Anda di halaman 1dari 6

Waktu 1 2 3 4 5 6 10 menit 10 menit 10 menit 10 menit 10 menit 10 menit

Keceptana Angin Km/jam m/s 1,9 0,5278 1,5 0,4167 4,6 1,2278 2,8 0,7778 2 0,5556 5,6 1,5556

Daya ( P) 2,0143 x 10-3 9,9127 x 10-4 2,8583 x 10-2 6,4464 x 10-3 2,34967 x 10-3 5,1572 x 10-2

Energi ( E ) 0,08822 0,0434 1,2518 0,28233 0,1029 2,25863

B. Perhitungan Diket : A = 1 m2 Q = 1,2 kg/m3 K = 1,37 x 10-5 1. m = A x v x q = 1 x 0,5278 x 1,2 = 0,63336 kg P=KxAxv = 1,37 x 10-5 x 1 x ( 0,5278 )3 = 2,0143 x 10-3 watt E = 0,5 m x v2 = 0,5 x 0,63336 x (0,5278)2 = 0,0882 2. m = A x v x q = 1 x 0,4167 x 1,2 = 0,50004 kg P=KxAxv = 1,37 x 10-5 x 1 x ( 0,4167 )3 = 9,9127 x 10-4 watt E = 0,5 m x v2 = 0,5 x 0,50004 x (0,4167)2 = 0,0434 3. m = A x v x q = 1 x 1,2778 x 1,2 = 1,53336 kg P=KxAxv = 1,37 x 10-5 x 1 x ( 1,2778 )3 = 2,8583 x 10-2 watt E = 0,5 m x v2 = 0,5 x 1,53336 x (1,2778)2 = 1,2518

4. m = A x v x q = 1 x 0,7778 x 1,2 = 0,93336 kg P=KxAxv = 1,37 x 10-5 x 1 x ( 0,7778 )3 = 6,4465 x 10-3 watt E = 0,5 m x v2 = 0,5 x 0,93336 x (0,7778)2 = 0,28233 5. m = A x v x q = 1 x 0,5556 x 1,2 = 0,66672 kg P=KxAxv = 1,37 x 10-5 x 1 x ( 0,5556 )3 = 2,34967 x 10-3 watt E = 0,5 m x v2 = 0,5 x 0,66672 x (0,5556)2 = 0,1029 6. m = A x v x q = 1 x 1,5556 x 1,2 = 1,86672 kg P=KxAxv = 1,37 x 10-5 x 1 x ( 1,5556 )3 = 2,0143 x 10-3 watt E = 0,5 m x v2 = 0,5 x 1,86672 x (1,5556)2 = 2,25863

Gambar 1. Anemometer

Keseluruhan potensi energi angin di Indonesia rata-rata tidak besar, tetapi berdasarkan survei dan pengukuran data angin yang telah dilakukan sejak 1979, banyak daerah yang prospektif karena memiliki kecepatan angin rata-rata tahunan sebesar 3.4-4.5 m/detik atau mempunyai energi antara 200 kWh/m sampai 1000 kWh/m. Potensi ini sudah dapat dimanfaatkan untuk pembangkit energi listrik skala kecil sampai 10 kW Lokasi yang diinginkan dalam penempatan turbin angin adalah pada daerah yang memiliki kecepatan angin yang relatif konstan, arahnya tak berubahubah dan sedikit kemungkinan kecepatan angin yang sangat besar. Ditinjau dari letaknya pemanfaatan energi angin dibedakan menjadi tiga, onshore, offshore dan nearshore. Instalasi turbin onshore didefinisikan pada jarak 3 km atau lebih dari garis pantai dan umumnya instalasi dilakukan di daerah berbukit untuk mendapatkan percepatan topografis. Akan tetapi penentuan lokasi tepatnya harus dilakukan secara hati-hati karena dapat menyebabkan perbedaan kecepatan angin yang signifikan. Instalasi turbin nearshore umumnya didefinisikan di wilayah pantai dari 3 km di daratan ke 10 km pada laut dari garis pantai. Pemanfaatan pada lokasi ini dengan tahanan geseknya yang lebih rendah dibandingkan di daratan. Selain itu, keberadaan turbin-turbin relatif tidak mengganggu dibandingkan dengan mengutamakan keuntungan dari adanya angin darat dan angin laut sehubungan dengan perbedaan suhu laut dan darat. Instalasi dilakukan di laut lebih dari 10 km dari pantai maka disebut sebagai intalasi turbin offshore. Keuntungan dari pemasangan ini disebabkan oleh kecepatan angin yang relatif lebih tinggi sehubungan pemasangan di daratan. Akan tetapi, pemasangan di laut tentu akan memiliki kekurangan yakni membutuhkan transmisi yang lebih kompleks sehubungan dengan jarak dan harus melalui lautan. Turbin-turbin ini diinstalasi dalam jumlah yang besar maka instalasi ini sering disebut sebagai ladang angin (wind farm). Pada ladang angin perlu diperhatikan "efek wind park" yakni turbin-turbin ini cenderung menghalangi

turbin yang lain. Umumnya digunakan jarak antar turbin 3 - 5 kali diameter turbin pada instalasinya Energi angin dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi menggunakan kincir angin. Energi mekanik yang dihasilkan oleh kincir angin dapat dimanfaatkan secara langsung atau dikonversi menjadi energi

listrik. Animasi menunjukkan pemanfaatan energi mekanik secara langsung terjadi sebagai berikut: Angin yang bergerak mengenai sayap kincir menyebabkan kincir berputar. Perputaran kincir tersebut menyebabkan terbentuknya energi mekanik, yang kemudian dapat menggerakan pompa sehingga air naik ke atas dan di tampung ke dalam tangki. Konversi energi angin menjadi energi listrik (ilustrasi ) adalah sebagai berikut: Angin yang melalui sudu-sudu kincir menyebabkan kincir berputar. Putaran kincir menyebabkan generator ikut berputar. Di dalam generator energi angin diubah menjadi energi listrik. Untuk pembangkit tenaga listrik skala kecil, karena kecepatan angin senantiasa berubah-ubah, maka perlu adanya pengatur tegangan. Disamping itu perlu baterai untuk menyimpan energi, karena seiring terdapat kemungkinan dimana angin tidak bertiup. Bila angin tidak

bertiup, generator tidak berfungsi sebagai motor, sehingga perlu sebuah pemutus otomatik untuk mencegah generator bekerja sebagai motor. Perlu menjadi catatan bahwa apabila energi mekanik yang dihasilkan maka pada umumnya turbin angin disebut sebagai kincir angin, akan tetapi bila dikonversi menjadi listrik maka disebut sebagai turbin angin. Energi angin pada pertanian umumnya dapat dimanfaatkan sebagai penggerak pompa-pompa air untuk irigasi atau air minum ternak, menggiling padi untuk mendapatkan beras menggergaji kayu atau dikonversi menjadi energi listrik skala kecil. Pembangkit daya bertenaga angin tidak menimbulkan polusi dan dapat dikonstruksi secara fleksibel serta tidak membutuhkan lahan yang luas. Energi angin juga merupakan sumber energi terbarukan yang berarti tidak dapat habis seperti bahan bakar fosil. Energi angin yang tersedia di atmosfer lima kali lebih besar daripada konsumsi energi dunia saat ini. Potensi energi angin di darat dan dekat pantai sekitar 72 TW (tera watt) yang melebihi lima kali lebih banyak dari penggunaan energi dunia saat ini dalam segala bentuk.

Keuntungan lain dari tenaga angin adalah fakta bahwa setiap orang bisa membangun atau membeli turbin angin untuk memanfaatkan energi angin dan memenuhi kebutuhan energi di rumah sendiri. Turbin angin tidak perlu banyak perawatan dan seseorang tidak perlu menjadi jenius untuk meng-handlenya. Tentu saja memiliki turbin angin sendiri juga berarti menghindari terjadinya pemadaman listrik bila terjadi kerusakan jaring PLN. Juga, listrik tenaga angin akan menjadi lebih hemat biaya seiring dengan adanya banyak penelitian yang dilakukan untuk memotong biaya instalasi, meningkatkan efisiensi dan untuk menjaga kualitas. Kekurangan energi angin, hal pertama yang harus disebutkan adalah ketersediaan angin. Di beberapa tempat angin kencang sering ditemui yang membuat pemanfaatan energi angin menjadi sangat mudah, sementara di beberapa tempat angin tidak cukup kuat untuk menciptakan listrik yang memadai. Biaya instalasi tenaga angin yang masih relatif tinggi merupakan kelemahan lain dari energi angin. Secara kasar, dibutuhkan sekitar 10 tahun untuk mengembalikan biaya instalasi energi angin. Memang, ini bukan waktu yang sangat panjang, namun biaya instalasinya yang besar masih menjadi penghalang masyarakat di Indonesia yang mulai memanfaatkan energi angin Kelemahan lainnya dari tenaga angin adalah bangunan pembangkit listrik tenaga angin dapat mempengaruhi estetika lanskap. Fasilitas listrik tenaga angin juga perlu direncanakan dengan hati-hati, lokasi dan pengoperasiannya harus meminimalkan dampak negatif pada populasi burung dan satwa liar. Praktikum Pengukuran energi angin yang kemarin dilakukan diperoleh hasil yang berbeda beda hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh faktor cuaca, saat praktiku menjelang siang keadaan lpangan mulai gerimis sehingga hasil yang diperoleh tinggi yaitu: energi kinetik sebesar 2,25863 dan daya sebesar 5,5556 x 10-2 watt. Hasil terendah pada hitungan ke 50 menit karena pada saat itu awan cerah sehinnga angin yang berada di lapangan relatih lebih rendah yaitu: Jumlah energi yang dihasilkan sebesar 0,0434 dan jumlah dayang yang dihasilkan sebesar 9,9127 x 10-4. Jadi dapat di simpulkan bahwa faktor cuaca, iklim, serta letak geografis sangat mempengaruhi kecepatan angin dan jumlah angin.

Gambar 1. Hubungan keluaran energi terhadap waktu