Anda di halaman 1dari 12

NALISIS PERTUMBUHAN IKAN NILA Oleh Septi Diah Palupi 1214111058 Jurusan Budidaya Periaran/Perikanan Fakultas Pertanian Universitas

Lampung

ABSTRAK

Pada Praktikum Biologi Perikan yang dilakukan adalah melakukan analisis pertumbuhan ikan, terutama ikan nila. Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Perikan Universitas lampung. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan panjang, berat dan faktor kondisi ikan nila. Praktikum ini dilakukan pada tanggal 2 Oktober 2013. Hubungan panjang dan berat merupakan aspek biologi perikanan yang perlu di pelajari. Panjang tubuh sangat berhubungan dengan panjang dan berat seperi hukum kubik yaitu bahwa berat se-bagai pangkat tiga dari panjangnya. Namun, hubungan yang terdapat pada ikan sebenarnya tidak demikian karena bentuk dan panjang ikan berbeda-beda. Pengamatan pertumbuhan ikan, baik panjang dan berat merupakan salah satu hal yang penting untuk diamati selama proses budidaya ikan. Hal ini dilakukan agar kenormalan pertumbuhan ikan dapat diketahui sedini mungkin. Key Word : Analisis, berat, ikan, panjang, pertumbuhan.

A. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Biologi ikan khusus mempelajari tentang kehidupan ikan-ikan yang berupa pertumbuhan ikan, tentang bagaimana ikan-ikan dalam suatu populasi melakukan pemijahan, tumbuh dan menentukan kebiasaan makanan. Dinamika populasi ikan khusus mempelajari perubahan populasi ikan, tentang bagaimana kecepatan populasi ikan tumbuh, mati dan memperbanyak keturunan, selain itu dapat menentukan penyebaran, mengetahui jumlah telur dan tingkat kematangan gonad ikan. Hubungan panjang dan berat merupakan aspek biologi perikanan yang perlu di pelajari. Panjang tubuh sangat berhubungan dengan panjang dan berat seperi hukum kubik yaitu bahwa berat sebagai pangkat tiga dari panjangnya. Namun, hubungan yang terdapat pada

ikan sebenarnya tidak demikian karena bentuk dan panjang ikan berbeda-beda. Pengamatan pertumbuhan ikan, baik panjang dan berat merupakan salah satu hal yang penting untuk diamati selama proses budidaya ikan. Hal ini dilakukan agar kenormalan pertumbuhan ikan dapat diketahui sedini mungkin. Hubungan panjang dan berat (Lengthweight relationship/LWR) merupakan hal yang penting dalam penelitian ilmiah perikanan, karena hal ini memberikan informasi parameter-parameter populasi. 1.2 Tujuan Adapun tujuan dari praktikum ini dalam mengkaji pertumbuhan dan aspek umur adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui perkembangan yang dialami ikan melalui analisis parameter panjang, berat dan morfologi ikan,

2. Memprediksi pola pertumbuhan ikan, faktor kondisi, kelompok umur dan 3. Menduga pola perkembangan populasi ikan.

B. METODELOGI B.1 Metode Kerja B.1.1 Waktu dan Tempat Praktikum Biologi perikanan yang membahas tentang Analisis Pertumbuhan Ikan Nila, dilaksanakan pada tanggal 2 Oktober 2013 pukul 15.00-17.00 WIB di Laboratorium Perikanan Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung. B.1.2 Alat dan Bahan Adapun alat dan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut : Penggaris,Kertas Label,Timbangan berskala minimal 0,01 gram,Kain lap dan tissue, Jarum pentul, Botol film (6 buah perorang),Kantong plastik/kresek,Alat bedah (satu set lengkap perkelompok), Bahan yang di pakai adalah ikan nila (Oreochromis niloticus) dan formalin,m Alat tulis,Benang jahit, dan Spidol permanen. B.1.3 Prosedur Kerja Hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan ikan yang akan di amati di atas baki, kemudian keringkan menggunakan tissue. Setelah itu beri nomor pada ikan dengan kertas label, ukur panjang total ikan, panjang cagak, dan panjang baku (panjang ikan dinyatakan dalam satuan mm). Kemudian menimbang berat ikan lalu di catat dalam satuan gram. Perhatikan morfologi ikan yang akan di amati mulai dari bentuk tubuh, posisi mulut dan kelengkapan sirip dengan rumusnya. Amati setiap sirip ikan, kemudian catat jumlahnya menggunakan rumus, kemudian bedah ikan menggunakan gunting yang ujungnya runcing terlebih dahulu. Setelah terlihat organ-organ

dalam ikan, ambil gonadnya. Tentukan jenis kelamin ikan dan Tingkat Kematangan Gonadnya, gonad disimpan dalam botol film yang sudah di beri label. Setelah itu uraikan usus ikan yang menggulung dan rentangkan, kemudian ikat kedua ujungnya dan ukur panjang usus ikan, lalu masukkan ke dalam botol film yang sudah di beri label. Setelah semua prosedur dilakukan, beri formalin 4% pada masing-masing botol film sampai tenggelam, tutup rapat kemudian di simpan.

B.2 METODE DATA 1. Pertumbuhan Panjang.

Analysis pertumbuhan panjang model yang digunakan adalah model Von Bartalanffy plot ( VBP ). Bartalanffy mengembangkan model terutama untuk mengetahui laju pertumbuhan panjang. Setelah diketahui kelompok ukuran dengan model Batacharya, maka dilakukan pendekatan untuk menduga tingkat pertumbuhan. Secara khusus data yang dianalisis adalah nilai tengah dari kelompok ukuran yang diperoleh. Dalam menganalisis pertumbuhan panjang, langkah yang harus dilakukan adalah : pertama menentukan jumlah kelas dengan rumus kelas = 1 + 3,32 Log n dimana n = jumlah keseluruhan data. Kedua menentukan lebar kelas dengan rumus : Lk = Nilai max - nilai min kelas Ketiga buat tabel frekuensi dari selang kelas dan ke empat buatlah grafik histogram nya Langkah langkah analisis pertumbuhan panjang dilakukan dengan model Von Bartalanffy ( VBP ) sebagai berikut :

a. Membuat selang kelas panjang dari data N ikan yang didapat kemudian menentukan frekuensi setiap selang kelas, b. Menentukan titik tengah selang, nilai Log F, dan Log F pada masing masing selang, dan c. Menentukan kelompok ukuran ( cohort ) berdasarkan model Batacharya dengan melakukan pendekatan untuk menduga tingkat pertumbuhan. Penurunan Log F minimal 3 kali secara berurutan disebut 1 cohort. 2. Pertumbuhan Berat.

Berdasarkan pola hubungan linier maka dapat dilihat bahwa : Log W = Log a + b Log L atau Y = a + bX Korelasi parameter dari hubungan panjang dan berat dapat dilihat dari nilai konstanta b ( sebagai penduga tingkat kedekatan kedua parameter ). Jika b = 3, disebut hubungan yang isometrik dimana pola pertambahan panjang sama dengan pola pertumbuhan berat. Jika b < 3, disebut hubungan allometrik negatif, dimana pertambahan panjang lebih dominan. Jika b > 3, disebut hubungan allometrik positif, dimana pertumbuhan berat lebih dominan. Untuk mengantisipasi sulit untuk memberikan kesimpulan atau ketetapan pada nilai yang didapat dilapangan ( kelemahan ) tersebut maka perlu diadakan uji statistik. Uji yang digunakan yaitu uji t. Dimana kita dihadapkan pada proses atau usaha untuk melakukan penolakan atau penerimaan terhadap hipotesis yang kita buat ( Stell and Torie, 1989 ). Hipotesis : HO : b = 3 H1 : b 3 Thit = b - b Sb

Analisis pertumbuhan berat hampir sama dengan model pendekatan pertumbuhan panjang. Tetapi sebaliknya dilakukan pada kelompok ikan yang belum memijah secara rutin, karena berat ikan yang relative berubah. Apabila panjang ikan dengan umur tertentu diplotkan dengan panjang ikan dengan umur yang lebih muda satu tahun akan menghasilkan garis lurus dengan sudut yang lebih kecil dari satu. Sudut Walford besarnya sama -k dengan e , jadi logaritma natural sudut Walford dengan tandanya berubah merupakan penduga dari koefisien pertumbuhan k. Persamaan Walford Ln+1 = L ( 1 e ) + -k Lte dimana k = - log natural sudut Walford, L = intersep / 1 b. Hubungan Panjang dan Berat. Analisis pertumbuhan dengan menggunakan parameter panjang dan berat menggunakan rumus : ( Bal dan Rao, 1984 ) W = aL dimana ; W = berat ( garam ) ; L = panjang ( mm ) ; a,b = konstanta
b k

dimana Sb1 adalah simpangan koefisien b yang dapat ditentukan dari rumus berikut : Sb= KTS

X - /n ( X )

K = 10 W L
3

Dmna KTS dicari melalui analisa varians Jika pola pertumbuhan yang ditemukan adalah allometrik, maka digunakan rumus : JKT = Y 1/n

(Y)

K=

W aL
b

JKR =

b1 ( XY - /n X Y)

Keterangan : 1. 2. K = faktor kondisi W = berat ikan ( gram )

; JKS = JKT JKR Kaidah keputusan adalah dengan membandingkan hasil T hitung dengan T Tabel pada Selang Kepercayaan 95 %. Jika hit > T tabel maka menolak hipotesis nol dan jika T hit < T tabel maka menerima hipotesis nol. Faktor Kondisi Faktor kondisi adalah keadaan atau kemontokan ikan yang dinyatakan dalam angka angka berdasarkan pada data panjang dan berat. Dalam menganalisa kondisi ikan, terlebih dahulu dikelompokkan berdasarkan jenis kelaminnya. Ikan dengan jenis kelamin yang sama dilihat koefisien pertumbuhan ( model gabungan panjang dan berat ). Setelah itu pola pertumbuhan panjang dapat diketahui, maka baru dapat ditemukan kondisi dari ikan tersebut, yaitu : Jika pertumbuhan ikan isometrik, digunakan rumus :

3. L = panjang ikan ( mm ) 4. a,b = konstanta hasil regresi dari log W terdahulu dengan nilai a di anti log kan. Cohort ( kelas ukuran ) Kelompok yang tumbuh berkembang pada waktu yang sama, mendapat pasokan makanan yang sama pula disebut kohort. Salah satu cara untuk menyeragamkan ukuran pada saat panen ikan budidaya adalah dengan melakukan penebaran dengan umur yang sama, sedangkan untuk ikan laut lepas dengan selektifitas alat tangkap. Ikan yang berada di perairan terbuka sulit sekali ditentukan umurnya. Maka alternative yang ditempuh adalah dengan membuat pengelompokkan ikan berdasarkan ukuran. Metode ini dikembangkan oleh Battacharya ( 1967 ) dalam WHO ( 1992 ). Penentuan kelas ukuran ini adalah untuk menentukan ukuran tangkap dari populasi tersebut. Kelompok ukuran ini sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan panjang ikan.

Tahapan kegiatan dalam penentuan kohort adalah sebagai berikut : 1. Tentukan selang kelas ukuran panjang dari ikan yang diamati secara statistik, 2. Tentukan frekuensi masing masing kelas ukuran tersebut, 3. Lakukan transformasi nilai panjang agar data yang kita pakai lebih baik, 4. Tentukan nilai beda dari hasil transformasi tersebut dengan mengurangi nilai kedua dengan nilai pertama, demikian seterusnya sampai proses pengurangan selesai, 5. Buatlah nilai tengah dari kelas ukuran panjang tersebut ( X ), 6. Tentukan dan hitung nilai yang mengalami penurunan dari transformasi beda frekuensi ( Y ). Minimal ada tiga nilai yang menurun yang baru bisa dikatakan satu kohort. 8. Tentukan rata rata dari cohort Rataan L=b0 b1

dengan bo dan bi adalah koefisien regresi, dan 9. Tentukan standar devisiasinya

SD =

, lalu buat plot dari nilai X dan Y, kemudian plot garis dari persamaan regresi.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN C.1 Pertumbuhan Panjang Ikan Nila Tabel 1. Pertumbuhan Panjang Ikan Nila.
Selang Kelas 1 2 3 4 5 6 7 8 200-206 207-213 214-220 221-227 228-234 235-241 242-248 249-255 5 13 23 14 25 39 4 4 203 210 217 224 231 238 245 252 0,69897000 1,11394335 1,36172783 1,146128036 1,39794000 1,59106460 0,60205999 0,60205999 ~ 0,4149733 0,2477844 -0,2155998 0,2518119 0,1931245 -0,98900462 0

No

fi

xi

Log fi

Delta Log fi

Grafik Pertumbuhan Panjang 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Kelas 200-206 207-213 214-220 221-227 228-234 235-241 242-248 249-255
5

236244 245253

240

0,477121255

-0,36797679

249

0,301029996

-0,17609126

Tabel 2.Pertumbuhan Panjang Ikan Nila Jantan fi


Selang Kelas 200206 207213 214220 221227 228234 235241 242248 249256

No 1 2 3 4

fi 2 7 12 11 22 23 4 2

Xi 203 210 217 224 231 238 247 254

Log fi 0,301029996 0,84509804 1,079181246 1,041392685 1,342422681 1,361727836 0,602059991 0,301029996

Delta Log fi ~ 0,5440680 0,2340832 -0,0377885 0,3010299 0,0193051 -0,7596678 -0,30103

Grafik 1. Pertumbuhan Panjang Ikan Nila Pembahasan : Dari data yang telah didapatkan diketahui bahwa pertumbuhan panjang ikan yang paling banyak terdapat di antara kelas 235-241 dan pertumbuhan panjang ikan yang paling sedikit ada diantara kelas 242-248 dan 249-255. Menurut Kimball (1994), menyatakan bahwa dalam pertumbuhan suatu organisme, yang biasanya dapat dibedakan menjadi beberapa periode. Periode pertama yaitu periode lamban adalah ciri adanya sedikit pertumbuhan atau tidak ada pertumbuhan yang sebenarnya dan dalam periode ini organisme mempersiapkan diri untuk pertumbuhan

5 6 7 8

Grafik Pertumbuhan Panjang Ikan Nila Jantan 25 20 15 10 5 fi

Pertumbuhan Panjang Ikan Nila Jantan


No Selang Kelas 200208 209217 218226 227235 fi Xi Log fi Delta Log fi

0 200-206 207-213 214-220 221-227 228-234 235-241 242-248 249-256 Grafik 2. Pertumbuhan Panjang Ikan Nila Jantan. Pembahasan : Dari data yang telah didapatkan diketahui bahwa pertumbuhan

204

0,477121255

10

213

0,522878745

10

222

231

0,84509804

-0,15490196

panjangikan nila jantan, yang paling banyak terdapat di antara kelas 235-241 dan pertumbuhan panjang ikan yang paling sedikit ada diantara kelas 200-206 dan 249-256
No Selang Kelas 200208 209217 218226 227235 236244 245253 fi Xi Log fi Delta Log fi

Grafik Pertumbuhan Panjang Ikan Nila Betina 12 10 8 6 4 2 0 fi

204

0,477121255

10

213

0,522878745

10

222

231

0,84509804

-0,15490196

240

0,477121255

-0,36797679

249

0,301029996

-0,17609126

Grafik 3. Pertumbuhan Panjang Ikan Nila Betina Pembahasan : Dari data yang telah didapatkan diketahui bahwa pertumbuhan panjang ikan nila betina yang paling banyak terdapat di antara kelas 209-217 dan serta 218-226 pertumbuhan panjang ikan yang paling sedikit ada diantara kelas 245-253. C.2 Pertumbuhan Berat Ikan Nila

Pertumbuhan Panjang Ikan Nila Betina. Tabel 3. Pertumbuhan Panjang Ikan Nila Betina,

No.

Selang Kelas

fi

Xi

Log fi

Delta Log fi

Tabel 1. Pertumbuhan Berat Ikan Nila,


No 1 Selang Kelas 115135 136156 157177 178198 199219 220240 241261 262282 fi 1 3 24 39 23 17 10 1 Xi 125 146 167 188 209 230 251 272 Log fi 0 0,477121255 1,380211242 1,591064607 1,361727836 1,230448921 1 0 Delta Log fi ~ 0,477121255 0,903089987 0,210853365 -0,229336771 -0,131278915 -0,230448921 -1

1 2 3 4 5 6

200208 209217 218226 227235 236244 245253

3 10 10 7 3 2

204 213 222 231 240 249

0,477121255 1 1 0,84509804 0,477121255 0,301029996

~ 0,522878745

2 0 -0,15490196 0,367976785 0,176091259 3 4 5 6 7 8

Grafik 1. Pertumbuhan Berat Ikan Nila


45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 115-135 136-156 157-177 178-198 199-219 220-240 241-261 262-282 fi

5 6 7 8

178198 199219 220240 241261 262282

25 17 15 8 1

188 209 230 251 272

1,39794000 1,23044892 1,17609125 0,90308998 0

0,28399665 -0,16749108 -0,05435766 -0,27300127 -0,90308998

Pertumbuhan Berat Ikan Nila Jantan 30 25 20 15 10 5 0 115-135 136-156 157-177 178-198 199-219 220-240 241-261 262-282 fi

Grafik 1. Pertumbuhan Berat Ikan Nila. Pembahasan : Dari data yang telah didapatkan diketahui bahwa pertumbuhan berat ikan nila yang paling banyak terdapat di antara kelas 178-198 dan pertumbuhan panjang ikan yang paling sedikit ada diantara kelas 115-135 dan 262-282. Menurut Nontji (1999), menyatakan bahwa berat dapat kita sebut sebagai suatu fungsi dari panjang, dan hubungan panjang dengan berat hampir mengikuti hukum kubik yang menjelaskan bahwa berat ikan sebagai pangkat tiga dari panjangnya. Tetapi hubungan yang terdapat pada ikan sebenarnya tidak demikian karena bentuk dan panjang ikan terdapat perbedaan.

Grafik 2. Pertumbuhan Berat Ikan Nila Jantan. Pembahasan : Dari data yang telah didapatkan diketahui bahwa pertumbuhan berat ikan nila jantan yang paling banyak terdapat di antara kelas 178-198 dan pertumbuhan panjang ikan yang paling sedikit ada diantara kelas 115-135 dan 262-282.

Tabel 2. Pertumbuhan Berat Ikan Nila Jantan,


No 1 2 3 Selang Kelas 115135 136156 157177 fi 1 3 13 Xi 125 146 167 Log fi 0 0,47712125 1,11394335 Delta Log fi ~ 0,47712125 0,63682209

Tabel 3. Pertumbuhan Berat Ikan Nila Betina.


N o 1 2 3 4 5 6 Selan g Kelas 161176 177192 193208 209224 225240 241256 Delta Log fi ~ -0,1383 0,1383 -1,041 0,3010 0

C.3 Hubungan Panjang dan Berat Ikan Nila.

fi 1 1 8 1 1 1 2 2

Xi 168, 5 184, 5 200, 5 216, 5 232, 5 248, 5

Log fi 1,04139268 5 0,90308998 7 1,04139268 5 0 0,30102999 6 0,30102999 6

y = -0.2244x + 2.8222 R = 0.0071 2.5 2.45 2.4 2.35 2.3 2.25 2.2 2.15 2.1 2.05 2 2.2 2.3 2.4 2.5

Log W Linear (Log W)

Grafik Hub. panjang dan Berat Ikan Nila Pertumbuhan Berat Ikan Nila Betina 12 10 8 6 4 2 0 fi Grafik 1. Hubungan Panjang dan Berat Ikan Nila. Pembahasan : Dari grafik yang telah di buat dan berdasarkan pada hubungan liniernya dapat dilihat bahwa Log W= Log a + b Log L atau Y= a + bx. Dari hasil yang didapat berdasarkan table, nilai b<3, yaitu Y= 0,2244x + 2,8222. Jadi hubungan panjang dan beratnya bersifat allometrik negatif, dimana pertambahan panjang lebih dominan daripada pertambahan berat. Artinya, ikan nila tersebut kurus. Perbedaan ukuran berat dan panjang antara tiap ikan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti yang telah dikemukakan oleh Fujaya (1999), dimana ada dua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam ini sulit untuk dilakukan pengontrolan, sedangkan faktor luar mudah untuk pengontrolannya.

Grafik 3. Pertumbuhan Berat Ikan Nila Betina.

Pembahasan: Dari data yang telah didapatkan diketahui bahwa pertumbuhan berat ikan nila betina yang paling banyak terdapat di antara kelas 161-176 dan 193-208 lalu pertumbuhan panjang ikan yang paling sedikit ada diantara kelas 209-224.

Grafik 3. Hubungan Panjang dan Berat Ikan Nila Betina. 2.5 2.45 2.4 2.35 2.3 2.25 2.2 2.15 2.1 2.05 2 y = 1.1651x - 0.4486 R = 0.1464 Log W Linear (Log W)

2.2 2.3 2.4 2.5 Grafik Hub. Panjang dan Berat Ikan Nila Jantan Grafik 2. Hubungan Panjang dan Berat Ikan Nila Jantan. Pembahasan : Dari grafik yang telah di buat dan berdasarkan pada hubungan liniernya dapat dilihat bahwa Log W= Log a + b Log L atau Y= a + bx. Dari hasil yang didapat berdasarkan table, nilai b<3, yaitu Y=1,1651x - 0,4486. Jadi hubungan panjang dan beratnya bersifat allometrik negatif, dimana pertambahan panjang lebih dominan daripada pertambahan berat. Artinya, ikan nila jantan tersebut kurus.

Pembahasan : Dari grafik yang telah di buat dan berdasarkan pada hubungan liniernya dapat dilihat bahwa Log W= Log a + b Log L atau Y= a + bx. Dari hasil yang didapat berdasarkan table, nilai b<3, yaitu Y=1,4309x - 1,0802. Jadi hubungan panjang dan beratnya bersifat allometrik negatif, dimana pertambahan panjang lebih dominan daripada pertambahan berat. Artinya, ikan nila jantan tersebut kurus. Perbedaan ukuran panjang dan berat tubuh ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor keturunan, faktor umur, faktor jenis kelamin,faktor parasit dan penyakit, kualitas air, misalnya suhu oksigen terlarut dan karbondioksida. (Fujaya 1999).

C.4 Faktor Kondisi Faktor Kondisi Ikan Nila 204 202 Faktor Kondisi 200 198 196 194 192 190 0 200 Berat (gram) 400 anti log a * L^b Linear (anti log a * L^b) y = -0.0438x + 205.32 R = 0.2669

2.45 2.4 2.35 2.3 2.25 2.2 2.15 2.2 2.3 2.4 2.5 Grafik Hub. Panjang Ikan Nila Betina Linear (Log W) Log W y = 1.4309x 1.0802 R = 0.4885

Grafik 1. Faktor Kondisi Ikan Nila

Pembahasan : Dari grafik yang telah di buat dan berdasarkan pada hubungan liniernya dapat dilihat bahwa dari hasil yang didapat berdasarkan table, nilai b<1, yaitu

Y=-0,0438x + 205,32. Jadi artinya, ikan nilatersebut kurus. Pembahasan : Dari grafik yang telah di buat dan berdasarkan pada hubungan liniernya dapat dilihat bahwa dari hasil yang didapat berdasarkan table, nilai b<1, yaitu Y== 0,0012x + 0,9816. Jadi artinya, ikan nila jantan tersebut kurus.

1.6 1.4 1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0

Faktor Kondisi

Faktor Kondisi Ikan Nila Jantan y = 0.0041x + 0.1853 R = 0.839 fk

D. KESIMPULAN DAN SARAN D.1 Kesimpulan 0 Berat (gram) 500 Dari hasil praktikum yang sudah dilakukan dapat didapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Ikan nila yang di analisis dalam praktikum ini adalah ikan nila yang kurus, 2. Perbedaan berat dan panjang ikan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya adalah umur, dan gen, faktor eksternal yamg memengaruhi diantaranya adalah kualitas air 3. Faktor Kondisi ikan nila , dari 2 atau mendekati satu, jadi ikan nila yang di amati adalah ikan nila yang kurus. D.2 Saran Diharapkan kepada asisten dosen untuk lebih sering mengawasi praktikan ketika sedang melalukan sebuah praktikum, agar praktikan lebih mudah untuk bertanya jika ada metode praktikum yang belum dimengerti. Terima kasih.

Grafik 2. Faktor Kondisi Ikan Nila Jantan

Pembahasan : Dari grafik yang telah di buat dan berdasarkan pada hubungan liniernya dapat dilihat bahwa dari hasil yang didapat berdasarkan table, nilai b<1, yaitu Y== 0,0041x + 0,1853. Jadi artinya, ikan nila jantan tersebut kurus.

Faktor Kondisi Ikan Nila Betina


1.4 1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 0 Berat (gram) 50 y = 0.0012x + 0.9816 R = 0.0182 fk Linear (fk)

Grafik 3. Faktor Kondisi Ikan Nila Betina

Faktor Kondisi