Anda di halaman 1dari 35

Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 1

PETUNJUK
PRAKTIKUM GELOMBANG





Diterbitkan oleh :
Laboratorium Fisika Dasar-Tadris Fisika
Fakultas Tarbiyah
IAIN Walisongo
Semarang

Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 2
PRAKATA

Buku Panduan Praktikum Gelombang disusun untuk digunakan sebagai petunjuk
Praktikum Gelombang. Meskipun kelihatannya sederhana, buku panduan praktikum ini
mempertimbangkan materi kuliah dan kemampuan praktikan sehingga pelaksanaan praktikumnya
mudah dan berkualitas.
Sebelum melakukan praktikum, mahasiswa harus sudah memahami materi praktikum
sehingga dapat merencanakan data-data yang akan diambil, menggunakan kertas millimeter untuk
grafik, dan alat tulis atau gambar yang lengkap.
Praktikum secara lengkap meliputi merangkai alat, melakukan pengamatan dan
pengukuran. Sedangkan laporan lengkap berisi pengolahan data dan analisis percobaan harus
diserahkan satu minggu setelah praktikum untuk bisa mengikuti praktikum selanjutnya.
Demikian kata pengantar dari kami, semoga buku panduan ini bermanfaat dan menambah
pengetahuan serta ketrampilan, terima kasih.


Semarang, September 2011


Team Penyusun






Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 3
Daftar Isi :

1. Halaman J udul 1
2. Kata Pengantar 2
3. Daftar Isi 3
4. Aturan Praktikum 4
5. Teori Ralat 6
6. Percobaan G-1 Pegas 14
7. Percobaan G-2 Osilasi Teredam 16
8. Percobaan G-3 Ayunan Torsi 19
9. Percobaan G-4 Osilasi Cairan 21
10. Percobaan G-5 Bandul Fisis 23
11. Percobaan G-6 Resonansi Gelombang Bunyi 25
12. Percobaan G-7 Resonansi Elektrik 28
13. Percobaan G-8 Gejala Lissajous 31
14. Daftar Pustaka 35












Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 4
ATURAN PRAKTIKUM GELOMBANG

I. Kartu Praktikum
1. Setiap praktikan akan mendapatkan kartu atau nomor regu praktikum yang ditentukan oleh
laboratorium
2. Setiap praktikan harus membawa kartu praktikum setiap melakukan praktikum

II. Asistensi Pendahuluan
1. Sebelum seluruh kegiatan praktikum pendahuluan untuk mengenal alat-alat praktikum
2. Semua praktikan diwajibkan mengikuti asistensi pendahuluan
3. Ada empat hal yang harus dilaksanakan setiap percobaan : pretest, praktikum, pengesahan hasil
percobaan dan laporan resmi
4. Pretest dilaksanakan sebelum praktikum dimulai dalam bentuk lisan atau tertulis, apabila tidak
lulus pretest maka tidak boleh megikuti praktikum (mengulang pretest).

III. Pengesahan Hasil Percobaan
1. Hasil percobaan (pengamatan) dinyatakan sah apabila ada tanda tangan dari asisten
2. Hasil percobaan dibuat rangkap n+1 dengan n adalah jumlah praktikan dalam satu regu.
3. Hasil perobaan (pengamatan) satu lembar diserahkan ke laboratorium sebagai arsip, sedangkan
lembaran yang lain dibawa oleh praktikan untuk dilampirkan dalam laporan resmi (laporan
resmi dibuat per-individu tidak per-kelompok)

IV. Laporan Resmi
1. Laporan resmi harus dibuat pada kertas double folio (tidak bolak-balik)
2. Grafik dibuat pada kertas milimeter blok
3. Laporan resmi diserahkan pada hari yang telah ditentukan oleh asisten dengan dilampiri kartu
praktikum
4. Mereka yang tidak menyerahkan laporan tepat pada waktunya tidak diperkenankan mengikuti
praktikum selanjutnya



Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 5
V. Tata Tertib
1. Selama praktikum, praktikan dilarang meninggalkan ruangan tanpa ijin dari koordinator asisten
2. Selama praktikum, praktikan harus berada di meja kerja masing-masing
3. Selama praktikum, di atas meja kerja praktikan hanya ada alat tulis yang diperlukan. Sedang
semua tas dan lain-lain diletakkan ditempat yang telah disediakan
4. Bagi yang melakukan praktikum/ mengumpulkan laporan resmi maupun kepentingan lainnya
tidak diperkenankan memakai kaos oblong, sandal jepit, jaket dan topi.
5. Semua kegiatan yang ada hubungannya dengan praktikum, hanya dilaksanakan di
Laboratorium Fisika, praktikan dilarang melakukan asistensi di luar Laboratorium Fisika.

VI. Wajib Datang
1. Setiap praktikan diwajibkan datang pada semua asistensi dan praktikum pada jam yang telah
ditentukan
2. Bagi mereka yang absen tiga kali tanpa alasan yang sah akan dikenakan sanksi tidak boleh
melanjutkan praktikum.













Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 6
Teori Ralat

I. Pendahuluan
Tujuan dari pengukuran adalah mengetahui nilai yang sesungguhnya dari suatu besaran
yang diukur. Hal ini tidak mungkin dapat dicapai dengan tepat. Nilai yang diperoleh selalu
berbeda dengan nilai sesungguhnya atau mempunyai selisih meskipun selisihnya mungkin
sangat kecil. Sehubungan dengan itu dikatakan bahwa dalam pengukuran selalu timbul
kesalahan atau ralat (error). J adi usaha dalam pengukuran adalah memperoleh nilai dengan
kesalahan sekecil mungkin.
II. Macam Ralat
Ditijnjau dari penyebab ralat atau kesalahan dibagi menjadi tiga macam yaitu :
1. Ralat sistematik
2. Ralat kebetulan
3. Ralat kekeliruan tindakan

1. Ralat Sistematik
Ralat sistematik adalah ralat yang bersifat tetap dan disebabkan oleh :
a. Alat : kalibrasi alat salah, misalkan pembagian skala keliru, kondisi alat berubah-ubah,
dan lain-lain
b. Pengamat : ketidakcermatan pengamat dalam membaca, misalkan membaca skala
c. Kondisi fisis pengamat : kondisi fisis saat pengamatan tidak sesuai dengan kondisi pada
waktu alat ditera
d. Metode pengamatan : ketidak-tetapan pemilihan metode pengamatan akan
mempengaruhi hasil pengamatan.

2. Ralat Kebetulan
Dalam pengukuran berulang-ulang untuk suatu besaran fisis yang dianggap tetap
ternyata memberikan hasil yang berbeda-beda. Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada
pengamatan ini disebut dengan ralat kebetulan. Adapun factor-faktor penyebabnya adalah :
a. Kesalahan menaksir : misalkan penaksiran harga skala terkecil oleh pengamat akan
berbeda dari waktu ke waktu atau oleh satu orang dengan yang lain
Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 7
b. Kondisi fisik berubah : misalkan karena suhu dan tekanan berubah mempengaruhi
pengukuran titik didih air
c. Gangguan : misalkan getaran mekanik mempengaruhi gerakan jarum miliampermeter
sehingga arus yang terbaca berbeda
d. Definisi : misalkan pengukuran diameter pipa, karena penampang pipa tidak bulat betul
dianggap bulat sehingga mempengaruhi pengukuran diameter.

3. Ralat Kekeliruan Tindakan
Kekeliruan tindakan dalam percobaan bagi pengamat ada dua hal yaitu :
a. Salah berbuat : misalkan salah membaca skala, salah pengaturan kodisi alat, salah
perhitungan (misalkan ayunan 10 kali dihitung 9 kali)
b. Salah dalam perhitungan terutama dalam perhitungan ralat.

III. Perhitungan ralat
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kesalahan dalam pengukuran tidak dapat
dihindari, yang dapat dilakukan hanyalah memperkecil kesalahan tersebut sekecil-kecilnya.
Apabila ralat kekeliruan tindakan dan ralat sistematik dapat dihindari maka yang tidak dapat
dihindari adalah ralat kebetulan. Untuk memperkecil ralat ini harus dilakukan pengukuran
berulang, makin banyak makin baik. Tetapi tidak semua pengamatan dapat diulang, dalam hal
ini praktikan hanya dapat melakukan pengamatan sekali saja. Karena itu ralatnya adalah
setengah skala terkecil (untuk hal ini hanya dapat dilakukan bila keadaan benar-benar
terpaksa).
Dalam perhitungan ralat yang ditimbulkan oleh ralat kebetulan ada dua hal yang harus
diperhitungkan, yaitu ralat hasil pengamatan langsung dan ralat perhitungan (ralat rambatan)
sebagai berikut :
1. Ralat Pengamatan
Untuk besaran yang diperoleh secara langsung dari pengukuran (pengamatan), maka nilai
terbaiknya adalah nilai rata-rata dari besaran tersebut (yang diukur secara berulang-ulang).
Misalkan suatu besaran x diukur sebanyak k kali dengan nilai-nilai ukur adalah x
1
, x
2
,,
x
k
, nilai terbaiknya adalah x , yaitu :

=
=
k
i
i
x
k
x
1
1
(1)
Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 8
Sedang selisih antara nilai-nilai terukur dengan x dinamakan deviasi ) (o yang dapat
dituliskan sebagai berikut :
x x
i x
= o (2)
Dapat dibuktikan bahwa jka yang diambil sebagai nilai terbaik x dari nilai-nilai terukur,
maka jumlah dari deviasi-deviasi kuadratnya adalah minimum, yaitu

=
k
i
i
x
1
o adalah
minimum.
Untuk menunjukkan kesalahan (ralat) kebetulan secara kuantitatif, didefinisikan beberapa
pengertian :
1. Deviasi standar rata-rata :
) 1 (
) (
1
2

=

=
k k
x
s
k
i
i
x
o
(3)
2. Deviasi rata-rata fraksional atau relatif : % 100 ) / ( x A o = (4)
3. Deviasi standar fraksional atau relatif : % 100 ) / ( x s S = (5)
Hasil pengukuran yang dikemukakan adalah : x x x A = (6)
dengan x A dapat diambil s/2, s, 2s atau sekian kali s bergantung kepada pengamat.
Sedangkan ralat nisbinya digunakan persamaan (5).
Untuk menyatakan ketidakpastian (ralat) hasil akhir pengukuran ralat relatifnya digunakan
persamaan (4). Dalam percobaan yang dilakukan pada praktikum gelombang ini, untuk x A
diambil sama dengan
x
s (persamaan (3) dan x A ini sering disebut sebagai ralat mutlak,
sedangkan ralat nisbi atau relatifnya tentu saja sama dengan :
% 100 % 100
x
S
x
x
x
=
A
(7)
J adi hasil pengukuran adalah :
x
S x x = (8)
dengan ralat relatifnya sama dengan persamaan (7) dan keseksamaannya adalah 100%
dikurangi ralat relatifnya.

Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 9
Contoh :
Suatu batang logam diukur 10 kali dengan hasil sebagai berikut :
Pengukuran
(i)
Nilai terukur x
i

(cm)
Deviasi ) (
1
x x
(cm)
Kuadrat deviasi
2
1
) ( x x
1 47,51 +0,02 0,0004
2 47,49 0,00 0,0000
3 47,48 -0,01 0,0001
4 47,50 +0,01 0,0001
5 47,47 -0,02 0,0004
6 47,49 0,00 0,0000
7 47,48 -0,01 0,0001
8 47,46 -0,03 0,0009
9 47,53 +0,04 0,0016
10 47,49 0,00 0,0000
J umlah pengukuran k =10
90 , 474
10
1
=

= i
i
x ,

=
=
10
1
2
0036 , 0 ) (
i
i
x o
J adi nilai terbaiknya 90 , 474
10
1
= x cm
Sedangkan deviasi standar rata-rata 007 , 0
) 1 10 ( 10
0036 , 0
=

= x S
Oleh sebab itu nilai yang benar adalah :
x
S x x = (cm)
=(47,490 0,007) (cm) dengan
keseksamaan 100% - (0,007/47,490)% =99,986%
Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 10
2. Perambatan Ralat
J ika suatu besaran fisis tidak terukur secara langsung tetapi dihitung dari unsur-
unsurnya misalkan volume kubus dihitung dari sisi-sisi yang diukur, kecepatan dihitung
dari jarak ditempuh dibagi dengan waktu tempuh dan lain-lain. Pada pengukuran sisi-sisi
kubus atau jarak dan waktu tempuhnya jelas ada ralatnya, maka dalam perhitungan volume
dan kecepatannya akan timbul kesalahan juga. Kesalahan (ralat) yang timbul dari
perhitungan ini dinamakan ralat perhitungan atau ralat rambatan. Harga terbaiknya sangat
bergantung pada nilai terbaik unsur-unsur atas variabelnya.
Secara sistematis, jika suatu besaran merupakan fungsi dari variable-variabel x, y
dan z, atau f =f(x,y,z), maka nilai terbaiknya adalah ). , , ( z y x f f = Sedangkan deviasi
standar rata-ratanya sebagai nilai ketidakpastiannya dapat dirumuskan sebagai berikut :
2
1
2
2
2
2
2
2

|
.
|

\
|
c
c
+
|
|
.
|

\
|
c
c
+ |
.
|

\
|
c
c
=
z y x f
s
z
f
s
y
f
s
x
f
s (9)
dengan :
x
s x x = ,
y
s y y = , dan
z
s z z = dan |
.
|

\
|
c
c
x
f
,
|
|
.
|

\
|
c
c
y
f
, |
.
|

\
|
c
c
z
f

merupakan turunan fungsi terhadap variable x, y dan z.
Apabila dalam percobaan diperoleh hasil x lebih dari satu maka nilai x dihitung dengan
persamaan :
2
1
2
1
2
1
1
(
(
(
(

c
c
=

=
=
n
x i
n
x
i
i
i
i
x
x
x
X
dan ralatnya
2
1
1
2
1
1
(
(
(
(

c
= c

=
n
x
i i
x
x


Hal-hal yang harus diperhatikan
1. Untuk pengamatan tunggal yaitu pengukuran yang dilakukan hanya satu kali (hanya
dapat dilakukan jika keadaan memaksa), maka sebagai ralat mutlaknya lazim diambil
setengah skala terkecil
Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 11
2. Ralat nisbi (ralat relative), sebaiknya ditulis dengan dua angka penting, missal hasil
perhitungan ralat nisbi 1,53% maka diambil menjadi 1,5%
3. J ika pengukuran langsungnya ada yang teliti sampai 4 angka dibelakang koma, maka
sebaiknya hasil terakhir maksimum 3 angka. J ika ternyata dalam perhitungan diperoleh
6 angka atau leibih maka harus dibulatkan menjadi 5 angka dibelakang koma
4. J umlah decimal dari ralatnya diambil sama dengan jumlah decimal harga rata-ratanya.

IV. Grafik
1. Pendahuluan
Tiap praktikan Gelombang diharapkan tahu bagaimana menggunakan grafik secara baik
dan tepat, karena grafik sangat membantu dalam mengevaluasi data. Kegunaan sangat
besar sekali, diantaranya :
a. Sangat menolong melalui pandangan (visual aid); maksudnya dengan mengamati
bentuk grafik si penngamat sudah bias mengambil banyak informasi. Dengan
memasang di atas kertas grafik besaran-besaran yang diamati selama eksperimen dapat
dilihat dengan satu pandangan saja, di tempat mana atau disaat kapan mulai ada
perbedaan antara pengamatan dan hasil perhitungan.
b. Untuk membandingkan eksperimen dengan teori
c. Untuk menunjukkan hubungan empiris antara dua besaran walaupun orang belum
sempat menyelidiki bagaimana hubungan teoritis antara dua besaran eksperimental
besaran satu sama lain.

2. Membuat Grafik
Yang harus diperhatikan dalam membuat grafik pertama-tama besaran mana yang hendak
diplot sumbu vertikal dan besaran mana di sumbu horisontal. Sebagai perjanjian besaran
yang diplot pada sumbu horisontal adalah besaran penyebab dan pada sumbu vertikal
adalah besaran akibat. Kemudian harus dipilih skala yang sesuai untuk sumbu keduanya.
Grafik berbentuk garis lurus
Banyak percobaan yang hasilnya dapat ditampilkan dalam bentuk grafik yang mengikuti
persamaan garis lurus sebagai berikut :
Y =aX +b (10)
dengan a dan b adalah suatu konstanta.
Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 12
J ika persamaan yang berlaku dalam teori percobaan dapat dibawa kedalam persamaan (10)
maka dapat menghubungkan besaran fisis yang akan dicari dengan slope (tangent arah) dari
grafik yang diperoleh berdasarkan data-data hasil eksperimen. (Harus sudah ditentukan
besaran-besaran terukur langsung yang akan diplot yang akan diplot pada sumbu vertikal
atau horisontal).
Dengan mengetahui slope grafik (a dalam persamaan (10) maka nilai besaran fisis yang
dicari dapat diperoleh. Untuk menentukan besar slope grafik yang terpenting adalah dalam
menarik garis lurus terbaiknya. Garis lurus yang dibuat harus sedemikian rupa sehingga
banyak titik-titik data terkena garis. (Penyebaran titik-titik data harus sebanyak mungkin di
sekitar garis). Dari garis terbaik ini dapat dihitung slopenya yang sebanding dengan besaran
fisis yang akan dicari).
Untuk mencari alat slope, dicari titik-titik data terluarnya sehingga diperoleh nilai-nilai
slope ekstrimnya (maksimum dan minimum), dan nilai ketidakpastian slopenya adalah :
2
min
slope slope
slope
maks

= A (11)
dengan demikian penyajian terbaik dari slope adalah :
slope slope slope
terbaik
A = (12)
dengan mengetahui ralat nisbi tangen arah (slope) grafik dari garis terbaik maka dapat
dituliskan :
terbaik
slope
slope
x
x A
=
A
(13)
dimana x x / A adalah ralat nisbi besaran fisis dan ralat mutlaknya dapat dihitung.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat grafik :
a. Titik-titik hendaknya dibuat lingkaran atau lainnya
b. Skala dan titik nol hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga grafiknya mudah
dibaca, artinya titik nol tidak harus dipusat salib sumbu dan harga skla ordinat tidak
harus sama dengan skala absisnya
c. Grafik hendaknya diberi keterangan selengkap-lengkapnya termasuk satan-satuan
pada skala ordinat dan absis
Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 13
d. Kalau tidak yakin akan bentuk grafik, maka hendaknya ditarik garis lengkung (bukan
garis patah-patah) yang melalui hamper semua titik
e. Selalu dicoba dimana perlu untuk memberi interpretasi dari grafik, missal hubungan
linier, eksperimental dan lain-lain.

Judul Grafik

3. Grafik Bukan berupa garis Lurus
Tidak semua percobaan dapat dibuat grfik garis lurus, maka tidak perlu memaksakan untk
membuat garis lurus. Dengan memasukkan besaran-besaran pada ordinat dan absis, bentuk
grafik hanya berupa pengamatan tidak untuk perhitungan. J adi disini yang ditekankan arti
fisis dari grafik, maka perlu pengamatan yang cermat untuk dapat menganalisa bentuk
grafik yang teramati.








Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 14
PEGAS (G-1)

A. TUJUAN
1. Memahami azaz kinerja Hukum Hooke
2. Menentukan konstanta pegas

B. Landasan Teori
J ika suatu bahan dapat meregang atau menyusut karena pengaruh gaya dari luar dan
dapat kembali ke keadaan semula jika gaya yang bekerja padanya dihilangkan, maka keadaan
tersebut dikatakan mempunyai sifat elastis (misalnya pegas). Selama batas elastisitasnya belum
terlampaui maka perpanjangan pegas sebanding dengan gaya yang digunakan untuk
memperpanjangkannya, yang menurut hokum Hooke sebagai berikut :

x k F A = . (1)

dimana : k = konstanta gaya pegas (N/m)
x A =perubaan panjangn pegas (m)
F =gaya yang diberikan (N)


Gambar. G-1.1. Pebebanan pegas Gambar. G-1. Osilasi pegas

Disamping cara pembebanan, konstanta pegas k dapat dicari dengan cara getaran,
benda yang mempunyai berat w digantung pada pegas dan pegas mengalami osilasi maka
periode getarannya adalah :
Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 15
k
m
T t 2 = atau k m T / 4
2
t = (2)
Untuk mencari konstanta pegas dapat digunakan persamaan :
2
2
4
T
m
k
t
= (3)

C. Alat dan Bahan
1. Pegas
2. Statif
3. Beban
4. Stopwatch

D. Cara Kerja
1. Metode Pembebanan
1. Tentukan massa pemberat
2. Letakkan pegas pada statif
3. Ukur panjang pegas tanpa pemberat, dan setelah dibebani pemberat
4. Ulangi cara kerja untuk massa pemberat yang berbeda

2. Metode Osilasi
1. Tentukan massa pemberat
2. Letakkan pegas pada statif
3. Tarik pemberat ke bawah kemdian lepaskan dan catat waktu untuk berosilasi n kali
4. Ulangi cara kerja untuk massa pemberat yang berbeda

Tugas
1. Tentukan nilai k (konstanta pegas) untuk pegas tunggal, secara seri dan paralel.








Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 16
OSILASI TEREDAM (G-2)

A. Tujuan
1. Menentukan konstanta pegas
2. Menentukan konstanta redaman pada percobaan osilasi teredam dengan menggunakan zat
cair sebagai redaman.

B. Landasan Teori
Pada getaran selaras sederhana, amplitude dari getaran tersebut selalu konstan.
Amplitudo setiap osilasi pegas nyata/ ayunan sederhana secara pelan menurun terhadap waktu,
sampai akhirnya osilasi berhenti sama sekali. Hal ini dapat kita sebut sebagai getaran teredam.
Pada getaran teredam bekerja gaya pemulih dan gaya gesekan yang besarnya berlawanan
dengan gerak benda. Misalkan F menyatakan gaya pemulih dan F adalah menyatakan gaya
gesekan, maka dapat dituliskan persamaan :
x k F . = dan bv F = ' (1)
' F F F
total
+ = (2)
v b x k a m . . . = (3)
Ingat bahwa
t
x
v
c
c
= dan
2
2
t
x
a
c
c
= sehingga persamaan di atas dapat ditulis :
0 .
2
2
= +
c
c
+
c
c
x k
t
x
b
t
x
m (4)
0
2
2
= +
c
c
+
c
c
x
m
k
t
x
m
b
t
x
(5)
0 2
2
0 2
2
= +
c
c
+
c
c
x
t
x
t
x
e (6)
dalam persamaan terakhir
m
b
= 2 dan
m
k
=
2
0
e merupakan frekuensi sudut getaran.
Persamaan diferensial getaran teredam seperti persamaan diatas hamper sama dengan
persamaan diferensial getaran harmonis dengan tambahan suku
t
x
c
c
2 , yang mempunyai solusi
) cos( . o e

+ =

t e A x (7)

Persamaan (7) dimasukkan kedalam persamaan (5) maka didapat penyelesaian :

2
2
4
2
T m
k
m b
t
= (8)
Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 17
dengan :
b : konstanta redaman
m : massa bandul
k : konstanta pegas
T : periode osilasi

Dari persamaan terakhir terlihat bahwa redaman mempengaruhi besar frekuensi
getaran, selain itu amplitude juga berkurang secara eksponensial (fungsi eksponensial terhadap
waktu).


Gambar G-2.1. grafik getaran teredam

C. Alat dan Bahan
1. Sebuah pegas
2. Beban
3. Statif
4. Stopwatch
5. Zat cair
6. Ember
7. Mistar

D. Langkah Kerja
1. Timbang beban yang digunakan
2. Pasang pegas pada statif
3. Tarik beban ke bawah, kemudian ukur pertambahan panjang pegas
4. lepas beban kemudian catat waktu yang diperlukan pegas untuk berosilasi n kali
5. Lakukan langkah di atas dengan menggunakan massa yang berbeda
6. Tentukan konstanta pegas yang digunakan
Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 18
7. Letakkan ember yang telah diisi air di bawah pegas yang telah dipasang beban
8. Ulangi langkah-langkah di atas dengan menggunakan redaman zat cair dalam ember
9. Menghitung periode untuk mencari konstanta redaman.




Gambar G-2.2. Skema percobaan getaran teredam


Tugas :
1. Menentukan konstanta pegas
2. Menentukan konstanta redaman














Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 19
AYUNAN TORSI (G-3)
A. Tujuan
1. Menentukan momen kelembaman (I)
2. Menentukan frekuensi sudut (e )

B. Landasan Teori
Bentuk Geometri
Sebuah titik massa bermassa m berada pada jarak r dari sumbu putar maka momen
kelembaman (I) adalah :
2
.r m I = (1)
Untuk benda yang kontinyu, momen kelembaman terhadap suatu sumbu putar dapat
diperoleh dengan membagi-bagi benda atas elemen-elemen massa yang bermassa dm yang
berada pada jarak r dari sumbu putar tersebut adalah : dm r I .
2
}
= (2)
Untuk lempeng bentuk persegi panjang yang bermassa m, panjang p dan lebar l, maka
momen kelembamannya terhadap sumbu putar yang melalui pusat lempeng dan tgak lurus
pada bidang lempeng (gambar G.1.a) adalah :
) (
12
1
l p m I + = (3)
Sedang untuk lempeng lingkaran yang berjari-jari r serta bermassa m, maka momen
kelembamannya terhadap sumbu yang melalui pusat lempeng dan tegak lurus lempeng
(gambar G.1.b) adalah :
2
.
2
1
r m I = (4)
Momen kelembaman dapat juga dicari dengan cara getaran. Misalkan diambil
lempeng persegi panjang, maka momen kelembamannya terhadap sumbu yang melalui pusat
lempeng sejajar sisi panjang p adalah :
) (
12
1
2 2
t l m I + = (5)

Gambar G-3.1. lempeng persegi panjang Gambar G-3.2. lempeng lingkaran
Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 20
Ayunan Torsi

Lempeng digantung dengan kawat pada statif sehingga kawat
penggantung berimpit dengan sumbu yang melalui pusat
lempeng (gambar G.2). Bila lempeng diputar sebesar sudut u ,
maka kawat akan mengadakan gaya pemulih sebesar tu ,
dimana t adalah suatu konstanta torsi kawat.
Gambar G-3.3. Ayunan torsi lempeng segi empat
Maka persamaan gerak ayunan torsi adalah :
0
2
2
= +
c
c
u
t u
I t
(6)
Dari persamaan (6) diperoleh bahwa frekuensi sudut e dalam waktu getar T adalah :
I
t
e = maka
I
T
t
t 2 = (7)
Dengan konstanta kawat (momen torsi kawat baja) t =23954
C. Alat dan Bahan
1. Lempeng logam persegi dan lingkaran
2. Stopwacth
3. Statif
4. J angka sorong
5. Mikrometer sekrup
6. Kawat baja

E. Cara Kerja
I. Bentuk Geometri
1. Ukur panjang, lebar, tebal serta diameter
2. Timbang masing-masing lempeng
II. Ayunan Torsi
1. Gantungkan lempeng pada kawat baja
2. Putar lempeng hingga membentuk sudut u (u tidak boleh terlalu besar)
3. Catat waktu yang diperlukan untuk n ayunan
4. Dilakukan untuk lempeng persegi dan lingkaran
Tugas
1. Hitung momen kelembaman dengan menggunakan cara kerja I dan II, baik persegi maupun
lingkaran dan frekuensi sudutnya.
Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 21
OSILASI CAIRAN (G-4)

A. Tujuan
1. Menentukan percepatan gravitasi bumi
2. Mengetahui frekuensi osilasi e dari cairan

B. Landasan Teori

J ika permukaan zat cair pada kaki kiri tabung U naik x cm dari
permukaan awl, maka permukaan zat cair pada kaki kanan
akan turun x cm, sehingga terdapat perbedaan tinggi kedua
permukaan sebesar 2x cm. Perbedaan tinggi permukaan ini
menyebabkan gaya sebesar g x A 2 yang berlawanan dengan
simpangan zat cair.

Gambar G-4. osilasi cairan

Menurut Hukum Newton II :
F a m = . (1)
g Ax
dt
x d
lA 2
2
2
= (2)
0
2
2
2
= +
l
gx
dt
x d
(3)
J ika
2
/ 2 e = l g dimana e adalah frekuensi sudut osilasi dang mengingat bahwa
T / 2t e = maka periode osilasi tanpa redaman adalah :
g
l
T
2
t = (4)

C. Alat dan Bahan
1. Tabung U
2. Cairan pengisi
3. Stopwacth
4. Penggaris
5. Benang


Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 22
D. Cara Kerja
1. Isi tabung U dengan air
2. Ukur panjang cairan sebelah dalam dan sebelah luar tabung
3. Miringkan posisi tabung supaya terdapat perbedaan ketinggian
4. Tutup salah satu ujung tabung dan tegakkan tabung U kembali
5. Buka tutup tabung supaya air berosilasi dan catat waktunya
6. Ulangi cara kerja di atas untuk air diganti minyak tanah.

Tugas
1. Tentukan frekuensi osilasi cairan
2. Tentukan nilai percepatan gravitasi g
























Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 23
BANDUL FISIS (G-5)

A. Tujuan
Menentukan percepatan gravitasi dengan menggunakan bandul fisis
B. Landasan Tori
Gambar G-5 menunjukkan benda tegar yang tergantung pada sumbu horisontalnya melalui
titik O. Benda kemudian digerakkan dengan membentuk sudut u dari posisi vertikalnya.
Benda akan mengalami gaya pemulihnya sebesar :
- u sin . . . h g M (1)

Karena u kecil maka : - u sin .. . . h g M =- u .. . . h g M (2)
Persamaan gerakan benda dapat ditulis sebagai :
-
2
2
.. . .
dt
d
I h g M
u
u = (3)
I adalah momen inersia terhadap sumbu batang yang melalui O.

Gambar G-5. benda tegar

Gerak benda adalah gerak harmonis dan mempunyai periode sebesar :
Mgh
I
T t 2 = (4)
Dengan teorema sumbu sejajar, momen inersia pada titik g (pusat girasi) adalah I
g
sehingga :
2
.h M I I
g
+ = (5)
Dengan
2
.k M I
g
= (k =jari-jari girasi) (6)
Persamaan (4) dapat ditulis kembali dengan :
gh
h k
T
2 2
2
+
= t (7)
Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 24
Periode ayunan bandul matematis adalah ;
g
l
T t 2 = (8)
Periode dari benda tegar sama dengan periode osilasi bandul matematis dengan panjang bandul
fisis :
h
k
h l
2
+ = (9)
Penyelesaian persamaan (9) adalah :
0
2 2
= + + k hk h ; L h h = +
2 1
;
2
2 1
k h h = (10)
J arak k
2
/h
1
diukur sepanjang sumbu dari titik G sampai titik O yang merupakan pusat osilasi.
Periode O sama dengan periode O sehingga pusat suspensi osilasi dapat dipertukarkan,
sehingga percepatan gravitasi dari bandul fisis adalah :
I
T
g
2
2
4t
= (11)

C. Alat dan Bahan
1. Batang berlubang
2. Batang besi sebagai poros
3. Penggaris
4. Stopwacth

D. Cara Kerja
1. Ukur panjang batang dari C sampai B (jarak d)
2. Ayunkan batang dan catat waktu untuk n ayunan
3. Ulangi percobaan dengan panjang batang yang berbeda.

Tugas
Hitung percepatan gravitasi g dari persamaan (11)








Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 25
Resonansi Gelombang Bunyi (G-6)

A. Tujuan
1. Memahami resonansi gelombang suara
2. Menentukan kecepatan rambat gelombang suara di udara
3. Menentukan frekuensi garpu tala

B. Landasan Teori
Dua buah gelombang yang merambat melalui suatu medium dapat dipandang
sebagai resultan penjumlahan gelombang tersebut (superposisi). Hasil dari penjumlahan ini
menimbulkan fenomena yang menarik, seperti adanya gelombang diam, pelayangan,
interferensi, difraksi dan resonansi. Superposisi dari suatu gelombang dating dan gelombang
pantulnya dapat menghasilkan gelombang yang dikenal sebagai gelombang diam atau
gelombang stasioner atau gelombang berdiri.
Ciri umum gelombang berdiri, jika gelomang tersebt dating secara terus menerus
maka superposisinya antara gelombang dating dan gelombang pantul akan terus menerus
terjadi dan akhirnya akan terjadi resonansi. Resonansi pada umumnya terjadi jika gelombang
frekuensi yang sama atau mendekati frekuensi alamiah (frekuensi resonansi tali), dan pola
gelombang berdiri berbeda tergantung dari frekuensi resonansinya. Seperti yang terlihat pada
gambar di bawah ini :

Gambar G-6.1. Pola gelombang berdiri

Peristiwa resonansi ini banyak sekali dimanfaatkan dalam kehidupan, misalnya saja
resonansi gelombang udara pada alat-alat musik. Gelombang suara merupakan gelombang
mekanik yang dapat dipandang sebagai gelombang simpangan atau gelombang tekanan.
Contoh yang lain, apabila gelombang suara merambat pada suatu tabung berisi udara, maka
gelomban datang dan gelombang pantul oleh ujung-ujung tabung akan terjadi superposisi,
sehingga dapat timbul resonansi gelombang berdiri. Resonansi ini terjadi jika panjang tabung
udara merupakan kelipatan dari 4 / ( =panjang gelombang). Yang tergantung pada bentuk
tabung jika gelombang suara dipandang sebaga gelombang simpangan, pada ujung yang
Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 26
tertutup akan terjadi simpul, tetapi jika ujungnya terbuka akan terjadi perut. Lihat gambar di
bawah ini ;

Gambar G-6.1.a. Gambar G-6.1.b.

Untuk tabung yang salah satu ujungnya tertutup, hubungan antara panjang tabung L
dan panjang gelombang adalah :
4 / ) 1 2 ( + = n L dengan n =0, 1, 2, 3, (1)
Dan untuk tanbung yang kedua ujungnya terbuka, maka :
4 / ) 2 2 ( + = n L dengan n =0, 1, 2, 3, (2)
Karena N / v = (v =kecepatan rambat suara dan N =frekuensi), maka :
N n L 4 / ) 1 2 ( v + = (3)
N n L 4 / ) 2 2 ( v + = (4)

C. Alat dan Bahan
1. Tabung gelas dengan reservoirnya
2. Zat cair
3. Garputala

D. Langkah Kerja
1. Usahakan agar mula-mula permukaan air dalam air tabung cukup tinggi dekat dengan
ujung atas dari tabung (dengan reservoir)
2. Ambil garputala yang frekuensinya telah diketahui, kemudian getarkan garputala tersebut
dengan alat pemukul garputala. Untuk menjamin keamanan tabung gelas, lakukan
pemukulan garputala jauh dari tabung
3. Catat kedudukan permukaan air, ketika terdengar suara yang sangat keras. Turunkan lagi
permukaan air sampai terjadi resonansi lagi, catat kedudukan permukaan air. Cari resonansi
di sepanjang tabung.
4. Lakukan percobaan ini sebanyak 4 kali untuk garputala yang sama
5. Ulangi langkah 2 sampai 4 untuk garputala yang lain (yang belum diketahui frekeunsinya).


Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 27
Tugas
Hitung v (kecepatan rambat bunyi) dengan data percobaan diatas, kemudian bandingkan dengan v
(kecepatan ranbat bunyi) sesuai persamaan berikut :


2 / 1
) / ( M RT v =

dengan : =1,40
R =8.314 J /mK
M =massa moleku udara (2,28 g/mol =2,28.10
-3
kg/ mol)
T =temperature udara (Kelvin)

























Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 28
Resonansi Elektrik (G-7)

A. Tujuan
Menentukan cepat rambat bunyi di uadar

B. Landasan Teori
Gelobang bunyi merupakan gelombang longitudinal yang terjadi karena rapatan dan
regangan medium gas, cair, atau padat. Gelombang ini dihasilkan ketika sebuah benda, seperti
garputala yang digetarkan dan getaran ini menyebabkan gangguan pada kerapatan medium.

Gambar G-7.1. tabung udara dengan ujung satu tertutup dan ujung satunya disumbat dengan
piston yang dapat bergerak

Karena udara tidak dapat bergetar melalui ujung yang tertutup, maka dapat dipastikan bahwa
titik ini merupakan simpul simpangan dari gelombang suara.
Syarat gelombang berdiri untuk system ini sama seperti untuk tali yang terikat pada
kedua ujungnya. Persamaan yang berlaku adalah panjang tabung (1) harus merupakan suatu
bilangan bulat kali setengah panjang gelombang ( 2 / 1 ). Dengan kata lain panjang gelombang
yang diperbolehkan adalah panjang gelombang yang sesuai dengan panjang tabung. Sehingga
terdapat simpul-simpul simpangan pada tiap ujung. Sehingga :

2
n
n L

= dengan n =1, 2, 3, (1)
L =panjang tabung (m)

n
=panjang gelombang (m)
Dengan demikian frekuensi yang diperbolehkan adalah :

/ 2L
v v
f
n
n
= = (2)
f n
L
v
n f
n
.
2
. = = (3)
dengan

L
v
f
2
1
= sebagai nada dasar
Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 29
Gelombang bunyi dapat dianggap sebagai gelombang tekanan yaitu getaran
longitudinal molekul-molekul udara maju mundur karena variasi tekanan udara. Variasi
tekanan udara ini bersifat sinusoidal jika simpangan bersifat sinusoidal. Pipa organa
merupakan contoh lazim penggunaan gelombang berdiri dalam kolom udara.
Untuk pipa organa tertutup :


Harmonik pertama =nada dasar =
l
v
fl l
4 4
1
= =
J arak antar dua puncak gelombang yang berurutan dinamakan panjang gelombang
( ). Ketika gelombang menjalar sepanjang tabung, molekul-molekul udara kita anggap sebuah
gerak titik pada gelombang tali yang bergerak naik-turun dan tegak lurus terhadap arah
penjalarannya. Selama satu periode (T), gelombang menempuh jarak satu panjang gelombang.
Sehingga cepat rambat gelombang diberikan oleh persamaan :
T v / = (4)
f v = (5)
dengan: v =kecepatan gelombang
f =frekuensi getaran (Hz)
=panjang gelombang (m)

C. Alat dan Bahan
1. Tabung Resonansi Elektrik
2. AFG (audio Frequency Generator)
3. CRO (Cathode ray Oscilloscope)
4. Probe

D. Langkah Kerja
1. Rangkailah alat seperti pada skema gambar di atas, gerakkan piston pada posisi sangat
dekat dari ujung tabung
2. Aturlah frekuensi dari AFG kira-kira 800 Hz, kemudian naikkan amplitude gelombang
sampai terdengar suara yang jelas dari loudspeaker, catat frekuensinya
Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 30
3. J ika menggunakan osiloskop hubungkan pada loudspeaker output, amati dan catat
frekuensi gelombang yang terlihat pada osiloskop
4. Tekan piston dengan pelan, sampai terdengar bunyi dari loudspeaker yang dikuatkan oleh
tabung
5. Atur posisi piston sampai dihasilkan bunyi yang jelas sebagai sinyal, catat posisinya
6. Tekan piston kembali sampai ditemukan bunyi yang jelas pada posisi lain, catat posisi
kedua
7. Ulangi langkah-langkah di atas dengan menggunakan frekuensi yang berbeda.

Skema alat percobaan



Tugas
Tentukan panjang gelombang ( ) sesuai data percobaan.











Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 31
Gejala Lissajous (G-8)
A. Tujuan
3. Mampu menggunakan osiloskop dan generator isyarat
4. Mampu menngunakan osiloskop untuk menukur tegangan AC, frekuensi gelombang listrik

B. Landasan Teori
Osiloskop adalah sebuah alat untuk menampilkan tingkah laku dari besaran listrik yang
berubah-rubah terhadap waktu yang hendak dianalisa. Osiloskop sering disebut juga CRO
(Catoda Ray Oscilloscope) karena komponen utama didalamnya adalah tabung sinar katoda
untuk visualisasi dari gejala listrik yang diukur. Tabung sinar katoda tersebut terdiri atas :
tabung vakum, senapan elektron, lensa fokus, keping pembelok, layer pendar. Selain itu jua
dilengkapi dengan seperangkat peralatan elektronik antara lain : penguat, tegangan, unit
sumber tegangan tinggi, switch pemutus/ pengatur.
Dalam analisa terhadap perilaku suatu rangkaian, osiloskop ini dilengkapi dengan generator
isyarat. Alat ini memiliki spesifikasi yaitu : jenis tegangan AC, frekuensi dapat divariasi,
variasi deatenuasi (pelemahan) sinyal, dan dapat menampilkan bentuk gelombang persegi,
kotak, maupun gergaji. Untuk mengoperasikan osiloskop harus mengetahui panel-panel yang
ada dan fungsinya. Panel-panel yang ada pada osiloskop antara lain :
1. Power
Digunakan untuk menghidupkan dan mematikan osiloskop dengan memutus sumber catu
daya.nya
2. Time/ div
Tombol in berfungsi menentukan besar waktu setiap skala hosrisontal dari gambar yang
ditampilkan di layer. Sehingga jika dilakukan pengubahan skala ini, maka yang berubah
hanya panjang gelombangnya, sedangkan amplitudonya tetap.
3. Volt/ div
Berfungsi untuk menentukan besar tegangan setiap skala vertical. J ika dilakukan
pengubahan skala ini, maka yang berubah amplit udonya (tegangan) gelombangnya,
sedangkan panjangnya tetap.
4. Mode
Switch ini digunakan untuk memilih masukan pada osiloskop antara lain ;
CH1 : masukan adalah chanel 1
CH2 : masukan adalah chanel 2
ADD : masukan adalah penjumlahan CH1 dan CH2
DUAL : kedua masukan ditampilkan bersama
Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 32
5. AC-GND-DC
Switch ini untuk memilih jenis sinyal yang diukur AC atau DC. Sedangkan GND adalah
membawa masukan ke awal (nol).
6. Position
Knop ini berfungsi untuk menggeser-geser posisi gambar ke ara sumbu x
7. Position
Knop ini berfungsi untuk menggeser-geser posisi gambar kea rah sumbu y
8. Inten
Knop ini berfungsi untuk mengatur intensitas cahaya yang membentuk layer
9. Focus
Berfungsi untuk memfokuskan gambar
10. Cal 2V P-P
Merupakan fasilitas untuk melakukan kalibrasi. J ika input dihubungkan ke panel ini harus
menghasilkan tegangan 2 volt dari puncak ke puncak jika tidak sesuai harus dilakukan
kalibrasi CRO sampai bias digunakan.
11. Trace rotation
Lubang ini digunakan untuk membenarkan posisi gambar jika miring dengan mengunakan
obeng.

Gambar G-8.1. bagian dari panel osiloskop

Panel-panel generator isyarat :
Bagian-bagian dari generator isyarat antara lain :
1. Power
Saklar untuk menghidupkan da mematikan generator
2. Wave form
Berfungsi sebagai switch pemilih bentuk gelombang (kotak, segitiga, sinusoidal)
3. Variator frekuensi
Knop yang berfungsi untuk memilih frekuensi keluaran sesuai skala yang ditunjukkan
Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 33
4. Frequency range
Switch yang berfungsi sebagai pelipat frekuensi dari skala yang ditunjukkan oleh variator
frequency.
5. Attenuator (dB)
Knop ini berfungsi untuk memperlemah sinyal yang dikeluarkan oleh generator pada skala
dB.
6. Amplitudo
Berfungsi untuk mengatur tegangan keluaran dari generator isyarat

Gambar G-8.2. bagian dari panel generator isyarat

Perlu diketahui bahwa setiap instumen baik osiloskop maupun generator isyarat, memiliki
spesifikasi konfigurasi panel yang berlainan untuk merk dagang yang berbeda.

C. Alat dan Bahan
1. Osiloskop 2 chanel dan 2 probe
2. Generator isyarat
3. Transformator
4. Batu baterai
5. Kabel dan voltmeter

D. Cara Kerja
I. Kalibrasi
1. Masukkan probe pada chanel input yang diinginkan
2. Pilihlah chanel tersebut dengan switch mode
3. Pilih switch AC-GND-DC ke pilihan AC
4. Hubungkan probe ke Cal 2V P-P kemudian bacalah pada layer tegangan yang
dihasilkan
5. J ika tegangan belum 2 V P-P Osiloskop belum siap digunakan dan harus dilakukan
kalibrasi lagi.
Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 34
II. Mengukur tegangan AC
1. Hidupkan transformator
2. Hubungkan input CRO ke keluaran sekunder transformator
3. Switch AC-GND-DC ke pilihan GND dan garis yang ditampilkan digeser ke tengah
sumbu dengan menggunakan position Y da kembalikan lagi ke AC
4. Hitung skala ampiltudonya dan volt/ div yang ditunjukkan
5. lakukan juga pengukuran dengan voltmeter

III. Mengukur frekuensi
1. Cara langsung
Cara pengukuran frekuensi ini sama dengan mengukur tegangan AC hanya yang dicatat
adalah panjang 1 gelombang dan time/ div-nya untuk mendapatkan T periode.
Sedangkan frekuensinya adalah :

T
f
1
=
2. Cara Lissajous
1. Masukkan generator isyarat pada chanel 2 pada tegangan yang besarnya kira-kira
sama dengan tegangan transformator dan transformator masih tetap terhubung
seperti di atas
2. Pilih switch mode ke DUAL dan switch volt/ div dari CH 1 dan CH 2 pada
tegangan yang sama
3. Putarlah t ombol time/ div pada X-Y
4. Carilah frekuensi gambar yang sesuai dengan bentuk di bawah ini dengan
mengubah-ubah frekuensi generator isyarat dan bacalah frekuensi generator isyarat
tersebut.


Fx : fy =1 : 1 fx : fy =1 : 2 fx : fy =1 : 3 fx :fy =2 : 1 fx : fy =3 : 1

Dengan fx =f di CH 1 dan fy =f di CH 2


Laboratorium Fisika-Tadris Fisika Iain Walisongo 35
Daftar Pustaka
1. Halliday & Resnick , Fisika I, terjemahan, Erlangga, J akarta
2. Ingersoll, L. R.; M. J . Martin & T. A. Rouse, Experiment in Physics
3. Sears, F. W., Principle of Physics
4. Sudarmanto, Agus & Purnomo, J oko Budi, Panduan Praktikum Gelombang, Laboratorium
Fisika IAIN Walisongo Semarang