Anda di halaman 1dari 34

ZPT

ZPT Pendahuluan
Pada dasarnya proses tekstil adalah proses yang berkelanjutan antara satu tahapan dengan tahapan lainnya sehingga keberhasilan suatu proses tekstil sangat bergantung pada proses sebelumnya. Salah satu contohnya adalah proses pencelupan kain tenun kapas yang merupakan rangkaian proses dari mulai penghilangan kanji, pemasakan, pengelantangan dan merserisasi atau tanpa merserisasi dengan setiap tahapan proses tersebut harus berjalan baik karena akan mempengaruhi hasil proses selanjutnya. Pada contoh tersebut, suatu proses akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh berbagai faktor seperti metoda, mesin, manusia, zat kimia dan lain-lain. Pada buku ini akan dibahas satu faktor saja, yaitu zat-zat kimia yang dapat membantu proses tekstil sehingga diperoleh hasil yang memuaskan. Dalam istilah tekstil, zat-zat kimia tersebut dikenal dengan nama zat pembantu tekstil, karena sifatnya sebagai zat tambahan yang akan membantu proses tekstil sehingga dapat berlangsung dengan sempurna. Akan tetapi dengan berkembangnya teknologi zat pembantu tekstil secara pesat, maka saat ini penggunaannya tidak hanya sebagai zat pembantu saja tapi juga sudah menjadi zat kimia yang utama dalam suatu proses tekstil, seperti dalam proses pencucian dengan surfaktan yang tidak lain adalah zat pembantu tekstil.

Zat-zat kimia yang termasuk zat pembantu tekstil tersebut sangat beragam dari mulai asambasa, oksidator, reduktor, zat pengikat logam, surfaktan, sampai zat pembantu yang biasa digunakan untuk proses penyempurnaan.
Pada prinsipnya zat pembantu tekstil akan mengkondisikan larutan atau zat kimia utama yang digunakan dalam suatu proses menjadi kondisi yang dikehendaki, sebagai contoh adalah proses pencelupan serat poliester menggunakan zat warna dispersi. Pada proses tersebut diperlukan suatu kondisi larutan yang asam p! ","#, sehingga perlu ditambahkan zat kimia yang dapat membuat p! larutan menjadi turun, seperti asam asetat, asam format, atau yang lainnya sebagai pengatur p!, agar sesuai dengan yang diharapkan dan tetap stabil selama proses berlangsung, sehingga diperlukan zat tambahan lainnya, yaitu zat pendispersi yang akan membantu mendispersikan zat warna dengan sempurna karena sifat zat warna dispersi yang tidak larut dalam air.

$ntuk itu zat pembantu tekstil sangat berperan

penting dalam proses tekstil, terutama

proses basah tekstil. %anpa penambahan zat pembantu tekstil ini, maka proses tersebut tidak akan berjalan dengan baik, sehingga berakibat hasil akhirnya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam pemilihan zat pembantu tekstil, diperlukan analisis yang baik, sehingga tepat penggunaannya atau dengan kata lain tidak terjadi tumpang tindih penggunaan zat pembantu tekstil, untuk itu tekstil. &ontoh zat pembantu tekstil dalam setiap tahapan proses basah tekstil dapat dilihat pada uraian berikut ini diperlukan pemahaman yang mendalam dari mulai struktur kimia, mekanisme dan fungsi zat pembantu tekstil dalam suatu proses basah

Proses Basah Tekstil Pada dasarnya proses tekstil adalah proses yang berkelanjutan antara satu tahapan dengan tahapan lainnya sehingga keberhasilan suatu proses tekstil sangat bergantung pada proses sebelumnya. Salah satu contohnya adalah proses pencelupan kain tenun kapas yang merupakan rangkaian proses dari mulai penghilangan kanji, pemasakan, pengelantangan dan merserisasi atau tanpa merserisasi dengan setiap tahapan proses tersebut harus berjalan baik karena akan mempengaruhi hasil proses selanjutnya. Pada contoh tersebut, suatu proses akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh berbagai faktor seperti metoda, mesin, manusia, zat kimia dan lain-lain. Pada buku ini akan dibahas satu faktor saja, yaitu zat-zat kimia yang dapat membantu proses tekstil sehingga diperoleh hasil yang memuaskan. alam istilah tekstil, zat-zat kimia tersebut dikenal dengan nama zat pembantu tekstil, karena sifatnya sebagai zat tambahan yang akan membantu proses tekstil sehingga dapat berlangsung dengan sempurna. !kan tetapi dengan berkembangnya teknologi zat pembantu tekstil secara pesat, maka saat ini penggunaannya tidak hanya sebagai zat pembantu saja tapi juga sudah menjadi zat kimia yang utama dalam suatu proses tekstil, seperti dalam proses pencucian dengan surfaktan yang tidak lain adalah zat pembantu tekstil.

Zat-zat kimia yang termasuk zat pembantu tekstil tersebut sangat beragam dari mulai asambasa, oksidator, reduktor, zat pengikat logam, surfaktan, sampai zat pembantu yang biasa digunakan untuk proses penyempurnaan. Pada prinsipnya zat pembantu tekstil akan mengkondisikan larutan atau zat kimia utama yang digunakan dalam suatu proses menjadi kondisi yang dikehendaki, sebagai contoh adalah proses pencelupan serat poliester menggunakan zat "arna dispersi. Pada proses tersebut diperlukan suatu kondisi larutan yang asam #p$ %,%&, sehingga perlu ditambahkan zat kimia yang dapat membuat p$ larutan menjadi turun, seperti asam asetat, asam format, atau yang lainnya sebagai pengatur p$, agar sesuai dengan yang diharapkan dan tetap stabil selama proses berlangsung, sehingga diperlukan zat tambahan lainnya, yaitu zat pendispersi yang akan membantu mendispersikan zat "arna dengan sempurna karena sifat zat "arna dispersi yang tidak larut dalam air. 'ntuk itu zat pembantu tekstil sangat berperan penting dalam proses tekstil, terutama proses basah tekstil. Tanpa penambahan zat pembantu tekstil ini, maka proses tersebut tidak akan berjalan dengan baik, sehingga berakibat hasil akhirnya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. alam pemilihan zat pembantu tekstil, diperlukan analisis yang baik, sehingga tepat penggunaannya atau dengan kata lain tidak terjadi tumpang tindih penggunaan zat pembantu tekstil, untuk itu diperlukan pemahaman yang mendalam dari mulai struktur kimia, mekanisme dan fungsi zat pembantu tekstil dalam suatu proses basah tekstil. (ontoh zat pembantu tekstil dalam setiap tahapan proses basah tekstil dapat dilihat pada uraian berikut )

Proses Penyempurnaan Basah *ndustri tekstil merupakan industri terbesar diantara industri yang lain di dunia dalam hal +ariasi jumlah produksi dan karya"an pabrik. *ndustri tekstil sangat ber+ariasi dalam hal skala industri, dari skala besar, menengah sampai skala kecil, dan meliputi +ariasi jenis produksi yang beraneka ragam yang melibatkan bahan dari serat alam #kapas, sutera dan "ol&, serat dari polimer alam seperti rayon dan linen, sampai serat sintetik dari berbagai jenis

polimer, seperti polietilen tereftalat #polyester biasa, polyester celup kation&, poliamida #,ylon&, poliakrilonitril dengan kopolimer dari jenis tertentu #!crilan, -rlon&, poli+inil klorida #Saran&, Poliuretan #Spande.&, dan lain-lain. *ndustri tekstil terutama yang melakukan proses penyempurnaan basah, persoalan yang timbul tidak hanya dibatasi oleh persyaratan air yang digunakan untuk proses dan air limbah yang harus dibuang ke lingkungan, tetapi juga oleh penggunaan zat kimia pembantu yang sangat ber+ariasi jumlahnya. Biasanya pada proses tersebut terjadi tahapan proses yang panjang, dengan berbagai persyaratan penggunaan zat kimia pembantu pada setiap tahapan, yang berakibat pada berbagai jenis limbah cair dari setiap tahapan tersebut. $al lain yang terjadi pada industri tekstil adalah profil industri yang sangat ber+ariasi, termasuk besarnya +ariasi laju fluktuasi jenis dan jumlah produksi, termasuk konsentrasi limbah yang harus dibuang. /eanekaragaman untuk memproduksi tekstil juga makin memerlukan kesadaran dalam pemilihan peralatan yang banyak berhubungan dengan penggunaan air, zat kimia, dan energi. Banyak dita"arkan peralatan dengan teknologi baru, yang dapat digunakan untuk seluruh rangkaian proses atau sebagian proses, dengan mutu produk yang baik tanpa mengabaikan proses produksi secara akrab linkungan. Salah satu contoh proses penyempurnaan tekstil dengan teknologi baru yang memperhatikan proses akrab lingkungan adalah proses penyempurnaan kain kapas.

Penghilangan

Kanji

(Desizing)

Proses pengilangan kanji merupakan tahap proses yang penting dalam persiapan penyempurnaan untuk menghilangkan kanji yang ada dalam kain sebelum proses pertenunan.

Benang sintetik biasanya dikanji dengan kanji yang dapat larut dalam air seperti kanji gom dan P0! #poli+inil alkohol& dan dapat terlepas dari kain dalam air panas pada proses pemasakan. /ain dari serat alam seperti kapas biasanya diproses dengan kanji yang tidak dapat larut dalam air atau diproses dengan campuran kanji dan bahan lain yang harus dihilangkan atau diurai menjadi molekul yang lebih kecil, supaya dapat terlepas dari kain pada proses penghilangan kanji.

!pabila proses penghilangan kanji tidak sempurna, akan menghalangi penetrasi zat penyempurnaan selanjutnya secara merata ke dalam kain. Proses penghilangan kanji alam dapat dilakukan dengan asam atau enzim, yang akan memecahkan rantai molekul kanji yang panjang menjadi molekul pendek yang dapat larut dalam air. /emudian dilakukan proses pembilasan untuk melepaskan kanji yang sudah larut dari kain. Proses pelepasan kanji dalam pembilasan dan sebelum proses pemasakan perlu dilakukan, karena kanji yang telah diuraikan oleh enzim atau asam, dan masih menempel pada kain, akan menyebabkan terbentuknya reaksi sisa kanji dengan natrium hidroksida yang ditambahkan pada proses pemasakan, dan menimbulkan noda-noda ber"arna pada kain. Penghilangan kanji P0! dan (1( #karboksimetil selulosa& yang dapat langsung larut dalam air, tidak memerlukan penguraian kanji menjadi rantai molekul yang lebih pendek, cukup dilakukan pembilasan dengan air, dan kan ji akan dipisahkan dari kain.

ZPT pada esizing Penghilangan kanji dengan Enxym Penghilangan kanji dengan enzim banyak dilakukan karena biayanya murah dan tidak merusak bahan. 2nzim merupakan biokatalis, yang berasal dari tumbuh-tumbuhan #1alt&, binatang #pancreas& dan bakteri. !ktifitas penghilangan kanji secara enzimatik biasanya dibantu oleh garam natrium klorida #garam dapur&, pengaturan p$ dan suhu, sesuai dengan jenis enzim. alam proses ini perlu dicapai kondisi kain yang menyerap zat pembantu dengan merata, terjadi reaksi enzimatik dengan sempurna dan diikuti proses pembilasan yang baik sehingga kain bebas dari hasil penguraian kanji.

Penghilangan kanji dengan asam Penghilangan kanji dilakukan dengan larutan encer asam klorida atau asam sulfat pada suhu panas, yang diikuti pembilasan dengan air dingin dan proses penetralan dalam larutan alkali encer.

Penghilangan kanji secara oksidasi Penghilangan kanji dengan oksidator merupakan proses yang tidak kon+ensional, yang menggunakan natrium hipokloorit, hidrogen peroksida, atau natrium bromida. ZPT pada Scouring Pemasakan (Scouring) Serat kapas yang merupakan serat alam, mengandung 3-45 kandungan non serat seperti malam #"a.&, asam lemak, protein, pektin, zat mineral, dan sebagainya. Proses pemasakan bertujuan untuk menghilangan kandungan non serat tersebut, kecuali bahan "arna alam, dengan larutan deterjen dalam suasana alkali atau larutan sabun. Proses pemasakan berlangsung dalam suasana alkali kuat dengan pemanasan pada suhu diatas 677o(.

Zat Kimia Pembantu 8arutan pemasakan untuk kain kapas mengandung alkali kuat #kostik soda&, zat pembasah, dan zat pelunak air #se9uestering agent&. Tetapi, kadang-kadang ditambahkan juga natrium karbonat, natrium silikat, dan lain-lain. !sam lemak akan tersabunkan oleh alkali kuat membentuk sabun yang larut, yang akan mengemulsi munyak-minyak tak tersabunkan dan malin yang ada dalam serat kapas: sehingga mudah dipisahkan dari serat. Protein yang ada akan dilarutkan sebagai asm amino, dan pektin yang sebelumnya merupakan garam-garam kalsium, magnesium atau besi, akan menjadi larut oleh alkali. $emiselulosa sebagai kandungan non serat juga akan terlarut oleh alkali dan akan keluar dari serat kapas. ZPT pada Bleaching

Pengelantangan (Bleaching) Proses pengelantangan merupakan proses persiapan untuk menghilangkan "arna alami pada serat kapas atau linen mentah, yang tidak ikut keluar dari serat pada proses pemasakan.

Proses pengelantangan juga dimaksudkan untuk mendapatkan hasil yang maksimum pada proses selanjutnya seperti pe"arnaan #pencelupan dan pencapan. Penggunaan zat pengelantang bisa ber+ariasi, tergantung pada jenis serat dalam bahan tekstil #benang atau kain& dan proses penyempurnaan selanjutnya sesuai tujuan pemakaian. !da tiga zat pengelantang sebagai zat kimia utama, yaitu garam klorit, hipoklorit dan peroksida yang larut dalam air. Zat Kimia Pembantu Proses pengelantangan mengalami beberapa tahapan proses, yaitu ) /ain dibasahi secara merata dengan zat oksidator, zat pengaktif, zat penstabil, dan zat kimia pembantu lain: Suhu dinaikkan sampai batas tertentu sesuai jenis serat dan "aktu pengelantangan yang dibutuhkan untuk tercapainya pengelantangan yang sempurna: /emudian kain dicuci dan dibilas dengan baik, dan dikeringkan

Pengelantangan dengan

ipoklorit

Proses pengelantangan dengan hipoklorit atau chemicking, dilakukan dengan ,a-(l, atau kalsium hipoklorit atau kaporit ;(a#-(l&3, yang dinyatakan dalam kadar klorin tertentu. Penggunaan zat pengelantang ini diukur dalam kadar klorin aktif #(l3&, dan dalam proses sangat tergantung pada suasana p$ larutan. Pada larutan dengan p$ < 67, zat pengelantang ini berada dalam bentuk natrium atau kalsium hipoklorit, pada p$ % - =,% terbentuk asam hipoklorit #$-(l& dan pada p$ > % asam hipoklorit akan berubah menjadi klorin. alam proses ini dibutuhkan asam atau alkali untuk mengatur p$, zat pembasah dan zat perata untuk membantu penyerapan dan proses pengelantangan secara merata. Pada umumnya kain diproses dengan larutan natrium hipoklorit dengan kadar klorin 3 - 4 g?8, selama 6% - @% menit, pada p$ chemicking antara A,% - 67,%, dan kalau perlu ditambahkan 7,% g?8 natrium karbonat.

Proses ini perlu dilaksanakan dengan hati-hati, untuk menghindarkan kerusakan oleh asam yang terbentuk dalam reaksi pembentukan -n. Setelah pengelantangan, kain dicuci dan dibilas sampai bersih dari sisa-sisa klorin. Biasanya ditambahkan $(l untuk mengikat sisa klorin di dalam air dan pada permukaan kain, dan memberikan daya oksidasi lanjut, baru kemudian diloakukan penetralan dan pembilasan.

Pengelantangan dengan

idrogen Peroksida

Pengelantangan dengan hdrogen peroksida menghasilkan kain putih yang permanen #sementara proses chemicking menghasilkan kain yang lebih putih tetapi tidak permanen&. Pengelantangan dengan peroksida dalam bentuk natrium peroksida #,a3-3& atau hidrogen peroksida #$3-3&, paling banyak dilakukan #A75& baik untuk sertat alam maupun serat buatan. Penggunaan senya"a peroksida ini perlu diaktifkan dalam suasana alkali, untuk mengaktifkan ion perhidrol, yang dalam kondisi asam posisinya sangat stabil alam suasana alkali kation hidrogen akan dinetralkan oleh anion -$ pada alkali, sehingga pembentukan ion perhidrol terus terbentuk untuk mengaktifkan proses pengelantangan. 'ntuk pengelantangan bahan kapas mentah biasanya digunakan natrium hidroksida sebagai alkali kuat, sedangkan untuk "ol, sutera, atau serat sintetik digunakan natrium karbonat sebagai alkali lemah. Zat pembantu tekstil lain yang digunakan adalah zat pembasah dan zat perata, serta zat pengikat logam. Pengelantangan dengan Klorit Pengelantangan dengan natrium klorit #,a(l-3& merupakan proses lama yang tidak banyak lagi dilakukan, karena selama proses akan timbul gas klorin yang berbahaya bagi kesehatan. ZPT pada pemutih optik

Pemutihan !ptik (!ptical "hitening)

Pemutihan optik merupakan proses untuk memberikan kesan kain tampak lebih putih karena menggunakan zat pemutih optik #optical brightening agents& atau zat pencerah dengan fluoresensi #fluorescent brightening agents&. Berbeda dengan pengelantangan yang merupakan proses kimia karena terjadi reaksi oksidasi atau reduksi terhadap pigmen alam di dalam serat, pada pemutihanan optik, kain diproses dengan zat pemutih optik yang memencarkan sinar berfluoresensi diatas permukaan kain, karena zat tersebut yang menyerap energi gelombang elektro magnetik di daerah ultra +iolet #sinar tak tampak oleh mata, terserap pada panjang gelombang antara 377 nm - @77 nm&, dan meneruskan sinar ke daerah tampak #pada panjang gelombang diatas @77 nm&. Sebagai contoh, untuk zat pemutih optik dari senya"a bis #triazinil& stilbena, akan meneruskan ? meng-emisikan gelombang elektro magnetic ke daerah tampak #"arna biru-+iolet pada panjang gelombang @77 - @=7 nm&.

ZPT pada Pretreatment

Penggunaan Zat Pembantu Pada Proses Persiapan Proses persiapan yang meliputi penghilangan kanji, pemasakan dan pengelantangan, harus dilakukan secara sempurna dengan menggunakan zat kimia utama pada masing-masing proses. Penyerapan secara merata dan sempurna biasanya harus dibantu dengan zat pembantu tekstil. Zat pembantu yang biasa digunakan meliputi deterjen anionik dan nonionik, zat pengikat logam #se9uestering agents&, zat penghilang noda #stain remo+ing agents&, dan zat pembantu pemasakan pada suhu didih dalam ketel #/ier-boiling assistant&. #eterjen $nionik ($nionic #etergents Beberapa contoh deterjen anionik yang digunakan dalam proses persiapan adalah zat aktif permukaan atau surfaktan seperti natrium dodesil benzen sulfonat ;(64$3%#(B$BS-4,a&C dan

alkil alkohol tersulfatkan seperti seto - stearil sulfat ;(6D$4%(--(6B$43#-S-4,a&C dan seto oleil sulfat ;(6%$46(--(6B$43#-S-4,a&C #eterjen %onionik Pada proses pemasakan banyak digunakan deterjen nonionik yang bersifat multi guna misalnya nonil fenol etilen oksida ;(A$6A-(B$B---#($3($3--&=-($3($3--$C, stearil etilen oksida ;(6D$4%#($3($3--&A-($3($3--$C dan oleil etilen oksida ;#($3($3--&A-($3($3-$C Zat Pengikat 8ogam #Se9uestering !gents& i dalam air sebagai medium seringkali mengandung garam - garam logam sadah #kalsium dan magnesium&, logam berat #besi dan mangan& dan logam lainnya. Penggunaan zat pengikat logam #se9uestering agents& dari jenis zat anorganik misalnya pengikat logam dan garam sadah ;,a@E,a3#P-4&B, dan ,a3P-D,C, dan dari jenis zat organik seperti garam natrium dari etilena diamino tetra asam asetat #2 T!& ;#$--(($3&3-,-($3($3-,#($3-(--$&3C dan nitrilo tri asam asetat #,T!& ;#$--($3-,-#($3-(--$&3C, banyak digunakan untuk melunakkan air sebelum digunakan dalam proses basah atau selama proses basah. Zat Pengikat %oda

'ntuk mengikat doda-noda yang dapat mengganggu dalam proses persiapan, dapat digunakan zat pengemulsi anionik atau nonionik yang bersifat aktif permukaan, seperti natrium dodesil benzen sulfonat ;(64$3%#(B$BS-4,a&C dan nonil fenol etilen oksida ;(A$6A(B$B---#($3($3--&=-($3($3--$C, sehingga dapat mengikat noda-noda, terutama noda lemak atau "arna yang bersifat menolak air. Zat Pembantu Pemasakan dalam Ketel (ampuran natrium hidroksida dengan surfaktan anionik atau nonionik yang bersifat pengemulsi, seperti natrium dodesil benzen sulfonat ;(64$3%#(B$BS-4,a&C dan nonil fenol etilen oksida ;(A$6A-(B$B---#($3($3--&=-($3($3--$C, banyak digunakan dalam pemasakan bahan kapas mentah yang mengandung minyak atau lemak. Pada proses

pemasakan di dalam ketel bertekanan tinggi, akan terjadi proses penyabunan yang sempurna terhadap minyak atau lemak alami dari dalam kapas mentah. Zat Pemutih !ptik Zat pemutih optik harus mempunyai struktur yang planar dan mempunyai gugus ikatan rangkap yang dapat berkonjugasi, terutama gugus-gugus pendonor electron #electrondonating ngroups& seperti --$: --F, dan -,$3, dan bukan gugus penarik elektron #electron"ithdra"ing groups& seperti -,-3 dan -,G,: dan mempunyai kemampuan untuk meneruskan ? mengemisikan sinar atau gelombang elektro magnetik dari daerah tak tampak #ultra +iolet& ke daerah tampak sekitar panjang gelombang @%7 nm #"arna biru&, dan menetralkan "arna kuning di daerah tampak yang ada pada kebanyakan serat tekstil. Selain gugus pendonor electron, zat pemutih optik juga mempunyai gugus asam sulfonat #seperti pada zat "arna asam, gugus kationik #seperti pada zat "arna basa& dan gugus non pelarut #seperti pada zat "arna disperse&. engan demikian zat pemutih optic tersebut dapat digunakan untuk semua jenis serat, sesuai dengan golongannya, yaitu jenis karbosiklik, campuran karbosiklik-heterosiklik, dan heterosiklik.

Proses &erserisasi Proses merserisasi merupakan proses alkali #,a-$& pada bahan kapas mentah, sehingga serat kapas akan mengembang membentuk morfologi serat yang membulat dari asal bentuk serat yang terpilin #con+oluted form&. Pada proses merserisasi serat kapas digunakan larutan ,a-$ dengan konsentrasi 6% - 475, dengan perendaman yang singkat #@7 - @% detik& dan dalam keadaan penarikan pada suhu diba"ah suhu kamar #6=-37o(& Proses merserisasi masih termasuk persiapan sebelum pengelantangan, pe"arnaan, dan proses selanjutnya. Proses ini terutama dilakukan pada kain kapas atau linen dengan larutan alkali kuat seperti natrium hidroksida. /ain direndam di dalam larutan ,a-$ konsentrasi tinggi dalam "aktu sangat singkat, cukup untuk membuat serat mengembang dan diberi penarikan, sehingga serat kapas atau linen akan mempunyai daya serap lebih tinggi terhadap larutan di samping meningkatkan kekuatan dan kilau serat.

Zat Kimia Pembantu /arena perendaman sangat singkat, maka untuk mendapatkan daya serap yang merata, sering digunakan surfaktan yang tahan alkali kuat seperti zat aktif permukaan golongan kresilat dan non kresilat, yang kemudian dinetralkan dengan penyabunan.

Zat akti' anion jenis kresilat dan non kresilat Pada proses mereserisasi bahan kapas, digunakan larutan natrium hidroksida pekat #3@5&, sehingga sukar terserap ke dalam serat, terutama apabila bahan dalam bentuk kain. /arena perendaman sangat singkat, maka untuk mendapatkan daya serap yang merata, sering digunakan surfaktan sebagai zat pembasah yang tahan alkali kuat seperti zat aktif permukaan golongan kresilat dan non kresilat #(resylic and non-cresylic agents&. (resylic agents /ondensat antara p-kresol dengan asam naftol sulfonat dan formaldehid dengn katalis natrium bisulfit, #p-cresol H 3-naphthol-B-sulphonic-acid condensated "ith formaldehyde, catalyzed by sodium besulphite, kemudian digaramkan dengan alkali %on(cresylic agents /ondensat antara p-kresol dengan asam naftol sulfonat dan formaldehid dengn katalis natrium bisulfit dengan 67 unit naftalen #naphthalene-3-sulphonicacid condensated "ith formaldehyde "ith about 67 naphthalene unit& Zat Pembantu Penyabunan

Setelah proses merserisasi, bahan kapas atau linen perlu disabun untuk menetralkan sifat alkali kuat dari dalam kain. alam hal ini biasa digunakan deterjen anionik dari jenis natrium dodesil benzen sulfonat ;(64$3%#(B$BS-4,a&C atau natrium alkil alkohol tersulfatkan seperti ceto - stearil sulfat ;(6D$4%(--(6B$43#-S-4,a&C . Proses Pencelupan

Proses Pencelupan (#yeing) Proses pencelupan merupakan gabungan proses yang menghasilkan pe"arnaan secara merata pada seluruh permukaan bahan tekstil, dengan hasil yang permanent, yang biasanya dinyatakan dalam ketahanan luntur "arna terhadap pencucian, sinar matahari, gosokan, oksidasi, sublimasi, dan keringat. /etahanan luntur "arna tersebut sangat tergantung pada banyak factor, antara lain jenis bahan ? serat tekstil, jenis zat "arna, jenis dan alat proses pencelupan, proses lanjut setelah pencelupan, dan sebagainya. /erataan hasil pencelupan juga sangat bergantung pada banyak factor, seperti kondisi proses persiapan sebelumnya #penghilangan kanji, pemasakan, pengelantangan, termasuk merserisasi ? kostisasi, pemanas a"etan, dan sebagainya&, jenis proses #perendaman atau kontinyu&, peralatan untuk pencelupan, perbandingan antara jumlah air sebagai medium dengan berat bahan, dan kondisi proses pencelupan #prubahan p$ larutan, perubahan suhu, tekanan, dan sebagainya&. Bahan tekstil dicelup dengan berbagai jenis zat "arna, tergantung pada jenis serat serat alam dari jenis selulosa #kapas, linen, rami&, serat alam dari protein #sutera dan "ol&, serat semi sintetik dari selulosa #rayon +iskosa& dan asetilsasi selulosa #rayon asetat&, seratr sintetik penuh seperti polester #polietilen tereftalat, dean polibutilen tereftalat&, poliamida linier #,ylon B atau BB&, poliamida aromatic #!ramid dan /e+lar&, poliakrilat #poliakrilonitril dengan modifikasi monomer anionik seperti !crylan atau (ourtelle, poliakrilonitril dengan modifikasi monomer kationik seperti Zefran&, dan sebagainya. Beberapa jenis zat "arna akan me"arnai bahan tekstil melalui kemampuan molekul zat "arna untuk dapat terikat kepada serat yang dipengaruhi oleh banyak faktor. i dalam pencelupan dikenal tiga tahap penyerapan zat "arna ke dalam serat, yaitu migrasi zat "arna dari fasa larutan ke bidang antarmuka larutan dan serat disertai dengan penyerapan zat "arna pada permukaan serat: difusi zat "arna dari permukaan serat ke bagian dalam serat: dan ikatan antara zat "arna dengan serat secara ikatan tertentu seperti ikatan hidrogen, gaya

0ander IaalJs, ikatan ion, ikatan ko+alen, atau ikatan fisika tertentu. 1aka perlu disebutkan beberapa jenis zat "arna untuk mencelup bahan tekstil. Selain zat "arna, proses pencelupan juga membutuhkan zat pembantu pencelupan yang juenis dan banyaknya pemakaian sangat ber+ariasi. Zat pengikat seperti gasam anorganik, asam, alkali, dan garam-garam logam sering digunakan dalam pencelupan, tetapi hendaknya dihindarkan penggunaan garam-garam logam berat, karena akan mencemari lingkungan dengan bahan berbahaya dan beracun #B4&. Karam-garam mineral seperti natrium klorida #garam dapur& atau natrium sulfat #garam Klauber& sering digunakan sebagai zat elektrolit atau pendesak zat "arna anionik seperti asam, direk atau atau reaktif ke dalam bahan. Lungsi garam-garam tersebut secara luas akan membantu pencelupan serat selulosa dalam )

menambah kekuatan ionik larutan pencelupan, meningkatkan afinitas zat "arna terhadap serat, menambah koefisien difusi zat "arna ke dalam serat, mencegah terjadinya hidrasi zat "arna anionik, meningkatkan potensial interaksi zat "arna, mengurangi gaya potensial negatif sari serat, dan mencegah penetralan gaya elektrolit antara zat "arna dengan serat

Pencelupan dengan berbagai zat warna Pencelupan dengan )at *arna reakti' Sebagai zat "arna yang larut dalam air, yang mengandung gugus reaktif #monokloro triazin, dikloro triazin, +inil sulfon, +inil sulfon amida, tetrakloro pirimidin, dan lain-lain& dengan gugus pelarut yang bersifat anionik, teknologi pencelupan zat "arna reaktif ke dalam bahan dari serat selulosa #kapas, rayon&, protein #sutera, "ol&, dan poliamida #,ylon&, berbeda dengan penggunaanh jenis zat "arna lain. alam hal ini, akan terjadi reaksi kimia antara gugus reaktif dalam zat "arna dengan serat-serat tersebut, secara ikatan ko+alen. /elancaran proses pencelupan, khususnya pembentukan ikatan ko+alen tersebut sangat bergantung pada penambahan zat pembantu seperti natrium klorida, urea, natrium karbonat, tri natrium fosfat,

atau tetra natrium pirofosfat. !pabila setelah pencelupan dilakukan pencucian ? penyabunan dan kemudian pembilasan dengan sempurna, maka zat "arna yang terikat secara ikatan ko+alen dengan serat, akan menyebabkan hasil pencelupannya mempunyai ketahanan luntur "arnas yang baik terhadap pencucian ? penyabunan.

Pencelupan dengan )at *arna bejana Zat "arna bejana tidak dapat larut dalam air, sehingga harus dilakukan proses reduksi #terhadap gugus karbonil dari kromofor antrak"inon atau indigo, atau turunannya& dengan penambahan garam natrium hidrosulfit dalam p$ tinggi #membentuk larutan garam leuko&, pada pencelupannya dengan bahan dari serat selulosa #kapas dan linen&, atau p$ netral #pembentuk asam leuko& pada pencelupannya dengan serat "ol, sutera atau serat poliamida. Setelah terjadi pencelupan dengan rata, "arna yang tereduksi dioksidasi kembali menjadi zat "arna di dalam bahan yang tidak larut. !pabila setelah pencelupan dilakukan pencucian ? penyabunan dan kemudian pembilasan dengan sempurna, maka hasil pencelupannya mempunyai daya tahan luntur "arna yang tinggi terhadap pencucian dan sinar matahari. 'ntuk mendapatkan hasil pencelupan yang rata dan daya serap yang optimum, dibutuhkan beberapa zat pembantu pencelupan seperti ) natrium hidroksida dan natrium hidrosuldit #pembentukan garam leuko&, zat pendispersi #memudahkan pembentukan garam leuko&, hidrogen peroksida dan natrium perborat, asam asetat #penetral alkali&, dan natrium klorida #pendesak garam leuko ke dalam serat&.

Pencelupan dengan )at *arna na'tol atau a)oat Zat "arna naftol atau zat "arna azoat merupakan hasil reaksi penggabungan dua komponen. Pada proses pencelupan, komponen naftol yang dilarutkan menjadi garam naftoat dengan penambahan alkali kuat, dicelupkan pada bahan tekstil #umumnya dari serat selulosa&, kemudian diproses dengan larutan garam diazonium dari basa naftol #garam amina aromatik yang didiazotasikan&, komponen naftol di dalam bahan akan menggandeng garam diazonium, membentuk pigmen naftol yang tidak larut dalam air. !pabila setelah pencelupan dilakukan

pencucian ? penyabunan dan kemudian pembilasan dengan sempurna, maka hasil pencelupannya mempunyai daya tahan luntur "arna yang tinggi terhadap pencucian, sinar matahari dan ketahanan luntur lainnya, kecuali ketahanan terhadap gisokan basah.

Pencelupan dengan )at *arna basa (kation) Zat "arna basa, merupakan garam hidroklorida dari senya"a basa organik atau amina aromatik, dengan gugus kromofor bersifat kationik, sehingga sering disebut zat "arna kation. Zat "arna basa dapat mencelup serat-serat "ol, sutera, poliamida dan poliakrilat anionik. /arena mencelup secara ikatan ionik, maka pada pencelupan dengan "ol atau sutera tahan lunturnya terhadap pencucian dan sinar matahari kurang memuaskan, tetapi pada serat poliakrilat "arna hasil pencelupan lebih cerah dan lebih tahan cuci. Pada pencelupan dengan zat "arna basa dibutuhkan beberapa jenis zat pembantu untuk mebuat zat "arna bersifat kationik menggunakan larutan asa seperti asam asetat, asam format, asam oksalat, atau asam tanin, ditambah garam elektrolit #natrium klorida&, dan buffer sebagaipengatur p$ #natrium asetat atau etilen karbonat&.

Pencelupan dengan )at *arna direk Zat "arna direk merupakan zat "arna yang larut dalam air, dengan struktur mirip zat "arna asam, yaitu mempunyai gugus pelarut berupa garam natrium sulfonat yang bersifat anionik dalam jumlah yang lebih sedikit dibanding zat "arna asam, tetapi mempunyai berat molekul yang lebih tinggi sehingga disebut zat "arna substantif. Zat "arna direk dapat mencelup serat selulosa #kapas dan rayon&, protein #sutera dan "ol& dan poliamida #,ylon&. alam pencelupannya terutama untuk serat selulosa, dilakukan dalam suasana alkali lemah, dengan penambahan garfam elektrolit #natrium klorida atau natrium sulfat& dan zat pembasah. /arena sifatnya yang larut dalam air, sering dilakukan proses perbaikan tahan luntur zat "arna menggunakan zat pembantu fiksasi.

Pencelupan dengan )at *arna dispersi Zat "arna dispersi banyak digunakan untuk mencelup serat polyester dan poliamida. /arena daya larutnya dalam air sangat kecil, maka penyerapan zat "arna terjadi secara perpindahan dispersi zat "arna dari larutan monomolekuler ke dalam serat. Pencelupan pada suhu mendidih atau diba"ahnya hanya dapat berlangsung dengan penambahan zat pengemban, yang biasanya berupa larutan organic golongan fenolik atau aromatic terklorinasi yang merupakan pencemar jenis B4. 'ntuk menggantikan cara tersebut, pada bahan polyester biasa dilakukan pencelupan secara suhu dan tekanan tinggi #high temperature and high pressure& pada suhu diatas transisi gelas H647o(, atau secara termofiksasi pada suhu mendekati suhu lunak H 6A7o(. 'ntuk mendapatkan hasil pencelupan yang rata dan daya serap yang optimum, dibutuhkan beberapa zat pembantu pencelupan seperti ) natrium hidroksida dan natrium hidrosuldit #pembentukan garam leuko&, zat pendispersi #memudahkan pembentukan migrasi zat "arna ke dalam serat&, asam asetat #p$ @ - %&, dan zat pengemban #ortofenil fenol, butyl benzoat, klorobenzen, dietil ftalat, dan lain-lain&. Pada pencelupan dengan zat "arna dispersi dengan penambahan zat pengemban, hendaknya dihindari penggunaan pelarut organik yang bersifat B4, seperti golongan fenol, kloro benzene dan turunannya.

Pencelupan dengan )at *arna mordan Zat "arna ini tidak dapat berikatan langsung dengan serat, sehingga terlebih dahulu bahan tekstil dicelup dengan garam logam oksida #ferooksida, ferioksida, aluminium oksida, dan lain-lain&, atau logam mineral #fero sulfat, ferisulfat, aluminium sulfat, ammonium sulfat, dan lain-lain&. Pada zaman dulu banyak digunakan logam krom atau tembaga sebagai garam mordan, tetapi bahan ini dilarang karena berupa logam berat yang termasuk pencemar B4. 'ntuk mendapatkan hasil pencelupan yang rata dan daya serap yang optimum, dibutuhkan beberapa zat pembantu pencelupan seperti ) pengatur p$ asam #asam asetat, asam format dan asam sulfat&, elektrolit aAnatrium klorida, zat penetrasi, dan garam mordan #kalium dan natrium bikromat, ammonium sulfat, fero sufat, aluminium aulfat atau garam-garam oksidanya

Pencelupan dengan )at *arna sul'ur Zat "arna sulfur atau zat "arna belerang merupakan senya"a organik yang mengandung gugus rangkap sulfida, dan tidak larut dalam air. Pada pencelupan serat selulosa #kapas, linen dan rayon&, zat "arna dilarutkan dengan cara mereduksi dalam larutan natrium sulfide dengan penambahan natrium karbonat. Setelah pencelupan dilakukan oksidasi zat "arna di dalam bahan dengan cara diangin-anginkan atau menggunakan zat oksidator seperti hydrogen peroksida yang ramah lingkungan. $asil pencelupan dengan zat "arna sulfur ini sangat tahanh terhadap pencucian, tetapi tidak tahan terhadap sinar matahari. alam pencelupannya, zat "arna sulfur juga membutuhkan zat elektrolit #natrium klorida, natrium sulfat&, zat pereduksi #natrium sulfida dan natrium karbonat&, dan zat oksidator #natrium kromat, hydrogen peroksida, dan lain-lain&.

Zat *arna yang terlarang (golongan B+) Banyak zat "arna yang masuk golongan B4 #bahan beracun berbahaya&, dan terlarang untuk digunakan dalam proses tekstil, yang banyak dilarang adalah zat "arna yang dapat terurai menjadi amina aromatik dan bersifat karsinogen #menyebabkan kanker&. Banyak zat "arna nazo masuk dalam golongan B4, karena selain mudah terhidrolisa menjadi senya"a amina aromatic, juga mudah terurai dalam penyimpanan sehingga terbentuk senya"a yang bersifat karsinogen. ZPT pada Proses Pencelupan

Penggunaan sur'aktan dalam pencelupan Proses pencelupan merupakan pe"arnaan secara merata pada seluruh permukaan bahan. Penggunaan jenis zat "arna sangat bergantung pada jenis serat yang akan di"arnai, sehingga

penggunaan zat pembantu tekstil juga tidak selalu sama untuk setiap jenis zat "arna. ,amun pada umumnya akan digunakan surfaktan sebagai zat perata #le+ellers&, pembasah #Ietters&, penghambat #retarders& atau pemercepat #accelerators&, pelemas #softeners&, dan pendispersi #dispersing agents&. /husus untuk beberapa zat "arna yang bersifat anionik atau netral, sering digunakan zat aktif kation untuk pengikat "arna dalam proses tahan luntur #cationic dye-fi.ing agent&.

Zat Perata (,e-ellers) Beberapa zat "arna, terutama zat "arna bejana merupakan zat "arna dengan laju pencelupan yang cepat, tetapi sifat migrasi zat "arna yang kurang lancar. alam hal tersebut sangat sukar diperoleh hasil pencelupan yang rata, sehingga diperlukan zat perata yang merupakan surfaktan golongan zat aktif kation jenis alkil alkohol yang dikondensasikan dengan etilena oksida, seperti setil alcohol etilena-oksida ;(6B$43#($3($3--&A-($3($3--$C dan palmitil alcohol etilena-oksida ;(6%$46#($3($3--&A-($3($3--$C.

Zat Pembasah ("etters) Pencelupan kain dengan zat "arna bejana dan zat "arna naftol atau azoat yang harus melalui proses pelarutan zat "arna #zat "arna bejana larut dengan reduktor kuat dalam suasana alkali dan zat "arna naftol larut dalam alkali kuat&, sangat membutuhkan zat pembasah yang tahan reduktor dan alkali, seperti TF- #Turkey Fed -*8& dari minyak jarak tersulfonkan E(D$6%($#S-4,a&-(D$6%-(--$M atau yang lebih baik lagi adalah butyl oleat tersulfatkan #(%$66($#S-4,a&-(%$66-#($3&B-(--,a& atau minyak risinolat tersulfatkan E(%$66-($#S-4,a&(%$66-#($3&4-($#S-4,a&-(--,aM

.etarders and $ccelerators Zat penghambat atau pempercepat digunakan dalam pencelupan untuk mengatur laju

penyerapan zat "arna ke dalam bahan, misalnya garam-garam elektrolit seperti garam dapur #,a(l& atau garam Klauber #,a3S-@& ndalam pencelupan kain "ol dengan zat "arna asam.

Zat Pelemas (So'teners) Semua serat alam mengandung minyak, lemak atau malam, yang memberikan sifat lembut secara alami. Penghilangan zat lembut alami tersebut pada proses pemasakan dan pengelantangan, akan menyebabkan bahan tekstil menjadi kaku dengan pegangan yang kasar. 'ntuk mengembalikan sifat lembut tersebut maka diperlukan zat pelemas, sehingga selai akan diperoleh sifat lembut juga pegangan yang halus serta kelenturan yang baik. Beberapa contoh misalnya ) setil piridinium bromida dan poli silanol amina )

Zat Pendispersi (#ispersing $gents) Zat pendispersi teruratama dibutuhkan untuk membantu pendispersian zat "arna yang tidak larut dalam air seperti zat "arna bejana, misalnya hasil kondensasi natrium naftalen sulfonat dengan formaldehid

Zat $kti' Kationik untuk Pengikat Zat "arna (Cationic dye-fixing agent) Zat pembantu ini biasanya digunakan untuk mengikat zat "arna direk, reaktif atau zat "arna asam, sehingga zat "arna yang tidak tahan luntur dapat tetap menempel pada bahan tekstil, sehingga tidak terlarut keluar bahan dan masuk ke dalam limbah cair. Salah satu contoh yang sering digunakan adalah hasil kondensasi antara disian diamida dengan formaldehid yang dapat mengikat zat "arna anion membentuk senya"a kompleks dari zat "arna yang tidak larut. Proses Pencapan

Proses Pencapan (Printing) Beberapa jenis zat "arna akan me"arnai bahan tekstil melalui kemampuan molekul zat "arna untuk dapat terikat kepada serat yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Sebagaimana halnya dengan pencelupan, proses pencapan juga merupakan pe"arnaan pada bahan tekstil, tetapi caranya berbeda, karena pada pencapan pe"arnaan hanya dilakukan pada daerah atau luas tertentu pada kain, sesuai dengan desain atau corak yang telah direncanakan. Pembuatan desain atau corak "arna dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satu cara yang paling banyak dilakukan adalah alat untuk pencapan dengan kasa, baik secara pencapan dengan kasa datar #flat screen printing& dan kasa berputar #rotary screen printing&. itinjau dari cara pencapan dapat dilakukan pencapan dengan langsung #direct printing&, pencapan dengan merusak "arna #discharge printing&, pencapan untuk merintangi "arna #resist printing&, dan pencapan dengan desain pada rol tembaga #roller printing&. i dalam pencapan dikenal juga tiga tahap penyerapan zat "arna ke dalam serat, yaitu migrasi zat "arna dari fasa pengental kedalam serat disertai dengan penyerapan zat "arna pada permukaan serat. Biasanya dilanjutkan dengan proses pengeringan, kemudian proses difusi zat "arna dari permukaan serat ke bagian dalam serat dengan cara penguapan #steaming& atau pemanas a"etan #curing&: untuk mencapai ikatan antara zat "arna dengan serat secara ikatan tertentu seperti ikatan hidrogen, ikatan ion, ikatan ko+alen, atau ikatan fisika tertentu, tergantung jenis zat "arna dan seratnya.

Pe*arnaan dengan Pigmen Pigmen tidak termasuk golongan zat "arna dalam arti sebenarnya, karena tidak menyaratkan harus berupa senya"a organik yang mengandung kromofor dan auksokrom. Sehingga pigmen tidak mengikat serat dengan daya afinitas, tetapi terikat secara mekanis. Pencelupan dengan pigmen dilakukan dengan urutan proses benam peras-pengeringan dan pemanas a"etan #pad-dry-cure&. Proses benam peras dalam emulsi pigmen dicampur zat pengikat #binder&, dan katalis garam asam dengan medium air. Pencapan dengan pigmen dilakukan dengan cara pencapan langsung menggunakan pasta pengental emulsi dalam medium pelarut

organik, dicampur dengan pigmen, pengikat dan katalis. Proses pencapan diikuti dengan pengeringan dan pemanas a"etan. alam proses tersebut sering juga ditambahkan zat anti migrasi alam kegiatan pencapan kira-kira D%-=%5 menggunakan pigmen, yang merupakan pasta ber"arna yang dicaokan pada kain, dan biasanya tidak memerlukan pencucian, sehingga jumlah limbah cairnya tidak terlalu banyak. ibanding pencapan dengan zat "arna tekstil #reaktif, bejana larut, naftol dan direk&, pigmen merupakan pe"arna yang tidak larut dalam air, tidak mempunyai gugus pengikat "arna dengan kain. Penggunaan pasta cap akan menghantarkan bahan pe"arna #pigment& dan resin dapat tercampur di dalam kain. Setelah proses polimerisasi antar resin yang menghasilkan lapisan film ber"arna pada permukaan kain, pelarut organik yang digunakan sebagai pelarut zat-zat tertentu, kemudian diuapkan, dan meninggalkan motif ber"arna pada kain. ZPT pada Pencapan Zat Kimia Pembantu #alam Pencapan Pencapan dengan pasta cap yang mengandung ) #i& Pengental #dapat berupa pasta pengental dari bahan polimer atau pengental emulsi&, untuk mengontrol +iskositas dan migrasi pasta cap ke dalam kain, #ii& Zat pembasah untuk membantu penetrasi pasta cap ke dalam kain: dan #iii& beberapa zat pengemulsi dan pendispersi untuk meningkatkan kestabilan dan mengatur perubahan +iskositas. 'ntuk mendapatkan hasil pencapan yang optimum, dibutuhkan beberapa jenis zat pembantu tekstil seperti pengental #thickeners&, zat pembantu pelarutan #solution agents&, pelarut organik #sol+ents&, oksidator lemah #mild o.idising agents&, zat perusak "arna #discharging assistants&, deterjen nonionik #nonionic detergents&, anionic #nonionic detergents&, zat aktif kationik untuk pengikat zat "arna #cationic dye-fi.ing agent&, zat pengemulsi #emulsifiers& dan zat pengikat #binders&. Zat Pengental (Thickeners) Pembuatan pasta pengental dapat dilakukan dari beberapa jenis pengental seperti tepung jagung, dekstrin #hasil kanji yan dihidrolisa&, gom?getah dari tanaman seperti gom arab, gom tragacanth, dan gom guar serta hasil modifikasinya #karboksi metil kanji atau gom&, natrium

alginat #terutama untuk pencapan dengan zat "arna reaktif&, dan pengental lainnya. Selain pasta pengental dapat juga digunakan pasta emulsi, misalnya minyak tanah yang diemulsikan dengan zat aktif permukaan golongan kondensat asam lemak dengan etilen oksida membentuk alkil-poli #etilen oksida&, seperti Stearyl-ethylene o.ide #(6D$4% #($3($3--&A($3($3--$& dan -leyl-ethylene o.ide #(6D$44-#($3($3--&A-($3($3--$, sebagai surfaktan nonionik, yang banyak digunakan pada pencapan dengan pigmen. Zat Pembantu Pelarutan (Solution agents) Zat pembantu pelarutan zat "arna seperti garam natrium bensil sulfanilat biasanya digunakan untuk menambah kelarutan zat "arna bejana biasa atau bejana larut, sehingga dapat meningkatkan ketuaan dan kerataan "arna hasil pencapan. Pelarut !rganik (Sol-ents) Beberapa pelarut organik seperti aseton #($4&3-(G- #menstabilkan larutan zat "arna naftol dalam alkali&, ester glikol #($3--($3&#-$& #untuk menstabilkan larutan zat "arna naftol dalam alkali dan zat "arna bejana dalam reduktor-alkali&, tio dietilen glikol #($3-($3&3#S$&3, dan dietilen glikol #($3-($3&3#-$&3 #untuk menstabilkan larutan zat "arna naftol dalam alkali dan zat "arna bejana dalam reduktor-alkali, sehingga dapat meningkatkan ketuaan dan kerataan "arna hasil pencapan&. Zat !ksidator ,emah (&ild !xidising agents) Pada penzapan serat selulosa dengan zat "arna reaktif-azo dan zat "arna disperse-azo pada serat poliNster, sering tereduksi pada proses penguapan #steaming&,sehingga menurunkan ketuaan "arna. Penambahan zat oksidator lemah di dalam pasta pencapan dapat mencegah terjadinya reduksi saat penguapan. Zat Perusak "arna (#ischarging assistants) 'ntuk merusak "arna dasar hasil pencapan dengan zat "arna bejana, dapat digunakan senya"a fenil benzyl dimetil ammonium klorida atau produk sulfonasinya,di dalam pasta zat "arna yang mengandung kalium karbonat dan natrium sulfoksilat formaldehid. #etergen $nionik ($nionic detergent) etergen anionik dari golongan alkyl benzene sulfonat ;(64$3%#(B$BS-4,a&C atau alkil alkohol tersulfatkan seperti seto - stearil sulfat ;(6D$4%(--(6B$43#-S-4,a&C, digunakan

dalam proses penyabunan ? pencucian kain yang telah mengalami pencapan, untuk mencuci bahan pengental dan limbah zat pembantu yang berasal dari proses pencapan. #etergen %onionik (%onionic detergent) etergen nonionik dari golongan nonil fenol-etillena oksida yang dikondensasikan dengan alkil alkohol - etilena oksida ;(A$6A-(B$B---#($3($3--&=-;($3($3--$C, digunakan setelah proses pencucian, untuk menghilangkan bahan pengental dan limbah zat pembantu yang berasal dari proses pencapan.

Zat $kti' Kationik untuk Pengikat Zat "arna (/ationic dye('ixing agent) Pada proses pencapan kain dari serat selulosa dengan zat "arna reaktif dengan cara pencapan langsung, banyak zat "arna yang terhidrolisa pada saat proses penguapan #steaming&, sehingga tidak dapat bereaksi dengan serat selulosa secara ikatan ko+alen. Setelah proses penyabunan, zat "arna tersebut akan terlepas dari serat dan masuk ke dalam limbah cair dari proses penyabunan. Penggunaan zat aktif kation biasanya dimaksudkan untuk mengikat zat "arna reaktif yang terhidrolisa tersebut, sehingga zat "arna yang keluar dari bahan saat proses penyabunan dapat tetap menempel pada bahan tekstil, sehingga tidak terlarut keluar bahan dan masuk ke dalam limbah cair. Salah satu contoh yang sering digunakan adalah hasil kondensasi antara disian diamida dengan formaldehid yang dapat mengikat zat "arna anion membentuk senya"a kompleks dari zat "arna yang tidak larut. Zat Pengemulsi (Emulsi'iers) Pada pencapan dengan zat "arna pigmen, digunakan pengental emjulsi, dimana pelarut organik seperti minyak tanah diemulsikan dengan air #minyak dalam air& dengan bantuan zat pengemulsi nonion seperti kondensat asam lemak dengan etilena oksida Zat Pengikat (Binders) Pada pencapan kain dengan pigmen yang tidak mempunyai daya ikat dengan serat, dibutuhkan zat pengikat jenis monomer dari bermacam-macam alkyl +inilat seperti butyl akrilat, stirena, metil metakrilat, akrilamida, +inil klorida, butadiene, dan lain-lain. aya ikat antara pigmen "arna dengan serat terjadi pada proses pemanas a"etan, sehingga terbentuk

lapisan film polimer dari zat pengikat yang mengandung pigmen "arna diatas permukaan kain. Katalis Sejumlah katalis yang digunakan pada pencapan pigmen, merupakan garam asam yang akan melepaskan asam pada proses pemanas a"etan, misalnya diamonium hydrogen fosfat, !P $#,$@&3P-@. !mmonium nitrat #,$@,-4&. !mmonium tiosianida #,$@(,S&, magnesium klorida #1g(l3&, dan lain-lain. 0aram Elektrolit Penggunaan garam elektrolit seperti natrium klorida atau natrium sulfat, lebih banyak digunakan dalam pencelupan, dibanding dalam pencapan, karena membutuhkan medium air pada proses perendaman.

Penggolongan Pigmen Pigmen sebagai pe"arna tekstil, dibagai atas golongan pigmen organik dan pigmen anorganik. Pigmen !rganik Secara garis besar, pigmen organik dapat dibagi menjadi golongan pigmen azo dan pigmen ftalosianin. Pigmen $)o Pigmen azo terdiri atas jenis monoazo, dan diazo, yang umumnya mencakup "arna kuning, oranye. 1erah, +iolet dan coklat. Oenis monoazo pada umumnya merupakan hasil diazotasi senya"a amino aromatis dengan komponen asam naftol, yang kemudian diendapkan dengan garam kalsium klorida. ,amun golongan ini termasuk tidak ramah lingkungan, karena mudah terurai sebagai senya"a amino aromatis yang bersifat karsinogen. Pigmen monoazo dari golongan yang lebih ramah lingkungan adalah jenis pihmen benzimidazolon yang merupakan hasil kopling antara garam diazonium dari amina aromatis dengan asetoasetil benzimisazolon.

Pigmen diazo mengandung dua gugus azo dalam strukturnya, terutama untuk "arna kuning, orange dan merah, dan terdiri atas golongan pigmen diarilida dan pigmen azo yang dikondensasi. Pigmen diarilida dibuat dari garam diazonium amina aromatis, terutama 4,4Jdiklorobenzidin, yang digabungkan dengan asetoasetanilda, atau fenil-metil pirazolon. Sedangkan pigmen azo yang dikondensasi dibuat dari kondensasi zat "arna asam golongan azo dengan senya"a amina atau diamina aromatis. Pigmen dari jenis ini sabagian besar termasuk golongan yang karsinogen atau tidak ramah lingkungan. Pigmen Polisiklik Oenis ini meliputi banyak +ariasi dari aromatik siklik dengan %-B cincinn karbon dan dikondensasikan dengan aromatis heterisiklik mengandung nitrogen, oksigen atau sulfida. Pang paling penting adalah jenis tembaga ftalosianin dan triarilkarbenium, yang ber"arna biru dan hijau, serta jenis kuinacridon dan perilen dengan "arna oranye dan merah. Pigmen jenis tersebut tidak dapat terbiodegradasi, sehingga penghilangan dari limbah cair dilakukan secara mekanis. Pigmen $norganik Semua jenis pigmen anorganik mengandung logam berat kecuali jenis titanium oksida, karbon hitam dan pigmen ultramarin, misalnya beberapa jenis pigmen anorganik pada Tabel 6.6.@. ari tabel tersebut, terlihat bah"a pigmen anorganik dengan logam berat tidak dapat dianjurkan untuk digunakan dalam pe"arnaan bahan tekstil karena logam berat termasuk golongan B4 yang sangat tidak ramah lingkungan, terutama pada produk tekstilnya, yang tidak memenuhi persyaratan ekolabel #produk dengan label ramah lingkungan&. Beberapa Oenis Pigmen !norganik

(admium Pigments (arbon Black Pigments (hromium -.ide Pigments (omple. *norganic (olour #(*(& Pigments *ron Blue Pigments

*ron -.ide Pigments 8ead (hromate Pigments

1anganese 0iolet Pigments 1etallic Pigments

1ica-based Pearlescent Pigments Titanium io.ide Pigments

'ltramarine Pigments Zinc -.ide Pigments

Zinc Sulphide Pigments Proses Penyempurnaan

Penyempurnaan #Linishing& Proses penyempurnaan merupakan proses untuk mendapatkan produk akhir dengan estetika tinggi, dn sifat kimia serta mekanika sesuai dengan tujuan penggunaan dafri produk tekstil. Beberapa proses penyempurnaan ditujukan untuk mendapatkan pegangan kain yang lembut, bahan yang langsai, kain yang bersifat antistatic, anti kotor, anti mengkeret, anti kusut, daya tolak air, anti nyala api, dan sifat-sifat lain. Proses penyempurnaan tersebut disebut penyempurnaan akhir, yang secara garis besar dapat dibagi dalam dua katagori, yaitu penyempurnaan mekanis dan penyempurnaan kimia. ilihat dari hasilnya dapat juga dibagi atas penyempurnaan permanent dan tidak permanent.

Penyempurnaan mekanis dapat berupa penyikatan #brushing&, penyetrikaan #ironing& atau proses kalander #calandering&, atau proses mekanis lain yang bertujuan meningkatkan pegangan dan kilau bahan tekstil. Penyempurnaan kimia pada bahan tekstil sangat banyak jenisnya, dari proses anti statik #anti static& sampai anti nyala api #flame resistance&. ,amun yang paling banyak dilakukan adalah untuk mendapatkan kain yang memudahkan dalam pemeliharaan #ease fabric care&, seperti tahan lipat #permanent press&, tahan kotor #soil release&, dan anti noda #stain-resistant&.

Penyempurnaan kimia biasana diikuti dengan pengeringan, pemanas a"etan, dan pendinginan.

Pengolongan Proses Penyempurnaan Biasanya penyempurnaan kimia juga digabung dengan penyempurnaan mekanis. Beberapa pilihan penyempurnaan disajikan dalam uraian berikut.

Penyempurnaan &ekanis #1echanical Linishing&

Penyikatan #Brushing& Proses penyikatan akan menurunkan kilau kain karena terjadi penyikatan dan menegakkan serat-serat kain pada permukaan, sehingga merubah pegangan dan kelenturan #te.ture& kain.

Pelembutan #Softening& Proses kalander atau penyetrikaan, dapat menurunkan friksi permukaan diantara seratserat, sehingga melembutkan struktur kain dan meningkatkan kilau kain.

Pencukuran #Shearing& Proses pencukuran dimaksudkan untuk memotong serat-serat pada permukaan kain dengan pisau pencukur.

Pemengkeretan dan San'orisasi

Proses ini akan membuat kain mempunyai kestabilan dimensi sehingga dalam pem akaian dan setelah pencucian tidak mengalami mengkeret lebih dari 65. Tetapi dengan pemengkeretan mekanis saja, hasilnya tidak permanent, untuk proses sanforisasi biasanya digabung dengan penyempurnaan kimia, sehingga dimensi kain menjadi stabil dan dicapai sifat anti mengkeret secara permanent.

Penyempurnaan Kimia Penyempurnaan !ptik #-ptical Linishing& Penyempurnaan optic dimaksudkan untuk menambah atau mengurangi kilau kain

Penyempurnaan Tahan Kotor #Soil Felease Linishing& Penyempurnaan ini bertujuan kemampuan bahan untuk menjadi tahan terhadap kotoran.

Penyempurnaan pelembutan dan tahan gosokan #Softener Q abrasion-resistant finishes& Pada proses ini digunakan zat pelembut dan zat anti gosokan untuk menambah kemampuan kain terhadap gosokan dan sobekan.

Penyempurnaan Kestabilan 1isik Kain dan $nti Kusut #Physical Stabilisation and (rease-Fesistant Linishing& Penyempurnaan ini menggunakan zat penyempurnaan resin untuk mengdapatkan kestabilan kain setelah pencucian, dengan sifat anti mengkeret yang permanen, terutama untuk serat alam seperti kapas dan sutera.

Penyempurnaan $nti Kusut #!nti (rease Linishing& Proses penyempurnaan anti kusut juga sering disebut penyempurnaan cuci-pakai #"ash and "ear finishing&, dengan menggunakan resi termoset atau termoplastik, sehingga kain mempunyai sifat tahan kusut yang permanent.

Penyempurnaan Tahan ,ipat # urable Press Linishing& Penyempurnaan tahan lipat juga menggunakan resin tahan lipat, sehingga kain terutama dalam bentuk pakaian, akan tetap rapi dalam pemakaian sehari-hari.

Zat /imia pada Linishing

Zat Kimia Pembantu #alam Penyempurnaan ari serangkaian proses penyempurnaan kimia, dibutuhkan banyak sekali jenis zat kimkia pembantu, seperti pelemas golongan kation, anion dan non ion, serta pelemas reaktif, zat

tolak air, zat pembuat kain kaku, zat pembuat kain mengkilat, resin prekondensat, resin pembentuk ikatan silang, dan sebagainya.

Zat Pelemas Kation (/ationic So'teners) Zat pelemas kation dengan dasar kondensat asam lemak dengan dietanolamina #F(--($3($3-,-($3($3-$&, kondensat asam lemak dengan dietilena triamin-#F(-,$($3($3-,$-($3($3-,$3&,digunakan untuk proses pelemasan terhadap kain-kain poliamid, akrilik, asetat, selulosa dan campurannya, dengan sifat tidak permanen.

Zat Pelemas $nion #!nionic Softeners& Zat pelemas anion misalnya jenis natrium alkyl alcohol sulfat ;F(--#($3& n-S-4,aC, sabun trietanol amin F(--(3$@,-#(3$3-$&3C dapat digunakan sebagai pelemas, dengan sifat tidak permanen.

Zat Pelemas %onion #,onionic Softeners& Zat pelemas nonion dari jenis ester asam lemak dengan poliglikol ;F(--($3($3-#-($3($3-&nC, atau kondensat asam lemak dengan etilenoksida ;F(---#($3-($3-&nC, digunakan sebagai zat pelemas, tetapi tidak bersifat permanen.

Pelemas .eakti' #Feacti+e Softeners& Zat pelemas dari jenis metilol stearamid #(6D$4%(-,$-($3-$&, merupakan zat pelemas yang dapat bereaksi dengan serat selulosa dengan bantuan katalis diamonium hidrogen fosfat ;#,$@&3-$P-@C, amonium dihidrogen fosfat ;#,$@&-$3P-@C, atau magnesium klorida, sehingga hasil penyempurnaannya mempunyai sifat lemas yang permanen.

Emulsi Polietilen #Polyethylene 2mulsion&

2mulsi polietilen juga merupakan zat pelemas nonionic, tetapi karena tidak ada reaksi polimerisasi, sifat pelemasannya tidak permanen.

Emulsi "aks #Ia. 2mulsion& 2mulsi dari "aks paraffin atau malam ta"on yang dibantu dengan zat pengemusi dari surfaktan natrium stearat, dapat berfungsi sebagai pelemas yang tidak permanent.

Emulsi Silikon #Silicon 2mulsion& (ampuran emulsi dari poli #dimetil siloksan& atau poli #metil hidrogern siloksan& dengan surfaktan nonionik misalnya kondensat nonil fenoletilen oksida, dapat digunakan untuk pelemasan bahan tekstil. Tetapi bila bentuknya sudah berupa polimer, hasil pelemasannya tidak bersifat permanent. !pabila ditambahkan monomer dimetoksi dimetil siloksan sebagai pembentuk ikatan silang, hasil pelemasannya menjadi permanen.

Zat Tolak $ir #Iater Fepellemts& 2mulsi paraffin "aks yang mengandung garam aluminium asetat atau format, dapat digunakan sebagai zat tolak air pada kain kapas, rayon dan "ol.

Zat penyebab Kaku #Stiffening !gent& Penyempurnaan kain rayon menjadi kaku dapat dilakukan dengan yang bersifat termoplastik, misalnya poli+inil asetat, poli+inil akrilat, atau poli+inil alkohol.

Penyebab Kilau #Klaze paste& /ain kapas dapat diproses menjadi berkilau dengan pegangan lembut menggunakan emulsi asam stearat di campur dengan boraks.

.esin Prekondensat dan Pembentuk 2katan Silang #Fesin precondensates cross-linking agents& 1onomer dengan fungsi ganda, yang dapat berpolimerisasi membentuk homopolimer dan?atau membentuk ikatan silang dengan gugus hidroksil dari serat selulosa, dapat ditemukan dipasaran sebagai resin anti kusut dalam bentuk larutan. Proses penyempurnaan dengan resin tersebut menghasilkan kain kapas atau campuran kapas-poliester bersifat anti kusut #crease resistance&, cuci-kering #"ash Q "ear&, anti mengkeret #"rinkle resistance&, dan tahan lipat #durable press&. Beberapa jenis resin tersebut berasal dari turunan etilen urea atau metilol urea.

#imetilol Etilen 3rea # 12'& Fesin ini dapat membentuk ikatan silang dengan serat selulosa dan memberikan sifat tahan kusut serta tahan lipat pada kain. Struktur kimia 12' dapat dilihat pada gambar 6.6. @. #imetilol #ihidroksi Etilen 3rea # 1 $2'& Fesin 1 $2' juga dapat memberikan sifat kain kapas menjadi tahan kurut, tahan lipat, anti mengkeret dan cuci-kering. #imetilol Etil Tria)on # 2T& Selain memberikan perbaikan sifat ketahanan kain kapas dan campurannya dengan poliester terhadap kekusutan, lipatan, mengkeret dan mempermudah dalam pemeliharaan, resin 2T juga menambah ketahanan kain terhadap klorin.

#imetilol Propilen 3rea # 1P'& Fesin ini dapat memebentuk ikatan silang dengan serat kapas, sehingga meningkatkan kestabilan dimensi kain #dimensional stability&, sifat cuci kering dan mudah dipelihara #easycare&.

Zat /imia dan Pelarut -rganik dari Bahan Beracun dan Berbahaya #B4& Proses penyempurnaan juga sering menggunakan pelarut organik dan zat kimia yang tidak ramah lingkungan dan membahayakan kesehatan atau termasuk bahan beracun dan berbahaya #B4&. Pentakloro 1enol #P(P& P(P b iasa digunakan untuk medium terhadap resin, tetapi sangat berbahaya terhadap kesehatan dan mencemari lingkungan. !pabila dipanaskan, uapnya akan mengganggu lapisan ozon dan menimbulkan bahaya pemanasan global. 1ormaldehid ari semua jenis resin untuk penyempurnaan tekstil, resin anti kusut dengan dasar formaldehid merupakan zat kimia yang sangat tidak akrab terhadap lingkungan. Lormaldehid digunakan secara luas dalam penyempurnaan kilau, anti kusut, tahan luntur, pengental dalam pencapan dan meningkatkan kestabilan dimensi kain. Pada saat proses penyempurnaan dan adanya pemanasan pada suhu tinggi, banyak uap formaldehid bebas yang tidak terikat secara kimia dengan serat, akan meracuni pekerja, dan pada saat penyimpanan serta kondisi udara lembab panas dan lembab, formaldehid bebas di dalam kain juga akan menguap keruangan. !pabila terserap dalam pernafasan akan menimbulkan bahaya penyakit kanker karena bersifat karsinogenik, mata yang kena uapnya juga terasa seperti terbakar, dan menyebabkan juga gatal-gatal pada kulit. -leh karena itu beberapa ,egara mensyaratkan kadar maksimum formaldehid bebas, baik di dalam limbah dari proses #udara dan cair& maupun terhadap produk tekstil. Zat Tahan %yala $pi #Llame Fetardants& Beberapa zat tahan nhyala api seperti tri-#3-4-dibromopropil&-fosfat atau T2P!, tris#aziridinil&-fosfinoksida atau TF*S, dan polibromobifenil atau PBB, merupakan zat kimia yang bersifat karsinogen #*penyebab kanker&, mengganggu pernafasan, menurunkan keklebalan tubuh, mengganggu sistem syaraf, dan tidak mudah terbiodegradasi. Selain zat kimia tersebut digunakan juga zat tahan nyala api sekaligus zat pelembut dari jenis polimer dari bifenil dan terfenil terklorinasi #Polychlorinated biphenyls atau P(B dan

Terphenyles atau T(B&. Senya"a P(B dan T(B sangat beracun yang pertama-tama di negara 'ni 2ropa dilarang untuk digunakan sebagai zat penyempurnaan tekstil.

$sbes !sbes banyak digunakan pada pakaian pelindung #protecti+e clothing& dan perabot rumah tangga. Tetapi potongan serat asbes berupa debu serat sangat berbahaya terhadap pernafasan, apabila udara tercemar dengan debu asbes. Penyempurnaan Basah dengan Senya"a Losfat Senya"a fosfat banya digunakan pada proses penyempurnaan basah sebagai bufer, zat penolong pada pemasakan, menjaga kondisi air, kestabilan surfaktan, dan penyempurnaan tahan nyala api.