Anda di halaman 1dari 9

Salah Tingkah Tania 14 tahun adalah murid kelas VIII yang paling ramah dan paling cantik di SMP

X. Banyak temannya yang menaruh hati bahkan sampai menyatakan perasaannya ke dirinya, namun dirinya menolak mereka. Suatu hari ada siswa pindahan, Michael, yang seketika itu membuat jantung Tania berdebar-debar, salah tingkah, bahkan dahinya sedikit berkeringat ketika berkenalan. Tania yang menyadari seharian badmood karena Pre Menstrual Syndrom, tiba-tiba merasa senang sepanjang hari.

Step 1. Klarifikasi istilah 1. Jantung : Sebuah rongga berotot yang berfungsi

memompa darah lewat pembuluh darah dengan kontraksi yang berirama dan berulang, serta dapat mengalami palpitasi (berdebar-debar). 2. Pre Menstrual Syndrom : Gejala perubahan fisik, psikologis dan perilaku

yang menyusahkan yang tidak disebabkan oleh penyakit organik yang secara teratur dan berulang selama fase siklus haid yang sama biasanya terjadi kurang lebih 7-10 hari dan akan menghilang setelah menstruasi. 3. Berkeringat : Suatu mekanisme tubuh dengan tujuan

mengatur suhu tubuh, keringat dihasilkan oleh kelenjar keringat di lapisan dermis kulit. Merupakan proses evaporatif yang mengeluarkan cairan encer di bawah saraf simpatis. 4. Salah tingkah : Suatu perilaku yang aneh dan tidak biasa

dilakukan, biasanya reaksi berlebihan dalam keadaan canggung, lemas, dan gugup.

Step 2. Rumusan masalah 1. Apa gejala-gejala dan mekanisme PMS (Pre Menstrual Syndrom) ? 2. Apa saja macam-macam PMS ? 3. Hormon dan neurotransmitter apa sajakah yang berperan ketika jatuh cinta ? 4. Apa penyebab jantung Tania berdebar-debar, salah tingkah dan berkeringat ketika berkenalan dengan Michael ?

Step 3. Analisis masalah 1. A. Gejala - gejala PMS ( Pre Menstrual Syndrom) dapat meliputi gejala psikis dan fisik : Psikologi : Fisik : Payudara tegang. Suhu naik. Nyeri otot, sakit kepala. Perut terasa kembung/penuh. Jantung berdetak kencang. Nafsu makan tinggi. Gejala kulit : berjerawat , kulit berminyak. Emosi lebih tinggi. Insomnia atau hiperinsomnia. Perubahan suasana hati yang tiba-tiba (gangguan interpersonal). Konsentrasi berkurang. Mudah lupa terhadap sesuatu, cemas, gelisah, gembira. Mudah lelah.

B. Mekanisme PMS (Pre Menstrual Syndrom) Pre menstrual syndrome (PMS) adalah kombinasi gejala yang terjadi sebelum haid dan menghilang dengan keluarnya darah menstruasi serta dialami oleh banyak wanita sebelum permulaan setiap siklus menstruasi. Penyebab pasti PMS tidak diketahui, tetapi beberapa teori menunjukan adanya kelebihan estrogen atau defisit progesteron dalam fase luteal dari siklus menstruasi. Selama ini, sebagian wanita yang menderita PMS mengalami penurunan kadar progesteron dan dapat sembuh dengan penambahan progesteron akan tetapi banyak juga wanita yang menderita gangguan PMS hebat tapi kadar progesteronnya normal. Teori lain menyatakan bahwa penyebab PMS adalah karena meningkatnya kadar estrogen dalam darah yang akan menyebabkan gejala depresi dan khususnya gangguan mental. Kadar estrogen yang meningkat akan mengganggu proses kimia tubuh termasuk vitamin B6 (piridoksin) yang dikenal sebagai vitamin anti depresi karena berfungsi

mengontrol produksi serotonin. Serotonin penting sekali bagi otak dan syaraf. Kurangnya persediaan zat ini dalam jumlah yang cukup dapat mengakibatkan depresi. Batas tertentu estrogen menyebabkan retensi garam dan air serta berat badannya bertambah. Mereka yang mengalami akan menjadi mudah tersinggung, tegang dan perasaan tidak enak. Gejala-gejala dapat dicegah bila pertambahan berat badan dicegah. Peran estrogen pada PMS tidak nyata, sebab ketegangan ini timbul terlambat pada siklus, tidak pada saat ovulasi sewaktu sekresi estrogen berada pada saat puncaknya. Kenaikan sekresi vasopresin kemungkinan berperan pada retensi cairan pada saat premensruasi. Hormon lain dikatakan sebagai penyebab gejala PMS adalah prolaktin. Prolaktin

dihasilkan oleh kelenjar hipofisis dan dapat mempengaruhi jumlah estrogen dan progesteron yang dihasilkan pada setiap siklus. Jumlah prolaktin yang terlalu banyak dapat mengganggu keseimbangan mekanisme tubuh yang mengontrol produksi kedua hormon tersebut. Wanita yang mengalami PMS tersebut kadar prolaktin dapat tinggi atau normal. Wanita yang mempunyai kadar prolaktin cukup tinggi dapat disembuhkan dengan menekan produksi prolaktin. Teori lainnya mengatakan bahwa hormon yang tidak teridentifikasi menyebabkan gejala pada waktu terjadi perubahan menstruasi seperti peningkatan aktifitas beta endorphin, defisiensi serotonin, retensi cairan, metabolisme prostaglandin abnormal dan gangguan aksis hipothalamik pituitary ovarium sebagai penyebabnya. Menurut Hacker et al (2001) juga mengemukakan penyebab PMS adalah kelebihan atau defisiensi kortisol dan androgen, kelebihan hormon anti deuretik, abnormalitas sekresi melatonin, defisiensi vitamin A, B1, B6 atau mineral, seperti magnesium, hipoglikemia reaktif, alergi hormon, toksin haid, serta faktor-faktor evolusi dan degeneratif. Selain itu, sekresi estrogen menyebabkan peningkatan kortisol dalam darah. Rangsangan hipothalamus menyebabkan kelenjar hipofisis memacu sekresi bagian kortikal kelenjar adrenal yang juga akan menghasilkan kortisol. Kadar kortisol yang tinggi dalam darah akan menyebabkan stess. Pada saat stress terjadi penurunan serotonin yang mengakibatkan ketidakstabilan mood sehingga dengan mudah bisa memunculkan Pre Menstrual Syndrom. Pelepasan adrenalin oleh bagian kortikal kelenjar adrenal akan menghambat pengikatan progesteron ke reseptornya sehingga terjadi penurunan kadar progesteron. Ketidakseimbangan antara kadar estrogen dan progesteron ini juga dapat menyebabkan Pre Menstrual Syndrom.

2. Tipe dan gejala-gejala PMS Tipe dan gelaja PMS bermacam-macam. Dr. Guy E. Abraham, ahli kandungan dan kebidanan dari Fakultas kedokteran UCLA, AS, membagi PMS menurut gejalanya yaitu PMS tipe A,H,C dan D. Kadang-kadang seorang wanita mengalami gejala gabungan, misalnya tipa A dan D secara bersamaan. Berikut gejala-gejala yang timbul sesuai tipe PMS masing-masing : a. PMS tipe A (anxiety) Ditandai dengan gejala : Rasa cemas Sensitif Saraf tegang Perasaan labil

Gejala ini timbul akibat ketidakseimbangan hormon esterogen dan progesteron : hormon esterogen terlalu tinggi dibanding dengan hormon progesteron. Pemberian hormon progesteron kadang dilakukan untuk mengurangi gejala, tetapi beberapa penelitian mengatakan pada penderita PMS bisa terjadi kekurangan vitamin B6 dan magnesium. b. PMS tipe H (hyperhydrotion) Ditandai dengan gejala : Edema (pembengkakan) Perut kembung Nyeri pada payudara Pembengkakan tangan dan kaki Peningkatan berat badan sebelum haid

Pembengkakan terjadi akibat berkumpulnya air pada jaringan di luar sel karena tingginya asupan garam atau gula pada diet penderita. Pemberian obat diuretika untuk mengurangi retensi (penimbunan) air dan natrium pada tubuh hanya mengurangi asupan garam dan gula pada diet makanan serta membatasi minum sehari-hari.

c. PMS tipe C (crving) Ditandai dengan gejala Rasa lapar ingin mengonsumsi makan yang manis (coklat, es cream) dan karbohidrat sederhana (gula). pada umumnya sekitar 20 menit mengonsumsi gula dalam jumlah banyak menimbulkan gejala hipoglikemia seperti kelelahan, jantung berdebar, pusing kepala yang kadang sampai pingsan. Hipoglikemia timbul karena pengeluaran hormon insulin dalam tubuh meningkat. Rasa ingin menyantap makanan manis dapat disebabkan karena stres, tinggi garam dalam diet makanan, tidak terpenuhinya asam lemak esensial (omega 6) atau kurangnya magnesium. d. PMS tipe D (depression) Ditandai dengan gejala Depresi Ingin menangis Lemah Gangguan tidur Pelupa Bingung Sulit dalam mengucapkan kata-kata

PMS tipe D disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon progesteron dan estrogen, dimana hormon Progesteron dalam siklus haid terlalu tinggi dibandingkan dengan hormon esterogennya. 3. Hormon yang berperan ketika jatuh cinta Dopamin : berperan dalam memicu perasaan senang, bahagia,

menimbulkan perasaan ketagihan (ingin selalu bertemu). Adrenalin keringat dingin. Serotonin : berpengaruh terhadap pemicu rasa kantuk, saat jatuh : mengakibatkan peningkatkan denyut jantung dan

cinta hormon berkurang sehingga susah tidur. Oksitosin Vasopresin : mengontrol rasa sayang dan kesetiaan. : mengontrol kesetiaan.

Tahap tahap jatuh cinta : Seorang antropolog biologi dari Rutgers University, Helen Fisher, menyatakan bahwa ada 3 tahap dalam cinta, yang disebutnya : lust, attraction, dan attachment, yang masingmasing tahap itu diatur oleh hormon dan atau senyawa kimia yang berbeda.

Tahap 1 : Lust (hasrat, keinginan, desire) Tahap ini diawali dengan ketertarikan atau gairah terhadap lawan jenis, yang dipengaruhi oleh hormon sex yaitu testosteron dan estrogen, pada pria dan wanita. Ini dimulai dari masa pubertas, di mana seseorang mulai tertarik dengan lawan jenisnya.

Tahap 2 : Attraction Tahap ini merupakan tahapan ketika seseorang benar-benar sedang jatuh cinta dan tidak bisa berpikir yang lain. Menurut Fisher, setidaknya ada 3 neurotransmiter yang terlibat dalam proses ini, yaitu adrenalin, serotonin, dan dopamin. Adrenalin Tahap awal ketika seorang jatuh cinta akan mengaktifkan semacam response stress, yang akan meningkatkan kadar adrenalin dalam darah. Adrenalin akan bertemu dengan reseptornya di persarafan simpatik, dan menghasilkan berbagai efek seperti percepatan denyut jantung (takikardi), aktivasi kelenjar keringat, menghambat salivasi, dll. Ini yang menyebabkan ketika seseorang secara tidak sengaja bertemu dengan seorang yang ditaksirnya, ia akan berdebar-debar, berkeringat, dan mulut jadi terasa kering/kelu. Dopamin Helen Fisher meneliti pada pasangan yang baru saja jadian mengenai level neurotransmiter di otaknya dengan suatu alat pencitraan, dan menemukan tingginya kadar dopamin pada otak mereka. Dopamin adalah suatu senyawa di otak yang berperan dalam sistem keinginan dan kesenangan sehingga meningkatkan rasa senang. Dan efeknya hampir serupa dengan seorang yang menggunakan kokain. Kadar dopamin yang tinggi di otak diduga yang menyebabkan energi yang meluapluap, berkurangnya kebutuhan tidur atau makan, dan perhatian yang terfokus serta perasaan senang yang indah (exquisite delight) terhadap berbagai hal kecil pada hubungan cinta. Dopamin juga merupakan neurotransmiter yang menyebabkan adiksi. Serotonin

Yang terakhir adalah serotonin. Ketika jatuh cinta, kadar serotonin otak menurun. Serotonin merupakan neurotransmiter yang terlibat dalam obsesi. Turunnya level serotonin inilah yang menyebabkan mengapa ketika kita jatuh cinta, wajah pasangan akan selalu terbayang-bayang terus di kepala dan menjadi terobsesi terhadap pasangan. Dan keadaan kimia otak terkait dengan kadar serotonin pada orang yang sedang falling in love itu mirip dengan keadaan orang dengan gangguan Obsessive Compulsive Disorder. Ada obsesi atau keinginan terhadap sesuatu dan ada dorongan (kompulsi) untuk berulang-ulang melakukan sesuatu untuk mencapai keinginannya. Misalnya terobsesi untuk mendengar suara pasangan, maka akan ada dorongan untuk menelponnya berulang-ulang. Dalam sudut pandang sains kesehata patofisiologi cinta itu memang mirip patofisiologi penyakit. Nyatanya memang tidak sedikit orang yang sakit fisik atau jiwa karena cinta NGF (nerve growth factor) Seorang peneliti lain, Enzo Emanuele dari University of Pavia di Italy, menemukan adanya senyawa lain yang terlibat dalam peristiwa jatuh cinta, yaitu NGF (nerve growth factor). Penemuannya itu merupakan penemuan yang pertama yang menyatakan bahwa NGF mungkin berperan penting dalam proses kimia pada orang jatuh cinta. Ia membandingkan 58 orang pria dan wanita, usia 18-31 tahun, yang baru saja jatuh cinta, dengan kelompok orang-orang yang sudah cukup lama memiliki hubungan cinta dan dengan kelompok lajang. Ia menjumpai bahwa pada kelompok orang yang sedang falling in love dijumpai kadar NGF dalam darah yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang sudah membina cinta lebih lama atau yang lajang, dengan perbandingan 227 unit berbanding 123 unit. Menariknya, ketika ia mengecek lagi pada orang yang sama dan masih dengan pasangan yang sama setahun kemudian, kadar NGF-nya turun mencapai kadar yang sama dengan kelompok yang sudah mantap hubungannya atau dengan yang lajang.

Tahap 3 : Attachment Tahap ini adalah tahap ikatan yang membuat suatu pasangan bertahan untuk jangka waktu yang lama, dan bahkan untuk menikah dan punya anak. Para ilmuwan menduga bahwa ada 2 hormon utama yang lain yang terlibat dalam perasaan saling mengikat ini, yaitu oksitosin dan vasopresin.

Oxytocin The cuddle hormone (hormon untuk menyayangi) Oksitosin adalah salah satu hormone yang dilepaskan oleh pria maupun wanita ketika mereka berhubungan seksual, yang membuat mereka menjadi lebih dekat satu sama lain. Oksitosin juga merupakan hormone yang dilepaskan oleh sang ibu ketika proses melahirkan dan merupakan hormon pengikat kasih sayang ibu dengan anaknya.

Vasopressin Sedangkan vasopressin adalah hormone penting lainnya yang menjaga komitmen hubungan suatu pasangan. Hormon ini juga dilepaskan setelah hubungan seksua.

Tahapan cinta secara fisiologis dan neurotransmitter dan hormon yang dikeluarkannya.

4.

Penyebab jantung Tania berdebar-debar, salah tingkah dan berkeringat : Ketika seseorang sedang merasakan ketertarikan dengan lawan jenis maka tubuh akan memproduksi hormon phenetilamine (PEA) yang efeknya adalah terjadi peningkatan suhu, gula dan tekanan darah, denyut jantungnya akan lebih cepat dan berkeringat. Orang tersebut juga menjadi penasaran, salah tingkah, bergairah dan bergembira.

Phenethilamine (PEA) adalah bahan kimia yang mempercepat arus informasi diantara sel-sel saraf. PEA adalah zat kimia yang paling dikenal sebagai zat cinta. PEA ini muncul secara alami dalam otak dan termasuk dalam natural amphetilamine. Seperti drugs, PEA juga dapat menimbulkan efek rangsangan yang sama dengan drugs. Zat inilah yang dipercaya dapat membuat orang merasa bahagia dan melambung saat jatuh cinta.