidak, prinsip moralitas memberikan tekanan untuk

menstimulus ego menjadi konflik batin lain yaitu munculnya kecemasan adalah karena patah hati dan kesepian setelah suaminya meninggal. Dalam diri Anna Ego-nya selalu mengikuti superego sehingga dia memiliki sifat yang bijaksana dan setia. Mekanisme pertahanan ego yang terjadi dalam sosok Anna adalah represi, sublimasi dan denial. Menurut Freud represi adalah Impuls yang yang diterima oleh Ego dari Id tidak dapat diterima oleh kesadaran karena ada ancaman dari Super Ego, sehingga menimbulkan kecemasan. Untuk menghalau kecemasan tersebut, Ego menekan impuls tersebut ke alam bawah sadar. Dengan kata lain seseorang berusaha sekuat mungkin untuk melupakan dorongan yang harus dipuaskan sebagai sesuatu yang tidak pernah ada. Dalam novel Anna and The King digambarkan bahwa sosok Anna selalu menekan keinginannya untuk menerima King Mongkut, ia selalu merepresi egonya dengan berbagai sebab, seperti King Mongkut yang sudah memiliki banyak istri dan selir dan juga kasih sayang pada anaknya Louis yang begitu besar. Sebagai contoh ketika King Mongkut dan Anna melakukan

perjalanan ke Sungai Chao Phraya, Anna terkesan dengan tatapan Raja dan dia merasa tidak

mampu untuk menghindarinya namun pada akhirnya dia menekannya dengan mengalihkan pembicaraan dan perhatian terhadap anaknya Louise, sebagai mana kutipan berikut She swallowed, finally said, Yesterday he asked about your flag and the white elephant, and I didnt have an answer. (p. 112). Mekanisme pertahanan dapat digunakan secara positif, namun Freud mengatakan hanya ada satu pertahanan yang positif, yaitu sublimasi. Mengubah berbagai impuls yang tidak diterima, seperti dalam bentuk seks, agresifitas, ketakutan atau bentuk lainnya, ke dalam bentuk-bentuk yang bisa diterima secara sosial. Orang yang selalu cemas di dunia mungkin akan jadi seorang pemimpin, pengusaha atau ilmuwan. Orang yang memiliki hasrat seksual tinggi akan menjadi seniman, fotografer atau novelis. Pandangan Freud bahwa seluruh bentuk aktivitas positif dan kreatif adalah hasil mekanisme sublimasi, terutama hasrat seksual. Secara tersirat dalam sosok Anna dapat disimpulkan bahwa dia melakukan sublimasi yaitu menutupi segala dorongan id (hasrat seksual) dengan menyibukkan diri seperti mengajar, membaca buku dan melakukan pekerjaan sekolah. Sebagaimana yang di katakan King Mongkut pada Anna In spite of all you say, Mem is not acce pting passing husband, the king replied. It is why you devote all time to books and issues. And why you cannot accept gift! (Hand 1999:192) Denial (penolakan) adalah melarikan diri atau menghindar atau menolak stimulus eksternal secara fisik agar emosi yang tidak menyenagkan tidak timbul. Dalam diri tokoh Anna, ia mengatasi dorongan Ego untuk mempertahankan superego dengan melakukan penolakan/menghindari agar kecemasan yang dirasakannya karena tidak bisa menikah dengan King Mongkut sedikit berkurang kemudian ia putuskan untuk kembali ke Inggris.

She took a breath, nodded, and tried to smile. King Mongkut smiled back, then asked, Where will you be going? She hesitated. England. (p.287) Raja Mongkut tidak

mungkin dapat menikahi Anna, seorang perempuan Inggris karena mereka memiliki aturan adat/budaya yang berbeda. Hal ini tercermin ketika para selir cemburu melihat kedekatan Anna dengan Raja, namun mereka menyadari bahwa Anna dan Raja tidak mungkin menikah, The first woman shook her head, puzzled. But Shes English. Abruptly they all dissolved in laughter.(p.167). Kutipan ini merupakan perpisahan Anna dan King Mongkut pada saat malam perpisahan mereka, bahwa cinta (hasrat untuk saling memiliki) mereka tidak dapat menyatu, They stared at one another. At last Anna said, thickly, I would just like to know why, if science can explain the mystery of something as beautiful as music-why it is unable to posit a solution for a King and a schoolteacher,...Even if King is also wanting it to be different. (p.287). Menyadari bahwa Anna tidak mungkin menikah dengan raja ia memutuskan untuk kembali ke Inggris agar kesediahn yang ia hadapi dapat sirna. Tindakan kastrasi yang dilakukan oleh Anna adalah ketika ia selalu bersedih dengan mengingat-ingat kembali kenangan bersama suaminya yang telah meninggal sehingga membuat rasa kesedihan dan kesepiannya berlarut-larut. Sehingga Anna yang tidak mau untuk menerima lamaran King Mongkut. She sat curled in her chair in her candlelit bedroom, schoolwork in her lap, her nightgown and cap sticking to her damp skin like linen bandages. Her eyes tracked dully over the same sentence, again and again. When she realized what she was doing, she sighed, rubbing her eyes, and stared at the tintype of her husband on the little nightstand beside her. (p. 194) Kastrasi sebagai bentuk dari kecemasan yang ia alami kemudian ia lampiaskan dengan cara melepaskan gaun yang ia kenakan dan menuju ke pantai kemudian ia menengelamkan

tubuhnya di pantai pada dinginnya malam hari, sehingga ombak dapat menyingkirkan rasa sepi, duka, dan rindu seperti kutipan berikut, Quickly, before she could change her mind, she pulled the gown over her head and let it fall, then walked the few yards to the beach. The sand was cool beneath her bare feet, the breeze cooler now as well where it slid across her bare skin. She reached the waters edge, the waves receding from her as though in a dream of lost paradise, but as the next sweel approached, she walked in slowly, lowering herself until the waters edge, the waves receding from her as though in a dream of lost paradise, but as the next swell approached, she walked slowly, lowering herself until the water covered her shoulders, her head thrown back as she let the waves wash away loneliness and grief and longing. (p. 195).

Apabila dianalisa secara mendalam, Anna sangat mencintai suaminya karena dalam diri suaminya terdapat sosok seorang ayah (Father Figure) yang selama ini ia bayangkan. Masa lalu yang tidak bahagia karena di tinggal seorang ayah membuatnya mengalami kecemasan. Bagi Anna , Thomas Leonowens suaminya merupakan laki-laki ideal yang memiliki kapasitas sebagai sosok ayah yang sangat ia idamkan. A father figure is usually an older man, normally one with power, authority, or strength, with whom one can identify with on a deeply psychological level and who generates emotions generally felt towards one's father. Despite the literal term "father", the role of a father figure is not limited to the biological parent of a person (especially a child) but may be played by uncles, grandfathers, elder brothers, family friends, or others. (http://en.wikipedia.org/wiki/Father_figure). Dengan raja Mongkut Anna merasa senang dan sedikit dapat melupakan kesedihannya, sosok Raja Mongkut ingin menikahi Anna namun Anna menolaknya, And because I am also such a man, I will allow you to always stand upright in my presence. (p.100) . Raja Mongkut sebenarnya dapat menggantikan posisi Thomas Leonowens sebagai suaminya namun Anna merepresi keinginannya tersebut karena kepribadiannya sangat didominasi oleh super-ego. Hal ini tersurat melalui ucapan Louise kepada ibunya, He asked his mother, Is that why you like him? The King, I mean. Because he reminds you of father? (p. 135).

Simpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, dengan mengkaji novel Anna and The king menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud, struktur kepribadian dan mekanisme pertahanan ego seseorang dapat terungkap dengan jelas. Dengan menggunakan teori psikoanalisis dapat menggali makna-makna yang tersembunyi dalam karya sastra. Struktur kepribadian tokoh Anna Leonowens sangat di dominasi oleh super-ego sehingga dapat dikatakan bahwa ia seorang yang normal dan cerdas karena ia dapat mengendalikan id nya dengan baik. Selain itu ego yang di kendalikan oleh super-ego membentuknya menjadi sosok yang bijaksana. Ketidakharmonisan antara id, ego an super-ego menimbulkan kecemasan sehingga untuk mengatasi kecemasan tersebut terjadi mekanisme pertahanan ego. Kecemasan yang ia hadapi dapat diatasi dengan mekanisme pertahanan diri berupa represi, sublimasi dan denial. Dari sosok Anna mengamanatkan bahwa sebagai individu hendaknya dapat mengendalikan dorongan-dorongan kesenangan yang hanya bersifat sementara. Karena manusia hidup tidak hanya untuk dirinya sendiri dan untuk mendapatkan harmonisasi dalam hidup seseorang harus mampu mengendalikan perilakunya dengan baik. Orang-orang cerdas mampu mengendalikan id-nya dengan baik.

Saran Penelitian ini masih jauh dari sempurna sehingga penelitian-penelitian yang mengangkat permasalahan yang serupa masih perlu dilakukan. Penelitian-penelitian lanjutan yang mengambil sumber data dari novel Anna and The King, kemungkinan besar dapat bertolak dari perspektif berikut: (a) sosiologi sastra yang membahas kondisi sosial kerajaan siam yang

dipengaruhi oleh budaya Inggris, (b) feminisme yang mengetengahkan kondisi perempuan sebagai orangtua tunggal dan tinggal di negara lain, dan (c) penelitian dengan menggunakan teori dekonstruksi.

DAFTAR PUSTAKA Abrams. 1999. A Glossary of Literary Term. United States of America: Earl McPeek. Althuser, Louis. 1971. Lenin and Philosophy and Other Essays. London. Monthly Review Press. Brook, Ann. 1997. Postfeminisme dan Cultural Studies. Bandung: Jalasutra. Freud, Sigmund. 1961. Civilization and Its Discontents. (James Strachey, transl.). New York: W.W Norton & Company. Freud, Sigmund. 1955. An Outline of Psychoanalysis. New York: The Modern Library. Hall, Calvin S. 1954. A Primer of Freudian Psychology. New York: The World Publishing Company. Hand, Elizabeth.1999. Anna and The King. New York: Harper Entertainment. http://indonesiaindonesia.com/f/76497-mekanisme-pertahanan-ego-psikoanalisa-sigmund-freud/ Suryabrata, Sumadi.1990. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali. Ward, Ivan. 2003. Ideas in Psychoanalysis Castrartion. UK: Icon Book.