“So, Malvin, is she a Lesbian?” “Oh.. Umm..

Well, I am not really sure, she is not a heterosexual, but I think she doesn’t want to be called lesbian, she calls herself a queer.” “Queer? What is that?” “Well, I’m not really sure, but all I know is she doesn’t want to be called lesbian, and she has this manly partner, if you know what I mean, like a manly woman, I don’t know, I have never asked her directly.”

Dialog di atas terjadi sekitar pertengahan tahun 2011 antara saya dan Malvin. Dialog tersebut terjadi di atas KRL menuju Bogor, dan lewat dialog itulah saya mengenal konsep queer untuk pertama kalinya. Malvin (nama samaran) adalah teman saya, seorang mahasiswa pascasarjana dari Swiss yang dibimbing oleh Leia (nama samaran). Leia adalah seorang akademisi yang juga aktif menyuarakan suara kaum queer. Saya mengenalnya dalam sebuah pertemuan kunjungan di Universitas Indonesia. Sebelumnya saya tidak pernah menganggap konsep queer sebagai sebuah konsep yang perlu saya dalami maknanya. Dahulu, setelah dialog di atas kereta dengan Malvin, saya menerjemahkan queer sebagai sebuah domain seksualitas yang maknanya serupa dengan homoseksualitas. Tanpa keskeptisan yang cukup—karena ketika itu belum ada ketertarikan pada isu seksualitas—saya pun memegang definisi tersebut selama beberapa bulan hingga September 2011, ketika saya berkesempatan menghadiri festival film yang diadakan oleh Leia. Festival film tersebut ia adakan di sebuah gedung sinema tertua di Berlin. Festival film ini hanya memutar film yang diproduksi oleh filmmaker dari Asia. Selain memutar film eksperimental Asia, festival ini juga memutar film-film yang bertemakan queer, baik film panjang maupun film pendek. Pada festival tersebut bahkan diadakan sebuah pemutaran eksklusif selama 90 menit yang bertemakan “Q! Shorts”, yaitu pemutaran film-film pendek bertemakan queer yang berasal dari berbagai Negara Asia. Pada festival tersebut saya berkesempatan menonton beberapa film yang bertemakan queer di Asia. Film panjang yang diputar di festival tersebut adalah “ Insect in the Backyard” dan “Madame X.” Kedua film tersebut saya tonton sebelum saya menonton rangkaian film pendek yang tergabung dalam sesi pemutaran “Q! Shorts.” “Insect in the Backyard” adalah sebuah film Thailand yang bercerita mengenai seorang ayah yang setelah bercerai dengan istrinya memutuskan untuk menjadi seorang transgender. Setelah menjadi transgender, ia menolak untuk dipanggil “ayah” oleh kedua anaknya, ia meminta kedua anaknya untuk memanggilnya sebagai “Kakak (Big Sister) Tania.” Tania pada suatu hari bercumbu dengan teman dari anak laki-lakinya, dan ia bertindak sebagai subyek yang dipenetrasi. Film berikutnya yaitu “MadameX,” bercerita tentang seorang transgender di Indonesia yang dianiaya dan kemudian terdampar menjadi seorang penari lenggok. Lewat tari lenggok ia kemudian memasuki tahap yang lebih tinggi ketika ia memahami bagaimana gerakan pada tari lenggok dapat dijadikan sebagai gerakan bela diri. Kemampuan tersebut kemudian ia gunakan untuk membalas dendam kepada para kaum agamawan fundamental yang kerap kali menganiaya para transgender yang bahkan sempat menyebabkan sahabat transgender Madame-X (Pemeran utama, pahlawan super transgender) meninggal dunia. Setelah menonton kedua film tersebut saya mulai menggeser pemahaman saya akan queer. Saya mulai mendefinisikan konsep queer sebagai konsep yang mewakili para transgender. Hal ini diperkuat dengan sebuah foto dalam guidebook festival film tersebut, sebuah foto dari seorang transgender Asia yang sedang duduk sambil merokok dan dilabeli dengan term “Queer Asia ” secara tipografi. Berkaitan dengan Leia, saya pun berhasil menemukan pembenaran mengapa ia meminta dipanggil sebagai queer, karena ia memiliki pasangan yang secara biologis perempuan, tetapi secara kultural berperilaku, berpenampilan, berpakaian, dan diterima sebagai laki-laki, transgender.

Sinnott mengkontekstualisasi pemahamannya akan queer dengan era post-modern yang penuh destabilisasi dan perlawanan terhadap hegemoni diskursus gender dan seksualitas yang sangat heteronormative. dan urgensinya dapat saja politis. dan dianggap natural [Martin. will to liberate the excluded to become the included). sindhunata.com. 2008: 131-132]. (Sindhunata. Pada kelas Antropologi Gender dan Seksualitas. karena hal tersebut hanya akan membawa saya pada pemahaman pragmatis mengenai queer sebagai sebuah kategori identitas gender dan seksualitas. lesbian. “Song of the Silent Heroes”. hingga bagaimana sebuah mimpi erotis yang tidak diharapkan dapat menggoncang identitas seksual seorang anak muda.Pemahaman tersebut hanya bertahan dua hari. saya pun membuang pandangan bahwa queer adalah bentuk resistensi. direproduksi.hargyono@gmail. Dua hari setelah menonton kedua film panjang mengenai transgender Asia tersebut. sedangkan “The Flower Bud” yang juga dibuat oleh seorang India bercerita mengenai kisah pelacur transgender dan seorang klien yang sebenarnya berniat berhubungan seksual dengan pelacur wanita. dari hubungan yang termanifestasi jelas dalam sebuah tindakan afeksional antar lesbian. Ketiga film tersebut kurang lebih bertemakan homoseksualitas. sebuah diskursus bahasa baru pun diperlukan. Lebur karena relativisme dan upayanya menangkap proses kultural dari pembentukan norma gender dan seksualitas. dalam karena tidak mereduksi realita gender dan seksualitas dalam term-term precise. Menurut Sinnott. Ketimbang memahami konsep queer sebagai sebuah kategori—seperti yang terus saya lakukan sebelumnya—Sinnott memahami q u e e r sebagai sebuah teori. ketimbang dipahami sebagai resistensi absolut yang berusaha meliberasi kaum tertentu (subject-centered. dan sejenisnya sudah terlanjur mendapat stigma buruk dalam masyarakat. dan Singapura. reaction paper kelas Antropologi . Queer bukanlah semata-mata mengacu pada kategori hubungan seksual yang melibatkan transgender di dalamnya. saya kemudian dipertemukan dengan pemikiran akademis dari Sinnott mengenai konsep queer. queer adalah sebuah kategori besar yang mencakup gender dan seksualitas di luar heteroseksual dan dua gender a la Victorian. ketika perlawanan tersebut dipahami sebagai resistensi. maka kita akan terlalu berfokus kepada pembebasan subyek partikular ketimbang menormalisasi ide queer dalam norma yang eksis. “The Clown and The Bride”. Perlawanan terhadap heteronormative tersebut. Konsep queer pun menurut hemat Sinnott lebih baik dipahami sebagai sebuah pendekatan analitis yang dapat menangkap proses kultural dari bagaimana norma-norma gender dan seksualitas dikonstruksi. Pendeknya.” Pada sesi tersebut diputar tujuh film pendek yang dibuat oleh filmmaker Indonesia. konflik antara seorang gay dan wanita normal yang sama-sama mencintai seorang lelaki gay yang hendak menikah dengan wanita normal karena tuntutan kultural. Malvin menyebutkan bahwa untuknya queer adalah bentuk lebih tinggi dari homoseksualitas dalam struktur bahasa. dan “Boy Crush” dibuat oleh filmmaker Indonesia. Pada kunjungannya yang kedua ke Indonesia di bulan Januari. ketimbang berupaya keras menghancurkan stigma tersebut. konsep queer pun muncul dan dipropagandakan oleh aktivis akademisi gender dan seksualitas dalam upayanya menormalisasi apa yang dianggap tidak normal oleh masyarakat. Term seperti homoseksual. sehingga queer dianggap lebih sopan ketimbang homoseksualitas. categorical. Terakhir. India. gay. Memahami queer sebagaimana Sinnott memahaminya—sebagai pendekatan yang menangkap proses—membuat konsep queer menjadi sangat lebur tetapi dalam. atau dengan kata lain sebuah pendekatan analitis. dipahami Sinnott sebagai bentuk reframing dan reartikulasi norma dalam masyarakat. “In the Closet” dan “Amen” yang dibuat oleh filmmaker India secara jelas menceritakan sebuah hubungan homoseksual antara dua orang laki-laki. saya kemudian menonton film-film pendek yang tergabung dalam rangkaian “Q! Shorts. jika hegemoni Victorian dianggap sebagai sebuah tatanan. Kurang lebih seperti itulah pemahaman terakhir saya mengenai konsep queer sebelum akhirnya terdampar di kelas Antropologi Gender dan Seksualitas. sebuah pemberontakan terhadap obsesi modernitas yang kerap kali menyederhanakan realita lewat kategorisasinya yang serba pasti dan kaku. Setelah menonton film-film pendek yang dikategorikan sebagai film queer itu pun. “ Lipstick” yang dibuat oleh seorang filmmaker Singapura memvisualkan perubahan penampilan seorang maskulin menjadi feminim. Pada akhirnya. queer adalah penyimpangan apa pun akan tatanan gender dan seksualitas tersebut. saya kemudian merevisi pemahaman saya mengenai konsep queer.

2008. 131-148.” Illinois: University of Illinois Press. Universitas Indonesia 2012) Daftar Pustaka Sinnott.Gender. “Asiapacifiqueer: Rethinking Genders and Sexualities. . dan Audrey Yue. Fran Martin. “The Romance of The Queer: The Sexual and Gender Norms of Tom and Dee in Thailand.” Dalam Peter Jackson. Megan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful