Anda di halaman 1dari 3

Kondisi geografis Indonesia yang merupakan daerah tropis dengan suhu dan kelemba ban tinggi akan memudahkan

tumbuhnya jamur, sehingga infeksi oleh karena jamur d i Indonesia banyak ditemukan (Nasution, 2006) (). Kandidiasis adalah suatu infek si akut atau subakut yang disebabkan oleh jamur Candida albicans, spesies penyeb ab lebih dari 80% kasus infeksi kandida pada genitalia (Siregar, 2005; Sylvia,20 06) (Sylvia A. Price et al, 2006, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Peny akit.Edisi 6, EGC.Jakarta.) Pada tahun 1998-2002 di RSU Dr. Soetomo Surabaya didapatkan 19 penderita dermato mikosis. Jenis Kandidiasis yang sering muncul adalah Kandidiasis Oral, dan Kandi diasis Vulvovaginalis (Abidin, 2006) (Abidin, Taufik, 2006, Proporsi Dermatofito sis Superfisialis di RSUD Mataram Periode Januari Desember 2006, Karya Tulis Ilm iah. Mataram, Fakultas Kedokteran Universitas Mataram) Pada tahun 2008 di University College Hospital Ibadan, Nigeria didapatkan bebera pa mikroorganisme pathogen pada wanita hamil dan tidak hamil. Hasilnya menunjukk an Candida albicans (17,5%) menjadi urutan pertama pada pasien wanita hamil, sed angkan pada wanita yang tidak hamil Gardnerella vaginalis dan Candida albicans ( 14,8%) menempati urutan pertama dengan jumlah presentase sama besar (Agbakoba, 2 008) (Agbakoba, N.R, 2008, Isolation of Vaginal Pathogens along with Genital Myc oplasmas from Asymptomatic Gynaecology and Antenatal Clinic Attendees, AmericanEurasian Journal of Scientific Research (online),(http://www.idosi.org/aejsr/3%2 82%2908/12.pdf), Diakses 1 Februari 2010.) Pengobatan kandidiasis dilakukan dengan pemberian obat antifugal Nistatin, Amfot erisin-B dan Azole, tetapi toksisitas dan resistensi obat ini merupakan masalah potensial. Diantaranya penggunaan Amfoterisin-B jangka panjang menyebabkan kerus akan ginjal, dan antusiasme Ketokonazol menurun karena mengakibatkan nekrosis ha ti dan supresi adrenal (Neal, 2005 ; Nurhayati, 2005) (Nurhayati, Betty, 2005, U ji Antimikroba Bakteri Probiotik Terhadap Pertumbuhan Candida albicans.(online), (http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-bettynurh a-24714), Diakses tanggal 7 November 2009) Resistensi terhadap antifungi juga sering terjadi. Griseofulvin tidak dapat meng obati jamur golongan Candida atau jamur-jamur yang bersifat sistemik atau jamurjamur golongan deep mycosis. Ketokonazol juga pada akhir-akhir ini sudah mulai r esisten terhadap beberapa spesies jamur seperti Trycophyton rubrum, E. floccusum (Kusumaningtyas, 2006; Nasution, 2005) (Nasution, Mansur Amirsyam, 2005, Mikolo gi dan Mikologi Kedokteran Beberapa Pandangan Dermatologis, Pengukuhan Guru Besa r Tetap dalam Bidang Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran Unive rsitas Sumatra Utara. Sumatra Utara) (Kusumaningtyas, Eni, 2006,Mekanisme Infeks i Candida albicans Pada Permukaan Sel (online), (http://peternakan.litbang.d eptan.go.id/publikasi/lokakarya/lkzo05-48.pdf), Diakses tanggal 29 November 2009 .) Pada tahun 2001 Amerika Serikat 80 juta penduduk menderita gangguan kesehatan ya ng disebabkan jamur Candida. Kandidiasis terjadi di seluruh dunia dan menyerang segala usia baik laki-laki maupun wanita, tetapi data menunjukkan bahwa 70 % pen deritanya adalah wanita. Data tahun 1990 menunjukkan bahwa 15 % penduduk New Zea land terkena kandidiasis. Di Indonesia dilaporkan 84 % penderita AIDS yang diraw at di RSCM sampai tahun 2000 juga menderita kandidiasis oral yang disebabkan ole h jamur Candida albicans Anonim (2005) dalam Sulistyawati (2009). (Sulistyawati, D. & Mulyat i, S. 2009. Uji Aktivitas Antijamur Infusa Daun Jambu Mete (Anacard ium occidentale, L.) terhadap Candida albicans.Biomedika.) Candida albicans adal ah spesies jamur yang paling banyak diisolasi dari spesimen urin. berdasarkan da ta yang dimiliki National Nosocomial infections Surveillance (NNIS). Candida alb icans ditemukan sebanyak 21% dari semua isolat urin sedangkan spesies-spesies Ca ndida yang lain hanya terhitung sebanyak 10% dari semua isolat. Menurut peneliti an yang dilakukan oleh kauffman, at al (2000), Candida albicans ditemukan sebesa r 51,8% dari urin pasien dengan kadiduria (terdapatnya Candida sp dalam urin), d

iikuti Candida glabrata sebanyak 15,6% (Kojic, dkk, 2004) (Kojic, dkk. 2004. Can dida Infections of Medical Devices. Texas: Baylor College of Medicine.)

Meningkatnya jumlah penderita kandidiasis ini menyebabkan peningkatan produksi o bat sintetik antifungi sebagai agen pengobatan infeksi jamur semakin di kembangk an secara luas, baik di negara maju maupun negara berkembang. Penggunaan obat-ob at antifungi yang terbuat dari bahan kimia seperti amfoterisin B, nistatin, keto konazol, fukanazol dan griseofulvin sering menimbulkan banyak masalah seperti ad anya efek samping yang serius, resistensi, aturan pakai yang menyulitkan, dan pe rlunya pengawasan dokter, selain itu harganya cukup mahal. Berkaitan dengan masa lah diatas, perlu dicari agen lain yang mempunyai daya antifungi alami yang efek tif dalam penanganan kandidiasis (Katzung, 2001).(Katzung, B.G. 2001. Farmakolog i Dasar dan Klinik Obat Antijamur. Edisi 5.Jakarta: EGC.) Dengan adanya beberapa efek merugikan yang ditimbulkan bila kita mengkonsumsi ob at-obatan kimia, maka akhir-akhir ini semakin banyak alternatif pengobatan mengg unakan bahan alami sebagai antimikroba karena bahan alami ini mempunyai efek sam ping yang rendah (Moeljanto, 2003).(Moeljanto, Rini Damayanti. 2003.Khasiat dan Manfaat Daun Sirih Obat Mujarab dari Masa ke Masa. Jakarta: Agromedia Pustaka.) World Health Organization (WHO) telah menyarankan negara-negara untuk memanfaatk an penggunaan pengobatan tradisional dalam bidang kesehatan. Selain itu pemerint ah Indonesia juga mendukung tanaman obat tradisional sebagai alternatif pengobat an karena negara Indonesia kaya akan tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat sebagai oba t dari segala penyakit, termasuk penyakit yang disebabkan oleh mikroba (Anonim, 2012). (Anonim, 2012. Candida albicans. http://www. emedicine.com /emerg/topic12 8.html (Diakses tanggal ). ) TINJAUAN PUSTAKA Menurut Robbin (2006) sistematika penulisan Candida albicans adalah sebagai beri kut: Kingdom Phylum Subphylum Class Ordo Family Genus Spesies : Fungi : Ascomycota : Saccharomycotina : Saccharomycetes : Saccharomycetales : Saccharomycetaceae : Candida : Candida albicans (Robbin. 2006. Dasar Patologis Penyakit. Jakarta: EGC.) Pada sediaaan apus eksudat, Candida albicans tampak sebagai ragi lonjong, kecil, berdinding tipis, bertunas, gram positif, berukuran 2-3 m x 4-6 m yang memanjang menyerupai hifa (pseudohifa). Candida albicans memperbanyak diri dengan membentu k tunas yang akan terus memanjang membentuk hifa semu (Nugrahara, 2007). (Nugrah a, Ari Widya. 2007. Jamur Candida albicans. Fakultas Farmasi USD Yogyakarta.) Morfologi koloni Candida albicans pada medium padat SDA (Sabouraud Dekstrosa Aga

r), umumnya berbentuk bulat dengan permukaan sedikit cembung, halus, licin dan k adang-kadang sedikit berlipat-lipat terutama pada koloni yang telah tua. Warna k oloni putih krem atau kekuningan dan berbau asam seperti aroma tape (Clontz, 200 9).(Clontz, Lucia. 2009. Microbial Limit and Bioburden Tests. United states of A merika : CRC Press.) MORFOLOGI Musa paradisiaca L. merupakan herba menahun, berumpun dengan akar rimpang, tingg i 3,5-7,5m. daun-daun tersebar, dengan tangkai yang panjangnya mencapai 30-40 cm . Helaian daun berbentuk lanset memanjang, dan mudah koyak, pada bagian bawahb e rlilin. Bunga berkelamin satu dan berumah satu dalam tandan. Tandan bertangkai, dengan daun penumpu yang berjejal rapat dan tersusun spiral, daun pelindung berw arna merah tua, berlilin, dan mudah rontok serta mempunyai panjang 10-25 cm. mas ing-masing ketiaknya terdiri dari banyak bunga yang tersusun dalam dua baris mel intang. Pada bagian ujung tandan yang belum terbuka dan masih menggantung. Bunga betina berada di bawah dan jika ada yang jantan maka bunga jantan berada di ata s. Lima daun tenda melekat sampai tinggi, dengan panjang 6-7 cm, satu lepas dan pendek. Benang sari berjumlah 5, pada bunga betina tidak sempurna. Bakal buah be rbentuk persegi, pada unga jantan tidak ada. Buah berbentuk buah buni dengan ber aneka ragam (Steenis, dkk, 2005) (Steenis, C.G.G.J, 2005, Flora,PT Pradnya Param ita, Jakarta. (Halaman153-154))