Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA KEDOKTERAN PEMERIKSAAN KALSIUM DARAH BLOK DERMATOMUSKULOSKELETAL

Oleh: Nama NIM Kelompok Asisten : Fitri Yulianti : G1A009093 : XII : Yusi Nurmalisa

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEDOKTERAN PURWOKERTO 2010

LEMBAR PENGESAHAN

PEMERIKSAAN KALSIUM DARAH

Oleh: Fitri Yulianti G1A009093

Disusun untuk memenuhi persyaratan mengikuti ujian praktikum Biokimia Blok Dermatomuskuloskeletal Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

Diterima dan disahkan Purwokerto, November 2010 Asisten,

Yusi Nurmalisa G1A0070067

BAB I PENDAHULUAN A. Judul Praktikum Pemeriksaan kalsium darah dengan metode CPC Fotometric B. Tanggal Praktikum Kamis, 25 November 2010 C. Tujuan Praktikum 1. Mahasiswa akan dapat mengukur kadar kalsium darah dengan metode CPC fotometric 2. Mahasiswa akan dapat menyimpulkan hasil pemeriksaan kadar kalsium darah pada saat praktikum setelah membandingkannya

dengan nilai normal 3. Mahasiswa akan dapat menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi kadar kalsium darah. 4. Mahasiswa akan dapat menyebutkan hormon-hormon yang

mempengaruhi kadar kalsium darah. 5. Mahasiswa akan dapat menjelaskan metabolisme kalsium dalam tubuh. 6. Mahasiswa akan dapat melakukan diagnosa dini penyakit apa saja yang berkaitan dengan kadar kasium darah abnormal dengan bantuan hasil praktikum yang dilakukan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dasar Teori Kalsium adalah salah satu ion yang penting dalam tubuh. Kalsium di dalam tubuh terutama terdapat dalam tulang dan gigi. Sebagian kecil kalsium berupa ion di dalam cairan tubuh, termasuk darah yang penting pengaturan proses penjendalan darah, pengatur fungsi jantung, otot, syaraf, dan permeabilitas membran. Ion kalsium mengatur sejumlah reaksi fisiologis dan biokimiawi yang penting. Proses tersebut diantaranya mencakup eksitabilitas neuromuskuler, koagulasi darah, proses sekresi, integritas membran, serta pengangkutan membran plasma, reaksi enzim, pelepasan hormone serta neurotransmitter dan kerja intrasel sejumlah hormone. Selain itu konsentrasi kalsium dalam periosteum serta cairan ekstrasel diperlukan untuk proses mineralisasi tulang (Asscalbiass, 2010). Tubuh manusia di dalamnya terdapat kurang lebih 1 kg kalsium dan jumlah itu 99 % diantaranya dalam bentuk kristal hidroksiapatit bersama dengan fosfat yang merupakan komponen anorganik dan struktural skeleton. Namun hanya 1% dari kalsium tulang yang dipertukarkan secara bebas. Kalsium plasma terdapat dalam 3 bentuk, yaitu bentuk senyawakompleks dengan asam organik, bentuk terikat protein dan bentuk terionisasi. Bentuk yang terionisasi ini merupakan bentuk biologis aktif. Toleransi terhadap penyimpangan kadar Ca2+ dari kisaran normalnya yaitu 1,1-1,3 mmol/l sangat kecil, sehingga perlu pengendalian yang kaku terutama dilakukan oleh banyak organ (hati, kulit, tulang, usus dan paratiroid), banyak sistem hormon (PTH, kalsitriol serta kalsitonin). Kadar kalsium serum darah berbanding terbalik dan memiliki hasil kali yang tetap

dengan kadar fosfor serum. Dalam keadaan normal hasil kalinya adalah 40, pada anak yangs edang tumbuh 50, sedang pada penderita rakhitis kurang dari 30. Keadaan dimana kadar kalsium lebih dari normal disebut hiperkalsemia dan dapat menyebabkan pengapuran-pengapuran di tempat yang tidak semestinya. Sebaliknyam hipokalsemi dapat terjadi pada keadaan hipoparatiroidisme yang akan memberikan gejala tetani (Asscalbiass, 2010). Apabila makanan yanag dimakan tidak dapat memenuhi kebutuhan, maka tubuh akan mengambilnya dari tulang. Sehingga tulang dapat dikatakan sebagai cadangan kalsium tubuh. Jika hal ini terjadi dalam waktu yang lama, maka tulang akan mengalami pengeroposan tulang. Kalsium sangat penting karena mempunyai fungsi sebagai berikut (Keviena, 2010): 1. 2. Diperlukan untuk pemeliharaan permeabilitas natrium normal di saraf. Terlibat dalam memicu pelepasan asetilkolin dari ujung saraf pada sambungan otot saraf. 3. 4. 5. 6. Terlibat dalam eksitasi kontraksi dalam sel otot. Sebagai sinyal intraseluler untuk beberapa hormon. Diperlukan beberapa enzim untuk aktivitas normal. Sekresi protein.

A. Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar kalsium Meningkatnya kadar kalsium dapat disebabkan oleh peningkatan absorbsinya. Faktor-faktor yang meningkatkan absorpsi kalsium (Anonym, 2010): 1. Tingkat kebutuhan tubuh terhadap kalsium.

Peningkatan kebutuhan terjadi pada pertumbuhan, masa kehamilan, menyusui, defisiensi kalsium. 2. Vitamin D. Vitamin D merangsang absorpsi kalsium melalui langkah-langkah kompleks. Vitamin D meningkatkan absorpsi pada mukosa usus dengan cara merangsang produksi protein-pengikat kalsium 3. Asam klorida. Asam Klorida yang dikeluarkan oleh lambung membantu absorpsi kalsium dengan cara menurunkan pH di bagian atas usus halus. 4. Makanan yang mengandung lemak. Lemak meningkatkan waktu transit makanan melalui saluran cerna, dengan demikian memberikan waktu lebih banyak untuk absorpsi kalsium. Sedangkan pada penurunan kadar kalsium, dapat disebabkan oleh penurunan atau adanya faktor-faktor yang menghambat absorbs maupun peningkatan proses eksresinya. Faktor-faktor yang menghambat absorbsi kalsium : 1. 2. 3. Kekurangan vitamin D bentuk aktif Makanan yang mengandung asam oksalat seperti bayam dan sayuran lain Makanan tinggi serat karena mempercepat waktu transit makanan di dalam saluran cerna. 4. Pengendalian Kalsium dalam darah

5.

Pengaturan kadar kalsium dalam darah adalah hormon Paratiroid, tirokalsitonin dari kelenjar tiroid dan vitamin D. Hormon paratiroid dan vitamin D meningkatkan kalsium darah dengan cara sebagai berikut :

6. 7.

Vitamin D merangsang absorpsi kalsium oleh saluran cerna Vitamin D dan hormon paratiroid merangsang pelepasan kalsium dari tulang ke dalam darah.

8.

Vitamin D dan hormon paratiroid menunjang reabsorpsi kalsium di dalam ginjal.

B. Hormon yang Berperan dalam Metabolisme Kalsium Terdapat tiga hormon yang berperan penting dalam pengaturan metabolisme kalsium, yaitu (Keviena, 2010): 1. 1,25-Dihidroksikolekalsiferol 1,25-Dihidroksikolekalsiferol merupakan hormon steroid yang dibentuk dari vitamin D. Reseptor 1,25-dihidrokolekalsiferol ditemukan di banyak jaringan selain usus, ginjal, dan tulang. Jaringan tersebut di antaranya adalah kulit, limfosit, monosit, otot rangka dan jantung, payudara, dan kelenjar hipofisis anterior. Berguna untuk meningkatkan penyerapan kalsium dari usus dan meningkatkan responsifitas tulang terhadap hormon paratiroid. Sintesis dan sekresi 1,25-Dihidroksikolekalsiferol dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor hormonal dan faktor mineral. Faktor hormonalnya antara lain : a. b. Peningkatan kadar PTH GH yang meningkat pada masa pertumbuhan

c. d.

Peningkatan kadar prolaktin dan estrogen selama masa kehamilan Sedangkan faktor mineralnya adalah hipokalsemia (kekurangan kalsium).

2.

Hormon Paratiroid (PTH) PTH termasuk hormone peptide. Berguna untuk merangsang aktivitas osteoklas, pembentukan osteoklas, menghambat aktivitas osteoblas, serta meningkatkan konsentrasi kalsium plasma. PTH bekerja langsung pada tulang untuk meningkatkan resorpsi tulang. Pengatur utama sekresi PTH adalah konsentrasi kalsium bebas dalam plasma. Jika konsentrasi klasium plasma turun, maka sekresi PTH naik atau sebaliknya.

3.

Kalsitosin Kalsitosin termasuk hormone polipeptida yang biasa bekerja pada tulang dan hanya memiliki efek kecil pada ginjal dan usus. Kalsitonin ini tidak esensial mempertahankan homeostasis kalsium, sehingga tidak pernah ditemukan kelainan karena kekurangan atau kelebihan kalsitonin. Kalsitosin bekerja menurunkan kadar kalsium plasma dalam tulang dengan cara sebagai berikut : a. Menurunkan perpindahan kalsium dari cairan tulang ke dalam plasma (efek jangka pendek) b. Menurunkan resorpsi tulang dengan menghambat aktivitas osteoklas (efek jangka panjang) c. Menghambat absorpsi kalsium di usus halus

Pengatur utama sekresi kalsitosin adalah kadar kalsium bebas dalam plasma. Jika kalsium bebas dalam plasma meningkat, maka sekresi kalsitosin juga akan meningkat. Namun jika kalsium bebas dalam plasma menurun, maka sekresi kalsitosin juga akan menurun. Sekresi kalsitonin lebih tinggi terjadi pada individu muda, ibu hamil, serta ibu menyusui. Pada individu muda, kalsitonin berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan tulang rangka. Pada ibu hamil dan menyusui, kalsitonin berfungsi untuk melindungi tulang maternal dari proses resorbsi yang berlebihan untuk penyediaan kalsium bagi pertumbuhan janin. C. Metabolisme kalsium Kalsium plasma dalam tubuh manusia sebagian besar ada yang berdifusi, antara lain terionisasi menjadi Ca2+ atau berkompleks dengan HCO3-, sitrat, dan lain-lain. Sedangkan sisanya yang tidak berdifusi berikatan dengan protein albumin dan globulin. Metabolisme kalsium dalam tulang terdiri atas dua tipe (Keviena, 2010): 1. Cadangan pertukaran cepat terjadi pada pertukaran antara tulang dan CES dan penyesuaian ekskresi kalsium melalui urine. 2. Cadangan pertukaran lambat terjadi pada penyesuaian penyerapan kalsium di usus dan penyesuaian ekskresi kalsium melalui urine. Penyerapan berlangsung lebih stabil. Terdapat dua sistem homeostatik yang independen, namun berinteraksi dalam mempengaruhi kalsium tulang, yaitu: 1. Sistem pengaturan Ca2+ plasma Bergerak keluar masuk pada cadangan yang pertukarannnya cepat.

2.

Sistem pada remodelling tulang Remodelling tulang meliput deposisi tulang (pembentukan dan pengendapan) serta resorbsi tulang (pembuangan) yang berlangsung secara terus-menerus. Sejumlah besar kalsium disaring di ginjal dan sebagian besar

diserap kembali di tubulus proksimal, distal, dan lengkung henle. Setelah diserap di saluran cerna, Ca2+ dibawa keluar usus oleh suatu sistem dalam brush border sel epitel yang diaatur oleh 1,25-

dihidrokolekalsiferol. Jika asupan Ca2+ tinggi, maka Ca2+ plasma meningkat, dan kadar 1,25-dihidrokalsiferol meenurun. Penyerapan Ca2+ mengalami adaptasi berupa peningkatan, jika asupan kalsium rendah dan penurunan jika asupan kalsium tinggi. Penyerapan kalsium juga menurun oleh zat-zat yang membentuk garam tidak larut dengan Ca2+ atau oleh alkali, sedangkan peningkatan penyerapan dapat dilakukan dengan diet tinggi protein pada orang dewasa. Absorbsi kalsium sebagian besar terjadi di duodenum dan jejunum bagian proksimal karena keadaannya lebih bersifat asam daripada bagian usus yang lainnya. Absorbsi kalsium dari lumen usus melibatkan 3 proses, yaitu transfer melalui membran mikrovili dari selsel mukosa, transfer melalui sel dan keluar dari sel melewati membran basolateral ke dalam cairan ekstraseluler dan dalam darah. Absorbsi kalsium di usus halus dikerjakan dengan 2 mekanisme, yaitu dengan transpor aktif dan transpor pasif. Mekanisme transpor aktif diatur oleh

1,25 - Dehidroxycholecalcferol (1,25-(OH)2D), suatu bentuk vitamin D paling aktif yang diproduksi dalam ginjal. Transpor aktif diatur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan kalsium tubuh yang meningkat, misalnya pada periode pertumbuhan, kehamilan, laktasi, atau pada saat diet rendah kalsium. Dehidroxycholecalciferol (1,25-(OH)2D) menyebabkan

terbentuknya protein pengikat kalsium di sel-sel epitel usus. Protein tersebut berfungsi untuk mengangkut kalsium ke dalam sitoplasma sel, selanjutnya kalsium bergerak melewati membran basolateral dengan cara difusi terfasilitasi. Protein pengikat kalsium tetap di dalam sel plasma beberapa minggu sesudah 1,25-(OH)2D) dikeluarkan dari tubuh sehingga memperpanjang waktu absorbsi kalsium. Absorbsi kalsium dalam saluran pencernaan biasanya berkisar antara 30-80% kalsium dari total asupan kalsium. Pada awal pertumbuhan 50-70% kalsium yang dicerna diabsorbsi, tetapi pada individu dewasa hanya berkisar 10-40%. Absorbsi kalsium oleh usus akan meningkat apabila kadar kalsium di usus meningkat. Kadar protein yang tinggi cenderung mengurangi kalsium dalam urin, tetapi tidak mempengaruhi absorbsinya. Unsur fosfor berperan dalam keseimbangan kadar kalsium dalam darah maupun laju penyimpanan kalsium dalam usus. Pakan dengan fosfor berlebihan akan menurunkan absorbsi kalsium. Keadaan ini akan menyebabkan terjadinya osteoporosis. Fosfat diabsorpsi dalam jejunum bagian tengah dan masuk aliran darah melalui sirkulasi portal. Pengaturan absorpsi fosfat diatur oleh 1 ,

25dihidroksikolekalsiferol (1,25-dihidroksivitamin D ). Fosfat ikut dalam pengaturan derivat aktif vitamin D. Vitamin D diabsorbsi dengan bantuan empedu, vitamin D kemudian ditranspor ke hati dan tulang, kemudian dirubah menjadi 25 hidroksikolekalsiferol. Komponen ini dirubah di ginjal menjadi bentuk fisiologis aktif 1,25 hidroksikolekalsiferol (1,25 DHCC). 1,25 DHCC kemudian ditransportasikan ke mukosa sel intestinal, tulang, dan otot skelet di mana dia disusun untuk mengatur absorbsi dan metabolisme kalsium. Kolekalsiferol ditrasportasikan ke hati untuk dihiroksilasi menjadi kalsidiol (25-hidroksi vitamin D). Kalsitriol (1,25 dehiroksi vitamin D3) yang merupakan bentuk vitamin D yang paling aktif, disentesis dari kalsidiol di ginjal. Kekurangan vitamin D berhubungan dengan peningkatan PTH.

BAB III METODE PRAKTIKUM A. Alat dan Bahan 1. Alat a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. Spuit 3 cc Tourniquet Plakon Vacuum Med Sentrifugator Rak tabung reaksi Mikropipet (10l-100 l) Mikropipet (100l-1000 l) Yellow tip Blue tip Kuvet Spektrofotometer

2. Bahan a. b. c. d. Sampel( serum ) Working Reagen ( R. kalsium + buffer ) Alcohol Kapas

B. Tata Urutan Kerja 1. Persiapan sampel a. Diambil darah probandus sebanyak 3 cc dengan menggunakan spuit.

b.

Darah dimasukkan ke dalam tabung vacuumed dengan tutup merah ( tanpa EDTA ) dan diikubasi terlebih dahulu selama 10 menit.

c.

Disentrifugasi dengan kecepatan 4000 rpm selama 10 menit, kemudian diambil serumnya untuk sampel.

2.

Sampel (serum) sebanyak 20 l kemudian dicampur dengan working reagen sebanyak 1000 l.

3.

Campuran diinkubasi selama 5 menit dalam suhu ruangan (20-25 C), kemudian diukur pada spektrofotometer.

C. Nilai Normal 8,5- 10,5 mg/dl

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Praktikum 1. Identitas Probandus Nama : Aisyah Nur Aini Umur : 19 tahun Jenis kelamin 2. 3. : Perempuan

Hasil pengamatan : 10,1 mg/dl Interpretasi hasil Kadar kolesterol darah : normal

B. Pembahasan Berdasarkan praktikum pemeriksaan kalsium darah yang telah dilakukan pada probandus oleh praktikan dengan menggunakan metode optimasi UV test, didapatkan hasil kadar kalsium darah probandus adalah 10,1 mg/dL. Hal ini berarti bahwa kadar kalsium dalam darah probandus normal. Hasil praktikum yang menunjukkan bahwa kadar kalsium darah probandus dinyatakan normal, belum tentu merupakan hasil yang sangat valid. Hal ini dikarenakan kemungkikan kesalahan pada berbagai faktor, salah satunya faktor praktikan. Kesalahan yang mungkin terjadi diantaranya : 1. Kurang telitinya praktikan dalam menakar bahan-bahan Kekuranglihaian dalam menggunakan mikropipet dapat menyebabkan ketidaksesuaian perbandingan sampel dan working reagen. Oleh karena

itu, ketidaksesuaian perbandingan dapat menyebabkan nilainya menjadi lebih tinggi ataupun lebih rendah. 2. Ketidaktelitian dalam pemakaian alat Hal ini terlihat dalam penggunaan yellow tip dan blue tip untuk mengambil sampel. Kedua bahan yang digunakan tersebut harus dalam keadaan baru, tidak boleh bekas karena hasilnya dapat menyebabkan ketidakvalidan pada pembacaan spektrofotometer. C. Aplikasi klinis Hipoparatiroidisme Hipoparatiroidisme adalah kondisi dimana tubuh tidak membuat cukup hormon paratiroid atau parathyroid hormone (PTH). Hormon ini

mengatur jumlah kalsium dan phosphorus dalam tulang-tulang dan darah tubuh. Tingkat-tingkat PTH yang berkurang menjurus pada tingkat-tingkat kalsium yang rendah dan tingkat-tingkat phosphorus yang tinggi dalam darah. Ketidakseimbangan ini dapat menjurus pada persoalan-persoalan dengan tulang, otot-otot, kulit, dan ujung-ujung syaraf (Anonim, 2008). Dahulu, penyebab tersering defisiensi sekresi HPT, atau

hipoparatiroidisme, adalah pengangkatan secara tidak sengaja kelenjar paratiroid (sebelum keberadaannya diketahui) sewaktu pengangkatan kelenjar tiroid secara bedah (untuk terapi penyakit tiroid). Jika semua jaringa paratiroid diangkat, para pasien tentu saja meninggal karena HPT sesensial untuk hidup. Hipoparatiroidisme menyebabkan hipokalsemia dan

hiperfosfatemia. Gejala-gejala terutama disebabkan oleh peningkatan eksitabilitas saraf otot akibat turunnya kadar Ca 2+ bebas dalam plasma. Jika

hormone paratiroid sama sekali tidak ada, kematian segera dapat terjadi karena spase hipokalsemik otot-otot pernapasan. Pada defisiensi relative HPT (bukan ketiadaan total, gejala-gejala yang nyata adalah peningkatan eksitabilitas dan neuromuskulus. Kejang dan kedutan otot disebabkan oleh aktivitas spontan saraf-saraf motorik, sedangkan rasa kesemutan dan seperti ditusuk-tusuk terjadi karena aktivitas spontan saraf sensorik. Perubahan mental antara lain berupa iritabilitas dan paranoia (Sherwood, 2001).

BAB V KESIMPULAN

1.

Setelah

melakukan

praktikum,

pembacaan

pada

spektrofotometer

menunjukkan bahwa kadar kalsium darah probandus adalah 10,1 mg/dl. 2. Setelah membandingkannya dengan nilai normal (8,1 10,5 mg/dl), kadar kalsium darah probandus dinyatakan normal. 3. Hormon yang berperan pada metabolisme kalsium yaitu : a. 1,25-Dihidroksikolekalsiferol b. Hormon paratiroid c. Kalsitonin 4. Metabolisme kalsium di dalam tubuh dilakukan melalui mekanisme sedemikian rupa yang dilakukan oleh banyak organ dan banyak hormon sehingga kadar kalsium dalam darah dipertahankan dalam kadar normal. 5. Aplikasi klinis yang berkaitan dengan kadar kalsium darah adalah penyakit hipoparatiroidisme.

DAFTAR PUSTAKA Anonym. 2008. Hipoparatiroidisme. Diakses pada di 25

http://www.totalkesehatananda.com/hipoparatiroid.html November 2010.

Anonym.

2010.

Tulang

dan

Kalsium.

Diakses

di

http://medicastore.com/nutracare/isi_calcium.php?isi_calcium=tulang_calc ium pada 27 November 2010. Asscalbiass. 2010. Buku Panduan Praktikum Biokimia Kedokteran Blok Dermato Muskulo Skeletal. Purwokerto : Laboratorium Biokimia FK Unsoed. Keviena, Almira. 2010. Fisiologi tulang. Diakses di

http://www.scribd.com/doc/31062275/Fisiologi-Tulang pada 27 November 2010. Sheerwood, Lauralee. 2001. Organ Endokrin Perifer. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta : EGC.

Mansoer Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran edisi 3. Jakarta Media Aesculapius. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dorland, W.A. Newman. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta : EGC. 2002; 879. Guyton dan Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 10. Jakarta: EGC.

Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. Patofisiologi : Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Jakarta : EGC. Murray, Robert K., Daryl K. Granner and Victor W. Rodwell. 2003. Biokimia Harper Edisi 25. Jakarta : EGC. Murray, Robert K., Daryl K. Granner, dan Victor W. Rodwell. 2009. Biokimia Harper Edisi 27. Jakarta: EGC.