Anda di halaman 1dari 69

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pencabutan gigi merupakan suatu proses pengeluaran gigi dari alveolus, dimana pada gigi tersebut sudah tidak dapat dilakukan perawatan lagi. Pencabutan gigi juga merupakan operasi bedah yang melibatkan jaringan bergerak dan jaringan lunak dari rongga mulut, akses yang dibatasi oleh bibir dan pipi, dan selanjutnya dihubungkan/disatukan oleh gerakan lidah dan rahang. Definisi pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan tanpa rasa sakit satu gigi utuh atau akar gigi dengan trauma minimal terhadap jaringan pendukung gigi, sehingga bekas pencabutan dapat sembuh dengan sempurna dan tidak terdapat masalah prostetik di masa mendatang (Howe, !!!" Pencabutan gigi merupakan tindakan yang sangat komplek yang melibatkan struktur tulang, jaringan lunak dalam rongga mulut serta keselurahan bagian tubuh. Pada tindakan pencabutan gigi perlu dilaksanakan prinsip#prinsip keadaan suci hama (asepsis" dan prinsip#prinsip pembedahan (surgery". $ntuk pencabutan lebih dari satu gigi secara bersamaan tergantung pada keadaan umum penderita serta keadaan infeksi yang ada ataupun yang mungkin akan terjadi (Pederson, !!%& Howe, !!!"

2.2 Indikasi dan Kontraindikasi Pencabutan Gigi 2.2.1 Indikasi Pencabutan Gigi Howe, !!!" 'igi mungkin perlu di cabut untuk berbagai alasan, misalnya karena sakit gigi itu sendiri, sakit pada gigi yang mempengaruhi jaringan di sekitarnya, atau

letak gigi yang salah. Di bawah ini adalah beberapa contoh indikasi dari pencabutan gigi( a. )aries yang parah *lasan paling umum dan yang dapat diterima secara luas untuk pencabutan gigi adalah karies yang tidak dapat dihilangkan. +ejauh ini gigi yang karies merupakan alasan yang tepat bagi dokter gigi dan pasien untuk dilakukan tindakan pencabutan. b. ,ekrosis pulpa +ebagai dasar pemikiran, yang ke#dua ini berkaitan erat dengan pencabutan gigi adalah adanya nekrosis pulpa atau pulpa irreversibel yang tidak diindikasikan untuk perawatan endodontik. -ungkin dikarenakan jumlah pasien yang menurun atau perawatan endodontik saluran akar yang berliku#liku, kalsifikasi dan tidak dapat diobati dengan tekhnik endodontik standar. Dengan kondisi ini, perawatan endodontik yang telah dilakukan ternyata gagal untuk menghilangkan rasa sakit sehingga diindikasikan untuk pencabutan. c. Penyakit periodontal yang parah *lasan umum untuk pencabutan gigi adalah adanya penyakit periodontal yang parah. .ika periodontitis dewasa yang parah telah ada selama beberapa waktu, maka akan nampak kehilangan tulang yang berlebihan dan mobilitas gigi yang irreversibel. Dalam situasi seperti ini, gigi yang mengalami mobilitas yang tinggi harus dicabut. d. *lasan orthodontik Pasien yang akan menjalani perawatan ortodonsi sering membutuhkan pencabutan gigi untuk memberikan ruang untuk keselarasan gigi. 'igi yang paling sering diekstraksi adalah premolar satu rahang atas dan bawah, tapi premolar ke#

dua dan gigi insisivus juga kadang#kadang memerlukan pencabutan dengan alasan yang sama. e. 'igi yang mengalami malposisi 'igi yang mengalami malposisi dapat diindikasikan untuk pencabutan dalam situasi yang parah. .ika gigi mengalami trauma jaringan lunak dan tidak dapat ditangani oleh perawatan ortodonsi, gigi tersebut harus diekstraksi. /ontoh umum ini adalah molar ketiga rahang atas yang keluar kearah bukal yang parah dan menyebabkan ulserasi dan trauma jaringan lunak di pipi. Dalam situasi gigi yang mengalami malposisi ini dapat dipertimbangkan untuk dilakukan pencabutan. f. 'igi yang retak 0ndikasi ini jelas untuk dilakukan pencabutan gigi karena gigi yang telah retak. Pencabutan gigi yang retak bisa sangat sakit dan rumit dengan tekhnik yang lebih konservatif. 1ahkan prosedur restoratif endodontik dan kompleks tidak dapat mengurangi rasa sakit akibat gigi yang retak tersebut. g. Pra#prostetik ekstraksi )adang#kadang, gigi mengganggu desain dan penempatan yang tepat dari peralatan prostetik seperti gigitiruan penuh, gigitiruan sebagian lepasan atau gigitiruan cekat. )etika hal ini terjadi, pencabutan sangat diperlukan. h. 'igi impaksi 'igi yang impaksi harus dipertimbangkan untuk dilakukan pencabutan. .ika terdapat sebagian gigi yang impaksi maka oklusi fungsional tidak akan optimal karena ruang yang tidak memadai, maka harus dilakukan bedah pengangkatan gigi impaksi tersebut. ,amun, jika dalam mengeluarkan gigi yang impaksi terdapat kontraindikasi seperti pada kasus kompromi medis, impaksi

tulang penuh pada pasien yang berusia diatas 23 tahun atau pada pasien dengan usia lanjut, maka gigi impaksi tersebut dapat dibiarkan. i. +upernumary gigi 'igi yang mengalami supernumary biasanya merupakan gigi impaksi yang harus dicabut. 'igi supernumary dapat mengganggu erupsi gigi dan memiliki potensi untuk menyebabkan resorpsi gigi tersebut. j. 'igi yang terkait dengan lesi patologis 'igi yang terkait dengan lesi patologis mungkin memerlukan pencabutan. Dalam beberapa situasi, gigi dapat dipertahankan dan terapi terapi endodontik dapat dilakukan. ,amun, jika mempertahankan gigi dengan operasi lengkap pengangkatan lesi, gigi tersebut harus dicabut. k. 4erapi pra#radiasi Pasien yang menerima terapi radiasi untuk berbagai tumor oral harus memiliki pertimbangan yang serius terhadap gigi untuk dilakukan pencabutan. l. 'igi yang mengalami fraktur rahang Pasien yang mempertahankan fraktur mandibula atau proses alveolar kadang#kadang harus merelakan giginya untuk dicabut. Dalam sebagian besar kondisi gigi yang terlibat dalam garis fraktur dapat dipertahankan, tetapi jika gigi terluka maka pencabutan mungkin diperlukan untuk mencegah infeksi. m. 5stetik 4erkadang pasien memerlukan pencabutan gigi untuk alasan estetik. /ontoh kondisi seperti ini adalah yang berwarna karena tetracycline atau fluorosis, atau mungkin malposisi yang berlebihan sangat menonjol. -eskipun ada tekhnik lain seperti bonding yang dapat meringankan masalah pewarnaan dan prosedur ortodonsi atau osteotomy dapat digunakan untuk memperbaiki tonjolan

yang parah, namun pasien lebih memilih untuk rekonstruksi ekstraksi dan prostetik. n. 5konomis 0ndikasi terakhir untuk pencabutan gigi adalah faktor ekonomi. +emua indikasi untuk ekstraksi yang telah disebutkan diatas dapat menjadi kuat jika pasien tidak mau atau tidak mampu secara finansial untuk mendukung keputusan dalam mempertahankan gigi tersebut. )etidakmampuan pasien untuk membayar prosedur tersebut memungkinkan untuk dilakukan pencabutan gigi.

2.2.2 Kontraindikasi Pencabutan Gigi Howe, !!!"


a. )ontaindikasi sistemik

)elainan jantung )elainan darah. Pasien yang mengidap kelainan darah seperti leukemia, haemoragic purpura, hemophilia dan anemia

Diabetes melitus tidak terkontrol sangat mempengaruhi penyembuhan luka.

Pasien dengan penyakit ginjal (nephritis" pada kasus ini bila dilakukan ekstraksi gigi akan menyebabkan keadaan akut

Penyakit hepar (hepatitis". Pasien dengan penyakit syphilis, karena pada saat itu daya tahan terutama tubuh sangat rendah sehingga mudah terjadi infeksi dan penyembuhan akan memakan waktu yang lama.

*lergi pada anastesi local 6ahang yang baru saja telah diradiasi, pada keadaan ini suplai darah menurun sehingga rasa sakit hebat dan bisa fatal.

4o7ic goiter )ehamilan. pada trimester ke#dua karena obat#obatan pada saat itu mempunyai efek rendah terhadap janin.

Psychosis dan neurosis pasien yang mempunyai mental yang tidak stabil karena dapat berpengaruh pada saat dilakukan ekstraksi gigi

4erapi dengan antikoagulan.

b. )ontraindikasi lokal

6adang akut. )eradangan akut dengan cellulitis, terlebih dahulu keradangannya harus dikontrol untuk mencegah penyebaran yang lebih luas. .adi tidak boleh langsung dicabut.

0nfeksi akut. Pericoronitis akut, penyakit ini sering terjadi pada saat -2 61 erupsi terlebih dahulu

-alignancy oral. *danya keganasan (kanker, tumor", dikhawatirkan pencabutan akan menyebabkan pertumbuhan lebih cepat dari keganasan itu. +ehingga luka bekas ekstraksi gigi sulit sembuh. .adi keganasannya harus diatasi terlebih dahulu.

'igi yang masih dapat dirawat/dipertahankan dengan perawatan konservasi, endodontik dan sebagainya

2.! Tindakan Anestesi "oka# Pada Pecabutan gigi 2.!.1 Definisi *nestesi lokal didefinisikan sebagai kehilangan sensasi pada area tertentuyang dipersarafi oleh nervus tertentu pada tubuh akibat depresi eksitasi pada serabutsaraf maupun akibat inhibisi pada proses konduksi nervus perifer (6obinson, 8993"

*nestetik lokal menghilangkan penghantaran saraf ketika digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan konsentrasi tepat. 1ekerja pada sebagian +istem +araf Pusat (++P" dan setiap serabut saraf. )erja anestetik lokal pada ujung saraf sensorik tidak spesifik. Hanya kepekaan berbagai struktur yang dapat dirangsang berbeda. +erabut saraf motorik mempunyai diameter yang lebih besar daripada serabut sensorik. :leh karena itu, efek anestetika lokal menurun dengan kenaikan diameter serabut saraf, maka mula#mula serabut saraf sensorik dihambat dan baru pada dosis lebih besar serabut saraf motorik dihambat (6obinson, 8993"

2.!.2 Sifat Anestesi "oka# +ifat *nestetik ;okal yang 0deal ('aniswarna, 8998"( a. Poten dan bersifat sementara (reversibel" b. +ebaiknya tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen (kebanyakan anestetik lokal memenuhi syarat ini". c. 1atas keamanan harus lebar, sebab anestetik lokal akan diserap dari tempat suntikan. d. -ula kerja harus sesingkat mungkin. e. -asa kerja harus cukup lama, sehingga cukup waktu untuk melakukan tindakan operasi, tetapi tidak sedemikian lama sampai memperpanjang masa pemulihan. f. <at anestetik lokal juga harus larut dalam air, stabil dalam larutan, dan dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan. g. Harganya murah

2.!.! Go#ongan $bat Anestesi "oka# *nestetik lokal dibagi menjadi dua golongan ('aniswarna, 8998"( . 'olongan ester (#/::/#" )okain, ben=okain (amerikain", ametocaine, prokain (nevocaine", tetrakain (pontocaine", kloroprokain (nesacaine". 8. 'olongan amida (#,H/:#" ;idokain (7ylocaine, lignocaine", mepivakain

(carbocaine", prilokain (citanest", bupivakain (marcaine", etidokain (duranest", dibukain (nupercaine", ropivakain (naropin", levobupivacaine (chirocaine". 1erikut akan dibahas masing#masing obat yang sering digunakan dalam kedoktran gigi dalam praktek pencabutan gigi sehari#hari maupun untuk tujuan anastetik lain. a. "ignokain "idokain% +ejak diperkenalkan pada tahun !>!, derivat amida dari 7ylidide ini

sudah menjadi agen anastesi lokal yang paling sering digunakan dalam bidang kedokteran gigi dan bahkan menggantikan pro#kain sebagai prototipe anastesi lokal yang umumnya digunakan sebagai pedoman bagi semua agen anastesi lainnya ('aniswarna, 8998" ;ignokain dapat menimbulkan anastesi lebih cepat daripada prokain dan dapat tersebar dengan cepat di seluruh jaringan, menghasilkan anastesi yang lebih dalam dengan durasi yang cukup lama. 1erbeda dengan pro?kain, lignokain tidak atau hanya sedikit menimbulkan vasodilatasi dan karena itu hanya membutuhkan sedikit penambahan vasokonstriktor. Penambahan vasokonstriktor pada larutan lignokain 8@ akan dapat menambah durasi anastesi pulpa dari 3# 9 menit menjadi # A jam dan anastesi jaringan lunak dari # /8 jam menjadi 2#> jam. .adi, obat

ini biasanya digunakan dalam kombinasi dengan adrenalin ( (B9.999 atau

( 99.999" dan tiap mililiter larutan lignokain 8@ dengan adrenalin mengandung( ;ignokain hidroklorit 89 mg +odium klorit % mg *drenalin hidroklorit 9,9 8 mg -etil paraben mg

(B9.999

+odium metabisulfit 9,3 mg dan sodium hidroksida untuk memodifikasi pH

1erbeda dengan prokain, lignokain selain digunakan untuk anastesi in# filtrasi atau regional juga dapat digunakan sebagai agen anastesi topikal. $ntuk tujuan inilah, lignokain dipasarkan baik dalam bentuk agar viskous 8@ atau salep 3@ atau semprotan cair 9@ ('aniswarna, 8998" Calaupun lignokain dua kali lebih toksik daripada prokain, bila digu?nakan dengan dosis yang tepat, dapat menimbulkan beberapa masalah ('aniswarna, 8998" 1ila digunakan sebagai agen tunggal, dosis total lignokain jangan lebih dari 899 mg. Penambahan vasokonstriktor akan meningkatkan dosis total menjadi 239 mg serta memperlambat absorpsi. Pada prakteknya, dosis ini sama dengan dosis dewasa B# 9 cartridge, jauh melebihi dosis yang biasa dipergunakan pada satu kunjungan, karena dosis satu cartridge biasanya sudah cukup untuk anastesi infiltrasi atau regional ('aniswarna, 8998" 1ila lignokain dalam darah sudah mencapai tingkatan tertentu, berbeda dengan sebagian besar agen anastesi lokal lainnya, lignokain cenderung menimbulkan tanda#tanda depresi sistem saraf sentral, termasuk haus, sedasi dan

ataksia bukan tanda#tanda stimulasi sistem saraf sentral. ,amun kadang#kadang dapat terjadi tremor dan/atau konvulsi ('aniswarna, 8998" ;ignokain tidak mempunyai sifat alergenik terhadap agen anastesi lokal tipe ester, tetapi sebaiknya tidak digunakan untuk pasien yang alergi terha?dap agen anastesi lokal tipe amida atau yang alergi paraben. Penggunaan lignokain juga merupakan kontraindikasi pada penderita penyakit hati yang parah ('aniswarna, 8998" b. &e'i(acain )arbocaine% Derivat amida dari 7ylidide cukup populer sejak diper#kenalkan untuk tujuan klinis pada akhir !39#an ('aniswarna, 8998" )ecepatan timbulnya efek, durasi aksi, potensi dan toksisitasnya mirip dengan lignokain. -epivacain tidak mempunyai sifat alergenik terhadap agen anastesi lokal tipe ester ('aniswarna, 8998" *gen ini dipasarkan sebagai garam hidroklorida dan dapat digunakan untuk anastesi infiltrasi atau regional namun kurang efektif bila digunakan untuk anastesi topikal. -epivacain dapat menimbulkan vasokonstriksi yang lebih ringan daripada lignokain tetapi biasanya mepivacain digu?nakan dalam bentuk larutan dengan penambahan adrenalin (B9.999. Dalam bentuk seperti itu, dosis yang dipergunakan jangan melebihi dosis maksimal 3 mg/kg berat tubuh. +atu buah cartridge biasanya sudah cukup untuk anastesi infiltrasi atau regional ('aniswarna, 8998" -epivacain kadang#kadang dipasarkan dalam bentuk larutan 2@ tanpa penambahan vasokonstriktor, untuk mendapat kedalaman dan durasi anas?tesi pada pasien tertentu di mana pemakaian vasokonstriktor merupakan

kontraindikasi. ;arutan seperti ini dapat menimbulkan anastesi pulpa yang

berlangsung antara 89#>9 menit dan anastesi jaringan lunak berdurasi 8#> jam ('aniswarna, 8998" :bat ini jangan digunakan pada pasien yang alergi terhadap anastesi lokal tipe amida, atau pasien yang menderita penyakit hati yang parah. -epivacain yang dipasarkan dengan nama dagang /arbocaine biasanya tidak mengandung paraben dan karena itu, dapat digunakan pada pasien yang alergi paraben ('aniswarna, 8998" 4oksisitas mepivacain setara dengan lignokain namun bila mepivacain dalam darah sudah mencapai tingkatan tertentu, akan terjadi eksitasi sistem saraf sentral bukan depresi, dan eksitasi ini dapat berakhir berupa konvulsi dan depresi respirasi ('aniswarna, 8998" c. Pri#okain Calaupun merupakan derivat toluidin, agen anastesi lokal tipe amida ini pada dasarnya mempunyai formula kimiawi dan farmakologi yang mirip dengan lignokain dan mepivacain ('aniswarna, 8998" Prilokain umumnya dipasarkan dalam bentuk garam hidroklorida de?ngan nama dagang /itanest dan dapat digunakan untuk mendapat anastesi infiltrasi dan regional. ,amun prilokain biasanya tidak dapat digunakan untuk mendapat efek anastesi topikal ('aniswarna, 8998" Prilokain biasanya menimbulkan aksi yang lebih cepat daripada& ligno?kain namun anastesi yang ditimbulkannya tidaklah terlalu dalam. Prilokain juga kurang mempunyai efek vasodilator bila dibanding dengan ligpokain dan# biasanya termetabolisme dengan lebih cepat. :bat ini kurang toksik dibandingkan dengan lignokain tetapi dosis total yang dipergunakan sebaiknya tidak lebih dari >99 mg ('aniswarna, 8998"

+alah satu produk pemecahan prilokain adalah ortotoluidin yang dapat menimbulkan metahaemoglobin. -etahaemoglobin yang cukup besar ha#nya dapat terjadi bila dosis obat yang dipergunakan lebih dari >99 mg. -etahaemoglobin @ terjadi pada penggunaan dosis >99 mg, dan biasanya

diperlukan tingkatan metahaemoglobin lebih dari 89@ agar terjadi simtom seperti sianosis bibir dan membrana mukosa atau kadang#kadang depresi respirasi. )arena pemakaian satu cartridge saja sudah cukup untuk men#dapat efek anastesi infiltrasi atau regional yang diinginkan, dan karena setiap cartridge hanya mengandung B9 mg prilokain hidroklorida, maka resiko terjadinya

metahaemoglobin pada penggunaan prilokain untuk prak#tek klinis tentunya sangat kecil ('aniswarna, 8998" Calaupun demikian, agen ini jangan digunakan untuk bayi, penderita metahaemoglobinemia, penderita penyakit hati, hipoksia, anemia, penyakit ginjal atau gagal jantung, atau penderita kelainan lain di mana masalah ok#sigenasi berdampak fatal, seperti pada wanita hamil. Prilokain juga jangan dipergunakan pada pasien yang mempunyai riwayat alergi terhadap agen anastesi tipe amida atau alergi paraben ('aniswarna, 8998" Penambahan fefypressin D:ctapressiri" dengan konsentrasi 9,92 i.u/ml (E (899.999" sebagai agen vasokonstriktor akan dapat meningkatkan baik kedalaman maupun durasi anastesi. ;arutan anastesi yang mengandung felypressin alcan sangat bermanfaat bagi pasien yang menderita penyakit kardio# vaskular ('aniswarna, 8998" d. *asokonstriktor Penambahan sejumlah kecil agen vasokonstriktor pada larutan anastesi lokal dapat memberi keuntungan berikut ini ('aniswarna, 8998"(

. -engurangi efek toksik melalui efek penghambat absorpsi konstituen. 8. -embatasi agen anastesi hanya pada daerah yang terlokaiisir sehingga dapat meningkatkan kedalaman dan durasi anastesi. 2. -enimbulkan daerah kerja yang kering (bebas bercak darah" untuk prosedur operasi. Fasokonstriktor yang biasa dipergunakan adalah ('aniswarna, 8998"( . *drenalin (epinephrine", suatu alkaloid sintetik yang hampir mirip dengan sekresi medula adrenalin alami. 8. Gelypressin D:ctapressiri", suatu polipeptid sintetik yang mirip dengan sekresi glandula pituitari posterior manusia. Gelypressin mempunyai sifat vasokonstriktor yang lemah, yang tampaknya dapat diperkuat dengan penambahan prilokain. 1aik kedalaman dan durasi anastesi dapat dimodifikasi kaiena peraH# bahkan vasokonstriktor dalam larutan. )arena itu, beberapa pabrik mem#buat larutan lignokain yang mengandung adrenalin atau noradrenalin dengan konsentrasi (39.999, (B9.999 atau ( 99.999. Pada umumnya, makin rendah konsentrasi vasokonstriktor, makin kecil kedalaman dan durasi anastesi ('aniswarna, 8998" Gelypressin hanya ditambahkan pada larutan /itanest dengan konsentrasi 9,92 i.u/ml (E (89.999". ,oradrenalin (laevoarterenol, norepinephrine", suatu

substansi sintetik yang mirip dengan presor amina yang disekresi dalam tubuh manusia oleh neuron monoaminergik pada otak dan pada pertautan adreno#neural serta mio#neural sistem saraf simpatetik yang digunakan sebagai vasokonstriktor untuk larutan anastesi lokal. Calaupun demikian, dan pengalaman terlihat bahwa penggunaan agen ini dapat menimbulkan efek samping berupa episoda hipertensi

yang parah dan kolaps. )arena noradrenalin tidak lebih unggul daripada adrenalin bila digunakan sebagai vasokonstriktor, maka penggunaan noradrenalin sebagai tambahan larutan anastesi lokal sudah makin jarang dilakukan ('aniswarna, 8998" *drenalin adalah agen yang paling sering digunakan dan merupakan vasokonstriktor yang paling efektif, namun reaksi alergi terhadap agen ini juga tidak jarang terjadi. Pasien yang mengeluh tentang rasa mau pingsan dan mungkin menyadari adanya denyut jantung yang lebih cepat mungkin alergi terhadap suntikan adrenalin tersebut. 5fek ini biasanya berdurasi singkat karena adrenalin akan dikeluarkan dari sirkulasi dengan cukup cepat dan akan menjadi tidak aktif ('aniswarna, 8998" 1ahkan sisa suntikan adrenalin dalam jumlah kecil sekalipun dapat menimbulkan efek samping yang hebat pada beberapa pasien yang memang alergi terhadap preparat komersial. Pasien seperti ini akan memberi reaksi secara konsisten terhadap larutan anastesi lokal yang mengandung adrenalin berupa mual, takikardia, palpitasi dan gelisah. 4idak akan terjadi reaksi merugikan pada penggunaan larutan alternatif bebas adrenalin. ;arutan anastesi lokal yang mengandung adrenalin jangan digunakan bersama dengan agen anastesi umum yang mengandung hidrokarbon halo#genasi atau siklopropan karena ada kemungkinan terjadinya fibrilasi ventrikular. Gelypressin dapat digunakan dengan aman pada situasi ini, walaupun tidak menimbulkan vasokonstriksi pada daerafa kerja dengan derajat yang sama seperti adrenalin ('aniswarna, 8998" Gelypressin juga dapat digunakan pada pasien dengan tirotoksikosis dan pada mereka yang menggunakan obat#obat penghambat oksidasi monoamin atau obat trisiklik ('aniswarna, 8998"

Penderita penyakit jantung iskemia jangan diberi suntikan dengan dosis lebih dari B,B ml (89.999 sekali perawatan karena dapat terjadi vasokons#triksi koroner yang menyebabkan takikardia. 1ahkan pada pasien yang sehat sekalipun jangan diberikan suntikan lebih dari 2 ml pada tiap kun#jungan perawatan.

+ebenarnya dosis inipun sudah jauh lebih tinggi dari#pada dosis normal yang dibutuhkan untuk perawatan gigi ('aniswarna, 8998" Penggunaan felypressin merupakan kontraindikasi pada wanita hamil karena secara teoritis, dapat memberikan efek oksitoksik. ,amun walaupun demikian, aborsi yang ditimbulkan oleh obat ini baru ditemukan akhir#akhir ini saja ('aniswarna, 8998" +ebaiknya gunakan larutan anastesi lokai dengan dosis sekecil mungkin agar kemungkinan terjadinya efek samping yang berbahaya dapat dikura#ngi. $ntuk kelompok pasien tertentu seperti wanita hamil atau penderita penyakit kardiovaskular kita perlu mempertimbangkan faktor#faktor individual terlebih dahulu sebelum memberi anastesi ('aniswarna, 8998"

2.!.+ &ekanis,e Ker-a :bat bekerja pada reseptor spesifik pada saluran natrium (sodium channel", mencegah peningkatan permeabilitas sel saraf terhadap ion natrium dan kalium, sehingga terjadi depolarisasi pada selaput saraf dan hasilnya tak terjadi konduksi saraf. -ekanisme utama aksi anestetik lokal adalah memblokade Ivoltage#gated sodium channelsJ. -embrane akson saraf, membrane otot

jantung, dan badan sel saraf memiliki potensial istirahat #!9 hingga #%9 mF. +elama eksitasi, lorong sodium terbuka, dan secara cepat berdepolarisasi hingga tercapai potensial eKuilibrium sodium (L>9 mF". *kibat dari depolarisasi,, lorong

sodium menutup (inaktif" dan lorong potassium terbuka. *liran sebelah luar dari repolarisasi potassium mencapai potensial eKuilibrium potassium (kira#kira #!3 mF". 6epolarisasi mngembalikan lorong sodium ke fase istirahat. 'radient ionic transmembran dipelihara oleh pompa sodium. Gluks ionic ini sama halnya pada otot jantung, dan dan anestetik local memiliki efek yang sama di dalam jaringan tersebut ('aniswarna, 8998& 6obinson, 8993" Gungsi sodium channel bisa diganggu oleh beberapa cara. 4oksin biologi seperti batrachoto7in, aconitine, veratridine, dan beberapa venom kalajengking berikatan pada reseptor diantara lorong dan mencegah inaktivasi. *kibatnya

terjadi pemanjangan influ7 sodium melalui lorong dan depolarisasi dari potensial istirahat. 4etrodoto7in (44M" dan sa7ito7in memblok lorong sodium dengn berikatan kepada chanel reseptor di dekat permukan e7tracellular. +erabut saraf secara signifikan berpengaruh terhadap blockade obat anestesi local sesuai

ukuran dan derajat mielinisasi saraf. *plikasi langsung anestetik local pada akar saraf, serat 1 dan / yang kecil diblok pertama, diikuti oleh sensasi lainnya, dan fungsi motorik yang terakhir diblok ('aniswarna, 8998& 6obinson, 8993"

2.!.. /fek Sa,'ing anestesi #oka# +eharusnya obat anestesi lokal diserap dari tempat pemberian obat. .ika kadar obat dalam darah menigkat terlalu tinggi, maka akan timbul efek pada berbagai sistem organ (Howe, !!!". a. +istem +araf Pusat 5fek terhadap ++P antara lain ngantuk, kepala terasa ringan, gangguan visual dan pendengaran, dan kecemasan. Pada kadar yang lebih tinggi, akan timbul pula nistagmus dan menggigil. *khirnya kejang tonik klonik yang terus

menerus diikuti oleh depresi ++P dan kematian yang terjadi untuk semua anestesi lokal termasuk kokain. 6eaksi toksik yang paling serius dari obat anestesi lokal adalah timbulnya kejang karena kadar obat dalam darah yang berlebihan. )eadaan ini dapat dicegah dengan hanya memberikan anestesi lokal dalam dosis kecil sesuai dengan kebutuhan untuk anestesi yang adekuat saja. 1ila harus diberikan dalam dosis besar, maka perlu ditambahkan premedikasi dengan ben=odiapedin& seperti dia=epam, 9, #9,8mg/kg parenteral untuk mencegah bangkitan

kejang(Howe, !!!". b. +istem +araf Perifer (,eurotoksisitas" 1ila diberikan dalam dosis yang berlebihan, semua anestesi lokal akan menjadi toksik terhadap jaringan saraf (Howe, !!!". c. +istem )ardiovaskular 5fek kardiovaskular anestesi lokal akibat sebagian dari efek langsung terhadap jantung dan membrane otot polos serta dari efek secara tidak langsung melalui saraf otonom. *nestesi lokal menghambat saluran natrium jantung sehingga menekan aktivitas pacu jantung, eksitabilitas, dan konduksi jantung menjadi abnormal. Calaupun kolaps kardiovaskular dan kematian biasanya timbul setelah pemberian dosis yang sangat tinggi, kadang#kadang dapat pula terjadi dalam dosis kecil yang diberikan secara infiltrasi. 'ejala nya bias terlihat dari terhambatnya pernapasan dan sirkulasi darah (Howe, !!!". d. Darah Pemberian prilokain dosis besar selama anestesi regional akan

menimbulkan penumpukan metabolit o#toluidin, suatu =at pengoksidasi yang mampu mengubah hemoglobin menjadi methemeglobin. 1ila kadarnya cukup besar maka warna darah menjadi coklat (Howe, !!!".

e. 6eaksi alergi 6eaksi ini sangat jarang terjadi dan hanya terjadi pada sebagian kecil populasi. )asus tentang riwayat alergi terhadap berbagai anastesi lokal belum banyak ditemukan, kecuali pada individu yang memang mempunyai riwayat

alergi terhadap jenis obat anastesi tertentu. (Howe, !!!".

2.!.0 Kontra Indikasi Anastesi "oka# )ontra indikasi terpenting dari anastesi lokal adalah adanya infeksi akut pada daerah operasi. +untikan larutan anastesi lokal ke daerah peradangan akut akan menyebabkan infeksi menyebar melalui rusaknya daya pertahanan alami dan jarang dapat menimbulkan efek anastesi. )adang# kadang anastesi regional dapat digunakan untuk mendapatkan efek yang di inginkan tetapi sebaiknya suntikan blok gigi inferior jangan dilakukan pada pasien dengan infeksi dasar rongga mulut atau daerah retromolar (Howe, !!!". *nastesi lokal hanya mempunyai beberapa kontraindikasi pada praktek perawatan gigi sehari#hari. 1ahan yang digunakan untuk tujuan ini belum terbukti dapat mempengaruhi fetus dan kehamilan bukanlah kontraindikasi dari bentuk anastesi ini,walaupun demikian , untuk penderita penyakit gangguan darah yang langka seperti haemopilia, penyakit /hristmas atau penyakit von willebrand, jangan digunakan anastesi lokal untuk perawatan gigi karena ada resiko terjadinya perdarahan di daerah suntikan. Pasien yang terserang penyakit#penyakit tersebut seringkali meninggal setelah dilakukan penyuntikan blok gigi inferior untuk prosedur perawatan konservasi, resiko yang berhubungan dengan pencabutan gigi pada pasien ini mengharuskan pasien dirawat di rumah sakit dan mengharuskan dilakukannya tindak perawatan haematologi yang menyeluruh (Howe, !!!".

*da beberapa pasien yang memang alergi terhadap bahan larutan anastesi tertentu. $ntung reaksi abnormal ini umumnya bersifat spesifik sehingga dapat dipergunakan bahan alternatif lain yang mempunyai struktur kimia yang berbeda, yang tidak atau belum pernah menimbulkan alergi pada pasien yang alergi terhadap obat tertentu (Howe, !!!". *dapun efek merugikan dari berbagai agen anestesi lokal modern terhadap kehamilan masih belum terbukti, walau demikian diperkirakan bahwa vasokonstriktor felypressin (octapressin"mempunyai efek oksitoksik ringan, dapat menganggu sirkulasi fetus dan dapat mempercepat kelahiran (Howe, !!!". $mumnya anestesi lokal yang dilakukan semasa kehamilan dianggap cukup aman asalkan diberikan dengan hati#hati. Pemeriksaan riwayat kesehatan yang cermat harus dilakukan sebagai upaya rutin sebelum kita merawat pasien. 1ila pasien dalam keadaan hamil sebaiknya batasi perawatan yang dilakukan, hanya untuk jenis#jenis perawatan yang diperlukan saja. Prosedur operasi elektif sebaiknya ditunda setelah masa persalinan. Dan untuk pasien ini tidak perlu digunakan sejumlah besar larutan anastesi lokal. :bat#obat yang diberikan hanya obat#obat yang aman dan dosisnya harus sekecil mungkin. ;arutan anastesi optimal yang dapat digunakan untuk perawatan gigi pada pasien tersebut adalah lidnocain 8@ dan adrenalin (B9.999.sebaiknya batasi dosisi suntikan hanya

sebanyak 8 catridge pada setiap kunjungan. Pengguanaan syringe aspirasi merupakan keharusan untuk mengurangi resiko terjadinya suntikan intravaskuler (Howe, !!!".

2.!.1 Ko,'#ikasi Anestesi "oka# Pada pemberian anestesi lokal, terdapat komplikasi yang mungkin saja terjadi. )omplikasi yang disebabkan pemberian anestesi lokal dibagi menjadi dua, komplikasi lokal, dan komplikasi sistemik. )omplikasi lokal merupakan komplikasi yang terjadi pada sekitar area injeksi, sedangkan komplikasi sistemik merupakan komplikasi yang melibatkan respon sistemik tubuh terhadap pemberian anestesi lokal (Howe, !!!".

2.!.1.1 Ko,'#ikasi "oka# a. .arum Patah Penyebab utama jarum patah adalah kondisi jarum yang fatig akibat dibengkokkan..arum patah dapat pula disebabkan oleh kesalahan teknik saat administrasi, kelainananatomi pasien, serta jarum yang disterilkan berulang. *pabila kondisi ini terjadi,pasien diinstruksikan untuk tidak bergerak dan tangan operator jangan dilepaskan darimulut pasien dan pasang bite block bila perlu. .ika patahan dapat terlihat, patahandapat dicoba diambil dengan arteri klem kecil. ,amun, apabila jarum tidak terlihat,insisi dan probing tidak boleh dilakukan dan segera konsultasikan ke spesialis bedahmulut untuk diambil secara surgical (Howe, !!!". b. 6asa sakit 6asa sakit saat administrasi anestesi lokal disebabkan oleh penggunaan jarum yangtumpul, pengeluaran anestetikum dengan terlalu cepat, serta tidak menguasai teknik anestesi lokal. Hal ini dapat dicegah dengan menggunakan anestesi topikal sebelum insersi jarum dan

mengeluarkan anestetikum secara perlahan, serta anestetikum yang digunakan lebih baik jika suhunya sama dengan suhu tubuh (Howe, !!!". c. Parestesi atau *nestesi 1erkepanjangan Parestesi atau anestesi yang berkepanjangan dapat terjadi akibat trauma saraf, anestetikum bercampur alkohol, serta adanya perdarahan pada sekitar saraf. Parestesi berkepanjangan dapat menyebabkan trauma pada bibir yang tergigit dan apabila mengenai ,. ;ingualis dapat menyebabkan mati rasa kecap. +ebagai upaya pencegahan, operator harus berhati# hati saat administrasi dan menggunakan spuit sekali pakai sehingga tidak perlu mensterilkan dengan larutan alkohol. Penanggulangan parestesi yang berkepanjangan dapat dilakukan dengan penjelasan pada pasien bahwa hal tersebut akan terjadi dalam waktu lama, control setiap dua bulan, dan apabila berlangsung lebih dari satu tahun maka konsultasi neurologis diperlukan (Howe, !!!". d. Paralisis Gasial Paralisis fasial disebabkan oleh insersi jarum yang terlalu dalam saat blok ,. *lveolaris 0nferior sehingga masuk ke kelenjar parotis dan mengenai cabang saraf wajah, biasanya ,. :rbicularis occuli.

Penanggulangan hal tersebut dilakukan dengan memberitahu pasien bahwa hal tersebut akan berlangsung selama beberapa jam dan mata pasien harus dilindungi selama refleks berkedip belum kembali (Howe, !!!". e. 4rismus 4rismus merupakan salah satu komplikasi pemberian anestesi akibat adanya trauma pada -. -astikatorius atau pembuluh darah pada intra temporal fossa. 4rismus dapat pula disebabkan oleh anestesi lokal

yang bercampur alkohol dan berdifusi ke jaringan sehingga mengiritasi -. -astikatorius. Penangulangan trismus dilakukan dengan cara pemberian analgetik, kompes air panas selama 89 menit, latihan buka tutup mulut selama 3 menit setiap 2#> jam, dapat pula diberikan permen karet untuk melatih gerakan lateral. 1ila trismus berlanjut lebih dari N hari, maka konsulkan pada spesialis bedah mulut (Howe, !!!". f. Hematom Hematom sering terjadi pada komplikasi blok ,. *lveolaris 0nferior, ,. *lveolaris +uperior Posterior, dan ,. -entalis/ 0nsisif. Pencegahan hematom dapat dilakukan dengan mengetahui anatomi sehingga tidak terjadi penyebaran darah ke rongga ekstravaskuler. Penggunaan jarum pendek pada anestesi ,. *lveolaris superiorposterior juga dapat dilakukan sebagai upaya meminimalisasi hematom.

Penanggulangan hematom akibat administrasi anestesi lokal adalah dengan menekan perdarahan dan jangan mengompres panas selama >#% jam setelah kejadian, namun setelah satu hari dapat dikompres hangat 89 menit per jam. )ompres dingin dapat dilakukan segera setelah terjadi hematom untuk mengurangi perdarahan dan rasa sakit (Howe, !!!". g. 0nfeksi 0nfeksi terjadi akibat kontaminasi jarum dan dapat menyebabkan trismus. 1ila infeksi berlanjut sampai lebih dari hari ketiga, maka antibiotik diindikasikan untuk pasien tersebut (Howe, !!!". h. 5dema 5dema disebabkan oleh trauma selama anestesi lokal, infeksi, alergi, perdarahan, dan penyuntikan anestetikum yang terkontaminasi

alkohol. Penanggulangan edema dilakukan dengan observasi bila edema disebabkan oleh trauma injeksi atau iritasi larutan, biasanya akan hilang # 2 hari tanpa terapi. +edangkan bila lebih dari 2 hari dan disertai rasa sakit atau disfungsi mandibula, antibiotik sebaiknya diberikan untuk pasien tersebut (Howe, !!!". i. 4rauma jaringan lunak Pada pasien anak# anak, atau pasien dengan cacat mental, rasa baal setelah pemberian anestesi lokal dapat menyebabkan pasien tersebut mengigit bibir maupun jaringan lunak lainnya. Penanggulangan trauma jaringan lunak di sekitar area yang dianestesi dilakukan dengan pemberian salep untuk mengurangi iritasi, analgesic, serta antibiotik jika diperlukan (Howe, !!!". j. ;esi intraoral ;esi intraoral umumnya disebabkan oleh trauma jarum pada jaringan saat insersi. Penanggulangan lesi ini dilakukan dengan pemberian topikal anestesi praanestesi, pemberian obat kumur, dan pemberian antibiotik jika terjadi infeksi (Howe, !!!".

2.!.1.2 Ko,'#ikasi Siste,ik a. 6eaksi psikis 6eaksi psikis yang sering terjadi sebagai komplikasi sistemik akibat pemberian anestesi lokal adalah sinkop atau serangan vasovagal. Hal ini merupakan gangguan emosional sebelum penyuntikan. Pada saat terjadi reaksi psikis, arteri mengalami vasodilatasi sehingga menyebabkan volume darah ke jantung berkurang sehingga menyebabkan penurunan

umpan balik kardiak yang menyebabkan hilang kesadaran mendadak. 4anda# tanda reaksi psikis ini adalah pucat, mual, pusing, keringat dingin, dan jika tidak ditangani cepat kesadaran akan hilang, pupil membesar, denyut nadi lemah dan tidak teratur. Perawatan reaksi psikis ini adalah dengan penaganan emergensi sinkop (Howe, !!!". b. 6eaksi toksik 6eaksi toksik pada administrasi anestesi lokal jarang terjadi bila penyuntikan dilakukan sesuai dengan prosedurnya. *pabila aspirasi tidak dilakukan sebelum penyuntikan, maka anestetikum akan masuk ke dalam intravaskuler sehingga menyebabkan overdosis. 4anda# tanda reaksi toksik adalah terjadi konvulsi, gangguan pernafasan, dan syok (Howe, !!!". c. 6eaksi alergi 6iwayat alergi pasien harus ditanyakan praanestetikum sehingga meminimalisasi terjadinya reaksi alergi. 6eaksi alergi yang terjadi berbeda# beda dengan tingkat keparahan yang juga berbeda. 4ingkat reaksi alergi yang paling ringan adalah localized skin reaction dengan gejala lokal eritema, edema, dan pruritus. $ntuk tingkatan lesi yang lebih parah yaitu reaksi pada kulit yang tergeneralisasi, antihistamin perlu diberikan. Pada kasus alergi yang melibatkan traktus respiratorius, diberikan epinefrin secara intramuscular kemudian melakukan prosedur

emergensi.4ingkat reaksi alergi yang paling parah adalah syok anafilaktik yag perlu ditangani dengan segera dengan pemberian epinefrin 0- atau 0F, serta penaganan emergensi syok (Howe, !!!".

d. Firus Hepatitis/ H0F Penyebaran kedua virus ini dapat melalui jarum suntik. :leh karena itu, jarum suntik harus digunakan sekali pakai sebagai upaya pencegahan (Howe, !!!". e. 0nteraksi obat 0nteraksi obat dapat terjadi pada pasien yang mendapat obat sistemik. +ecara umum, interaksi obat dengan anestesi lokal sangat jarang. ,amun, anestesi lokal yang mengandung noradrenalin dapat merangsang respon tekanan darah pasien yang mendapatkan antidepresan trisiklik. )arena itu, noradrenalin tidak dianjurkan untuk dipakai (Howe, !!!".

2.!.2 Persia'an Anestesi "oka# +ebelum dilakukan pemberian anestesi lokal, operator harus

mempertimbangkan resiko yang dapat terjadi pada pasien. Hal ini disebabkan olehefek depresan yang merupakan salah satu efek dari obat# obatan anestesi lokal. +elainitu, obat# obatan anestesi lokal pun memiliki efek samping lain berupa bronkospasm yang sering kali menyebabkan hiperventilasi maupun vasodepressor sinkop. :lehkarena itu, keadaan umum pasien perlu dievaluasi sebelum melakukan tindakan anestesi (Howe, !!!". 5valuasi Praanestesi dilakukan melalui anamnesis serta evaluasi kondisi fisik pasien. Dalam anamnesis, pasien ditanyakan tentang riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita, obat# obatan yang sedang dikonsumi, riwayat alergi, dan juga beberapa keluhan# keluhan yang mungkin dialami oleh pasien. Dalam evaluasi praanestesi ini pula ditanyakan tentang ketakutan pasien sebelum dilakukan anestesi sehingga keadaan psikologis pasien dapat pula dievaluasi.

Penyakit#penyakit yang umumnya ditanyakan kepada pasien dalam evaluasi praanestesi adalah kelainan jantung, hipotensi, diabetes, gagal ginjal, penyakit liver, alergi terhadap obat, hipertensi, rematik, asma, anemia, epilepsy, serta kelainan darah. Pemeriksaan fisik praanestesi yang perlu dilakukan adalah inspeksi visual untuk mengobservasi adanya kelainan pada postur tubuh pasien, gerakan tubuh, bicara, dan sebagainya& evaluasi tanda vital& serta status kesehatan fisik menurut *+* (Howe, !!!".

2.!.3 &aca,4&aca, Teknik Anestesi "oka# Pada Pencabutan Gigi 2.!.3.1 Anestesi B#ok Prinsip dasar dari anestesi lokal juga berlaku untuk anestesi blok syaraf serta untuk teknik lainnya. ;arutan anestesi lokal didepositkan didekat atau disekitar bundel serat syaraf, untuk mendapatkan anestesi jaringan yang disuplai oleh bundel nerovaskular. Perbedaan pertama pada kasus anestesi blok syaraf adalah diperlukannya sejumlah besar larutan anestetik lokal untuk memperoleh anestesi yang memadai. +elain itu, ukuran anatomi dari bundel syaraf membuat larutan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menembus bagian tengahnya, jadi harus diberikan waktu yang lebih lama sebelum prosedur operasi dilakukan (6obinson, 8993" Pada teknik anastesi ini kita lakukan penghambatan jalannya penghantar rangsangan dari pusat perifer. Dikenal dua cara yaitu (6obinson, 8993"( . ,erve blok yaitu ( anestesi lokal dikenakan langsung pada syaraf, sehingga menghambat jalannya rangsangan dari daerah operasi yang diinnervasinya.

8. Gield blok yaitu( disuntikkan pada sekeliling lapangan operasi, sehingga menghambat semua cabang syaraf proksimal sebelum masuk kedaerah operasi. *nastesi blok berfugsi untuk mengontrol daerah pembedahaan.

)ontraindikasi dari anastesi blok yaitu pada pasien dengan pendarahan, walaupun perdarahan terkontrol. )esuksesan anastesi blok tergantung pada pengetahuan anatomi local dan teknik yang baik (6obinson, 8993"

1. &aca,4,aca, Anestesi B#ok Pada &aksi#a a. Anestesi Gigi Ge#igi Per,anen -olar ketiga atas, molar kedua, dan akar distobukal serta palatal molar pertama diinervasi oleh cabang#cabang saraf gigi superior posterior. /abang# cabang kecil dari saraf yang sama akan meneruskan sensasi jaringan pendukung bukal pada daerah molar dan mukoperiosteum yang melekat padanya. Deposisi larutan anestesi di dekat saraf setelah saraf keluar dari kanalis tulang, akan menimbulkan efek anastesi regional dari struktur yang disuplainya. 4eknik ini disebut b#ok gigi su'erior 'osterior (6obinson, 8993" +ejak diperkenalkannya agen anastesi lokal modern, teknik infiltrasi sudah lebih sering digunakan untuk daerah tersebut karena deposisi larutan ml,

normalnya memberikan efek anastesi tanpa resiko kerusakan pleksus venosus pterigoid atau arteri#arteri kecil yang ada di daerah ini (6obinson, 8993" *kar mesiobukal dari molar pertama, kedua gigi premolar dan jaringan pendukung bukal serta mukoperiosteum yang berhubungan dengannya mendapat inervasi dari saraf gigi superior tengah. 4eknik infiltrasi biasanya digunakan untuk menganastesi struktur#struktur tersebut. Deposisi ml larutan sudah cukup untuk

menganastesi lingkaran saraf luar yang mensuplai premolar kedua (6obinson, 8993"

a.1 Anastesi Gigi4gigi Anterior Per,anen 'igi#gigi insicivus dan kaninus atas diinervasi oleh serabut yang berasal dari saraf gigi superior anterior. +araf ini naik pada kanalis tulang yang kecil untuk bergabung dengan saraf infraorbital 9,3 cm di dalam kanalis infraorbitalis. 'igi insicivus sentral, insicivus lateral atau kaninus dapat teranestesi bersama dengan jaringan pendukungnya, pada penyuntikan apeks gigi yang dituju (6obinson, 8993" a.2 Anastesi Jaringan Pa#ata# $jung#ujung saraf pada jaringan lunak palatum berhubungan dengan gigi# gigi anterior atas dan prenaksila, erta meneruskan sensasi melalui fibril saraf yang bergabung untuk membentuk saraf speno#palatina panjang. +araf berjalan melalui foramen insisivus dan kanalis, ke atas dan ke belakang melewati septum nasal kea rah ganglion speno#palatina (6obinson, 8993" 1erbagai cabang#cabang kecil dari gingival palatal dan mukoperiosteum di daerah molar dan premolar akan bergabung untuk membentuk saraf palatine besar. +telah berjalan ke belakang di dalam saluran tulang yang terletak di pertengahan antara garis tengah palatun dan tepi gingival gigi geligi, saraf masuk ke kanalis melalui foramen palatine besar. +araf kemudian berjalan naik untuk bergabung dengan ganglion speno#palatina yang berhubungan dengan saraf maksilaris (6obinson, 8993" +araf speno#palatina panjang dan palatine besar akan beranastomosis di daerah kaninus palatum dan membentuk lingkaran saraf dalam. -ukoperiosteum ml larutan anestesi di dekat

palatal mempunyai konsistensi keras dan beradaptasi erat terhadap tulang. )arakteristik ini menyebabkan suntikan subperiosteal perlu diberikan dan diperlukan tekanan yang lebih besar dari biasa untuk mendepositkan larutan anestesi local. )arena itulah, pasien harus diberitahu terlebih dahulu bahwa suntikan palatal akan menimbulkan rasa tidak enak namun tidak sakit. 6asa kurang enak ini dapat diperkecil dengan menginsersikan jarum dengan bevel yang mengarah ke tulang dan tegak lurus terhadap vault palatum. Pada premaksila, suntikan di papilla insisivus akan menimbulkan rasa sakit yang hebat dank arena itu, suntikan ini sebaiknya dihindari (6obinson, 8993"

b. Anastesi Gigi4gigi Susu Pada anak#anak, bidang alveolar labio#bukal yang tipis umumnya banyak terpeforasi oleh saluran vaskular. $ntuk alas an inilah, maka teknik infiltrasi dapat digunakan dengan efektif untuk mendapat efektif untuk mendapat efek anastesi pada gigi#gigi susu atas tanpa perlu mendepositkan lebih dari ml larutan secara

perlahan#lahan di jaringan. Penyuntikan harus dilakukan dengan hati#hati untuk menghindari kesalahan dalam menentukan panjang akar dan insersi jarum yang terlalu dalam ke jaringan(6obinson, 8993" Pada anak yang masih muda, rasa tidak enak dari suntikan palatum yang digunakan untuk prosedur pencabutan gigi atau pemasangan matriks, dapat dihindari dengan cara sebagai berikut (6obinson, 8993" +etelah efek suntukan supraperiosteal pada sulkus labio#bukal diperoleh, jarum diinsersikan dari aspek labio#bukal, melalui ruang interproksimal, setinggi jaringan gingival yang melekat pada periosteum di bawahnya. $jung jarum harus tetap berada pada papilla dan tidak boleh menyentuh tulang. +ejumlah kecil

larutan anastesi local didepositkan perlahan sampai mukoperiosteum palatal atau lingual memucat. +ejumlah kecil larutan anastesi yang didepositkan dengan cara ini akan memberikan efek anastesi yang memadai pada jaringan palatum. 4eknik ini dikenal sebagai suntikan interpapila dan sering digunakan oleh para ahli pedodonti. Para ahli lainnya umumnya suka menggunakan suntikan jet atau suntikan intraligamental (6obinson, 8993"

b.1 Suntikan Infraorbita# )arena teknik infiltrasi sangat efektif bila digunakan pada maksila, maka anastesi regional umumnya jarang dipergunakan. Calaupunn demikian, suntikan infraorbital akan sangat bermanfaat bila akan dilakukan pancabutan atau operasi besar pada daerah insisivus dan kaninus rahang atas. +untikan ini juga dapat digunakan untuk menganastesi gigi anterior dimana teknik infiltrasi tidak mungkin dilakukan karena ada infeksi di daerah penyuntikan (6obinson, 8993" 4eknik ini berdasar pada fakta bahwa larutan akan didepositkan pada orifice foramen infraorbital, berjalan sepanjang kanalis ke saraf gigi superior anterior dan superior tengah, menimbulkan anastesi pada gigi#gigi insicivus, kaninus dan premolar serta struktur pendukungnya. ;arutan ini kadang#kadang dapat mencapai ganglion speno#palatina dan menganastesi lingkaran saraf dalam, namun seringkali masih diperlukan suntikan palatum tambahan (6obinson, 8993" 1aik cara intraoral maupun ekstraoral dapat digunakan untuk blok infraorbital. 4eknik infraorbital umumnya lebih popular dan memungkinkan jarum ditempatkan di luar lapang pandang pasien. +untikan tersebut dapat dilakukan dengan cara berikut ini (6obinson, 8993"

Dengan ujung jari telunjuk lakukanlah palpasi linger infraorbital dan takikan infraorbital, kemudian geser jari sedikit ke bawah agar terletak tepat di atas foramen infraorbital. Dengan tetap mempertahankan posisi ujung jari tersebut, ibu jari dapat digunakan untuk membuka bibir atas dan mengekspos daerah yang akan disuntik (6obinson, 8993"

2. Teknik4Teknik Anestesi B#ok Pada &aksi#a a. B#ok Ner(us A#(eo#aris Su'errior Anterior 4itik suntik terletak pada lipatan mukolabial sedikit mesial dari gigi kaninus, *rahkan jarum keapeks kaninus, anastetikum dideponir perlahan ke atas apeks akar gigi tersebut (6obinson, 8993" 0njeksi yang dilakukan pada kedua kaninus biasanya bisa menganastesi keenam gigi anterior. 0njeksi ,.*lvolaris +uperrior *nterior biasanya sudah cukup untuk prosedur operatif. $ntuk ekstraksi atau bedah, diperlukan juga tambahan injeksi palatinal pada region kaninus atau foramen incisivum(6obinson, 8993"

b. B#ok Ner(us A#(eo#aris Su'erior Posterior 1lok syaraf alveolaris superior posterior diperoleh dengan menempatkan jarum didistal molar terakhir, ke atas dan medial, bersudut >3O, memungkinkan deposisi larutan ,3 ke permukaan disto bukkal ma7illa (6obinson, 8993" )omplikasi umum dari teknik ini adalah bila beberapa pembuluh darah ple7us vena pterigoid pecah, menimbulkan haematoma. )arena obat#obat analgesia lokal, teknik infiltrasi meliputi deposisi hanya (6obinson, 8993" ml larutan digunakan

Daerah yang teranestesi( 'igi#gigi molar kecuali akar molar satu Processus alveolaris bagian bukkal dari gigi molar termasuk periosteum. .aringan ikat dan membran mukosa ;ipatan =ygomatikus pada ma7illa Processus =ygomatikus pada ma7illa 4uberositas ma7illa 1agian anterior dan processus coronoideus dari ramus mandibula.

4eknik(6obinson, 8993"( 1ila anestesi adalah nervus alveolaris superior posterior de7ter :perator berdiri sebelah kanan depan -asukkan jari telunjuk kiri kita ke vestibulum oris sebelah kanan penderita, kemudian jari telunjuk pada daerah lipatan mukobukkal di sebelah posterior gigi premolar dua sampai teraba proccesus =ygomaticus ;engan kita turun kebawah sehingga jari telunjuk membuat sudut !9O terhadap oklusal plane gigi rahang atas, dan membentuk sudut >3O bidang sagital penderita. Hal ini dapat dilakukan bilamana penderita dalam keadaan setengah tutup mulut, sehingga bibir dan pipi dapat ditarik kelateral posterior

.ari telunjuk disisi merupakan pedoman tempat penusukan jarum

*mbil spoit yang telah disiapkan, dan sebelumnya tempat yang akan disuntik harus dilakukan desinfeksi terlebih dahulu

*rah jarum harus sejajar dengan jari kita, penusukan jarum sedalam P#Q inch

*spirasi, jika tidak darah yang masuk, keluarkan larutan secara perlahan#lahan sebanyak ,3 cc.

c. B#ok Ner(us Intra $rbita# 1lok infraorbital paling sering digunakan. Pinggir intra orbital dapat teraba dengan menggunakan ujung jari pertama, noktah infraorbital dapat diidentifikasi. Dengan ujung jari tetap pada posisi ini, ibu jari dapat digunakan untuk menarik bibir atas. $jung jarum dimasukkan jauh ke dalam sulkus di atas apeks premolar kedua dan meluas segaris dengan sumbu panjang gigi sampai sedalam ,3#8 cm baru larutan analgesic didepositkan . pembengkakan jaringan dapat diraba dibalik jari pertama bila letak ujung jarum, tepat. 1iarkan keadaan ini selama 2 menit, untuk memastikan diperolehnya analgesia yang memadai (6obinson, 8993" +araf yang teranestesi ( ,ervus alveolaris superior, anterior dan medium ,ervus infra orbital ,ervus palpebra inferior ,ervus nasalis lateralis

,ervus labialis superior (6obinson, 8993"

Daerah yang teranestesi ( 'igi incisivus sampai premolar *kar mesio bukkal dari molar satu .aringan pendukung dari gigi tersebut 1ibir atas dan kelopak atas +ebagian hidung pada sisi yang sama (6obinson, 8993"

4eknik( a" 0ntra oral approach Dudukkan penderita, kemudian buka mulut sampai dataran oklusal gigi rahang atas membentuk >3O dengan garis hori=ontal, dan penderita disuruh melihat ke arah depan )ita menggambarkan suatu garis khayal yang lurus, berjalan vertikal melalui pupil mata ke infra orbital dan gigi premolar dua rahang atas 1ila sudah menemukan infra orbital notch, maka jari telunjuk yang kita pakai palpasi, kita gerakkan ke bawah kira#kira P cm, disinilah akan kita temukan suatu cekungan dimana letaknya foramen infra orbital +etelah ditemukan foramen infra orbital, maka jari telunjuk tetap diletakkan pada tempat foramen infra orbitalis untuk mencegah tembusnya jarum mengenai bola mata 1ibir atas diangkat dengan ibu jari

;akukan desinfeksi pada muko bukkal regio premolar dua rahang atas

Pergunakan jarum 8N gauge dan

3/B inch

.arum suntikan tersebut ditusukkan pada lipatan muko bukal regio premolar dua rahang atas, mengikuti arah garis khayalan yang telah dibuat. $ntuk mengurangi rasa sakit, pada saat jarum menembus mukosa, injeksikan beberapa strip larutan, kemudian jarum tersebut diteruskan secara perlahan#lahan, hingga mencapai foramen intra orbitalis, maka dapat dirasakan oleh jari yang kita letakkan pada foramen tersebut.

*spirasi, kemudian keluarkan anestetikum sebanyak

# P cc

(jumlah larutan tersebut tergantung dari kebutuhan" (6obinson, 8993"

b" 57tra oral approach 0ndikasi ( bila intra oral approach tidak dapat dilakukan, misalnya ada peradangan. 4eknik( 4entukan letak foramen intra orbital (sama dengan teknik pada intra oral approach" Pada waktu akan di tusuk jarum, penderita dianjurkan menutup mata untuk mencegah kemungkinan bahaya untuk mata 4itik insersi jarum kira#kira cm di bawah foramen infra orbital,

kita memasukkan jarum dengan membuat sudut >3O, dan jarum tersebut diluncurkan sesuai dengan arah garis khayalan sejajar

cm, kemudian keluarkan secara perlahan#lahan larutan anestetik. $jung jarum dimasukkan melalui papila nasopalatina sampai ke lubang masuk kanalis insisivus. 1ila tulang berkontak dengan jarum, jarum harus ditarik kira#kira 9,3# mm. )ira#kira 9, #9,8 ml larutan didepositkan, larutan tidak boleh dikeluarkan terlalu cepat karena dapat menimbulkan rasa tidak enak. .aringan akan memucat, dan timbulnya analgesia cukup cepat (6obinson, 8993"

d. B#ok Ner(us Naso Pa#atinus ,ervus naso palatinus keluar dari foramen incisivus. Daerah yang teranestesi adalah bagian bukkal dari palatum durum sampai gigi caninus kiri dan kanan (6obinson, 8993" 4ekniknya ( 0ncisivus papilla ini sangat sensitif, eleh karena itu pada penusukan jarum yang pertama harus disuntikkan beberapa tetes anestetikum. )emudian jarum tersebut diluncurkan dalam arah paralel dengan longa7is gigi incisivus, dan tetap dalam garis median. .arum tersebut diluncurkan kira#kira 8 mm kemudian larutan anestesi dikeluarkan secara perlahan#lahan sebanyak 9,3 cc. .arum yang digunakan adalah jarum yang pendek *nalgesia palatum pada salah satu sisi sampai kekaninus dapat diperoleh dengan mendepositkan 9,3#9,N3 ml larutan pada syaraf palatina besar ketika syaraf keluar dari foramen palatina besar. +ecara klinis, jarum dimasukkan 9,3 cm. +untikan diberikan perlahan karena jaringan melekat erat. -ukosa dapat memutih, dan

ludah dari kelenjar ludah minor dapat dikeluarkan (6obinson, 8993"

e. B#ok Ner(us Pa#atinus Anterior +yaraf ini keluar dari foramen palatinus major. Daerah yang teranestesi adalah bagian posterior dari palatum durum mulai dari premolar (6obinson, 8993" 0ndikasi ( $ntuk anestesi daerah palatum dari premolar satu sampai molar tiga $ntuk operasi daerah posterior dari palatum durum (6obinson, 8993"

4eknik( ,ervus palatinus anterior keluar dari foramen palatinus mayor yang terletak antara molar dua, molar tiga dan /2 bagian dari gingiva molar menuju garis median .ika tempat tersebut telah ditentukan, tusuklah jarum dari posisi berlawanan mulut (bila di suntikkan pada sebelah kanan, maka arah jarum dari kiri menuju kanan" +ehingga membentuk sudut !9O dengan curve tulang palatinal .arum tersebut ditusukkan perlahan#lahan hingga kontak dengan tulang kemudian kita semprotkan anestetikum sebanyak 9,83#9,3 cc (6obinson, 8993"

!. Teknik Anestesi B#ok Pada &andibu#a

a. Anestesi B#ok 5is6er7s 4eknik anestesi blok rahang bawah yang paling sering digunakan adalah blok saraf alveolaris inferior atau lebih dikenal dengan blok GisherRs. 4eknik blok anestesi blok rahang bawah ini sangat berguna untuk anestesi satu regio pada rahang bawah.Pada teknik anestesi blok GisherRs ini, saraf yang teranestesi meliputi ,. *lveolaris inferior, cabang dari ,. F2, ,. 0nsisivus, ,. -entalis, dan ,. ;ingualis (6obinson, 8993" *rea yang teranestesi dengan teknik blok GisherRs adalah geligi mandibular sampai midline, corpus mandibula, ramus inferior, mukoperiosteum bukal, mukusmembrane anterior pada mandibula gigi molar pertama, dua pertiga anterior lidah dandasar mulut, serta jaringan lunak lingual dan periosteum (6obinson, 8993" 0ndikasi teknik anestesi blok GisherRs adalah untuk prosedur pada gigi rahang bawah multiple pada satu region, anestesi jaringan lunak buccal, anestesi jaringan lunak lingual. +edangkan kontraindikasi blok GisherRs adalah adanya infeksi atau inflamasi akut pada area injeksi, serta pasien dengan kemungkinan untuk menggigit jaringan lunak yang teranestesi (6obinson, 8993" )euntungan anestesi blok GisherRs adalah injeksi anestesi di satu tempat memberikan anestesi pada area yang luas pada satu region. ,amun, area yang luas pada anestesi blok GisherRs ini tidak diperlukan untuk keperluan prosedur lokal (6obinson, 8993" )erugian lain anestesi blok GisherRs ini adalah adanya persentase anesthesia yang tidak cukup, intraoral landmark yang menjadi acuan penyuntikan kadang tidak terlihat, kadang terjadi aspirasi positif, anestesi lingual dan bibir bawah menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien (6obinson, 8993"

4ahapan penyuntikan anestesi blok GisherRs adalah (6obinson, 8993"( .ari telunjuk diletakkan di belakang gigi molar ketiga kemudian digeser ke lateraluntuk mencar linea obliKue eksterna lalu digeser ke median untuk mencari lineaobliKue interna melalui trigonum retromolar Punggung jari harus menyentuh bucooklusal gigi yang terakhir, lalu jarumdimasukkan kira# kira pada pertengahan lengkung kuku dari sisi rahang yang tidak dianestesi yaitu region premolar sampai terasa kontak dengan tulang.+yringe kemudian digeser kea rah sisi yang akan dianestesi, harus sejajardataran oklusal, jarum ditusukkan lebih lanjut sedalam %mm lalu lakukan aspirasi.1ila aspirasi negative, larutan anestesi lokal dikeluarkan P cc untuk menganestesi ,.;ingualis. +yringe digeser lagi kea rah posisi pertama namun tidak peuh, sampai region caninus, kemudian jarum ditusukkan lebih dalam menyusuri tulang kurang lebih 9# 3 mm sampai terasa konta jarum dengan

tulang terlepas. ;akukan kebali aspirasi, bila negative, larutan anestetikum dikeluarkan cc untuk menganestesi ,.

*lveolariusinferior. b. Anestesi B#ok N. Buccinatorius Bucca# Ner(e B#ock% 1lok ,. 1uccinatorius ditujukan untuk menganestesi daerah pipi dan membrane mukosa bukal pada region gigi molar. +araf yang teranestesi pada blok ini adalah ,. 1uccal yang merupakan cabang dari ,.F2 yang mempersarafi jaringan lunak dan periosteum buccal sampai gigi molar mandibular. *nestesi blok ,. 1uccinatorius diindikasikan untuk prosedur dental pada region gigi molar

rahang bawah. ,amun blok ini merupakan kontraindikasi untuk infeksi atau terdapat inflamasi akut pada area injeksi (6obinson, 8993" 4eknik Penyuntikan *nestesi 1lok ,. 1uccinatorius(6obinson, 8993"( Penyuntikan anestesi blok buccal dilakukan pada coronoid notch, sedikit ke mediandari linea obliKue ramus mandibula. -ukosa bukal dan pipi ditarik kemudian jarumditusukkan kea rah lateral dan distal di gigi molar ketiga setinggi 8#2 mm di sekitaroklusal. aspirasi, bila negative, cairan anestetikum dikeluarkan 9,3 cc

2.!.3.2 To'ika# Anestesi *nestesi topikal adalah obat bius lokal yang digunakan untuk mematikan permukaan bagian tubuh. *nastesi topical ini dapat digunakan untuk mati rasa setiap area kulit serta depan bola mata, bagian dalam hidung, telinga atau tenggorokan, dalam anus dan daerah genital. *nestesi topikal tersedia dalam krim, salep, aerosol, semprotan, lotion, dan jeli. /ontohnya termasuk ben=okain, butamben, dibucaine, lidocaine, o7ybuprocaine, pramo7ine, proparacaine, pro7ymetacaine, dan tetracaine (juga bernama amethocaine" (Howe, !!!"

2.!.3.! Anestesi Infi#trasi /ara ini juga disebut sebagai injeksi supraperiosteal, karena tempat injeksinya didalam jaringan dimana bahan anestesi dideponir dalam hubungannya dengan periosteum bukal dan labial. 1ahan anestesi yang dideponir di atas periosteum setinggi apeks gigi akan mengalir ke dalam periosteum dan tulang melalui proses difusi. 1ahan anestesi akan berpenetrasi ke dalam serabut syaraf yang masuk ke apeks gigi sehingga menginervasi alveolus dan membran

periodontal. Dalam keadaan normal, akan terbentuk keadaan anestesia pada struktur#struktur tersebut (Howe, !!!"

2.!.3.+ Anestesi Intra#iga,en *nestesi intraligamen dilakukan dengan injeksi yang diberikan di dalam periodontal ligamen. 0njeksi ini menjadi populer setelah adanya syringe khusus untuk tujuan tersebut. 0njeksi intraligamen dapat dilakukan dengan jarum dan syringe konvensional, tetapi lebih baik dengan syringe khusus, karena lebih mudah memberikan tekanan yang diperlukan untuk menginjeksikannya ke dalam ligamen periodontal (*ndlaw dan 6ock, !!9". .arum yang biasa digunakan adalah jarum dengan ukuran 29 gauge pendek atau sangat pendek, dan syringe dapat dipakai untuk larutan anestesi ,B atau 8,8 ml. $ntuk mengurangi resiko kerusakan jaringan karena vasokonstriksi, dianjurkan untuk tidak menggunakan larutan yang mengandung adrenalin, karena tekanan pada larutan yang disuntikkan tersebut menghasilkan vasokontriksi dalam ligamen periodontal (*ndlaw dan 6ock, !!9". 0njeksi intraligamen mempunyai beberapa kelebihan dibanding metode konvensional. 0njeksi ini biasanya lebih nyaman daripada injeksi blok nervus dental inferior atau injeksi palatal atau infiltrasi bukal pada premaksila . *nalgesia diperoleh dengan sangat cepat dan jaringan lunak disekitarnya sedikit terpengaruh. )arena analgesia gigi rahang bawah dapat diperoleh melalui cara ini, ini merupakan salah satu pilihan injeksi yang berguana apabila harus menghindari injeksi blok pada nervus dental inferior ( *ndlaw dan 6ock, !!9".

2.!.3.. In-eksi Intra'a'i#a

0njeksi intrapapila dapat diberikan untuk menghasilkan analgesia jaringan palatal atau lingual, untuk menghindari suntikan yang lebih terasa sakit yaitu langsung kedalam jaringan palatal atau lingual (*ndlaw dan 6ock, !!9". 2.+ Prosedur Pencabutan Gigi 2.+.1 Ana,nesa . -enanyakan dan mencatat identitas penderita ( S ,ama ( TTTTTTTTTTTTTT S $mur ( TTTTTTTTTTTTTT S *lamat ( TTTTTTTTTTTTTT S Pekerjaan ( TTTTTTTTTTTTTT 8. )eluhan $tama ( 8. -enanyakan lokasi gigi yang sakit 8.8 -ulai kapan dirasakan 8.2 +ifat sakit ( a. 4erus menerus b. )adang#kadang S 4imbulnya rasa sakit ( a. 4erus menerus b. )adang#kadang S 6asa sakit menyebar / setempat. S +udah diobati / belum ( a. -acam obat ( jenis, jumlah " b. *sal obat ( resep dokter / beli sendiri " c. -inum obat terakhir kapan U 2. 6iwayat )esehatan $mum (

*pakah punya penyakit ( .antung ( keluar keringat dingin, berdebar, sesak nafas, nyeri dada )encing manis )eluhan 2 P ( sering kencing, sering lapar, sering haus " 1ila ada luka tidak sembuh#sembuh 1au mulut khas ( H*;04:+0+ " 6adang jaringan penyangga V menyebabkan gigi goyang ( tanpa sebab lokal sebagian besar gigi goyang " Darah tinggi V bila ada riwayat tekanan darah tinggi V periksa tekanan darah. )ehamilan pada wanita 1erapa umur kehamilan. Wang berhubungan dengan pemberian obat dan anaesthesi. *lergi V berhubungan dengan pemberian obat. *sma V apakah asma bronchiale/cardiole yang berhubungan dengan pemberian obat. 41/ V preventif untuk operator ( drg, perawat gigi ", dengan masker. Hepatitis ( o berhubungan dengan gejala hepatitis ( rasa mual, muntah, icterus " o preventif untuk operator ( harus pakai handscoone " H0F / *0D+ / Penyakit kelamin 1ila kesulitan mengetahui P7 L / # Proteksi diri sendiri dengan memakai sarung tangan, masker (:P56*4:6 "

2.+.2 Pe,eriksaan $b8ektif 5ktra :ral (6obinson, 8993"( Pipi( Diraba dengan empat jari dengan menekan pipi secara lembut bila ada benjolan / pembengkakan kekenyalannya ( # keras / lunak # ada fluktuasi / tidak 1ibir( ditarik dengan 8 jari ( telunjuk dan jempol "( untuk bibir bawah V ditarik ke bawah untuk bibir atas V ditarik ke atas ada / tidak perubahan warna ada / tidak benjolan / pembengkakan Dilakukan perabaan, bila ada perubahan warna / benjolan maka diraba dengan cara 8 jari ditekankan secara lembut. 1ila ada pembengkakan maka ditentukan bagaimana kekenyalannya, apakah keras atau lunak. +elain itu dilihat ada fluktuasi atau tidak. )elenjar ;ymphe Diraba apakah ada pembengkakan / tidak dengan menggunakan 8 jari telunjuk L jari tengah 0ntra :ral (6obinson, 8993" ( . Pemeriksaan pada gigi yang sakit dengan ( Perkusi ( cara ( sama dengan prosedur perkusi

Druk / ditekan ( cara ( sama dengan prosedur druk pada tumpatan 8. Pemeriksaan pada seluruh gigi di jaringan sekitar gigi. -eliputi ( warna, posisi ( malposisi " karies dan kelainan#kelainan lainnya 2. -ukosa pipi / jaringan periodontal

2.+.! Diagnosa Dan 9encana Pera:atan 1. Diagnosa ditegakkan berdasarkan ( X *namnesa X )eluhan utama X Pemeriksaan 5.: X Pemeriksaan 0.: (6obinson, 8993" 2. 9encana Pera:atan Pencabutan Gigi Per,anen Diagnosa 1ila masih infeksius akut, maka pencabutan di tunda,dan menjelaskan kepada PM tentang bahaya bila pencabutan dilakukan pada gigi yang masih dalam keadaan infeksi akut. -emberi pengobatan dan menjadwal rencana pencabutan. -emberitahu PM bahwa gigi nya harus dicabut, dan memberitahu setiap tahap yang akan dilakukan serta menanyakan apakah PM sudah makan atau belum (6obinson, 8993" !. Ta6a' ;ang Di#akukan -emberitahu PM lokasi atau tempat yang akan di anasthesi ( di suntik"

*sepsis daerah yang akan di lakukan penyuntikan dengan menggunakan antiseptik

+etelah jarum di suntikkan , aspirasi untuk memastikan tidak terjadi injeksi ekstra vaskuler

Deponir

bahan

anesthesi

secara

perlahan

apabila

terjadi

penumpukkan cairan aneshesi,lakukan massage di tempat yang di anesthesi :bservasi PM sambil menunggu efek anesthesi(dengan pertanyaan, apakah PM sudah merasa tebal atau ada efek gringgingan pada lokasi penyuntikan dan sekitar gigi yang akan dilakukan pencabutan,bila penyuntikan -* juga ditanyakan apakah terasa gringgingan pada ujung separo lidah/satu sisi, serta dilakukan observasi dengan memakai alat,sonde pada gigi melingkar servikal dan lakukan drug pada gigi untuk memastikan apakah anasthesi sudah benar#benar sudah bereaksi .ika anesthesi sudah bereaksi , baru dilakukan ekstraksi *pabila gigi sudah tercabut, periksa soket untuk memastikan tidak ada sisa gigi / fragmen tulang (6obinson, 8993" )ompresi soket, lalu gigit tampon kurang lebih 29 menit s/d jam

2.+.+

Instruksi Pasca Pencabutan -emberi instruksi kepada PM ( tidak makan sebelum efek anesthesi hilang, dengan tujuan agar PM tidak tergigit.

$ntuk PM yang perokok dianjurkan tidak merokok dalam waktu 8> jam.

$ntuk mengunyah, mempergunakan sisi yang tidak di cabut 4idak diperkenan menghisap V hisap bekas cabutan -eminum obat yang telah di resepkan dokter gigi -enjelaskan manfaat dari instruksi, dan akibat bila PM tidak mematuhi instruksi.

)ontrol pasca pencabutan (PD'0 :nline, 89 9"

2.+.. Pengaturan Pasien Dan Instru,entasi 1. Pengaturan 'osisi a. Posisi kursi Posisi kursi sedemikian rupa sehingga penderita dapat dicapai operator dengan sikap yang nyaman, tanpa menimbulkan ketegangan fisik (Peterson, 8992" b. Posisi penderita )epala penderita setinggi bahu operator )epala penderita tidak boleh terlalu tengadah terutama pada waktu pencabutan gigi 6*, dan oklusal plane gigi bawah sejajar bidang hori=ontal dan setinggi siku operator untuk gigi 61. Penderita menghadap kedepan waktu pencabutan gigi depan 6* dan 61. Penderiota menghadap kekiri waktu pencabutan gigi samping kanan atas.

Penderita menghadap kekanan waktu pencabutan gigi samping kiri atas.

+iku operator setinggi bahu penderita.

c.

Posisi operator :perator berdiri disebelah kanan depan penderita, waktu mencabut gigi 6* dan 61 sebelah kiri.

:perator berdiri disebelah kanan belakang penderita waktu mencabut gigi 61 sebelah kanan.

4angan kanan operator memegang handle tang cabut sedangkan tangan kiri memegang gigi yang akan dicabut (Peterson, 8992"

2. )ara ,enggunakan tang cabut 4ang cabut dipegang pada handelnya dengan tangan kanan dan beaks dimasukkan pada soket gigi sedalam mungkin. $ntuk gigi yang berakar satu dan belum mengalami retraksi gingiva, maka ujung beaks harus sampai dibawah atau pada cervicalline, sedangkan pada gigi yang berakar lebih dari satu, maka ujung beaks dimasukkan sampai pada bifurkasi (Peterson, 8992"

!. Gerakan 'encabutan a. ;u7asi ( gerakan arah linguo#labial, linguo#bucal, palato#labial atau palato#bucal. b. 6otasi ( gerakan memutar, yaitu diputar sejajar sumbu panjang gigi yang bersangkutan. c. )ombinasi ( terdiri dari gerakan lu7asi dan kombinasi.

d. 57traksi

( gerakan mencabut, yaitu mencabut sejajar sumbu

panjang gigi, bila gigi yang bersangkutan telah cukup goyang (Peterson, 8992"

2.+.0 Pencabutan K6usus Gigi Ge#igi 1. Insisi(us .arang terjadi kesulitan dalam melakukan pencabutan gigi insisivus kecuali kalau giginya berjejal, konfigurasi akar rumit, atau gigi sudah dirawat endodontik. 'igi insisivus atas dicabut dengan menggunakan tang Y 39, dengan pinch grasp dan tekanan lateral (fasial/lingual" serta rotasional. 4ekanan lateral lebih ditingkatkan pada arah fasial, sedangkan tekanan rotasional lebih ditekankan kearah mesial. 4ekanan tersebut diindikasikan karena biasanya pembelokan ujung akar gigi#gigi insisivus adalah kearah distal, bidang labialnya tipis dan arah pengungkitannya ke facial. 0nsisivus bawah dicabut dari posisi kanan/kiri belakang dengan menggunakan tang Y 39 dan sling grasp. 4ekanan permulaan adalah lateral dengan penekanan kearah facial. )etika mobilitas pertama dirasakan, tekanan rotasional dikombinasikan dengan lateral sangat efektif. Pengungkitan insisivus bawah dilakukan kearah facial, dengan perkecualian insisivus yang berinklinasi lingual dan berjejal#jejal. $ntuk keadaan tersebut digunakan YN> atau YN>, dari kanan/kiri depan. 4ang tersebut beradaptasi dengan baik terhadap insisivus dan digunakan dengan gerak menggoyah perlahan. )arena insisivus bawah tidak tertanam terlalu kuat, pengungkitan yang perlahan dan tekanan yang terkontrol akan mengurangi kemungkinan fraktur (Pederson, !!%" 2. )aninus a. Pencabutan gigi caninus atas

/aninus sangat sukar dicabut. *karnya panjang dan tulang servikal yang menutupinya padat dan tebal. 'igi kaninus atas dicabut dengan cara pinch grasp untuk mendeteksi awal terjadinya ekspansi atau fraktur bidang fasial dan mengatur tekanan selama proses pencabutan. 4ang Y 39 dipegang dengan telapak tangan keatas merupakan perpaduan yang sangat cocok dengan metode diatas. *da alternative untuk gigi kaninus atas, yaitu dengan menggunakan tang kaninus atas khusus, Y . Pegangannya lebih panjang dan paruh tang beradaptasi lebih baik dengan akar kaninus. *pabila tang sudah ditempatkan dengan baik pada gigi tersebut, paruh masuk cukup dalam, dipegang pada ujung pegangan dan control tekanan cukup baik, maka tekanan pengungkitan dapat dihantarkan. 4ekanan pencabutan utama adalah ke lateral terutama fasial, karena gigi terungkit kearah tersebut. 4ekanan rotasional digunakan untuk melengkapi tekanan lateral, biasanya dilakukan setelah terjadi sedikit luksasi (Pederson, !!%" b. Pencabutan gigi kaninus bawah )aninus bawah dicabut dengan tang Y 3 , yang dipegang dengan telapak tangan ke bawah dan sling grasp. +eperti gigi kaninus atas, akarnya panjang, sehingga memerlukan tekanan terkontrol yang cukup kuat untuk mengekspansi alveolusnya. +elama proses pencabutan gigi ini, tekanan yang diberikan adalah tekanan lateral fasial, karena arah pengeluaran gigi adalah fasial. 4ekanan rotasional bias juga bermanfaat (Pederson, !!%" c. Prosedur pembedahan (open procedure" Didasarkan atas pertimbangan mengenai pasien, dan kesempurnaan rencana perawatan, maka penentuan untuk memilih atau menunda prosedur pembedahan untuk mencabut gigi#gigi kaninus sebaiknya sudah dibicarakan sebelum pencabutan. *pabila dirasa bahwa untuk pencabutan tersebut diperlukan

tekanan tang yang besar untuk luksasi/ekspansi alveolar, sebaiknya dilakukan prosedur pembukaan flap (Pederson, !!%" !. Pre,o#ar a. Pencabutan gigi premolar atas 'igi premolar atas dicabut dengan tang Y 39 dipegang dengan telapak keatas dan dengan pinch grasp. Premolar pertama dicabut dengan tekanan lateral, kearah bukal yang merupakan arah pengeluaran gigi. )arena premolar pertama atas ini sering mempunyai dua akar, maka gerakan rotasional dihindarkan. *plikasi tekanan yang hati#hati pada gigi ini, dan perhatian khusus pada waktu mengeluarkan gigi, mengurangi insidens fraktur akar. $jung akar premolar

pertama atas yang mengarah ke palatal menyulitkan pencabutan, dan fraktur pada gigi ini bias diperkecil dengan membatasi gerak kearah lingual. 'igi premolar kedua biasanya mempunyai akar tunggal dan dicabut dengan cara yang sama seperti dengan kaninus atas. *karnya lebih pendek dan akar bukalnya lebih tipis dari pada gigi kaninus. 4ang Y 39 digunakan kembali dengan tekanan lateral, yaitu bukal serta lingual. Pada waktu mengeluarkan gigi kearah bukal, digunakan kombinasi tekanan rotasional dan oklusal (Pederson, !!%" b. Pencabutan gigi premolar bawah 4ekhnik pencabutan gigi premolar bawah sangat mirip dengan pencabutan insisivus bawah. 4ang Y 3 dipegang dengan telapak tangan kebawah dan sling grasp. 4ekanan yang terutama diperlukan adalah lateral/bukal, tetapi akhirnya bias dikombinasikan dengan tekanan rotasi. Pengeluaran gigi premolar bawah, adalah kearah bukal (Pederson, !!%" c. Pencabutan untuk tujuan ortodonsi

Pencabutan gigi premolar sering merupakan persyaratan perawatan ortodonsi. 'igi#gigi ini biasanya diambil dari orang muda, kadang#kadang akarnya belum sempurna atau baru saja lengkap. Pencabutan premolar dengan hanya menggunakan tang, dengan menghindari penggunaan elevator sangat dianjurkan. 4empat tumpuan yang minimal bagi elevator dapat mengakibatkan luksasi yang tidak disengaja atau bahkan tercabutnya gigi didekatnya pada pasien muda (Pederson, !!%" +. &o#ar $ntuk mengekspansi alveolus pada gigi molar diperlukan tekanan terkontrol yang besar. )unci keberhasilan pencabutan gigi#gigi molar adalah keterampilan menggunakan elevator untuk luksasi dan ekspansi alveolus, sebelum menggunakan tang. 4ekanan yang diperlukan untuk mencabut molar biasanya lebih besar dari pada gigi premolar (Pederson, !!%" a. Pencabutan gigi molar atas 'igi molar atas dicabut dengan menggunakan tang Y 39, Y32 atau Y8 9, dipegang dengan telapak tangan ke atas dan pinch grasp.apabila ukuran mahkotanya cocok, lebih sering dipakai Y32 daripada Y 39, karena adaptasi akar lebih baik dengan paruh anatomi. 4ang Y8 9 walaupun ideal untuk pencabutan molar ketiga atas, dianggap universal dan dapat digunakan untuk mencabut molar pertama dan kedua kanan dan kiri atas. 4ekanan pencabutan utama adalah kea rah bukal, yaitu arah pengeluaran gigi (Pederson, !!%" b. Pencabutan gigi molar bawah 4ang yang digunakan untuk pencabutan gigi molar bawah adalah Y 3 , Y82, Y888. 4ang Y 3 mempunyai kekurangan yang sama dengan Y 39 atas bila digunakan untuk pencabutan molar, yaitu paruh tangnya sempit sehingga

menghalangi adaptasi anatomi yang baik terhadap akar. 4ang Y N bawah mempunyai paruh yang lebih lebar, yang didesain untuk memegang bifurkasi dan merupakan pilihan yang baik bila mahkotanya cocok. 4ang Y82 (cowhorn" penggunaanya berbeda dengan tang mandibula yang lain, dalam hal tekanan mencengkram yang dilakukan sepanjang proses pencabutan. 4ekanan ini dikombinasikan dengan tekanan lateral, yaitu kearah bukal dan lingual, akan menyebabkan terungkitnya bifurkasi molar bawah dari alveolus, atau fraktur pada bifurkasi. 4ang Y888, seperti tang Y8 9 maksila, adalah spesifik untuk molar ketiga, tetapi sering digunakan pula untuk pencabutan gigi - dan -8. 4ekanan lateral permulaan untuk pencabutan gigi molar adalah kearah lingual. 4ulang bukal yang tebal menghalangi gerakan ke bukal dan pada awal pencabutan gerak ini hanya mengimbangi tekanan lingual yang lebih efektif. 'igi molar sering dikeluarkan kearah lingual (Pederson, !!%"

2.. Ko,'#ikasi Pencabutan Gigi )omplikasi akibat pencabutan gigi dapat terjadi oleh berbagai sebab dan bervariasi pula dalam akibat yang ditimbulkannya. )omplikasi tersebut kadang# kadang tidak dapat dihindarkan tanpa memandang operator, kesempurnaan persiapan dan keterampilan operator. Pada situasi perawatan tertentu sekalipun persiapan pra operasi telah direncanakan sebaik mungkin untuk mencegah atau mengatasi kemungkinan timbulnya kesulitan melalui hasil diagnosis secara cermat dan operator telah melaksanakan prinsip#prinsip bedah dengan baik selama pencabutan gigi (Howe, !!!".

A. &aca,4&aca, Ko,'#ikasi Pencabutan Gigi

. )omplikasi lokal )omplikasi lokal saat pencabutan gigi. )omplikasi lokal setelah pencabutan gigi. 2. )omplikasi sistemik.

B.

Jenis ko,'#ikasi 8ang da'at ter-adi (Howe, !!!".

. )egagalan dari ( Pemberian anastetikum. -encabut gigi dengan tang atau elevator. 8. Graktur dari ( -ahkota gigi yang akan dicabut. *kar gigi yang akan dicabut. 4ulang alveolar. 4uberositas ma7illa. 'igi sebelahnya/gigi antagonis. -andibula. 2. Dislokasi dari ( 'igi sebelahnya. +endi temporo mandibula. >. 1erpindah akar gigi ( -asuk ke jaringan lunak. -asuk ke dalam sinus ma7illaris. 3. Perdarahan berlebihan ( +elama pencabutan gigi. +etelah pencabutan gigi selesai.

%. )erusakan dari ( 'usi. 1ibir. +araf alveolaris inferior/cabangnya. +araf lingualis. ;idah dan dasar mulut. N. 6asa sakit pasca pencabutan gigi karena ( )erusakan dari jaringan keras dan jaringan lunak. Dry socket . :steomyelitis akut dari mandibula. *rthritis traumatik dari sendi temporo mandibula. B. Pembengkakan pasca operasi ( 5dema. Hematoma. 0nfeksi. 4rismus. 4erjadinya fistula oro antral. +inkop. 4erhentinya respirasi. 4erhentinya jantung. )eadaan darurat akibat anastesi. ). Penanggu#angan ko,'#ikasi (Howe, !!!". . )egagalan anastesi. )egagalan anastesi biasanya berhubungan dengan teknik anastesi yang salah atau dosis obat anastesi tidak cukup (Howe, !!!".

)egagalan pencabutan gigi. 1ila gigi gagal dicabut dengan menggunakan aplikasi tang atau elevator dengan tekanan yang cukup mak a instrumen tersebut harus dikesampingkan dan dicari sebab kesulitan. Pada kebanyakan kasus lebih mudah dicabut dengan tindakan pembedahan (Howe, !!!". 8. Graktur. Graktur mahkota gigi. Graktur mahkota gigi selama pe ncabutan mungkin sulit dihindarkan pada gigi dengan karies besar sekali atau restorasi besar. ,amun hal ini sering juga disebabkan oleh tidak tepatnya aplikasi tang pada gigi, bila tang diaplikasikan pada mahkota gigi bukan pada akar atau masa akar gigi, atau dengan sumbu panjang tang tidak sejajar dengan sumbu panjang gigi. .uga bisa disebabkan oleh pemilihan tang dengan ujung yang terlalu lebar dan hanya memberi kontak satu titik sehingga gigi dapat pecah bila ditekan. Dapat pula disebabkan karena tangkai tang tidak dipegang dengan kuat sehingga ujung tang mungkin terlepas/bergeser dan mematahkan mahkota gigi. +elain itu juga fraktur mahkota gigi bisa disebabkan oleh pemberian tekanan yang berlebihan dalam upaya mengatasi perlawanan dari gigi. $ntuk itulah operator harus bekerja sesuai dengan metode yang benar dalam melakukan pencabuant gigi. 4indakan penanggulangannya dapat dilakukan dengan memberitahukan kepada pasien bahwa ada gigi yang tertinggal kemudian dicari penyebabnya secara klinis dengan melalui bantuan radiografi. Pemeriksaan dengan radiografi dilakukan untuk memperoleh petunjuk yang berguna untuk mengidentifikasi ukuran dan posisi fraktur gigi yang tertinggal. +elanjutnya operator mempersiapkan alat yang diperlukan untuk menyelesaikan pencabutan dan menginformasikan perkiraan waktu yang

diperlukan untuk tindakan tersebut. +edangkan metode yang digunakan bisa dengan cara membelah bifurkasi (metode tertutup" atau dengan dengan pembedahan melalui pembukaan flap (metode terbuka" (Howe, !!!".

Graktur akar gigi. Graktur yang menyebabkan fraktur mahkota mungkin juga menyebabkan fraktur akar. -eskipun idealnya semua fragmen akar harus dikeluarkan, tetap i alangkah bijaksana untuk meninggalkannya pada keadaan#keadaan/kasus#kasus tertentu. *kar gigi dapat dianggap sebagai fragmen akar gigi bila kurang dari 3 mm dalam dimensi terbesarnya. Pada pasien yang sehat sisa akar dari gigi sehat jarang menimbulkan masalah dan dalam kebanyakan kasus fragmen akar tersebut boleh ditinggalkan kecuali bila posisinya memungkinkan untuk terlihat secara jelas. Pencabutan dari /2 apikal akar palatal molar atas bila harus mengikut sertakan pembuangan sejumlah besar tulang alveolar dan mungkin dipersulit dengan terdorongnya fragmen kedalam sinus ma7lillaris atau menyebabkan terbentuknya fistula oro antral pada kebanyakan kasus lebih baik dipertimbangkan untuk ditinggalkan dan tidak diganggu. Dan jika diindikasikan untuk dikeluarkan sebaiknya didahului dengan pemeriksaan radiografi dan dilakukan oleh operator yang berpengalaman dengan menggunakan teknik pembuatan flap (Howe, !!!". Graktur tulang alveolar. Graktur tulang alveolar dapat disebabkan oleh terjepitnya tulang alveolar secara tidak sengaja diantara ujung tang pencabut gigi atau konfigurasi dari akar gigi itu sendiri, bisa pula bentuk dari tulang alveolar yang tipis atau adanya perubahan patologis dari tulang itu sendiri. Penanggulangannya dengan cara

membuang fragmen alveolar yang telah kehilangan sebagian besar perlekatan periosteal dengan menjepitnya dengan arteri klem dan melepaskannya dari jaringan lunak. +elanjutnya bagian yang tajam bisa dihaluskan dengan bone file dan dapat dipertimbangkan apakah diperlukan penjahitan untuk mencegah perdarahan (Howe, !!!". Graktur tuber ma7illaris Graktur tuber ma7illaris kadang#kadang dapat terjadi karena penggunaan elevator yang tidak terkontrol, dapat pula disebabkan geminasi patologis antara gigi molar kedua atas yang telah erupsi dengan gigi molar ketiga atas yang tidak erupsi. Penanggulangannya maka kita harus meninggalkan pemakaian tang atau elevator dan dibuat flap muko periosteal bukal yang luas, tuber yang fraktur dan gigi tersebut kemudian dibebaskan dari jaringan lunak pada palatal dengan alat tumpul (raspatorium" dan kemudian gigi dikeluarkan dari soketnya. Glap jaringan lunak kemudian dilekatkan satu sama lain dan dijahit (Howe, !!!". Graktur gigi yang berdekatan atau gigi antagonis. Graktur seperti ini dapat dihindarkan dengan cara pemeriksaan pra operasi secara cermat apakah gigi yang berdekatan dengan gigi yang akan dicabut mengalami karies, restorasi besar, atau terletak pada arah pencabutan. 1ila gigi yang akan dicabut merupakan gigi penyokong jembatan maka jembatan harus dipotong dulu dengan carborundum disk atau carborundum disk intan s ebelum pencabutan. 1ila gigi sebelahnya terkena karies besar dan tambalannya goyang atau overhang maka harus diambil dulu dan ditambal denga tambalan semenatra sebelum pencabutan dilakukan. 4idak boleh diaplikasikan tekanan pada gigi yang berdekatan selama pencabutan dan gigi lain tidak boleh digunakan sebagai fulkrum untuk elevator kecuali bila gigi tersebut juga akan dicabut pada

kunjungan yang sama. 'igi antagonis bisa fraktur jika gigi yang akan dicabut tiba# tiba diberikan tekanan yang tidak terkendali dan tang membentur gigi tersebut. 4eknik pencabutan yang terkontrol secara cermat dapat mencegah kejadian tersebut. Penggunaan mouth gags dan penyangga gigi yang tidak bijaksana dapat menyebabkan kerusakan pada gigi lain selain gigi yang akan dicabut, terutama pada anastesi umum. *danya gigi dengan restorasi besar atau gigi goyang, mahkota tiruan atau jembatan harus dicatat dan diperhatikan oleh anastesi. 'igi# gigi tersebut harus dihindarkan bila mungkin dan mouth gags/pengganjal gigi dipasang ditempat yang aman dari hal#hal diatas (Howe, !!!". Graktur mandibula. Graktur mandibula dapat terjadi bila digunakan tekanan yang berlebihan dalam mencabut gigi. 1ila tidak dapat dicabut dengan tekanan sedang maka harus dicari penyebabnya dan diatasi. +elain itu juga bisa disebabkan oleh adanya hal# hal patologis yang melemahkan misalnya, adanya otseoporosis senile,atrofi, osteomyelitis, post terapi radiasi atau osteo distrofi seperti osteitis deforman, fibrous displasia, atau fragile oseum. Graktur mandibula pada saat pencabutan gigi bisa pula disebabkan oleh gigi yang tidak erupsi, kista atau tumor. Pada keadaan tersebut pencabutan gigi hanya boleh dilakukan setelah pemeriksaan radiografis yang cermat serta dibuat splint sebelum operasi. Pasien harus diberitahu sebelum operasi tentang kemungkinan fraktur mandibula dan bila komplikasi ini terjadi penanganannya harus sesegera mungkin. $ntuk alasan#alasan tersebut sebagian besar dapat ditangani dengan baik oleh ahli bedah mulut. 1ila fraktur terjadi pada praktek dokter gigi maka dilakukan fiksasi ekstra oral dan pasien dirujuk secepatnya ke 6umah +akit terdekat yang ada fasilitas perawatan bedah mulut (Howe, !!!".

2. Dislokasi. Dislokasi dari gigi yang berdekatan. Dislokasi dari gigi yang berdekatan selama pencabutan ini dapat dihindari dengan menggunakan elevator yang tepat dan sebagian besar tekanan dititik beratkan pada septum interdental. +elama penggunaan elevator jari harus diletakkan pada gigi yang berdekatan dengan gigi yang akan dicabut untuk mendeteksi adanya kegoyangan pada gigi yang berdekatan dengan gigi yang akan dicabut (Howe, !!!". Dislokasi dari sendi temporo mandibula. Dapat terjadi pada pasien dengan riwayat dislokasi rekuren tidak boleh dikesampingkan. )omplikasi ini pada pencabutan dapat dicegah bila pembukaan rahang bawah tidak sampai maksimal dan bila rahang bawah dipegang (fiksasi" dengan baik oleh operator selama pencabutan. Dislokasi dapat pula disebabkan oleh penggunaan mouth gags yang ceroboh. .ika terjadi dislokasi maka mouth gags harus dikurangi regangannya (Howe, !!!". /ara penanggulangan dislokasi temporo mandibular joint operator berdiri didepan pasien dan menempatkan ibu jarinya kedalam mulut pada )rista obliKue eksterna, dilateral gigi molar bawah yang ada, dan jari#jari lainnya berada ditepi bawah mandibula secara ekstra oral, tekan kebawah dari kedua ibu jari, kemudian dorong ke posterior, kemudian lepaskan sehingga rahang oklusi selanjutnya dilakukan fiksasi dengan elastic verban (fiksasi ekstra oral". )emudian pasien diingatkan agar tidak membuka mulut terlalu lebar atau menguap terlalu sering selama beberapa hari pasca operasi. Perawatan dislokasi temporo mandibular joint tidak boleh terlambat karena dapat menyebabkan spasme otot akibatnya

mempersulit pengembalian sendi temporo mandibular joint pada tempatnya kecuali dibawah anastesi umum (Howe, !!!". >. 1erpindahnya akar gigi. -asuknya akar gigi ke dalam jaringan lunak. 1erpindahnya akar gigi masuk kedalam jaringan lunak merupakan komplikasi yang biasanya terjadi karena akar gigi tidak dipegang secara efektif pada keadaan lapang pandang yang terbatas. )omplikasi ini dapat dihindari bila operator mencoba untuk memegang akar dengan pandangan langsung. -asuknya akar gigi ke dalam sinus ma7illaris. )omplikasi ini biasanya pada pencabutan gigi premolar/molar rahang atas dan yang lebih sering akar palatal. *danya sinus yang besar adalah faktor predisposisi tapi insiden ini dapat dikurangi bila petunjuk sederhana ini diperhatikan (Howe, !!!".( a. .angan menggunakan tang pada akar gigi posterior atas kecuali bila panjang gigi atau akar gigi terlihat cukup besar baik dalam arah palatal dan bukal, sehingga ujung tang dapat mencengkram akar gigi dan operator dapat melihatnya dengan jelas. b. 4inggalkan /2 ujung akar palatal molar atas bila tertinggal selama pencabutan dengan tang kecuali bila ada indikasi positif untuk mengeluarkannya. c. .angan mencoba mencabut akar gigi atas yang patah dengan memasukkan instrument kedalam soket. 1ila di indikasikan unutk pencabutan sebaiknya dibuat flap muko periosteal yang luas dan buang tulang secukupnya sehingga elevator dapat dimasukkan diatas permukaan akar yang patah sehingga semua tekanan dapat dialihkan pada akar gigi yang tertinggal dan cenderung menggerakkannya kebawah jauh dari sinus. *danya riwayat perforasi sinus dari

riwayat pencabutan sebelumnya tidak boleh diabaikan, karena kemungkinan pasien memiliki sinus ma7illaris yang besar. 1ila akar masuk ke sinus ma7illaris maka pasien harus dirujuk ke ahli bedah mulut atau ahli 4H4 dan tindakan pencabutan gigi serta penutupan fistula oro antral dilakukan dengan anastesi umum (Howe, !!!".

3. Perdarahan berlebihan. Perdarahan berlebihan mungkin merupakan komplikasi pencabutan gigi. :leh karena itu anamnesis harus dilakukan secara cermat untuk mengungkap adanya riwayat perdarahan sebelum melakukan pencabutan gigi. 1ila pasien mengatakan belum pernah mengalami perdarahan berlebihan maka harus dicari keterangan yang lebih terperinci mengenai riwayat tersebut. Perhatikan secara khusus hubungan waktu antara perdarahan dengan lamanya pencabutan (trauma jaringan" dan banyaknya perdarahan dan pemeriksaan laboratorium harus dilakukan (diindikasikan". 6iwayat keluarga pasien yang pernah mengalami perdarahan akibat suatu tindakan operasi juga amat penting. Pasien dengan adanya riwayat diatas harus dirujuk ke ahli hematologi untuk dilakukan pemeriksaan lebih cermat sebelum tindakan pencabutan gigi dilakukan. 1ila pasien memiliki riwayat perdarahan pasca pencabutan maka sangat bijaksana jika membatasi jumlah gigi yang akan dicabut pada kunjungan pertama dan menjahit jaringan lunak serta memonitro penyembuhan pasca pencabutan gigi. 1ila tidak terjadi komplikasi maka jumlah gigi yang akan dicabut pada kunjungan berikutnya dapat ditingkatkan secara perlahan#lahan. Perembesan darah secara konstan selama pencabutan gigi dapat diatasi dengan aplikasi gulungan tampon atau dengan penggunaan suction. Perdarahan yang lebih parah dapat diatasi dengan pemberian

tampon yang diberi larutan adrenalin ( aKua bidest ( 999 dan dibiarkan selama 8 menit dalam soket. Perdarahan yang disebabkan pembuluh darah besar jarang terjadi dan bila ini terjadi maka pembuluh darah tersebut harus ditarik dan dijepit dengan arteri klem kemudian dijahit/cauter. Perdarahan pasca operasi dapat terjadi karena pasien tidak mematuhi instruksi atau sebab lain yang harus segera ditemukan. /ara penanggulangan komplikasi seperti pada kebanyakan kasus disarankan untuk melakukan penjahitan pada muko periosteal, jahitan hori=ontal terputus paling cocok dan untuk tujuan ini harus diletakkan pada soket sesegera mungkin. 4ujuan dari penjahitan ini adalah bukan untuk menutup soket tetapi untuk mendekatkan jaringan lunak diatas soket untuk mengencangkan muko perioteal yang menutupi tulang sehingga menjadi iakemik. )arena pada kebanyakan kasus perdarahan tidak timbul dari soket tetapi berasal dari jaringan lunak yang berada disekitarnya, selanjutnya pasien diinstruksikan untuk menggigit tampon selama 3 menit setelah penjahitan. 1ila perdarahan belum teratasi maka kedalam soket gigi dapat dimasukkan preparat foam gelatin atau fibrin (surgicel, kalsium alginat" setelah itu pasien disuruh menggigit tampon dan kemudian dievaluasi kembali dan bila tetap tidak dapat diatasi sebaiknya segera dirujuk ke 6umah sakit terdekat untuk memperoleh perawatan lebih intensif lagi (Howe, !!!".

%. )erusakan. )erusakan pada gusi. Dapat dihindari dengan pemilihan tang secara cermat serta teknik pencabutan gigi yang baik. 1ila gusi menempel pada gigi yang akan dicabut dari

soketnya, gusi harus dipisahkan secara hati#hati dari gigi dengan menggunakan asrpatorium (dengan gunting/scalpel" sebelum gigi dikeluarkan. )erusakan pada bibir. 1ibir bawah dapat terjepit diantara pegangan tang dengan gigi anterior, bila tidak diperhatikan dengan baik. 4angan operator yang terampil dapat membuat bibir bebas dari kemungkinan tersebut. )erusakan saraf alveolaris inferior. )erusakan dapat dicegah atau dikurangi hanya dengan diagnosis pra operasi dan pembedahan secara cermat. )erusakan saraf mentalis. )erusakan saraf mentalis dapat terjadi selama pencabutan gigi premolar bawah atau oleh infeksi akut jaringan disekitarnya. )erusakan saraf lingualis. +araf lingualis dapat rusak oleh pencabutan dengan trauma yang besar pada gigi molar bawah dimana jaringan lunak lingual terkena bor sebelum pembuangan tulang. )erusakan pada lidah dan dasar mulut. ;idah dan dasar mulut tidak akan mengalami kerusakan jika aplikasi tang dan penggunaan elevator dilakukan secara hati#hati dan terkontrol. )omplikasi ini lebih banyak terjadi pada pencabutan gigi dengan anastes i umum. .ika operator menggunakan elevator tanpa kontrol yang tepat maka dapat meleset mengenai lidah atau dasar mulut, sehingga dapat menimbulkan perdarahan yang banyak. Perdarahan dapat diatasi dengan menarik lidah dan penjahitan (Howe, !!!".

N. 6asa sakit pasca operasi.

6asa sakit pada jaringan keras. 6asa sakit dapat diakibatkan trauma jaringan keras karena terkena instrument atau bor yang terlalu panas selama pembuangan tulang. Dengan pencegahan secara teknsi melalui irigasi dan menghaluskan tepi tulang tajam dengan bone file serta membersihkan soket tulang sete lah pencabutan dapat menghilangkan kemungkinan penyebab rasa saki t pasca pencabutan gigi (Howe, !!!". )erusakan jaringan lunak. )erusakan jaringan lunak dapat terjadi oleh beberapa sebab misalnya insisi yang kurang dalam sehingga bentuk flapnya compang camping yang membuat proses penyembuhan menjadi lambat. Glap yang terlalu kecil retraksi untuk membesarkan flap mungkin diperlukan, dan bila jaringan lunak tidak dilindungi seperlunya maka jaringan lunak bisa tersangkut bor (Howe, !!!". Dry +ocket. )eadaan klinis merupakan ostetiis yang terlokalisir yang melibatkan semua atau sebagian tulang padat pembatas soket gigi atau lamina dura. Penyebabnya tidak jelas tetapi terdapat banyak faktor predisposisi seperti faktor infeksi sebelum, selama atau setelah pencabutan gigi merupakan faktor pemicu namun banyak juga gigi dengan abses dan infeksi dicabut tanpa menyebabkan dry socket. -eskipun benar bahwa setelah penggunaan tekanan yang berlebihan selama pencabutan gigi dapat menimbulkan rasa sakit yang berlebihan tetapi ini tidak selalu terjadi, dan komplikasi ini dapat juga terjadi pada pencabutan gigi yang sangat mudah. 1anyak ahli menduga bahwa pemakaian vaso konstriktor dalam larutan anastesi lokal dapat memicu terjadinya dry socket dengan mempengaruhi aliran darah dalam tulang, dan keadaan ini lebih sering terjadi pada

pencabutan gigi dibawah anastesi lokal dibandingkan dengan anastesi umum. )omplikasi dry socket lebih sering terjadi pada pencabutan gigi bawah dari pada gigi atas. /ara penanggulangannya bila terjadi dry socket adalah ditujukan untuk menghilangkan sakit dan mempercepat penyembuhan. +oket harus diirigasi dengan larutan normal saline hangat dan semua bekuan darah degenerasi dikuret. 4ulang yang tajam dihaluskan dengan bone file/knabel tang kemudian diberi resep antibiotika dan analgetika yang adekuat (Howe, !!!".

B. Pembengkakan pasca operasi. 5dema. Pembengkakan pasca operasi selama pencabutan gigi dapat menimbulkan edema traumatik sehingga menghambat penyembuhan luka. Hal ini biasanya disebabkan trauma instrumen tumpul, retraksi berlebihan dari flap yang tidak baik atau tersangkut putaran bor merupakan faktor predisposisi keadaan ini (Howe, !!!". Hematoma. Penjahitan yang terlalu kencan g dapat menyebabkan pembengkakan pasca operatif akibat edema atau terbentuk hematoma dapat menyebabkan robeknya jaringan lunak serta putusnya ikatan jahitan (Howe, !!!". 0nfeksi. Penyebab yang sering terjadi pembengkakan pasca operasi adalah infeksi pada daerah bekas penc abutan karena masuknya mikroorganisme yang patogen. 1ila terdapat pus dan fluktuasi positif harus harus dilakukan insisi dan drainase serta pemberian antibiotika yang adekuat. +edang jika infeksi cukup parah atau

telah meluas ke subma7illa dan sublingual sebaiknya segera dirujuk ke 6umah +akit yang mempunyai fasilitas 1edah -ulut (Howe, !!!". 4rismus. 4rismus dapat didefinisikan sebagai ketidak mampuan membuka mulut akibat spasme otot. )eadaan ini dapat disebabkan edema pasca operasi, pembentukan hematoma atau peradangan jaringan lunak. Pasien dengan arthritia traumatik sendi temporo mandibular joint juga dapat memiliki keterbatasan membuka mulut (gerakan mandibula". 4erapi trismus bervariasi tergantung penyebabnya. )ompres panas/penyinaran dengan solu7 atau kumur#kumur dengan normal saline hangat dapat mengurangi rasa sakit pada kasus ringan, tapi pada kasus lain kadang#kadang diperlukan pemberian antibiotika, anti inflamasi atau analgetika yang mengandung muscle rela7an, neurotropik vitamin atau dirujuk kepada spesialis bedah mulut ahli temporo mandibular joint untuk mengurangi gejalanya (Howe, !!!". 4erjadinya fistula oro antral. 1ila terjadi komplikasi tersebut maka harus segera dilakukan penutupan dengan flap muko periosteal (merujuk ke ahli bedah mulut/4H4" (Howe, !!!". +inkop (takut berlebihan/over ansieti". +erangan sinkop ini mempunyai gejala#gejala pusing, lemah, mual diiringi kulit menjadi pucat, dingi dan berkeringat kemudian dilanjutkan dengan kehilangan kesadaran. Pertolongan pertama harus dilakukan dengan secepatnya dan sedetikpun pasien tidak boleh lepas dari pengawasan/kehilangan komunikasi verbal. )epala pasien direndahkan dengan merubah posisi sandaran kursi. Pakaian pasien dilonggarkan, kepala dimiringkan perhatikan jalan nafas. .ika pasien sudah sadar baru diberikan cairan yang mengandung glukosa. 1iasanya kesembuhan

pasien spontan dan terkadang pencabutan gigi dapat dilanjutkan. .ika kesadaran tidak kembali maka pertolongan pertama harus segera diberikan karena penyebab pingsan mungkin bukan berasal dari sinkop. Dan harus segera diberikan oksigen serta pertolongan medis lain harus segera dipanggil. 1ila pernafasan terhenti dengan tanda#tanda otot skelet menjadi lemah dan pupil dilatasi (melebar" maka pasien harus segera dibaringkan dilantai dan jalan nafas harus dilapangkan dengan mengeluarkan semua peralatan atau benda asing dan kemudian dilakukan resusitasi (Howe, !!!". 2.0 Prinsi'4Prinsi' Pencabutan Gigi a. *sepsis $ntuk menghindarkan atau memperkecil bahaya inflamasi, seharusnya bekerja secara asepsis, artinya melakukan pekerjaan dengan menjauhkan segala kemungkinan kontaminasi dari kuman atau menghindari organisme patogen. *sepsis secara praktis merupakan suatu teknik yang digunakan untuk memberantas semua jenis organisme. 4indakan sterilisasi dilakukan pada tim operator, alat#alat yang dipergunakan, kamar operasi, pasien terutama pada daerah pembedahan (Howe, !!!".

b. Pembedahan atraumatik Pada saat ekstraksi gigi harus diperhatikan untuk bekerja secara hati#hati, tidak kasar, tidak ceroboh, dengan gerakan pasti, sehingga membuat trauma sekecil mungkin. 4indakan yang kasar menyebabkan trauma jaringan lunak, memudahkan terjadinya inflamasi dan memperlambat penyembuhan. Peralatan yang
digunakan haruslah tajam karena dengan peralatan yang tumpul akan memperbesar terjadinya trauma (Howe, !!!".

c. *kses dan lapangan pandang baik *da beberapa faktor yang mempengaruhi akses dan lapangan pandang yang baik selama proses ekstraksi gigi. Gaktor#faktor tersebut adalah posisi kursi, posisi kepala pasien, posisi operator, pencahayaan, retraksi dan penyedotan darah atau saliva. Posisi kursi harus diatur untuk mendapatkan akses terbaik dan kenyamanan bagi operator dan pasien. Pada ekstraksi gigi maksila, posisi pasien lebih tinggi dari dataran siku operator dengan posisi sandaran kursi lebih rendah sehingga pasien duduk lebih menyandar dan lengkung maksila tegak lurus dengan lantai. +edangkan ekstraksi gigi pada mandibula, posisi pasien lebih rendah dari dataran siku operator dengan posisi sandaran kursi tegak dan dataran oklusal terendah sejajar dengan lantai. Pencahayaan harus diatur sedemikian rupa agar daerah operasi dapat terlihat dengan jelas tanpa bayangan hitam yang membuat gelap daerah operasi. 6etraksi jaringan juga dibutuhkan untuk mendapatkan lapangan pandang yang jelas. Daerah operasi harus bersih dari saliva dan darah yang dapat mengganggu penglihatan ke daerah tersebut sehingga dibutuhkan penyedotan pada rongga mulut (Howe, !!!".

d. 4ata )erja 4eratur 1ekerja sistematis agar dapat mencapai hasil semaksimal mungkin dengan mengeluarkan tenaga sekecil mungkin. Penting untuk mengetahui cara kerja yang berbeda untuk setiap pembedahan, sehingga dapat menggunakan tekanan terkontrol sesuai dengan urutan tindakan (Howe, !!!".