Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS HASIL PENGAMATAN Percobaan dengan judul koefisien distribusi iod dilakukan untuk mengekstrak iod ke dalam pelarut

organik dan menghitung harga KD dari iod. 1. Penentuan konsentrasi iod mula-mula. 10 ml larutan iod (I2) 0,1N yang berwarna cokelat kehitaman diencerkan dengan air sampai volume 100 ml (larutan berwarna cokelat tua). Langkah selanjutnya, mengambil 10 ml larutan I2 dan diasamkan dengan 4 ml H2SO4 2N. Setelah itu, larutan tersebut ditambah 20 tetes larutan kanji 0,2% yang bertindak sebagai indikator (larutan berwarna biru kehitaman) dan dititrasi dengan Na2S2O3 0,01N sampai warna biru tepat hilang. Volume Na2S2O3 yang dibutuhkan berturut-turut 3 kali titrasi adalah 16,1 ml, 16 ml dan 15,9 ml. Volume Na2S2O3 rata-rata yang dibutuhkan untuk titrasi sebanyak 16 ml. 2. Ekstraksi iod. Mengambil 10 ml larutan I2 yang telah diencerkan dengan air, diekstrak dengan 5 ml kloroform (CCl4) dan dikocok selama beberapa menit. Air yang digunakan untuk mengencerkan I2 berfungsi sebagai pelarut air (fasa air), sedangkan kloroform berfungsi sebagai pelarut organik (fasa organik) dan pengocokan dimaksudkan agar solut terdistribusi dengan sendirinya ke dalam dua pelarut yakni pelarut organik dan air. Larutan tersebut didiamkan agar kedua lapisan terpisah dengan baik. Lapisan atas adalah fasa organik yang berwarna ungu dan lapisan bawah adalah fasa air yang berwarna kuning. Lapisan organik dikeluarkan dan lapisan air ditampung dalam erlenmeyar. Air tersebut diasamkan dengan 4mL H2SO4 2N dan ditambahkan 20 tetes larutan kanji 0,2% sebagai indikator (larutan berwarna biru kehitaman) dan dititrasi dengan Na2S2O3 0,01N sampai warna biru tepat hilang. Volume Na2S2O3 yang dibutuhkan berturut-turut 3 kali titrasi adalah 1,8 ml, 1,7 ml dan 1,9 ml. Volume Na2S2O3 rata-rata yang dibutuhkan untuk titrasi sebanyak 1,8 ml. Percobaan ini menggunakan titrasi iodometri atau titrasi langsung dengan I2. Reaksi yang terjadi adalah: I2 + 2 S2O32- 2 I- + S4O62KD iod dalam sistem kloroform-air adalah sebesar 15,77. Harga KD yang diperoleh lebih besar dari 8, menunjukkan bahwa banyaknya iod yang terekstrak dalam pelarut organik (kloroform). Adapun perhitungannya sebagai berikut: *) mol I2 mula-mula = Mek Na2S2O3 x V Na2S2O3 = 0,01 x 16 ml = 0,08 mmol *) mol I2 f(a) = Mek Na2S2O3 x V Na2S2O3 = x 0,01 x 1,8 ml = 0,009 mmol *) mol I2 f(o) = I2 mula-mula I2 f(a) = 0,08 mmol 0,009 mmol = 0,071 mmol *) KD = [I2]o / [I2]a = (0,071/5) / (0,009/10) = 15,77

H. SIMPULAN Berdasarkan hasil pengamatan, dapat diambil simpulan bahwa: 1. Larutan iod yang sudah diencerkan dengan air (fasa air) kemudian diekstrak dengan kloroform (fasa organik) dapat dilakukan karena perbedaan kelarutan kedua pelarut tersebut cukup besar walaupun iod mampu larut dalam air maupun kloroform.

2. Harga KD yang diperoleh dalam percobaan ini sebesar 15,77 yang menunjukkan bahwa banyaknya iod yang terekstrak dalam pelarut organik (kloroform).

Pada percobaan ini, yang akan ditentukan adalah koefisien distribusi dari I2 dalam system kloroform-air. Aquades yang ditambahkan dalam ke dalam larutan iod dalam kloroform dikocok. Fungsi pengocokan yaitu mempercepat terjadinya distribusi yang disebabkan karena tumbukan-tumbukan antar partikel campuran yang juga cepat. Pengocokan dilakukan selama satu jam agar I2 dapat terdistribusi secara maksimal. Setelah pengocokan, larutan didiamkan sampai terbentuk dua fase lalu dipisahkan antara lapisan atas dan lapisan bawahnya. Menurut teori, kloroform memiliki berat jenis 1,49 gcm-3 dan air memiliki berat jenis 1,00 gcm-3. Sehingga pada lapisan yang terbentuk, dapat diketahui bahwa lapisan bawah merupakan lapisan iod dalam kloroform sedangkan lapisan atas adalah iod dalam air. Lapisan atas dan lapisan bawah dititrasi dengan menggunakn larutan Na2S2O3 0,1 N. titrasi yang digunakan dalam penentuan koefisien distribusi adalah titrasi iodometri karena iod dalam perobaan berperan sebagai analit. Pada saat mendekati titik akhir titrasi, ditambahkan indicator amilum agar mengetahui titik akhir titrasi. Hal ini dapat diketahui dari perubahan warna yaitu dari biru menjadi bening. Amilum an iod dapat membentuk kompleks dan iod akan terlepas dari kompleksnya membentuk I- pada saat titik akhir titrasi. Penambahan indicator ini pada saat mendekati titik akhir titrasi karena untuk menghindari agar amilum tidak membungkus iod. Adapun persamaan reaksinya adalah: 2S2O32- + I2 S4O62- + 2I- Dari titrasi tersebut diperoleh harga Kd iod dalam air-kloroform sebesar 43,68. Berdasarkan teori, jika harga Kd besar maka solut cenderung terdistribusi ke dalam pelarut organik dibanding dalam air (Soebagio, 2003). Olehnya itu, dari percobaan dapat dikatakan bahwa iodium lebih banyak terdistribusi dalam kloroform dibanding dalam air karena harga Kd-nya besar. Hal ini disebabkan oleh sifat kloroform yang hampir sama dengan sifat I2 dibanding dengan sifat air dengan I2. I2 bersifat semipolar, air bersifat polar dan kloroform yang bersifat semipolar yang telah hampir nonpolar (sifat transisi antara semipolar dengan polar). Olehnya itu, I2 lebih cenderung terdistribusi ke dalam kloroform dibanding ke dalam air.

Pembahasan Penentuan Konsentrasi Iod Sebenarnya Dalam percobaan ini, larutan iod dititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat 0,1 N. Larutan iod perlu distandarisasi agar dapat diketahui konsentrasinya sebagai perbandingan dengan konsentrasinya dalam air maupun kloroform. Titrasi dilakukan sampai terjadi perubahan warna dari coklat (warna iod) menjadi bening. Titrasi dilakukan sebanyak 3 kali agar diperoleh data yang lebih akurat. Pada tiga kali titrasi, volume larutan natrium tiosulfat yang digunakan berturut-turut adalah 12,0 mL, 12,3 mL, dan 12,2 mL dengan volume rata-rata 12,17 mL. Dari hasil tersebut diperoleh konsentrasi iod sebesar 0,2434 N Konsentrasi Iod dalam masing-masing pelarut Dalam percobaan ini, larutan iod dimasukkan ke dalam tiga corong pisah setelah itu ditambahkan kloroform dan dikocok. Selanjutnya campuran didiamkan sampai larutan benarbenar terpisah menjadi dua lapisan dimana lapisan bawah adalah kloroform yang berwarna ungu sedang lapisan atas air yang berwarna coklat. Kedua lapisan tersebut kemudian dipisahkan dan ditampung dalam Erlenmeyer bertutup asah. Kedua lapisan tersebut kemudian dititrasi dengan menggunakan larutan standar Na2S2O3 0,1 N. lapisan kloroform dititrasi sampai terjadi perubahan warna dari ungu menjadi bening. Volume Na2S2O3 0,1 N yang digunakan pada corong 1 sebesar 35,7 mL, corong 2 sebesar 24,5 mL dan corong 3 sebesar 31,2 mL sehingga diperoleh konsentrasi iod dalam kloroform berturut-turut adalah 0,1428 N; 0,098 N; dan 0,1248 N. Lapisan air kemudian dititrasi pula dengan larutan standar Na2S2O3 0,1 N sampai terjadi perubahan warna dari coklat menjadi bening. Dalam titrasi ini digunakan indicator amilum yang berfungsi untuk mengetahui apakah seluruh iod telah habis bereaksi atau belum. Volume Na2S2O3 0,1 N yang digunakan pada corong 1 sebesar 29,7 mL, corong 2 sebesar 22,2 mL dan corong 3 sebesar 28,3 mL. dari hasil ini diperoleh konsentrasi iod dalam lapisan air berturut-turut adalah 0,1188 N; 0,0888 N; dan 0,1132 N Penentuan Tetapan Distribusi Iod (KD) Dari konsentrasi yang diperoleh baik pada lapisan air maupun kloroform, dapat diperoleh tetapan distribusi iod (KD) dengan rumus K_D= C_1/C_2 =([I_2]kloroform)/[I_2 ]air Sehingga dari rumus di atas diperoleh KD pada corong 1 sebesar 1,202, corong 2 sebesar 1,104 dan corong 3 sebesar 1,102. Hasil ini menunjukkan bahwa KD > 1 yang berarti iod terdistribusi lebih banyak ke dalam lapisan kloroform dibandingkan lapisan air. Adapun reaksi yang terjadi, yaitu : Reduksi : I2 + 2e 2IOksidasi : 2S2O32- S4O62- + 2e I2 + 2S2O32- 2I- + S4O62Dengan reaksi lengkap : 2Na2S2O3 + 2I2 2NaI + Na2S4O6 Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Dari hasil percobaan di atas dapat disimpulkan bahwa : Konsentrasi iod yang sebenarnya adalah 0,2434 N

Konsentrasi Iod pada lapisan air adalah 0,1188 N; 0,0888 N; dan 0,1132 N sedang pada lapisan klorom adalah 0,1428 N; 0,098 N; dan 0,1248 N KD > 1 yang berarti iod terdistribusi lebih banyak pada lapisan kloroform. Saran Dalam melakukan pengocokan, diharapkan melakukannya dengan lebih baik lagi agar campuran dapat merata saat proses pengocokan tersebut DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2010. Koefisien Distribusi Iod. http://brown13zt.blogspot.com/ Koefisiendistribusi-iod.html. diakses pada 5 April 2010. Khopkar, S.M. 2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI-Press. Soebagio, dkk. 2002. Kimia Analitik II. Malang : JICA. Svehla. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Bagian I. Jakarta : PT Kalman Media Pustaka. Syabatini, Annisa. 2009. Tetapan Distribusi Iod. http://annisafushie. wordpress.com/2009/11/25/tetapan-distribusi-iod/ diakses pada 5 April 2010. Tim Dosen Kimia Analitik. 2010. Penuntun Praktikum Kimia Analitik II. Makassar : Laboratorium Kimia, FMIPA, UNM.

JAWABAN PERTANYAAN KD = 1, artinya iod terdistribusi sama banyaknya ke dalam lapisan air dan lapisan kloroform KD > 1, artinya iod terdistribusi lebih banyak ke dalam lapisan kloroform dibandingkan pada lapisan air KD < 1, artinya iod terdistribusi lebih banyak ke dalam lapisan air dibandingkan pada lapisan kloroform Reaksi : Reduksi : I2 + 2e 2IOksidasi : 2S2O32- S4O62- + 2e I2 + 2S2O32- 2I- + S4O62Dengan reaksi lengkap : 2Na2S2O3 + 2I2 2NaI + Na2S4O6 Konsentrasi iod Dik : N tio = 0,1 N V tio = V1 + V2 + V3 3 = 12,0 mL + 12,3 mL + 12,2 mL 3 = 36,5 mL 3 = 12,17 mL V iod = 5 mL Dit : N iod? Peny : N iod = (N x V) tio

V iod = 0,1 N x 12,17 mL 5 mL = 1,217 N 5 = 0,2434 N

PEMBAHASAN Percobaan pada penentuan tetapan kesetimbangan ion triodida yang dilakukan untuk menentukan tetapan kesetimbangan ion triodida. Percobaan ini dikatakan dengan mencampurkan larutan jenuh iod dalam CHCl3 dengan larutan KI 0,1 M. Digunakan larutan KI karena I2 akan larut dan terdistribusi dengan baik dalam air yang mengandung I sedangkan dalam air biasanya iod sangat sulit larut ( terdistribusi ). Pada campuran kedua larutan tersebut dilakukan dalam corong pisah yang akan mempermudah dalam melakukan pencampuran. Selanjutnya, dilakukan pengocokan dengan kuat kuat selama 60 menit yang bertujuan untuk mempercepat terjadinya proses distribusi dalam lapisan kloroform dan air. Selanjutnya dilakukan pengocokan, corong pisah kemudian didiamkan hingga terbentuk dua lapisan yaitu lapisan atas berupa iod dalam air dan lapisan bawah adalah lapisan iod dalam kloroform.Terbentuknya dua lapian ini disebabkan karena adanya perbedaan sifat kepolaran antara kedua pelarut, dimana air bersifat polar dan klorofrm bersifat nonpolar. Air berada dibagian atas disebabkan karena air memiliki massa jenis yang lebih kecil yaitu 1 g/ ml dibandingkan dengan klorofrm yang memilki masa jenis 1,49 g/ ml. Lapisan atas iod dalam klorofrm yang berwarna ungu kemudian dipisahkan. Lapisan atas yang berwarna merah bata menandakan bahwa iod telah terdistribusi kedalam pelarut air dan dapat terdistribusi kedalam pelarut air disebabkan karena iod tersebut akan membentuk reasksi kesetimbangan . Dengan demikian dapat diketahui bahwa pada lapisan atas mengandung iod dalam air yang tidak bereaksi. Kedua lapisan tersebut dipisahkan, masing masing diambil 5 ml untuk dititrasi dengan natrium tiosulfat 0,1 M. Fungi dari titrasi ini adalah sebagai analisis volumetric untuk menentukan konsentarsi iod dalam kolrofrm. Adapun volume Natrium tiosulfat yang digunakan adalah untuk menitrasi laapisan atas adalah sbanyak 3 kali berturut turut adalah 1,60 ml, 1,50 ml, dan 1,50 ml dengan volume rata rata adalah 1,53 ml. Sedangakan volume natrium tiosulfat yang digunakan pada lapisan bawah adalah sebanyak 2 kali titrasi berturut turut adalah 7,50 ml, dan 4,70 ml dengan volume rata rata adalah 6,10 ml. Adapun reaksinya adalah ; I2 + 2 Na2 S2O3 2 NaI + Na2S4O6 Dari analisis data diperoleh konsentrasi iod dalam air sebesar 0,12 x 10-6 M. sedangkan

konsentrasi iod dalam kloroform adalah 1,41 x 10-6 M dan konsentrasi I- dalam H2O sebesar 0,0999986 M, sehingga nilai kesetimbangannya adalah 117,516 M. Hal ini tidaksesuai dengan teori yang menyatakan tetapan kesetimbangan sebesar 710 M , adanya perbedaan teori dengan praktek ini karena perbedaan suhu kmar yang digunakan dan distribusi iod tidak merata. PENUTUP Kesimpulan Setelah melakukan percobaan maka dapat disimpulkan bahawa: Tetapan kesetimbangan reaksi penentuan ion triodida pada percobaan ini adalah 117,516 M.

Standarisasi larutan natrium thiosulfatLarutan kalium dikromat dan natrium thiosulfat dibuat terlebih dahulu. Kalium dikromatdengan konsentrasi 0.0125 M dan volume 100 mL sedangkan natrium thiosulfat dengankonsentrasi sebanyak 0.05 M dan volume 250 mL. Massa yang dibutuhkan untuk membuatKalium dikromat sebanyak 0.3675 gram dan natrium thiosulfat dengan 3.1 gram. Natriumthiosulfat dibuat dari Kristal Na2S2O3.5H2O dengan dilarutkan pada 250 mL air yang telahdididihkan lalu didinginkan. Lalu dilakukan standarisasi natrium thiosulfat yang telah dicampurair dengan kalium dikromat yang merupakan larutan standar primer. Standarisasi ini dilakukankarena sifat natrium thiosulfat yang tidak stabil untuk waktu yang lama sehingga tidak bolehdilakukan penimbangan secara langsung untuk mengetahui konsentrasinya. Standarisasi inidilakukan dengan tujuan untuk mengetahui normalitas sesungguhnya dari natrium thiosulfatkarena dibutuhkan larutan standar untuk mengetahui kadar dari suatu zat. Standarisasi dilakukandengan menempatkan kalium dikromat sebanyak 10 mL pada labu titrasi kemudian ditambahkanasam sulfat sebanyak 5 mL (larutan berubah menjadi bening), 1 M dan KI (larutan berubahmenjadi berwarna coklat) sebanyak 0,5 gram. Fungsi penambahan asam sulfat pekat dalamlarutan tersebut adalah memberikan suasana asam, sebab larutan yang terdiri dari kaliumdikromat dan kalium iodida berada dalam kondisi netral atau memiliki keasaman rendah danpenambahan kalium iodide dimaksudkan sebagai oksidator bagi kalium dikromat. Setelahdialirkan natrium thiosulfat hingga larutan berwarna kuning muda agak kecoklatan, lalu larutanditeteskan indicator amilum sebanyak 4 tetes. Fungsi penambahan amilum adalah untuk memperjelas perubahan warna larutan yang terjadi pada saat titik akhir titrasi, dilakukanpenambahan pada titik akhir titrasi agar amilum tidak membungkus iod karena akanmenyebabkan amilum sukar dititrasi untuk kembali ke senyawa semula. Kemudian dilanjutkantitrasi hingga larutan yang tadinya berwarna biru setelah ditambahkan amilum kehilanganwarnanya dan menjadi bening. Persen error yang dihasilkan dari standarisasi adalah sebesar66.66%2. Reaksi Kesetimbangan KimiaPada awalnya disiapkan 2 buah corong pisah yang diisi oleh 20 mL larutan I2dalamCHCl3(sesuai penugasan asisten). Lalu pada corong pisah A dimasukkan 200 mL air dan padacorong pisah B dimasukkan 200 mL larutan KI dengan konsentrasi 0.1 M. Penambahan KIberfungsi sebagai penyedia ion Iodida (I-) . Ion ini akan membentuk ion I3- setelah bereaksidengan I2 dalam CHCl3. Kemudian larutan dikocok selama 5 menit dan dibiarkan bereaksiselama 10 menit (tergantung penugasan dari asisten) selama 60 menit. Fungsi pengocokan inibaik untuk corong pisah A maupun B adalah sama, yaitu untuk mempercepat distribusi I2 dalamair dan kloroform (CHCl3). Diperhatikan bahwa pada saat pengocokan bahwa kran dari corong pisah harus dibuka untuk mengeluarkan gas-gas yang terbentuk selama reaksi terjadi, karena jikatidak tutup dari corong pisah bisa saja terpental karena dorongan dari gas-gas yang

terbentuk didalam corong.Setelah selesai pengocokan selama 60 menit, di dalam corong pisah akan terbentuk 2fasa, yaitu fasa akuatik atau fasa I2 dalam air pada bagian atas dan fasa I2 dalam CHCl3 padabagian bawah. Apa yang terjadi? Lapisan air berada di atas lapisan kloroform karena airmemiliki massa jenis yang lebih ringan dibandingkan dengan massa jenis kloroform( air =0,996 g/mL dan CHCl3 = 1,48 g/mL). Adapun reaksi yang terjadi di corong pisah B KI(aq) K(aq)+I-(aq) lalu ion I- bereaksi dengan I2 dengan reaksi: I-(aq) + I2(aq) <=> I3-(aq). Reaksiyang terjadi di fasa akuatik : I3-(aq) + 2S2O32-(aq) -(aq) + S4O62-(aq) dan fasa organic: I2(aq)+ 2S2O32-(aq) -(aq) + S4O62-(aq). Kemudian setelah 60 menit, sampel pada fasa organicdiambil sebanyak 5 mL (sama volumenya baik untuk corong pisah A dan B) dan sampelsebanyak 25 mL pada corong pisah B dan 50 mL pada corong pisah A dari fasa akuatik. Padasampel fasa organic ditambahkan 2 gram KI padat untuk melarutkan I2dan 20 mL air untuk mengencerkan larutan sebelum dititrasi dengan larutan Na2S2O3 yang telah distandarisasisebelumnya lalu ditambahkan indicator amilum mendekati titik akhir titrasi yang ditandai dengancampuran yang tidak lagi berwarna biru karena reaksi antara yodium dan natrium thiosulfathampir selesai. Penambahan indicator amilum ini bertujuan untuk memperjelas perubahan warnalarutan yang terjadi saat titik akhir titrasi (tetapi jika larutan sudah berwarna kecoklatan harusditambahkan amilum terlebih dahulu sebelum proses titrasi agar perubahan warna terlihat lebih jelas). Dan didapatkan volume Na2S2O3 pada corong pisah A sebanyak 23 mL dan pada corongpisah B sebanyak 3 mL pada corong pisah B dari sampel di fasa organic. Sedangkan pada fasaakuatik, hanya diberikan indicator amilum untuk memperjelas perubahan warna. Kemudiandidapatkan volume natrium thiosulfat yang dibutuhkan pada corong pisah A sebanyak 3 mL danB sebanyak 6 mL.Dilakukan pengocokan lanjutan selama 30 menit dengan pengaturan waktu yang samadengan awalnya. Hal ini bertujuan agar I2 lebih terdistribusi baik di dalam air maupun kloroform.Dilakukan pengambilan sampel dengan volume yang sama baik untuk fasa organic dan akuatik di corong pisah A dan B. Pada fasa organic di corong pisah A membutuhkan 10.2 mL natriumthiosulfat sedangkan 8.6 mL pada corong pisah B. Kemudian pada fasa akuatik membutuhkan0.6 mL untuk corong pisah A dan 3.9 mL pada corong pisah B. Hasil dari kedua rundiperbandingkan. Jika mendekati (<1. Volumenya) hasil keduanya, volume dirata-rata, namun, jika keduanya berbeda jauh, kita harus memakai yang kedua karena proses distribusi yang lebihmerata di run yang kedua dengan waktu total 90 menit (60 menit awal+30 menit tambahan waktupengocokan). Didapatkan nilai koefisien distribusi dengan membandingkan konsentrasi yodiumdalam air (akuatik) dibagi dengan konsentrasi yodium dalam kloroform (organic). Kemudiandapat dihitung tetapan kesetimbangan (Ka) secara percobaan dan teoritis dari data literature.Data Ka percobaan dan literature dibandingkan kemudian didapatkan persen galat dalamperhitungan. Perbandingan hasil Ka, Kd, persen error dan perlakuan1. Kelompok Adit-William (20 mL larutan I2 dalam CHCl3, dikocok selama 5 menit dandibiarkan bereaksi selama 10 menit)Ka exp=149.7078297Koefisien distribusi = 0.00588% error = 77.3175%2. Kelompok Beatrice-Bona (40 mL larutan I2 dalam CHCl3 , dikocok selama 5 menit dandibiarkan bereaksi selama 10 menit)Ka exp= 171,1715Koefisien distribusi = 0,0246% error = 77,243%3. Kelompok Fiety-Lidya (40 mL larutan I2 dalam CHCl3, dikocok selama 10 menit dandibiarkan bereaksi selama 10 menit)Ka exp= 577,5359Koefisien distribusi = 0,008197% error = 15,3317%4. Kelompok Andre-Fahrizal (20 mL larutan I2dalam CHCl3, dikocok selama 10 menit dandibiarkan bereaksi selama 10 menit)Ka exp= 358,9397Koefisien distribusi = 0,0104% error = 49,8%Ada berbagai perbedaan baik pada harga Ka, koefisien distribusi dan % error. Dari berbagaiperbandingan data di atas dapat disimpulkan 2 pengaruh, yaitu volume yodium dalam kloformyang berbeda dan waktu pengocokan yang berbeda.Pengaruh dari volume yodium yang berbeda mengacu pada perbedaan konsentrasi larutan yangterbentuk pada campuran di corong pisah setiap kelompok dalam 1 meja. Pengaruh dari volumeitu adalah ketika volume diperbesar, kesetimbangan bergeser ke arah molekul yang memiliki koefisien lebih besar berdasarkan reaksi I2+ I-<==> I3-, semakin besar volume, kesetimbanganakan bergeser ke kiri, yang seharusnya menyebabkan tetapan kesetimbangan lebih kecil karenaperbandingan konsentrasi produk/reaktan di mana kesetimbangan bergeser ke arah reaktan

danmenyebabkan konsentrasi reaktan lebih besar dari produk. Sedangkan pengaruh yang keduadatang dari waktu pengocokan, ada yang 10 menit dan juga 5 menit, pengaruhnya adalah ketikacorong pisah dikocok dengan waktu yang lebih lama (kontak yodium dalam larutan lebihintensif) akan memperbesar nilai koefisien distribusi yang dapat dibandingkan hasilnya antarakelompok yang diberi perlakuan volume sama namun waktu pengocokan berbeda, bahwasemakin lama waktu pengocokan akan semakin besar harga koefisien distribusi.

BAB IVKESIMPULAN1. Harga tetapan kesetimbangan (Ka) dan koefisien distribusi suatu komponen dalam larutandipengaruhi oleh waktu pengocokan dan juga volume komponen yang telah dicampurkan padapelarut.2. Semakin lama waktu pengocokan, semakin besar nilai koefisien distribusi3. Semakin besar volume awal komponen yang dipergunakan, semakin besar nilai tetapankesetimbangannya4. Standarisasi natrium thiosulfat dimaksudkan untuk mengetahui normalitas natrium thiosulfatsesungguhnya sehingga dapat dilakukan analisis kadar komponen secara tepat

DAFTAR PUSTAKAhttp://nugiluph24.blogspot.com/2010_10_01_archive.html http://www.scribd.com/doc/71009063 /Odometri-Dan-Iodimetri http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Kimia/0180%20Kim%201-6c.htmhttp://laporan-kimiaanalisis.blogspot.com/2011_07_01_archive.htmlhttp://fredi-36-a1.blogspot.com/2009/11/iodometri-daniodimetri.htm

http://www.scribd.com/adithya_pranata/d/90293857-Laporan-Modul-2

Pada percobaan ini membahas mengenai kesetimbangan larutan iodin, yang bertujuan untuk menentukan konstanta kesetimbangan distribusi iodin diantara dua pelarut, dan menentukan konstanta kesetimbangan konsentrasi iodin, ion iodida, dan ion triiodida. Prinsip kerja dari percobaan ini adalah denagn adanya variasi massa iodin diperoleh volume Na2S2O3 hasil titrasi. Volume yang didapatkan digunakan untuk mencari mol iodin dalam air dan iodin dalam kloroform sehingga dapat dibuat grafik I2 di air Vs I2 di kloroform. Dari grafik tersebut dapat diperoleh Kd(konstanta kesetimbangan distribusi) dan Kc (konstanta kesetimbangan konsentrasi). Pada penentuan konstanta kesetimbangan distribusi(Kd) iodin, langkah awal yang dilakukan adalah mereaksikan kloroform dengan kristal iodin dengan variasi masa yang berbeda yaitu 0,5 gram, 0,75 gram dan 1,0 gram, larutan yang dihasilkan diaduk dengan menggunakan magnet agar homogen yang diusahakan agar semua kristal iodin terlarut, larutan yang sudah homogen didituangkan dalam corong pisah dan ditambahkan akuades. Penambahan akuades ini bertujuan supaya I2 mendistribusikan diri diantara dua pelarut yaitu akuades dan kloroform, kemudian larutan dikocok dengan kuat selama 15 menit yang bertujuan untuk

mempercepat terjadinya proses distribusi dalam lapisan kloroform dan air. Setelah pengocokan, corong pisah kemudian didiamkan hingga terbentuk dua lapisan yaitu lapisan atas berupa iod dalam air dan lapisan bawah adalah lapisan iod dalam kloroform.Terbentuknya dua lapian ini disebabkan karena adanya perbedaan sifat kepolaran antara kedua pelarut, dimana air bersifat polar dan klroroform bersifat nonpolar. Air berada dibagian atas disebabkan karena air memiliki massa jenis yang lebih kecil yaitu 1 g/ ml dibandingkan dengan klroroform yang memilki masa jenis 1,49 g/ ml. Lapisan atas iod dalam kloroform yang berwarna ungu kemudian dipisahkan. Lapisan atas yang berwarna merah bata menandakan bahwa iod telah terdistribusi kedalam pelarut air dan dapat terdistribusi kedalam pelarut air disebabkan karena iod tersebut akan membentuk reasksi kesetimbangan. Kedua lapisan dipisahkan yang masing-masing diambil 10 mL dan dilakukan titrasi dengan natrium tiosulfat. Pada campuran larutan iodin dengan kloroform digunakan natrium sulfat dengan konsentrasi 0,5M, pada larutan dari warna biru setelah ditambahkan natrium sulfat ini akan berubah warna menjadi putih, pada campuran larutan antara iodin dengan air digunakan natrium sulfat dengan konsentrasi 0,05 M. Fungsi dari titrasi ini adalah sebagai analisis volumetrik untuk menentukan konsentarsi iod dalam kolroform. Adapun volume natrium tiosulfat yang digunakan adalah untuk menitrasi lapisan atas adalah pada masa kristal iodin 0,5 gram yaitu 3,4 mL, pada massa kristal iodin 0,75 gram sebanyak 5 mL, dan pada massa kristal iodin 1,0 gram volume natrium tiosulfat yang digunakan sebanyak 7,6 mL. Sedangkan volume natrium tiosulfat yang digunakan pada lapisan bawah yaitu 0,2 mL pada massa kristal iodin 0,5 gram dan 0,75 gram, dan 0,3 mL pada saat massa kristal iodin seberat1,0gram. Adapun reaksinya adalah I2+ 2S2O32-> 2I- + S4O62Dari data tersebut dilakukan perhitungan terhadap penentuan mol I2 dalam larutan air dan kloroform dari ketida variasi massa yaitu 0,5 gram, 0,75 gram, dan 1,0 gram yang hasilnya dapat dilihat dari tabel berikut: Massa I2 (gram) LAPISAN KLOROFORM LAPISAN AIR V S2O32-(mL) I2 k(M) V S2Cl32-(mL) I2 a(M) 0,5 3,4 0,85 0,2 5.10-3 0,75 5 1,25 0,2 5.10-3 1,0 7,6 1,9 0,3 7,5.10-3 Dalam data tersebut terlihat jumlah larutan I2 dalam kloroform lebih banyak daripada jumlah larutan I2 dalam air, hal ini disebabkan iodin (I2) sukar larut dalam air dan sangat mudah larut dalam pelarut non polar seperti kloroform. Dalam penentuan Kd dilakukan penggambaran grafik dengan perbandingan antara konsentrasi konsentrasi iodin dalam larutan kloroform dan dalam air, namun karena jumlah larutan dari keduanya adalah 10 ML maka bisa langsung menghitung dengan perbandingan antara jumlah mol dari iodin dalam larutan kloroform dengan mol larutan iodin dalam air. Mol I2 (kloroform) = Kd . mol I2 (air) (berdasarkan persamaan grafik y = mx + c) y= 340x-0,65 Berdasarkan grafik didiapatkan nilai Kd = 340 Untuk mencapai tujuan yang kedua yaitu menentkan konstanta kesetimbangan konsentrasi iodin, ion iodida, dan ion triodida dilakukan dengan mencampurkan larutan jenuh iod dalam CHCl3 dengan larutan KI 0,1 M. Digunakan larutan KI karena I2 akan larut dan terdistribusi dengan baik dalam air yang mengandung I sedangkan dalam air biasanya iod sangat sulit larut ( terdistribusi ). Pada campuran kedua larutan tersebut dilakukan dalam corong pisah yang akan mempermudah dalam melakukan pencampuran. Selanjutnya, dilakukan pengocokan dengan kuat kuat selama 15 menit yang bertujuan untuk mempercepat

terjadinya proses distribusi dalam lapisan kloroform dan air. Selanjutnya corong pisah kemudian didiamkan hingga terbentuk dua lapisan yaitu lapisan atas berupa iod dalam air dan lapisan bawah adalah lapisan iod dalam kloroform. Lapisan bagian bawah kemudian dititrasi dengan Na2S2O3 0,5 M dan indikator yang digunakan yaitu dengan amilum. Warna biru dari kompleks iodin-amilum ; bertindak sebagai suatu tes yang sangat sensitive untuk iodin. Mekanisme pembentukan kompleks yang berwarna ini tidak diketahui, namun ada pemikiran bahwa molekul-molekul iodin tertahan di permukaan -amilylose. Jika larutan kloroform dititrasi dengan larutan natrium triosulfat, konsentrasi iod total, sebagai I2 bebas dan I3- tak bebas diperoleh, karena segera sesudah iod dihilangkan akibat interaksi dengan triosulfat, sejumlah iod baru dibebaskan dari tri-iodida agar kesetimbangan tidak terganggu. Namun jika larutan dikocok dengan kloroform, dalam mana iod saja yang dapat larut cukup banyak, maka iod bebas dalam larutan air. Dengan menentukan konsentrasi iod dalam larutan kloroform, konsentrasi ion iod bebas dalam larutan air dapat dihitung dengan menggunakan koefisien distribusi yang diketahui, dan dari situ konsentrasi total iod bebas yang ada dalam kesetimbangan. Dengan memperkurangkan harga ini dari konsentrasi awal kalium iodida, dapatlah disimpulkan konsentrasi KI bebas. Inilah data hasil dari percobaan: Lapisan Kloroform I2 a (mol) I2 total (mol) V S2O32- (mL) I2 k (mol) 4,4 2,75 0,01 7,87.10-3 Sehingga dapat diperoleh harga Kc sebesar 1309,5, harga Kc menunjukkan harga negatif, ini tidak sesuai teori yang seharusnya bernilai positif. hal ini dimungkinkan pada saat pelarutan kristal iodin yang tidak sempurna terhadap kloroform dan juga KI, dan kemungkinan hal ini juga karena natrium tiosulfat yang belum distandarisasi, dari banyak kemungkinan yang ada, praktikan juga sangat berengaruh dari proses penentuan Kc ini, praktikan mungkin kurang teliti dalam penimbangan dan pelarutan kristal iodin. G. KESIMPULAN 1. Nilai Kd iodin diantara dua pelarut kloroform dan air adalah 340 2. Nilai Kc iodin, ion iodida, dan ion triodida sebesar 1309,5

Pada percobaan ini terdapat beberapa kesalahan dimana hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan literatur. Hal ini mungkin disebabkan karena Sampel tidak terdispersi dengan baik dalam kedua pelarut. Larutan dalan corong pisah belum berpisah dengan baik saat pengambilan fasa air untuk titrasi. Kesalahan dalam menitrasi. Pada saat pengambilan fase air dari campuran larutan dan minyak menggunakan pipet tetes dalam Erlenmeyer, masih ada bagian minyak yang ikut bersama dengan fase air sehingga mempengaruhi titik akhir titrasi.

Kelarutan sampel yang tidak sempurna.

Aplikasi koefisien distribusi dalam bidang farmasi yaitu untuk menentukan pengawet yang akan digunakan dalam sediaan dan untuk menentukan absorbsi dan distribusi suatu bahan obat dalam tubuh. Pengawet yang baik dalam sediaan emulsi, misalnya, harus dapat larut dalam air dan dalam minyak, sebab jika pengawet hanya larut air maka fase minyak akan ditumbuhi oleh mikroorganisme sehingga tidak menghasilkan suatu sediaan yang baik. Untuk menentukan absorbsi obat, misalnya dalam pembuatan salep untuk menentukan bahan salep yang bekerja pada lapisan kulit tertentu sehingga menghasilkan efek yang diinginkan.

muhammadcank.files.wordpress.com/2010/02/fendis.doc