Anda di halaman 1dari 12

1

Eksperimen reaksi elektrolisis

JUDUL
Eksperimen reaksi elektrolisis pada larutan CuSO4 dan NaCl.

I.

Tujuan

Mengetahui reaksi elektrolisis yang terjadi pada larutan CuSO4 dan NaCl dengan menggunakan elektrode C (inert).

II.

Landasan Teori

A. Sel Elektrolisis Sel elektrolisis adalah sel elektrokimia dimana energi listrik digunakan untuk menghasilkan reaksi kimia (reaksi redoks tak spontan). Arus listrik yang digunakan umumnya berasal dari sel volta. Eksperimen tentang reaksi elektrolisis pertama kali dilakukan oleh seorang ahli kimia berkebangsaan Ingrris bernama Michael Faraday. Secara umum sel elektrolisis terdiri dari : 1. Sumber listrik ; yang menyuplai arus listrik searah (DC), contohnya : batu baterai. 2. Katode ; yaitu elektrode dimana reaksi reduksi terjadi karena elektron didorong oleh kutub negatif dari sumber listrik sehingga katode menjadi bermuatan negatif. 3. Anode ; yaitu elektrode dimana reaksi oksidasi terjadi karena elektron dari anode ditarik oleh kutub positif dari sumber listrik, sehingga anode bermuatan positif. 4. Elektrolit ; yaitu zat yang dapat menghantar listrik yang akan diurai dalam sel elektrolisis.

Rangkaian sel elektrolisis

Secara umum terdapat tiga kelompok sel elektrolisis, yaitu:

1. Sel elektrolisis dengan elektrolit lelehan Sel bentuk ini hanya berlaku untuk senyawa ionik dengan tidak ada zat pelarut (tidak ada H2O). Hanya ada kation dan anion.

Eksperimen reaksi elektrolisis

Reaksi elektrolisis terdiri dari reaksi katode, yaitu reduksi dan reaksi anode, yaitu oksidasi. Spesi apa yang terlibat dalam reaksi katode dan anode bergantung pada potensial elektrode dari spesi tersebut, dengan ketentuan sebagai berikut : Spesi yang mengalami reduksi di katode adalah spesi yang potensial reduksinya paling besar. Spesi yang mengalami oksidasi di anode adalah spesi yang potensial oksidasinya paling besar.

3 Katode : Kation langsung direduksi (X+(aq) + e > X(s)) Anode : Anion langsung dioksidasi (Y(s) -> Y+(aq) + e) Kation golongan utama atau golongan transisi langsung direduksi. 2. Sel elektrolisis dengan elektrolit larutan dan elektrode inert Elektrode inert adalah elektrode yang tidak aktif, sehingga tidak terelektrolisis. Ada dua unsur yang termasuk elektrode inert yaitu Carbon (C) dan Platina (Pt). a. Reaksi pada katode Di katode terjadi reaksi reduksi yang bergantung pada jenis kation dalam larutan. Jika kation berasal dari logam-logam aktif (logam golongan IA IIA, Al atau Mn), yaitu logam-logam yang potensial standar reduksinya lebih kecil (lebih Deret Volta negatif daripada air/dalam deret volta terletak di sebelah kiri air), maka air yang akan tereduksi. Sebaliknya, jika kation berasal dari logam-logam selain dari yang telah disebutkan tersebut, maka kation itu sendiri yang akan tereduksi. Jika yang tereduksi adalah air, maka reaksinya adalah sebagai berikut: 2H2O (l) + 2e- H2 (g) + 2OH- (aq) b. Reaksi pada anode Pada anode terjadi reaksi oksidasi anion. Anion adalah sisa asam yang dibagi menjadi dua jenis, yaitu anion yang mengandung O dan anion yang tidak mengandung O. Jika, anion mengandung O, seperti SO4-, NO3-, C1O4- maka yang dioksidasi adalah H2O. Ini disebabkan karena anion ini sudah maksimum mengikat atom O sehingga tidak bisa lagi dioksidasi. Biloks S pada SO4, biloks N pada NO3-, atau biloks Cl pada C1O4- sudah merupakan biloks terbesar, sehingga biloksnya tidak dapat lagi bertarribah (tidak dapat melakukan oksidasi). Sedangkan jika anion tidak mengandung O, seperti Cl-, Br, I, dan OH maka yang dioksidasi adalah anion tersebut. Jika H2O yang teroksidasi maka reaksinya adalah sebagai berikut: 2H2O (l) 4H+ (aq) + O2 (g) + 4e3. Sel elektrolisis dengan Elektrolit larutan dan elektrode aktif Elektrode aktif adalah elektrode selain Carbon (C) dan Platina (Pt). Reaksi yang berlangsung pada katode tetap mengikuti aturan pada jenis sel elektrolisis dengan elektrolit larutan dan elektrode inert, yakni jika kation berasal dari logam-logam akti (logam golongan IA, IIA, Al atau Mn), maka yang tereduksi adalah air. Sedangkan jika kation berasal dari logam selain dari yang disebutkan tersebut, maka yang tereduksi adalah kation itu sendiri. Perbedaannya terletak pada reaksi di anode, dimana untuk sel elektrolisis jenis ini, yang mengalami oksidasi adalah elektrode yang bersangkutan. B. Natrium Klorida (NaCl) Natrium klorida atau yang dikenal juga sebagai garam dapur atau halit adalah senyawa kimia dengan rumus molekul NaCl. Senyawa ini adalah garam yang paling memengaruhi salinitas laut
Eksperimen reaksi elektrolisis

Natrium klorida dan cairan ekstraselular pada banyak organisme multiselular. Sebagai komponen utama pada garam dapur, natrium klorida sering digunakan sebagai bumbu dan pengawet makanan

Nama IUPAC :Natrium Klorida Nama lain : Garam dapur; halit Meskipun penting, natrium Identifikasi klorida hanya perlu dikonsumsi Nomor CAS [7647-14-5] dalam jumlah sedikit untuk menyuplai kebutuhan tubuh terhadap Sifat elektrolit dan membantu otot-otot Rumus molekul NaCl agar rileks. Bila dikonsumsi dalam Massa molar 58.44 g/mol Tidak berwarna/berbentuk kristal jumlah besar, senyawa ini dapat Penampilan putih menyebabkan masalah kesehatan 3 Densitas 2.16 g/cm seperti tekanan darah tinggi. Titik lebur 801 C (1074 K) Makanan olahan, daging Titik didih 1465 C (1738 K) asap, saus dan bumbu instan, Kelarutan dalam air 35.9 g/100 mL (25 C) makanan ringan, serta makanan Data di atas berlaku pada temperatur dan tekanan standar kaleng cenderung mengandung (25C, 100 kPa). natrium klorida tinggi. Sebagai elektrolit, natrium klorida sering ditemukan dalam minuman kebugaran. Elektrolit memungkinkan transmisi sinyal listrik antar saraf. Untuk alasan ini, natrium klorida membantu relaksasi otot. Senyawa ini juga memiliki peran penting dalam penyerapan nutrisi oleh sel. C. Tembaga Sulfat (II) Tembaga(II) sulfat Tembaga(II) sulfat atau dikenal juga sebagai cupri sulfat adalah sebuah senyawa kimia dengan rumus molekul CuSO4. Senyawa garam ini eksis di bumi dengan kederajatan hidrasi yang berbeda-beda. Bentuk anhidratnya berbentuk bubuk hijau pucat atau abu-abu putih, sedangkan bentuk pentahidratnya (CuSO45H2O), berwarna biru terang. Tembaga(II) sulfat diproduksi dalam skala besar dengan cara mencampurkan logam tembaga dengan asam sulfat panas atau oksidanya dengan asam sulfat.
Eksperimen reaksi elektrolisis

Nama IUPAC Tembaga(II) sulfat Nama lain Kupri sulfat ;Vitriol biru (pentahidrat); Bentuk anhidratnya ditemukan dalam bentuk Batu biru (pentahidrat); Bonatit (mineral mineral langka yang disebut kalkosianit. Tembaga trihidrat); Botit (mineral heptahidrat); sulfat terhidrasi eksis di alam dalam bentuk kalkantit Kalkantit (mineral pentahidrat); Kalkosianit (pentahidrat) dan 2 mineral lain yang lebih langka: (mineral) bonatit (trihidrat) dan bootit (heptahidrat). Identifikasi Tembaga(II) sulfat pentahidrat akan Nomor CAS [7758-98-7] terdekomposisi sebelum mencair pada 150 C, akan PubChem 24462 kehilangan dua molekul airnya pada suhu 63 C, diikuti Nomor EINECS 231-847-6 2 molekul lagi pada suhu 109 C dan molekul air KEGG C18713

5 ChEBI Nomor RTECS 23414 terakhir pada suhu 200 C. GL8800000 Pada suhu 650 C, tembaga (II) sulfat akan (anhydrous) terdekomposisi menjadi tembaga(II) oksida (CuO) dan GL8900000 belerang trioksida (SO3). Warna tembaga(II) sulfat (pentahydrate) yang berwarna biru berasal dari hidrasi air. Ketika [O-]S(=O)(=O)[Otembaga(II) sulfat dipanaskan dengan api, maka ].[Cu+2] kristalnya akan terdehidrasi dan berubah warna 1/Cu.H2O4S/c;15(2,3)4/h;(H2,1,2,3,4)/ menjadi hijau abu-abu. q+2;/p-2 Tembaga(II) sulfat pentahidrat adalah sebuah Sifat fungisida. Namun, beberapa jamur mampu beradaptasi CuSO4 dengan peningkatan kadar ion tembaga. Dicampur 159.62 g/mol (anhidrat) dengan kapur biasanya disebut campuran Bordeaux 249.70 g/mol dan digunakan untuk mengontrol jamur pada tumbuhan (pentahidrat) anggur, melon, dan beri lainnya. Keguanaan lainnya biru (pentahidrat) adalah senyawa Cheshunt, sebuah campuran dari abu-abu putih tembaga sulfat dan amonium karbonat digunakan (anhidrat) dalam hortikultura untuk mencegah pelembaban pada 3.603 g/cm3 (anhidrat) biji. Penggunaannya sebagai herbisida untuk kontrol searangan tanaman air dan akar tumbuhan dengan pipa 2.284 g/cm3 yang mengandung air. Hal ini juga digunakan di kolam (pentahidrat) renang sebagai sebuah algaecide. Sebuah larutan encer 110 C (4H2O) tembaga sulfat digunakan untuk mengobati ikan 150 C (423 K) akuarium dari infeksi parasit,[10] dan juga digunakan (5H2O) untuk menghilangkan siput dari akuarium. Ion tembaga < 650 C decomp. sangat beracun bagi ikan, sehingga perawatan harus pentahydrate dilakukan dengan memperhatikan dosis. Sebagian 316 g/L (0 C) besar spesies alga dapat dikontrol dengan konsentrasi 2033 g/L (100 C) tembaga sulfat yang sangat rendah. embaga sulfat menghambat pertumbuhan bakteri seperti form unspecified Escherichia coli. 320 g/L (20 C) 618 g/L (60 C) Untuk sebagian besar dari abad ke-20, tembaga arsenat 1140 g/L (100 C) dikrom (CCA) adalah tipe dominan untuk pengawetan anhidrat tidak bercampur pada kayu. Untuk membuat pressure-treated wood, tabung yang besar diisi dengan sebuah bahan kimia encer. etanol Tembaga(II) sulfat pentahidrat dilarutkan di dalam air bersama dengan zat aditif sebelum kayu ditempatkan di pentahidrat bercampur di metanol dalam tabung. Ketika tabung diberi tekanan, bahan kimia diserap oleh kayu, memberikan kayu fungisida, 10.4 g/L (18 C) insektisida, dan sinar ultraviolet yang memantulkan tidak bercampur di sifat yang membantu melestarikannya. etanol 1.514 (pentahidrat) Struktur Tembaga sulfat bersifat mengiritasi. Biasanya manusia terpapar tembaga sulfat melalui kontak mata atau kulit, Orthorhombic termasuk juga dengan menghirup serbuk atau debunya. (chalcocyanite), space Kontak dengan kulit akan menyebabkan eksim. Kontak group Pnma, oP24, a = tembaga sulfat dengan mata dapat menyebabkan 0.839 nm, b = 0.669 konjungtivitis dan radang pada kelopak mata dan nm, c = 0.483 nm kornea. Triclinic (pentahydrate), space Asalkan tidak terkena paparan tinggi, group P1, aP22, a = sebenarnya tembaga sulfat tidak terlalu beracun. 0.5986 nm, b = 0.6141 Menurut sebuah studi, tembaga sulfat menjadi racun nm, c = 1.0736 nm, = dalam tubuh manusia setelah terkena paparan 11 77.333, = 82.267, mg/kg. Karena tembaga sulfat akan menyebabkan

SMILES InChI

Rumus molekul Massa molar

Penampilan

Densitas

Titik lebur

Kelarutan dalam air

Kelarutan

Indeks bias (nD)

Struktur kristal

Eksperimen reaksi elektrolisis

6 = 72.567 iritasi pada sistem pencernaan, maka biasanya orang yang menelannya akan langsung muntah. Setelah 1-12 gram tembaga sulfat tertelan, tanda-tanda racun akan muncul seperti rasa terbakar di dada, mual, diare, muntah, sakit kepala, yang nantinya akan menyebabkan kulit menjadi kuning. Selain itu, keracunan tembaga sulfat juga merusak otak, hati, dan ginjal.

III.

Alat dan Bahan

Batu baterai 6V : 2

Batang carbon : 2

Garam Dapur (1 sdm)

Tembaga sulfat

Cutter (1)

Lakban (1 Gulung)

Tali wayar (50 cm)

Gelas kimia (2)

IV.

Langkah Kerja

1. Siapkanlah 2 gelas kimia (A dan B) yang masing-masing diisi dengan air sebanyak 200 ml. 2. Masukkanlah 1 sendok makan NaCl ke dalam gelas kimia A dan CuSO4 ke dalam gelas kimia B. 3. Rangkai baterai secara seri kemudian hubungkan masing-masing kutubnya ke batang karbon dengan menggunakan tali wayar. Batang karbon dipergunakan sebagai elektrode. Batang karbon yang terhubung dengan katode baterai bertindak sebagai anode , dan batang karbon yang terhubung dengan anode baterai bertindak sebagai katode. 4. Untuk eksperimen pertama, masukkanlah kedua elektrode ke dalam larutan NaCl dan untuk eksperimen kedua, masukkan kedua elektrode ke dalam larutan CuSO4. 5. Amati reaksi yang terjadi

Eksperimen reaksi elektrolisis

V.

Hasil dan Pembahasan

A. Reaksi elektrolisis pada NaCl (Natrium Klorida) Hasil Percobaaan Dalam percobaan, kami dapati bahwa seketika elektrode dimasukkan ke dalam larutan NaCl, muncul gelembung-gelembung gas dari anode. Pengeluaran gas ini diikuti dengan munculnya bau dan asap. Kemudian secara bertahap, katode juga mulai mengeluarkan gelembunggelembung gas. Pada tahapan yang sama, gelembung-gelembung gas yang keluar dari anode mulai mengurang dan akhirnya berhenti, sementara pada katode tetap mengeluarkan gelembung gas. Pembahasan Reaksi yang terjadi pada eksperimen ini merupakan reaksi elektrolisis tipe 2 dimana terdiri dari elektrolit larutan (NaCl) dan elektrode inert (Carbon). Sehingga ketentuan reaksi oksidasi dan reduksi yang terjadi mengikuti aturan sel elektrolisis tipe 2 Pada reaksi elektrolisis ini terjadi ionisasi NaCl(aq) menjadi ion Na+ dan Cl- . Hal ini dikarenakan NaCl merupakan larutan elektrolit yang mana akan terionisasi ketika dilarutkan dalam air. NaCl (aq) -> Na+ (aq) + Cl- (aq)
+

(x2)

Untuk reaksi pada katode, yang mengalami oksidasi adalah H2O. Hal ini terjadi karena ion Na yang berasal dari golongan IA memiliki potensial reduksi yang lebih kecil dibandingkan potensial reduksi air. Sehingga reaksi pada katode adalah : 2H2O(l) + 2e- -> 2OH-(l) + H2(g) Sementara untuk reaksi anode, yang mengalami oksidasi adalah anion Cl-. Hal ini terjadi karena Cl- adalah anion berupa sisa asam yang tidak mengandung oksigen sehingga lebih mudah teroksidasi daripada air, sehingga reaksi yang terjadi pada anode adalah : 2Cl-(aq) -> Cl2(g) + 2eSehingga hasil reaksi elektrolisis larutan NaCl(aq) dengan elektrode karbon adalah: 2H2O(l) + 2NaCl(aq) -> 2Na+(aq) + 2OH-(aq) + H2(g) + Cl2(g) Selanjutnya, ion Na+ dan OH- menyatu dan membentuk NaOH, sehingga hasil akhir reaksi adalah: 2H2O(l) + 2NaCl(aq) -> 2NaOH(aq) + H2(g) + Cl2(g) Dari pembahasan ini kami dapati bahwa gelembung-gelembung gas yang keluar dari anode pada tahap awal reaksi adalah gas klorin, (Cl2(g)) yang mana gas ini menghasilkan bau sebagaimana yang tercium pada tahapan awal terjadinya reaksi. Sementara itu gelembunggelembung gas yang dihasilkan pada katode adalah gelembung gas hidrogen (H2(g)) yang mana gas inilah yang paling banyak dihasilkan dalam reaksi dibandingkan dengan gas Cl 2(aq). Reaksi elektrolisis ini, pada akhirnya menghasilkan klorin dan natrium hidroksida. Proses ini disebut proses klor-alkali.
Eksperimen reaksi elektrolisis

8 B. Reaksi elektrolisis pada CuSO4 (Tembaga (II) Sulfat)

Hasil Percobaaan Dalam eksperimen yang kami lakukan, kami dapati bahwa anode menghasilkan gelembung-gelembung gas. Selanjutnya perlahan katode mengalami perubahan warna menjadi kuning yang juga disertai dengan produksi gelembung gas walaupun jumlahnya sangat sedikit. Pembahasan Seperti halnya reaksi pada larutan NaCl, reaksi elektrolisis pada larutan CuSO4 juga tergolong reaksi elektrolisis tipe 2. Sel elektrolisis pada reaksi ini tersusun atas elektrolit larutan berupa CuSO4(aq) dan elektrode inert berupa Carbon (C) Pada reaksi elektrolisis ini terjadi ionisasi CuSO4(aq) menjadi ion Cu2+(aq) dan SO42-(aq). Hal ini terjadi karena CuSO4(aq) juga merupakan larutan elektrolit, yang mana ketika dilarutkan ke dalam air akan terionisasi menjadi ion-ionnya. CuSO4(aq) -> Cu2+(aq) + SO42-(aq) (x2)

Sesuai dengan ketentuan reaksi yang berlaku untuk katode, yang menyatakan bahwa yang mengalami reduksi adalah zat yang memilki nilai potensial reduksi yang lebih positif, maka dalam reaksi ini yang mengalami reduksi adalah Cu2+(aq). Sebagaimana kita ketahui bahwa kation Cu2+(aq) merupakan kation yang berasal dari logam transisi, sehingga memiliki nilai potensial reduksi yang lebih besar dibandingkan dengan air. Katode : Cu2+(aq) + 2e- -> Cu(s) (x2) Sementara untuk reaksi pada anode, yang mengalami oksidasi adalah H2O(l). Hal ini terjadi karena anion yang dihasilkan dalam proses ionisasi, yaitu SO42-(aq) merupakan anion berupa sisa asam yang mengandung oksigen. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, anion yang mengandung O cenderung untuk tidak dapat mengalami oksidasi, karena telah memiliki biloks yang tinggi (positif) serta telah mengikat O. sehingga reaksi oksidasi yang berlangsung pada anode adalah: Anode : 2H2O(l) -> 4H+(aq) + O2(g) + 4eSehingga hasil dari reaksi elektrolisis CuSO4(aq) dengan elektrode karbon adalah sebagai berikut:
Eksperimen reaksi elektrolisis

2CuSO4(aq) + 2H2O(l) -> 2SO42-(aq) + 2Cu(s) + 4H+(aq) + O2(g) Selanjutnya ion H+(aq) akan menyatu dengan ion SO42-(aq) membentuk H2SO4 (asam sulfat), sehingga hasil akhir dari reaksi tersebut adalah 2CuSO4(aq) + 2H2O(l) -> H2SO4aq) + 2Cu(s) + O2(g) Dari pembahasan tersebut, kami menyimpulkan bahwa dalam reaksi elektrolisis CuSO4(aq) dengan elektrode karbon, gelembung-gelembung gas yang dihasilkan oleh anode adalah gelembung oksigen (O2(aq)). Peristiwa lainnya yang kami dapat amati adalah terjadinya perubahan warna pada katode menjadi kuning. Menurut kami hal ini terjadi karena adanya pengendapan Cu(s) dan juga peristiwa korosi. Korosi dalam reaksi ini terjadi karena adanya interaksi dengan gas O2 (g) dan H2SO4(aq).

VII.

Kesimpulan

Reaksi elektrolisis merupakan reaksi yang memerlukan arus lisrik searah (DC) guna melangsungkan reaksi kimia (reaksi redoks tak spontan). Rangkaian sel elektrolisis terdiri dari sumber arus DC, kation, anion, dan elektrolit. Terdapat tiga jenis sel elektrolisis yaitu Sel elektrolisis dengan elektrolit lelehan Sel elektrolisis dengan elektrolit larutan dan elektrode inert Sel elektrolisis dengan elektrolit larutan dan elektrode aktif

Pada reaksi elektrolisis larutan NaCl dengan elektrode karbon yang mengalami reduksi pada katode adalah air (H2O(l)). adapun gelembung gas yang diproduksi pada katode adalah gelembung gas hidrogen (H2(g)). Sementara pada anode, yang mengalami oksidasi adalah ion Cl-, adapun gelembung gas yang dihasilkan pada anode adalah gelembung gas klorin (Cl2(g)). Hasil akhir reaksi elektrolisis ini berupa gas klorin, gas hidrogen, dan Natrium Hidroksida (NaOH). Proses elektrolisis NaCl sering pula disebut sebagai proses klor-alkali. Pada reaksi elektrolisis larutan CuSO4 dengan elektrode karbon yang mengalami reduksi pada katode adalah Cu2+ (aq). Sementara pada anode, yang mengalami oksidasi adalah air (H2O(l)). Adapun gelembung gas yang muncul pada anode adalah gelembung gas oksigen O2(g). Hal lain yang mencolok dalam reaksi elektrolisis CuSO4 adalah adanya perubahan warna pada katode yang sebelumnya bewarna hitam berubah menjadi warna kuning. Perubahan warna ini berkaitan dengan terjadinya pengendapan Cu(s) dan juga peristiwa korosi yang dipicu oleh O2(g) dan H2SO(aq)

Gunungsitoli,23 November 2013 Mengetahui, Guru Kimia Praktikan a.n. kelompok

Eksperimen reaksi elektrolisis

Sun Theo, M.Si

Rizky Saputra Telaumbanua

10

What is Eintenium ?
Einsteinium merupakan unsur sintetis dengan simbol Es dan memiliki nomor atom 99. Eisntenium masuk dalam periode ketujuh dalam elemen transuranik dan termasuk aktinida. Einsteinium ditemukan sebagai komponen dari puing-puing dari ledakan bom hidrogen pertama pada tahun 1952 yang diberi nama setelah Albert Einstein. Isotop Einsteinium-253 yang memiliki paruh waktu 20, 47 hari diproduksi secara artifisial dari pembusukan Californium-253 dan cukup reaktif dengan total hasil pada urutan satu tahun per miligram. Isotop lainnya disintetis di berbagai laboratorium, namun dalam jumlah yang jauh lebih kecil dengan memborbardir elemen aktinida berat dan ion ringan. Karena Einsteinium diproduksi dalam jumlah kecil, saat ini hampir tidak ada aplikasi praktis untuk melakukan penelitian dasar terhadap unsur tersebut. Secara khusus, Einsteinium pertama kali digunakan untuk mensitesis dari unsur Mendelevium pada tahun 1955. Einsteinium berwarna keperakan dan merupakan paramagnetik logam. Radioakitivitas tinggi Einstenium-253 dapat menghasilkan cahaya yang terlihat sangat cepat dan dapat merusak kisi logam kristal dengan panas yang dilepaskan sekitar 1000 Watt tiap gramnya. Kesulitan dalam mempelajari sifat-sifatnya adalah karena konversi Einstenium-253 untuk Berkelium dan Californium dengan laju reaksi sekitar tiga persen tiap hari. Isotop dari Einsteinium yang memiliki waktu paruh terpanjang yaitu Einsteinium-252 dengan paruh waktu selama 471,71 hari akan lebih cocok untuk dilakukan penelitian secara fisik, namun tetap saja hal itu jauh lebih sulit sebab Einsteinium dihasilkan dalam hitungan menit saja dan jumlahnya pun sedikit. Einsteinium adalah unsur dengan nomor atom tertinggi yang telah diamati dalam jumlah makroskopis dalam bentuk yang murni dan umurnya terbilang pendek. Einsteinium pertama kali diidentifikasi pada bulan Desember 1952 oleh Albert Ghiorso yang berasal dari University of California, Berkeley dan bekerja sama dengan Argone serta Los Alamos yang bertempat di National Laboratories. Pengujian dilakukan pada tanggal 1 November 1952 di Atol Enewetak, tepatnya di Samudra Pasifik dan tes pertama dengan bom hidrogen akhirnya sukses. Pemeriksaan awal dari puing-puing ledakan telah menunjukkan produksi isotop baru yaitu plutonium yang hanya bisa dibentuk oleh penyerapan enam neutron oleh uranium dan diikuti oleh dua peluruhan beta.

Pada saat itu, penyerapa neutron dianggap sebagai proses yang sangat jarang terjadi. Namun, identifikasi plutonium masih dapat ditangkap oleh inti uranium, sehingga menghasilkan unsur-unsur baru yang lebih berat dari Californium. Ghiorso dan kawan-kawanya menganalisis kertas penyaring yang diterbangkan melalui awan ledakan di pesawat dengan teknik yang sama seperti ketika menemukan plutonium. Pemisahan unsur baru yang diduga dilakukan dalam asam sitrat atau amonum yang berfungsi sebagai larutan penyanga dalam medium asam lemah (pH=3,5) dengan menggunakan pertukaran ion pada suhu tinggi akhirnya dapat menemukan elemen Einsteinium.

Eksperimen reaksi elektrolisis

11 Penemuan Einsteinium tersebut baru dapat dideteksi dengan energi tinggi dan peluruhan alfa sebesar 6,6 MuV. Hal ini dapat diproduksi dengan penangkapan dari 15 neutron oleh inti Uranium.

Dalam penemuan mereka dari unsur-unsur dengan nomor atom 99 dan 100, tim Amerika bersaing dengan kelompok di Institus Nobel di bidang Fisika di Stockholm, Swedia. Akhir tahun 1953 dan awal tahun 1854, kelompok Swedia berhasil mensintesis isotop unsur bernomor atom 100 tersebut. Sebelumnya, nama Einsteinium diberi nama menjadi Panmonium karena penelitian tersebut diberi nama sebagai Proyek Panda. Namun, setelah Albert Einstein wafat, tepatnya tanggal 18 April 1955 dan juga Enrico Fermi yang wafat pada tanggal 28 November 1954. Karena itulah mereka menamakan nomor atom 99 dengan nama Einsteinium (simbol E) dan unsur dengan nomor atom 100 dengan nama Fermium (simbol Fm). Penemuan unsur-unsur baru tersebut diumumkan oleh Albert Ghiorso pada Konferensi Jenewa pertama yang diselenggarakan pada 8 Agustus 1955. Simbol Einsteinium akhirnya diubah dari E menjadi Es.

Eksperimen reaksi elektrolisis

12

Daftar Pustaka

Purba, Michael. 2006. Kimia untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga Utami, Budi. 2006. Kimia untuk SMA/MA Kelas XII Program IPA. Jakarta: CV. Haka MJ http://bisakimia.com/2012/12/20/apa-itu-einsteinium/ http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/einsteinium/ http://id.wikipedia.org/wiki/Tembaga%28II%29_sulfat http://id.wikipedia.org/wiki/Natrium-Klorida

Eksperimen reaksi elektrolisis