Anda di halaman 1dari 20

Tubuh manusia memiliki sistem regulasi atau perangkat pengatur kegiatan tubuh yang terdiri dari sistem saraf,

sistem indra, dan sistem hormon. Ketiga sistem tersebut berperan dalam iritabilitas tubuh. Sistem saraf bekerja dengan cepat untuk menanggapi adanya perubahan lingkungan yang merangsangnya. Pengaturan sistem saraf dilakukan oleh benangbenang saraf. Sistem hormon mengatur pertumbuhan, keseimbangan internal, reproduksi, serta tingkah laku. Hormon bekerja jauh lebih lambat, tetapi beraturan dalam jangka waktu yang lama. Pengangkutan hormon dilakukan oleh pembuluh darah. Sistem indra merupakan reseptor rangsang dari luar. Alat indra meliputi mata, telinga, kulit, hidung, dan lidah. Di dalam tubuh manusia terdapat bermacam-macam reseptor untuk mengetahui rangsangan-rangsangan dari luar atau disebut juga eksteroseptor. Eksteroseptor itulah yang lazim disebut sebagai alat indra. Terdapat lima macam indra yang dalam bahasa Sanskerta disebut panca budi indriya, dan dalam bahasa Indonesia lebih dikenal sebagai panca indra, yakni : Indra Penglihat (Mata) Indra Pengecap (Lidah) Indra Pembau (Hidung) Indra Pendengar (Telinga) Indra Peraba Dan Perasa (Kulit)

Nah, mata merupakan alat indra yang Gambar 1.1 berguna untuk menglihat. Dengan mata kita Panca Indra bisa melihat segala objek, yang telah diciptakan tuhan kepada kita. Secara konstan mata menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk, memusatkan perhatian pada objek yang dekat dan jauh serta menghasilkan gambaran yang kontinu yang dengan segera dihantarkan ke otak.

MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN

A.

Anatomi dan Fungsi Mata

Mata adalah cerminan jiwa, demikian kata pepatah. Dengan mata kita bisa melihat begitu banyak hal. Mulai dari orang tua, teman, sekolah, gunung, dan segalanya. Sehingga tidak ada salahnya jika kita membahas secara tuntas anatomi dan fisiologi mata. Anatomi dan fisiologi mata perlu kita ketahui lebih dalam, untuk mempelajari lebih lanjut kelainan-kelanainan yang biasa diderita yang berkaitan dengan kelainan pada mata. Mata adalah organ indra yang memiliki reseptor peka cahaya yang disebut fotoreseptor. Setiap mata mempunyai lapisan reseptor, sistem lensa untuk memusatkan cahaya pada reseptor, menghantarkan impuls dari reseptor ke otak. Gambar 2.1 Mata dan sistem saraf untuk

A.1 Organ luar


Struktur di sekitar mata melindungi dan memungkinkan mata bergerak secara bebas ke segala arah. Struktur tersebut melindungi mata terhadap debu, angin, bakteri, virus, jamur dan bahan-bahan berbahaya lainnya, tetapi juga memungkinkan mata tetap terbuka sehingga cahaya masih bisa masuk. Organ Luar ini terdiri atas: a. Orbita Orbita adalah rongga bertulang yang mengandung bola mata, otot-otot, saraf, pembuluh darah, lemak dan struktur yang menghasilkan dan mengalirkan air mata. b. Kelopak mata Secara anatomis, kelopak mata terdiri atas lempeng penyokong di bagian tengah yang terdiri dari jaringan ikat dan otot rangka yang diliputi kulit di bagian luar dan

MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN

Secara struktral anatomis, bola mata berdiameter 2,5 cm dimana 5/6 bagiannya terbenam dalam rongga mata, dan hanya 1/6 bagiannya saja yang tampak pada bagian luar. Mata kita terdiri dari dua organ, yakni organ dalam dan organ luar.

suatu membran mukosa di dalam. Kelopak mata di bentuk dari lipatan kulit lunak yang berfungsi untuk melindungi dan menutupi mata. Kulit di bagian depan merupakan kulit tipis dengan rambut kecil, kelenjar keringat, kelenjar sebasea dan suatu dermis yang terdiri dari jaringan ikat halus yang banyak serat elastin. Dermis lebih padat pada tepi kelopak mata dan disini mengandung tiga atau empat baris rambut panjang yang kaku disebut bulu mata, yang menembus dalam ke dermis. Di antara dan sebelah belakang bulu mata terdapat kelenjar apokrin yang saluran keluarnya bermuara pada folikel bulu mata disebut kelenjar Moll. Di bawah kulit terdapat lapisan otot lingkar mata (muskulus orbikularis okuli) yang merupakan otot rangka. Bagian atau berkas serat otot ini yang berada di belakang saluran keluar kelenjar Meibom disebut muskulus siliaris Riolani. Di bagian tengah palpebra terdapat jaringan ikat fibrosa yang menjadi kerangka kelopak mata yang disebut tarsus. Tarsus ini tebal pada pangkal kelopak mata dan makin ke ujung makin semakin sempit. Di dalam tarsus terdapat untaian kelenjar sebasea yang disebut kelenjar Meibom yang bermuara bersama ke dalam satu saluran keluar dan tidak berhubungan dengan folikel rambut. Epitel konjungtiva makin ke pangkal makin tinggi dan di dalam forniks terdapat lipatan mukosa. Beberapa penyakit yang terkait dengan kelopak mata antara lain ptosis atau kelopak mata bergantung, yang dalam kebanyakan kasus terjadi apabila otot levator palpebrae tidak cukup kuat untuk menyangga kelopak mata. Penanganan atas keadaan patologis ini dapat dilakukan dengan operasi bedah menggunakan anestesi lokal, dan keadaan mata dapat membaik setelah operasi. Gambar 2.2 Ptosis mata c. Bulu mata Bulu mata merupakan rambut pendek yang tumbuh di ujung kelopak mata dan berfungsi membantu melindungi mata dengan bertindak sebagai barrier (penghalang). d. Kelenjar kecil Gambar 2.3 Bulu mata

Kelenjar kecil di ujung kelopak mata menghasilkan bahan berminyak yang mencegah penguapan air mata. e. Kelenjar Lakrimal

Kelenjar lakrimal utama terletak pada sudut superolateral rongga mata. Ukurannya sebesar biji kenari, tubuloasinar dan serosa, dengan sel mioepitel yang

MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN

menyolok. Lobus kelenjar yang terpisah mencurahkan isinya melalui 10-15 saluran keluar ke dalam bagian lateral forniks superior konjungtiva. Juga ditemukan banyak kelenjar lakrimal tambahan/assesoris dalam lamina propria kelopak mata atas dan bawah. Kelenjar lakrialis menghasikan air mata. Air mata mengandung banyak air dan lisosim suatu zat anti bakteri. Air mata berfungsi untuk memelihara agar epitel konjungtiva tetap lembab, kedipan kelopak mata akan menyebabkan air mata tersebar di atas kornea seperti wiper pada kaca mobil dan berguna untuk mengeluarkan benda asing seperti partikel debu. Penguapan air mata yang berlebihan dicegah oleh suatu lapisan/film mukus (dari sel goblet konjungtiva tarsal) di atas film air dan minyak (dari kelenjar meibom). Air mata disapukan ke arah medial dan kelebihannya memasuki pungta lakrimal (lacrimal puncta) yang terletak disetiap sudut medial palpebra superior dan inferior. Dari sini air mata kemudian masuk ke kanalikuli lakrimal (lacrimal canaliculi), dan akhirnya masuk sakus lakrimal. Dinding kanalikuli lakrimal tersusun oleh epitel bertingkat silindris bersilia. Sakus lakrimalis merupakan bagian superior duktus nasolakrimalis yang melebar. Air mata kemudian masuk ke duktus nasolakrimal yang juga dilapisi epitel bertingkat silindris bersilia. Dari sini air mata kemudian dikeluarkan ke meatus inferior yang terletak di dasar rongga hidung. Ini yang menyebabkan mengapa pada saat menangis, hidung pun ikut menangis, karena rongga yang dilewati oleh air mata adalah dasar ronggga hidung. Gambar 2.4 Kelenjar Lakrimalis MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN

A.2 Organ dalam


Organ dalam mata berupa bola mata yang terdiri dari beberapa organ yang bekerjasama untuk mengantarkan cahaya dari sumbenya menuju ke otak untuk dapat dicerna oleh sistem saraf manusia. Bola mata dibagi menjadi 3 lapisan, dari luar ke dalam yaitu tunica fibrosa, tunica vasculosa, dan tunica nervosa. Tunica vibrosa terdiri dari sklera. sklera merupakan lapisan luar yang sangat kuat. Tunica vasculosa merupakan bagian tengah bola mata, urutan dari depan ke belakang terdiri dari iris, corpus ciliaris dan koroid. Tunica nervosa (retina) merupakan reseptor pada mata yang terletak pada bagian belakang koroid. Bagian ini merupakan bagian

Gambar 2.5 Lapisan mata

terdalam dari mata. Lapisan ini lunak, namun tipis, hampir menyerupai lapisan pada kulit bawang. Anatomi mata terdiri dari Konjungtiva, sclera, kornea, koroid, badan siliaris, iris, pupil, lensa, retina, fovea, bintik kuning, bintik buta, vitrous homor, aqueous humor, serta otot, saraf dan pembuluh darah mata.
a. Konjungtiva

Gambar 2.6 Anatomi mata

Selaput transparan yang melapisi kornea dan bagian dalam kelopak mata disebut konjungtiva. Selaput ini peka terhadap iritasi. Konjungtiva penuh dengan pembuluh darah dan serabut saraf. Radang konjungtiva disebut konjungtivitis. Untuk mencegah kekeringan, konjungtiva dibasahi dengan cairan yang keluar dari kelenjar air mata (kelenjar lakrimal) yang terdapat di bawah alis. Air mata mengandung lendir, garam, dan antiseptik dalam jumlah kecil. Air mata berfungsi sebagai alat pelumas dan pencegah masuknya mikroorganisme ke dalam mata.
b. Sklera

Sklera merupakan jaringan ikat dengan serat yang kuat dan berwarna putih buram (tidak tembus cahaya). Sklera berfungsi untuk melindungi bola mata dari kerusakan mekanis dan menjadi tempat melekatnya bola mata.
c. Kornea

Fungsi kornea mata: 1. Merefraksikan cahaya yang diterima dari sumber cahaya kemudian diteruskan kedalam organ mata lainnya. 2. Mengabsorbsi (menyerap) oksigen dari dalam dan luar tubuh. Dari dalam tubuh oksigen yang dibawa oleh darah langsung diakumulasi oleh kornea mata, diserap untuk kemudian bereaksi di dalam kornea mata hingga seluruh oksigen terkonsumsi. Dari luar, oksigen akan masuk dari atmosfir dengan tekanan yang setara dengan atmosfir dan kemudian masuk ke kornea melalui proses difusi. Mengapa harus dari dalam dan luar? Ini memang suatu proses untuk menjaga kesetimbangan kimia dalam kornea itu sendiri,juga menjaga agar kornea tidak dehidrasi ataupun kekurangan oksigen untuk dikonsumsi.

MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN

Kornea mata merupakan organ mata yang terletak di bagian luar bola mata yang langsung menerima cahaya dari sumber cahaya. Kornea mata berupa struktur transparan yang menyerupai kubah, merupakan pembungkus dari iris, pupil dan bilik anterior yang membantu memfokuskan cahaya. Kornea mata merefraksikan cahaya masuk kedalam organ-organ mata lainnya.

Karena berada paling luar dari organ mata, sehingga kornea mata rentan mengalami gangguan seperti penipisan kornea mata. Penipisan kornea mata disebut keratokonus. Keratokonus terjadi secara bertahap, dimana kornea seakan-akan mengerucut sehingga menyebabkan cahaya yang masuk dimata berkurang. Hal ini mengakibatkan juga akan mengurangi penglihatan. Gangguan ini termasuk langka, dan belum diketahui apa yang menyebabkannya secara pasti. Penyakit ini Gambar 2.7 Kornea biasanya menyerang diusia senja. Kemungkinan penyebabnya antara lain kelainan kornea bawaan, faktor lingkungan seperti debu dan polusi yang membuat kita sering menggosok mata, serta penyakit mata tertentu.
d. Koroid

Koroid berwarna coklat kehitaman sampai hitam. Koroid merupakan lapisan yang berisi banyak pembuluh darah yang memberi nutrisi dan oksigen terutama untuk retina. Warna gelap pada koroid berfungsi untuk mencegah refleksi (pemantulan sinar).
e. Badan siliaris

Di bagian depan, koroid membentuk badan siliaris yang berlanjut ke depan membentuk iris yang berwarna. Badan siliaris membentuk ligamentum yang berfungsi mengikat lensa mata. Kontraksi dan relaksasi dari otot badan siliaris akan mengatur cembung pipihnya lensa. Badan siliaris juga berfungsi untuk mengsekreskan aqueus humor.
f. Iris mata/Selaput Pelangi

Secara anatomis, iris mata merupakan bagian yang paling depan dari lapisan fuvea. Struktur ini muncul dari badan siliar dan membentuk sebuah diafragma di depan lensa. Iris mata juga memisahkan bilik mata depan dan belakang. Celah di antara iris kiri dan kanan dikenal sebagai pupil. Iris mata disusun oleh jaringan ikat longgar yang mengandung pigmen dan kaya akan pembuluh Gambar 2.8 Iris mata darah. Permukaan depan iris yang menghadap bilik mata depan (kamera okuli anterior) berbentuk tak teratur dengan lapisan pigmen yang tak lengkap dan sel-sel fibroblas. Permukaan posterior iris tampak halus dan ditutupi oleh lanjutan dua lapisan epitel yang menutupi permukaan korpus siliaris. Permukaan yang menghadap ke arah lensa mengandung banyak sel-sel pigmen yang

MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN

akan mencegah cahaya melintas melewati iris. Dengan demikian cahaya akan terfokus masuk melalui pupil. Pada iris mata terdapat 2 jenis otot polos, yaitu otot dilatator pupil dan otot sfingter/konstriktor pupil. Kedua otot ini akan merubah diameter pupil. Otot dilatator pupil yang dipersarafi oleh persarafan simpatis akan melebarkan pupil, sementara otot sfingter pupil yang dipersarafi oleh persarafan parasimpatis (N. III) akan memperkecil diameter pupil. Jumlah sel-sel melanosit yang terdapat pada epitel dan stroma iris mata akan mempengaruhi warna mata. Bila jumlah melanosit banyak mata tampak hitam, sebaliknya bila melanosit sedikit mata tampak bewarna biru. Jadi melanosit inilah yang mengatur warna mata.
g. Pupil

Pupil mata atau biasa disebut dengan anak mata merupakan celah yang berbentuk lingkaran yang lerletak di tengah-tengah iris. Pupil berfungsi sebagai sebagai jalan pengatur keluar masuknya cahaya ke dalam mata. Cahaya yang masuk kedalam mata melalui pupil di teruskan Gambar 2.9 Pupil ke retina. Cahaya yang diterima pupil disaring terlebih dahulu sebelum diterukan ke retina. Bila cahaya yang datang menyilaukan, pupil akan menyempit sehingga pupil terlihat mengecil dari luar. Sebaliknya, bila cahaya yang masuk kemata terlalu sedikit, maka pupil akan melebar/membesar untuk menyerap sinar yang sebesar-besarnya. Selain menyaring cahaya, pupil juga dapat memberitahukan kondisi psikologis seseorang. Seseorang yang berbohong misalnya, maka pupil akan melebar/membesar. Bila seseorang dalam keadaan emosi, marah atau dalam keadaan senang pupl juga akan membesar. Demikian pula untuk melihat seseorang sudah meninggal, maka dapat dilihat dari ukuran pupil yang melebar/membesar. Kondisi pupil yang mengecil, manandakan hati dalam keadaan sedang dan tenang (dalam keadaan normal).
h. Lensa

Lensa mata merupakan kaca alami yang sangat vital bagi penglihatan manusia. Lensa mata tersusun dari elemen-elemen penting penglihatan, tetapi lensa mata sendiri tidak mengandung pembuluh darah. Lensa mata digantung ke korpus siliaris oleh penggantung lensa yang dikenal sebagai zonula Zinii. Lensa mata terdiri atas tiga lapisan yaitu kapsul lensa, epitel subkapsul dan serat-serat lensa. Kapsul lensa merupakan lamina basal yang umumnya disusun oleh serat-serat kolagen tipe IV dan glikoprotein. Kapsul ini elastik, jernih dan kompak. Epitel subkapsul hanya terdapat pada permukaan anterior lensa tepat di bawah kapsul lensa. Epitelnya terdiri atas selapis sel kuboid. Di sebelah dalam dari epitel

MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN

subkapsul terdapat serat-serat lensa yang di bentuk dari sel-sel yang kehilangan inti dan organel sel lainnya. Serat-serat ini kemudian diisi dengan protein lensa kristalin (crystallins). Adanya kristalin ini akan meningkatkan index refraksi lensa. Lensa mata sama sekali tidak mengandung pembuluh darah. Nutrisi untuk lensa mata diperoleh dari humor akweus dan korpus vitreus. Lensa mata bersifat impermeabel, tetapi dapat ditembus cahaya dengan mudah. Pada orang tua sering dijumpai kekeruhan pada lensa mata yang menyebabkan menurunnya kemampuan untuk melihat. Keadaan ini dikenal sebagai katarak. Kondisi mungkin disebabkan oleh bertumpuknya pigmen atau substansi lain dan keterpaparan sinar ultra violet secara berlebihan. Di samping itu pada orang tua terjadi suatu keadaan yang dikenal sebagai presbiopia yaitu ketidakmampuan mata untuk melihat benda-benda dalam jarak dekat yang disebabkan karena Gambar 2.10 Lensa menurunnya elastisitas lensa mata akibat proses penuaan. Sebagai akibatnya lensa mata tidak dapat mencembung guna memfokuskan bayangan benda secara tepat pada retina. Keadaan ini dapat diatasi dengan pemakaian kaca mata.
i.

Retina

Gambar 2.11 Retina Sel kerucut berfungsi menangkap bermacammacam warna cahaya yang masuk ke mata, sedangkan sel batang, hanya menangkap cahaya yang berwarna hitum putih saja. Sel kerucut lebih banyak digunakan pada siang hari dan pada tempat-tempat yang terang, sedangkan pada malam hari dan di tempat-tempat yang gelap, sel batang lebih banyak digunakan. Selain itu, kerusakan pada sel kerucut, akan menyebabkan gangguan pada mata seperti buta warna, dan hanya bisa melihat hitam putih saja. Ataupun buta warna parsial (buta warna sebagian), jika terjadi kerusakan hanya bagian-bagian tertentu saja pada reseptor sel kerucut ini.

MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN

Retina mata merupakan organ yang sangat penting dalam proses penglihatan. Retina mata mengubah sinar/cahaya yang masuk ke mata menjadi sinyal-sinyal yang akan dikirimkan ke sel saraf (otak). Retina mata sangat peka terhadap cahaya, apalagi yang berada pada area bintik kuning. Retina memiliki dua sel yang berbeda dalam menangkap cahaya yang masuk ke mata, yaitu sel batang (rod) dan sel kerucut (con).

Dari gangguan sel batang dan sel kerucut ini yang menentukan gangguan penglihatan lainnya seperti buta warna, buta warna parsial, miopi, hypermetropi, rabun senja dan lain-lain. Ini disebabkan karena kedua sel ini memegang peranan vital dalam penglihatan manusia, karena mengubah cahaya menjadi sinyal-sinyal saraf yang akan diteruskan ke otak. Retina mata tersusun atas sepuluh lapisan. Lapisan ini tersusun ke arah kornea mata, yaitu:

Gambar 2.12 Rod dan Con

1. Retinal pigment epithelium (RPE) 2. Lapisan fotoreseptor segmen dalam dan luar.(Rods/Cones) 3. Membran limitans eksterna - Lapisan yang membatasi bagian dalam fotoreseptor dari inti selnya 4. Lapisan luar inti sel fotoreseptor 5. Lapisan luar plexiformis - Pada bagian makular, ini dikenal sebagi "Lapisan serat Henle" (Fiber layer of Henle). 6. Lapisan dalam badan inti 7. Lapisan dalam plexiformis 8. Lapisan sel ganglion - Lapisan yang terdiri dari inti sel ganglion dan merupakan asal dari serat syaraf optik. 9. Lapisan serat syaraf - Yang mengandung akson - okson sel ganglion yang berjalan menuju ke nervus opticus. 10. Membran limitans interna - Tempat sel-sel Mller berpijak.
j. Fovea (Bintik Kuning)

k. Macula (Bintik Buta)

Bintik buta adalah daerah tempat saraf optik meninggalkan bagian dalam bola mata dan tidak mengandung sel kerucut dan sel batang. Bagian ini dilewati urat saraf optic dan tidak peka terhadap sinar.
l.

Vitreous humor

Vitreous humor adalah cairan jernih dan encer yang mengalir diantara lensa dan kornea (mengisi segmen anterior mata), yang merupakan sumber makanan bagi lensa dan kornea yang dihasilkan oleh prosesus siliaris. Cairan ini berfungsi untuk menyokong lensa dan menjaga bentuk bola mata
m. Aquous humor

MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN

Fovea adalah bagian retina yang mengandung sel kerucut. Ketepatan jatuhnya cahaya pada fovea diatur oleh ukuran ketebalan lensa mata

Merupakan gel transparan yang terdapat di belakang lensa dan di depan retina (mengisi segmen posterior mata). Berfungsi untuk menjaga bentuk kantong bola mata
n. Otot, Saraf dan Pembuluh darah Pada Mata

Otot Otot penggerak bola mata terdiri enam otot yaitu: 1. Muskulus oblik inferior memiliki aksi primer eksotorsi dalam abduksi, dan memiliki aksi sekunder elevasi dalam adduksi, abduksi dalam elevasi. 2. Muskulus oblik superior memiliki aksi primer intorsi dalam aduksi, dan aksi Gambar 2.13 Otot mata sekunder berupa depresi dalam aduksi, dan abduksi dalam depresi. 3. Muskulus rektus inferior memiliki aksi primer berupa gerakan depresi pada abduksi, dan memiliki aksi sekunder berupa gerakan ekstorsi pada abduksi, dan aduksi dalam depresi. 4. Muskulus rektus lateral memiliki aksi gerakan abduksi. 5. Muskulus rektus medius memiliki aksi gerakan aduksi 6. Muskulus rektus superior memiliki aksi primer yaitu elevasi dalam abduksi dan aksi sekunder berupa intorsi dalam aduksi serta aduksi dalam elevasi. Beberapa otot bekerja sama menggerakkan mata. Setiap otot dirangsang oleh saraf kranial tertentu. Tulang orbita yang melindungi mata juga mengandung berbagai saraf lainnya. Saraf Saraf pada mata memegang peranan penting dalam sistem penglihatan manusia. Semua organ tubuh, termasuk mata, digerakkan dan difungsikan oleh saraf-saraf tertentu yang bertanggungjawab terhadap organ tersebut. Saraf yang bertangungjawab terhadap mata manusia adalah saraf optikus (Nervus II). Saraf optikus adalah kumpulan jutaan serat saraf yang membawa pesan visual dari retina ke otak. Dengan adanya saraf optikus ini, maka rangsangan berupa cahaya bisa di interpretasikan di otak melalui saraf optikus. Tentunya bahwa, saraf optikus mengubah cahaya menjadi stuktur kimia/listrik agar bisa dihantarkan ke sistem saraf pusat (otak). Bagian mata yang mengandung saraf optikus adalah retina. Retina mengandung saraf-saraf cahaya dan pembuluh darah. Bagian retina yang paling sensitif adalah makula, yang memiliki ratusan ujung saraf. Banyaknya ujung saraf ini

10

MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN

menyebabkan gambaran visuil yang tajam. Retina mengubah gambaran tersebut menjadi gelombang listrik yang oleh saraf optikus dibawa ke otak. Saraf optikus menghubungkan retina dengan cara membelah jalurnya. Sebagian serat Gambar 2.14 Saraf mata saraf menyilang ke sisi yang berlawanan pada kiasma optikus (suatu daerah yang berada tepat di bawah otak bagian depan). Kemudian sebelum sampai ke otak bagian belakang, berkas saraf tersebut akan bergabung kembali. Sedangkan saraf yang menggerakkan otot bola mata adalah saraf okulomotoris (Nervus III), saraf ini bertanggungjawab terhadap pergerakan bola mata, membuka kelopak mata, dan mengatur konstraksi pupil mata. Saraf okulomotoris ini lebih banyak berperan untuk mendukung proses penglihatan yang sempurna. Misalnya, jika jumlah cahaya yang masuk kemata, maka saraf optikus akan menggerakkan iris untuk mengecilkan pupil. Kelainan pada saraf okulomotoris ini, akan menyebabkan kelainan pada pergerakan bola mata seperti mata juling dan lainlain. Saraf lainnya yang mempengaruhi fungsi mata adalah saraf lakrimalis yang merangsang dalam pembentukan air mata oleh kelenjar air mata. Kelenjar Lakrimalis terletak di puncak tepi luar dari mata kiri dan kanan dan menghasilkan air mata yang encer. Air mata mengalir dari mata ke dalam hidung melalui 2 duktus lakrimalis; setiap duktus memiliki lubang di ujung kelopak mata atas dan bawah, di dekat hidung. Air mata berfungsi menjaga kelembaban dan kesehatan mata, juga menjerat dan membuang partikel-partikel kecil yang masuk ke mata. Selain itu, air mata kaya akan antibodi yang membantu mencegah terjadinya infeksi. Kelenjar lakrimalis juga akan mengeluarkan air mata jika seseorang dalam keadaan sedih, yang biasa disebut dengan menangis. Gambar 2.15 Saraf lakrimalis Pembuluh darah Arteri oftalmika dan arteri retinalis menyalurkan darah ke mata kiri dan mata kanan, sedangkan darah dari mata dibawa oleh vena oftalmika dan vena retinalis. Pembuluh darah ini masuk dan keluar melalui mata bagian belakang.

11

MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN

B.

Mekanisme Penglihatan

Mata merupakan organ vital pada manusia. Dengan adanya indera ini, seseorang dapat menikmati gemerlapnya kehidupan dunia ini. tetapi ada sebagian orang tidak mampunyai kesempatan untuk menikmati keindahan yang ada, atau terbatasnya untuk menikmati keindahan itu karena disebabkan karena gangguan pada alat indera yang berfungsi untuk melihat. Gambar 3.1 Mata Normal

Pada dasarnya, cahaya yang mengenai mata akan melalui kornea dan diteruskan melewati aquaeus humor, pupil, lensa mata, vitreus humor, dan akan jatuh pada bintik kuning yang terapat pada retina.

Apabila cahaya mengenai retina maka rodopsin yang terdapat pada sel basilus terurai. Pembentukan kembali rodopsin memerlukan waktu dan vitamin A. Waktu yang diperlukan untuk pembentukan rodopsin ini dikenal dengan waktu adaptasi rodopsin. Pada saat pembentukan rodopsin maka kemampuan mata dalam melihat akan sedikit menurun. Sel selonus mengandung iodopsin yang merupakan senyawa retinin dan opsin. Sel-sel ini peka terhadap cahaya biru, hijau, dan merah. Kerusakan pada sel ini akan mengakibatkan buta warna. Apabila mata mampu memfokuskan cahaya tepat pada bintik kuning, maka mata tersebut dikatakan normal (emetrop).

12

MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN

Apabila cahaya yang masuk terlalu terang, pupil akan menyempit atau mengalami konstriksi. Bila cahaya redup, pupil akan melebar atau mengalami dilatasi. Cahaya yang dipantulkan ke mata masuk ke dalam retina khususnya padafovea (bintik kuning). Cahaya ini dapat terfokus ke dalam fovea karena diatur oleh lensa. Lensa mata mempunyai kemampuan untuk memipih dan mencembung. Kemampuan ini disebut daya akomodasi. Gambar 3.2 Mekanisme Penglihatan

C.

Kelainan Penglihatan

Mata dapat mengalami berbagai gangguan. Gangguan ini bisa disebabkan karena kebiasaan yang salah, faktor umur, kerusakan (trauma), dan ada juga yang disebabkan karena faktor keturunan.

1. Miopia
Bayangan yang jatuh ada di depan bintik kuning karena bentuk lensa mata terlalu cembung. Orang yang mempunyai gangguan ini tidak dapat mengamati benda-benda yang jauh. Untuk mengoreksinya dipakai lensa sferis minus atau lensa cekung. Terdapat beberapa bentuk miopia, yaitu: a. Miopia aksial Diameter antero-posterior dari bola mata lebih panjang dari normal, walaupun kornea dan kurvatura lensa normal dan lensa dalam posisi anatominya normal. Miopia dalam bentuk ini dijumpai pada proptosis sebagai hasil dari tidak normalnya besar segmen anterior, peripapillary myopic crescent dan exaggerated cincin skleral, dan stafiloma posterior. b. Miopia kurvatura Mata memiliki diameter antero-posterior normal, tetapi kelengkungan dari kornea lebih curam dari rata-rata, missal : pembawaan sejak lahir atau keratokonus, atau kelengkungan lensa bertambah seperti pada hiperglikemia sedang ataupun berat, yang menyebabkan lensa membesar. c. Miopia karena peningkatan indeks refraksi MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN Peningkatan indeks refraksi daripada lensa berhubungan dengan permulaan dini atau moderate dari katarak nuklear sklerotik. Merupakan penyebab umum terjadinya Miopia pada usia tua. Perubahan kekerasan lensa meningkatkan indeks refraksi, dengan demikian membuat mata menjadi myopik. d. Miopia karena pergerakan lensa ke anterior Keadaan ini sering terlihat setelah operasi glaukoma dan akan meningkatkan miopia pada mata.

2. Hipermetropia
Hipermetropia terjadi karena bayangan jatuh di belakang bintik kuning karena lensa mata terlalu cekung. Gangguan ini mengakibatkan orang tidak mampu melihat benda yang dekat. Gangguan seperti ini dapat diatasi dengan menggunakan lensa positif atau lensa cembung. Terdapat beberapa jenis hipermetropia, yaitu: a. Hipermetropia Aksial

13

Bola mata lebih pendek dari normal pada diameter antero-posterior, meskipun media refraksi (misalnya lensa atau kornea) normal. b. Hipermetropia kurvatura Keadaan dimana kelengkungan lensa atau kornea lebih tipis dari normal dan power refraksinya turun. Sekitar setiap 1 mm penurunan dari radius kelengkungan tersebut menghasilkan Hipermetropia 6D c. Hipermetropia indeks refraksi Terjadi penurunan indeks refraksi akibat penurunan dari densitas beberapa atau seluruh bagian dari sistem optik mata, juga penurunan power refraksi mata. Biasanya terjadi pada usia tua dan juga pada penderita diabetes terkontrol.

3. Astigmatisma
Astigmatisma adalah suatu kelainan dimana kornea tidak rata sehingga cahaya yang masuk tidak dapat difokuskan pada bintik kuning. Gangguan ini dapat diatasi dengan lensa silindris. Terdapat beberapa jenis astigmatisma, yaitu: a. Astigmatisma Reguler Secara teori, pada setiap titik pada permukaan yang lengkung, arah dari kelengkungan yang terbesar dan yang terkecil selalu terpisah 90 derajat tetapi arah ini bisa berubah saat melewati satu titik ke titik yang lain. Bila meridian utama dari astigmatisma mempunyai orientasi yang konstan pada setiap titik yang melewati pupil dan apabila ukuran astigmatisma ini sama pada setiap titik. Kondisi refraktif ini dikenal sebagai astigmatisma regular. Dan ini bisa dikoreksi dengan kacamata lensa silindris. b. Astigmatisma Irregular Suatu astigmatisma dimana sinar-sinar sejajar dengan garis pandang dibias tidak teratur. Astigmatisma irregular ini bersifat / mempunyai perubahanperubahan irregular dari tenaga refraksinya pada meridian-meridian yang berbeda. Terdapat multi meridian yang tidak dapat dianalisa secara geometris. Lensa silindris hanya sedikit memperbaiki penglihatan dalam kasus-kasus ini, tapi dapat diterapi dengan lensa kontak rigid. MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN

4. Afakia
Afakia secara literatur berarti tidak adanya lensa dalam mata. Afakia akan mengakibatkan hipermetropia tinggi. untuk mengkoreksi afakia dapat digunakan kacamata, kontak lensa, dan intraokular lensa. Penyebab afakia adalah,: a. Kongenital, Suatu keadaan yang jarang dimana lensa tidak ada sejak lahir. b. Afakia paska operasi, Terjadi setelah operasi ICCE ( Intra Capsular Cataract Extraction ), ECCE (Extra Capsular Cataract Extraction).

14

c. Post Traumatik, Diikuti oleh trauma tumpul atau tembus, yang mengakibatkan subluksasi atau dislokasi dari lensa. d. Posterior dislokasi dari lensa ke vitreus akan menyebabkan optikal Afakia. Miopia, hipermetropia, astigmatisma dan afakia di kelompokkan sebagai kelainan refreksi. Kelainan refraksi telah dilaporkan Gambar 4.1 Kelainan refraksi sebagai penyebab gangguan penglihatan yang mencolok diberbagai belahan dunia. Berdasarkan analisis WHO, diperkirakan terdapat 45 juta orang mengalami kebutaan dan 135 juta orang dengan low vision atau terdapat kurang lebih 180 juta orang dengan gangguan penglihatan diseluruh dunia dan salah satu penyebab kebutaan adalah kelainan refraksi yang tidak terkoreksi.

5. Presbiopi
Gangguan ini disebabkan oleh menurunnya daya akomodasi karena faktor usia. Gangguan ini dapat dibantu dengan menggunakan lensa bifokus.

6. Hemeralopia
Hemeralopia atau rabun senja, yaitu gangguan yang disebabkan oleh kekurangan vitamin A sehingga pembentukan rodopsin pasa saat kurang cahaya menjadi terhambat.

7. Seroftalmia
MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN Serroftalmologi (kornea mongering) dan keratomalasia (kornea mengelupas), gangguan ini akan muncul bila gejala kekurangan vitamin A terus berlanjut.

8. Buta warna
Gangguan yang berupa ketidakmampuan seseorang dalam membedakan warna cahaya ini merupakan gangguan yang bersifat menurun (diwariskan).

9. Katarak
Katarak adalah kekeruhan lensa yang normalnya transparan dan dilalui cahaya ke retina. Biasanya terjadi akibat proses penuaan tapi dapat timbul pada saat kelahiran (katarak kongenital). Dapat juga berhubungan dengan trauma mata tajam maupun tumpul, penggunaan kortikosteroid jangka panjang, penyakit sistemik, pemajanan radiasi, pemajanan yang lama sinar ultraviolet, atau kelainan mata lain seperti uveitis anterior.

Penanganan katarak harus segera dilakukan dengan tindakan yang tepat. Pembedahan dilakukan bila tajam penglihatan sudah menurun

Gambar 4.2 Katarak

15

sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari atau bila telah menimbulkan penyakit seperti glaukoma dan uveitis Terdapat beberapa jenis katarak, yaitu: a. Katarak terkait usia (katarak senilis) Katarak senilis adalah jenis katarak yang paling sering dijumpai. Satu- satunya gejala adalah distorsi penglihatan dan penglihatan yang semakin kabur. b. Katarak anak- anak Katarak anak-anak dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: 1. Katarak kongenital, yang terdapat sejak lahir atau segera sesudahnya. Banyak katarak kongenital yang tidak diketahui penyebabnya walaupun mungkin terdapat faktor genetik. 2. Katarak didapat, yang timbul belakangan dan biasanya terkait dengan sebabsebab spesifik. Katarak didapat terutama disebabkan oleh trauma, baik tumpul maupun tembus. Penyebab lain adalah uveitis, infeksi mata didapat, diabetes dan obat. c. Katarak traumatik Katarak traumatik paling sering disebabkan oleh cedera benda asing di lensa atau trauma tumpul terhadap bola mata. Lensa menjadi putih segera setelah masuknya benda asing karena lubang pada kapsul lensa menyebabkan humor aqueus dan kadang- kadang korpus vitreum masuk kedalam struktur lensa. d. Katarak komplikata Katarak komplikata adalah katarak sekunder akibat penyakit intraokular pada fisiologi lensa. Katarak biasanya berawal didaerah sub kapsul posterior dan akhirnya mengenai seluruh struktur lensa. Penyakit- penyakit intraokular yang sering berkaitan dengan pembentukan katarak adalah uveitis kronik atau rekuren, glaukoma, retinitis pigmentosa dan pelepasan retina. e. Katarak akibat penyakit sistemik Katarak bilateral dapat terjadi karena gangguan- gangguan sistemik berikut: diabetes mellitus, hipoparatiroidisme, distrofi miotonik, dermatitis atropik, galaktosemia, dan syndrome Lowe, Werner atau Down. f. Katarak toksik Katarak toksik jarang terjadi. Banyak kasus pada tahun 1930-an sebagai akibat penelanan dinitrofenol (suatu obat yang digunakan untuk menekan nafsu makan). Kortokosteroid yang diberikan dalam waktu lama, baik secara sistemik maupun dalam bentuk tetes yang dapat menyebabkan kekeruhan lensa. g. Katarak ikutan.

16

MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN

Katarak ikutan menunjukkan kekeruhan kapsul posterior akibat katarak traumatik yang terserap sebagian atau setelah terjadinya ekstraksi katarak ekstrakapsular.

10.

Tunanetra

Pengertian tunanetra mencakup tidak saja mereka yang buta, tetapi mencakup juga mereka yang mampu melihat tetapi terbatas sekali dan kurang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup sehari-hari terutama dalam belajar, jadi, individu dengan kondisi penglihatan yang termasuk "setengah melihat", "low vision", atau rabun adalah bagian dari kelompok tunanetra.

Gambar 4.3 Tunanetra

Seseorang dikatakan tunanetra bila ketajaman penglihatannya (visusnya) kurang dari 6/21. Artinya, berdasarkan tes, seseorang hanya mampu membaca huruf pada jarak 6 meter yang oleh orang berpenglihatan normal dapat dibaca pada jarak 21 meter. Berdasarkan acuan tersebut, tunanetra dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu: Buta Dikatakan buta jika sama sekali tidak mampu menerima rangsang cahaya dari luar (visusnya = 0) Low Vision Bila masih mampu menerima rangsang cahaya dari luar, tetapi ketajamannya lebih dari 6/21, atau jika hanya mampu membaca headline pada surat kabar. MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN Klasifikasi tunanetra secara garis besar a. Berdasarkan waktu terjadinya ketunanetraan: 1. Tunanetra sebelum dan sejak lahir; yakni mereka yang sama sekali tidak memiliki pengalaman penglihatan. 2. Tunanetra setelah lahir atau pada usia kecil; mereka telah memiliki kesankesan serta pengalaman visual tetapi belum kuat dan mudah terlupakan. 3. Tunanetra pada usia sekolah atau pada masa remaja; mereka telah memiliki kesan-kesan visual dan meninggalkan pengaruh yang mendalam terhadap proses perkembangan pribadi. 4. Tunanetra pada usia dewasa; pada umumnya mereka yang dengan segala kesadaran mampu melakukan latihan-latihan penyesuaian diri. 5. Tunanetra dalam usia lanjut; sebagian besar sudah sulit mengikuti latihanlatihan penyesuaian diri. b. Berdasarkan kemampuan daya penglihatan:

17

1. Defective vision/low vision; yakni mereka yang memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti program-program pendidikan dan mampu melakukan pekerjaan/kegiatan yang menggunakan fungsi penglihatan. 2. Partially sighted; yakni mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan, hanya dengan menggunakan kaca pembesar mampu mengikuti pendidikan biasa atau mampu membaca tulisan yang bercetak tebal. 3. Totally blind; yakni mereka yang sama sekali tidak dapat melihat. c. Berdasarkan pemeriksaan klinis: 1. Tunanetra yang memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 20/200 dan atau memiliki bidang penglihatan kurang dari 20 derajat. 2. Tunanetra yang masih memiliki ketajaman penglihatan antara 20/70 sampai dengan 20/200 yang dapat lebih baik melalui perbaikan. Tunanetra dapat diakibatkan oleh berbagai faktor, yaitu faktor dalam diri individu (internal) ataupun faktor dari luar individu (eksternal). Hal-hal yang termasuk faktor internal yaitu faktor-faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selama masih dalam kandungan. Kemungkinannya karena faktor gen (sifat pembawa keturunan), kondisi psikis ibu, kekurangan gizi, keracunan obat, dan sebagainya. Sedangkan hal-hal yang termasuk faktor eksternal diantaranya faktorfaktor yang terjadi pada saat atau sesudah bayi dilahirkan. Misalnya kecelakaan, terkena penyakit siphilis yang mengenai matanya saat dilahirkan, pengaruh alat bantu medis (tang) saat melahirkan sehingga sistem persyarafannya rusak, kurang gizi atau vitamin, terkena racun, virus trachoma, panas badan yang terlalu tinggi, serta peradangan mata karena penyakit, bakteri, ataupun virus. MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN Dari beberapa hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan, antara lain bahwa dalam pandangan orang berpenglihatan normal, penyandang tunanetra memiliki beberapa karakteristik. Beberapa penilaian yang termasuk negatif menyatakan bahwa Gambar 4.4 Penyandang penyandang tunanetra pada umumnya memiliki tunanetra menggunakan huruf sikap tidak berdaya, sifat ketergantungan, Braille untuk membaca memiliki tingkat kemampuan rendah dalam orientasi waktu, dan merupakan suatu kelompok minoritas, seperti halnya kelompok orang negro dengan kulit putih. Namun demikian dalam pandangan orang berpenglihatan normal, orang tunanetra juga sering memiliki kelebihan yang sifatnya positif seperti kepekaan terhadap suara, perabaan, ingatan, keterampilan dalam memainkan alat musik, serta ketertarikan yang tinggi terhadap nilai-nilai moral dan agama. Penyandang tunanetra seringkali dipandang sebagai individu yang memiliki ciri khas, diantaranya secara fisik penyandang tunanetra dapat dicirikan dengan tongkat, dog guide (anjing penuntun), menggunakan kacamata gelap, dan ekspresi wajah tertentu yang datar.

18

Info Plus

Deteksi penyakit juga dapat dideteksi melalui mata dengan tanda-tanda sebagai berikut.

Mata menonjol dapat berarti kelainan kelenjar gondok

Kelainan kelopak mata:


o o o o o

Kelopak mata menurun (kelainan saraf, usia tua, atau kencing manis). Kelopak mata tidak bisa menutup rapat (kelainan kelenjar gondok, kelainan saraf atau tumor). Kelopak mata bengkak (ginjal, jantung, alergi, dan sinusitis). Kelopak mata tidak dapat berkedip (lepra). Kelopak mata berkedip secara berlebihan (kelainan saraf/ otak).

Mata juling (gangguan saraf/otak, stroke, kencing manis, tumor, dan gondok)

Lingkaran putih disekeliling kornea pada usia muda (tingginya kolesterol).

Katarak pada usia dini (dibawah usia 61 tahun) menandakan kencing manis. Ibu hamil yang selama masa kehamilan terinfeksi campak juga dapat menyebabkan anaknya lahir dengan katarak. Demikian yang dapat saya sampaikan.

19

MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN

Mata merah o tanpa nyeri (cacingan, TBC, alergi ringan karena debu atau makanan, alergi berat karena obat, tiroid, HIV/AIDS, tumor) o dengan nyeri hebat (rematik, sifilis, sarkoidosis, lupus (penyakit), kencing manis (kadang kadang mata nyeri saat dibuka diwaktu bangun) o disertai dengan kornea yang kering dan penebalan selaput lendir (kekurangan vitamin A).

www.mediafire.com www.wikipedia.com www.phsycologic.com www.google/images.com www.blogger.com

20

MATA => ANATOMI MEKANISME KERJA - KELAINAN