Anda di halaman 1dari 2

Prajurit TNI Dalam Penerapan Hak Asasi Manusia, dan Hukum Humaniter

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara hukum, maka setiap perangkat negara dalam bertindak dan tindakannya harus berdasar dan sesuai dengan hukum. Oleh karenanya pelibatan kekuatan, tindakan-tindakan prajurit dan satuan jajaran TNI harus sesuai dengan batas-batas wewenang yang telah ditetapkan dalam peraturan perundangundangan yang berlaku. Untuk itu setiap prajurit TNI dimanapun bertugas harus memahami dan menghayati hal apa saja yang boleh dan hal apa saja yang tidak boleh dilakukan terkait dengan HAM : 1. Dilarang melakukan pembunuhan dan penyiksaan. a. Pembunuhan hanya boleh dilakukan terhadap musuh bersenjata dalam pertempuran. b. Apabila seorang lawan menyerah atau tertangkap, maka mereka berhak untuk memperoleh perlindungan dan perlakukan sesuai hukum yang berlaku, oleh karenanya tidak boleh disiksa atau dibunuh. c. Perkosaan terhadap wanita adalah bertentangan dengan kode kehormatan militer dan merupakan pelanggaran HAM. d. Penggunaan teknik penyiksaan untuk memperoleh pengakuan atau keterangan merupakan pelanggaran HAM. Perlu dipahami bahwa keterangan yang diperoleh melalui penyiksaan tidak menempatkan seseorang menjadi tersangka dan tingkat kebenaran keterangan tersebut meragukan. e. Kepentingan militer, keamanan nasional dan dasar-dasar lainnya bukanlah sebagai unsur pembenar tindakan penyiksaan f. Perlakuan yang salah terhadap rakyat akan merugikan pelaksanaan tugas antara lain dapat memberikan kesempatan bagi orang, kelompok atau institusi tertentu untuk mendiskreditkan TNI. Dilarang menghilangkan orang lain. a. Dilarang menangkap dan atau menahan seseorang di luar ketentuan hukum yang berlaku, b. Setiap orang yang berada dalam penguasaan (ditangkap atau ditahan) sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan dalam hubungan tugas, menjadi tanggung jawab pimpinan/komandan satuan sebagai pejabat negara. c. Penangkapan dan penahanan harus diikuti tindakan : 1) Pencatatan identitas, alasan penangkapan dan penahanan, hari, tanggal, waktu dan tempat penahanan dan pelepasan atau pemindahan tempat penahanan. 2) Laporan kepada komando atas. 3) Memberikan informasi kepada keluarganya. 4) Memberikan kesempatan berhubungan dengan keluarga, baik berupa kunjungan ataupun surat menyurat. Dilarang merusak dan mengambil harta benda orang lain. a. Setiap prajurit TNI harus menghindarkan diri dari tindakan perusakan terhadap harta benda yang dapat menimbulkan penderitaan rakyat.

2.

3.

b. Pengambilan atau pencurian harta benda milik rakyat akan merugikan dan menyakiti hati rakyat serta menambah kesulitan rakyat. 4. Dilarang melakukan penghukuman di luar putusan pengadilan atau main hakim sendiri. a. Hak hidup, kebebasan dan hak atas harta benda seseorang di negara hukum, tidak dapat dicabut kecuali atas putusan peradilan. b. Penghukuman seseorang hanya boleh dilakukan setelah melalui proses peradilan. c. Setiap orang tanpa diskriminasi agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, dan keyakinan politik dalam kehidupan perorangan maupun kelompok adalah sama dihadapan hukum. Selain hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan terkait dengan HAM, setiap prajurit TNI juga harus memahami dan menghayati perkembangan hukum perang yang menjadi hukum sengketa bersenjata yang kemudian menjadi hukum humaniter. Prinsip hukum humaniter tersebut, yaitu : 1. Pihak-pihak yang bersengketa, setiap saat, harus membedakan antara kombatan dan penduduk sipil, guna menyelamatkan penduduk sipil dan obyek-obyek sipil. Maka para pihak bersengketa harus memberikan perlindungan terhadap kombatan maupun penduduk sipil dari penderitaan yang tidak perlu (unnecessary suffering). 2. Penduduk sipil, demikian pula orang-orang sipil secara perorangan, tidak boleh dijadikan obyek serangan walaupun dalam hal pembalasan (reprisals). Artinya menjamin hak asasi manusia yang sangat fundamental bagi mereka yang jatuh ke tangan musuh. Kombatan yang jatuh ke tangan musuh harus dilindungi dan dirawat serta berhak diperlakukan sebagai tawanan perang. 3. Tindakan maupun ancaman kekerasan yang tujuan utamanya untuk menyebarkan teror terhadap penduduk sipil adalah dilarang. Hal ersebut untuk mencegah dilakukannya perang secara kejam tanpa mengenal batas. Hal yang terpenting disini adalah asas kemanusiaan. 4. Pihak-pihak yang bersengketa harus mengambil segala langkah pencegahan yang memungkinkan untuk menyelamatkan penduduk sipil atau, setidak-tidaknya untuk menekan kerugian atau kerusakan Demikian lembar Penpas ini disampaikan untuk dapat dipedomani dan dilaksanakan oleh setiap prajurit di jajaran TNI.