Anda di halaman 1dari 16

informed consent merupakan salah satu metode yang umum digunakan oleh dokter untuk mendapatkan persetujuan pasien

atas tindakan medik yang akan dilakukan. Sehingga unsur hak untuk menentukan nasib sendiri yang dimiliki oleh pasien tidak dilanggar Informed consent adalah suatu proses yang menunjukkan komunikasi yang efektif antara dokter dengan pasien, dan bertemunya pemikiran tentang apa yang akan dan apa yang tidak akan dilakukan terhadap pasien.

. Hal ini karena tindakan medis yang akan dilakukan dokter terhadap seorang pasien harus mendasarkan pada dua hak asasi, antara lain ; Hak atas pemeliharaan kesehatan (the right to health care) Hak untuk menentukan nasib sendiri (the right to self determination)

Oleh karena itu setiap tindakan medis yang akan dilakukan oleh dokter terhadap pasien selain harus ditujukan untuk memelihara kesehatan, hal tersebut juga harus dilakukan tanpa unsur pemaksaan terhadap diri pasien

Dalam istilah bahasa Indonesia informed consent diterjemahkan sebagai persetujuan tindakan medik, yang terdiri dari dua suku kata bahasa Inggris, yaitu informed dari kata dasar inform yang bermakna informasi, dan consent berarti persetujuan sehingga secara umum informed consent dapat diartikan sebagai persetujuan yang diberikan oleh seorang pasien kepada dokter atas suatu tindakan medik yang akan dilakukan, setelah mendapatkan informasi yang jelas akan tindakan tersebut

Veronica Komalawati menjelaskan pengertian informed consent sebagai suatu kesepakatan atau persetujuan pasien atas upaya medis yang akan dilakukan dokter terhadap dirinya setelah pasien mendapat informasi dari dokter mengenai upaya medis yang dapat dilakukan untuk menolong dirinya disertai informasi mengenai segala resiko yang mungkin terjadi.

Guwandi mendefinisikan informed consent sebagai suatu izin (consent) atau pernyataan setuju setuju dari pasien yang diberikan dengan bebas dan rasional, sesudah mendapatkan informasi dari dokter dan yang sudah dimengertinya

peraturan Menteri Kesehatan No. 585 tahun 1989 Pasal 1 (a) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan informed consent adalah persetujuan yang berikan oleh pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang dilakukan terhadap tersebut. Bahwa informed consent adalah salah satu hak yang dimiliki pasien dalam pelayanan medis, yaitu hak untuk mendapatkan informasi secara jelas dan hak untuk memberikan persetujuan terhadap tindakan medik yang akan dilakukan terhadap diri pasien

Informed consent dilihat dari aspek hukum bukanlah sebagai perjanjian antara dua pihak, melainkan lebih ke arah persetujuan sepihak atas layanan yang ditawarkan pihak lain Definisi operasionalnya adalah suatu pernyataan sepihak dari orang yang berhak (yaitu pasien, keluarga atau walinya) yang isinya berupa izin atau persetujuan kepada dokter untuk melakukan tindakan medik sesudah orang yang berhak tersebut diberi informasi secukupnya

1. Threshold elements 2. Information elements 3. Consent elements

Elemen ini sebenarnya tidak tepat dianggap sebagai elemen, oleh karena sifatnya lebih ke arah syarat, yaitu pemberi consent haruslah seseorang yang kompeten (cakap) Kompeten disini diartikan sebagai kapasitas untuk membuat keputusan medis Secara hukum seseorang dianggap cakap (kompeten) apabila telah dewasa, sadar dan berada dalam keadaan mental yang tidak di bawah pengampuan

Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, disclosure (pengungkapan) dan understanding (pemahaman). Pengertian berdasarkan pemahaman yang adekuat membawa konsekuensi kepada tenaga medis untuk memberikan informasi (disclosure) sedemikian rupa sehingga pasien dapat mencapai pemahaman yang adekuat.

lemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, voluntariness (kesukarelaan, kebebasan) dan authorization (persetujuan). Kesukarelaan mengharuskan tidak ada tipuan, misrepresentasi ataupun paksaan. Pasien juga harus bebas dari tekanan yang dilakukan tenaga medis yang bersikap seolah-olah akan dibiarkan apabila tidak menyetujui tawarannya.

Doktrin Informed Consent tidak berlaku pada 5 keadaan : 1. Keadaan darurat medis 2. Ancaman terhadap kesehatan masyarakat 3. Pelepasan hak memberikan consent (waiver) 4. Clinical privilege (penggunaan clinical privilege hanya dapat dilakukan pada pasien yang melepaskan haknya memberikan consent. 5. Pasien yang tidak kompeten dalam memberikan consent.

yusufalamromadhon.blogspot.com/2008/01/i nformed-consent