P. 1
Evaluasi Hasil Penyelenggaraan Pemilu 2009_Yos

Evaluasi Hasil Penyelenggaraan Pemilu 2009_Yos

|Views: 1,072|Likes:
Dipublikasikan oleh lonte

More info:

Categories:Types, Research
Published by: lonte on Aug 20, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

E Ev va al lu ua as si i H Ha as si il l P Pe en ny ye el le en ng gg ga ar ra aa an n P Pe em mi il lu u 2 20 00 09 9

D DD D D DD Du uu u u uu ur rr r r rr rl ll l l ll l 8 88 8 8 88 8u uu u u uu ub bb b b bb bu uu u u uu uk kk k k kk k 8 88 8 8 88 8u uu u u uu ur rr r r rr ru uu u u uu u P PP P P PP Pe ee e e ee em mm m m mm ml ll l l ll ll ll l l ll ll ll l l ll lh hh h h hh hu uu u u uu un nn n n nn n S SS S S SS Se ee e e ee ec cc c c cc cu uu u u uu ur rr r r rr ru uu u u uu u L LL L L LL Lu uu u u uu un nn n n nn ng gg g g gg gs ss s s ss su uu u u uu un nn n n nn ng gg g g gg g T TT T T TT Tu uu u u uu uh hh h h hh hu uu u u uu un nn n n nn n 2 22 2 2 22 20 00 0 0 00 00 00 0 0 00 04 44 4 4 44 4
K KK K K KK Ke ee e e ee e 8 88 8 8 88 8u uu u u uu ub bb b b bb bu uu u u uu uk kk k k kk k P PP P P PP Pe ee e e ee em mm m m mm ml ll l l ll ll ll l l ll ll ll l l ll lh hh h h hh hu uu u u uu un nn n n nn n S SS S S SS Se ee e e ee ec cc c c cc cu uu u u uu ur rr r r rr ru uu u u uu u L LL L L LL Lu uu u u uu un nn n n nn ng gg g g gg gs ss s s ss su uu u u uu un nn n n nn ng gg g g gg g D DD D D DD De ee e e ee en nn n n nn ng gg g g gg gu uu u u uu un nn n n nn n S SS S S SS Su uu u u uu uu uu u u uu ur rr r r rr ru uu u u uu u T TT T T TT Te ee e e ee er rr r r rr rb bb b b bb bu uu u u uu un nn n n nn ny yy y y yy yu uu u u uu uk kk k k kk k T TT T T TT Tu uu u u uu uh hh h h hh hu uu u u uu un nn n n nn n 2 22 2 2 22 20 00 0 0 00 00 00 0 0 00 09 99 9 9 99 9
K KK K K KK Ku uu u u uu ub bb b b bb bu uu u u uu up pp p p pp pu uu u u uu ul ll l l ll le ee e e ee en nn n n nn n L LL L L LL Lu uu u u uu ub bb b b bb bu uu u u uu uh hh h h hh hu uu u u uu un nn n n nn nb bb b b bb bu uu u u uu ul ll l l ll lu uu u u uu u ÷ ÷÷ ÷ ÷ ÷÷ ÷ S SS S S SS Su uu u u uu um mm m m mm mu uu u u uu ul ll l l ll le ee e e ee er rr r r rr ru uu u u uu u U UU U U UU Ul ll l l ll lu uu u u uu uru ru ru ru





O/eh :
Yos 8otuboro











1
penjajahan Belanda memasuki daerah Labuhanbatu, sistem pemerintahan Labuhanbatu bersifat monarkhi yang
Kepala Pemerintahan disebut Sultan atau Raja yang dibantu oleh seorang bergelar Bendahara Paduka Sri Naharaja
yang bertugas sebagai Kepala Pemerintahan sehari-hari (semacam Perdana Nenteri).
1
Kesultanan yang terdapat di
wilayah Kabupaten Labuhanbatu pada waktu itu terdiri dari empat kesultanan, yaitu :
1. Kesultanan Kota Pinang berkedudukan di Kota Pinang
2. Kesultanan Kualuh berkedudukan di Tanjung Pasir
3. Kesultanan Panai berkedudukan di Labuhan Bilik
+. Kesultanan Bilah berkedudukan di Negeri Lama.
5. Ditambah satu Half-Bestuur Kerajaan Kampung Raja berkedudukan di Tanjung Nedan

Penjajah Belanda memasuki wilayah Labuhanbatu berkisar tahun 1825, disamping itu ada pula keterangan yang menyatakan setelah selesai
Perang Paderi (berkisar tahun 1831). Pada tahun 1861 kesatuan angkatan laut Belanda di bawah pimpinan Bevel Hebee datang ke Kampung
Labuhanbatu (di hulu Kota Labuhan Bilik sekarang) melalui sungai Barumun. Kemudian di perkampungan dibangun pelabuhan yang terbuat dari beton
sebagai tanda pendaratan persinggahan kapal-kapal berbobot 3000 s/d 5000 ton. Kemudia pada lokasi pelabuhan tersebut berkembang menjadi sebuah
perkampungan (desa) yang lebih dikenal dengan nama Pe Labuhanbatu.
Dalam perkembangan selanjutnya, Pemerintahan Kolonial Belanda secara yuridis formal menetapkan Gouvernement Bisluit Nomor 2 tahun 186/
tertanggal 30 September 186/ tentang pembentukan Afdeling Asahan yang meliputi tiga Onder Afdeling, yaitu :
1. Onder Afdeling Batu Bara dengan !bukota Labuhan Ruku
2. Onder Afdeling Asahan dengan !bukota Tanjung Balai
3. Onder Afdeling Labuhan Baru dengan !bukota Kampung Labuhanbatu

Dan secara administratif pemerintahan wilayah Labuhanbatu merupakan bagian dari wilayah Afdeling Asahan yang dipimpin Asisten Residen
(Bupati) sedangkan Onder Afdeling dipimpin Contreleur (Wedana).
Pada awalnya Contreleur Labuhanbatu berkedudukan di Kampung Labuhanbatu, kemudian pada tahun 1895 dipindahkan ke Labuhan Bilik,
tahun 192+ dipindahkan ke Narbau, tahun 1928 dipindahkan ke Aek Kota Batu dan pada tahun 1932 dipindahkan ke Rantauprapat sampai kemerdekaan
diproklamirkan 1/ Agustus 19+5.
Pada masa Pemerintahan Jepang sistem pemerintahan Zaman Hindia Belanda dilanjutkan dan untuk memonitoring kegiatan pemerintahan yang
dilaksanakan oleh Sultan/Raja, pemerintahan Jepang membentuk Tuk Fuku Bunsyuco. Setelah Kemerdekaan Republik !ndonesia diproklamirkan dan
tepatnya pada tanggal 16 malam 1/ Oktober 19+5 bertempat di Rumah Dinas Kepala PLN Rantauprapat diadakan rapat untuk pembentukan Komite
Nasional Daerah Labuhanbatu sekaligus ditetapkannya Ketua (Abdul Rahman) sebagai Kepala Pemerintahan.
Kabupaten Labuhanbatu dengan !bukotanya Rantauprapat memiliki luas wilayah 922.318 Ha (9.223,18 Km
2
) atau setara dengan 12,8/¾ dari
luas Wilayah Propinsi Sumatera Utara. Sebagai Kabupaten terluas kedua setelah Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Labuhanbatu merupakan jalur
lintas timur Pulau Sumatera dengan jarak 285 km dari Nedan, !bukota Propinsi Sumatera Utara, 329 km dari Propinsi Riau dan /60 km dari Propinsi
Sumatera Barat, dengan batas wilayah sebagai berikut :
- Sebelah Utara dengan Kabupaten Asahan dan Selat Nalaka.
- Sebelah Timur dengan Propinsi Riau.

1
Lihat Pemkab Labuhanbatu.”Sejarah Singkat Labuhanbatu”
Sebelum

2
- Sebelah Selatan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan.
- Sebelah Barat dengan Kabupaten Toba Samosir dan Tapanuli Utara.

Kabupaten ini mempunyai wilayah terluas di Propinsi Sumatera Utara secara administratif terdiri dari 22 Kecamatan, 209 Desa dan 33 Kelurahan.
Selain itu, kabupaten Labuhanbatu mempunyai kedudukan yang cukup strategis, yaitu berada pada jalur lintas timur Sumatera dan berada pada
persimpangan menuju Propinsi Sumatera Barat dan Riau, yang menghubungkan pusat-pusat perkembangan wilayah di Sumatera dan Jawa serta
mempunyai akses yang memadai ke luar negeri karena berbatasan langsung dengan Selat Nalaka.Penduduk Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2008
tercatat 1.005.+56 jiwa. Jumlah penduduk terbanyak terdapat di Kecamatan Rantau Utara yaitu sebanyak 98.+95 jiwa sedangkan penduduk paling
sedikit berada di Kecamatan Panai Tengah sebesar 21.588 jiwa
2
.
Penduduk Kabupaten Labuhanbatu mayoritas bersuku bangsa Batak (+5,50 persen) diikuti dengan suku Jawa (++,83 persen), Nelayu (2,36
persen), Ninang (0,81 persen) dan Aceh (0,21 persen) dan lainnya (+,80 persen).
3

Dari hasil Pemilu 200+, ada +5 orang wakil rakyat dari 12 partai yang duduk sebagai anggota DPRD Kabupaten Labuhanbatu, dimana yang
terbanyak berasal dari Partai Golkar (11 orang), kemudian disusul oleh PD! Perjuangan (8 orang), Partai Persatuan Pembangunan (6 orang), Partai
Bintang Reformasi (6 orang), Partai Demokrat (5 orang), Partai Amanat Nasional (2 orang), Partai Bulan Bintang (2 orang), Partai Damai Sejahtera (1
orang), Partai Keadilan Sekahtera (1 orang), Partai Nasional Banteng Kerakyatan (1 orang), Partai Pelopor (1 orang), dan Partai Penegak Demokrasi
!ndonesia (1 orang).
Latarbelakang pendidikan dan gender para anggota DPRD Kabupaten Labuhanbatu ini, yaitu SLTA (29 orang), Paket C (1orang), Sarjana (15
orang) dan Perempuan sebanyak 5 orang yang terdiri dari Golkar (3 orang), PD! Perjuangan (1), dan PBR (1 orang).
Dari 22 kecamatan ini, pada Pemilu 200+ dikelompokkan menjadi 5 wilayah daerah pemilihan dengan alokasi kursi untuk masing-masing daerah
pemilihan tersebut : Labuhanbatu 1 (jumlah pemilih 116.6/6 orang di Kecamatan Rantau Utara, Rantau Selatan, Bilah Hulu, Pangkatan dan Kampung
Rakyat, memperbutkan 12 kursi); Labuhanbatu 2 (jumlah pemilih 111.008 orang di Kecamatan Kota Pinang, Silangkitang, Torgamba dan Sungai Kanan,
memperebutkan 9 kursi); Labuhanbatu 3 (jumlah pemilih 99.106 orang di Kecamatan Bilah Barat, NA !X-X, Narbau, Aek Kuo dan Aek Natas,
memperebutkan 9 kursi); Labuhanbatu + (jumlah pemilih /8.0+0 orang di Kecamatan Bilah Hilir, Panai Hulu, Panai Tengah dan Panai Hilir,
memperebutkan / kursi); Labuhanbatu 5 (jumlah pemilih 100.368 orang di Kecamatan Kulauh Hulu, Kualuh Selatan, Kualuh Hilir dan Kualuh Ledong,
memperebutkan 8 kursi).
+

Tingkat partisipasi masyarakat Labuhanbatu dalam menggunakan hak pilihnya dibilik suara tiap pelaksanaan Pemilu khususnya sejak pemilu
legislatif 200+ sampai dengan pilgubsu 2008 rata-rata berkisar /1 persen. Angka partisipasi ini dapat dilihat dari besaran jumlah pemilih yang terdaftar
ditiap Pemilu tersebut : Pemilu Legislatif 200+ (pemilih terdaftar 558.533 orang, yang menggunakan hak pilih /0,95¾); Pemilu Presiden 200+ Putaran
Pertama (pemilih terdaftar 5/2./+0 orang, yang menggunakan hak pilih /+,28¾); Pemilu Presiden 200+ Putaran Kedua (pemilih terdaftar 56+.228
orang, yang menggunakan hak pilih /2,5+¾); Pilkada Bupati 2005 (pemilih terdaftar 591.3/1 orang, yang menggunakan hak pilih /1,/8¾); Pilgubsu
2008 (pemilih terdaftar 608.//1 orang, yang menggunakan hak pilih 66,21¾).
Dalam pelaksanaan Pemilu 2009, penduduk Kabupaten Labuhanbatu berjumlah 1.005.+56 jiwa yang terdiri dari 522.+98 laki-laki (51,9/¾), dan
+82.958 perempuan (+8,03¾) dengan alokasi kursi DPRD bejumlah 50.
Pada bulan Juli 2008, Kabupaten Labuhanbatu resmi dimekarkan menjadi tiga kabupaten melalui UU No 22/2008 tentang Pembentukan

2
Berdasarkan KPU Labuhanbatu dalam penetapan alokasi kursi dan daerah pemilihan pada pemilu legislatif tahun 2009
3
Lihat Pemkab Labuhanbatu dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2009
4
Pengelompokan Kabupaten Labuhanbatu menjadi 5 wilayah pemilihan adalah sesuai dengan keputusan KPU untuk Pemilu tahun 2004, yang diolah dengan data KPU
Labuhanbatu.

3
Kabupaten Labuhanbatu Selatan dan UU No 23/2008 tentang Pembentukan Kabupaten Labuhanbatu Utara. Adapun cakupan wilayah kecamatan dan
batas-batas wilayah tiap kabupaten, antara lain : Kabupaten Labuhanbatu Selatan terdiri atas cakupan wilayah Kecamatan Kota Pinang,Kampung Rakyat,
Torgamba, Sei Kanan, dan Silangkitang dengan ibu kota berkedudukan di Kota Pinang. Batas-batas wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah
sebelah Utara berbatasan Kecamatan Bilah Hulu, Kecamatan Rantau Selatan, Kecamatan Bilah Hilir, dan Kecamatan Panai Hulu Kabupaten Labuhanbatu;
sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau; sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau, dan
Kecamatan Simangambat Kabupaten Padang Lawas Utara; dan sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Holonganan dan Kecamatan Dolok
Kabupaten Padang Lawas Utara.
5

Kabupaten Labuhanbatu Utara terdiri atas cakupan wilayah Kecamatan Kualuh Hulu, Kecamatan Kualuh Leidong, Kecamatan Kualuh Hilir,
Kecamatan Aek Kuo, Kecamatan Narbau, Kecamatan Na !X-X, Kecamatan Aek Natas, dan Kecamatan Kualuh Selatan dengan ibu kota berkedudukan di
Aek Kanopan. Batas-batas wilayah Kabupaten Labuhanbatu Utara adalah sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Bandar Pulau, Kecamatan Pulau
Rakyat, dan Kecamatan Sei Kepayang Kabupaten Asahan dan Selat Nalaka; sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Panai Hilir, Kecamatan Panai
Tengah, Kecamatan Bilah Hilir, dan Kecamatan Pangkatan Kabupaten Labuhanbatu; sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Rantau Utara,
Kecamatan Bilah Barat Kabupaten Labuhanbatu, dan Kecamatan Dolok Sigompulon Kabupaten Padang Lawas Utara; dan sebelah Barat berbatasan
dengan Kecamatan Aekbilah Kabupaten Tapanuli Selatan, Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Utara, dan Kecamatan Habinsaran Kabupaten Toba
Samosir.
6

Sedangkan Kabupaten Labuhanbatu !nduk terdiri atas cakupan wilayah Kecamatan Bilah Barat, Rantau Utara, Rantau Selatan, Bilah Hulu,
Pangkatan, Bilah Hilir, Panai Hulu, Panai Tengah, dan Panai Hilir.

Pemilu 2004
tahun 200+ dibanding dengan pemilu-pemilu sebelumnya memang berbeda. Pemilu tahun 200+ untuk memilih anggota
legislatif menawarkan cara baru dan ini telah menjadi peluang emas karena rakyat memiliki peluang untuk memilih wakilnya
yang terbaik karena sistem berubah menjadi proporsional terbuka : selain memilih partai rakyat juga memilih orang. Proses
ini mulai mendidik parpol untuk mencarikan kadernya bagi rakyat wakil yang paling tepat.
Namun Pemilu tahun 200+, para pimpinan parpol kelakuannya masih primitif. Parpol layaknya dijadikan seperti sebuah kerajaan. Seperti jaman
feodal. Tidak ada bedanya dengan pelaksanaan Pemilu-pemilu sebelumnya. Buktinya, dalam proses penyusunan daftar caleg, unsur kekeluargaan-sanak
familiy-kekerabatan masih sangat kental. Padahal, dengan sistem Pemilu tahun 200+ yang berbeda ini, parpol diharapkan bisa meningkatkan kualitas
calon wakil rakyatnya.
!ni dapat dilihat dari Daftar Caleg yang disusun oleh tiap parpol menempatkan orang-orang yang dekat dengan pimpinan parpol dalam posisi
nomor urut kecil (baca : nomor urut jadi). Setiap caleg bersaing untuk di posisi nomor jadi. Dan tidak sedikit ongkos yang dikeluarkan untuk
mendapatkan posisi pada nomor jadi. Hal ini dimungkinkan karena mereka sudah sadar tidak akan memperoleh suara signifikan jika masyarakat memilih
langsung.
Walaupun tata cara untuk memilih dilaksanakan dengan system proporsional daftar calon terbuka (dalam hal ini masyarakat dapat memilih caleg
secara langsung) namun masih banyak masyarakat pemilih yang hanya memilih tanda parpol saja tanpa diikuti memilih daftar caleg pada surat suara.
Hal ini sepertinya pemilih menyerahkan kepada parpol siapa caleg yang akan menjadi wakilnya yang akan duduk dilembaga legislatif. Umumnya ini
dilakukan oleh pemilih tradisionil.
Kendati masyarakat yang telah memilih calegnya secara langsung namun caleg tersebut belum jaminan untuk menjadi legislatif. Hal ini salah

5
UU No 22/2008
6
UU No 23/2008
Pemilu

4
satunya dikarenakan bahwa caleg tersebut berada pada nomor urut bawah dan kurang mencukupi jumlah Bilangan Pembagi Pemilihan (BPP). Yang
akhirnya penetapan caleg tepilih ditetapkan berdasarkan nomor urut.
Selain itu, selain pimpinan parpol yang kelakuannya masih primitif yang layaknya menjadikan parpol seperti sebuah kerajaan, maka dalam
pengajuan caleg masih ada parpol yang kurang serius mengajukan keterwakilan perempuan. Adapun angka persentase parpol yang sangat minim dalam
mengusung caleg perempuan dibanding caleg laki-laki adalah PD! Perjuangan (10¾). Kendati demikian PD! Perjuangan berhasil menempatkan caleg
perempuannya menjadi anggota DPRD 200+.
Dari 2+ parpol peserta pemilu ini, terdapat /85 caleg yang diusung oleh seluruh parpol yang tersebar di lima daerah pemilihan. Parpol yang
mengusung caleg terbanyak yaitu Partai Golkar (5+ caleg, 3/ laki-laki dan 1/ perempuan), Partai Persatuan Pembangunan (5+ caleg, 38 laki-laki dan 16
perempuan), dan Partai Bintang Reformasi (5+ caleg, 3/ laki-laki dan 1/ perempuan). Sedangkan parpol yang paling sedikit mengusung calegnya adalah
Partai Persatuan Nahdlatul Ummah !ndonesia (3 caleg, 2 laki-laki dan 1 perempuan). 3 caleg yang diusung oleh Partai Persatuan Nahdlatul Ummah
!ndonesia ini tersebar di daerah pemilihan Labuhanbatu 1 dan Labuhanbatu 2.
Kendatipun tata cara untuk memilih dilaksanakan dengan system proporsional dalam daftar calon terbuka, namun sepertinya masih banyak
masyarakat pemilih yang hanya mencoblos tanda parpol saja tanpa memilih caleg. Hal ini terlihat dari total keseluruhan suara sah yang berjumlah
+1/.9++ suara, 151.050 suara sah (36,1+¾) diantaranya hasil coblos tada parpol saja dan 266.89+ suara sah (63,86¾) coblos tanda partai dan caleg.
Hal ini jelas menguntungkan bagi caleg yang mendapat nomor urut kecil.
Parpol yang terbanyak memperoleh suara adalah Partai Golkar dengan hasil perolehan 98.602 suara sah. Dengan hasil perolehan suara sah
tersebut partai Golkar memperoleh 11 kursi di DPRD Labuhanbatu. Kemudian disusul oleh PD! Perjuangan (69.895 suara, 8 kursi), Partai Persatuan
Pembanungan (53.201 suara, 6 kursi), Partai Bintang Reformasi (38.6+/ suara, 6 kursi), Partai Demokrat (2/.60+ suara, 5 kursi), Partai Bulan Bintang
(16.2+5 suara, 2 kursi), Partai Amanat Nasional (15.833 suara, 2 kursi), Partai Damai Sejahtera (13.+01 suara, 1 kursi), Partai Pelopor (10.518, 1 kursi),
Partai Keadilan Sejahtera (9./0+ suara, 1 kursi), Partai Penegak Demokrasi !ndonesia (9.+51 suara, 1 kursi), dan Partai Nasional Banteng Kerakyatan
(8.836 suara, 1 kursi). Sedangkan parpol yang memperoleh suara paling sedikit dari seluruh parpol yang berkompetisi pada pemilu 200+ adalah Partai
Persatuan Nahdlatul Ummah !ndonesia dengan perolehan suara sah berjumlah 555 suara.
Penempatan caleg dalam daftar calon tiap daerah pemilihan yang dilakukan parpol sangat mempengaruhi tingkat partisipasi pemilih, dengan
alasan tingkat pengenalan pemilih terhadap caleg. Hal ini khususnya bagi caleg yang di calonkan oleh parpol bukan dari asal daerah si caleg. Bagi
pemilih tradisional yang masih condong mempercayakan hak politiknya melalui parpol tanpa memilih caleg tidak mempengaruhi perilaku pilihannya
terhadap asal muasal domisili caleg
/
.
Bagi caleg yang dicalonkan di suatu daerah pemilihan yang merupakan bukan asal domisilinya ternyata ajakan atau arahan untuk memilih
dirinya tidak begitu mempengaruhi perilaku pemilih.
Hal ini dikarenakan pemilihan dengan system proporsional dengan daftar calon terbuka mempengaruhi perilaku pemilih. Walaupun harapan itu
kandas yang dikarenakan caleg yang dipilih tersebut berada pada nomor urut bawah dan kurang mencukupi jumlah BPP. Yang akhirnya penetapan caleg
tepilih ditetapkan berdasarkan nomor urut.





7
Lihat Lembaga Bina Masyarakat Indonesia, Tingkat Minat Dan Kepercayaan Pemilih Terhadap Anggota DPRD Labuhanbatu Hasil Pemilu 2004, dalam Survey
Dinamika Masyarakat Pemilih Menjelang Pemilu 2009


5
R RE EK KA AP PI IT TU UL LA AS SI I P PE EN NG GA AJ JU UA AN N C CA AL LE EG G B BE ER RD DA AS SA AR RK KA AN N G GE EN ND DE ER R
P PA AD DA A P PE EM MI IL LU U 2 20 00 04 4 K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U












6
P PE ER RS SE EN NT TA AS SE E K KE ET TE ER RW WA AK KI IL LA AN N C CA AL LE EG G P PE ER RE EM MP PU UA AN N T TI IA AP P P PA AR RP PO OL L
P PA AD DA A P PE EM MI IL LU U 2 20 00 04 4 K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U










54%
48%
45%
43%
41%
40%
39%
39%
35%
34%
34%
34%
33%
33%
33%
32%
32%
31%
31%
31%
31%
30%
25%
10%
PSI
PNI
PKPB
PPD
PPDI
P.MERDEKA
PKPI
PATRIOT PANCASILA
P.DEMOKRAT
PBSD
PPDK
PPIB
P.PNUI
PAN
PKS
PNBK
PKB
PBR
PDS
GOLKAR
P.PELOPOR
PPP
PBB
PDIP

7
R RE EK KA AP PI IT TU UL LA AS SI I J JU UM ML LA AH H C CA AL LE EG G Y YA AN NG G D DI IU US SU UN NG G P PA AR RP PO OL L T TI IA AP P D DA AE ER RA AH H P PE EM MI IL LI IH HA AN N
P PA AD DA A P PE EM MI IL LU U 2 20 00 04 4 K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U









8
P PE ER RS SE EN NT TA AS SE E J JU UM ML LA AH H C CA AL LE EG G L LA AK KI I- -L LA AK KI I D DA AN N P PE ER RE EM MP PU UA AN N P PA AD DA A P PE EM MI IL LU U 2 20 00 04 4
K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U












LAKI-LAKI
67%
PEREMPUAN
33%

9
S SE EB BA AR RA AN N P PE ER RO OL LE EH HA AN N S SU UA AR RA A S SA AH H P PA AR RP PO OL L T TI IA AP P D DA AE ER RA AH H P PE EM MI IL LI IH HA AN N
P PA AD DA A P PE EM MI IL LU U L LE EG GI IS SL LA AT TI IF F 2 20 00 04 4 K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U












10
P PE ER RB BA AN ND DI IN NG GA AN N D DA AN N P PE ER RS SE EN NT TA AS SE E P PE EN NA AN ND DA AA AN N S SU UA AR RA A O OL LE EH H P PE EM MI IL LI IH H
T TE ER RH HA AD DA AP P P PA AR RP PO OL L D DA AN N C CA AL LE EG GP PA AD DA A P PE EM MI IL LU U L LE EG GI IS SL LA AT TI IF F 2 20 00 04 4
K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U










11
P PE ER RB BA AN ND DI IN NG GA AN N D DA AN N P PE ER RS SE EN NT TA AS SE E P PE EM MB BE ER RI IA AN N S SU UA AR RA A O OL LE EH H P PE EM MI IL LI IH H
T TE ER RH HA AD DA AP P P PA AR RP PO OL L D DA AN N C CA AL LE EG G Y YA AN NG G M ME EM MI IL LI IK KI I K KU UR RS SI I D DI I D DP PR RD D K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U
P PA AD DA A P PE EM MI IL LU U L LE EG GI IS SL LA AT TI IF F 2 20 00 04 4














12
S SE EB BA AR RA AN N P PE EO OL LE EH HA AN N K KU UR RS SI I T TI IA AP P D DA AP PI IL L P PA AR RP PO OL L T TI IA AP P D DA AE ER RA AH H P PE EM MI IL LI IH HA AN N
P PA AD DA A P PE EM MI IL LU U 2 20 00 04 4 K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U




















13
J JU UM ML LA AH H A AN NG GG GO OT TA A D DP PR RD D L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U 2 20 00 04 4 M ME EN NU UR RU UT T F FR RA AK KS SI I

















GABUNGAN
20%
PPP
13%
DEMOKRAT
11%
PBR
13%
PDIP
18%
GOLKAR
25%

14
P PE ER RS SE EN NT TA AS SE E K KE EA AN NG GG GO OT TA AA AN N D DP PR RD D K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U 2 20 00 04 4
B BE ER RD DA AS SA AR RK KA AN N G GE EN ND DE ER R












89%
11%
LAKI-LAKI
PEREMPUAN

15
Pemilu 2009
Situasi Nasional
pemilu yang ideal adalah sebuah pemilu yang berpihak pada kepentingan pemilih khususnya dan masyarakat pada
umumnya. Sementara itu, aspirasi dan kepentingan masyarakat berkembang secara dinamis, dan oleh karenanya, sistem
pemilu harus berkembang secara dinamis sesuai dengan dinamika perkembangan masyarakatnya. Belajar dari pengalaman
pada pemilu 1999 dan 200+ terdapat beberapa catatan penting, yaitu : Adanya fragmentasi partai, sehingga memunculkan kombinasi yang sulit antara
presidensialisme dan sistem multi partai. Berkembangnya partai mengambang, artinya parti mengabaikan basis konstituennya. Konstituen hanya
dibutuhkan ketika partai mempunyai hajat, seperti pada Pilkada, Pemilu, kongres partai, dll. Nudah cederanya prinsip mandat dan keterwakilan dan
akuntabilitas semu dalam mekanisme perwakilan politik.
8

Setelah berbulan-bulan DPRR! melakukan pembahasan terhadap Rancangan Undang-Undang Pemilihan Umum (RUU Pemilu) akhirnya hanya
menghasilkan kesepakatan remeh-temeh. Nisalnya pemberian suara dengan cara memberi tanda (menulis) menggantikan cara coblos (tusuk). Soal yang
remeh-temeh itu bahkan masuk kategori pasal alot. Namun, dalam UU Pemilu ini poin Penentuan calon terpilih adalah yang paling akhir dibahas karena
bersentuhan langsung dengan kepentingan besar partai dalam hal perebutan kursi di DPR dan DPRD.Senin, 3 Naret 2008 DPR R! beserta pemerintah
telah merampungkan pembahasan RUU Pemilu yang akan digunakan sebagai aturan main penyelenggaraan Pemilu 2009.
Berbarengan dengan disahkannya UU Pemilu, terbitlah kerumitan baru. Harus diakui ada perubahan menuju representasi yang semakin baik
dengan dilonggarkannya aturan soal Bilangan Pembagi Pemilihan (BPP). Pada Pemilu 2009, caleg hanya perlu mengumpulkan suara setara dengan 30 ¾
BPP untuk meraih kursi DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Namun, ketentuan ini tak berhenti di situ. Ada sejumlah kondisi di mana caleg
terpilih harus ditetapkan berdasarkan nomor urut. Nenurut Pasal 21+, kondisi itu adalah, pertama, calon yang memenuhi 30¾ BPP lebih banyak dari
jumlah kursi yang diperoleh partai politik. Kedua, jika terdapat dua calon atau lebih yang memenuhi 30¾ BPP dengan perolehan suara sama, penentuan
calon terpilih diberikan kepada calon yang memiliki nomor urut lebih kecil. Ketiga, apabila calon yang memenuhi 30¾ BPP kurang dari jumlah kursi yang
diperoleh partai politik, kursi diberikan kepada calon terpilih ditetapkan berdasarkan nomor urut. Dan keempat, dalam hal tak ada calon yang
memperoleh suara sekurang-kurangnya 30¾ BPP, calon terpilih ditetapkan berdasarkan nomor urut. Jelas sekali ketentuan ini berpretensi
menggelembungkan "kekuasaan" di tangan parpol. Tanpa ada perubahan cara parpol dalam menetapkan siapa mendapat nomor urut jadi dan siapa pula
yang sekadar dapat nomor urut sepatu, hakikatnya syarat 30¾ BPP tidak kian meningkatkan nilai representasi anggota legislatif terhadap massa
pemilih.
9

Sistem yang digunakan pada seluruh pemilu pada masa Orde Baru sampai Pemilu 1999 adalah sistem proporsional dengan daftar tertutup (PR
Closed List). Baru pada Pemilu 200+ yang berdasarkan UU No 12/ 2003 menggunakan sistem proporsional dengan daftar calon terbuka. Akan tetapi,
karena penetapan calon terpilih masih dibatasi dengan perolehan suara sebesar BPP, kita akhirnya mengetahui bahwa sistem proporsional yang
namanya terbuka telah berjalan sebagai sistem yang tertutup (sedikit terbuka). Dan dalam pelaksanaan pemilu, persaingan di antara para calon dalam
satu partai juga akan sulit berkembang sehat. Sebab, dalam pemilu, beban calon yang berada pada nomor urut calon "jadi" akan lebih ringan
dibandingkan calon yang berada pada nomor urut bawah.Para calon pada nomor urut bawah, untuk keberhasilan dalam pemilu harus berusaha ekstra
keras. Namun, tetap kecil kepastian untuk bisa terpilih. Bagi masyarakat pemilih, sistem pemilu yang terbuka sedikit juga akan memberi dampak
terhadap kepeduliannya kepada calon-calon terpilih. Nasyarakat akan lebih peduli kepada wakil rakyat pilihannya. Kepedulian dapat dalam bentuk
berupaya melakukan komunikasi, berlaku kritis, dan terus mengawasi. Suatu wujud kepedulian tinggi yang seharusnya tercipta dalam perbaikan
demokrasi di !ndonesia. Namun, hal tersebut akan sangat sulit tercipta kalau wakil rakyat dari daerah pemilihannya bukan karena mendapat suara
terbanyak, tetapi karena posisi nomor urutnya, sebagai cerminan yang lebih dikehendaki oleh partai politiknya.
10


8
Lihat Laporan Singkat Diskusi Rutin Forum Politisi 10 Mei 2007 : Mencari Formt Ideal Pemilu 2009 : Sistem Pemilu
9
Moh Sasul Arifin dalam “Kerumitan Teknis Pemilu 2009”, www.pikiran-rakyat.com
10
Hadar N Gumay, Sistem Pemilu 2009: Terbuka, Tetapi Sedikit (4)
Sistem

16
Sejalan dengan itu, beberapa partai politik dalam menentukan calon terpilih pada Pemilu 2009 menganut sistem suara terbanyak. Padahal,
Undang-Undang Pemilu yang dihasilkan oleh wakil partai politik di DPR menetapkan lain. Yaitu calon terpilih ditentukan berdasarkan nomor urut dan
30¾ BPP. Sedikitnya terdapat 9 parpol yang akan menerapkan sistem suara terbanyak dalam menetapkan caleg 2009 kala itu. Parpol itu antara lain:
PAN, Golkar, Demokrat, Barnas, Hanura, PBR, PDS, PD!P, dan PNBK. PD!P memakai suara terbanyak bila ada caleg yang mendapatkan suara 15 persen
BPP, namun bila tidak ada maka kembali ke nomor urut. Sedangkan PNBK menyesuaikan dengan situasi dan kondisi di suatu daerah pemilihan. Dengan
diterapkannya sistem suara terbanyak maka sudah terdapat dua sistem yang dipakai dalam menetapkan caleg terpilih. Pertama, tetap mengacu kepada
Undang-Undang Pemilu No 10 Tahun 2008. UU Pemilu ini mengatur bahwa calon terpilih anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota
ditetapkan berdasarkan perolehan suara calon yang mendapatkan 30 ¾ dari BPP di daerah pemilihan tersebut. Bila tidak ada caleg yang memenuhi
kuota tersebut maka, calon akan ditetapkan sesuai dengan nomor urut (sistem proporsional terbuka terbatas). Kedua, dengan menggunakan suara
terbanyak dengan menyampingkan nomor urut (sistem proporsional terbuka murni) seperti yang diamanatkan undang-undang.
Dipilihnya sistem suara terbanyak oleh beberapa parpol patut diberikan apresiasi karena telah mengembuskan angin segar bagi demokrasi kita.
Selama ini sistem nomor urut dirasakan tidak memenuhi rasa keadilan karena terpilihnya caleg berdasarkan nomor urut dan bukan berdasarkan suara
yang diperolehnya. Dalam kata lain seorang caleg ditetapkan menjadi anggota legislatif adalah berasal dari kedekatannya dengan partai ketimbang
kedekatan dengan masyarakat atau konstituennya. Hal ini biasanya akan menimbulkan split loyality di dalam internal partai di mana kader partai yang
duduk di legislatif cenderung sangat loyal kepada pengurus parpol ketimbang pemilih yang menjadi konstituennya.
Sebaliknya sistem yang berdasarkan suara terbanyak akan menumbuhkan kompetisi antara caleg parpol yang berbeda maupun sesama caleg
dalam satu partai. Dalam sistem ini, semua caleg mendapatkan kesempatan sama untuk menjadi caleg terpilih. Terpilih atau tidaknya caleg tergantung
usaha dia untuk memopulerkan diri dan meraih simpati pemilih. Sehingga caleg yang terpilih adalah caleg yang benar-benar mempunyai kapasitas yang
mumpuni dan mampu untuk menjelaskan program-programnya dengan baik ke masyarakat. Bukan caleg yang sekedar mengandalkan lobi ke petinggi
parpol untuk mendapatkan nomor urut yang kecil - sering kali dalam proses ini terjadi politik uang - padahal kapasitas dan integritasnya belum teruji di
tengah masyarakat.
11

Nengenai penetapan calon terpilih yang diatur dalam UU Pemilu sepintas terlihat UU ini demokratis. Tetapi dalam praktik tidak. Karena dengan
sistem multipartai seperti saat ini, alangkah sulitnya seorang calon mencapai 30¾ suara. Dengan menetapkan angka 30¾ dari BPP, sesungguhnya
perancang undang-undang yang didominasi kalangan partai politik tidak ingin melepas hegemoninya sebagai penentu nasib seorang calon. Nomor urut
tetap dijadikan senjata yang membelenggu.
Beberapa parpol secara internal telah memberlakukan sistem itu. Tetapi, kesepakatan internal itu berujung konflik di pengadilan karena Komisi
Pemilihan Umum hanya berpegang pada undang-undang. Kesepakatan internal partai lebih rendah kedudukan hukumnya daripada undang-undang.
Karena itu, ketika mereka yang bersepakat mengingkari kesepakatannya, KPU mementahkan kesepakatan internal dan memenangkan nomor urut yang
diberi tempat oleh undang-undang. Ada kekhawatiran bahwa membebaskan para calon bersaing memperoleh suara terbanyak membuka peluang bagi
orang-orang berduit membeli suara rakyat sehingga demokrasi dan keterwakilan kehilangan makna. Kekhawatiran ini tidak beralasan. Rakyat tidak
semuanya memilih karena uang. Nereka memilih karena suka. Bila seseorang menebar uang kepada semua pemilih dan kemudian memenangi suara
terbanyak karena rakyat suka, tidak ada salahnya. Paling tidak dia memenuhi syarat yang paling hakiki, yaitu didukung suara pemilih terbanyak.
Kedaulatan rakyat terpenuhi. Daripada rakyat tidak merasa memilih, tetapi seseorang bisa duduk di kursi DPR/DPRD karena nomor urut menetapkan
seseorang menjadi wakil rakyat dari daerah tertentu. !ni menyalahi asas kedaulatan rakyat.
Sistem suara terbanyak sesungguhnya memenuhi asas kompetisi dan kemenangan. Kemenangan sebuah kompetisi harus ditentukan keunggulan
kuantitatif. Adalah tidak masuk akal ketika seorang calon yang perolehan suaranya lebih rendah dinyatakan sebagai pemenang karena berada pada
nomor urut yang lebih baik. Sistem suara terbanyak tidak ada kaitannya sama sekali dengan sistem federalisme atau distrik. Suara terbanyak, dalam


11
Benni Inayatullah, Suara Terbanyak dan Konflik Hukum, Jurnal Nasional, 27 Agustus 2008


17
sistem apa pun, adalah esensi dari kemenangan dalam sebuah pemilu.
12

Pilihan partai-partai yang beralih ke suara terbanyak paling tidak memperlihatkan bahwa dalam soal legislasi para wakil rakyat yang merupakan
orang-orang partai berpikiran pendek. Nereka tidak melihat jauh ke depan ketika menyepakati sebuah undang-undang. Nereka setuju dengan sistem
nomor urut dan 30¾ BPP, tetapi mereka sendiri yang menganulirnya secara internal. Nengapa? Karena suara terbanyak ternyata mampu
menggelorakan mesin partai.
Agar tidak membuka ruang abu-abu bagi kepastian hukum, banyak kalangan menganjurkan DPR agar mengamendemen secara terbatas UU
Pemilu No 10/2008. Paling tidak ditambahkan satu kalimat bahwa 'KPU membuka ruang bagi partai-partai memberlakukan kesepakatan internal dalam
menentukan calon terpilih'. Dengan hanya satu kalimat itu, sengketa tentang kedudukan dan konstruksi hukum diselesaikan.
Sistem nomor urut yang selama ini disukai parpol adalah senjata ampuh yang melestarikan hegemoni partai. Terutama hegemoni segelintir elite
partai yang duduk di kepengurusan. Tanpa bersusah payah, mereka dengan mudah menjadi anggota DPR/DPRD walaupun yang memilih tidak ada.
Seperti banyak juga diketahui, sistem nomor urut menjadi ajang korupsi politik karena mereka yang memiliki uang membayar partai untuk
memperoleh nomor-nomor prioritas. Sistem itu juga menyebabkan ada sejumlah cukong politik yang terus-menerus diperas parpol. Karena itu, sistem
suara terbanyak adalah pilihan yang paling bagus. Karena yang menjadi anggota DPR/DPRD adalah mereka yang betul-betul memenangi mayoritas
suara pemilih. Di sini pemilu menemukan hakikatnya. Yaitu memilih, bukan menunjuk.
13

Akhirnya suara rakyat dalam pemilu kini dihormati, menyusul Keputusan Nahkamah Konstitusi yang membatalkan Pasal 21+ Undang-Undang
Nomor 10 Tahun 2008. Dengan demikian, calon anggota legislatif terpilih pada Pemilu 2009 tidak bisa berdasarkan nomor urut, tetapi harus meraih
suara terbanyak. Putusan NK itu menanggapi permohonan uji materi yang diajukan Nohammad Sholeh, Sutjipto, Septi Notariana, dan Jose Dima S.
Sholeh adalah caleg dari PD!-P untuk DPRD Jawa Timur. Sutjipto dan Septi adalah caleg dari Partai Demokrat untuk DPR. Jose adalah warga negara
biasa. NK hanya mengabulkan permohonan mereka yang terkait penentuan caleg terpilih.
1+

NK menyatakan, Pasal 21+ bertentangan dengan makna substantif kedaulatan rakyat. Pasal 21+ Huruf a-e menyatakan, "Calon terpilih adalah
calon yang mendapatkan suara di atas 30 persen BPP, atau menempati nomor urut kecil jika tidak memperoleh 30 persen BPP, atau menempati nomor
urut kecil jika memperoleh BPP."
Nenurut NK, ketentuan Pasal 21+ inkonstitusional karena bertentangan dengan makna substantif kedaulatan rakyat dan bertentangan dengan
Pasal 28 D Ayat 1 UUD 19+5. Penetapan caleg terpilih berdasarkan nomor urut adalah pelanggaran kedaulatan rakyat jika kehendak rakyat tidak
diindahkan dalam penetapan caleg.
NK menilai kedaulatan rakyat dan keadilan akan terganggu. Jika ada dua caleg yang mendapatkan suara yang jauh berbeda ekstrem, terpaksa
caleg yang mendapatkan suara terbanyak dikalahkan caleg yang mendapatkan suara kecil, tetapi nomor urut lebih kecil. NK juga menyatakan, memberi
hak kepada caleg terpilih sesuai nomor urut sama artinya dengan memasung suara rakyat untuk memilih caleg sesuai pilihannya dan mengabaikan
tingkat legitimasi caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak.
Putusan NK yang menetapkan caleg berdasarkan suara terbanyak akan memulihkan sistem demokrasi di !ndonesia karena membuka ruang bagi
persaingan para caleg di pusat dan daerah. Suara terbanyak menjadi satu kata kunci bagi setiap caleg agar dirinya memperoleh satu kursi kehormatan di
gedung dewan. Sehingga tidak dipungkiri antara sesama caleg pada satu parpol juga terjadi kompetisi yang ketat. Sebab, jumlah caleg memang cukup
banyak, akibatnya mereka harus menggunakan segala cara baik yang halal maupun yang haram untuk bisa mendapat suara terbanyak. Akhirnya,
dengan adanya putusan NK ini terjawab sudah satu persoalan khususnya mengenai penetapan calon terpilih.

12
Lihat Pemberitaan Harian Media Indnesia, Dari Nomor Urut ke Suara Terbanyak, Selasa, 12 Agustus 2008
13
Lihat Pemberitaan Harian Media Indonesia, Beralih ke Suara Terbanyak, Selasa, 19 Agustus 2008
14
Lihat Pemberitaan Harian Kompas, Caleg Terpilih oleh Suara Terbanyak

18
Persoalan lainnya adalah mengenai pemberian tanda dan keabsahan suara pada surat suara. UU Pemilu memang tidak tegas menyebutkan cara
pemberian suara. Secara umum disebutkan pemberian suara dilakukan dengan memberikan tanda satu kali pada surat suara. Pemberian tanda itu
berdasarkan prinsip kemudahan pemilih, akurasi dalam penghitungan suara, dan efisien dalam penyelenggaraan pemilu. Nencentang ataupun melubangi
surat suara adalah tanda pemberian suara. Tanda hanyalah sarana. Sarana tidak boleh mencederai atau malah meniadakan hak konstitusi rakyat. Hak
demokrasi rakyat tidak boleh dilenyapkan atau hangus hanya karena hal-hal teknis administratif.
Sejak pemilu pertama di era Orde Baru tahun 19/1 hingga pemilu terakhir tahun 200+, KPU menerapkan cara mencoblos. Nasyarakat sudah
familiar dengan cara itu. Tapi kini KPU dan DPR hendak mengubahnya dengan cara mencentang pada Pemilu 2009. Perubahan itu sah-sah saja, tapi KPU
perlu mempertimbangkan secara saksama. Jumlah pemilih pada Pemilu 2009 sekitar 1/+ juta. !tu berarti ada penambahan pemilih sekitar 30 juta
dibandingkan dengan Pemilu 200+ yang diikuti 1++ juta pemilih. Pemilih 1++ juta itu sudah familiar dengan sistem mencoblos, sedangkan 30 juta pemilih
baru relatif lebih berpendidikan sehingga mudah mengikuti cara centang ataupun coblos.
15

Nengubah cara pemberian suara bukanlah tabu. Sebagian orang beranggapan mencoblos memperlihatkan bangsa yang kurang terdidik.
Sebaliknya mencentang lebih mencitrakan bangsa yang kian beradab. Tapi perubahan perlu dilakukan secara gradual sehingga tidak berakibat pada
hangusnya hak rakyat. KPU harus memilih cara yang paling baik. Nisalnya, pemberian suara dengan cara mencentang, tapi mencoblos tidak dilarang.
Artinya, memberi pilihan kepada pemilih sesuai tingkat kecerdasan masing-masing.
Nencentang, mencoblos, ataupun cara lain tetap hanyalah sarana pemberian suara. Yang utama adalah melindungi hak konstitusional rakyat
agar tidak hangus oleh aturan teknis. Kita perlu mengingatkan KPU agar tidak mempersulit hal yang sebenarnya mudah. Nenerapkan sistem baru perlu
sosialisasi, sesuatu yang selama ini sering terlambat dilakukan KPU. KPU masih punya segudang tugas yang semuanya butuh sosialisasi yang serius.
Kendatipun KPU telah menetapkan mengenai pemberian tanda dan keabsahan pada surat suara, ternyata belum menuntaskan persoalan
pemberian tanda dan keabsahan pada surat suara itu sendiri. Yang akhirnya kebingungan itu dijawab oleh pemerintah dengan menerbitkan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2009 . Perppu ini menjawab kebingungan, apakah kelak mencoblos atau mencontreng,
apakah memilih tanda gambar atau memilih orang atau memilih keduanya. Sebuah kebingunan yang diakibatkan oleh tradisi. Tradisi mencoblos
merupakan tradisi yang panjang. Sejak pemilu pertama 1955, mencobloslah yang rakyat tahu. Rakyat membahasakan hari pemilu sebagai hari
pencoblosan. Nemilih adalah mencoblos. Lalu dengan gagahnya DPR mengubahnya menjadi mencontreng. Tidak mudah mengubah apa yang telah
tertanam puluhan tahun, terlebih lagi bila sosialisasi buruk. Hasilnya, pemberian tanda pada kertas suara itu jelas belum sepenuhnya dipahami pemilih.
Buktinya, dalam sejumlah simulasi, banyak kesalahan dalam memberi tanda. !tu disebabkan surat suara yang ditandai dua kali semuanya sah. !tulah
salah satu substansi Perppu Nomor 1 Tahun 2009 yang ditandatangani Presiden pada 26 Februari untuk menggantikan Undang-Undang Nomor 10 Tahun
2008 mengenai Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD.
16

Selain dengan persoalan-persoalan diatas, tahapan pendaftaran pemilih adalah tahapan penting dalam rangkaian tahapan pemilu. !a adalah roh
dari sebuah demokrasi. Proses demokrasi seakan tidak punya arti secara substantif ketika tingkat partisipasi politiknya rendah. Kecenderungan
menurunnya tingkat partisipasi politik sebenarnya juga merupakan bentuk turunnya keterlibatan politik (political engagement) warga negara yang
mencakup ketertarikan pada politik, informasi politik, dan diskusi politik.
1/

Secara umum, ketidakhadiran sebagian masyarakat dalam memberikan suaranya dalam pemilu dan pilkada dapat dikategorikan atas dua
kelompok. Pertama, karena faktor teknis seperti tidak terdaftar sebagai pemilih, tidak memperoleh kartu pemilih, dan alasan-alasan lain yang bersumber
pada kekacauan manajemen pemilihan. Kedua, karena faktor politik seperti kekecewaan terhadap partai, kandidat yang diajukan partai, dan
ketidakpercayaan terhadap kemampuan pemilu dan pilkada mengubah kehidupan masyarakat. Hanya, data mereka yang tidak memilih sering tidak
tersedia karena alasan teknis dan masyarakat golput karena faktor politik. Golput karena faktor teknis sebenarnya tak perlu dikhawatirkan karena hal itu

15
Baca Harian Media Indonesia, 13 September 2008
16
Baca juga Harian Media Indonesia, Menyelamatkan Suara Rakyat, Rabu, 04 Maret 2009
17
Lihat Tajuk Rencana, Harian Kompas, Sabtu, 20 September 2008

19
bisa berkurang jika kualitas manajemen pemilu dan pilkada dibenahi oleh komisi penyelenggara pemilihan. Penyebutan golput pun tidak tepat karena
istilah yang berasal dari frasa "golongan putih" itu ditujukan bagi mereka yang tidak menggunakan hak pilih karena kecewa dengan sistem politik yang
berlaku. Karena itu, yang tampaknya perlu menjadi perhatian adalah fenomena tidak menggunakan hak pilih akibat kekecewaan terhadap semua faktor
yang terkait pemilu dan pilkada.
18

Golput memang selalu menjadi fenomena menjelang pemilu. Golput dibicarakan, disudutkan, dan dihambat, tapi banyak juga yang mendukung.
Tidak terkecuali pada Pemilu 2009. Lebih-lebih, ketika golput dianjurkan tokoh politik sekaliber Gus Dur. Naka, bermacam cara pun digunakan untuk
melawan anjuran itu. Dari mulai mengampanyekan bahwa golput tidak bertanggung jawab hingga meminta ulama mengeluarkan fatwa haram untuk
golput. Namun, itu baru upaya menghambat perilaku golput untuk satu jenis, yakni mereka yang memutuskan golput karena pilihan politik. Untuk
kategori golput yang satunya lagi, yang justru lebih besar potensinya, belum banyak usaha dilakukan untuk meminimalkannya.
19

!tulah golput yang terjadi karena faktor administratif. Golput administratif adalah warga negara yang sebenarnya sangat ingin menggunakan hak
pilih, tapi terganjal oleh ketidakcermatan administrasi. Ada dua hal yang memicu munculnya golput administratif ini. Kedua-duanya terjadi karena
buruknya administrasi dari negara. Yaitu mereka menjadi golput karena tidak terdaftar dan terpaksa golput karena tidak mengerti cara memberikan
tanda pada pilihan partai. Dengan kenyataan seperti itu, kita layak khawatir mutu demokrasi akan menjadi rendah. Kalau upaya yang bersifat segera dan
cermat untuk menangani golput administratif itu tidak dilakukan, berarti negara sedang mengebiri hak jutaan rakyat yang memang berniat untuk
menggunakan hak pilih. !tu sama saja dengan mengamputasi demokrasi, karena basis dari demokrasi adalah suara rakyat. Sebaliknya, tidak perlu
mengkhawatirkan secara berlebihan jenis golput karena kesadaran politik. Sebab, di samping langkah itu adalah hak demokrasi, jumlah mereka pun
tidak signifikan. Justru golput administratif, akibat buruknya negara mengurus administrasi pelaksanaan pemilu, yang harus dicegah.
Selanjutnya persoalan mengenai waktu yang dialokasikan bagi Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) untuk mengecek suara sah
menjadi cukup lama. Apalagi jika pemberian suara dilakukan dengan menggunakan metode pencontrengan dengan pulpen. Bisa dipastikan bahwa
pemungutan suara dan penghitungan suara pada hari H pemilihan akan berlangsung sampai malam hari bahkan sampai keesokan harinya. Pengecekan
itu bisa berlangsung lama karena petugas penghitungan kerap mengalami kebingungan dalam menetapkan suara sah tersebut. Karena petugas harus
mengamati surat suara dengan tingkat kehati-hatian yang ekstra.
20

Dari itu, KPU harus menyiapkan petugas KPPS yang berkualitas dan memiliki kapasitas yang cukup dalam melaksanakan tugas. Hal itu menjadi
titik penting, karena kepentingan partai politik banyak terjadi di TPS. Sayangnya, tidak ada anggaran pemilu dan agenda melaksanakan pelatihan untuk
itu.
21

Selain permasalahan-permasalahan tersebut diatas, namun yang pasti pemilu 9 April sungguh berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya.
Sebab pada Pemilu 2009, yang terpilih sebagai anggota DPR R!, Provinsi, Kabupaten/Kota tidak lagi berdasarkan nomor urut partai, tapi mereka yang
mendapatkan suara terbanyak akan langsung terpilih. !tu berarti, calon anggota legislatif yang berada pada nomor urut paling atas seperti nomor satu
atau dua, belum tentu akan lolos menjadi anggota dewan jika suara mereka kalah banyak dengan nomor urut di bawahnya. Beberapa perbedaan
tersebut adalah : Cara menandai pada Surat Suara, Berlakunya Parliamentary Threshold (PT) untuk penetapan kursi, di DPRR!, Berlakunya mekanisme
suara terbanyak dalam penetapan Calon Anggota DPR dan DPRD, Berlakunya Afirmatif Action 30¾ keterwakilan perempuan, Nasa kampanye yang
cukup panjang, yaitu selama 9 bulan / hari.



18
Lihat juga Harian Kompas, Golput dan Pemilu 2009 , 30 Juni 2008
19
Harian Media Indonesia, Golput Administratif yang Mengkhawatirkan, Selasa, 13 Januari 2009
20
Jeirry Sumampow, 'Mencontreng Perlambat Pemungutan Suara Pemilu 2009' Senin, 27 Oktobr 2008, www.indonesiaontime.com
21
Lihat juga Jeirry Sumampow dalam “KPU Wajib Menyiapkan Petugas KPPS Berkualitas”, Harian Media Indonesia, Kamis, 19 Maret 2009

20
Dinamika Politik di Kabupaten Labuhanbatu
politik lokal di Kabupaten Labuhanbatu terasa sangat dipengaruhi oleh kepengurusan partai di tingkat
pusat. Segala sesuatu yang bersifat kebijakan partai, ditentukan dengan sentralistis oleh kepengurusan
dtingkat pusat. Dalam hal kewenangan untuk mengambil tindakan, kepengurusan partai politik di tingkat
daerah hanya akan berwenang mengambil tindakan untuk hal-hal yang menyangkut lokal di wilayah tersebut. Dilihat dari dinamika politik menjelang
Pemilu 2009, dinamika lokal menunjukkan pengerucutan yang sama dengan yang terjadi di tingkat nasional.
Nenjelang pelaksanaan Pemilu 2009 Kabupaten Labuhanbatu berpenduduk satu juta jiwa lebih. Sesuai dengan ketentuan UU Pemilu, dengan
jumlah penduduk satu juta jiwa lebih ini maka alokasi kursi DPRD Kabupaten Labuhanbatu berjumlah 50. Terjadi penambahan 5 kursi dibanding Pemilu
200+ lalu.
Kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Kecamatan Rantau Utara (98.+95 jiwa) dengan kepadatan 8/5,/+ jiwa per Km
2
.
Sedangkan Kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikat adalah Panai Tengah (21.588 jiwa) dengan kepadatan ++,63 jiwa per Km
2
. Penduduk
paling padat terdapat di Kecamatan Rantau Selatan dengan kepadatan 922,68 jiwa per Km
2
. Sedangkan Kecamatan dengan kepadatan penduduk
terkecil adalah Aek Natas dengan kepadatan +3,+6 jiwa per Km
2
.
Dari 22 kecamatan ini, pada Pemilu 2009 dikelompokkan menjadi 5 wilayah daerah pemilihan. Neskipun jumlah daerah pemilihan tetap sama
seperti Pemilu 200+, namun dalam Pemilu 2009 terjadi perubahan gabungan kecamatan, seperti Kecamatan Kampung Rakyat yang dulunya adalah
tergabung dalam daerah pemilihan Labuhanbatu 1, kini tergabung dalam daerah pemilihan Labuhanbatu 2. Hal ini mengakibatkan terjadinya
penambahan 1 kecamatan di daerah pemilihan Labuhanbatu 2 yang dulunya terdiri dari + kecamatan kini menjadi 5. Kemudian Kecamatan Bilah Barat
yang dulunya tergabung dalam daerah pemilihan Labuhanbatu 3, kini tergabung dalam daerah pemilihan Labuhanbatu 1. Labuhanbatu 3 yang dulunya
terdiri dari 5 kecamatan kini berkurang menjadi + kecamatan. Demikian juga halnya dengan daerah pemilihan Labuhanbatu 2 yang dulunya terdiri dari +
kecamatan, kini bertambah menjadi 5 kecamatan yang dikarenakan masuknya kecamatan Kampung Rakyat ke dalam daerah pemilihan Labuhanbatu 2.
Terjadinya perpindahan gabungan kecamatan ini dikarenakan untuk penyesuaian wilayah masing-masing di tiap kabupaten pemekaran. Selain
dikarenakan perkembangan penduduk, bongkar pasangnya kecamatan dalam daerah pemilihan ini jelas berdampak pada jumlah alokasi kursi tiap
daearah pemilihan.
Selanjutnya, berdasarkan pemekaran wilayah pula, maka kecamatan yang tergabung dalam daerah pemilihan Labuhanbatu 1 dan + adalah
merupakan wilayah kecamatan dari Kabupaten Labuhanbatu (induk). Demikian juga dengan wilayah Kabupaten Labuhanbatu Utara yang merupakan
gabungan dari daerah pemilihan Labuhanbatu 3 dan 5. Kecuali Kabupaten Labuhanbatu Selatan wilayah kecamatannya hanya kecamatan-kecamatan
yang ada dalam daerah pemilihan Labuhanbatu 2 saja tidak mengalami penggabungan dengan daerah pemilihan lain
22
.
Kelima wilayah daerah pemilihan dengan alokasi kursi pada Pemilu 2009 tersebut : Labuhanbatu 1 (jumlah pemilih 163.251 orang di Kecamatan
Bilah Barat, Rantau Utara, Rantau Selatan, Bilah Hulu, dan Pangkatan, memperbutkan 1+ kursi); Labuhanbatu 2 (jumlah pemilih 159.1+8 orang di
Kecamatan Kota Pinang, Silangkitang, Torgamba, Sungai Kanan dan Kampung Rakyat, memperebutkan 12 kursi); Labuhanbatu 3 (jumlah pemilih 93.1+8
orang di Kecamatan NA !X-X, Narbau, Aek Kuo dan Aek Natas, memperebutkan / kursi); Labuhanbatu + (jumlah pemilih 92.28+ orang di Kecamatan
Bilah Hilir, Panai Hulu, Panai Tengah dan Panai Hilir, memperebutkan / kursi); Labuhanbatu 5 (jumlah pemilih 116.250 orang di Kecamatan Kulauh Hulu,
Kualuh Selatan, Kualuh Hilir dan Kualuh Ledong, memperebutkan 10 kursi).
23

Jika dilihat dari alokasi kursi tiap daerah pemilihan, maka terjadi ketidak sesuaian dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan KPU Nomor 1/
Tahun 2008 tentang Pedoman Penetapan Alokasi Kursi Dan Daerah Pemilihan Anggota DPRD Provinsi, Dan DPRD Kabupaten/Kota Dalam Pemilu Tahun

22
Lihat cakupan wilayah masing-masing Kabupaten pada UU No 22/2008 tentang Pembentukan Kabupaten Labuhanbatu Selatan dan UU No 23/2008 tentang
Pembentukan Kabupaten Labuhanbatu Utara
23
Pengelompokan Kabupaten Labuhanbatu menjadi 5 wilayah pemilihan adalah sesuai dengan keputusan KPU untuk Pemilu tahun 2009, yang diolah dengan data KPU
Labuhanbatu
Dinamika

21
2009 yang menyatakan bahwa alokasi kursi pada setiap daerah pemilihan anggota DPRD Kabupaten/Kota ditentukan paling sedikit 3 kursi dan paling
banyak 12 kursi.
2+
Namun anehnya tidak ada satu parpol pun yang interupsi.
Dilihat dari peta geografis, Kabupaten Labuhanbatu yang memiliki luas wilayah 922.318 Ha (9.223,18 Km
2
) ini 19/./95 Ha diantaranya adalah
dipergunakan sebagai Perkebunan Rakyat (Karet 6/.568 Ha, Kelapa sawit 130.22/ Ha, Kelapa 10.252 Ha, Coklat 889 Ha, Pinang 136 Ha, Kopi +9 Ha,
Aren 1+ Ha) dan Perkebunan Besar 2+2.02/,82 Ha (Karet 29.813,08 Ha, Kelapa Sawit 212.21+,/+ Ha, Coklat 101,13 Ha) serta Pertanian (Padi Sawah
6/.1+2 Ha, Padi Ladang 3.562 Ha, Jagung 868 Ha, Kedelai /50 Ha, Ubi Kayu 303 Ha, Ubi Jalar 165 Ha, Kacang Tanah 125 Ha, Kacang Hijau 106 Ha).
25

Dari luas ini Kabupaten Labuhanbatu 61,9+ persen wilayahnya adalah perkebunan dan /,92 persen adalah pertanian.
Wilayah Kabupaten Labuhanbatu juga memiliki panjang garis pantai /5 Km dan cukup potensial sebagai sumber daya perikanan baik air tawar
maupun air laut. Perairan pantai dengan ciri khasnya hutan mangrove merupakan perairan penting tempat berkembangnya ikan dan udang yang masih
memungkinkan untuk dijadikan areal pertambakan. Saat ini areal mangrove yang sudah diolah menjadi kawasan tambak terdapat di Kecamatan Kualuh
Leidong dan Panai Hilir.
26

Pada tahun 2006 jumlah perusahanaan perkebunan besar di Kabupaten Labuhanbatu adalah sebanyak /8 perusahaan perkebunan yang terdiri
dari 50 Perusahaan Besar Swasta Nasional, 11 Perusahaan Besar Swasta Asing, dan 1/ Perkebunan milik PTPN. Berdasarkan sebarannya PBSN tersebar
di 1/ kecamatan, yakni : Kualuh Ledong, Kualuh Hulu, Aek Natas, Aek Kuo, NA !X-X, Narbau, Bilah Barat, Rantau Selatan, Bilah Hulu, Pangkatan, Bilah
Hilir, Panai Tengah, Kampung Rakyat, Kota Pinang, Torgamba, Sei Kanan, dan Silangkitang. PBSA tersebar di / kecamatan, yakni : Aek Natas, Bilah Hilir,
Kampung Rakyat, Pangkatan, Kota Pinang, dan Torgamba. PTPN !!! tersebar di Kecamatan Kualuh Hulu, Narbau, Bilah Hulu, Kota Pinang dan
Torgamba. Sedangkan PTPN !v tersebar di Kecamatan NA !X-X dan Panai Hulu. Perusahaan perkebunan besar yang terbanyak terdapat di Kecamatan
Torgamba yaitu sebanyak 1+ perusahaan/perkebunan.
2/

Pada tahun 2006, jumlah industri kecil dan kerajinan rumah tangga di Labuhanbatu sebanyak 1.339 perusahaan yang menyerap tenaga kerja
sebanyak +.+55 orang. !ndustri kecil dan kerajinan rumah tangga ini paling banyak terdapat di Kecamatan Rantau Utara yaitu sebanyak 399
perusahaan.
28
Jumlah Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Labuhanbatu pada tahun 2006 sebanyak 9.819 orang. Sebagian besar PNS tersebut bekerja
sebagai guru yaitu sebanyak /6,89 ¾, kemudian tenaga strategis sebanyak 15,/3 ¾ dan tenaga medis sebanyak /,/+ ¾.
29

Kendatipun Kabupaten Labuhanbatu merupakan daerah perkebunan dan pertanian namun ¨incaran" Partai Buruh yang mengklaim mempunyai
basis dukungan di kalangan para buruh tidak berhasil. Hal ini dapat dilihat dari hasil perolehan suara sah Partai Buruh di Kabupaten Labuhanbatu pada
Pemilu 2009 yang hanya memperoleh +.1/6 suara (0,9+¾). Angka perolehan suara sah ini menurun dibanding dengan hasil perolehan suara sah pada
Pemilu 200+ (Partai Buruh kala itu PBSD) yang memperoleh 8.525 (2,0+¾). Namun demikian, para pekerja perkebunan ini pada pemilu sebelum
Reformasi adalah para simpatisan Golkar.
Sebelum adanya Putusan NK mengenai calon terpilih dengan suara terbanyak, dalam penyusunan daftar calon, para pimpinan parpol
kelakuannya masih primitif. Neskipun telah ada Afirmatif Action 30¾ keterwakilan perempuan, namun dalam proses penyusunan daftar caleg, unsur
kekeluargaan-sanak familiy-kekerabatan masih sangat kental.
!ni dapat dilihat dari Daftar Caleg yang disusun oleh tiap parpol menempatkan orang-orang yang dekat dengan pimpinan parpol dalam posisi
nomor urut kecil. Setiap caleg bersaing untuk di posisi nomor jadi. Dan tidak sedikit ongkos yang dikeluarkan untuk mendapatkan posisi pada nomor
jadi. Hal ini yang menjadi salah satu alasan caleg Golkar melakukan protes yang ditandai dengan pembakaran jaket partai berlambang pohon Beringin

24
Lihat Peraturan KPU No 17/2008
25
Lihat situs www.bappedalabuhanbatu.com pada Potensi Wilayah dalam BPS : Labuhanbatu Dalam Angka 2005
26
Lihat juga Potensi Wilayah dalam situs www.bappedalabuhanbatu.com
27
Sumber Diperindag Labuhanbatu 2007
28
Lihat Situs resmi Pemkab Labuhanbatu dalam Kawasan Industri pada Infrastruktur, www.labuhanbatukab.go.id
29
Pemkab Labuhanbatu, Labuhanbatu Dalam Angka 2007

22
ini. Kendati demikian, di Kabupaten Labuhanbatu partai penguasa rezim Orde Baru ini merupakan partai yang taat terhadap Afirmatif Action 30¾
keterwakilan perempuan. Bahkan pada daerah pemilihan Labuhanbatu 1 menempatkan caleg perempuannya di nomor urut 1.
36 parpol sebagai peserta Pemilu 2009 di Kabupaten Labuhanbatu mengusung sebanyak 1.08+ caleg (/+0 laki-laki, 33+ perempuan) yang
tersebar di lima daerah pemilihan. Parpol pengusung caleg terbanyak yaitu PKS (59 caleg, +2 laki-laki dan 1/ perempuan), dan PD! Perjuangan (59
caleg, +1 laki-laki dan 18 perempuan). Sedangkan parpol yang paling sedikit mengusung calegnya adalah Partai Nerdeka (3 caleg, 2 laki-laki dan 1
perempuan). 3 caleg yang diusung oleh Partai Nerdeka ini tersebar di daerah pemilihan Labuhanbatu 3 dan Labuhanbatu 5.
Selanjutnya, partai selain Golkar yang juga mengajukan caleg perempuan di nomor urut 1 antara lain : Hanura (Labuhanbatu 2), PPP!
(Labuhanbatu +), Gerindra (Labuhanbatu 2), PKP! (Labuhanbatu 1), PAN (Labuhanbatu +), P!B (Labuhanbatu 5), Kedaulatan (Labuhanbatu 3), PP!
(Labuhanbatu 1), PN! Narhaenisme (Labuhanbatu 3 dan 5), Pakar Pangan (Labuhanbatu 1), RepublikaN (Labuhanbatu 5), Pelopor (Labuhanbatu 1),
Patriot (Labuhanbatu 1), PPNU! (Labuhanbatu 1), dan Partai Buruh (Labuhanbatu 1).
30

Selain itu, para anggota DPRD Kabupaten Labuhanbatu yang masih aktif yang mencalonkan diri kembali sebanyak 29 orang. Namun ternyata
pencalonan mereka ini dinilai kurang laku. Buktinya dari 29 caleg incumbent ini hanya 10 orang lah yang terpilih kembali dengan mempeoleh suara
terbanyak.
Para caleg yang menilai ¨kurang berfihak" atas penyusunan daftar calon akhirnya mendapat angin segar setelah adanya putusan NK yang
menetapkan calon terpilih bukan lagi berdasaarkan nomor urut melainkan dengan perolehan suara terbanyak. !ni yang membuat masing-masing caleg
saling berlomba-lomba untuk mencari simpati masyarakat. Persaingan bukan hanya antar parpol. Nelainkan dalam internal parpol. Tidak sedikit caleg
yang berobah menjadi donatur dadakan. Sumbang sana, sumbang sini. Hanya demi menggaet simpati pemilih. Bahkan saling sikut juga kerap dilakukan
antar calon dalam satu partai dan satu daerah pemilihan. Seperti yang terjadi di kecamatan Silangkitang (daerah pemilihan Labuhanbatu 2). Nassa
pendukung antar calon dalam satu partai tak jarang saling sindir bahkan saling ejek bahkan berbau sara seperti kalimat ¨ono sego kok milih kerak, ono
wong Jowo kok milih wong Batak".
31
Kalimat sindiran bahkan ejekan berbau sara ini muncul dikarenakan kehadiran salah seorang caleg perempuan
yang bersuku Batak yang ternyata cukup mendapat simpati dari masyarakat pemilih di kecamatan Silangkitang tersebut. Hal ini tentu saja membuat
caleg yang berasal dan berdomisili di kecamatan tersebut yang kebetulan suku Jawa menjadi goyah, terlebih caleg tersebut memiliki nomor urut kecil
dan juga kecamatan Silangkitang memiliki penduduk yang bermayoritas adalah suku Jawa.
Berlomba-lomba untuk mencari simpati dari masyarakat pemilih dengan segala cara ternyata membuat caleg yang saling berkompetisi
sepertinya lena sehingga terlupa mempertanyakan status masyarakat yang telah digalangnya apakah telah terdaftar sebagai pemilih atau tidak. !ni yang
menjadi keterkejuatan luar biasa bagi caleg ketika mengetahui warga yang diklaimnya sebagai pendukungnya tidak mendapat surat undangan untuk
memilih di TPS.
Dalam pelaksanaan Pemilu 2009 jumlah pemilih terdaftar Kabupaten Labuhanbatu berjumlah 62+.081 orang (laki-laki 315.++6, perempuan
308.635). Pemilih terbanyak pada Pemilu 2009 di Kabupaten Labuhanbatu terdapat di Kecamatan Torgamba dengan jumlah 5+.++6 pemilih (laki-laki
28.021, perempuan 26.+25). Sedangkan Kecamatan Aek Kuo merupakan kecamatan yang memiliki jumlah pemilih terkecil yaitu 1/.661 pemilih (laki-laki
8.851, perempuan 8.810).
32

Walaupun secara global jumlah pemilih Kabupaten Labuhanbatu pada Pemilu Legislatif 2009 mengalami penambahan sebanyak 16.216 pemilih
(2,6/¾) dari Pilgubsu 2008, namun dilihat jumlah pemilih ditingkat kelurahan/desa ternyata mengalami pengurangan sebanyak 11.826 pemilih yang
tersebar di /+ kelurahan/desa yang terdapat di 19 kecamatan.
Pada pemilu 2009 tercatat sebanyak 163.38/ (26,18 persen) pemilih terdaftar yang tidak menggunakan hak pilih diantaranya pemilih laki-laki

30
DCT Anggota Legislatif Labuhanbatu Tahun 2009
31
Pengakuan salah satu pendukung caleg di daerah pemilihan Labuhanbatu 2
32
Model A6, KPU Labuhanbatu

23
terdaftar sebanyak 8+.080 orang (13,+/¾) pemilih perempuan sebanyak /9.30/ orang (12,/1 persen) dari jumlah pemilih terdaftar. Artinya pemilih
perempuan cukup aktif untuk menggunakan hak pilihnya ke bilik suara dibanding pemilih laki-laki. Kecamatan yang paling rendah tingkat partisipasi
pemilihnya dalam menggunakan hak pilih adalah Rantau Utara yakni sebanyak 18.166 pemiih (35 persen) dari 52.08+ jumlah pemilih terdaftar.
Sedangkan kecamatan yang paling tinggi tingkat partisipasi pemilihnya dalam menggunakan hak pilih adalah Silangkitang yakni sebanyak 3.+52 pemilih
(19 persen) dari 1/.961 jumlah pemilih terdaftar.
33

Tingkat kesalahan yang mengakibatkan suara Anggota DPRD Kabupaten/Kota menjadi tidak sah terbesar terdapat di Kecamatan Panai Hilir
sebanyak 1.085 suara (8 persen) sedangkan tingkat persentase terkecil terdapat di Kecamatan Torgamba dan Rantau Utara (masing-masing 2 persen).
Untuk suara Anggota DPRD Provinsi tidak sah terbesar terdapat di Kecamatan Kulauh Hulu yakni 31.319 suara (15 persen). Sedangkan persentase
terkecil di Kecamatan Torgamba yakni 1.+39 suara (+ persen). Untuk suara Anggota DPR tidak sah terbesar terdapat di Kecamatan Silangkitang yakni
2.288 suara (1+ persen) dan yang terkecil adalah Kecamatan Aek Kuo 266 suara (2 persen). Sementara itu, untuk suara Anggota DPD tidak sah terbesar
terdapat di Kecamatan Silangkitang yaitu 3.36+ suara (23 persen) dan yang terkecil adalah Kecamatan Torgamba 2.062 suara (5 persen).
Dari total hasil perolehan suara Anggota DPRD Kabupaten Labuhanbatu Partai Golkar memperoleh suara terbanyak yaitu 58.0+1 (13,10 persen).
Dari perolehan suara sah ini, Partai Golkar memperoleh / kursi di DPRD Labuhanbatu. Sedangkan parpol yang memperoleh hasil paling sedikit adalah
Partai Nerdeka yaitu 1/ suara. Partai Sarikat !ndonesia dan Partai Persatuan Daerah tidak memperoleh suara sah hal ini dikarenakan kedua parpol
tersebut tidak ikut sebagai peserta Pemilu 2009 di Kabupaten Labuhanbatu.
Adapun parpol yang memperoleh kursi di DPRD Kabupaten Labuhanbatu antara lain : Partai Hanura (+ kursi), Partai Karya Peduli Bangsa (1
kursi), Partai Peduli Rakyat Nasional (2 kursi), Partai Keadilan Sejahtera (3 kursi), Partai Amanat Nasional (3 kursi), Partai Kebangkitan Bangsa (1 kursi),
Partai Natahari Bangsa (1 kursi), Golkar (/ kursi), Partai Persatuan Pembangunan (5 kursi), Partai Nasional Benteng Kerakyatan !ndonesia (1 kursi),
Partai Bulan Bintang (2 kursi), Partai Demokrasi !ndonesia Perjuangan (6 kursi), Partai Bintang Reformasi (5 kursi), Partai Patriot (1 kursi), Partai
Demokrat (/ kursi), dan Partai Kasih Demokrasi !ndonesia (1 kursi).
Dari 50 anggota DPRD Kabupaten Labuhanbatu ini hanya 5 perempuan (10 persen) dari yang menduduki di lembaga perwakilan yakni Golkar (3
orang), PD! Perjuangan (1 orang) dan PPP (1 orang). Hal ini dimungkinkan karena masih mengentalnya budaya patriarkhi yang masih mendominasi pola
perilaku pemilih.
Dalam perjalanannya pada tahapan, jadwal dan program pelaksanaan Pemilu 2009, selain tahapan rekapitulasi penghitungan hasil perolehan
suara, maka tahapan pendistribusian logistik merupakan permasalahan yang menonjol. Hal ini terlihat dari molornya logistik diterima ditingkat PPK dan
PPS dari schedule yang telah ada. Selain itu, pada pelaksanaan pemungutan suara ditemukannya surat suara dari Daerah Pemilihan lain yang nyasar.
Seperti yang terjadi di TPS v!!! Dusun Penantian, Desa Binanga Dua, Kecamatan Silangkitang. Di TPS tersebut ditemukan surat suara milik Dapil
Labuhanbatu !v. Sedangkan Kecamatan Silangkitang adalah merupakan bagian dari Dapil Labuhanbatu !!. Surat suara yang nyasar ini sempat
tercontreng oleh pemilih berjumlah 16 lembar. Ditemukannya surat suara yang nyasar ini pertama kali oleh Limnas TPS saat mencontreng dibilik suara
yang merasa heran ketika melihat nama caleg yang akan dipilihnya ternyata tidak ada. Berdasarkan hal tersebut, maka disepakati oleh para saksi dan
juga KPPS untuk melakukan pembongkaran kotak suara. Hal ini diduga surat suara milik Dapil !v itu telah dipergunakan oleh pemilih sebelumnya dan
telah dimasukkan ke kotak suara. Setelah kotak suara dibongkar ternyata benar bahwa ditemukan 15 lembar surat suara milik dapil !v . Selanjutnya,
dilakukan pengecekan terhadap surat suara yang belum terpakai yang terletak dimeja KPPS dan benar ditemukan surat suara Dapil !v yang belum
terpakai yang masih terbungkus pelastik berjumlah sekitar tujuh puluhan lembar surat suara. Nengingat adanya surat suara yang telah terlanjur
dipergunakan oleh pemilih sbelumnya, maka para pemilih terahir dipanggil kembali untuk melakukan pemilihan ulang dengan menggunakan surat suara
Dapil !!. Selain itu, dicarikan surat suara dari TPS sekitar untuk memenuhi kebutuhan surat suara di TPS tersebut.
3+

Pada malam sebelum pelaksanaan pemungutan suara, terjadi dugaan praktik money politik yang dilakukan oleh salah satu caleg dari PPP. Dalam

33
Model DB1 DPRD Kabupaten
34
Hasil Pantauan TePI Indonesia

24
menyikapi dugaan permasalahan ini, Panwas dinilai lamban bahkan memunculkan kecurigaan bahwa ketua Panwaslu Kabupaten Labuhanbatu tidak
netral. Lambannya sikap panwaslu dalam menyikapi kasus ini sempat mendapat sorotan dari Polres Labuhanbatu.
35

Selanjutnya, pada pelaksanaan pemungutan suara juga ditemukan banyaknya TPS yang tidak mencantumkan Daftar Pemilih Tetap bahkan para
saksi parpol pun tidak membawa DPT seperti yang ditemui di TPS v! Kelurahan Ujung Bandar Kecamatan Rantau Selatan. Di lokasi TPS tersebut juga
ditemukan banyaknya warga yang mengaku tidak bisa menggukan hak pilihnya dengan alasan tidak terdaftar dalam DPT. Padahal warga tersebut
berdomisili puluhan tahun di lokasi tersebut dan pada Pilgugsu 2008 lalu terdaftar sebagai pemilih. Setelah pelaksanaan pemungutan suara,
pengembalian kotak suara beserta kelengkapannya pun dari TPS ke PPK juga telat. Hal ini menimbulkan kecurigaan sebahagian caleg.
Kemoloran waktu juga terjadi pada tahapan rekapitulasi penghitungan perolehan hasil suara di KPU Labuhanbatu. Hal ini dikarenakan masih
banyaknya kecamatan yang belum menyelesaikan rekapitulasi. Kendatipun KPU Labuhanbatu telah memberi penambahan waktu sebanyak dua hari
namun rekapitulasi di tingkat PPK belum juga selesai.
36

Setelah batas waktu yang diberikan oleh KPU Labuhanbatu kepada masing-masing PPK, maka KPU Labuhanbatu melaksanakan rekapitulasi
tanpa harus menunggu seluruh PPK menyerahkan kotak suara dan kelengkapannya. Niat baik dari KPU Labuhanbatu ini tetap aja dikritik oleh
sebahagian saksi yang tetap mencurigai kenapa sampai batasan waktu yang telah ditentukan belum seluruh PPK menyerahkan kotak suara beserta
kelengkapannya. Karena hingga hari Ninggu, 19 April 2009 baru 10 dari 22 kecamatan yang menyerahkan kotak suara dan kelengkapannya ke KPU
Labuhanbatu.
3/
Kecurigaan-kecurigaan yang muncul ini dinilai wajar, hal ini karenakan bahwa ditemukan di beberpa PPK kotak suara dalam kondisi tidak
bersegel.
38

Nungkin karena dipicu oleh kecurigaan, pada tahapan rekapitulasi mulai bermunculan interupsi yang dilontarkan oleh salah satu saksi parpol. Hal
ini terkait adanya dugaan penggelembungan suara yang dilakukan oleh salah satu parpol di Kecamatan Torgamba. Bahkan juga PPK Rantau Selatan
terpaksa menjadi pesakitan karna akhirnya kasus dugaan penghilangan suara salah satu parpol diperkarakan hingga Pengadilan Negri Rantauprapat.
Dari gelar perkara ini, ketua PPK Rantau Selatan divonis hukuman percobaan selama / bulan. Namun, pada tahapan rekapitulasi di KPU Labuhanbatu
sebahagian saksi yng hadir mengikuti sepertinya hanya mencatat ulang hasil perolehan suara yang dicakan oleh KPU Labuhanbatu demikian juga halnya
dengan panwaslu yang kehadirannya diruangan rekapitulasi seolah-olah terkesan seperti penonton. Hal ini sepertinya para saksi dan juga panwaslu
belum memiliki data pembanding.










35
Baca Harian Metro Rantau, Edisi Selasa 14 April 2009
36
Harian Seputar Indonesia Edisi Rabu, 15 April 2009
37
Baca juga Harian Seputar Indonesia Edisi Senin, 20 April 2009
38
Konfirmasi dengan salah satu anggota Panwaslu Kabupaten Labuhanbatu

25
Kesimpulan
putusan NK yang membatalkan penetapaan calon terpilih melalui perolehan suara terbanyak ternyata sangat
berdampak nya bagi para caleg yang berkompetisi. Demikian juga dampaknya sampai membias ke masyarakat peimlih.
Para caleg yang sebelumnya diusung oleh parpol dengan mnempati nomor urut kecil, menjadi gelisah. Kegelisahan itu
juga ditularkan ke masyarakat pemilih dengan melakukan isu-isu primordial dan bersifat provokatif. Hal ini dikarenakan persaingan antar caleg bukan
lagi hanya pada batasan antar parpol melainkan persaingan antar caleg dalam intren parpol untuk memperoleh suara terbanyak. Tak sedikit para caleg
yang berkompetesi untuk mencari dukungan dan simpatik melakukan segala macam cara. Nasyarakat pemilih juga sepertinya memanfaatkan situasi ini.
Yaitu dengan cara menerima segala bentuk bantuan yang diberikan oleh caleg, namun akhirnya belum tentu memilih si caleg tersebut. Hal ini berakibat
munculnya perilaku aneh para caleg yang tidak siap menerima kekalahan, seperti meminta kembali bantuan yang pernah diberikannya khususnya dalam
bentuk barang-barang seperti kompor, sound system/pengeras suara, baju seragam perwiritan, alat musik, tenda, mesin diesel, dll. Bahkan ada juga
caleg yang mengetahui bahwa perolehan suaranya tidak mencukupi membongkar kembali jembatan yang telah dibangunnya.
Dalam menggukan hak pilih, para pemilih lebih condong memilih caleg yang berasal dari daerah pemilihannya. Dengan alasan klasik untuk
memilih putra daerah. Sedangkan caleg incumbent ternyata kurang laku untuk dipilih lagi. Hal ini terlihat dari 29 caleg incumbent ternyata hanya 10
orang yang terpilih kembali dengan mendapatkan suara terbanyak.
Dalam pendistribusian logistik, terjadi ketidak tepatan waktu. Hal ini diduga karena adanya kesengajaan dari pihak divisi yang menangani
pendistribusian logistik KPU Labuhanbatu untuk tidak melakukan penelitian ulang surat suara di tingkat PPK dan PPS. Hal ini dapat terlihat ditemuinya
surat suara milik salah satu daerah pemilihan yang nyasar ke daerah pemilihan lainnya. Bahkan ketua Panwaslu Kabupaten Labuhanbatu ketika di
konformasi tidak menguasai PPS mana saja yang telah menerima logistik.
Pada pelaksanaan pemungutan suara, ditemukan dibeberapa TPS yang tidak mencantumkan DPT. Bahkan juga para saksi parpol di TPS tidak
memiliki DPT. Seperti yang terjadi di TPS v! Kelurahan Ujung Bandar, Kecamatan Rantau Selatan. Di lokasi TPS tersebut juga ditemukan banyaknya
warga yang mengaku tidak bisa menggukan hak pilihnya dengan alasan tidak terdaftar dalam DPT. Padahal warga tersebut berdomisili puluhan tahun di
lokasi tersebut dan pada Pilgugsu 2008 lalu terdaftar sebagai pemilih.
Demikian pula halnya dengan pengembalian kotak suara beserta kelengkapannya dari TPS ke PPK yang molor dari ketentuan. Ditambah lagi
dengan adanya temuan beberapa kotak suara di beberapa kecamatan yang tidak bersegel.
Kemoloran waktu juga terjadi pada tahapan rekapitulasi penghitungan perolehan suara di tingkat KPU Kabupaten. Hal ini dikarenakan belum
seluruh PPK menyelesaikan rekapitulasinya secara tepat waktu sehingga belum dapat mengantarkannya ke KPU Labuhanbatu. Pada tahapan ini juga
sebahagian saksi parpol terlihat seperti pencatat ulang hasil perolehan suara yang dicakan oleh KPU Labuhanbatu demikian juga halnya dengan
panwaslu yang kehadirannya seolah-olah seperti penonton. Hal ini sepertinya, saksi parpol dan juga pihak panwaslu belum memiliki data pembanding.






Adanya

26
R RE EK KA AP PI IT TU UL LA AS SI I C CA AL LE EG G D DP PR RD D K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U D DA AL LA AM M P PE EM MI IL LU U 2 20 00 09 9








27
P PE ER RS SE EN NT TA AS SE E K KE ET TE ER RW WA AK KI IL LA AN N C CA AL LE EG G P PE ER RE EM MP PU UA AN N T TI IA AP P P PA AR RP PO OL L
P PA AD DA A P PE EM MI IL LU U 2 20 00 09 9K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U









20%
22%
22%
26%
26%
26%
26%
27%
29%
29%
29%
29%
29%
30%
31%
31%
31%
31%
32%
32%
33%
33%
33%
34%
34%
35%
36%
36%
37%
38%
39%
40%
41%
42%
42%
45%
PAKAR PANGAN
PBB
BARNAS
PAN
PBR
GERINDRA
PPIB
PPIB
PPNUI
PKS
PKB
PIS
PPRN
PDP
PDIP
PKDI
GOLKAR
PKNU
PPP
PNBKI
HANURA
PPDI
PMERDEKA
DEMOKRAT
PDK
P.BURUH
PNI MARHAENISME
PATRIOT
KEDAULATAN
PDS
REPUBLIKAN
PKPI
PPPI
PELOPOR
PMB
PKPB

28
P PE ER RS SE EN NT TA AS SE E J JU UM ML LA AH H C CA AL LE EG G L LA AK KI I- -L LA AK KI I D DA AN N P PE ER RE EM MP PU UA AN N
P PA AD DA A P PE EM MI IL LU U 2 20 00 09 9 K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U












LAKI-LAKI
68%
PEREMPUAN
32%

29
P PE ER RS SE EN NT TA AS SE E K KE EA AN NG GG GO OT TA AA AN N D DP PR RD D K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U 2 20 00 09 9
B BE ER RD DA AS SA AR RK KA AN N G GE EN ND DE ER R













90%
10%
LAKI-LAKI
PEREMPUAN

30
P PE ER RB BA AN ND DI IN NG GA AN N P PE EM MI IL LI IH H T TE ER RD DA AF FT TA AR R
P PI IL LG GU UB BS SU U 2 20 00 08 8 D DE EG GA AN N P PI IL LE EG G 2 20 00 09 9 K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U



















31
R RE EK KA AP PI IT TU UL LA AS SI I K KE EL LU UR RA AH HA AN N / / D DE ES SA A D DE EN NG GA AN N P PE EM MI IL LI IH H B BE ER RK KU UR RA AN NG G
B BE ER RD DA AS SA AR RK KA AN N J JU UM ML LA AH H P PE EM MI IL LI IH H T TE ER RD DA AF FT TA AR R P PI IL LG GU UB BS SU U 2 20 00 08 8 D DE EN NG GA AN N
J JU UM ML LA AH H P PE EM MI IL LI IH H T TE ER RD DA AF FT TA AR R P PI IL LE EG G 2 20 00 09 9 K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U


32
H HA AS SI IL L P PE ER RO OL LE EH HA AN N S SU UA AR RA A S SA AH H T TI IA AP P P PA AR RP PO OL L
U UN NT TU UK K S SU UA AR RA A A AN NG GG GO OT TA A D DP PR RD D K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U
P PA AD DA A P PE EM MI IL LU U L LE EG GI IS SL LA AT TI IF F 2 20 00 09 9






33
S SE EB BA AR RA AN N P PE ER RO OL LE EH HA AN N S SU UA AR RA A S SA AH H P PA AR RP PO OL L T TI IA AP P D DA AE ER RA AH H P PE EM MI IL LI IH HA AN N
P PA AD DA A P PE EM MI IL LU U L LE EG GI IS SL LA AT TI IF F 2 20 00 04 4 K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U







34
P PE ER RB BA AN ND DI IN NG GA AN N D DA AN N P PE ER RS SE EN NT TA AS SE E P PE EN NA AN ND DA AA AN N S SU UA AR RA A O OL LE EH H P PE EM MI IL LI IH H
T TE ER RH HA AD DA AP P P PA AR RP PO OL L D DA AN N C CA AL LE EG G P PA AD DA A P PE EM MI IL LU U L LE EG GI IS SL LA AT TI IF F 2 20 00 09 9
K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U






35
P PE ER RB BA AN ND DI IN NG GA AN N D DA AN N P PE ER RS SE EN NT TA AS SE E P PE EN NA AN ND DA AA AN N S SU UA AR RA A O OL LE EH H P PE EM MI IL LI IH H
T TE ER RH HA AD DA AP P P PA AR RP PO OL L D DA AN N C CA AL LE EG G Y YA AN NG G M ME EM MI IL LI IK KI I K KU UR RS SI I D DI I D DP PR RD D K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U
P PA AD DA A P PE EM MI IL LU U L LE EG GI IS SL LA AT TI IF F 2 20 00 09 9
















36
P PE ER RS SE EN NT TA AS SE E P PE ER RO OL LE EH HA AN N S SU UA AR RA A S SA AH H T TI IA AP P P PA AR RP PO OL L
U UN NT TU UK K S SU UA AR RA A A AN NG GG GO OT TA A D DP PR RD D K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U
P PA AD DA A P PE EM MI IL LU U L LE EG GI IS SL LA AT TI IF F 2 20 00 09 9






0.00%
0.00%
0.00%
0.33%
0.34%
0.36%
0.40%
0.43%
0.48%
0.51%
0.67%
0.69%
0.76%
0.88%
0.88%
0.94%
1.02%
1.04%
1.24%
1.25%
1.30%
1.43%
1.43%
1.46%
1.64%
1.81%
1.88%
2.40%
3.07%
4.24%
4.33%
4.81%
5.66%
8.02%
8.02%
11.33%
11.83%
13.10%
PPD
PSI
P.MERDEKA
PKPI
PNIM
PPNUI
PKPI
P.BARNAS
PPIB
PKNU
PDK
PIS
P.KEDAULATAN
PDK
PPPI
P.BURUH
PPIB
PKDI
PPDI
P.PATRIOT
P.REPUBLIKAN
P.PELOPOR
PDS
PNBKI
PMB
P.GERINDRA
PKPB
PBB
PKB
PKS
PPRN
PAN
PBR
P.HANURA
PPP
PDIP
P.DEMOKRAT
P.GOLKAR

37
S SU UA AR RA A T TI ID DA AK K S SA AH H A AN NG GG GO OT TA A D DP PR RD D K KA AB BU UP PA AT TE EN N/ /K KO OT TA A
P PA AD DA A P PI IL LE EG G 2 20 00 09 9 T TI IA AP P K KE EC CA AM MA AT TA AN N K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U















2%
2%
3%
3%
3%
3%
4%
4%
4%
4%
4%
5%
5%
5%
5%
5%
5%
5%
5%
5%
6%
8%
RANTAU UTARA
TORGAMBA
NA IX-X
KOTA PINANG
PANGKATAN
SUNGAI KANAN
RANTAU SELATAN
AEK NATAS
SILANGKITANG
KUALUH HILIR
KUALUH SELATAN
KUALUH HULU
MARBAU
BILAH BARAT
BILAH HILIR
BILAH HULU
KAMPUNG RAKYAT
PANAI TENGAH
PANAI HULU
AEK KUO
KUALUH LEIDONG
PANAI HILIR

38
S SU UA AR RA A T TI ID DA AK K S SA AH H A AN NG GG GO OT TA A D DP PR RD D P PR RO OV VI IN NS SI I P PA AD DA A P PI IL LE EG G 2 20 00 09 9
T TI IA AP P K KE EC CA AM MA AT TA AN N K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U















4%
5%
6%
6%
7%
7%
7%
8%
8%
8%
8%
9%
9%
10%
11%
11%
11%
11%
11%
12%
13%
15%
TORGAMBA
RANTAU UTARA
BILAH HILIR
SUNGAI KANAN
RANTAU SELATAN
NA IX-X
KOTA PINANG
AEK NATAS
MARBAU
BILAH HULU
AEK KUO
KAMPUNG
KUALUH HILIR
PANAI HULU
BILAH BARAT
PANGKATAN
KUALUH LEIDONG
PANAI TENGAH
KUALUH SELATAN
PANAI HILIR
SILANGKITANG
KUALUH HULU

39
S SU UA AR RA A T TI ID DA AK K S SA AH H A AN NG GG GO OT TA A D DP PR R P PA AD DA A P PI IL LE EG G 2 20 00 09 9
T TI IA AP P K KE EC CA AM MA AT TA AN N K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U















2%
5%
6%
6%
7%
7%
8%
8%
8%
9%
10%
10%
11%
11%
11%
11%
12%
12%
13%
14%
15%
16%
AEK KUO
TORGAMBA
RANTAU UTARA
NA IX-X
BILAH HILIR
SUNGAI KANAN
RANTAU SELATAN
AEK NATAS
KOTA PINANG
KAMPUNG
BILAH HULU
PANAI HULU
MARBAU
PANGKATAN
KUALUH HILIR
PANAI TENGAH
BILAH BARAT
KUALUH LEIDONG
PANAI HILIR
KUALUH SELATAN
KUALUH HULU
SILANGKITANG

40
S SU UA AR RA A T TI ID DA AK K S SA AH H A AN NG GG GO OT TA A D DP PD D P PA AD DA A P PI IL LE EG G 2 20 00 09 9
T TI IA AP P K KE EC CA AM MA AT TA AN N K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U















5%
7%
7%
8%
10%
11%
13%
14%
15%
15%
15%
15%
15%
15%
16%
17%
18%
18%
19%
19%
21%
23%
TORGAMBA
RANTAU UTARA
SUNGAI KANAN
RANTAU SELATAN
BILAH HILIR
AEK NATAS
BILAH HULU
KUALUH HILIR
NA IX-X
BILAH BARAT
KAMPUNG RAKYAT
KOTA PINANG
PANAI TENGAH
AEK KUO
PANGKATAN
KUALUH SELATAN
MARBAU
PANAI HULU
KUALUH LEIDONG
PANAI HILIR
KUALUH HULU
SILANGKITANG

41
T TI IN NG GK KA AT T K KE EH HA AD DI IR RA AN N P PE EM MI IL LI IH H P PA AD DA A P PI IL LE EG G 2 20 00 09 9
K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U

















HADIR
73.82%
TIDAK
HADIR
26.18%

42
B BE ES SA AR RA AN N G GO OL LP PU UT T T TI IA AP P K KE EC CA AM MA AT TA AN N P PA AD DA A P PI IL LE EG G 2 20 00 09 9
K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U














19%
21%
21%
21%
22%
22%
23%
24%
24%
25%
25%
25%
26%
26%
26%
26%
27%
30%
32%
32%
34%
35%
SILANGKITANG
NA IX-X
MARBAU
AEK KUO
AEK NATAS
PANGKATAN
SUNGAI KANAN
KUALUH HULU
KUALUH SELATAN
BILAH BARAT
BILAH HILIR
BILAH HULU
KOTA PINANG
TORGAMBA
KUALUH HILIR
PANAI HULU
KAMPUNG RAKYAT
RANTAU SELATAN
KUALUH LEIDONG
PANAI TENGAH
PANAI HILIR
RANTAU UTARA

43
P PE ER RI IL LA AK KU U P PE EM MI IL LI IH H L LA AK KI I- -L LA AK KI I D DA AL LA AM M M ME EN NG GG GU UN NA AK KA AN N H HA AK K P PI IL LI IH H
P PA AD DA A P PI IL LE EG G 2 20 00 09 9 K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U













MENGGUNAKAN
73%
TIDAK
MENGGUNAKAN
27%

44
P PE ER RI IL LA AK KU U P PE EM MI IL LI IH H P PE ER RE EM MP PU UA AN N D DA AL LA AM M M ME EN NG GG GU UN NA AK KA AN N H HA AK K P PI IL LI IH H
P PA AD DA A P PI IL LE EG G 2 20 00 09 9 K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U

















TIDAK
MENGGUNAKAN
26%
MENGGUNAKAN
74%

45
B BE ES SA AR RA AN N L LA AK KI I- -L LA AK KI I G GO OL LP PU UT T T TI IA AP P K KE EC CA AM MA AT TA AN N
P PA AD DA A P PI IL LE EG G 2 20 00 09 9 K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U










20%
20%
21%
21%
23%
24%
24%
24%
25%
25%
26%
26%
26%
27%
27%
27%
27%
31%
31%
32%
34%
36%
MARBAU
SILANGKITANG
NA IX-X
AEK KUO
PANGKATAN
KUALUH HULU
AEK NATAS
SUNGAI KANAN
BILAH HILIR
TORGAMBA
KAMPUNG RAKYAT
PANAI HULU
KUALUH SELATAN
BILAH BARAT
BILAH HULU
KOTA PINANG
KUALUH HILIR
KUALUH LEIDONG
PANAI TENGAH
RANTAU SELATAN
PANAI HILIR
RANTAU UTARA

46
B BE ES SA AR RA AN N P PE ER RE EM MP PU UA AN N G GO OL LP PU UT T T TI IA AP P K KE EC CA AM MA AT TA AN N
P PA AD DA A P PI IL LE EG G 2 20 00 09 9 K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U










19%
20%
20%
21%
21%
21%
22%
22%
23%
24%
25%
25%
25%
26%
27%
27%
27%
28%
33%
33%
34%
35%
SILANGKITANG
NA IX-X
PANGKATAN
AEK NATAS
MARBAU
AEK KUO
SUNGAI KANAN
KUALUH SELATAN
BILAH HULU
BILAH BARAT
KUALUH HULU
BILAH HILIR
KOTA PINANG
KUALUH HILIR
RANTAU SELATAN
TORGAMBA
PANAI HULU
KAMPUNG RAKYAT
KUALUH LEIDONG
PANAI TENGAH
RANTAU UTARA
PANAI HILIR

47
S SE EB BA AR RA AN N P PE ER RO OL LE EH HA AN N K KU UR RS SI I T TI IA AP P D DA AP PI IL L P PA AR RP PO OL L T TI IA AP P D DA AE ER RA AH H P PE EM MI IL LI IH HA AN N
P PA AD DA A P PE EM MI IL LU U 2 20 00 09 9 K KA AB BU UP PA AT TE EN N L LA AB BU UH HA AN NB BA AT TU U










You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->