Anda di halaman 1dari 27

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistem Muskuloskeletal Karena sendi temporomandibula merupakan bagian dari sistem muskuloskeletal, maka untuk dapat memahami struktur sendi temporomandibula dengan baik, perlu untuk mengetahui sistem muskuloskeletal yang terdiri atas(Evelyn, 1992) : a) b) Muskuler/Otot : Otot, tendon,dan ligamen Skeletal/Rangka : Tulang dan sendi

2.1.1. Muskuler/Otot 2.1.1.1 Otot Rangka Semua sel-sel otot mempunyai kekhususan yaitu untuk berkontraksi. Terdapat lebih dari !! buah otot pada tubuh manusia. Sebagian besar otot-otot tersebut dilekatkan pada tulang-tulang kerangka tubuh oleh tendon, dan sebagian ke"il ada yang melekat di ba#ah permukaan kulit (Evelyn, 1992). $ungsi sistem muskuler/otot(Evelyn, 1992) : %ergerakan. Otot menghasilkan gerakan pada tulang tempat otot tersebut melekat dan bergerak dalam bagian organ internal tubuh. %enopang tubuh dan mempertahankan postur. Otot menopang rangka dan

mempertahankan tubuh saat berada dalam posisi berdiri atau saat duduk terhadap gaya gra&itasi. %roduksi panas. Kontraksi otot-otot se"ara metabolis menghasilkan panas untuk mepertahankan suhu tubuh normal.

'iri-"iri sistem muskuler/otot(Evelyn, 1992) : Kontrakstilitas. Serabut otot berkontraksi dan menegang, yang dapat atau tidak melibatkan pemendekan otot. Eksitabilitas. Serabut otot akan merespons dengan kuat (ika distimulasi oleh impuls sara). Ekstensibilitas. Serabut otot memiliki kemampuan untuk menegang melebihi pan(ang otot saat rileks. Elastisitas. Serabut otot dapat kembali ke ukuran semula setelah berkontraksi atau meregang.

2.1.1.2 Ten on Tendon adalah tali atau urat daging yang kuat yang bersi)at )leksibel, yang terbuat dari )ibrous protein *kolagen). Tendon ber)ungsi melekatkan tulang dengan otot atau otot dengan otot (Evelyn, 1992)

2.1.1.! "igamen +igamen adalah pembalut/selubung yang sangat kuat, yang merupakan (aringan elastis penghubung yang terdiri atas kolagen. +igamen membungkus tulang dengan tulang yang diikat oleh sendi (Evelyn, 1992)

,eberapa tipe ligamen (Evelyn, 1992): a) +igamen Tipis +igamen pembungkus tulang dan kartilago. Merupakan ligament kolateral yang ada di siku dan lutut. +igamen ini memungkinkan ter(adinya pergerakan.

b) +igamen (aringan elastik kuning. Merupakan ligamen yang dipererat oleh (aringan yang membungkus dan memperkuat sendi, seperti pada tulang bahu dengan tulang lengan atas.

2.1.2 Skeletal / Rangka 2.1.2.1 Tulang Skeletal disebut (uga sistem rangka, yang tersusun atas tulang-tulang. Tubuh kita memiliki -! tulang yang membentuk rangka. ,agian terpenting adalah tulang belakang. $ungsi Sistem Skeletal(Evelyn, 1992) : .. Memproteksi organ-organ internal dari trauma mekanis. -. Membentuk kerangka yang yang ber)ungsi untuk menyangga tubuh dan otot-otot yang melekat pada tulang. /. ,erisi dan melindungi sum-sum tulang merah yang merupakan salah satu (aringan pembentuk darah *0emopoesis). 1. Merupakan tempat penyimpanan mineral dari dalam darah misalnya "alsium.

2.1.2.2 Sen i %ersendian adalah hubungan antar dua tulang sedemikian rupa, sehingga dimaksudkan untuk memudahkan ter(adinya gerakan (Evelyn, 1992). .. Synarthrosis *suture) 0ubungan antara dua tulang yang tidak dapat digerakkan, strukturnya terdiri atas )ibrosa. 'ontoh: 0ubungan antara tulang di tengkorak. -. 2mphiarthrosis 0ubungan antara dua tulang yang sedikit dapat digerakkan, strukturnya adalah kartilago. 'ontoh: Tulang belakang. /. 3iarthrosis 0ubungan antara dua tulang yang memungkinkan pergerakan, yang terdiri dari struktur sino&ial. 'ontoh: sendi peluru *tangan dengan bahu), sendi engsel *siku), sendi putar *kepala dan leher), dan sendi pelana *(empol/ibu (ari).

2.2 Sen i Tem#oroman i$ula Sendi temporomandibula mulai dibentuk pada bulan ke / masa gestasi. %erkembangan STM pada a#alnya berasal dari dua regio yang berlainan yaitu pada kondensasi mesenkim pada blastemata temporalis dan kondilus. ,lastemata temporalis yang ada dibelakang kondilus masing-masing berada pada posisi berhadapan, kemudian blastemata kondilus tumbuh dengan "epat ke arah dorsolateral untuk menutup "elah. (Suryonegoro, 2010)

Saat blastemata kondilus masih berupa mesenkim terkondensasi, "elah di atasnya men(adi ka&itas sendi in)erior. ,lastemata kondilus berde)erensiasi men(adi kartilago kondilus, lalu "elah sekunder terbentuk akibat ossi)ikasi temporalis yang men(adi ka&itas

sendi superior. 3engan adanya "elah ini terbentuklah diskus artikularis primiti) (Suryonegoro, 2010) Semua komponen STM sudah terbentuk pada minggu ke .1 gestasi. 3iskus artikularis )etus dibagi men(adi anterior band, 4ona intermediate dan posterior band. %roses pembentukannya di tentukan se"ara genetik, selain itu (uga ditemukan serat-serat syara) dan pembuluh darah pada tepi diskus, kemudian masih tersisa pada perlekatannya setelah kelahiran (Suryonegoro, 2010). Sendi adalah hubungan antara dua tulang. Sendi temporomandibula merupakan artikulasi antara tulang temporal dan mandibula, dimana sendi TM5 didukung oleh strukturstruktur berikut (Suryonegoro, 2010): .. %rosesus kondiloideus -. +igamen Sendi Temporomandibula /. Suplai 3arah pada Sendi Temporomandibula 1. %ersara)an pada Sendi Temporomandibula

2.2.1 Struktur Anatomi Sen i Tem#oroman i$ula 1. Prosesus kon iloi eus Kondiloideus mandibula adalah bagian yang menon(ol dari mandibula yang meluas ke arah superior dan posterior, berbentuk "embung dengan pan(ang -!mm mediolateralis dan 6-.!mm ketebalan anterior-porterior (Suryonegoro, 2010) . %ermukaan artikulasi tulang temporal terdiri dari dua bagian yaitu )osa artikularis dan eminensia artikularis. $osa artikularis "ekung dalam arah antero-posterior medio-lateral. 7minensia artikularis membentuk batas anterior dari )osa mandibularis yang meluas ke posterior dan dibatasi oleh linggir meatus akustikus eksternus (Suryonegoro, 2010).

Meniskus berbentuk o&al yang membagi sendi men(adi dua bagian yang terpisah, yaitu bagian atas antara meniskus dan permukaan artikularis tulang temporal dan bagian ba#ah di antara meniskus dan permukaan kondiloideus(Suryonegoro, 2010). ,entuk permukaan atasnya "ekung-"embung dari depan ke belakang yang beradaptasi dengan permukaan artikulasi tulang temporal sedangkan bentuk permukaan ba#ahnya "ekung yang beradaptasi dengan kondiloideus mandibula. 3i bagian depan dan belakang tebal sedangkan tipis di antara ke dua penebalan ini. +igamen kapsular melekat ke sekeliling meniskus ini, tendon muskulus pterigoideus eksternus, muskulus maseter dan muskulus temporalis melekat ke pinggir depan dari meniskus ini melalui ligamen kapsular (Suryonegoro, 2010). Meniskus ini terbentuk dari kolagen a&askuler yang ber)ungsi untuk menstabilisasi kondilus terhadap permukaan artikularis tulang temporal. $ungsi lapisan lemak yang terdapat di muskulus pterigoideus lateralis adalah untuk memungkinkan ter(adinya gerakan rotasi pada saat membuka mulut. 3aerah ini mengandung pleksus &ena sehingga didapati (aringan lunak yang )leksibel(Suryonegoro, 2010). Kapsul sendi di sebelah luar membentuk ligamen kapsular yang terdiri dari (aringan ikat berserat putih yang melekat ke atas pada bagian pinggir )osa artikularis dan tuberkulum artikularis, melekat ke ba#ah kolum mandibula. Kapsul ini diperkuat oleh ligamen temporomandibula di sebelah lateral sedangkan bagian depan diperkuat oleh muskulus pterigoideus(Suryonegoro, 2010).

Struktur Sendi Temporomandibula Lateral view

Struktur Sendi Temporomandibula Coronal view

2. "igamen Sen i Tem#oroman i$ula +igamen temporomandibula lebih luas di bagian atasnya dari pada di bagian ba#ahnya. %erlekatannya ke permukaan lateralis dari arkus 4igomatikus dan ke tuberkulum artikularis pada bagian atas. 3i bagian ba#ah melekat ke kolum mandibula. +igamen ini berhubungan dengan kelen(ar parotis dan kulit di sebelah lateral, sedangkan di sebelah medial dengan ligamen kapsular (Suryonegoro, 2010). +igamen sphenomandibula bentuknya tipis dan pipih, melekat ke spina angularis os sphenoidalis pada bagian atas, melekat di bagian ba#ah sebelah lingual dari )oramen mandibula. +igamen ini berhubungan dengan muskulus pterigoideus eksternus di bagian atas, di bagian ba#ah dengan arteri dan &ena al&eolaris in)erior, lobus kelen(ar parotis dan ramus mandibula. 3i sebelah medial berhubungan dengan muskulus pterigoideus internus. (Suryonegoro, 2010)

+igamen stylomandibula bentuknya bulat dan pan(ang. +igamen ini melekat ke prosesus stiloideus os temporalis di bagian atas. 3i bagian ba#ah melekat ke angulus mandibula dan margo posterior dari ramus mandibula. +igamen ini berhubungan dengan muskulus maseter dan kelen(ar parotis pada bagian lateral. 3i bagian medial dengan muskulus pterigoideus internus dan kelen(ar submandibularis(Suryonegoro, 2010).

Ligamen Sendi Temporomandibula

!. Su#lai %ara& #a a Sen i Tem#oroman i$ula 3i belakang meniskus ada suatu kelompok (aringan ikat longgar yang banyak berisi pembuluh darah dan sara). Suplai darah yang utama pada sendi ini oleh arteri maksilaris interna terutama melalui "abang aurikular. 2rteri maksilaris merupakan "abang terminal dari arteri karotis eksterna yang mensuplai struktur di bagian dalam #a(ah dan sebagian #a(ah luar. 2#alnya berada di kelen(ar parotis, ber(alan ke depan di antara ramus mandibula dengan ligamen sphenomandibula, kemudian ke sebelah dalam dari muskulus pterigoideus eksternus menu(u )osa pterigoideus (Suryonegoro, 2010).

2rteri ini terbagi atas / bagian yaitu: %ars mandibularis yang ber(alan mulai dari bagian belakang kolum mandibula sampai ke )osa in)ratemporalis, %ars pterigoideus yang berada di dalam )osa in)ratemporalis, %ars pterygopalatinus yang berada di dalam )osa pterigopalatina. 3aerah sentral meniskus, lapisan )ibrous dan )ibrokartilago umumnya tidak memiliki suplai darah sehingga metabolismenya tergantung pada di)usi tulang yang terletak di dalam dan "airan sino&ial (Suryonegoro, 2010).

'. Persara(an #a a Sen i Tem#oroman i$ula %ersara)an sensorik pada sendi temporomandibula yang terpenting dilakukan oleh ner&us aurikulotemporal yang merupakan "abang pertama posterior dari ner&us mandibularis. Sara) lain yang berperan adalah ner&us maseterikus dan ner&us temporal. 8er&us maseterikus ber"abang lagi di depan kapsul dan meniskus. 8er&us aurikulotemporal dan ner&us maseterikus merupakan serabut-serabut propriosepti) dari impuls sakit ner&us temporal anterior dan posterior mele#ati bagian lateral muskulus pterigoideus, yang selan(utnya masuk ke permukaan dari muskulus temporalis, saluran spinal dari ner&us trigeminus. %ermukaan )ibrous artikular, )ibrokartilago, daerah sentral meniskus dan membran sino&ial tidak ada persara)annya (Suryonegoro, 2010).

#ersara(an sen i tem#oroman i$ula

2.2.2

Otot)Otot Sen i Tem#oroman i$ula %ergerakan STM dilakukan oleh otot-otot mastikasi yang meliputi: otot maseter,

temporalis, pterigoideus medialis, pterigoideus lateralis dan otot suprahioideus yang men"akup otot digastrikus (Nazar, 2010). 1. Otot maseter Otot ini memiliki origo pada arkus 4igomatikus dengan arah serabut ke ba#ah dan melekat pada ramus mandibula. 9nsersionya pada ramus mandibula mulai molar kedua sampai angulus mandibula. Otot ini memiliki - bagian kepala yaitu super)isial yang terdiri dari serat-serat otot yang arahnya turun dan kebelakang dan bagian dalam * deep portion ) yang arahnya &ertikal. Otot maseter adalah otot mastikasi yang sangat kuat ber)ungsi untuk menutup mulut(Nazar, 2010).

2. Otot Tem#oralis Otot temporalis memiliki bentuk seprti kipas yang memenuhi )ossa temporalis. Memiliki origo pada )ossa temporalis dan )as"ia temporalis, sedangkan insersionya pada permukaan anterior prosesus koronoideus dan disepan(ang ramus mandibula, mendekati gigi molar terakhir. Otot ini ber)ungsi menaikkan, menarik atau mendorong mandibula ke arah posterior, karena gerakannya meliputi perpindahan posterior ke arah kondilus dari tuberkulum artikularis tulang temporalis dan kembali ke )ossa artikularis. Men(adikan otot temporalis berpartisipasi dalam gerakan mandibula dari sisi ke sisi(Nazar, 2010).

!. Otot Pterigoi eus Me ialis Otot ini berbentuk segi empat, memiliki kepala super)isial * superfi ial !ea") dan kepala dalam ("eep !ea") (Nazar, 2010). #eep !ea" melekat diatas permukaan lamina lateralis medial dari prosesus pterigoideus, dihubungkan oleh permukaan prosesus piramidalis tulang palatinus, lalu turun

se"ara obli:ue ke bagian medial ligamen sphenomandibularis, untuk melekat pada permukaan medial ramus mandibula yang kasar dekat angulus mandibula(Nazar, 2010). Superfi ial !ea" mempunyai origo dituberositas maksilaris dan prosesus palatinus, menyatu dengan deep head masuk ke mandibula(Nazar, 2010). $ungsi utama otot ini menutup mulut, tetapi karena mele#ati se"ara obli:ue ke belakang masuk ke mandibula, otot ini (uga membantu otot pterigoideus lateralis melakukan gerakan protusi)(Nazar, 2010).

'. Otot #terigoi eus lateralis Otot ini merupakan otot berbentuk segitiga dan mempunyai dua kepala(Nazar, 2010): .. $pper %ea" mempunyai origo diatap )ossa in)ratemporalis *permukaan in)erior ;greater #ing< sphenoideus dan pun"ak in)ratemporalis), lateral terhadap )oramen o&ale dan )oramen spinosum. 9nsersio di kapsula artikularis, diskus artikularis dan leher kondilus. -. &o'er %ea" lebih lebar dari upper head, mempunyai origo dipermukaan lamina pterigiodeus lateralis dan insersio dileher kondilus. Serat otot pterigoideus lateralis dari masing-masing kepala menyatu agar dapat masuk ke )o&ea pterigoideus leher mandibula dan kapsula STM. Tidak seperti otot pterigoideus medialis yang serat-seratnya "emderung berorientasi se"ara &ertikal, serat-serat otot pterigoideus lateralis "enderung hori4ontal. Ketika otot pterigoideus lateralis berkontraksi, akan mendorong diskus artikularis dan kondilus mandibula ke depan menu(u tuberkulum artikularis. 3engan demikian )ungsi utamanya adalah melakukan gerak protrusi) pada mandibula(Nazar, 2010).

Ketika otot pterigoideus lateralis dan medialis berkontraksi pada satu sisi, dagu bergerak ke arah yang berla#anan. Saat ter(adi gerakan yang berla#anan pada kedua STM yang terkoordinasi, ter(adilah gerakan mengunyah(Nazar, 2010).

*. Otot %igastrikus Otot digastrikus memiliki dua belly yang dihubungkan oleh tendon yang melekat pada tulang hioideus(Nazar, 2010). .. -. (osterior belly, berasal dari insisura mastoideus pada prosesus mastoideus medialis tulang temporalis. )nterior belly, berasal dari )ossa digastrikus bagian ba#ah dari mandibulla. Tendon diantara kedua belly melekat pada tulang hioideus adalah titik insersio masing-masing belly. Karena hal tersebut, otot ini memiliki banyak kegunaan tergantung pada tulang yang di)iksasi(Nazar, 2010). Ketika mandibula pada posisi stabil, otot digastrikus menaikkan tulang hioideus. Ketika tulang hioideus di)iksasi, otot digastrikus membuka mulut dengan menurunkan mandibula(Nazar, 2010).

2.2.!

+isiologi Pergerakan Sen i Tem#oroman i$ula ,erdasarkan hasil penelitian elektromiogra)i, gerak mandibula dalam

hubungannya dengan rahang atas dapat diklasi)ikasikan sebagai berikut yaitu (Nazar, 2010): .. =erak membuka -. =erak menutup /. %rotrusi 1. Retusi

>. =erak lateral

1. ,erak mem$uka Seperti sudah diperkirakan, gerak membuka maksimal umumnya lebih ke"il daripada kekuatan gigitan maksimal *menutup). Muskulus #ter-goi eus lateralis ber)ungsi menarik prosessus kondiloideus ke depan menu(u eminensia artikularis. %ada saat bersamaan, serabut posterior muskulus tem#oralis harus relaks dan keadaan ini akan diikuti dengan relaksasi muskulus masseter, serabut anterior muskulus temporalis dan muskulus pterygoideus medialis yang berlangsung "epat dan lan"ar. (Nazar, 2010) Keadaan ini akan memungkinkan mandibula berotasi di sekitar sumbu hori4ontal, sehingga prosessus kondilus akan bergerak ke depan sedangkan angulus mandibula bergerak ke belakang. 3agu akan terdepresi, keadaan ini berlangsung dengan dibantu gerak membuka yang kuat dari muskulus igastri.us, muskulus genio&-oi eus dan muskulus m-lo&-oi eus yang berkontraksi terhadap os hyoideum yang relati) stabil, ditahan pada tempatnya oleh muskulus in)rahyoidei. Sumbu tempat berotasinya mandibula tidak dapat tetap stabil selama gerak membuka, namun akan bergerak ke ba#ah dan ke depan di sepan(ang garis yang ditarik *pada keadaan istirahat) dari prosessus kondiloideus ke ori)isum "analis mandibularis(Nazar, 2010).

2. ,erak menutu# %enggerak utama adalah muskulus masseter/ muskulus tem#oralis/ an

muskulus #ter-goi eus me ialis. Rahang dapat menutup pada berbagai posisi, dari menutup pada posisi protrusi penuh sampai menutup pada keadaan prosesus kondiloideus berada pada posisi paling posterior dalam )osa glenoidalis. =erak menutup pada posisi protrusi memerlukan kontraksi muskulus #ter-goi eus lateralis , yang dibantu oleh muskulus pterygoideus medialis. 'aput mandibula akan tetap pada posisi ke depan pada eminensia artikularis. %ada gerak menutup retrusi, serabut posterior muskulus temporalis akan beker(a bersama dengan muskulus masseter untuk mengembalikan prosesus

kondiloideus ke dalam )osa glenoidalis, sehingga gigi geligi dapat saling berkontak pada oklusi normal(Nazar, 2010). %ada gerak menutup "a&um oris, kekuatan yang dikeluarkan otot pengunyahan akan diteruskan terutama melalui gigi geligi ke rangka #a(ah bagian atas. Muskulus pterygoideus lateralis dan serabut posterior muskulus temporalis "enderung menghilangkan tekanan dari "aput mandibula pada saat otot-otot ini berkontraksi, yaitu dengan sedikit mendepresi "aput selama gigi geligi menggeretak. Keadaan ini berhubungan dengan )akta bah#a sumbu rotasi mandibula akan melintas di sekitar ramus, di daerah manapun di dekat ori)isum "analis mandibular. ?alaupun demikian masih diperdebatkan apakah arti"ulatio temporomandibula merupakan sendi yang tahan terhadap stres atau tidak. 0asil-hasil penelitian mutakhir dengan menggunakan model )otoelastik dan dengan "ahaya polarisasi pada berbagai kondisi beban menun(ukkan bah#a artikulasio ini langsung berperan dalam mekanisme stres(Nazar, 2010).

!. Protrusi %ada kasus protrusi bilateral, kedua prosesus kondiloideus bergerak ke depan dan ke ba#ah pada eminensia artikularis dan gigi geligi akan tetap pada kontak melun"ur yang tertutup. %enggerak utama pada keadaan ini adalah muskulus pterygoideus lateralis dibantu oleh muskulus pterygoideus medialis. Serabut posterior muskulus temporalis merupakan antagonis dari kontraksi muskulus pterygoideus lateralis. Muskulus masseter, muskulus pterygoideus medialis dan serabut anterior muskulus temporalis akan berupaya mempertahankan tonus kontraksi untuk men"egah gerak rotasi dari mandibula yang akan memisahkan gigi geligi. Kontraksi muskulus pterygoideus lateralis (uga akan menarik dis"us artikularis ke ba#ah dan ke depan menu(u eminensia artikularis. 3aerah perlekatan )ibroelastik posterior dari diskus ke )issura tympanos:uamosa dan ligamen "apsularis akan ber)ungsi membatasi kisaran gerak protrusi ini (Nazar, 2010).

'. Retrusi Selama pergerakan, kaput mandibula bersama dengan dis"us artikularisnya akan melun"ur ke arah )osa mandibularis melalui kontraksi serabut posterior muskulus temporalis. Muskulus pterygoideus lateralis adalah otot antagonis dan akan relaks pada keadaan tersebut. Otot-otot pengunyahan akan ber)ungsi mempertahankan tonus kontraksi dan men(aga agar gigi geligi tetap pada kontak melun"ur. 7lastisitas bagian posterior dis"us arti"ularis dan "apsula arti"ulatio temporomandibularis akan dapat menahan agar diskus tetap berada pada hubungan yang tepat terhadap "aput mandibula ketika prosesus kondiloideus bergerak ke belakang(Nazar, 2010).

*. ,erak lateral %ada saat rahang digerakkan dari sisi yang satu ke sisi lainya untuk mendapat gerak pengunyahan antara permukaan oklusal premolar dan molar, prosesus kondiloideus pada sisi tu(uan arah mandibula yang bergerak akan ditahan tetap pada posisi istirahat oleh serabut posterior muskulus temporalis sedangkan tonus kontraksinya akan tetap dipertahankan oleh otot-otot pengunyahan lain yang terdapat pada sisi tersebut. %ada sisi berla#anan prosesus kondiloideus dan diskus artikularis akan terdorong ke depan ke eminensia artikularis melalui kontraksi muskulus pterygoideus lateralis dan medialis, dalam hubungannya dengan relaksasi serabut posterior muskulus temporalis. 5adi, gerak mandibula dari sisi satu ke sisi lain terbentuk melalui kontraksi dan relaksasi otot-otot pengunyahan berlangsung bergantian, yang (uga berperan dalam gerak protrusi dan retrusi(Nazar, 2010). %ada gerak lateral, "aput mandibula pada sisi ipsilateral, ke arah sisi gerakan, akan tetap ditahan dalam )osa mandibularis. %ada saat bersamaan, "aput mandibula dari sisi kontralateral akan bergerak translasional ke depan. Mandibula akan berotasi pada bidang hori4ontal di sekitar sumbu &ertikal yang tidak melintas melalui "aput yang ;"ekat<, tetapi melintas sedikit di belakangnya. 2kibatnya, "aput ipsilateral akan bergerak sedikit ke lateral, dalam gerakan yang dikenal sebagai gerak ,ennett(Nazar, 2010).

Selain menimbulkan pergerakan akti), otot-otot pengunyahan (uga mempunyai aksi postural yang penting dalam mempertahankan posisi mandibula terhadap gaya gra&itasi. ,ila mandibula berada pada posisi istirahat, gigi geligi tidak beroklusi dan akan terlihat adanya "elah atau )ree#ay spa"e diantara arkus dentalis superior dan in)erior (Nazar, 2010).

2.2.'

,angguan Pa a Sen i Tem#oroma i$ula Kelainan STM dapat dikelompokkan dalam 2 $agian yaitu : gangguan )ungsi

akibat adanya kelainan struktural dan gangguan (ungsi akibat adanya penyimpangan dalam akti)itas salah satu komponen )ungsi sistem mastikasi *dis)ungsi). Kelainan STM akibat kelainan struktural (arang di(umpai dan terbanyak di(umpai adalah dis)ungsi()ryanti, 200*). STM yang diberikan beban berlebih akan menyebabkan kerusakan pada strukturnya atau mengganggu hubungan )ungsional yang normal antara kondilus, diskus, dan eminensia, yang akan menimbulkan rasa sakit, kelainan )ungsi tubuh, atau keduaduanya. 9dealnya, semua pergerakan STM harus terpenuhi tanpa rasa sakit dan bunyi pada sendi()ryanti, 200*).

2.2.'.1 Kelainan Struktural Kelainan struktural adalah kelainan yang disebabkan oleh perubahan struktur persendian akibat gangguan pertumbuhan, trauma eksternal, penyakit in)eksi, atau neoplasma, dan umumnya (arang di(umpai. =angguan pertumbuhan kongenital berkaitan dengan hal-hal yang ter(adi sebelum kelahiran yang menyebabkan kelainan perkembangan yang mun"ul setelah kelahiran. @mumnya gangguan pertumbuhan tersebut ter(adi pada kondilus yang menyebabkan kelainan selain pada bentuk #a(ah yang menimbulkan masalah estetis (uga masalah )ungsional()ryanti, 200*).

'a"at (uga dapat ter(adi pada permukaan artikular, yang mana "a"at ini dapat menyebabkan masalah pada saat sendi berputar yang dapat pula melibatkan permukaan diskus. 'a"at dapat disebabkan karena trauma pada rahang ba#ah, peradangan, dan kelainan stuktural. %erubahan di dalam artikular (uga dapat ter(adi karena &ariasi dari tekanan emosional. Oleh karena itu, ketika tekanan emosional meningkat, maka tekanan pada artikular berlebihan, menyebabkan ter(adinya perubahan pergerakan ()ryanti, 200*). Tekanan yang berlebihan pada sendi dapat mengakibatkan penipisan pada diskus. Tekanan berlebihan yang terus menerus pada akhirnya menyebabkan per)orasi dan keausan sampai ter(adi )raktur pada diskus yang dapat mendorong ter(adinya perubahan pada permukaan artikular ()ryanti, 200*). ,eberapa penggolongan kelainan diskus telah diperkenalkan dari tahun ke tahun, namun yang paling sering ter(adi adalah()ryanti, 200*) : .. %erubahan tempat diskus dengan reduksi 3iskus yang mengalami pengurangan dalam pergerakan membuka mulut, pada umumnya ter(adi "li"king se#aktu membuka dan menutup mulut()ryanti, 200*). . -. %erubahan tempat diskus tanpa reduksi %erubahan ini menun(ukkan gangguan pada diskus yang ter(adi se"ara meluas, biasanya ada rasa sakit, bunyi, dan pengurangan pergerakan. 3alam hal ini tidak ada korelasi antara &ariasi diskus-kondilus dengan ge(ala klinis. %ada beberapa pasien dibuktikan bah#a kelainan pada diskus menimbulkan ge(ala sedikit, sedangkan pada pasien lain ge(ala ter(adi lebih banyak tanpa ada perubahan pada STM se"ara struktural ()ryanti, 200*). . Kelainan struktural akibat trauma pada STM dapat menyebabkan kerusakan pada (aringan, kondilus, ataupun keduanya. Konsekuensi yang mungkin ter(adi adalah dislokasi,hemarthrosis, atau )raktur kondilus. %asien yang mengalami dislokasi tidak dapat menutup mulut dan terdapat kelainan open bite anterior, serta dapat tekanan pada satu atau kedua saluran pendengaran()ryanti, 200*).

Kelainan struktural akibat trauma pada STM (uga dapat menyebabkan suatu edema atau hemorrhage di dalam sendi. 5ika trauma belum menyebabkan )raktur mandibula, pada umumnya pasien akan mengalami pembengkakan pada daerah STM, sakit bila digerakkan, dan pergerakan sendi berkurang. Kondisi ini kadang-kadang dikenal sebagai radang sendi traumatis ()ryanti, 200*). Kelainan struktural akibat penyakit in)eksi dapat mempengaruhi sistem mus"uloskeletal yang banyak melibatkan STM, penyakit-penyakit tersebut antara lain osteoarthritis/ osteoarthrosis dan rheumatoid arthritis. Osteoarthritis adalah suatu kelainan STM nonin)lamasi dengan kondisi asimtomatik dan pada a#alnya melibatkan "artilage dan lapisan sub"hondrial dari sendi. Rheumatoid arthritis adalah suatu penyakit peradangan sistemik yang melibatkan sekeliling STM()ryanti, 200*).

2.2.'.2 ,angguan +ungsional =angguan )ungsional adalah masalah-masalah STM yang timbul akibat )ungsi yang menyimpang karena adanya kelainan pada posisi dan/ atau )ungsi gigi-geligi, atau otot-otot kunyah. Suatu keadaan )isiologis atau yang biasa disebut ortho)un"tion yakni batas toleransi tiap indi&idu saat melakukan pergeseran mandibula tanpa menimbulkan keluhan otot ditandai dengan adanya keserasian antara mor)ologi oklusi dan )ungsi neuromuskular. 9stilah keadaan ini dikenal sebagai 4ona toleransi )isiologik()ryanti, 200*) 2pabila ada rangsangan yang menyimpang dari biasanya akibat posisi gigi yang menimbulkan kontak prematur, respon yang akan timbul ber&ariasi se"ara biologis, yang umumnya merupakan respon adapti) atau periode adaptasi. 3isini ter(adi perubahanperubahan adapti) pada (aringan yang terlibat sebagai upaya menerima rangsangan yang menyimpang tersebut()ryanti, 200*). ,eberapa "ontoh perubahan adapti) ini adalah ausnya permukaan oklusal gigi, timbulnya pelebaran membran periodontal, atau resorpsi al&eolar setempat. %eriode adaptasi ini akan ber(alan terus sampai batas toleransi )isiologis otot-otot atau (aringan sekitar telah terlampaui ()ryanti, 200*).

,erapa lama 4ona adaptasi ini akan berlangsung sangat berbeda antara indi&idu yang satu dan yang lain, dan dipengaruhi oleh keadaan psikologis. Setelah batas toleransi )isiologis ini terlampaui, respon (aringan itu menimbulkan perubahan yang si)atnya lebih patologis atau disebut (uga patho)un"tion. %ada )ase ini respon (aringan *sendi, (aringan periodontal, ataupun otot-otot) si)atnya patologi. Keluhan dapat dirasakan pada otot-otot penggerak mandibula, atau dapat pula pada sendi temporomandibula ()ryanti, 200*). ,e0ala kelainan STM dapat dikelompokkan men(adi, rasa nyeri/ $un-i an

is(ungsi. Rasa nyeri adalah ge(ala yang paling sering menyebabkan pasien men"ari pera#atan. Rasa nyeri bersi)at sub(ekti) dan sulit untuk die&aluasi. Setiap orang memiliki ambang batas yang berbeda dan penerimaan yang berbeda terhadap rasa nyeri, dan mungkin (uga terdapat )aktor psikogenik ()ryanti, 200*). 2da beberapa istilah yang digunakan untuk menun(ukkan si)at rasa nyeri, berdenyut-denyut, terbakar, dan samar-samar. 3aerah penyebaran rasa nyeri yang paling sering dari sendi adalah telinga, pipi dan daerah temporal. Tetapi sebaliknya, rasa nyeri dari daerah didekatnya dapat meluas ke sendi. Sinus, telinga, dan molar ketiga harus diperiksa. %erubahan temperatur dalam mulut dapat menimbulkan rasa nyeri yang menun(ukkan bah#a asalnya dari pulpa, yang sering sulit ditentukan letaknya. ,ahkan bagian tepi gigi yang sensiti) dapat menimbulkan rasa sakit. Rasa nyeri (uga menon(ol pada nyeri tekan otot sekitar sendi ()ryanti, 200*). ,unyi keletuk sendi terdengar se#aktu pasien menutup dan membuka mulut. Ketidakmampuan untuk mengoklusikan gigi-geligi dengan normal dan pada keadaan ini keluhan pasien dapat berupa rahang terasa bengkak tetapi keadaan tersebut (arang terlihat se"ara klinis. Kekakuan sendi merupakan keluhan yang paling sering ter(adi ()ryanti, 200*). Kadangkala terdapat keterbatasan membuka mulut dan gerakan mandibula yang terbatas, saat mengunyah tidak terdapat koordinasi rahang sehingga dirasakan tidak nyaman #aktu mengunyah. Keluhan lain adalah sakit kepala()ryanti, 200*).

2.2.* Pemeriksaan Sen i Tem#oroman i$ula Setelah pada bagian sebelumnya telah di(elaskan anatomi dan kelainan pada temporomandibular (oint, maka pada bagian ini akan di(elaskan "ara pemeriksaan pada temporomandibular (oint yang merupakan bagian utama dari tulisan ini ()ryanti, 200*). %emeriksaan klinis dimulai se(ak pasien masuk kedalam ruangan. %enampilan se"ara keseluruhan sering dapat menun(ukkan kepribadiannya. 9a mungkin tenang dan dingin dalam membi"arakan ge(ala A ge(ala yang dialami atau ner&us dan kurang dapat berbi"ara. %asien yang "emas "endrung gelisah duduknya, bermain A main dengan tangannya atau menggerak A gerakkan kakinya. Kadang A kadang akti&itas para)ungsional dari mandibula dapat dilihat dengan (elas. Sebagai "ontoh misalnya pasien menghisap atau menggigit A gigit bibir, menggerakkan rahang dari kiri ke kanan atau sebaliknya meletakkan tangan menyangga dagu ()ryanti, 200*). %emeriksaan temporomandibular (oint ini dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan terhadap rentang pergerakan, bunyi sendi, rasa sakit dan nyeri dan pemeriksaan intra-oral serta pemeriksaan radiogra)ik ()ryanti, 200*).

1.Rentang Pergerakan %asien diminta untuk mebuka mulut lebar A lebar dan dengan bantuan sepasang kaliper atau (angka, (arak antara tepi gigi seri atas dan ba#ah diukur. 8e&akari *.B !) melaporkan bah#a (arak rata A rata pada pria >C,> mm sedang pada #anita >1 mm. 3engan berdasar pada pendapat ini, (arak lebih dari 1! mm pada orang de#asa dapat dianggap tidak normal. 2gerberg *.BC1) (uga menemukan angka yang sama. 5arak rata A rata pada pria >6, mm dan pada #anita >/,/ mm. ,atas terendah adalah 1- mm dan /6 mm. Tetapi penting untuk mempertimbangkan (uga kedalaman o&erbite yang ada. %ergerakan pada bidang hori4ontal dapat diukur dengan pergeseran garis tengah insisal pada pergerakan lateral mandibula yang eksterm ke salah satu sisi. 2gerberg menemukan bah#a batas terendah dari (arak normal adalah >mm pada kedua (enis kelamin ()ryanti, 200*).

%enyimpangan mandibula selama gerak membuka mulut (uga terlihat. Mungkin ter(adi penyimpangan ke arah atau men(auhi sisi yang terserang dengan disertai lo"king dan rasa sakit. Sebagai "ontoh misalnya, rahang menyimpang ke arah sisi sendi yang terkun"i menun(ukkan bah#a "ondyle yang terserang hanya merupakan komponen gerak membuka mulut sa(a. =erak melun"ur ke depan tidak dapat ter(adi. Sebaliknya, ada beberapa pasien yang dapat menghasilkan bunyi dengan menggerakkan rahang men(auhi sisi yang terserang dan kembali ke bagian tengah se"ara 4ig A 4ag ketika mulut dibuka lebih lebar ()ryanti, 200*).

2.Bun-i Sen i Kliking

=e(ala ini paling sering menandakan adanya TM3 dan dislokasi diskusi artikularis. ,unyi kliking mun"ul saat rahang dibuka atau saat menutup. @mumnya bunyi tersebut hanya dapat didengar oleh penderita, namun pada beberapa kasus, bunyi tersebut men(adi "ukup keras sehingga dapat didengar oleh orang lain. ,unyi tersebut dideskripsikan penderita sebagai suara yang berbunyi DklikD ()ryanti, 200*). 3i antara )ossa dan kondil terdapat diskus yang ber)ungsi sebagai penyerap tekanan dan men"egah tulang saling bergesekan ketika rahang bergerak. ,ila diskus ini mengalami dislokasi, dapat menyebabkan timbulnya bunyi saat rahang bergerak. %enyebab dislokasi bisa trauma, kontak oklusi gigi posterior yang tidak baik atau tidak ada, dan bisa sa(a karena gangguan tumbuh kembang rahang dan tulang )asial. Kondisi seperti ini dapat (uga menyebabkan sakit kepala, nyeri #a(ah dan teliga. 5ika dibiarkan tidak dira#at, dapat menyebabkan rahang terkun"i()ryanti, 200*). %ada beberapa orang, terdapat pebedaan posisi salah satu atau kedua sendi temporomandibula ketika beroklusi. 0al ini sering sekali ter(adi pada pasien yang kehilangan gigi posteriornya. Kepala kondil *ber#arna biru) bisa sa(a mengalami penekanan terlalu keraas terhadap )ossa *ber#arna hi(au), dan menyebabkan kartilago diskusi rusak *ber#arna merah). Kemudian akan menarik ligamen terlalu kuat *ber#arna kuning). 0al ini

menun(ukkan, bila oklusi terlalu kuat, akan menyebabkan stress pada kedua sendi rahang ()ryanti, 200*). Setiap kali terdapat kelainan posisi rahang yang disertai dengan tekanan berlebihan pada sendi dan berkepan(angan atau terus menerus, dapat menyebabkan diskus *meniskus) robek dan mengalami dislokasi berada didepan kondil. 3alam keadaan seperti ini, gerakan membuka mulut menyebabkan kondil bergerak ke depan dan mendesak diskus di depannya. 5ika hal ini berkelan(utan, kondil bisa sa(a melompati diskus dan benturan dengan tulang sehingga menyebabkan bunyi berupa kliking. 9ni (uga dapat ter(adi pada gerakan sebaliknya. Seringkali, bunyi ini tidak disertai nyeri sehingga pasien tidak menyadari bah#a bunyi tersebut merupakan ge(ala suatu kelainan sendi temporomandibular ()ryanti, 200*). Kre#itus

Krepitus sangat berbeda dari kliking. Krepitus merupakan bunyi mengerat atau menggesek yang ter(adi selama pergerakan mandibula, terutama pergerakan dari sisi yang satu dengan sisi yang lain. ,unyi sering kali dapat lebih diketahui dengan perabaan dari pada pendengaran. 0anya sedikit atau tidak ada keterangan tambahan yang diperoleh pada penggunaan stetoskop untuk memeriksa bunyi sendi ()ryanti, 200*).

!.Rasa Sakit an N-eri @saha dari pasien atau dokter gigi untuk membuka rahang yang terkun"i akan menimbulkan rasa sakit yang (uga terasa pada sendi dan otot yang bergubungan dengannya()ryanti, 200*). Sendi dan otot diperiksa untuk mengetahui daerah A daerah yang nyeri. Setiap sendi diraba perlahan A lahan ketika mulut digerakkan, dari depan tragus dan pada eksternal auditory meatus ()ryanti, 200*). Otot masseter dan temporalis, otot penguyah super)i"ial mudah diraba melalui kulit dan kulit kepala. Sebaliknya, otot petrigoid, hanya teraba se"ara intra-oral. Otot medial petrigoid teraba pada permukaan dalam ramus mandibula dan kepala in)erior yang besar

dari lateral petrigoid, dibelakang tuberositas

maksila. ?alaupun beberapa ahli

mengan(urkan untuk meraba petrigoid, para ahli de#asa ini menemukan bah#a tindakan tersebut tidak memberikan keterangan yang berman)aat. %emeriksaan itu sendiri sangat tidak enak bagi pasien dan sering menyebabkan pasien mual ()ryanti, 200*).

'.Pemeriksaan Intra)Oral %emeriksaan mulut yang meyelurh dilakukan untuk mengetahui kapasitas )ungsional dari gigi geligi. %emeriksaan tersebut harus termasuk pemeriksaan keadaan patologi yang mungkin merupakan penyebab dari ge(ala, baik si)at maupun pengaruhnya pada )ungsi mandibula. 'ontoh yang sering ditemukan adalah peradangan gusi pada geraham besar ketiga yang sedang bererupsi sebagian. Rahang menyimpang untuk menghindari daerah yang sakit ini. =igi yang terserang periodontitis atau tambalan yang terlalu tinggi (uga dapat menimbulakan ge(ala yang sama ()ryanti, 200*). $aktor A)aktor berikut harus diperhatikan : .. 0ubungan Oklusi. -. $ree#ay spa"e. /. O&er(et dan o&erbite. 1. =igi yang tanggal. >. %rotesa, bila ada. . 2trisi dan bekas abrasi. C. Kontak gigi prematur. ,ila keparahan kelainan tersebut mengurangi hasil pemeriksaan )ungsional dari oklusi, pera#atan harus diarahkan untuk mengurangi ge(ala yang ada terlebih dahulu. 2nalisa dapat dilan(utkan nanti dengan "ara yang normal ()ryanti, 200*).

*.Pemeriksaan ra igra(ik sen i tem#oroman i$ular 2da beberapa tehnik pen"intraan untuk mendiagnosa kelainan sendi mulai dari )oto ronsen biasa sampai MR9, tetapi, yang akan dibahas hanya beberapa proyeksi seperti tomogra)i, artgra)i, "omputed tomography *'T), dan MR9 (Suryonegoro, 2010).

Tomogra#&-

Tomography sendi temporomandibular dihasilkan melalui pergerakan yang sinkron antara tabung E-ray dengan kaset )ilm melalui titik )ulkrum imaginer pada pertengahan gambaran yang diinginkan termasuk (uga +inear tomography dan "ompleF tomography (Suryonegoro, 2010). ,eberapa penelitian menyatakan bah#a tomogra)i merupakan metode yang baik untuk menggambarkan perubahan tulang dengan arthrosis pada sendi temporomandibular(Suryonegoro, 2010) @ntuk menge&aluasi posisi kondil pada )ossa glenoid, tomogra)i lebih terper"aya daripada proyeksi biasa dan panoramik. Se"ara klinis, posisi kondil tetap merupakan aspek yang penting dalam melakukan bedah orthognati and orthodonti" studies. Kerugian yang paling besar dalam tomogra)i adalah kurangnya &isualisasi (aringan lunak sendi temporomandibular, (uga pada radiography biasa(Suryonegoro, 2010).

Art&rogra#&-

Terdapat dua tehnik arthrography pada sendi temporomandibular. %ada single"ontrast arthography, media radioopak diin(eksikan ke rongga sendi atas atau ba#ah atau keduanya. %ada double-"ontrast arthography, sedikit udara diin(eksikan ke dalam rongga sendi setelah in(eksi materi kontras.%enelitian menun(ukkan bah#a tidak ada perbedaan antara kedua tehnik (Suryonegoro, 2010).

5ika se(umlah ke"il bahan kontras medium air disuntikkan pada ruang superior dan in)erior sendi, diskus artikularis dan perlekatannya akan terlihatbatasnya dan posisinya bisa dila"ak sepan(ang pergerakan mendibula (Suryonegoro, 2010). ,agaimanapun, hanya ruang interior yang dibutuhkan untuk menetapkan posisi normal dan abnormal dari diskus tehadap hubungannya dengan kondil selama translasi. ,entuk ruang sendi *syno&ial "a&ities) akan ber&ariasi tergantung perubahan mulut apakah membuka atau menutup dan kondil akan bertranslasi kedepan pada eminensia. 2rthrogram ini merupakan satu-satunya metode yang tersedia untuk melihat hubungan yang sebenarnya antara diskus dan kondil yang dapat di&isualisasikan, dan ia sangat penting untuk pnegakkan diagnosis pada kelainan internal yang ter(adi (Suryonegoro, 2010). Keakuratan diagnosa posisi diskus 61G sampai .!!G dibandingkan dengan the "orresponding "ryose"tional morphology dan dari penemuan bedah. %er)ormasi dan adhesi (uga dapat ditun(ukkan dengan teknik ini. %enelitian-penelitian telah menun(ukkan pentingnya diagnosis dan identi)ikasi kerusakan sendi temporomandibular internal. %enelitian yang baru-baru ini dilakukan dengan menggunakan tehnik arthography, menun(ukkan bah#a arthography dapat meningkatkan keakuratan diagnosa per)orasi dan adhesi diskusi Sendi Temporomandibular dengan MR9 (Suryonegoro, 2010). 1om#ute tomogra#&-

%ada tahun .B6!, "omputed tomography *'T) mulai diaplikasikan ankilosis sendi temporomandibular, )raktur kondil, dislokasi dan perubahan osseous (Suryonegoro, 2010). %ada laporan terdahulu, keakuratan dalam penentuan lokasi diskus tinggi *6.G) (ika dibandingkan dengan 'T dan penemuan bedah. ,eberapa laporan mempertimbangkan bah#a 'T dapat menggantikan proyeksi arthrograpy dalam diagnosis dislokasi diskus pada kelainan sendi temporomandibular. ,agaimanapun, keakuratan dari penentuan dislokasi diskus hanya sekitar 1!G- CG pada 'T dalam studi material spesimen autopsi. Keakuratan dalam perubahan osseus dari sendi temporomandibular dalam 'T dibandingkan dengan material "ada&er sekitar G-6CG. ,eberapa laporan menun(ukkan bah#a bukti arthrosis dalam radiogra) dapat atau tidak dapat dihubungkan dengan ge(ala klinis nyeri dis)ungsi. 5adi pasien tanpa perubahan osseus "hanges di sendi temporomandibular, bisa sa(a merasa

nyeri, dan asien tanpa ge(ala abnormalitas tulang bisa bebas nyeri. 'T bukanlah metode yang baik untuk mendiagnosa kelainan sendi temporomandibular (Suryonegoro, 2010). Magneti" Resonan"e 9maging pada sendi Temporomandibular. ,eberapa penelitian telah membandingkan MRi sendi temporomandibular dengan arthography dan 'T. 0asil MR9 (uga dibandingkan dengan obser&asi anatomi dan histologi. %ada penelitian terhadap spesimen autopsi, keakuratan MR9 menge&aluasi perubahan osseus adalah !G sampai .!!G dan keakuratan menge&aluasi dislokasi diskus adalah C/G sampai B>. Semua penelitian diatas menun(ukkan bah#a MR9 adalah metode terbaik untuk pen"itraan (aringan keras dan (aringan lunak sendi temporomandibular (Suryonegoro, 2010). ,eberapa penelitian menun(ukkan bah#a dislokasi diskus yang ditun(ukkan MR9 ternyata memeliki hubungan dengan "liking, nyeri, dan ge(ala dis)ungsi Sendi Temporomandibular lain. Setiap kali nyeri klinis dan ge(ala dis)ungsi sendi temporomandibular ditemukan tanpa adanya dislokasi diskus pada MR9 maka diduga diagnosis pen"intraan tersebut )alse positi&e atau )alse negati&e (Suryonegoro, 2010). ?alaupun beberapa penelitian menyetu(ui bah#a nyeri otot adalah salah satu aspek utama kelainan TM5, bukti perubahan patologis otot pengunyahan tidak diperhitungkan dalam diagnosis pen"itraan. ,eberapa laporan menun(ukkan MR9 tidak hanya merupakan metode yang akurat untuk mendeteksi posisi diskus tetapi (uga merupakan teknik potensial untuk menge&aluasi perubahan patologis otot pengunyahan pada kelainan Sendi Temporomandibular. 2kan tetapi, tidak ada laporan yang menghubungkan abnormalitas otot penguyahan pada MR9 dengan ge(ala klinis (Suryonegoro, 2010).