Anda di halaman 1dari 9

2013

1.

Arsitek dan wisata kota Medan

user Goindonesia.com 12/1/2013

Kesawan, Kota Tua Medan (Hotel Medan) Berwisata di Medan, tidak melulu mengunjungi Istana Maimoon atau Masjid Raya Al Mahsun yang merupakan peninggalan Kesultanan Deli yang terkenal hingga ke Malaka. Banyak tempat lainnya yang asik untuk dikunjungi. Namun, jika Anda lelah berkeliling seharian, Anda bisa beristirahat di hotel Medan. Di sekitaran Lapangan Merdeka dan Stasiun Kereta Api Medan, terdapat banyak hotel Medan dan posisinya strategis dekat dengan tempat makan, mal dan kawasan Kesawan. Kesawan merupakan nama sebuah daerah di Medan yang banyak dijumpai bangunan-bangunan tua yang bersejarah sejak zaman Kolonial Belanda yang terlihat dari bentuk arsitektur bangunannya. Sepanjang Jalan Ahmad Yani, Medan ini, Anda akan melihat peninggalan Kota Medan pada zaman dulu. Sebelumnya, daerah Kesawan Medan ini dihuni oleh masyarakat Melayu pada tahun 1880, tetapi kemudian posisinya tergeser oleh orang-orang Tinghoa yang berdagang dan menetap di daerah ini, sehingga kawasan ini juga disebut China Town di Medan. Beberapa bangunan tua yang ada di kawasan ini, ternyata masih ada yang dipertahankan keutuhannya. Gedung PT. London Sumatera (Lonsum) Peninggalan Kolonial Belanda ini masih tetap berdiri gagah di ujung Jalan Ahmad Yani mengarah ke Lapangan Merdeka, Medan. Awalnya pada tahun 1906, gedung berarsitektur Indische Empire ini dibangun sebagai kantor dari perusahaan perkebunan milik Harrisons & Crossfield Plc, yang berbasis di London. Kini gedung ini digunakan sebagai kantor pusat perusahaan yang bernama PT. PP London Sumatera Indonesia dan telah menjadi cagar budaya di Medan. Posisinya strategis dikelilingi gedung lainnya yang memiliki historis dan seni arsitektur tempo dulu, diantaranya Gedung Jakarta Llyod, Gedung Bank Indonesia, hotel Medan yang bernama Hotel Natour Dharma Deli, Kantor Pos Besar Medan dan Jembatan Titi Gantung. Restoran Tip Top Inilah adalah restoran tertua di Kota Medan yang berdiri sejak tahun 1934 dan letaknya dekat dengan hotel murah di Medan. Bangunan, suasana dan interior khas rumah Belanda terlihat jelas pada taplak meja kotak-kotak, meja bulat agak pendek, bangku setengah lingkaran dari kayu dan rotan

GoIndonesia.com

yang pertahan sejak pertama kali berdiri hingga sekarang. Tip Top berasal dari bahasa Belanda yang artinya kualitas prima dan menyajikan beragam menu khas Belanda, seperti Huzaren Salad, Bitterballen, Tounge Steak, Wienner Scintzel, yang dipadukan dengan masakan khas Cina dan Indonesia. Di kala sore, Anda dapat menyeruput secangkir kopi robusta dari Sidikalang, kue-kue tarcis dan cake yang dipanggang di tungku dengan kayu bakar. Lalu ditutup dengan es krim yang menjadi ciri khas restoran ini dengan berkisar Rp9.000-Rp15.000. Disekitar restoran juga terdapat hotel medan. Tjong A Fie Mansion dan Masjid Gang Bengkok Rumah milik Tjong A Fie dengan gerbang bertembok tinggi kuning lembut yang dilengkapi sepasang kaligrafi besar di kanan-kirinya, beraksen kayu, serta beratap khas bangunan Cina ini menjadi sangat kontras di antara deretan ruko-ruko yang dihuni oleh warga keturunan Tionghoa. Rumah megah saudagar terkenal dari Cina yang telah berusia ratusan tahun ini dijadikan cagar budaya dan terdiri atas 35 ruangan. Uniknya, rumah ini juga memasukkan unsur budaya Eropa pada pilar dan jeruji khas budaya Melayu. Anda dapat menyaksikan tata ruang yang otentik, sampai barang-barang asli peninggalan keluarga Tjong A Fie, seperti perabotan antik, koleksi keramik Cina kuno, dan koleksi baju asli mendiang Nyonya Tjong A Fie yang dihiasi manik-manik cantik. Berjarak tidak jauh dari Tjong A Fie Mansion, berdiri bangunan masjid mirip klenteng, tempat ibadah umat Khonghucu sekitar tahun 1900. Arsitektur khas Cina terlihat pada atap yang melengkung, pilar penopang, dan patung hiasan. Konon, pembiayaan masjid ini seluruhnya ditanggung oleh Tjong A Fie sebagai penghormatan masyarakat Tionghoa kepada masyarakat Melayu di Medan.

GoIndonesia.com

2. Potret Kerukunan Beragama di Kota Medan (Hotel Medan) Hotel Medan kian menjamur, sehingga membantu para wisatawan yang datang ke Kota Medan. Apalagi harganya terjangkau, pasti hotel Medan menjadi rebutan pelancong yang ingin menginap beberapa hari di Medan. Dengan adanya hotel murah di Medan, akomodasi di Kota Medan kian lengkap. Mungkin wisata kuliner, belanja dan alam di Kota Medan yang terletak di sekitar hotel Medan menjadi hal yang lumrah dilakukan. Bagaimana dengan wisata religinya? Kota Medan yang memiliki beragam etnis dan agama ini terlihat menjalin kerukunan yang baik dengan berdirinya masingmasing tempat ibadah di Kota Medan. Apa saja yang dapat dikunjungi untuk wisata religi kali ini? Berikut ulasannya. Masjid Raya Al Mahsun Medan Masjid yang menjadi lambang Kota Medan ini dibangun oleh Sultan Makmun Al Rasyid dan dirancang oleh Dengimans dari Belanda, dengan gaya Moorish, pada tanggal 21 Agustus 1906. Bentuknya oktagonal dan memiliki kubah sebanyak lima buah dengan warna putih dan berkesan menakjubkan. Masjid terindah ini memiliki nilai budaya, sejarah dan terbesar di Sumatera Utara, yang dapat menampung 1.500 jemaah untuk melaksanakan sholat setiap hari dan banyak dikunjungi turis dari berbagai negara di dunia. Berjarak 200 meter dari Istana Maimoon, tempat ini sangat mudah dijangkau. Masjid Raya ini berlokasi di Jalan Sisingamangaraja Medan dan dekat dengan Pusat Belanja, hotel Medan dan berhadapan dengan Taman Sri Deli. Gereja Lama Gereja Immanuel merupakan gereja tertua di Medan. Lokasinya di Jalan Diponegoro dan dibangun pada tahun 1921. Gereja ini masih digunakan oleh umat Kristiani untuk kebaktian pada hari Minggu dan hari lainnya, seperti upacara pernikahan dan Misa Natal. Gereja ini dapat menampung sekitar 500 umat Kristiani untuk mendengarkan kotbah pendeta. Arsitektur bangunan yang bergaya renaissance masih dipertahankan dengan interior kayu pada bagian dalamnya. Begitu pula gantungan lampu pada langit-langit, altar, mimbar khotbah, dan kursi jemaat yang masih terpelihara dan tetap menghiasi bangunan gereja. Uniknya, pada bagian menara terdapat jam dan sebuah lonceng buatan Belanda tahun 1922. Bila jarum panjang berada di posisi angka 12, bandul lonceng ini berdentang secara otomatis, memecah keheningan Kota Medan sejauh tiga kilometer. Sayangnya, kini jam ini tidak dapat lagi berdentang lagi. Vihara Gunung Timur Vihara Gunung Timur dikenal sebagai vihara tertua di Kota Medan. Vihara ini didirikan oleh umat Budha pada tahun 1962 dari sumbangan selama bertahun-tahun. Umumnya umat Budha

GoIndonesia.com

bersembahyang ke vihara ini setiap hari. Namun, acara ritual agama Budha seperti memperingati hari ulang tahun Sidharta Gautama dilakukan di vihara ini, pada tanggal 4-15 setiap tahunnya. Lokasinya terletak di Jalan Hang Tuah, sekitar 500 meter dari Kuil Sri Mariamman dan berada di sisi Sungai Babura. Kuil Hindu Shri Mariamman

Kuil Shri Mariamman merupakan kuil Hindu tertua di Kota Medan, dibangun dan dipersembahkan untuk Dewi Mariamman pada tahun 1884 oleh umat Hindu. Kuil ini berada di Jalan Zainul Arifin, umumnya didatangi umat Hindu untuk bersembahyang setiap pagi. Selain itu, digunakan juga untuk perayaan Depavali dan perayaan Panen Padi.

GoIndonesia.com

3. Jelajah Kampung Komunitas India di Medan (hotel medan) Hotel Medan banyak yg lokasinya terletak diantara bangunan bersejarah di kota Medan. Istana Maimoon dan Masjid Raya Medan telah menjadi landmark Kota Medan yang wajib dikunjungi saat berkunjung ke kota ini. Selain tempat-tempat tersebut, ada satu kawasan unik yang juga wajib diketahui dan dikunjungi. Kawasan ini disebut Kampung Madras. Kawasan yang berdiri di atas tanah 10 hektar ini pernah menjadi komunitas India yang besar di Kota Medan. Letaknya do sekitar Kecamatan Medan Polonia dan Medan Petisah. Awalnya, kawasan ini bernama Patisah, tetapi terjadi perubahan nama menjadi Kampung Madras untuk mencerminkan tanah asal warga keturunan India yang berdiam di sana. Namun, nama Kampung Madras juga tidak populer, dan sebaliknya yang digunakan adalah istilah Kampung Keling. Meskipun hingga tahun 1950-an kawasan ini masih dihuni oleh warga keturunan India Tamil dalam jumlah yang besar, jumlah tersebut berlahan berkurang karena keadaan ekonomi yang sulit, sehingga membuat mereka harus pindah ke kawasan lain. Kampung Keling kini lebih banyak dihuni oleh warga keturunan Tionghoa dibandingkan India. Mulanya, nenek moyang keturunan India asli merantau ke Medan yang dulu disebut Deli. Mereka yang berjumlah 25 orang bekerja di perkebunan milik Belanda, sopir penjaga malam dan penarik delman lembu. Mereka dikenal patuh dan tekun bekerja, sehingga Belanda semakin mendatangkan tenaga kerja dari India hingga seribu orang pada masa itu. Tidak hanya untuk bekerja, ada juga yang mencoba untuk berdagang sampai saat ini. Keahlian mereka dalam berdagang ditunjukkan dengan menggeluti bisnis pemerahan susu sapi, sehingga di Medan susu sapi murni sangat terkenal di Kampung Madras atau Kampung Keling. banyak bangunan-bangunan tua peninggalan belanda di kampung madras ini. Identitas India pun masih sangat kental terasa dari nama-nama jalan di kawasan ini, seperti Jalan Hindu, Mahayana dan Kalingga. Saat malam menjelang, kawasan ini akan terlihat ramai dan padat karena banyaknya pusat-pusat perbelanjaan yang menawarkan bermacam produk unggulannya, diantaranya toko roti, toko cinderamata, makanan khas dan mal terbesar di Medan pun berada di kawasan Kampung Keling. Tak hanya itu, salah satu jalan di kawasan ini, yakni Jalan Pagaruyung berubah menjadi pusat kuliner khas India, misalnya nasi briani, roti cane dan aneka masakan berbumbu dengan cita rasa rempah tajam. Tapi jangan ketinggalan, bandrek ala Kampung Madras yang terkenal dengan kekhasannya. Tempat ini juga menjadi tempat tongkrongan warga Medan karena makanannya yang enak dan murah. Bagi Anda yang berlibur di Medan bisa juga memilih beragam hotel Medan.

GoIndonesia.com

4. Kuliner Populer di Medan (hotel medan) Hotel Medan sudah menjadi pilihan untuk menikmati suasana kota Medan. Berkeliling di Kota Medan, tidak pas rasanya jika tidak mencoba kuliner Medan. Katanya, Medan menawarkan kuliner yang beragam dengan rasa yang bisa diacungkan jempol. Selain soto Medan, durian dan mie Aceh Titi Bobrok kerap dicari oleh warga Medan dan juga wisatawan yang berlibur di Medan. Keduanya memang berbeda jenis dan bentuknya, tetapi punya rasa yang tidak biasa. Sebut saja durian Medan, buah berduri asal Medan ini sudah terkenal di nusantara. Harganya juga murah jika dijual di Medan, berkisar Rp5.000 sampai Rp20.000 per buahnya. Jika sedang musim panen durian, kuantitasnya mudah ditemukan, bahkan sampai di jalan yang kecil sekali pun. Biasanya buah ini juga dijual sampai malam dan harganya semakin murah apabila membeli menjelang tengah malam. Rasa pahit manis menjadi ciri khas dari durian Medan. ini yang membuat buah yang memiliki daging buah yang unik dicari banyak orang. Tempat-tempat yang favorit diantaranya berada di Jalan Iskandar Muda (Pasar Pringgan) yang dikenal dengan nama Durian Ucok, Seputaran Jalan Abdul Haris Nasution (Asrama Haji) yang bisa juga menikmati es kolak durian, Jalan Sumatera, Jalan Bogor di persimpangan Jalan Semarang, Jalan Gatot Subroto, Jalan Krakatau, serta Jalan Pelajar yang menjadi sentra durian dengan puluhan mobil pick up yang membawa buah durian dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Umumnya, pedagang durian mengambil durian di sini sebelum dijual kembali. Tak hanya buahnya yang terkenal. Olahan durian juga digemari wisatawan. Bahkan, saat ini olahan tersebut dapat menjadi oleh-oleh khas Medan untuk dibawa ke daerah asal masing-masing. olahanolahan tersebut ada juga yang dapat dibeli di tempatnya langsung atau juga pesan online melalui internet, sehingga olahan tersebut dikirim ke alamat pemesan. Menu lain yang tidak kalah populernya dari durian Medan adalah Mie Aceh Titi Bobrok. Jarang memang ada kuliner khas Aceh yang jadi salah satu destinasi wisata kuliner di Medan. Kuliner khas Aceh ini terkenal dan banyak direkomendasikan orang. Tempat makan ini menawarkan tiga jenis mie, yaitu kuah, goreng dan basah atau tidak terlalu kering tapi tidak juga berkuah. Untuk isi bisa menggunakan udang, cumi, daging sapi, kepiting atau campuran. Apa yang dirasakan saat sepiring mie Aceh ini ada di depan Anda? Tentunya aroma paduan rempah bumbu kari tercium samar-samar. Lalu, ketika suapan pertama terasa khas Aceh tetapi tidak terlalu pedas yang berasal dari rempah-rempah, bukan cabai dan langsung buat perut bergejolak. Apalagi dengan isian seafood, semakin menggungah Anda untuk segera melahapnya. Hal yang membuat mie Aceh ini berbeda dari yang lainnya, yakni mie yang dibuat sendiri, bukan mie olahan pasar, daging yang dipilih juga berkualitas dan banyak, kuah karinya sama dengan mie Aceh lain tapi digodok lebih lama, sehingga lebih meresap. Menariknya, penamaan Mie Aceh Titi Brobrok diambil dari tempat pertama berjualan, lokasinya di jembatan rusak yang diberi nama Titi Bobrok. Untuk menikmati kuliner ini cukup mengeluarkan uang Rp9.000 untuk mie biasa dan Rp18.000 untuk isian kepiting. Disekitar kawasan juga terdapat hotel medan.

GoIndonesia.com

5. Melirik Danau Besar di Pinggir Kota Medan (hotel medan) Warga Kota Medan kini sudah tidak perlu berpergian jauh untuk berwisata di danau. Pasalnya, sejak tahun 2006 Pemerintah Kota Medan telah meresmikan Danau Siombak sebagai destinasi wisata alam di Kota Medan. Di sekitar kawasan danau juga terdapat hotel medan. Danau Siombak pada dasarnya adalah danau buatan dengan luas sekitar 40 hektar, diameter 1.000 meter dan kedalaman 12 meter. Awalnya, pada tahun 1983 ada pembuatan jalan tol Belmera untuk kawasan Belawan sampai Tanjung Morawa. Kemudian pasir untuk pembangunan tersebut dikeruk dari daerah ini hingga terbentuk danau. Selain itu, danau ini juga berfungsi sebagai resapan air warga Kota Medan, khususnya di daerah Marelan dalam mengatasi banjir saat musim hujan. Danau ini terletak di Jalan Pasar Nipon, Kelurahan Paya Pasir, Medan Marelan dan diapit oleh Sungai Deli dan Sungai Terjun. Meski ini danau buatan, air danau ini berwarna jernih agak kehijauan karena dasar danau ditumbuhi lumut dan ganggang, tetapi airnya tidak berbau. Lokasinya di pinggir Kota Medan membuat objek wisata ini lebih banyak dikunjungi oleh warga sekitar, misalnya dari Marelan, Mabar, Belawan, dan Helvetia. Memasuki area danau, wisatawan dapat melihat pohon-pohon bakau yang masih banyak berjajaran dan tak jarang hembusan angin yang sejuk, serta hembusan angin laut sepoi-sepoi dapat dirasakan. Tempat favorit masyarakat Medan ini menawarkan berbagai fasilitas, seperti pondokan, memancing sepuasnya, taman bermain anak misalkan kolam renang mini, mandi bola, dan masih ada beberapa permainan outdoor lainnya. Ada juga disediakan perahu jika wisatawan ingin berkeliling dengan biaya Rp15.000 per orang atau Rp35.000 per orang menggunakan speedboat. Bagi yang hobi memancing, Anda dapat membawa peralatan pancing dari rumah dan bersaing dengan pemancing lainnya. Meski hasil tangkapan banyak yang berukuran kecil, tetapi dapat disantap di sini dengan dibakar atau digoreng. Jika diamati lagi setiap sudut dari Danau Siombak, akan terlihat kondisi yang tidak terawat dan tidak terjaga. Banyaknya sampah di sekitar danau dapat mencemarkan lingkungan sekitarnya. Untuk itu, Pemerintah Daerah seharusnya mengembangkan kembali potensi dan promosi objek wisata ini karena satu-satunya danau yang besar di Kota Medan. Akan tetapi, terdengar kabar bahwa objek wisata ini akan dikembangkan menjadi Taman Wisata Danau Siombak, di mana bertemakan education and recreation oleh investor dari Malaysia. Rencananya Water Park nantinya akan memiliki berbagai fasilitas seperti restoran, flying fox, koleksi satwa, wahana air dan dapat dijadikan sebagai tempat outbound. Hotel Medan juga banyak tersedia di sekitar kawasan.

GoIndonesia.com

6. Taman Alam Lumbini Siapa yang ingin pergi ke Myanmar, Thailand atau Malaysia? Jika dalam waktu dekat Anda merencanakan bepergian ke negara tersebut, Anda boleh memikirkannya kembali. Sebab, Indonesia yang kaya akan objek wisata yang bagus ini juga menawarkan replika Pagoda Shwedagon seperti di Myanmar dan kebun stroberi yang ada di Malaysia. Anda tidak percaya? Cobalah Anda mengunjungi Taman Alam Lumbini di Brastagi, Sumatera Utara. Lokasinya tidak terlalu jauh dari hotel medan. Anda pasti akan terkagum-kagum melihat replika Pagoda Shwedagon yang ada di Myanmar saat ini ada di depan mata Anda tanpa harus pergi ke luar negeri, tidak kalah keindahan dan kebesarannya. Sejak dibuka sebagai tempat wisata pada tahun 2010 lalu, tempat ini ramai dikunjungi oleh masyarakat Medan dan sekitarnya, bahkan juga wisatawan mancanegara. Disekitar kawasan juga terdapat hotel medan. Warna emas yang bersinar saat terkena cahaya matahari, membuat pagoda ini tampak berdiri kokoh dan megah di antara pepohonan indang. Replika tersebut dibangun di atas tanah seluas tiga hektar di Taman Alam Lumbini, Desa Tongkoh, Kecamatan Dolatrayat, Kabupaten Karo dan merupakan pagoda tertinggi kedua di antara replika sejenis yang berada di luar negara Birma dan tertinggi di Indonesia. Sebanyak 108 relik suci, 2.598 rupang Buddha, 30 rupang Arahat, dan objek-objek suci lainnya terdapat di dalamnya. Kategori tertinggi di Indonesia ini pun memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI). Pembangunan komplek Taman Alam Lumbini dengan replika pagoda berlantai dua ini merupakan sumbangan dari berbagai kelompok Buddhist dari berbagai negara. Ikon utamanya berupa stupa berwarna emas dengan panjang 69 meter dan tinggi 46, 8 meter, serta beberapa relief dan patung lainnya, baik di taman maupun di tembok-tembok kompleks tersebut. Di dalam pagoda, tepat di tengah-tengah ruangan terdapat empat patung Buddha yang diletakkan di empat arah mata angin dan menghadap ke pintu. Jika patung Buddha di Myanmar bertahtakan permata, patung Buddha di Lumbini terbuat dari marmer. Suasana yang hampir sama dengan di Genting Highland, Malaysia juga terasa di tempat ini, di mana terhampar taman yang indah dengan mengikuti kontur alam yang curam yang menambah pesona dan keunikannya. Lalu, ada juga kebun yang ditanami sayur dan tanaman-tanaman khas dataran tinggi seperti alpukat, kubis, dan stroberi sepanjang jalan di kiri dan kanan Dengan segala keindahan dan kemegahan Taman Alam Lumbini ini, masihkah Anda ingin bepergian ke luar negeri?

Ditulis oleh penulis GoIndonesia.com

GoIndonesia.com