Anda di halaman 1dari 7

TINJAUAN PUSTAKA

Silase adalah bahan pakan ternak berupa hijauan (rumput-rumputan atau leguminosa) yang disimpan dalam bentuk segar mengalami proses ensilase. Pembuatan silase bertujuan mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau atau ketika penggembalaan ternak tidak mungkin dilakukan. Prinsip utama pembuatan silase: a) menghentikan pernafasan dan penguapan sel-sel tanaman. b) mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses fermentasi kedap udara. c) menahan aktivitas enzim dan bakteri pembusuk. Pembuatan silase pada temperatur 27-35 derajat C., menghasilkan kualitas yang sangat baik. Hal tersebut dapat diketahui secara organoleptik, yakni: a) mempunyai tekstur segar b) berwarna kehijau-hijauan c) tidak berbau d) disukai ternak e) tidak berjamur f) tidak menggumpal Salah satu factor penting yang mempengaruhi proses ensilase adalah menciptakan dan memelihara suasana an aerob. Kondisi ini cukup sulit diperoleh dan kegagalan prosen ensilase biasanya bersumber dari hal ini. Unuk menekan kegagalan proses ensilase dapat dilakukan penambahan bahan aditif., Wilkinson (1984) membuat klasifikasi bahan aditif untuk prosen ensilase menjadi tujuh kelompok. Karbohidrat adalah zat yang memiliki peran sangat penting dalam proses ensialase. Karbohidrat yang dimaksud adalah karbohidrat terlarut yang denagan cepat dapat digunakan oleh mikroba sebagai sumber energi untuk merangsang proses permentasi. Menurut Thomas (1985), karbohidrat terlarut tersebut terdiri dari fruktosa, glukosa dan sukrosa. Lebih lanjut dikemukanan oleh Church dan Pond (1988), jumlah sekitar 3 persen dari berat segar. Jumlah ini dibutuhkan untuk menjamin produksi asam laktat dan untuk mencegah fermentasi dari bakteri Clostridial. Hampir semua bahn yang mengandung bahan kering 35 %, kandungan karbohidrat terlarut biasanya akan mencapai sekitar 6-8 persen, angak ini akan mendekati kebutuhan optimal untuk proses ansilase. Beberapa cara yang dapat ditempuh untuk proses pembentukan asam laktat, diantaranya dapat dilakukan dengan mencampurkan tanaman legume atau hijauan yang banyak mengandung karbohidrat seperti jagung, tepung tapioca dan molasses melakukan

pengontrolan temperatur (tidak lebih dari 55 oC), penambahan asam, misalnya denagn penambahan asam laktat sebanyak 1,5 persen atau asam organic seperti HCl atau H2SO4 mencegah oksigen yang dapat dilakukan dengan mengeluarkan udara semaksimal mungkin. Menurut Burges dan Hussey (1973), sel-sel microbial membutuhkan air, karbon, dan energi untuk proses biositesa, karbon merupakan bahan utama untuk sintesa sel baru. Karbohidrat merupakan sumber karbon yang banyak tersedia dan pati adalah sumber karbohidrat dengan bahan dasar glukosa yang mudah diperoleh Bahan pakan sumber karbohidrat yang sering digunakan sebagai bahan aditif dalam pembuatan silase adalah karbohidrat terlarut seperti molasses, bahan ini mengandung sukrosa lebih dari 55 persen dimana dengan cepat dapat digunakan oleh mikroba sebagai sumber energi untuk merangsang proses fermentasi. Selain molasses, onggok juga sebagai sumber karbohidrat pada proses ensilase. Komponen yang terdapat pada onggok adalah pati dan serat kasar, kandungannaya akan berbeda untuk setiap daerah asal, jenis ubu kayu dan teknologi yang digunakan onggok yang dihasilkan oleh pengrajin tepung tapioca biasanya masih mengandung patidalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan onggok yang dihasilkan industri tapioca. Menurut Aisyah (1997), kandungan bahan ektrak tanpa nitrogen (BETN) dalam onggok mencapai 77,23%. Zat makanan ini sangat penting dalm proses ensilase karena sebagian besar dibangun oleh karbohidrat terlarut yang berfungsi sebagai simultan dalam pembwentukan asam laktat , dan rangsangan terhadap pembentukan asam laktat pada proses ensilase merupakan cara alamiah untuk menjamin silase memiliki kualitas yang baik.

PROSES PEMBUATAN SILASE

Proses pembuatan silase disebut ensilase, menurut Bolsen (1993), ensilase adalah proses yang berlangsung dalam pembuatan silase dimana didalamnya terjadi proses fermentasi. Mac Donald Dkk (1988), menyatakan bahwa dalam proses pembuatan silase proses fermentasi dokontrol melalui peningkatan perkembangan bakteri asam laktat atau dengan menghambat proses fermentasi, diantaranya dengan pelayuan awal atau dengan menggunakan bahan imbuhan (aditif) kimia. Cullison dkk (1989), menyatakan bahwa proses pembuatan ensilase memerlukan waktu 2 sampai 3 minngu. Selanjutnya dikemukakan oleh Bath dkk (1985) bahwa pembentukan asam asetat berlangsung selama tiga sampai lima hari, dilanjutkan dengan pembentukan asam laktat dan berhaenti pada sekitar hari ke 20 ketika pH mencapai kisaran 4,0.

Tahapan proses pembuatan ensilase dapat dibagi menjadi beberapa fase, menurut Bolsen (1993) tahap ensilase terbagi kedalm empat fase yaitu : 1. Fase Aerob Fase ini dimulai sejak hijauan pakan dimasukan nedalam silo, pada fase ini berlangsung dua macam proses, yaitu proses respirasi dan proteolisis, ketika hijauan pakan telah berada dalam silo, mikroorganisme aerob dan fakultatif aerob seperti jamur, ragi dan beberapa bakteri berkembnag mencapai populasi tertentu. Proses respirasi secara lengkap menguraikan gula-gula terlarut menjadi karbondiaksida dan air serta panas. Menurut Ensminger (1990), oksigen umumnya habis dalm waktu 4 -5 jam dan temperatur meningkat sampai 85-90o F dalam 15 hari pertama, kemudian menurunsecara bertahap. 2. Fase Fermentasi Fase fermentasi dimulai ketika ketersediaan oksigen telah habis, mikroba an aerob mulai berkembang biak dengan cepat. Bath, dkk (1985) menyatakan bahwa asam asetat adalah jenis asampertama yang dihasilkan oleh Enterobacteriaceae dan selama konsentrasi asam asetat meningkat, bakteri asam laktat mulai berkembang dan melakukan fermentasi karbohidrat dan gula terlarut menjadi asam laktat. Dengan meningkatnya asam laktat, bakteri pembentuk asam asetat secara berangsur-angsur menurun karena mereka tidak bisa hidup pada keasaman yang lebih tinggi.

3. Fase stabil Fase dimana masa aktif pertumuhan bakteri penghasil asam laktat berakhir dan hanya sedikit sekali aktifitas mikroba dapat terjadi pada fase ini. Pada fase ini terjadi juga penguraian hemiselulosa yang terjadi secara kimia yang berlangsung lambat menghasilkan gula sederhana.apabila fermentasi aktif berakhir karena kekurangan gula, maka bakteri asam laktat akan memfermentasi gula yang berasal dari perombakan hemiselulosa sehingga mengakibatkan penurunan pH yang lambat. Murdoch (1989) menyatakan bahwa silase yang tidak stabil adalh silase yang memiliki sejumlah asam laktat yang telah terbentuk akan tetapi jumlahnya tidak cukup untuk mennhambat

perkembangan bakteri yang tidak diinginkan, terutama kelompok bakteri Clostridial. Thomas dan Thomas (1985) menyatakan bahwa bakteri Clostridial akan memfermentasi gula-gula dan asam laktat asam butirat dengan sejumlah kecil produk seperti asam laktat, propionate, formiat, etanol dan butanol. Bakteri clostridial juga akan mendegradasi asam amino secara luas membentuk ammonia dan amina-amina yang cenderung memperlambat penurunan pH dan bahkan meningkatkn pH. 4. Fase pengeluaran silase

Fase pengeluaran silase dimulai pada pada saat silo dibuka untuk memberikan silasenya pad ternak. Pada fase ini, oksigen secara bebas akan mengkontaminasi lapisan permukaa silase yang terbuka sehingga menyebabkan perkembangan mikroba aerob yang memfermentasi gula, hasilhasil akhir fermentasi zat makanan terlarut lainnya yang

ada dalam silase, komponen terlarut tersebut akan diuraikan menjadi CO2, air dan panas.

PENAMBAHAN ZAT ADITIF PADA SILASE Salah satu factor penting yang mempengaruhi proses ensilase adalah menciptakan dan memelihara suasana anaerob. Kondisi ini cukup sulit diperoleh dan kegagalan prosen ensilase biasanya bersumber dari hal ini. Pengunaan bahan kimia seperti asam sulfat untuk mencegah tumbuhnya fermentasi oleh clostridia dan untuk memperoleh hasil pengawetan yang sanagat memuaskan semakin terbiasa dikerjakan di negara-negara di eropa. Nilai adiktif semakin berharga di negara-negara yang mempunyai kesulitan dalam proses pelayuan hijauan sebelum dimasukkan kedalam silo ataupun tanaman yang rendah kandungan bahan kering kandungan bahan keringnya ataupun karbohidrat terlarut. Secara tidak langsung proses ensilase berfungsi untuk mengawetkan komponen nutrisi lainnya yang terdapat dalam bahan silase. Semakin cepat pH turun semakin dapat ditekan ensi proteolisis yang bekerja pada protein. Rendahnya pH juga menghentikan pertumbuhan bakteri anareob seperti seperti clostridia. Akhirnya rendahnya pH juga akan meningkatkan kecepatan hidrolisis yang pada gilirannya akan menurunkan kandungan serat dari hijauan yang dibuat silase tersebut. Akan tetapi, kedua kelompok bakteri enterobacteriaceae dan clostridia mempunyai dampak negatif dari kualitas silase. Enterobacteriaceae mempengaruhi silase selama beberapa hari pertama hijauan dimasukkan ke dalam silo, sedangkan clostridia berpengaruh setelah bakteri penghasil asam laktat menghabiskan gula-gula dari hijauan yang di ensilase. Spora clostridia dinyatakan mempunyai dampak terhadap kualitas silase. Kondisi anaerob dibutuhkan untuk berkembang dan biasanya bila ada oksigen tidak dapat berkembang. Clostridia terbagi dalam dua kelompok yaitu : 1. Yang memfermentasikan gula dan asam organic sebagaimana layaknya bekteri penghasil asam laktat 2. Yang memfermentasikan asam-asam amino bebas. Kedua kelompok tersebut berdampak negatif terhadap kualitas siase. Hasil akhir utama dari fermentasi gula dan asam laktat adalah asam butirat degan tingkat kehilangan bahan kering sebesar 50 % dan kehilangan energi pada proses

fermentasi tersebut sebesar 20 %. Kehilangan tersebut berdampak pada kualitas dan kuantitas (menurunkan kecernaan dan meningkatkan komponen serat) silase tersebut. Clostridia proteolitik memfermentasikan asam-asam amino menjadi hasil akhir termasuk ammonia yang bernilai nutrisi rendah. Beberapa siklus fermentasi menghasilkan kehilangan bahan kering da energi secara nyata, sementara siklus lain menghasilkan tingkat kehilangan yang sangat rendah. Efek yang nyata dari clostridia ini adalah adanya produksi amin yang diketahui sebagai factor dapat menurunkan intake bahan kering.

MEKANISME KERJA ZAT ADITIF DALAM PEMBUATAN SILASE Zat aditif sering digunakan dalam proses pembuatan silase untuh mencegah timbulnya organisme yang tidak diharapkan seperti bakteri pembusuk yang menyebabkan pembentukan asam butirat yangtidak dikehendaki dan jamur melalui usaha penurunan pH sekitar 4 dengan pemberian bahan pengawet. Pembentukan suasana asam dengan cara penambahan bahan pengawet atau bahan tambahan (additif) secara langsung maupun tidak langsung. Pemberian bahan pengawet secara langsung dengan menggunakan: Natrium bisulfat, Sulfur oxide, Asam chloride, Asam sulfat, Asam propionat. dll. Pemberian bahan pengawet atau tambahan (additif) secara tidak langsung ialah dengan memberikan tambahan bahan-bahan yang mengandung hidrat arang (carbohydrate) yang siap diabsorpsi oleh mikroba, antara lain : Molase (melas) : 2,5 kg /100 kg hijauan. Onggok (tepung) : 2,5 kg/100 kg hijauan. Tepung jagung : 3,5 kg/100 kg hijauan., Dedak halus : 5,0 kg/100 kg hijauan., Ampas sagu : 7,0 kg/100 kg hijauan Komposisi dan kandungan gizi serta kualitas dari silae dapat diubah melalui penambahan bermacam-macam material pada waktu ensilase aditif tersebut mempunyai dua tujuan utama pada pembuatan silase yaitu untuk mempengaruhi proses (merangsang) fermentasi dan juga untuk membantu pengawetan dan mengubah komposisi. Penambahan perangsang ( stimulant) sebagai pelengkap untuk silase yaitu bahan makanan seperti molases, whey, sereal dan hay berguna sebagai sumber karbohidrat yang memudahkan proses fermentasi dimana hal tersebut membantu fermentasi asam laktat, pakan kering dapat membantu penyerapan air untuk meningkatkan peningkatan bahan kering sehingga fermentasi asam laktat menjadi stabil/ sempurna. Enzim memfermentasi selulosa menjadi asam laktat dfengan mengubat strutur karbohidrat yang ada untuk memproduksi asam, dengan demikian melindunginya dari fermentasi clostridial . pembuatan silase dengan mineral dengan penambhan asam adala

syarat sialse AIV. Apliasi dari campuran asam sulfur , hidrokloric, atau phosporic, untuk membuat pH menjadi 4 yangpenting untuk membatasi proses fermentasi, jadi mengurangi kehilangan berlangsungnya peragian dan pengaruh pengawetan dari nutrisi

Dapus Pansus. Nutrient Ecology Ruminant . 1978. Jurnal science vol 47 no 3.

D.A. Lubis.1952. ilmu makanan ternak. PT. Pembangunan . Bogor. HOMAS, C. and P.C. THOMAS. 1985. Factors Affecting the Nutritive Value of Grass Silage. In: Recent Advances in Animal Nutrition. W. H ARESIGN and D. J.A. COLE (Eds.). Butterworths, London. pp. 223256. Ensminger, M.E. 1990. Animal Science. 8th Ed. Interstate Publisher, Inc. Dannville Bath DL, Dickinson DL, Tucker HA, Appleman RD. 1985. Dairy CattlePrinsiples, Praktice And Problem.Philadelphia : Profit Lea AndFebinger. Bolsen KK, Sapienza. 1993. Teknologi Silase; Penanaman, Pembuatan DanPemberiannya Pada Ternak. Kansas : Pioner Seed
Church, D., and W. G. Pond. 1998. Basic Animal Nutrition and Feeding. 3rd Ed. John Wiley and Sons, New York

McDonald, P.R.A. Edward and J.F.D.Grennhalgh. 1988. Animal Nutrition. 4th Ed. LongmanScientific & Technical, New York : 321-370