Anda di halaman 1dari 20

TUGAS MAKALAH

PENYAKIT KEMBUNG (BLOAT) DAN ZAT ANTI TYROID (ZAT GOITROGEN) PADA RUMINANSIA

Disusun Oleh : Anang Riswanta H0511008

JURUSAN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013

I.

PENDAHULUAN

A. Latar belakang Bloat/kembung perut yang diderita sapi, dapat menyebabkan kematian karena struktur organ sapi yang unik. Dimana pada sapi, jantungnya terletak disebelah kanan perut, bukan dibagian dada seperti halnya manusia. Hal tersebut akhirnya menyebabkan jantung sapi terhimpit oleh angin dan asam lambung saat menderita kembung. Karena kembung yang terjadi, mendesak dan mengakibatkan perut sapi membesar kesamping. Kematian pada sapi yang menderita kembung perut, biasanya rentan terjadi karena ketidaktahuan dan salah penanganan oleh peternak. Saat sapi mengalami kelumpuhan dengan perut yang kembung, banyak peternak yang memposisikan sapi mereka telentang. Hal itu menyebabkan, jantung sapi terhimpit dengan lebih cepat. Namun penyakit kembung perut tidak membahayakan atau menular kepada binatang lain atau manusia, daging sapi yang terserang penyakit inipun masih aman untuk dikonsumsi. Berbagai jenis tanaman pangan memiliki potensi untuk mensintesis substansi kimia tertentu sebagai mekanisme untuk mempertahankan diri dari gangguan infeksi oleh jamur, bakteri dan insekta. Banyak di antara substansi kimia ini ternyata dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia maupun ternak yang mengkonsumsinya. Gangguan tersebut dapat berupa gangguan pertumbuhan, seperti : penurunan Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH), oleh karena dihambatnya enzim pencernaan tertentu. Gangguan yang lain berupa gangguan kesehatan, seperti gangguan pernapasan bahkan kematian. Selanjutnya senyawa-senyawa tersebut dikenal dengan istilah antinutrisi. Macam antinutrisi pada berbagai bahan pakan berlainan. Senyawa antinutrisi yang sering ditemukan, antara lain : Protein inhibitor (penghambat protease), goitrogen, nekaloid, oksalat, fitat, tannin, HCN dan

gossipol. Antinutrisi tersebut seringkali mengikat protein, zat-zat mineral,

sehingga pemanfaatan gizi dalam bahan pakan oleh ternak menjadi berkurang. Sebagai akibatnya akan menimbulkan gangguan pertumbuhan pada ternak atau gangguan kesehatan yang lain. B. Rumusan Masalah 1. Apakah briket kotoran ternak? 2. Apakah zat anti tyroid dan pengaruhnya pada ternak ruminansia? C. Tujuan 1. Mengerti pengertian briket kotoran ternak. 2. Mengetahui zat anti tyroid pada ternak ruminansia.

II.

PEMBAHASAN

1. Penyakit Kembung (Bloat) Ruminansia Penyakit kembung (Timpani) merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang ternak ruminansia terutama sapi dan domba. Meskipun terlihat sepele, sebaiknya kita selalu waspada, karena pada kasus yang berat dapat berakibat fatal dan kematian pada ternak. Timpani pada ternak dapat diakibatkan oleh banyak faktor. Namun secara garis besar, timbulnya kembung disebabkan oleh akumulasi gas yang berlebihan di dalam rumen hewan ruminansia. Seperti kita ketahui, pencernaan bahan makanan di dalam perut hewan ruminansia dilakukan oleh mikroorganisme di dalam perut ternak. Mikroorganisme yang secara alamiah ada di dalam perut yang bertugas melakukan pencernaan awal terhadap bahan makanan dan terutama protein. Proses pencernaan protein oleh mikroorganisme ini akan menghasilkan berbagai enzim dan asam amino yang dapat diserap oleh dinding usus ternak. Tanpa adanya mikroorganisme ini dapat dipastikan proses pencernaan makanan di dalam perut ternak tidak akan dapat terjadi. Namun di sisi lain, proses pencernaan bahan makanan oleh mikroba juga mengeluarkan eksreksi lain berupa gas yang sebagian besar adalah karbondioksida (CO2) dan metana (CH4). Gas-gas inilah yang apabila tidak sempat dikeluarkan melalui anus dengan cara berkentut atau dengan bersendawa akan terakumulasi didalam rumen. Seringkali kembung ringan seperti ini dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, apabila kejadian berlanjut dan tidak ditangani maka akumulasi gas terjebak ini akan membentuk buih/busa (froathy bloat) yang akan semakin sulit bagi ternak untuk mengeluarkannya. Perut kembung atau timpani adalah suatu keadaan mengembangnya rumen akibat terisi oleh gas yang berlebihan. Hal ini terjadi ketika esophagus mengalami sumbatan sehingga menghambat pengeluaran gas. Produksi gas yang cepat (CO2 dan CH4) sebagai hasil akhir fermentasi akan memicu terjadinya kembung. Kondisi ini dikaitkan dengan tingginya konsentrasi protein terlarut yang terdapatdi dalam rumen. Gas yang terbentuk akan menetap di

rumen dalam bentuk gelembung-gelembung kecil yang tidak merangsang terjadinya reflek bersendawa sehingga rumen mengembung. Timpani merupakan indigesti akut yang disertai dengan penimbunan gas di dalam rumen dan retikulum ruminansia yang penuh berisi gas (CO2 dan CH4) sebagai hasil akhir fermentasi yang berlebihan yang berasal dari proses pencernaan di dalam lambung. Hal ini terjadi ketika esophagus mengalami sumbatan sehinfga menghambat pengeluaran gas. Timpani disebabkan oleh penyebab primer dan penyebab sekunder. Penyebab primer adalah akibat dari fermentasi makanan yang berlebihan kemudian hewan tidak mampu mengeluarkan gas, sehingga gelembung-gelembung gas akan terakumulasi yang merupakan penyebab kembung. Sedangkan penyebab sekunder berupa gangguan yang bersifat fisikal yang terjadi pada daerah esophagus yang disebabkan oleh benda asing, stenosis atau tekanan dari perluasan jalan keluar esophagus. Makanan yang difermentasi misalnya hijuan segar yang banyak mengandung air dan berprotein tinggi. Hijuan leguminosa mudah berfermentasi dan mengeluarkan gas. Oleh karena itu, pemberian hijauan leguminosa segar yang berlebihan dapat menyebabkan timpani. Pemberiaan makanan konsentrat yang terlalu banyak pula dapat menyebabkan timpani, terutama konsentrat yang mulai busuk. Rumput basah atau berembun dapat juga menjadi penyebab perut kembung. Timpani biasanya terjadi pada sapi, kerbau dan A. Patogenesis Pada ruminansia (sapi) timpani biasa disebabkan karena konsumsi leguminosa yang banyak atau gangguan dalam esophagus dan alat tubuh lain. Faktor yang mendorong terjadinya timpani antara lain viskositas dan tegangan permukaan cairan rumen, aliran dan susunan air liur dan aktivitas mikroba. Air liur mengandung protein mucin yang mencegah terjadinya timbulnya busa pada air liur. Penguraian protein tersebut yang mungkin terjadi karena aktivitas bakteri menimbulkan terbentuknya busa dalam rumen. Banyaknya air liur juga berpengaruh terhadap kemungkinan terjadinya timpani. Sapi dengan air liur yang sedikit lebih beresiko.

Aktivitas mikroba akibat peningkatan jumlah sukrosa dalam rumen juga memiliki pengaruh dalam pembentukan gas. Metabolisme sukrosa oleh bakteri menghasilkan gas yang akan terperangkap dalam biofilm yang terbentuk oleh bakteri tersebut, sehingga menjadi gelembung yang memenuhi rumen. Dalam kondisi normal, kelebihan gas pada rumen akan dikeluarkan melalui mekanisme eruktasi. Gangguan pada reflek eruktasi menyebabkan tidak bisa keluarnya gas dari rumen, sehingga terjadi timpani. Gangguan reflek eruktasi berkaitan dengan gangguan pada esophagus dan alat tubuh lain. Saat terjadi penumpukan gas, rumen bereaksi dengan kontraksi yang lebih sering dan lebih kuat dari keadaan normal. Karena kecepatan pembentukan gas melebihi kemampuan rumen untuk mengeluarkan ditambah dengan gangguan eruktasi menyebabkan penumpukan gas yang banyak. Kekuatan kontraksi rumen juga akan menurun dan mungkin hilang tonusnya. Volume rumen akan terus membesar karena gas yang terbentuk semakin banyak. Rumen akan mendesak ke arah rongga dada dan menimbulkan gangguan pernafasan. Dari titik tersebut kematian bisa terjadi jika tidak ditangani. B. Gejala Klinis 1. Ternak nampak resah 2. Ada rasa sakit 3. Sisi perut sebelah kiri nampak menonjol (membesar) disbanding normalnya, 4. Bila perut ditepuk-tepuk mirip suara drum 5. Tekanan intra rumen mengakibatkan : Pembesaran abdomen atau rumen, membesarnya rumen akan meningkatkan tekanan di dalam rongga perut dan rongga dada sehingga menyebabkan kesulitan bernafas yang ditandai dengan pernafasan dada yang cepat dan dangkal. Sebaliknya, paru-paru dan sistem peredaran darah jantung tidak bekerja. Apabila kondisi ini

berlanjut maka akan terjadi gangguan peredaran darah dan kematian dalam beberapa menit. 6. Hewan tampak gelisah 7. Berbaring pada posisi bagian kanan bawah. 8. Pulsus nadi meningkat, terdengar eruktasi 9. Mata merah, namun segera berubah menjadi kebiruan yang menandakan adanya kekurangan oksigen dan mendekati kematian. 10. Angka kematian dapat mencapai 90% jika tidak tertolong 11. Ternak cenderung menendang dengan kaki belakang.

C. Penyebab Penyebab perut kembung antara lain: 1. Pemberian leguminosa (kacang-kacangan) secara berlebihan. Daun legum yang mengandung kadar air dan protein yang tinggi menghasilkan asam-asam yang tidak mudah menguap seperti sitrat, malat dan suksinat. Asam-asam ini akan segera menurunkan pH rumen dalam waktu 30-60 menit pasca pemberian daun legum. 2. Pemberian rumput terlalu muda secara berlebihan atau karena tidak dilayukan. 3. Adanya sumbatan pada kerongkongan, selain itu bloat dapat juga terjadi pada ternak yang pergerakannya terbatas. 4. Merumput pada lahan yang baru dipupuk, makan buah terlalu banyak, memakan racun dan ubi atau tanaman sejenis yang dapat menahan keluarnya gas dari perut. D. Pemeriksaan Patologi Anatomi Penyakit kembung perut yang diderita sapi, dapat menyebabkan kematian karena struktur organ sapi yang unik. Dimana pada sapi, jantungnya terletak disebelah kanan perut, bukan dibagian dada seperti halnya manusia. Hal tersebut akhirnya menyebabkan jantung sapi terhimpit oleh angin dan asam lambung saat menderita kembung. Karena kembung yang terjadi, mendesak dan mengakibatkan perut sapi

membesar ke samping. Secara umum apabila di bedah akan terjadipembesaran pada perut bagian kiri atas dan cukup keras, bila ditepuk akan terasaada udara dibaliknya, dan berbunyi seperti tong kosong. Dalam seksi ditemukan kolon dan sekum yang mengalami distensi dengan dindingnya yang berwarna pucat kebiruan. Apabila penimbunan gas disebabkan oleh obstruksi, penyebab obstruksi akan ditemukan. E. Diagnosa Untuk mendiagnosa Timpani bisa dilakukan beberapa cara : 1. Berdasarkan gejala klinis Pada dasarnya tidak sulit untuk melakukan diagnosa timpani karena pada penderita timpani gejala yang tampak sangat jelas dan mudah dikenali, terutama adanya pembesaran lambung di daerah fossa paralumbalis. 2. Pemeriksaan abdomen (Inspeksi, Auskultasi, Palpasi, Perkusi) Pada pemeriksaan abdomen yang pertama dilakukan adalah Inspeksi dengan mengamati perubahan-perubahan pada bagian abdomennya. Hal yang mudah dikenali adalah adanya pembesaran abdomen sebelah kiri. Meski sesuai susunan anatominya abdomen sebelah kiri memang lebih besar daripada abdomen sebelah kanan, namun pada penderita timpani abdomen sebelah kirinya akan lebih besar dari normal dan terasa keras. Selanjutnya dilakukan auskultasi, dengan cara menekankan stetoskop pada bagian fossa paralumbalis. Pada ruminansia penderita Timpani saat dilakukan auskultasi tidak terdengar adanya kontraksi dari rumen ataupun suara gemericik (gurgling) seperti halnya pada ruminansia normal. Palpasi dilakukan dengan cara menekankan kepalan tangan ke daerah fossa paralumbalis. Saat ditekan inilah akan terasa bahwa abdomen penderita timpani terasa sangat keras dan tegang yang disebabkan penimbunan gas pada bagian rumennya sehingga menekan rongga abdomen untuk lebih membesar. Kemudian

masih dengan cara yang sama yakni dengan menekankan kepalan tangan ke fossa paralumbalis, hitung frekuensi pergerakan/motilitas rumen dan tonus rumen. Pada ruminansia yang menderita timpani motilitas rumen dan tonus rumennya akanmengalami penurunan. 3. Catatan pemberian pakan dan penggembalaan. 4. Memasukkan Stomach Tube ke dalam rumen. Cara yang terakhir ini berfungsi untuk membedakan apakah hewan menderita bloat atau timpani. Jika saat Stomach Tube sudah dimasukkan ke dalam rumen dan yang keluar adalah isi rumen dengan konsistensi berbusa maka bisa dipastikan bahwa hewan tersebut menderita Timpani. F. Penanganan 1. Trokarisasi Pertolongan untuk mengurangi distensi perlu segera diberikan. Trokarisasi dengan trokar dilakukan pada bagian perut yang mengalami tingkat destensi paling besar sebelah kanan atau kiri. Untuk itu terlebih dahulu perlu dilakukan desinfeksi secukupnya. Kadang pembebasan gas dengan trokar mengundang resiko terjadinya peritonitis. Gas dikeluarkan dengan cara menusukkan cannula pada perut ternak bagian sebelah kiri langsung pada rumen. Supaya tepat, tandai perut sapi dengan titik menggunakan tulang pinggul, gambar segitiga akhir yang dan

menghubungkan

titik rusuk

titik transverssus processus, tusukan cannula tepat dititik tengah segitiga ke dalam rumen melewati peritoneum. Pengeluaran gas dilakukan sedikit demi sedikit dengan cara menarik trocar perlahanlahan agar isi rumen tidak tersedot keluar dan menyumbat pipa trocar. Setelah gas dapat dibebaskan segera dimasukkan obat- obat antizymotik antara lain formalin atau chloroform sebanyak 30 ml, minyak terpentin 15-30 ml,sediaan yodium atau obat merah secukupnya. Obat-obat Antyzomotic ini yang akan menurunkan

proses fermentasi mikroba, sehingga jumlah gas (frothy bloat) secara berangsur-angsur turun. Apabila gas telah di bebaskan, pemeriksaan rectal selanjutnya dapat membantu menentukan ada tidaknya obstruksi. Pemberian laksansia rigan misalnya minyak mineral 2-4 L dapat menimbulkan peristaltic lagi serta melicinkan jalanya pengeluaran tinja. Untuk mengurangi rasa sakit pemberian aspirin atau dipyrone (Novin) 50%, 10- 20 mldapat dipertimbangkan. Obat-obat suportif lain, misalnya penguat jantung dancairan elektrolit dapat diberikan bila dipandang perlu. 2. Stomach Tube Stomach tube merupakan metode yang banyak digunakan untuk mengeluarkan gas dan tekanan dari rumen karena lebih aman dan trauma yang ditinggalkan pada hewan relatif kecil. Stomach Tube (ukuran standart = diameter dalam 1.5-2.0 cm) dimasukkan melalui mulut dengan bantuan spekulum logam untuk mencegah hewan mengunyah tubenya. Kerja dari Stomach Tube ini relatif cepat yaitu sekitar 1 menit. 3. Secara Medis a. Anti Bloat (bahan aktif: Dimethicone). Dosis sapi/ kerbau: 100 ml obat diencerkan dengan 500 ml air. Kambing/ domba: 25 ml obat diencerkan dengan 250 ml air, kemudian diminumkan. b. Dimethicone bekerja dengan cara menurunkan tegangan

permukaan, sehingga gelembung-gelembung gas dalam rumen terurai menjadi gelembung-gelembung kecil kemudian bergabung sehingga dapat dikeluarkan dari saluran pencernaan. c. Wonder Athympanicum Dosis: sapi/ kerbau: 20 50 gram. Kambing/ domba: 5 20 gram, dicampur air secukupnya, kemudian diminumkan.

d. Bakazha Oil Dosis Untuk Sapi : 150 ml 300 ml Dosis Untuk Kambing : 15 ml -30ml

G. Pencegahan 1. Pemberian pakan sesuai aturan, misalnya komposisi rumput

danleguminosa yang benar 2. Hijauan yang akan diberikan hendaknya dilayukan terlebih dahulu 3. Jika ada ternak yang kembung, upayakan untuk tetap berdiri atau bergerak 4. Jika mungkin mulut tetap terbuka atau tetap usahakan 5. Mengunyah supaya air liur keluar, misalnya dengan ikatkan tali atau kayu dalam mulut supaya ternak mengunyahnyadan air liur keluar 6. Selama musim hujan sebaiknya ternak diberi pakan kasar sebelum dilepas di padang penggembalaan yang basah 7. Ternak jangan digembalakan terlalu pagi ketika rumput masih basah dan hindari memberi ternak dengan rumput atau daun-daun muda dan tanaman leguminosa (kacang-kacangan) 8. Jangan membiarkan ternak terlalu lapar 9. Jangan memberikan makanan yang sudah rusak/busuk/berjamur 10. Hindari pemberian rumput/ hijauan yang terlalu banyak, lebih baik memberikan sedikit demi sedikit tetapi sering kali.

H. Pengobatan Meskipun anda sudah melakukan langkah-langkah pencegahan, bloat masih dapat terjadi. Memanggil dokter atau personil kesehatan hewan merupakan tindakan yang dianjurkan. Namun hal ini tidak selalu dapat dilakukan karena berbagai keterbatasan. Tindakan yang dapat dilakukan oleh peternak baik secara tradisional maupun medis modern untuk mengobati bloat diantaranya adalah:

1. Ganti menu hijauan segar dengan daun kering/hay. Hal ini akan membantu pada bloat ringan. Membawa ternak berjalan jalan juga dapat membantu. 2. Bila masih berlanjut, berikan anti foam. Secara tradisional berupa minyak nabati atau lemak. Minyak bertugas sebagai pengurai buih. Kami biasanya menggunakan minyak nabati atau minyak sayur atau minyak goreng pada dosis 150 300 ml segera setelah bloat terdeteksi. Susu murni sebanyak 1 liter juga dapat dijadikan alternatif untuk membuyarkan buih. Obat modern anti foam untuk mengobati timpani juga tersedia dalam berbagai merek, dapat diperoleh di toko-toko obat hewan. 3. Dengan menggunakan selang (ukuran sampai 1 diameter) sepanjang 2 3 meter yang dilumuri dengan minyak, dimasukkan melalui mulut melalui esophageal sampai mencapai rumen untuk membantu

mengeluarkan gas dari dalam rumen. Selang ini sering disebut selang esophagus/stomach tube. Cara ini terkadang berhasil namun cukup berbahaya karena dapat menganggu bagian dalam ternak. Sebaiknya mintakan saran pada dokter hewan atau latihlah dahulu sebelum bloat terjadi. 4. Apabila cara diatas tidak terlihat manjur dan kondisi ternak sudah tidak bisa berdiri sementara dokter hewan belum datang, anda harus melepaskan tekanan gas dengan paksa dengan cara melubangi dinding perut sapi. Bisa dengan menggunakan trokar (semacam penusuk, mirip paku tapi lebih besar) yang ditusukkan pada perut kiri atas, di belakang tulang rusuk. Gas yang terjebak dapat keluar melalui lubang tersebut. Apabila trokar tidak tersedia, sembarang alat yang tajam sepeti jarum suntik, jarum besar atau paku dan pisau bisa juga digunakan untuk membuat lubang sedalam kira-kira 2.5cm. Setelah ditusukkan, pisau jangan dicabut, tapi diputar miring sehingga gas bisa keluar. Namun demikian tindakan ini sebaiknya dipandang sebagai cara terakhir, karena bila salah dapat merobek rumen. Apabila ini terjadi dokter harus melakukan jahitan dan memberikan antibiotik untuk menghindari infeksi.

Beberapa pendapat teman-teman peternak tentang cara pengobatan kembung secara tradisional adalah: 1. Beberapa peternak di tempat kami mengklaim dengan memberikan air soda (sprite) 1 2 botol dapat membantu. Bila ditelusuri, soda dapat memudahkan sendawa. Namun demikian perlu diteliti lebih lanjut, jangan sampai kandungan gas (karbondioksida) pada soda malah terjebak dan memperparah bloat. 2. Pemberian daun nangka muda dapat mengobati sakit perut. Peternak juga suka memberikan daun nangka ini pada ternak yang mengalami bloat. Penulis tidak mengetahui secara pasti kandungan daun nangka, namun pada kasus bloat ringan dapat membantu. Mungkin karena serat kasarnya saja. 3. Memberikan air kelapa muda. Pendapat kami, air kelapa mengandung mikroorganisme probiotik, sehingga kemungkinan dapat membantu. 4. Memasukkan pelepah atau daun pepaya pada anus ternak yang mengalami bloat. Analisa kami, pepaya mengandung pektin yang sering digunakan sebagai obat diare. 5. Beberapa resep tradisional lain untuk mengobati bloat yang dapat kami temukan antara lain: Daun kentut atau sembukan 3 genggam dan bawang merah 20 buah. Parut halus daun kentut dan haluskan bawang merah. Campur kedua bahan dan tambahkan garam. Campur air dalam botol dan minumkan. Dosis untuk satu ekor sapi dewasa. Getah pepaya 2 sendok makan. Garam dapur 1 sendok makan. Campurkan secara merata dan tambah air dalam botol air mineral kemudian diminumkan. Dosis untuk satu ekor sapi pedet.

2. Zat Anti Tyroid (Zat Goitrogen) Thyroid sendiri merupakan kalenjar yang terletak di leher right below. Fungsinya Thyroid mengontrol kecepatan pembakaran energi, membangun energi tubuh, dan mengatur tingkat sensitivitas tubuh terhadap hormone-hormon. Selain itu, thyroid juga menghasilkan hormon Tiroksin (T4), Triiodotironin (T3) yang berperan dalam metabolisme dan pertumbuhan tubuh keseluruhan, dan thyroid juga memproduksi hormon kalsitonin (calcitonin) yang berperan dalam homeostasis kalsium. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan aktivitas Kelenjar Thyroid a. Hyperthyroidisme (hyperactive thyroid): Penyakit Graves b. Hypothyroidisme (underactive Myxedema, dan Goiter (gondok) Goiter atau gondok adalah kelainan pada ternak pada kelenjar tiroidnya akibat kekurangan yodium. Ternak dewasa sangat jarang mengalami kelainan ini tetapi fetus dan ternak yang masih muda mudah sekali terkena. Kasus goiter yang menyebabkan kematian pada anak kambing dan domba di daerah Bogor, Ciawi dan Cilebut. Kasus menjadi tinggi pada daerah-daerah yang kekurangan yodium. Yodium (I) dibutuhkan untuk sintesa hormone tiroid thyroid): Kongenital, Juvenilis,

(Triidothyronine/T3) dan tiroksin (T4) yang berperan dalam mengatur metabolisme tubuh dan sangat penting bagi hewan yang bunting, hewan muda dan yang sedang dalam masa pertumbuhan. Secara normal hormon ini diproduksi oleh kelenjar tiroid dalam jumlah yang cukup sehingga dapat mempertahankan produktivitas dan reproduktivitas ternak. Produksinya akan menurun jika proses biosintesanya terhambat karena kekurangan/ defisiensi yodium. Faktor lain penyebab kondisi ini adalah adanya zat gastrogenik (tiosianat) pada pakan yang dikonsumsinya. Kombinasi keduanya akan memicu terjadinya goiter pada ternak. BAHRI et al. (1984) mendeteksi kadar tiosianat yang tinggi di dalam tubuh kambing yang sering mengonsumsi daun ubi kayu. Zat ini mampu menghambat up take yodium oleh kelenjar tiroid.

Beberapa tanaman yang mengandung zat anti tiroid yaitu kubis, sudan grass dan white clover. Contoh Makanan yang mengandung Goitrogen (dapat menyebabkan gondok): a. Brokoli, kembang kol, kubis, lobak cina b. Kedelai c. Mustard d. Sawi hijau dan sawi putih, bayam e. Rutabagas f. Crucifer g. Brassicae h. Struma Cibaria Berdasarkan dengan sifat-sifat alami produk-produk yang mempunyai pengaruh goitrogenik, dapat dibedakan 3 jenis hipertrofi, yaitu: a. Gondok kobis atau struma cibaria Struma cibaria disebabkan oleh bagian vegetatif berbagai tanaman famili cruciferae yang digunakan untuk nutrisi manusia dan atau untuk makanan hewan domestik. Metabolisme iodine: penurunan kemampuan kalenjar tiroid untuk mengambil elemen iodine. Hasil penelitian: 1) Walaupun supply iodine telah mencukupi, setelah 25-30 hari diet yang didasarkan pada kobis atau brassicae yang lain, berat tiroid per 100 g berat badan dibuktikan menjadi 3-8 kali lebih tinggi daripada hewan kontrol. 2) Aksi anti tiroid bervariasi sehubungan dengan sidat tanah dari daerah penanaman dan frekuensi & curah hujan atau musim. Kobis yang dipanen pada musim gugur dan musim dingin dan yang tumbuh dengan air berlimpah lebih aktif daripada yang dipanen pada musim semi.

3) Kenaikan kandungan iodine dalam makanan mencegah timbulnya gondok. b. Gondok Biji Brassicae Hasil penelitian: 1) kalenjar tiroid tikus muda yang diberi diet kaya biji kobis, biji nitabaga, atau biji turnip, menjadi 3-4 kali lebih besar daripada kelompok kontrol. 2) Dapat disembuhkan dengan pemberian tiroksin. c. Gondok dari kedelai dan kacang-kacangan lainnya Hasil penelitian: 1) pemberian kedelai utuh dan diet yang mengandung sejumlah besar tepung kedelai bebas minyak menyebabkan goiter pada beberapa jenis binatang (kelinci, babi guinea, ayam, tikus, dll) 2) efek yang menghasilkan gondok dapat dikontrol dengan penambahan iodida atau oleh kenaikan 3-5 kali jumlah iodine diet. Mekanisme: Serum protein yang mengikat iodine (PBI, Protein Bindring Iodine) berkurang, tetapi pengambilan radio-iodine oleh kalenjar tiroid sangat tinggi. Senyawa-senyawa anti thyroid alami. Sifat-sifat Alami Senyawa dan Mekanisme Kerja a. Thiosianat ( N=C-S-R) dan Isosianat (R-N=C=S) Dalam tubuh hewan, tiosianat secara alami dapat berasal dari kombinasi sulfur dengan senyawa sianat (sianida, nitril, glukosida sianogenetik) yang telah masuk tubuh atau dari masukan lewat mulut dalam keadaan belum terbentuk atau keduanya. Karena kekayaan akan glikosida sianogenetik dan sulfur bivalent maka makanan goitrogenik dapat menyumbang, baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui metabolisme, untuk menaikkan tiosianat dalam darah. In vitro, penambahan tiosianat dalam medium yang berisi irisan-irisan dari jaringan tiroid hidup diinkubasikan pada konsentraasi yang serupa dengan

yang ditemukan dalam serum domba yang diberi pakan semanggi putih, akan menghambat konversi radio iodine anorganik ke dalam kombinasi dengan senyawa organik. b. Cheiroline Dari daun dan biji Rapistrum nigosum (turnip liar) dan Brassica campescris (crucifere di Tasmania dan Queensland) glikosida telah diisolasi dan disebut gliko-cheiroline yang telah diperoleh dari hasil hidrolisis 3-metilsulfonil-propil-isothiosianat atau cheiroline (CH3-SO2-(CH2)3-NCS).

Senyawa ini dapat dipersiapkan dalam keadaan murni, dan dalam pengujian bentuk pendek, itu menunjukkan aktifitas antitiroid yang serupa dengan yang dikeluarkan tiosianat. Setelah pemberian 5-110 mg pada tikus, penggabungan radioisotop dikurangi sampai 9-15%, yang terbukti menjadi lebih aktif daripada n-propil-isotiosianat. Cheiroline mengandung produk-produk yang telah dipelajari yang bervariasi antara 1-2 g per kg tanaman kering atau kirakira 0.4 g ker kg tanaman segar. c. Progoitrin dan Goitrin (Thio-oxazolidone) Dalam jaringan tubuh, goitrin tidak terdapat dalam keadaan bebas, tetapi dalam bentuk tioglukosida, glukopiraferin disebut progoitrin yang telah dipersiapkan dalam bentuk kristal. Tanaman: turnip kuning atau rutabaga (brassica oleracea rapefera), famili cruciferae, biji rape (brassica conpetris dan brassica napus). Biji rape terutama kaya akan tiooxazolidone dan isotiosianat. Kebanyakan brassica mengandung goitrin, dan tidak hanya dalam biji tetapi juga dalam bagian yang dikonsumsi manusia. Tiooxazolidone pada dasarnya berbeda dengan tiosianat, senyawa-senyawa ini beraksi sampai dengan tiourea dan tiourasil dan tidak mengganggu cukup banyak terhadap pengambilan iodine oleh tiroid seperti dalam biosintesis tiroksin.

d. Polifenol Karena polifenol sanggup membentuk senyawa dengan iodine oleh penggantian, mereka bersaing dengan tirosin dan oleh pengambilan beberapa iodine, mereka melemahkan biosintesis tiroksin. In vitro, penambahan zat warna alami polifenolik (seperti antosianin, flavone, katecol, dsb.), pada kultur medium, dari potongan-potongan tiroid, menurunkan jumlah radio-iodine dalam fraksi organik sebanyak 50-60% . pengaruh ini tidak lagi tampak jika substansi polifenolik lebih dahulu di-iodat-kan. In vivo, penambahan ferrol murni, yaitu: resonsinol dan phlorogensinol, sangat mengurangi

penggabungan radio-iodine ke dalam kalenjar tiroid tikus dan seperti penghambatan ini adalah hasil dari persaingan yang dapat dikontrol dengan kenaikan supply iodine. e. Haemoglutinin (phytotoxins) Dari biji-bijian Leguminoceae (kacang-kacangan), telah diisolasi senyawa toksis yang mengandung nitrogen, yang mampu menggumpalkan eritrosit yang didapatkan dari berbagai jenis hewan. Karena senyawa ini mempunyai afinitas terhadap membran, mereka menyerang sel-sel dari membran mukosa usus sehingga sangat mengurangi kapasitas absorpsi. Pada beberapa spesies hewan (misalnya tikus), entero-hepatik sirkulasi dari hormon tiroid adalah sangat aktif, dalam waktu 1 jam hampir semua tiroksin yang tersirkulasi dikeluarkan ke dalam usus, mengusulkan gagasan bahwa gondok yang disebabkan oleh kedelai dilengkapi dengan gangguan absorpsi kembali (resorption). Studi dengan L. titoksin 131I pada athyroid cretin yang diberi pakan formula biji kedelai menunjukkan bahwa diet ini menurunkan absorpsi usus dari hormon eksogenous. Hasilnya

dipertimbangkan untuk mendukung teori bahwa gondok yang sebelumnya telah dilaporkan terjadi pada bayi dengan diet biji kedelai disebabkan oleh kehilangan hormon tiroid endogenous ke dalam feces. Pengeluaran hormon ini (ke dalam feces) mempengaruhi stimulasi kalenjar dan kenaikan kebutuhan iodine, untuk mengganti kehilangan.

Pengobatan Gondok Operasi Obat-Obat Anti Thyroid Suplementasi Yodium

Pencegahan yang dapat kita lakukan adalah: Mengurangi konsumsi makanan-makanan yang mengandung goitrogen Memperbanyak konsumsi kuning telur, daun peterseli, buah aprikot, prunes, ikan, ayam, keju dan susu Untuk mencegah terjadinya goiter (gondok) khususnya pada daerah-daerah yang kekurangan yodium, dapat dilakukan dengan cara mencampurkan garam beryodium pada pakan ternak. Selain sebagai penambah nafsu makan, pemberian garam beryodium dapat mengatasi gangguan hormone tiroid yang sangat penting untuk metabolisme tubuh.

DAFTAR PUSTAKA

Blowey RW. 2004. Digestive Disorders of Calves. Andrews AH, Editor: Bovine Medicine Diseases and Husbandry of Cattle Second edition. State Avenue: Blackwell Publishing Company Edy Iqbal, Kurnia Widiantoko Rizkiy. ANTINUTRISI. http://lordbroken.wordpress.com 2011. ZAT

2012. Kembung (Bloat/Timpani) Pada Ternak. http://iqbalcahndeso.blogspot.com/2012/02/kembungbloattimpani-pada-ternak.html diakses pada 3 Desember 2012

Prayitno Edi,S.Pt. 2010. FAKTOR PEMBATAS BAHAN PAKAN (ANTI NUTRISI)http://ilmuternakkita.blogspot.com/2010/03/faktor-pembatasbahan-pakan-anti.html Rianto dan Endang Purbowati, 2010. Panduan lengkap Potong,http://cintasapi.wordpress.com/2010/09/02/zat-antinutrisi/ Sapi

Rumbiak, Shandy. 2011. Bloat/Timpani (Penyakit Kembung (Perut)). http://shandy-rumbiak.blogspot.com/2011/10/bloat-tympani-penyakitkembung-perut.html Susilo harjo Rahmawati, 2007. Kenali Zat Anti Gizi (1): Senyawa Anti Tyroid Alami.http://geasy.wordpress.com/2007/06/15/kenali-zat-antigizi-1-senyawa-anti-tyroid-alami/ Widodo Wahyu . Tanaman Beracun Dalam kehidupan Ternak. (tahun, penerbit dan tempat diterbitkan belum diketahui) Yunani I dan Berenergy, 2010. Kembung (Bloat) Pada Ternak Sapi. http://peternakanwahyuutama.blogspot.com. Diakses pada Tanggal 3 Desember 2012