Anda di halaman 1dari 8

BERSATULAH UNTUK INDONESIA Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.

Kita hanya bisa menjadi bangsa yang besar, jika kita bersatu. Tanpa persatuan kita bukanlah apa-apa Indonesia adalah negara yang sangat besar dengan total luas 5.193.250 km dan terdiri dari 17.508 pulau. Tetapi bukan sekedar ukuran fisik, Indonesia juga sangat besar jika kita tinjau dari segi keragaman budaya. Bagaimana tidak, di Indonesia terdapat 1.340 suku bangsa (BPS 2010), dengan bermacam bahasa, budaya, adat-istiadat, agama, ras, dan golongan. Keragaman ini tentu merupakan berkah dan kebanggan bagi kita. Kebanggan yang seharusnya membawa Indonesia kepada persatuan dan kesatuan yang kokoh. Sebagaimana yang tercantum dalam semboyan negara kita Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tapi tetap satu. Namun saat ini semangat persatuan dalam perbedaan itu perlahan mulai hilang, seiring dengan derasnya perkembangan paham globalisasi dan modernisasi. Masyarakat tidak lagi menjadikan perbedaan sebagai pemersatu, justru sebagai dinding pemisah satu dengan yang lainnya. Semangat toleransi dan gotong royong yang dulu selalu mewarnai kehidupan masyarakat indonesia, kini mulai memasuki babak krisis. Ego diri dan kelompok justru menjadi ambisi, tanpa peduli dengan orang atau kelompok lain. Menurut data yang dikeluarkan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi pada rapat kooordinasi nasional Komunitas Intelijen Daerah (Kominda) tahun 2013 di Jakarta, selama tiga tahun terakhir tejadi peningkatan eskalasi konflik sosial di tengah masyarakat. Konflik konflik tersebut umumnya terjadi karena benturan yang benuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Tercatat selama tahun 2010 hingga awal September tahun 2013 telah terjadi 351 konflik sosial. Ini berarti tiap minggu setidaknya ada dua konflik sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Diantaranya adalah konflik Sunni-Syiah di Sampang, Madura pada tahun 2012 yang menyebabakan ratusan orang harus kehilangan tempat tinggal dan

ribuan lainnya harus mengungsi. Konflik serupa juga pernah terjadi di Lampung Selatan, Dompu, Ambon, Bekasi, Makassar, Papua, Johor Baru, dan di daerahdaerah lainnya di Indonesia. Serta, yang terbaru adalah konflik/bentrok antar warga dan FPI di Lamongan yang terjadi pada tanggal 12 Agustus 2013. Peristiwa lainnya yang juga perlu menjadi perhatian kita adalah penembakan para polisi oleh kelompok misterius yang baru-baru ini mengguncang Jakarta. Tercatat sudah empat polisi yang tewas tertembak dan belasan lainnya terluka. Terakhir adalah penembakan Aipda (Anumerta) Sukardi. Polisi berumur 47 tahun ini ditembak oleh orang tidak dikenal di depan gedung KPK ketika ia dalam tugas pengawalan dengan menaiki sepeda motor. Sungguh sangat ironis, bagaimana bisa polisi yang pada hakikatnya sebagai aparatur negara justru menjadi sasaran timah panas para kelompok tidak dikenal. Kewibawaan negara seakan tidak ada lagi. Memang, belum ada kepastian apapun mengenai motif penembakan tersebut. Tapi jika kita lihat sekilas, kita bisa mengatakan bahwa ini adalah bentuk perlawan dan pemberontakan dari orangorang yang tidak se-visi dan tidak se-misi dengan negara. Secara lebih luas kita juga dapat mengatakan bahwa ini adalah wujud dari ketidakharmonisan yang terjadi dalam masyarakat. Kenyataannya kondisi Indonesia yang majemuk dengan begitu banyak keragaman dan perbedaan belum mampu disadari dan dihayati keberadaannya oleh masyarakat. Berbagai perbedaan yang terjadi justu seringkali dianggap sebagai sebuah ancaman bagi kerukunun. Hal ini terlihat jelas dengan banyaknya konflik horizontal yang terjadi di masyarakat. Konflik ini terjadi bukan semata karena adanya suatu permasalahan hukum ataupun perbuatan kriminal serta asusila, tapi lebih karena masyarakat belum bisa menerima perbedaan yang ada di tengah-tengahnya baik itu sosial, ekonomi, dan terlebih agama. Konflik yang bernuansa agama berkolerasi kuat dengan faktor non agama. Agama biasanya merupakan faktor pemicu kerusuhan yang sebelumnya didahului oleh konflik yang bernuansa ekonomi. Perubahan politik dan sosial yang terjadi begitu cepat, terutama setelah masa reformasi juga turut memperkuat polarisasi

konflik sosial termasuk konflik antar kelompok umat beragama. Begitu juga kesenjangan dan keterbelakangan masyarakat semakin memperkeruh

disharmonisasi, serta dapat mengancam tatanan sosial dan tatanan hubungan kelompok masyarakat. Indikasi ini terlihat dengan tumbuh suburnya berbagai organisasi kemasyarakatan, agama, profesi, dan organisasi lainnya. Contoh seperti FPI, Laskar Jihad, FBR dan kelompok lainnya. Kelompok-kelompok ini dalam prakteknya justru sering melakukan tindakan inkonstitusional dan melawan hukum yang memicu api perpecahan. Beragam kelompok ini secara sosial menyebabkan tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai baru melalui berbagai proses yang menuntut adanya institusionalisme kepentingan. Selain itu saat ini juga sedang terjadi fenomena etnosentrisme di tengah masyarakat. Dimana masing-masing kelompok atau orang menganggap hanya kelomponya saja dan hanya golongannya saja yang terbaik, sementara yang lain jelek, salah, dan penuh kekurangan. Selain itu juga tengah muncul fenomena stereotipe. Fenomena ini mengembangkan gambaran mengenai tipe-tipe masyarakat tertentu dengan karakteristik tertentu. Misalnya orang Batak itu kasar, orang Padang itu licik, dan orang Jawa itu lemah. Inilah fakta dari sebagian permasalahan bangsa yang memerlukan perhatian dan penanganan dari kita bersama. Tentu kita tidak ingin negara kita terus terpuruk dengan berbagai macam konflik dan kekacauan. Jika hal itu terjadi bukan tidak mungkin negara ini akan bernasib sama dengan negara-negara di Timur Tengah yang kini tengah dilanda gelombang perpecahan dan kehancuran. Hal itu terjadi karena mereka tidak bisa bersatu. Mereka justru memilih untuk terlarut dalam konflik saudara yang berkepanjangan dan berakhir pada perpecahan dan kehancuran. Oleh karena itu, inilah saatnya kita harus memahami bahwa kita ingin persatuan , kita butuh kesatuan, dan kita mengidamkan keharmonisan. Meskipun kita berbeda suku, berbeda agama, berbeda bahasa, berbeda partai politik, tapi kita

tetap satu sebagai warga negara Indonesia. Hal ini sesuai dengan bunyi sila ke-3 Pancasila Persatuan Indonesia. Perbedaan tak sepantasnya kita jadikan tembok pemisah. Perbedaan justru harus kita jadikan sebagai alat pemersatu. Kita harus memahami bahwa sesungguhnya perbedaan itu adalah berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana firmannya dalam kitab suci Al-Quran yang mengatakan bahwa jika Ia berkehendak maka Ia dapat saja menjadikan umat manusia itu satu. Tapi ia bermaksud agar manusia itu bisa saling mengenal dan bisa saling memahami (Hud :118). Adanya perbedaan menjadikan adanya persatuan. Keduanya adalah mata koin yang tak bisa terpisahkan. Jika tidak ada perbedaan tentu tidak ada persatuan, karena tidak ada yang bersatu, semuanya telah sama. Perbedaan justru membuat kita semakin bewarna, semakin dekat, dan semakin padu sebagai sebuah bangsa. Oleh karenanya, perbedaan harus kita jadikan pemacu persatuan dan bukan penyulut perpecahan. Ketika kita terpecah, dampak pastinya adalah pertumbuhan dan pembangunan nasional pasti akan terhambat. Tapi jika kita bersatu dan mau untuk hidup harmonis pastinya pertumbuhan dan pembangunan nasional akan semakin cepat terwujud. Hal ini jelas bukanlah kalimat klise tetapi memang terbukti adanya. Dalam skala kecil hal ini bisa kita amati ketika kepengurusan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) terpecah dibawah kepemimpinan Djohar Arifin yang terjadi adalah persepakbolaan kita hancur, kalah terus. Bukannya buat bangga, justru buat malu. Tapi, lihatlah sekarang, setelah PSSI kembali bersatu, perlahan persepakbolaan kita mulai bisa maju kembali. Hal tersebut juga dapat terjadi dalam negara kita. Oleh karenanya kita harus mampu mengelola perbedaan dengan sebaik-baiknya sehingga kita dapat hidup harmonis di dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Supaya keharmonisan di tengah perbedaan dapat tetap terpelihara, hal yang paling utama diperhatikan adalah toleransi. Toleransi diartikan sebagai sikap

menghargai pluralitas dan keanekaragaman yang ada dalam masyarakat. Hal ini dapat diwujudkan misalnya dengan : 1. Menghargai pendapat/pendirian/identittas golongan lain, 2. Tidak memaksakan pendapat/pendirian/identitas kepada golongan lain, 3. Menjaga hubungan baik dengan golongan lain, serta 4. Meningkatkan pemahaman tentang golongan sendiri dan golongan lain. Jika toleransi ini benar-benar mampu kita laksanakan, maka hidup harmonis yang menjadi cita-cita ideal bangsa Indonesia bisa terwujud. Tentu hal ini bukan sesuatu yang instan tetapi membutuhkan waktu dan proses yang intensif dan berkelanjutan, tetapi bukan berarti pula kita tidak bisa melakukannya. Suatu cita-cita memang tak mungkin dengan mudah diraih, tapi butuh usaha, butuh keringat, dan butuh perjuangan. Usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam menumbuhkan keharmonisan tersebut adalah : 1. Melalui Pendidikan Berbasis Multikultural. Sebagaimana kita ketahui bahwa pendidikan dapat membentuk karakter dan pola pikir. Oleh karenanya pendidikan yang diberlakukan harus mampu untuk menciptakan manusia-manusia yang berkarakter cinta Indonesia dan memiliki pola pikir untuk bersatu. Nah, hal tersebut dapat terwujud manakala pendidikan yang diberlakukan adalah pendidikan berbasis multikultur. Artinya, pendidikan tidak hanya mengangkat kekhasan daerah sebagaimana halnya pendidikan berbasis masyarakat, tetapi mengangkat Indonesia secara utuh dan lengkap dengan segala keragamannya. Pendidikan yang hanya berbasis masyarakat cenderung akan menciptakan rasa ego bagi peserta didiknya yang berakhir pada rasa cinta daerah yang berlebih. Sehingga seringkali menomorduakan kepentingan nasional dibanding kepentingan daerah atas nama semangat otonomi daerah. Hal ini memang akan mendorong kemajuan daerah, namun di sisi lain menyebabkan kesenjangan ditingkat negara. Pendidikan multikultur diharapkan mampu menghasilkan manusiamanusia yang sadar dan memahami bahwa perbedaan adalah sebuah realitas kehidupan yang harus diterima dan dikelola dengan baik. Sehingga mereka

mampu beradaptasi dan hidup dengan harmonis meskipun di lingkungan kebudayaan yang berbeda dengan yang dimilikinya 2. Pengeluaran Kebijakan-Kebijakan Pemerintah Yang Dapat Mengayomi Seluruh Kalangan Masyarakat. Pemerintah selaku pemegang dan penyelenggara kekuasaan harus memahami keberagaman budaya dan bersedia menerima bahwa tidak seharusnya ada kekuasaan primodial yang mendominasi kebijakan pemerintah. Pemerintah, melalui program pembangunan, harus mampu menjadi pengayom bagi semua kelompok masyarakat sehingga tidak timbul kesan pilih kasih. Selain itu, kebijakan pemerintah diharapkan juga dapat menghapus kesenjangan yang terjadi dalam masyarakat. Jika pemerintah dapat berlaku demikian, tentu masyarakat akan merasa nyaman, merasa diperlakukan dengan baik, sehingga Negara akan terhindar dari berbagai konflik, justru menuju masyarakat yang harmonis. 3. Penanaman Rasa Nasionalisme Kepada Masyarakat. Nasionalisme berarti rasa cinta terhadap tanah air. Ketika rasa nasionalisme di tengah masyarakat telah terbentuk maka secara tidak langsung timbullah semangat membara untuk mempertahankan kesatuan. Hal ini terlihat jelas dari sejarah para pahlawan Indonesia. Mereka bersatu dan berani mengorbankan seluruh harta dan nyawa demi Indonesia. Semangat ini terjadi karena rasa nasionalisme mereka yang sangat tinggi. Rasa cinta yang mengalahkan rasa takut, melunturkan rasa ego, dan menyatukan beragam perbedaan. Rasa nasionalisme haruslah dibangun sejak dini. Kecintaan dan kebanggan sebagai bangsa Indonesia adalah faktor utama dalam menciptakan keharmonisan masyarakat. Ketika rasa nasionalisme sudah terbentuk, setiap individu akan memahami bahwa seluruh individu yang ada di Indonesia ini adalah bagian dari dirinya, baik itu suku Jawa, Papua, Kalimantan, Sumatera, Maupun Sulawesi, semuanya sama sebagai warga Negara Indonesia. Rasa nasionalisme dapat dibentuk dengan menciptakan rasa bangga terhadap tanah air. Rasa bangga ini dapat diusahakan dengan melakukakan eksplorasi-ekspolarasi akan berbagai keunggulan Indonesia, baik dari segi keragaman budaya, keindahan alam, keunggulan teknologi, maupun olahraga.

Selain itu, rasa nasionalisme juga dapat dibentuk dengan mempelajari sejarah. Sejarah yang dimaksud dapat berupa sejarah perjuangan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan dapat pula sejarah mengenai kejayaan-kejayaan bangsa Indonesia di masa yang dulu. Dengan demikian, maka akan terbentuk ikatan batin dan historis terhadap Indonesia. Masyarakat akan menyadari bahwa dalam menyatukan Indonesia ada banyak darah mengucur, banyak nyawa yang hilang. Oleh karenanya semangat untuk tetap bersatu akan kembali bangkit dalam diri setiap individu. 4. Pembelajaran Akan Keanekaragaman Indonesia Hal utama yang menjadi tujuan dari pembelajaran ini adalah agar setiap masyarakat dapat memahami dan mengerti keanekaragaman Indonesia. Sehingga timbul pemahaman dan apresiasi yang benar terhadap berbagai perbedaan tersebut. Pada akhirnya akan muncul pola pikir bahwa perbedaan itu sesungguhnya adalah bagian dari dirinya yang harus dijaga dan dipelihara sebagai suatu kekayaan yang luar biasa. Dengan demikian perbedaan tidak lagi dipandang sebagai suatu jurang pemisah tetapi justru sebagai pengerat persatuan Pembelajaran ini juga harus dilakukan dengan cara yang menarik dan sesuai dengan segmennya. Misalnya untuk remaja, pembelajaran akan keanekaragaman dapat dibuat dengan pendekatan yang menarik dan berbau teknologi. Misalnya membuat software-software berbau budaya contohnya suling dan gamelan elektronik, membuat film animasi yang bercerita tentang budaya contohnya cerita kabayan, ataupun membuat forum diskusi dan webpage di internet yang membicarakan keanekaragaman budaya Indonesia, dan masih banyak contoh-contoh lainnya lagi. Intinya, pembelajaran tersebut haruslah komunikatif, sesuai dengan perkembangan zaman, dan tidak kaku atau membosankan. 5. Menjadikan Keragaman Sebagai Nilai Tambah Keragaman yang kita miliki pada dasarnya jika dapat kita kelola dengan baik, maka tentu akan menjadi sesuatu yang bermanfaat dan menguntungkan. Misalnya dalam hal budaya, dengan ribuan budaya yang kita miliki maka sangat berpotensi untuk meningkatkan kunjungan pariwisata. Ketika perbedaan itu justru

dapat menghasilkan suatu nilai tambah, maka masyarakat akan merasa senang bahkan dan bangga akan perbedaan tersebut. Sehingga masyarakat dapat hidup harmonis dan saling menghargai Nah, jika keempat hal tersebut dapat dijalankan, maka perbedaanperbedaan yang terjadi dapat dikelola dengan baik serta menjauhkan kita dari lembah perpecahan. Dengan kata lain, masyarakat harmonis yang selalu kita idam-idamkan akan segera terwujud dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara Kita menyadari bahwa sebagai negara yang masyarakatnya majemuk, Indonesia sangat rentan terhadap konflik dan perpecahan. Namun apakah kita ingin terus terjebak dalam konflik dan perpecahan itu,?. Tentu jawabannya tidak. Konflik dan perpecahan takkan menghasilkan satu manfaat pun bagi kita. Ibarat pepatah mengatakan menang jadi abu, kalah jadi arang. Oleh karena itu sudah saatnya kita masyarakat Indonesia tidak lagi menjadikan perbedaan sebagai tembok pemisah. Tapi marilah kita jadikan perbedaan sebagai suatu media untuk semakin mempererat kesatuan bangsa Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika.