Anda di halaman 1dari 65

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Keluarga adalah kumpulan dua orang / lebih hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional, dan setiap individu punya peran masing-masing (Friedman 1998). Keluarga menunjuk kepada dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan dan ikatan emosional dan yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari keluarga (Hariyanto,2005). Keluarga merupakan unit terkecil dari kelompok sosial yang merupakan faktor pendukung utama dalam memberikan bantuan baik materi maupun moril. Unit dasar ini memiliki pengaruh yang begitu kuat terhadap perubahan konsep diri seorang individu yang dapat menentukan berhasil tidaknya perawatan. Dukungan keluarga mempunyai hubungan yang kuat dengan status kesehatan anggota keluarganya (Friedman, 2010). Sebuah keluarga diharapkan dapat bertangung jawab untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan dari orang tua dan anak-anak, ini menjadi satu tugas yang sulit karena harus memprioritaskan kebutuhan individu yang beraneka ragam pada saat tertentu. keluarga merupakan unit dasar dari masyarakat. Unit dasar ini memiliki pengaruh yang begitu kuat terhadap perkembangan individu-individu yang dapat menentukan keberhasilan kehidupan individu tersebut. Keluarga berfungsi sebagai buffer atau sebagai perantara antara masyarakat dan individu, yakni mewujudkan semua harapan dan kewajiban masyarakat dengan memenuhi kebutuhan setiap anggota keluarga serta menyiapkan peran anggotanya menerima peran di masyarakat. Sebuah unit keluarga, disfungsi apa saja yang mempengaruhi satu atau lebih anggota keluarga dan dalam hal tertentu seringkali akan mempengaruhi anggota keluarga lain dan unit ini secara keseluruhan. Ada semacam hubungan antara keluarga dan status kesehatan keluarga lainnya, bahwa peran dari anggota keluarga sangat penting bagi setiap aspek perawatan kesehatan anggota keluarga secara individu, mulai dari strategi hingga fase rehabilitas. Mengkaji atau menilai keadaan memberikan perawatan kesehatan merupakan hal yang penting dalam
1 1

membantu setiap anngota keluarga untuk mencapai suatu keadaan sehat (Wellnes) hingga tingkat optimum. Melalui perawatan keluarga yang berfokus pada peningkatan ,perawatan diri (self care),pendidikan kesehatan,dan konseling keluarga,serta upaya-upaya yang berarti, dapat mengurangi resiko yang diciptakan oleh pola hidup dan bahaya dari lingkungan. Tujuan diadakannya Praktek Belajar Lapangan adalah untuk mengaplikasikan teori-teori yang didapatkan di Pendidikan dan menerapkannya pada asuhan keperawatan komunitas pada tingkat keluarga binaan. Langkah-langkah dari asuhan keperawatan keluarga adalah pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Data yang di dapat jumlah Kepala Keluarga di Desa Klumpang Kebun sebanyak 2845 KK, data jumlah Kepala Keluarga di Dusun 4 Tirta Sari sebanyak 130 KK. Penulis melakukan pengkajian pada 14 KK dan dilanjutkan dengan analisa data dan penskoringan. Berdasarkan 14 KK yang dikaji, penulis mengangkat 3 keluarga binaan yang empunyai skala prioritas tertinggi yaitu pada keluarga Tn. F, Tn.M, dan Tn.S, dan penulis mengangkat Tn.F sebagai keluarga binaan karena mempunyai skala prioritas tertinggi terhadap masalah kesehatan yaitu memiliki anggota keluarga yang memiliki masalah aktual dan disertai dengan perilaku hidup yang kurang baik dar Tn F.

1.2. Tujuan Penulisan 1.2.1. Tujuan Umum Mahasiswa Mampu Melakukan Asuhan Keperawatan Keluarga pada Tn. F Di Dusun 4 Tirta Sari Klumpang Kebun Kec. Hamparan Perak Kab. Deli Serdang Tahun 2013. 1.2.2. Tujuan Khusus 1. Mahasiswa mampu melaksanakan pengkajian pada keluarga Tn. F 2. Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada keluarga Tn.F 3. Mahasiswa mampu membuat rencana asuhan keperawatan pada keluarga Tn. F

4. Mahasiswa mampu melaksanakan implementasi keperawatan pada keluarga Tn.F 5. Mahasiswa mampu membuat evaluasi keperawatan pada keluarga Tn. F

1.3. Ruang Lingkup Ruang lingkup penulisan laporan ini penerapan asuhan keperawatan keluarga di mana Tn. F mempunyai skoring prioritas tertinggi dari ketiga keluarga yang menjadi binaan penulis yang akan dilakukan selama 4 hari mulai dari tanggal 15-18 April 2013 di Dusun 4 Tirta Sari Desa Klumpang Kebun Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang.

1.4. Metode Penulisan Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan laporan ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus, studi pustaka dan internet dimana asuhan keperawatan dilakukan melalui : 1. Teknik wawancara 2. Teknik observasi 3. Studi dokumentasi 4. Tehnik konseling

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Konsep Dasar Keluarga 2.1.1. Pengertian Keluarga merupakan unit terkecil dari kelompok sosial yang merupakan faktor pendukung utama dalam memberikan bantuan baik materi maupun moril. Unit dasar ini memiliki pengaruh yang begitu kuat terhadap perubahan konsep diri seorang individu yang dapat menentukan berhasil tidaknya perawatan (Friedman, 2010). Keluarga menunjuk kepada dua orang atau lebih yang disatukanoleh ikatan-ikatan kebersamaan dan ikatan emosional dan yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari keluarga (Hariyanto,2005). Dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat duaorang / lebih, memiliki ikatan perkawinan dan pertalian darah, hidup dalam satu rumahtangga, berinteraksi, punya peran masing-masing dan mempertahankan suatu budaya. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan bebrapa orang yang berkumpul dan tingal disuatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Depkes RI.1998).
Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan (salycion G.Bailon dan Aracelis Maglaya.1989).
Perawatan kesehatan keluarga adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang diwujudkan, ditujukan, atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau kesatuan yang dirawat dengan sehat sebagai tujuan melalui perawatan sebagai sarana/penyalur. Dari defenisi diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa keluarga adalah unit terkecil masyarakat, terdiri atas dua orang atau lebih, adanya ikatan perkawinan dan pertalian darah, hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi diantara sesama anggota keluarga, setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing, menciptakan, mempertahankan suatu kebudayaan

2.1.2. Tipe keluarga


4 4

1. Keluarga Tradisional a. Keluarga inti, terdiri dari suami, istri, dan anak. Biasanya dari keluarga yangmelakukan perkawinan pertama atau keluarga dengan orangtua campuran atauorangtua tiri. b. Pasangan inti, terdiri dari suami dan istri saja tanpa anak, atau tidak ada anak yang tinggal bersama mereka. Biasanya keluarga dengan karier tunggal atau karier keduanya. c. Keluarga dengan orangtua tunggal, biasanya sebagai konsekuensi dari perceraian. d. Bujangan dewasa sendirian. e. Keluarga besar, terdiri keluarga inti dan orang-orang yang berhubungan. f. Pasangan usia lanjut, keluarga inti dimana suami-istri sudah tua dan anakanaknyasudah berpisah. 2. Keluarga Non Tradisional a. Keluarga dengan orangtua beranak tanpa menikah, biasanya ibu dan anak. b. Pasangan yang memiliki anak tapi tidak menikah, didasarkan pada hukum tertentu. c. Pasangan yang tinggal bersama tanpa menikah. d. Keluarga Gay/lesbian, orang-orang berjenis kelamin sama hidup bersama sebagai pasangan yang menikah. e. Keluarga komunitas, keluarga yang terdiri dari lebih dari satu pasangan monogamy dengan anak-anak secara bersama menggunakan fasilitas, sumber yang sama.

2.1.3. Fungsi keluarga a. Fungsi biologis Keluarga mempunyai fungsi bilogis yaitu untuk meneruskan keturunan, memelihara dan membesarkan anak, memenuhi kebutuhan gizi keluarga , memelihara dan merawat anggota keluarga. b. Fungsi psikologis Keluarga mempunyai fungsi psikologis yaitu Untuk meneruskan keturunan, memberikan perhatian antar anggota keluarga, memberikan identitas keluarga
5

c. Fungsi sosialisasi Fungsi sosialisasi adalah fungsi yang mengembangkan proses interaksi dalam keluarga, sosialisasi dimulai sejak lahir dan keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi. Ada beberapa fungsi keluarga yaitu membina sosialisasi pada anak, membuat norma-norma, tingkah laku sesuai ditingkat perkembangan anak, meneruskan nilai-nilai budaya keluarga d. Fungsi ekonomi Fungsi ekonomi adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga, yaitu : sandang, pangan dan papan. Adapun fungsi ekonomi yaitu mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mengatur penggunaan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, menabung untuk memenuhi kebutuhankebutuhan keluarga dimasa yang akan datang misalnya pendidikan anak-anak, jaminan hari tua dan sebagainya. e. Fungsi pendidikan Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, keterampilan dan membentuk perilaku maka sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya. Mempersiapkan anak untuk (mempersiapkan) kehidupan dewasa yang akan datang dalam memnuhi perannya sebagai orang dewasa. Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya. f. Fungsi perawatan kesehatan Fungsi perawatan kesehatan adalah fungsi keluarga untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan dan merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan. g. Fungsi afektif Fungsi afektif adalah fungsi internal keluarga sehingga dasar kekuatan keluarga didalamnya terkait dengan saling mengasihi, saling mendukung dan

saling menghargai antar anggota keluarga.Dari beberapa fungsi diatas ada 3 fungsi keluarga (pokok) terhadap anggota keluarganya adalah : h. ASIH : Memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan kepada anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan usia dan kebutuhannya. i. ASUH: Memenuhi kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar kesehatannya terpelihara sehingga diharapkan menjadikan mereka anak-anak yang sehat secara fisik, mental, sosial dan spritual. j. ASAH: Memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak sehingga siap menjadi manusia dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya ( Effendy,N. 1988)

2.1.4. Tahap dan tugas perkembangan keluarga 1. Keluarga baru menikah/pemula a. Membangun perkawinan yang saling memuaskan. b. Menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis. c. Membina hubungan dengan keluarga lain: teman dan kelompok sosial. d. Adaptasi keluarga baru, Interaksi keluarga. 2. Keluarga dengan kelahiran anak pertama. a. Persiapan menjadi orang tua. b. Hubungan Seksual 3. Keluarga dengan anak usia pra sekolah. Dimulai ketika anak pertama berusia dua setengah tahun, dan berakhirketika anak berusia lima tahun. a. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga : rumah, rasa aman. b. Membantu anak untuk bersosialisasi. c. Mempertahankan hubungan yang sehat keluarga internal dan luar. d. Pembagian tanggung jawab, kegiatan untuk stimulasi perkembangan anak. 4. Keluarga dengan anak usia sekolah dimulai ketika anak pertama telah berusia enam tahun dan mulai masuk sekolah dasar dan berakhir pada usia 13 tahun, awal dari masa remaja. a. Mempertahankan keintiman pasangan.
7

b. Membantu sosialisasi anak dengan lingkungan luar c. Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan semakin meningkat 5. Keluarga dengan anak remaja a. b. c. Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua

6. Keluarga dengan anak dewasa muda a. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar b. Mempertahankan keintiman pasangan c. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat 7. Keluarga usia pertengahan a. Mempertahankan kesehatan b. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan anak c. Meningkatkan keakraban dengan pasangan 8. Keluarga usia lanjut a. Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan b. Adapts dengan kehilangan pasangan c. Mempertahankan hubungan dengan anak, social dan masyarakat d. Melakukan life review

2.1.5. Tingkat kemandirian keluarga 1. Tingkat kemandirian keluarga I (keluarga mandiri tingkat I) a. menerima petugas perawatan kesehatan masyarakat b. menerima menerima pelayanan keperawatan yang dibeerikan sesuai dengan rencana keperawatan

2. Tingkat kemandirian keluarga II (keluarga mandiri tingkat II) a. petugas perawatan kesehatan masyarakat

b. menerima pelayanan keperawatan yang dibeerikan sesuai dengan rencana keperawatan c. mengetahui dan dapat mengungkapkan masalah kesehatan secara benar d. melakukan tindakan keperawatan sederhana sesuai dengan yang dianjurkan e. memanfaatkan fasilitas kesehatan secara aktif 3. Tingkat kemandirian III (keluarga mandiri tingkat III) a. petugas perawatan kesehatan masyarakat b. menerima pelayanan keperawatan yang dibeerikan sesuai dengan rencana keperawatan c. mengetahui dan dapat mengungkapkan masalah kesehatan secara benar d. melakukan tindakan keperawatan sederhana sesuai dengan yang dianjurkan e. memanfaatkan fasilitas kesehatan secara aktif f. melakukan tindakan pencegahan sesuai dengan anjuran 4. Tingkat kemandirian IV (keluarga mandiri tingkat IV) a. petugas perawatan kesehatan masyarakat b. menerima pelayanan keperawatan yang dibeerikan sesuai dengan rencana keperawatan c. mengetahui dan dapat mengungkapkan masalah kesehatan secara benar d. melakukan tindakan keperawatan sederhana sesuai dengan yang dianjurkan e. memanfaatkan fasilitas kesehatan secara aktif f. melakukan tindakan pencegahan sesuai dengan anjuran g. melakukan tindakan promotif secara aktif

2.2. Asuhan keperawatan 2.2.1. Pengertian Asuhan keperawatan keluarga adalah suatu rangkaian kegiatan yang diberikan melalui praktik keperawatan dengan sasaran keluarga dengan tujuan menyelesaikan masalah kesehatan yang dialami keluarga dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan keluarga (Setiadi, 2008).

2.2.2. Tujuan 1. Meningkatkan kesehatan yang sesuai untuk mengatasi masalah. 2. Memberi dukungan untuk mengatasi masalah.

2.2.3. Sasaran Keluarga yang beresiko tentang masalah kesehatan yang dialami keluarga dengan pendekatan proses keperawatan.

2.2.4. Alasan keluarga menjadi salah satu unit asuhan keperawatan a. Keluarga mempunyai subsistem : anggota, fungsi, aturan, budaya dan lainnya yang dipelajari dan dipertahankan dalam kehidupan keluarga. b. Terdapat saling berhubungan dan ketergantungan antar subsistem. c. Merupakan unit (bagian) terkecil dari masyarakat yang dapat mempengaruhi supra sistemnya. Keluarga merupakan sistem sosial karena terdiri dari kumpulan dua orang atau lebih yang mempunyai peran sosial yang berbeda dengan ini saling berhubungan dan tergantung antar individu (Effendy,N. 1998 : 39). Alasan keluarga sebagai unit pelayanan : a. Keluarga sebagai unit utama masyarakat dan merupakan lembaga yang menyangkut kehidupan masyarakat. b. Keluarga sebagai dan suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah, dalam

mengabaikan kelompoknya.

memperbaiki

masalah-masalah

kesehatan

10

c. Masalah-masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan dan apabila salah satu anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya. d. Dalam memelihara kesehatan anggota keluarga sebagai individu (pasien). Keluarga tetap berperan sebagai pengambil keputusan dalam memelihara kesehatan para anggotanya. e. Keluarga merupakan perantara yang efektif dan mudah untuk berbagai upaya kesehatan masyarakat (Ruth B Freeman, 1981)

2.2.5. Tugas keluarga dalam pelayanan kesehatan Tugas keluarga dalam pelayanan Kesehatan dalam Padila (2012) yakni antara lain: 1. 2. 3. Mengenal gangguan kesehatan setiap anggota keluarganya Mengambil keputusan yang tepat Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit, yang tidak mampu membantu dirinya karena cacat atau usianya terlalu muda 4. Mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan untuk kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga 5. Mempertahankan hunbungan timbal balik antara keluarga dan lembaga kesehatan dengan memanfaatkan secara optimum fasilitas kesehatan tersebut

2.2.6. Model keperawatan keluarga a. Pengkajian keluarga model Friedman Friedman memberikan 6 kategori dalam memberikan pernyataan saat melakukan pengkajian: 1. Data pengenalan keluarga 2. Riwayat dan tahapan perkembangan keluarga 3. Data lingkungan 4. Struktur keluarga 5. Fungsi keluarga
11

6. Koping keluarga b. Pengkajian keluarga model Calgary Pengkajian model Calgary mengembangkan konsep dan teori system, komunikasi dan konsep berubah. Teori system member kerangkan kerja bahwa keluarga sebagai bagian dari suprasistem dan terdiri dari beberapa subsistem. Komunikasi merupakan teori bagaimana individu melakukan interaksi secara berkelanjutan. Konsep berubah menjadikan kerangka kerja bahwa perubahan satu anggota keluarga akan memepengaruhi kesehatan anggota keluarga lainnya.

2.2.7. Langkah-langkah asuhan keperawatan keluarga 2.2.7.1. Pengkajian

a. Pengertian Pengkajian adalah sekumpulan tindakan yang digunakan oleh perawat untuk mengukur keadaan klien (keluarga dengan memakai norma-norma kesehatan keluarga maupun sosial yang merupakan sistem yang terintegrasi (Ali,Z.2009). Pengkajian merupakan pemantauan secara langsung pada manusia untuk memeroleh data tentang klien dengan maksud menegaskan kondisi penyakit dan masalah kesehatan (Yura &Walsh, 1998). Norma-norma yang digunakan untuk menentukan status kesehatan keluarga adalah: Keadaan kesehatan normal dari setiap anggota keluarga Keadaan rumah dan lingkungan yang membawa kepada peningkatan kesehatan keluarga. Sifat keluarga dinamika dan tingkat kemampuan keluarga yang dapat membawa kepada perkembangan keluarga dan perubahan perilaku sehat. Yang termasuk tahap pengkajian adalah:
12

dan

kesanggupan

keluarga

untuk

mengatasinya).

1. Pengumpulan data 2. Analisa data 3. Perumusan masalah 4. Prioritas masalah 5. Menegakkan diagnosa keperawatan

b. Langkah-langkah Dapat dilakukan dengan cara: 1) Wawancara Wawancara yang berkaitan dengan hal-hal perlu diektahui, baik aspek fisik, mental, sosial budaya, ekonomi kebiasaan lingkungan. 2) Pengamatan Pengamatan terhadap hal-hal yang tidak perlu ditanyakan karena sudah dianggap cukup melali pengamatan saja, diantaranya yang berkaitan dengan lingkungan fisik, misalnya ventilasi, penerangan, kebersihan. 3) Studi dokumentasi Studi berkaitan dengan perkembangan kesehatan anak, diantaranya

melalui kartu menuju sehat (KMS). Kartu keluarga dan catatan-catatan kesehatan lainnya. 4) Pemeriksaan fisik Dilakukan terhadap anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan dan keperawatan berkaitan dengan keadaan fisik misalkan : kehamilan

c. Jenis data kesehatan keluarga 1. Data Subjektif Data yang di rasakan atau data yang di ungkapkan oleh pasien/keluarga 2. Data Objektif Data yang bisa di lihat atau hasil pengamatan/pemeriksaan. d. Tipologi masalah
13

Dalam typologi masalah kesehatan keluarga ada 3 kelompok masalah besar yaitu : a. Ancaman kesehatan Adalah keadaan-keadaan yang dapat memungkinkan terjadinya penyakit, kecelakaan dan kegagalan dalam mencapai potensi kesehatan, yang termasuk dalam ancaman kesehatan adalah : 1) Penyakit keturunan. 2) Keluarga/anggota keluarga yang menderita penyakit menular. 3) Jumlah anggota keluarga terlalu besar dan tidak sesuai dengan kemampuan dan sumber daya keluarga. 4) Resiko terjadi kecelakaan dalam keluarga seperti benda tajam diletakkan sembarangan. 5) Kekurangan atau kebersihan diri masing-masing anggota keluarga. 6) Keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan stress antara lain : Hubungan keluarga kurang harmonis. Hubungan orang tua-anak dewasa. Orang tua tidak dewasa.

7) Sanitasi lingkungan buruk. 8) Kebiasaan-kebiasaan yang merugikan kesehatan. 9) Sifat kepribadian yang melekat seperti pemarah. 10) Memainkan peranan yang tidak sesuai misalnya anak wanita memainkan peranan ibu. 11) Imunisasi anak tidak lengkap. b. Kurang/tidak sehat Adalah kegagalan dalam memanfaatkan kesehatan, yang termasuk didalamnya antara lain : 1) Keadaan sakit, apakah sesudah atau sebelum didiagnosa. 2) Kegagalan dalam pertumbuhan dari perkembangan anak yang tidak sesuai dengan pertumbuhan normal.

c. Situasi krisis
14

Adalah saat-saat yang banyak menuntut individu atau keluarga dalam menyesuaikan diri termasuk juga dalam hal sumber daya keluarga, yang termasuk situasi krisis adalah : 1) Perkawinan 2) Kehamilan 3) Persalinan 4) Masa nifas 5) Menjadi orang tua 6) Penambahan anggota keluarga misalnya bayi baru lahir 7) Abortus 8) Anak masa remaja 9) Kehilangan pekerjaan 10) Kematian anggota keluarga 11) Pindah rumah (Effendi,N. 1998 : 49)

2.2.7.2. Diagnosa keperawatan Setelah kita mengetahui masalah kesehatan prioritas yang dihadapi keluarga (klien) kita memilih masalah apa yang dapat di atasi dengan asuhan keperawatan dan kemudian menetapkan diagnosa keperawatannya. Penetapan diagnosa keperawatan keluarga selalu mempertimbangkan faktor resiko, faktor potensial terjadinya penyakit dan kemampuan keluarga dalam menghadapi masalah kesehatannya. Perumusan diagnosis keperawatan keluarga adalah problem,etiologi dan simtom (P,E,S ).

2.2.7.3. Prioritas diagnose keperawatan Apabila masalah kesehatan keluarga cukup banyak, masalah tersebut tidak mungkin diatasi semuanya karena ada batasannya.Oleh karena itu, perlu di susun skala prioritas dengan menggunakan kriteria- kriteria berikut:

Tabel 2.1. Prioritas Diagnosa Keperawatan


15

No Kriteria 1 Sifat masalah Skala : - Ancaman kesehatan Tidak/kurang sehat

Skor

Bobot

2 3 1 1

- Krisis 2 Kemungkinan masalah dapat diubah Skala : - dengan mudah - Hanya sebagian - Tidak dapat 3 Potensi masalah untuk dicegah Skala : - tinggi - Cukup - Rendah 4 Menonjolnya masalah Skala : - Masalah berat harus ditangani - Masalah tidak perlu segera ditangani - Masalah tidak dirasakan

2 1 0 2

3 2 1 1

2 1 0 1

Skoring Bailon : a. Tentukan skore untuk tiap kriteria. b. Skor dibagi dengan anggota tertinggi dan kalikan dengan bobot.

16

Skor x Bobot Angka Tertinggi


c. Jumlahkan skor untuk semua kriteria.

2.2.7.4. Intervensi Rencana keperawatan adalah sekumpulan tindakan yang ditentukan perawat untuk dilaksanakan, dalam memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang telah diidentifikasi. (Ali, Z.2009) Ciri-ciri rencana keperawatan keluarga: 1. Berpusat pada tindakan-tindakan yang dapat memecahkan atau meringankan masalah yang dihadapi 2. Merupakan hasil dari suatu proses yang sistematis dan telah dipelajari dan dipikirkan yang logis. 3. Rencana keperawatan keluarga berhubungan dengan masa yang akan datang 4. 5. Merupakan cara untuk mencapai tujuan Merupakan suatu proses yang berlangsung terus menerus

Kualitas rencana keperawatan 1. Penentuan masalah kesehatan dan keperawatan yang jelas didasarkan analisa yang menyeluruh tentang masalah situasi keluarga 2. Rencana yang realitas artinya dapat dilaksanakan dan dapat menghasilkan apa yang diharapkan. 3. 4. Sesuai dengan tujuan dan falsafah keluarga Rencana keperawatan dibuat bersama keluarga dalam: a. Menentukan masalah dan kebutuhan perawatan keluarga b. Memilih tindakan yang tepat c. Pelaksanaan tindakan d. Penilaian hasil tindakan (Ali,Z.2009) 5. Dibuat secara tertulis

17

Dalam pembuatan rencana keperawatan dilakukan pembuatan sasaran dan tujuan. a. Sasaran adalah keadaan atau situasi yang diharapkan setelah tindakan dilaksanakan. 1. Ditentukan oleh perawatan bersama keluarga Keluarga menyadari dan mengambil tindakan untuk mencegahnya b. Tujuan adalah pernyataan yang lebih rinci tentang hasil keperawatan. Tujuan keperawatan dibagi menjadi: 1. Berorientasi pada perawat yaitu tujuan yang dinyatakan dalam kegiatan yang dilakukan perawat misalnya: home visit untuk penyuluhan 2. Berorientasi pada pasien yaitu tujuan dinyatakan dari pihak penerima pasien/keluarga dalam bentuk hasil baik fisik, mental, prilaku.

18

2.3 Konsep medis ISPA 2.3.1 Defenisi ISPA adalah infeksi saluran pernafasan yang berlangsung sampai 14 hari (Depkes RI.1992) ISPA adalah infeksi saluran pernafasan atas yang terjadi pada saluran pernafasan, termasuk didalamnya hidung dan tenggorokan. 2.3.2 Anatomi Fisiologi

Rongga hidung

Gbr. Saluran Pernafasan Sumber : Silvia A. Price, Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 6, 2005, Hal 737 2.3.3 Hidung Hidung atau nasal merupakan saluran udara yang pertama mempunyai dua lubang dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). Didalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu dan kotoran yang masuk ke dalam lubang hidung. Fungsi hidung ada 3 yaitu : menyaring udara, menghangatkan dan melembabkan udara. Selain itu hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paru-paru, sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta
19

menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru-paru, dan Hidung juga bertanggung jawab terhadap olfaktori (penghidu) karena reseptor olfaktori terletak dalam mukosa hidung, dan fungsi ini berkurang sejalan dengan pertambahan usia

2.3.4 Faring Tekak atau faring merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan makanan terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher.. Faring dibagi menjadi tiga region : nasal (nasofaring), oral (orofaring), dan laring (laringofaring). Fungsi faring adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratorius dan digestif (artikel dari

:http://blog.ilmukeperawatan.com)

20

2.3.5

Laring Laring atau pangkal tengkorak merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakea di bawahnya. Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi selain itu Laring juga berfungsi melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batu

21

2.3.6

Trakea Trakea atau batang tengkorak merupakan lanjutan dari laring dibentukan oleh 16-20 cincin yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda (huruf C) sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar yang disebut sel bersisilia hanya bergerak ke arah luar. Panjang trakea 9-11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos. Sel-sel bersilia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernafasan, yang memisahkan trakea menjadi broncus kiri dan kanan disebut karina.

2.3.7

Bronkhus Bronkus atau cabang tengkorak merupakan lanjutan dari trakea ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian vertebra torakalis IV dan V mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus itu berjalan ke bawah dan ke samping ke arah tampuk paru-paru. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar daripada bronkus kiri terdiri dari 6-8 cincin mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari yang kanan terdiri
22

dari 9-12 cincin mempunyai 2 lobang. Bronkus bercabang-cabang, cabang yang lebih kecil disebut bronkiolus, pada ujung bronkiolus tidak terdapat cincin lagi dan pada ujung bronkiolus terdapat gelembung paru/gelembung hawa atau alveoli. 2.3.8 Bronkiolus Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus lobaris dan kernudian menjadi lobus segmentalis.

Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus yang ukurannya semakin kecil, sampai akhirnya menjadi bronkhiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara). Bronkhiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih I mm. Bronkhiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru-paru. 2.3.9 Alveoli Merupakan tempat pertukaran O2 dan CO2. Alveoli terdapat sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2 dan Terdiri atas 3 tipe yakni Sel-sel alveolar tipe I : adalah sel epitel yang membentuk dinding alveoli, Sel-sel alveolar tipe II : adalah sel yang aktif secara metabolik dan mensekresi surfaktan (suatu fosfolipid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps), Sel-sel alveolar tipe III : adalah makrofag yang merupakan sel-sel fagotosis dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan.

23

2.3.10 Paru-paru Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung (gelembung hawa, alveoli) gelembung alveoli ini terdiri dari sel-sel epital dan endotel, jika dibentangkan luas permukaannya lebih kurang 90 m2 pada lapisan ini terjadi pertukaran udara, O2 masuk kedalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah banyaknya gelembung paru-paru 700.000.000 buah, paru-paru kiri dan kanan. (Syaifuddin, Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan, 2006) 2.3.11 Etiologi Etiologi dari ISPA yang paling banyak adalah a. Virus dan tidak membutuhkan terapi antibiotik. b. Bakteri terutama : kuman streptococcus membutuhkan terapi antibiotic (smeltzer.2001). 2.3.12 Patofisiologi Kuman masuk ke saluran nafas melalui rongga hidung dibawa oleh udara yang tercemar atau kotor, sebagian besar kuman/virus di bunuh oleh silia yang ada di rongga hidung dan trakea atau keluar melalui refleks bersin. Sebagian lagi masuk ke paru-paru dan menginfeksi jaringan paru. Kemudian masuk ke aliran limfe dan menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening terdekat seperti di leher. Demam pada penderita ISPA diakibatkan mekanisme kuman pertahanan dari tubuh tubuh untuk penderita melawan/mengeluarkan (Smeltzer.2001). Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus dengan tubuh. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan menyebabkan silia yang terdapat pada permukaan saluran nafas bergerak ke atas mendorong virus ke arah faring atau dengan suatu tangkapan refleks spasmus oleh laring. Jika refleks tersebut gagal maka virus patogen

24

merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan (Kending dan Chernick, 1983). Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk kering (Jeliffe, 1974). Kerusakan stuktur lapisan dinding saluran pernafasan menyebabkan kenaikan aktifitas kelenjar mukus yang banyak terdapat pada dinding saluran nafas, sehingga terjadi pengeluaran cairan mukosa yang melebihi noramal. Rangsangan cairan yang berlebihan tersebut menimbulkan gejala batuk (Kending and Chernick, 1983). Sehingga pada tahap awal gejala ISPA yang paling menonjol adalah batuk. Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder bakteri. Akibat infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris yang merupakan mekanisme perlindungan pada saluran pernafasan terhadap infeksi bakteri sehingga memudahkan bakteri-bakteri patogen yang terdapat pada saluran pernafasan atas seperti streptococcus pneumonia, haemophylus influenza dan staphylococcus menyerang mukosa yang rusak tersebut (Kending dan Chernick, 1983). Infeksi sekunder bakteri ini menyebabkan sekresi mukus bertambah banyak dan dapat menyumbat saluran nafas sehingga timbul sesak nafas dan juga menyebabkan batuk yang produktif. Invasi bakteri ini dipermudah dengan adanya fakor-faktor seperti kedinginan dan malnutrisi. Suatu laporan penelitian menyebutkan bahwa dengan adanya suatu serangan infeksi virus pada saluran nafas dapat menimbulkan gangguan gizi akut pada bayi dan anak (Tyrell, 1980). Virus yang menyerang saluran nafas atas dapat menyebar ke tempat-tempat yang lain dalam tubuh, sehingga dapat menyebabkan kejang, demam, dan juga bisa menyebar ke saluran nafas bawah (Tyrell, 1980). Dampak infeksi sekunder bakteripun bisa menyerang saluran nafas bawah, sehingga bakteri-bakteri yang biasanya hanya ditemukan dalam saluran pernafasan atas, sesudah terjadinya infeksi virus, dapat
25

menginfeksi paru-paru sehingga menyebabkan pneumonia bakteri (Shann, 1985). 2.3.13 Tanda dan Gejala a. Tanda-tanda klinis Pada sistem respiratori adalah : tachypnea, nafas tak teratur, retraksi dinding toraks, nafas cuping cyanosis, suara nafas lemah atau hilang. Pada sistem cardial adalah : tachypnea, bradycardi, hipertensi, hipotensi dan cardiac arrest. Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, papil bendung, kejang dan cemas. Pada keadaan umum : letih, berkeringan banyak.

b. Tanda-tanda laboratorium Hypoxemia Hypercapnia Asidosis (metabolik atau respiratorik)

Tanda-tanda bahaya pada anak umur 2 bulan -5 bulan adalah : tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor dan gizi buruk sedangkan tanda bahaya pada anak umur < 2 bulan adalah kurang bisa minum, sampai kurang dari setengah volume yang biasa diminumnya, kejang, kesadaran menurun, stridor, wheezing, demam dan dingin (Smeltzer.2001). 2.3.14 Klasifikasi a. Program pemberantasan ISPA mengklasifikasikan ISPA sebagai berikut (Depkes.RI. 1998) menurut umur dan tanda klinis yan didapat : Pneumonia berat : ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada ke dalam. Penumonia : ditandai oleh adanya nafas cepat.

26

Bukan peneumonia : ditandai secara klinis oleh batuk, pilek, bisa disertai demam.

Berdasarkan derajat keparahannya ISPA dibagi menjadi 3 menurut WHO yang telah ditetapkan lokakarya nasional II ISPA (1998) yakni: ISPA ringan ISPA sedang ISPA berat

2.3.15 Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya ISPA a. Status gizi Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi transportasi penyimpanan, metabolisme dan pengeluran zat-zat yang tidak digunakan untukmempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi (I Dewa Nyoman Supariasa, 2002:17). Fungsi zat gizi antara lain sebagai berikut: 1. Memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan dan

perkembangan, terutama bagi yang masih dalam pertumbuhan 2. 3. Memperoleh energi guna melakukan aktivitas fisik sehari-hari Mengganti sel-sel yang rusak dan sebagai zat pelindung dalam tubuh (dengan cara menjaga keseimbangan cairan tubuh) 4. Berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit 5. Sebagai zat anti oksidan (Kertasapoetra, Marsetyo, Med, 2001:1). Kebutuhan zat gizi setiap orang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan berbagai faktor antara lain umur, jenis kelamin dan
27

macam pekerjaan. Perkembangan otak dan Kecerdasan, produktivitas kerja serta daya tahan tubuh terhadap infeksi secara optimal (Sjahmien Moehji, 2000:14).

Penelitian yang dilakukan oleh Chandra pada tahun 1979 menunjukkan bahwa kekurangan gizi akan meningkatkan kerentanan dan beratnya infeksi suatu penyakit. Penelitian lain yang dilakukan oleh Pio dkk (1985) menunjukkan adanya hubungan antara kekurangan zat gizi dan ISPA karena kekurangan gizi akan cenderung menurunkan daya tahan balita terhadap seranganpenyakit.

b. Pemberian ASI eksklusif ASI adalah suatu komponen yang paling utama bagi ibu dalam memberikan pemeliharaan yang baik terhadap bayinya, untuk memenuhi pertumbuhan dan perkembangan psikososialnya. Karena sesuatu yang baik tidaklah harus mahal bahkan bisa sebaliknya, terbaik dan termurah yaitu ASI. Karena ASI bisa membuat anak lebih sehat, tapi juga cerdas dan lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan (Depkes RI, 2001:15). Bayi yang baru lahir secara alamiah mendapat imunoglobulin (zat kekebalan tubuh) dari ibunya lewat ari-arinya. Tubuh bayi dapat membuat sistem kekebalan tubuh sendiri waktu berusia sekitar 9-12 bulan. Kolostrum mengandung zat kekebalan 10-17 kali lebih banyak dari susu matang. Zat kekebalan pada ASI dapat melindungi bayi dari penyakit mencret atau diare, ASI juga menurunkan kemungkinan bayi terkena penyakit infeksi, telinga, batuk, pilek, dan penyakit alergi. Dan pada kenyataannya bayi yang diberi ASI eksklusif akan lebih sehat dan jarang sakit dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif (Depkes RI, 2001:18).

28

Penelitian yang dilaksanakan oleh Pisacane membuktikan bahwa pemberian ASI memberikan efek yang tinggi terhadap ISPA. Walaupun balita sudah mendapat ASI lebih dari 4 bulan namun bila status gizi dan lingkungan kurang mendukung dapat merupakan risiko penyebab pneumonia bayi (Dinkes, 2001:9). c. Umur ISPA dapat menyerang semua manusia baik pria maupun wanita pada semua tingkat usia, terutama pada usia kurang dari 5 tahun karena daya tahan tubuh balita lebih rendah dari orang dewasa sehingga mudah menderita ISPA. Umur diduga terkait dengan sistem kekebalan tubuhnya. Bayi dan balita merupakan kelompok yang kekebalan tubuhnya belum sempurna, sehingga masih rentan terhadap berbagai penyakit infeksi. Hal senada dikemukakan oleh Suwendra (1988), bahkan semakin muda usia anak makin sering mendapat serangan ISPA.

d.

Kelengkapan imunisasi Ada dua jenis imunisasi, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Pemberian imunisasi pada anak biasanya dilakukan dengan cara imunisasi aktif, karena imunisasi aktif akan memberi kekebalan yang lebih lama. Imunisasi pasif diberikan hanya dalam keadaan yang sangat mendesak, yaitu bila diduga tubuh anak belum mempunyai kekebalan ketika terinfeksi oleh kuman penyakit yang ganas. Perbedaan yang penting antara jenis imunisasi aktif dan imunisasi pasif adalah: 1) Untuk memperoleh kekebalan yang cukup, jumlah zat anti dalam tubuh harus meningkat; pada imunisasi aktif diperlukan waktu yang agak lebih lama untuk membuat zat anti itu dibandingkan dengan imunisasi pasif.

29

2) Kekebalan yang terdapat pada imunisasi aktif bertahan lama (bertahun-tahun) sedangkan pada imunisasi pasif hanya

berlangsung untuk beberapa bulan. Sesuai dengan program pemerintah (Departemen Kesehatan) tentang Program Pengembangan Imunisasi (FPI), maka anak diharuskan mendapat perlindungan terhadap 7 jenis penyakit utama, yaitu penyakit TBC (dengan pemberian vaksin BCG), difteria, tetanus, batuk rejan, poliomielitis, campak dan hepatitis B. Imunisasi lain yang dianjurkan di Indonesia pada saat ini adalah terhadap penyakit gondong dan campak Jerman (dengan pemberian vaksin MMR), tifus, radang selaput otak oleh kuman Haemophilus influenzae tipe B (Hib), hepatitis A, cacar air dan rabies (Markum 2002:15). Jenis-jenis imunisasi wajib: 1) Vaksin BCG Pemberian imunisasi BCG bertujuan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). Vaksin BCG mengandung kuman BCG yang masih hidup. Jenis kuman ini telah dilemahkan. 2) Vaksin DPT Manfaat pemberian imunisasi ini ialah untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit difteria, pertusis (batuk rejan) dan tetanus. 3) Vaksin DT (Difteria, Tetanus) Vaksin ini dibuat untuk keperluan khusus yaitu bila anak sudah tidak diperbolehkan atau tidak lagi memerlukan imunisasi pertusis, tapi masih memerlukan imunisasi difteria dan tetanus. 4) Vaksin Tetanus Terhadap penyakit tetanus, dikenal 2 jenis imunisasi yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Vaksin yang digunakan

30

untuk imunisasi aktif ialah toksoid tetanus, yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian dimurnikan.

5) Vaksin Poliomielitis Imunisasi diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit poliomielitis. Terdapat 2 jenis vaksin dalam peredaran, yang masing-masing mengandung virus polio tipe I, II, dan III yaitu: a) Vaksin yang mengandung virus polio tipe I, II, dan III yang sudah dimatikan (vaksin Salk), cara pemberiannya dengan penyuntikan b) Vaksin yang mengandung virus polio tipe I, II, dan III yang masih hidup tetapi telah dilemahkan (vaksin Sabin), cara pemberiannya melalui mulut dalam bentuk pil atau cairan. 6) Vaksin Campak Imunisasi diberikan untuk mendapat kekebalan tehadap penyakit campak secara aktif. 7) Vaksin Hepatitis B Vaksinasi dimaksudkan untuk mendapat kekebalan aktif terhadap penyakit Hepatitis B. Penyakit ini dalam istilah seharihari lebih dikenal sebagai penyakit lever. Menurut penelitian yang dilakukan Tupasi (1985) menyebutkan bahwa

ketidakpatuhan imunisasi berhubungan dengan peningkatan penderita ISPA. Penelitian lain yang dilakukan oleh Sievert pada tahun 1993 menyebutkan bahwa imunisasi yang lengkap dapat memberikan peranan yang cukup berarti mencegah kejadian ISPA (Dinkes RI, 2001:10).

e.

Jenis kelamin Sesungguhnya, anak perempuan mempunyai keuntungan biologis dan pada lingkungan
31

yang

optimal

mempunyai

keuntungan yang diperkirakan sebesar 0,15-1 kali lebih di atas anak laki-laki dalam hal tingkat kematian (Merge Koblinsky dkk, 1997:96). Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2002-2003 mencatat bahwa anak balita yang mempunyai gejala-gejala pneumonia dalam dua bulan survey pendahuluan sebesar 7,7% dari jumlah balita yang ada (14.510) adalah anak balita laki-laki. Sedangkan jumlah balita perempuan yang mempunyai gejala-gejala pneumonia sebesar 7,4% (Statistic Indonesia, et al 2003:148).

f.

Pemberian vit A Vitamin A berpengaruh terhadap fungsi kekebalan tubuh manusia (Sunita Almatsier, 2004:159). Pada KVA, fungsi kekebalan tubuh menurun sehingga mudah terserang infeksi. Lapisan sel yang menutupi trakea dan paru-paru mengalami keratinisasi, tidak mengeluarkan lendir sehingga mudah dimasuki mikroorganisme atau virus dan menyebabkan infeksi saluran pernafasan (Sunita Almatsier, 2004:166).

g.

Kepadatan hunian Pemanfaatan atau penggunaan rumah perlu sekali

diperhatikan. Banyak rumah yang secara teknis memenuhi syarat kesehatan, tetapi apabila penggunaannya tidak sesuai dengan peruntukannya, maka dapat terjadi gangguan kesehatan. (Juli Soemirat, 2000:144). Penelitian yang dilakukan oleh Victoria pada tahun 1993 menyatakan bahwa makin meningkatnya jumlah orang

satu kamar akan meningkatkan kejadian ISPA. Semakin banyak penghuni rumah berkumpul dalam suatu ruangan kemungkinan mendapatkan risiko untuk terjadinya penularan penyakit akan lebih

32

mudah, khususnya bayi yang relatif rentan terhadap penularan penyakit (Dinkes RI,2001:11). h. Ventilasi rumah Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan

Perumahan, luas penghawaan atau ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai. i. Jenis lantai Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lubis (1985), jenis lantai setengah plester dan tanah akan banyak mempengaruhi kelembaban rumah. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan, lantai rumah harus kedap air dan mudah dibersihkan j. Kepemilikan ruang asap Pembakaran yang terjadi di dapur rumah merupakan aktivitas manusia yang menjadi sumber pengotoran atau pencemaran udara. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan

Perumahan, dapur yang sehat harus memiliki lubang asap dapur. Jenis bahan bakar yang digunakan untuk memasak jelas akan mempengaruhi polusi asap dapur ke dalam rumah yang dapurnya menyatu dengan rumah dan jenis bahan bakar minyak relatif lebih kecil resiko menimbulkan asap daripada kayu bakar. k. Keberadaan anggota keluarga yang merokok Polusi udara oleh CO terjadi selama merokok. Asap rokok mengandung CO dengan konsentrasi lebih dari 20.000 ppm selama dihisap. Semakin banyak jumlah rokok yang dihisap oleh keluarga semakin besar memberikan resiko terhadap kejadian ISPA, khususnya apabila merokok dilakukan oleh ibu bayi (Dinkes RI, 2001:12).

33

l.

Keberadaan anggota keluarga yang menderita ISPA ISPA disebabkan oleh bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptokokus, Stafilokokus, Pnemokokus, Hemofilus. Pada prinsipnya kuman ISPA yang ada di udara terhisap oleh pejamu baru dan masuk ke seluruh saluran pernafasan. Dari saluran pernafasan kuman menyebar ke seluruh tubuh apabila orang yang terinfeksi ini rentan, maka ia akan terkena ISPA (Depkes RI, 1996:6)

2.3.15 Penatalaksanaan Pneumoni berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik

parenteral/oksigenisasi dan sebagainya. Pneumonia : diberi obat antibiotik, kontrimoksasol peroral, atau bila tidak bereaksi/tidak dapat dipakai mungkin obat diberi antibiotik

kontrimoksasol

pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain. Bukan pneumoni : tanpa pemberian obat antibiotik, diberikan

perawatan di rumah untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang dirugikan seperti kodein, dekstromettrofan dan antihistami. Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu

paracetamol, penderita dengan gejala batuk pilek. Pada pemeriksaan tenggorokan di dapat adanya bercak nanah (eksudat) disertai oleh kuman streptococcus dan harus diberi antibiotik penisilin selama 10 hari.

2.3.16 Pencegahan dan pemberantasan Pencegahan dapat dilakukan dengan :


34

Menjaga keadaan gizi agar tetap baik. Imunisasi Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.

Pemberantasan yang dilakukan adalah : Penyuluhan kesehatan yang terutama ditujukan pada para ibu. Pengelolaan kasus yang disempurnakan Imunisasi (Smeltzer.2001)

Beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita ISPA: Mengatasi panas (demam) Untuk anak usia 2 bulan samapi 5 tahun demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es). Mengatasi batuk Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis sendok teh dicampur dengan kecap atau madu sendok teh , diberikan tiga kali sehari. Pemberian makanan Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulangulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan. Pemberian minuman
35

Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita. Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam. Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah. Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi cukup dan tidak berasap. Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk membawa kedokter atau petugas kesehatan. Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, selain tindakan diatas usahakan agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan benar selama 5 hari penuh. Dan untuk penderita yang mendapatkan antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari anak dibawa kembali kepetugas kesehatan untuk pemeriksaan ulang. 2.4 2.4.1 Konsep Medis Diare Pengertian Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secra berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair. (suriadi,2006)

2.4.2 Etiologi
a. Faktor infeksi

Infeksi Enteral merupakan infeksi pada saluran pencernaan pada anak yang diakibatkan adanya bakteri, virus, jamur dan parasit. Infeksi parenteral merupakan infeksi yang terjadi diluar saluran sistem pencernaan yang mengakibatkan gangguan pencernaan atau diare

36

b. Faktor makanan a. Faktor malabsorbsi 2.4.3 Patofisiologi Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi: a. Kehilangan air dan eletrolit yang mengakibatkan gangguan

keseimbangan asam basa b. Gangguan gizi akibat kelaparan c. Hipoglikemia d. Gangguan sirkulasi darah

37

Pathway: Faktor infeksi Faktor malabsorbsi Tekanan osmotik Gangguan peristaltik

Endotoksin merusak mukosa usus

Hiperperistaltik

Hipoperistaltik

Pergeseran cairan dan elektrolit ke lumen usus

Makanan tidak Pertumbuhan bakteri sempat diserap Endotoksin berlebih

Hipersekresi cairan dan elektrolit Isi lumen usus

Rangsangan pengeluaran

Hiperperistaltik

Diare

Gangguan keseimbangan cairan

Gangguan keseimbangan elektrolit

Kurang volume cairan (dehidrasi)

Hiponatremia Hipokalemia

Pusing, lemah, letih, sinkope, anoreksia, mual, muntah, haus, oliguri, turgor kulit kurang, mukosa mulut kering, mata dan ubun-ubun cekung, peningkatan suhu tubuh, penurunan berat badan jantung cepat dan lemah

Penurunan klorida serum

Hipotensi postural, kulit dingin, tremor kejang, peka rangsang, denyut

(Horne & Swearingen, 2001; Smeltzer & Bare, 2002)


38

2.4.5 Tanda dan Gejala Diare Gelisah, Suhu tubuh semakin meningkat, diare, muntah, nyeri abdomen, demam membran mukosa mulut kering, tidak nafsu makan, warna tinja semakin berwarna kehijauan 2.4.6 Derajat dehidrasi

Menurut banyaknya cairan yang hilang, derajat dehidrasi dapat dibagi berdasarkan: a. Kehilangan berat badan 1) 2) 3) Dehidrasi Ringan, bila terjadi penurunan berat badan 2,5%. Dehidrasi sedang bila terjadi penurunan berat badan 2,5-5%. Dehidrasi berat bila terjadi penurunan berat badan 5-10%

b. Skor Mavrice King Bagian tubuh Yang diperiksa Keadaan umum Nilai untuk gejala yang ditemukan 0 Sehat 1 Gelisah, cengeng Apatis, ngantuk Kekenyalan kulit Mata Ubun-ubun besar Mulut Denyut nadi/mata Normal Normal Normal Normal Kuat <120 Sedikit kurang Sedikit cekung Sedikit cekung Kering Sedang (120-140) 2 Mengigau, koma, atau syok Sangat kurang Sangat cekung Sangat cekung Kering & sianosis Lemas >40

39

Keterangan Jika mendapat nilai 0-2 dehidrasi ringan Jika mendapat nilai 3-6 dehidrasi sedang Jika mendapat nilai 7-12 dehidrasi berat

c. Gejala klinis klasifikasi Ringan Berat Rewel Gelisah Mata cekung Minum dengan lahap, haus Cubitan kulit kembali lambat Letargis/tidak sadar Mata cekung Tidak bisa minum atau malas minum Cubitan kulit perut kembali sangat lambat ( 2 detik) Tanda dan Gejala

tanpa dehidrasi

Tidak ada tanda dan gejala yang sangat signifikan

Gejala klinis Gejala klinis Ringan Sedang Berat

40

Keadaan umum Kesadaran Rasa haus Sirkulasi Nadi Respirasi Pernapasan Kulit Uub Agak cekung Agak cekung Biasa Normal Normal Cekung Cekung Agak kurang Oliguri Agak kering Cekung sekali Cekung sekali Kurang sekali Anuri Kering/asidosis Biasa Agak cepat Kusz maull N (120) Cepat Cepat sekali Baik (CM) + Gelisah ++ Apatis-koma +++

Tabel Penilaian Dehidrasi Penilaian 1.lihat KeadaanUmum Baik , Sadar Gelisa, Rewel Lesu, lunglai atau tidak adar Mata Normal Cekung Sangat cekung A B C

kering Tidak

41

Air Mata Mulut &Lidah Rasa Haus

Ada Basah Minun biasa Tidak Hasus

Tidak ada Kering * Haus , Ingin Minum Banyak

ada Sangat Kering Malas atauTidak minum Kembali Lambat Dehidrasi berat Bila ada 1 tanda Ditambah 1 atau Lebih tanda lain Sangat minun bisa

2.

Periksa Kulit

Turgor Kembali capat

*Kembali tambat

3.Derajat Dehidrasi

Tanpa Dehidrasi sedang

Dehidrasi ringan/ Bila ada 1 tanda *Ditambah atau Lebih tanda lain 1

4. Terapi

Rencana terapi Rencana Terapi Tencana Terapi C A B

2.4.7

Komplikasi Dehidrasi, kejang. mal nutrisi energi protein, bakterimia, renjatan

hipovolemik, hipokalemia, hipoglikemia, Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defesiensi enzim laktase (suriadi,2006).

2.4.8 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan tinja, pemeriksaan keseimbangan asam basa, pemeriksaan kadar ureum, pemeriksaan elektrolit (suriadi,2006)

42

BAB 3 TINJAUAN KASUS ( KELUARGA)

3.1 PENGKAJIAN A. Pengumpulan Data Umum 1. Identitas Kepala Keluarga Nama Umur/Jenis Kelamin Agama Suku/Bangsa Pekerjaan Pendidikan Penghasilan Alamat : Tn.F : 58 tahun/ laki-laki : Islam : Jawa/Indonesia : Wiraswasta : SMP : Rp. 800.000 : Dusun 4 Tirta Sari Desa Kelumpang Kebun, Kecamatan Hamparan Perak

2.

Komposisi keluarga/data anggota keluarga yang hidup

N o

Nama anggota keluarga Ny.Dewi

Umur L P Aga ma

Hubung an keluarg a Pendidik Pekerjaa Penghasi an n lan

Satu rumah /tidak Satu rumah

Usia nika h ibu 20 thn ket

55

Isla m

Istri

SMP

IRT

Aru Pratama

3 8

Isla m

Anak

SMA

Karyaw an swasta

Rp. 500.000

tidak

Novyan

36

Isla

Anak

SMA
43

Karyaw

Rp.

tidak

an swasta

500.00

Aji

33

Isla m

Anak

SMA

Karyaw an swasta

Rp. 500.00

tidak

Jhon

30

Isla m

Anak

SMA

Karyaw an swasta

Rp. 500.00

tidak

Novriani

21

Isla m

Anak

SMA

Satu rumah

3. Genogram

58 5

50 00 00

38

36

33

30

21

44

Keterangan : : laki-laki Tipe keluarga : Keluarga Inti

: Perempuan

: laki-laki meninggal

: perempuan meninggal

: Tinggal 1 rumah

B. Riwayat Kehidupan Keluarga Tipe keluarga Tn. F adalah tipe keluarga Nukleus family yang didalammya hanya terdiri dari keluarga inti. Tahap perkembangan keluarga adalah tahap kedelapan yaitu tahap masa tua atau lansia

C. Pola kebiasaan sehari-hari 1 Pola makanan keluarga Keluarga mengatakan frekuensi makanan 3x sehari: Pagi: nasi, ikan, teh manis ( kopi ), siang: nasi, ikan, sayur dan malam : nasi, ikan. Saat di observasi makanan yang sudah dimasak diletakkan diatas meja dan hanya ditutup dengan tudung. Pengolahan makanan sebelum dimasak, beras dicuci 3-4 x lalu remas-remas kemudian dimasak dan sayur dipotong terlebih dulu baru di cuci kemudian dimasak.

45

2. Kebiasaan keluarga istirahat, pola istirahatnya teratur. 3. Aktivitas keluarga Tn.F tidak pernah melakukan olah raga. 4. Kebiasaan atau perilaku yang merugikan kesehatan pada keluarga Tn. F yaitu kepala keluarga memiliki kebiasaan merokok 1bungkus/hari 5. Cara penyelesaiaan keluarga dalam menangani masalah yaitu dalam keluarga Tn.F yang dominan mengambil keputusan adalah suami sebagai kepala keluarga, tetapi selalu terlebih dahulu

dimusyawarahkan dengan anggota keluarga lainnya.

D. Aspek kesehatan lingkungan 1. Perumahan dan karakteristik rumah Rumah yang ditempati oleh keluarga Tn. F adalah rumah sendiri, dengan komposisi rumah semuanya ada (ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar mandi dan ruang tidur ). Luas ventifikasi rumah 15% dari permukaan lantai. Penerangan/pencahayaan didalam rumah cukup terang pada siang hari jika jendela atau pintu ditutup masih dapat membaca tulisan-tulisan kecil. Luas rumah atau ruangan adalah 3 meter untuk 1 orang. Lantai rumah terbuat dari semen. Kebersihan rumah bersih lantai disapu, dipel dan ruangan rapi setiap hari. 2. Penyediaan Air minum Keluarga Tn. F memperoleh air minum dari PAM tukang galon keliling air minum. Persediaan air mencukupi kebutuhan keluarga. Kwalitas air kurang baik, tidak jernih ( air bewarna keruh), dan berbau. Pengolahan air dimasak sampai mendidih. Jarak sumber air dengan jamban kurang dari 2 meter. 3. Sarana pembuangan tinja Jenis pembuangan tinja pada rumah keluarga Tn. F yaitu dengan menggunakan septik tank. Kondisi WC menggunakan cemplung terbuka, tidak berbau, bersih (terpelihara)
46

4. Pembuangan sampah dan limbah Sampah terlebih dahulu dikumpulkan kemudian dibakar dan pengolahan air limbah ke selokan. 5. Pemanfaatan pekarangan rumah Keluarga memiliki pekarangan rumah, terawat dengan rapi.

Pekarangan di tanam bunga dan pohon mangga.

E. Pengkajian pelayanan kesehatan keluarga 1. Pemanfaatan sarana kesehatan keluarga yaitu keluarga sering berobat ke Polindes apabila sakit dan jarak sarana kesehatan dengan rumah 3 Km. 2. Perilaku yang merugikan kesehatan keluarga Tn. F terbiasa merokok 1 bungkus/hari. 3. Tingkat pengetahuan tentang penyakit Keluarga sama sekali tidak tahu tentang penyakit AIDS, TBC, ISPA, Dermatitis, Stroke, Hipertensi, Diabetes Melitus, dan Anemia. F. Kesehatan Keluarga 1. Kesehatan anak Remaja Anak remaja pada keluarga Tn. F pernah mendapatkan informasi tentang pubertas, narkoba dan pendidikan seks di bangku SMA 2. KB ( Keluarga Berencana ) Ibu tidak memakai KB lagi karena ibu sudah mengalami menopause sejak umur 50 tahun.

47

3. Kesehatan Lansia Keluarga memiliki anggota keluarga lansia. Lansia melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa, bapak berjualan dan ibu melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga dirumah. Lansia tidak pernah mendapatkan pelayanan kesehatan khusus lansia. Lansia ( ibu) mengalami sakit hipertensi sudah 3 tahun terakhir 4. Data UKBM Keluarga mengatakan tahu tentang usaha kesehatan berbasis

masyarakat dan anggota keluarga sudah menjadi anggota jamkesmas. Keluarga lebih sering mengunjungi Polindes jika mau berobat. Bapak dan ibu mengikuti kegiatan sosial setiap hari kamis untuk bapak-bapak dan hari jumat untuk para kaum ibu

48

3.2 ANALISA DATA

Nama/Umur Alamat No 1 DS: Ny.D

: Tn. F/58 tahun : Dusun 4 Tirta Sari Data Etiologi Ketidakmampuan mengatakan cara keluarga mengenal Problem Resiko terjadinya kekurangan gizi

pengolahan sayur dipotong dulu masalah kesehatan baru dicuci (pengolahan

Ny.D mengolah beras dicuci 4x makanan yang lalu diremas-remas kemudian kurang baik) dimasak.

DS: -

Ketidakmampuan Ny.D mengatakan bahwa Tn.F memodifikasi merokok dan setiap hari perilaku merokok

Resiko terjadinya infeksi saluran pernapasan (ISPA)

menghabiskan satu bungkus rokok. Tn.F mengatakan merokok

mulai remaja

DO: - Tampak ada puntung rokok di asbak keluarga Tn.F - Tn.F tampak sedang merokok - Ventilasi rumah kurang baik yaitu kurang dari 15 % - Kebersihan rumah yang kurang

49

3.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nama/ Umur : Tn.F/58 Tahun Alamat : Dusun 4 Tirta Sari

No 1

DIAGNOSA KEPERAWATAN Resiko terjadinya kekurangan gizi

TANGGAL 13-04-2013

PARAF Meilan

berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga kesehatan 2 Resiko tinggi infeksi saluran pernapasan berhubungan dengan ketidkmampuan 13-04-2013 Meilan dalam mengenal masalah

memodifikasi perilaku merokok.

50

3.4 PENSKORINGAN DIAGNOSA KEPERAWATAN

No DX 1

Kriteria a. Sifat masalah Resiko/ancaman b. kemungkinan masalah dapat diubah mudah

Perhitungan 2/3 x 1

Skor 2/3

Pembenaran Belum dirasakan ada masalah

2/2 x 2

Perawat dapat memberi penkes dan keluarga dapat melakukannya

c. Potensi masalah untuk dicegah tinggi

3/3 x 1

Masalah dapat dicegah dengan tidak mencuci beras dan sayur sampai bersih

d. Menonjolnya masalah masalah dirasakan

2/2 x 1

Ada masalah tapi tidak segera harus ditangani

Total Score 2 a. Sifat masalah Resiko/ancaman 2/3 x 1

4 2/3 2/3 Belum terjadi karena belum ada tanda dan gejala

b. kemungkinan masalah dapat diubah mudah

2/2 x 2

Perawat dapat memberi penkes dan keluarga mau mendengarkannya

c. potensi masalah untuk dicegah tinggi

2/3 x 1

2/3

Dengan pemberian penkes keluarga terlihat ada keinginan untuk terhindar dari

51

No DX

Kriteria

Perhitungan

Skor

Pembenaran penyakit menular

d. meninjolnya masalah tidak dirasakan Total Score

1/2 x 1

1/2 3 2/3

Adamasalah tapi tidah segera harus ditangani

52

3.5 INTERVENSI KEPERAWATAN

Nama/ Umur : Tn. F/ 58 Tahun Alamat : Dusun 4 Tirta Sari

No 1.

Diagnosa Keperawatan Resiko terjadinya kekurangan gizi berhubungan dengan Umum Setelah dlakukan tindakan keperawatan, keluarga

Tujuan Khusus Setelah Kriteria

Evaluasi Standar Keluarga mengetahui pengertian kekurangan gizi. Keluarga memecahkan masalah apabila ada keluarga lain yang menderita kekurangan gizi.
53

Intervensi dapat Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang cara

dilakukan Pengetahuan mampu

tindakan keperawatan keluarga

mengolah makanan yang baik dan benar. Jelaskan pada keluarga tentang bagaimana cara mencuci beras yang baik sebelum dimasak. Berikan motivasi pada dapat

mengenal bagaimana makanan yang baik. Dengan cara: Apabila pada saat mencuci beras

ketidakmampuan diharapkan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan dapat mengolah makanan itu dengan cara yang benar.

lebih baik dicuci hanya 1 x saja. Pada saat

keluarga agar mau belajar mencuci beras yang baik.

Keluarga

dapat

No

Diagnosa Keperawatan Umum

Tujuan Khusus sebelum memasak lebih sayurnya dulu sayur baik dicuci baru Sikap Kriteria

Evaluasi Standar menyebutkan dan tanda gejala

Intervensi Berikan reinforcement

atas usaha yang dilakukan atas usaha yang

kekurangan gizi. Keluarga memahami mampu tentang

dilakukan. Berikan pada keluarga cara makanan

dipotong-potong. Pada menyimpan makanan itu lebih baik tertutup berventilasi. dilemari dan saat

bahaya kurang gizi. Keluarga mampu bahaya mau untuk

bagaimana penyimpanan yang baik. Berikan motivasi

menjelaskan kembali tentang

pada

kekurangan gizi. Keluarga berusaha Perilaku

keluarga agar mengetahui tentang kegunaan dan cara makanan

keuntungan penyimpanan yang baik.

mencegah terjadinya kekurangan gizi

Berikan pujian atas usaha yang dilakukan.

2.

Resiko tinggi infeksi saluran

Setelah dilakukan

Keluarga mampu mengenal masalah :

Sikap

Keluarga mampu memahami bahaya

Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang bahaya

54

No

Diagnosa Keperawatan pernafasan b/d Umum

Tujuan Khusus Kriteria

Evaluasi Standar merokok. Keluarga mampu menjelaskan kembali tentang bahaya dari merokok.

Intervensi merokok dan efek samping dari merokok. Kaji kemampuan bahaya saat memahami bahaya dari merokok dan efek dari rokok. Berikan kesempatan keluarga bertanya tentang bahaya dari merokok dan efek dari rokok. Berikan pejelasan kembali materi yang belum

kunjungan 3 x/ 1. Bahaya dari merokok yang dapat mengganggu kesehatan. 2. Akibat dari merokok dan komposisi rokok. Resiko terjadi penyakit saluran pernapasan pada anak mereka. Perilaku

ketidakmampuan tindakan memodifikasi perilaku merokok. keperawatan Tn.F diharapkan tidak lagi merokok karena dapat merugikan kesehatan.

Keluarga mau berusaha untuk mengurangi merokok sedikit demi sedikit.

dimengerti. Evaluasi secara singkat tentang topik yang disampaikan.

55

3.6 IMPLEMENTASI

Nama/ Umur : Tn. F/ 58 Tahun Alamat Tanggal/ Jam 15-04-2013 14.30 : Dusun 4 Tirta Sari NO DX 1 Pertemuan 1 Memperkenalkan diri (bersosialisasi) M

IMPLEMENTASI

PARAF

dengan keluarga Ny. D dan mengucapkan salam perkenalan. Menyampaikan maksud dan tujuan untuk mengumpulkan data-data dalam keluarga tersebut. Menanyakan pada keluarga tentang I E

bagaimana cara pengolahan atau mencuci beras didalam keluarga dan pengolahan sayur-sayuran (ibu menjawab beras dicuci sebanyak 3-4 x kemudian beras dimasak, sedangkan sayur-sayuran terlebih dahulu dipotong kemudian dicuci dengan air habis itu dimasak). 14.40 Memberikan penyuluhan tentang N A L

bagaimana cara pengolahan beras dan sayur-sayuran secara benar. Menanyakan pada keluarga apakah sudah mengerti tentang penjelasan yang sudah disampaikan. (keluarga mengatakan sudah namum masih sedikit yang diketahui).

56

Tanggal/ Jam

NO DX

IMPLEMENTASI Menjelaskan kembali cara pengolahan beras dan sayur-sayuran secara benar. Menanyakan kepada keluarga dimana biasa tempat penyimpanan makanan yang sudah dimasak. (keluarga mengatakan makanan

PARAF M E I L A N

14.50

yang sudah masak diletakkan diatas meja ditutup dengan tudung) Mengevaluasi tentang bagaimana cara

pengolahan bahan makanan, baik itu beras ataupun sayur-sayuran. (keluarga sangat antusias mendengarkan dan sudah dapat 15.00 memahaminya) Menyarankan kepada keluarga agar paling tidak menjalankan tentang apa yang sudah bahan

dijelaskan

pengolahan

makanan dengan cara benar. (keluarga menjawab akan berusaha melakukannya). Mengontrak waktu untuk bertemu kembali besok dan memberikan salam sebelum pulang.

16-4-2013 15.30

Pertemuan II Mengucapkan salam selamat siang kepada keluarga. Mengkaji sejauh mana pengetahuan

keluarga tentang semua materi yang telah

57

Tanggal/ Jam

NO DX diberikan

IMPLEMENTASI pada saat awal pertemuan.

PARAF

(keluarga dapat menjawab sebagian dari semua materi yang diberikan). 15.40 2 Menanyakan kepada keluarga apakah

pengolahan bahan makan telah dilakukan dengan baik pada pagi ini (keluarga mengatakan telah melakukan pengolahan bahan makanan sesuai dengan yang telah diajarkan). Menjelaskan kepada keluarga tentang M E I L A N

pentingnya pengolahan makanan yang baik dan 15.45 15.50 benar (keluarga tampak antusias

mendengarkan penjelasan) Mengkaji pengetahuan keluarga tentang bahaya dari merokok dan efek dari merokok yang berlebihan. Menjelaskan tentang bahaya daripada

meroko itu dan efek dari rokok itu apa. Memberikan kesempatan pada keluarga untuk bertanya mengenai materi yang telah dijelaskan Menjelaskan kembali materi yang belum dimengerti (keluarga tampak

menganggukkan kepalanya dan mengatakan sudah mengerti sedikit) 16.00 Mengontrak waktu untuk bertemu besok sore dan memberikan salam pulang

(keluarga setuju dan mau berjumpa besok

58

Tanggal/ Jam

NO DX sore lagi)

IMPLEMENTASI

PARAF M

Mengevalusai bersama keluarga mengenai topik yang di sampaikan. Memberikan pujian kepada keluarga karena masih mampu mengingat semua topic yang I disampaikan oleh perawat. E

Memotivasi keluarga agar selalu menjaga kebersihan lingkungan disekitar rumahnya agar tampak bersih dan selalu sehat sehingga tidak menganggu kesehatan

keluarga terutama pada anak mereka. 16.20 Menyampaikan kata pamit kepada keluarga dan mengucapkan terimakasih sebesarN

besarnya atas waktu yang telah diberikan, perawat juga mengakhiri kontrak (keluarga menjawab sama-sama sambil tersenyum).

59

3.7 EVALUASI

Nama/ Umur : Tn. F/ 58 Tahun Alamat : Dusun 4 Tirta Sari

Tanggal/ Jam 15-04-2013

No DX 1

EVALUASI S : Keluarga dapat menjelaskan mengenai cara pengolahan dan penyimpanan makanan yang baik dan benar. O : Keluarga serius mendengarkan penjelasan yang diberikan dan sudah tahu keuntungan pengolahan makanan yang baik. Keluarga mampu menjawab pertanyaan yang telah ditanyakan. A : Keluarga telah mengerti tentang cara

PARAF M

pengolahan dan penyimpanan makanan yang baik P : Pertahankan rencana tindakan dan terus motivasi keluarga 16-04-2013 2 S : Keluarga mampu menjelaskan pengertian bahaya dan efek dari merokok. O : Keluarga memperhatikan penyuluhan yang diberikan. Keluarga mampu menjawab pertanyaan yang telah ditanyakan. A : Keluarga telah mengerti tentang bahaya dari merokok dan efek dari merokok.

60

Tanggal/ Jam

No DX

EVALUASI P : Pertahankan rencana tindakan dan terus motivasi keluarga

PARAF L

61

BAB 4 PEMBAHASAN

4.1.Pengkajian dari semua keluarga yang dikaji Pada tahap pengkajian, penulis banyak mendapat kesenjangan antara teoritis dengan kasus langsung dilapangan dimana pada teoritis terdapat fungsi keluarga dalam peningkatan dan pemeliharaan kesehatan tetapi pada masyarakat secara langsung penulis mengamati serta mendata keluarga menjalankan tugas dan fungsinya tidak sesuai dengan kesehatan keperawatan yaitu masalah pengolahan bahan makanan dan perilaku merokok dimana penyebab masalah itu adalah kurang pengetahuan keluarga dalam bidang kesehatan keluarga dan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah, ketidakmampuan keluarga memodifikasi perilaku. Pengkajian dari kasus ini terdiri dari 3 tahap yaitu pengumpulan data, pengolahan data dan analisa data. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung terhadap keluarga. Pada tahap ini dapat terjadi kerjasama antara keluarga dan juga penulis. Namun ada hal yang mungkin belum dijumpai karena keterbatasan waktu dan keterbatasan pengolahan data.

4.2.Analisa Data Pada proses menganalisa data, ada beberapa diagnosa yang datanya perlu ditambahkan lagi dan mendukung dari diagnosa, namun karena masih kurangnya keluarga dalam memberikan informasi yang jelas sehingga penulis mengalami kendala dalam mengumpulkan data.

4.3. Prioritas Masalah Menurut Friedmen ditemukan 3 kelompok masalah yakni kondisi tidak/kurang sehat, kondisi yang mengancam, dan situasi krisis. Sedangkan pada kasus penulis menemukan 2 diagnosa pada keluarga Tn.F dan kedua masalah tersebut tergolong kondisi yang kurang sehat, krisis dan mengancam. Untuk

32 62

kondisi tidak/kurang sehat dan situasi krisis penulis tidak menemukannya didalam kasus. Adapun diagnosa yang diperoleh penulis dalam kasus yakni : 1. Resiko tinggi kekurangan gizi berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan (pengolahan makanan yang kurang baik) 2. Resiko tinggi infeksi saluran pernapasan berhubungan dengan

ketidkmampuan memodifikasi perilaku merokok.

4.4. Intervensi Pada tahap perencanaan ini, penulis terlebih dahulu membuat prioritas masalah dengan mempertimbangkan berat ringannya masalah, sumber daya keluarga dan ketidakmampuan keluarga dalam mengatasi/mengenal masalah dan memodifikasi lingkungan rumah. Pada tahap ini penulis tidak menemukan kesenjangan antara teori pada kenyataannya penulis membuat rencana tindakan dan disesuaikan dengan masalah yang berdampak pada setiap keluarga, dimana rencana asuhan ini penulis membuat kesepakatan dengan keluarga dalam mengarahkan pelaksanaan. Pada teori dilakukan pembuatan jendela yang baik yang sesuai dengan syarat kesehatan akan tetapi dalam kasus penulis tidak melakukan pembuatan jendela dikarenakan waktu yang terbatas.

4.5. Implementasi Pada tahap ini penulis melakukan rencana yang sudah dibuat pada intervensi setiap diagnosa, akan tetapi penulis mengalami kesulitan akibat ketidakcukupan waktu, penulis datang memberi penyuluhan keluarga sering tidak ada di rumah ataupun setiap datang ke rumah keluarga Tn.F kadang sedang sibuk dengan kegiatannya. Semua rencana dapat terlaksana dengan baik tetapi tidak semua rencana dapat terlaksana dalam satu hari, namun rencana yang belum terlaksana pada hari pertama akan direncanakan pada hari berikutnya.

63

Adapun alasan rencana tidak dapat direalisasikan pada hari yang sama dikarenakan keterbatasan waktu dan keterbatasan penulis dalam melaksanakan tindakan keperawatan. Namun dari seluruh rencana tindakan dapat terealisasikan selama 2 hari karena kerja sama yang baik antara penulis dengan keluarga pada hari berikutnya.

4.6. Evaluasi Tahap evaluasi yang digunakan penulis adalah evaluasi formatif yaitu evaluasi yang dilakukan selama proses asuhan keperawatan, dan evaluasi sumatif yaitu evaluasi akhir dari 2 kali kunjungan yang dilakukan penulis. Setelah melakukan asuhan keperawatan selama 2 kali kunjungan dalam 2 hari penulis menemukan perubahan perilaku dan kemauan yang positif dari keluarga untuk meningkatkan kesehatan. Namun masih ada tujuan yang belum tercapai berhubung karena sumber daya keluarga yang kurang. Dan penulis tidak bisa melihat perubahan perilaku sepenuhnya sampai berhasil karena keterbatasan waktu.

64

BAB 5 PENUTUP

5.1. Kesimpulan Pada saat pengkajian keluarga, tidak seperti yang kita peroleh dari paparan teorinya. Dalam hal ini, ditemukan adanya kendala yaitu keluarga yang berpengetahuan rendah dan menganggap tidak ada masalah dalam kesehatan dan merasa hal itu biasa serta kurangnya informasi mengenai masalah kesehatan. Setelah dilakukan asuhan keperawatan terhadap keluarga, diharapkan tujuan pengembangan kesehatan hidup sehat bagi masyarakat dapat tercapai secara optimal. Dalam asuhan keperawatan keluarga yang telah dilakukan pada Tn .F penulis memperoleh 2 masalah kesehatan, dan kedua masalah ini masih hanya teratasi sebagian.

5.2. Saran 5.2.1 Bagi Keluarga Dalam pelaksanaan implementasi keperawatan hendaknya keluarga berpartisipasi dan bekerja sama atas penyuluhan yang diberikan penulis serta melaksanakan hal yang telah disaranakn kepada keluarga demi terlaksananya apa yang sudah direncanakan dan tercapainya tujuan dalam intervensi keperawatan.

5.2.2 Bagi penulis dan mahasiswa Dalam melaksanakan asuhan keperawatan keluarga hendaknya

mahasiswa lebih memperdalam pengetahuan dan kemampuan. Penguasaan materi, melengkapi buku-buku panduan sebagai pedoman dalam melakukan asuhan keperawatan.

65