Anda di halaman 1dari 8

ASUHAN KEPERAWATAN COREKTIONAL SETTING

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Lembaga pemasyarakatan merupakan tempat untuk melaksanakan pembinaan terhadap orang-orang yang dijatuhi hukuman penjara atau kurungan berdasarkan keputusan pengadilan. Para penghuninya hidup dengan aturan-aturan yang ditetapan oleh lembaga, tetapi karakter dari penghuni-penghuni lain berpengaruh besar pada kehidupan mereka selama di LP. Mereka hidup terpisah dari masyarakat dan yang unik adalah penghuninya sama-sama mempunyai latar belakang masalah yang mengharuskan mereka mendapatkan hukuman dan pada umumnya akan diberi label yang tidak baik dalam masyarakat. Penghuni LP kebanyakan adalah laki-laki, tetapi jumlah wanita dan remaja juga ikut berpengaruh pada populasi keseluruhan. Umumnya para narapidana menjalani hukuman karena suatu tindakan yang melanggar hukum seperti pembunuhan, pencurian, penipuan, pemerkosaan, penggunaan obat-obat terlarang, dll. Dalam makalah ini, yang disoroti adalah tentang pembinaan pada narapidana dengan kasus narkoba karena para narapidana narkoba kondisinya sangat berbeda yaitu mempunyai karakter dan perilaku yang berbeda akibat penggunaan narkoba yang telah dikonsumsinya. Diantaranya adalah kurangnya tingkat kesadaran akibat rendahnya kamampuan penyerapan, keterpurukan kesehatan dan sifat overreaktif dan overproduktif. Dengan kondisi demikian, maka perlu penanganan khusus pada narapidana narkoba dibandingkan dengan narapidana yang lain. Perawat sebagai profesi yang berorientasi pada manusia mempuyai andil dalam memberikan pelayanan kesehatan di LP dalam bentuk Correctional setting . perawat memberikan pelayanan secara menyeluruh. Dari data disebutkan bahwa para narapidana paling banyak mengalami keluhan fisik seperti kurang nafsu makan (38,9%), daya tahan menurun (36.,9%), badan menjadi kurus (35,3%), dan gangguan-gangguan lain pada system tubuh. Sedangkan keluhan mental yang paling sering terjadi adalah gangguan tidur (48,6%), sering lupa (48,3%), gelisah (44,2%) dan cemas (37,2%). Berdasarkan masalah-masalah kesehatan yang banyak dialami tersebut, maka perawat menerapkan praktik correctional setting pada LP Pemuda Tangerang Banten karena di LAPAS ini tenaga medis dan tenaga Pembina khusus narapidana narkoba belum tersedia dan narapidana narkoba dicampur menjadi satu sel dengan narapidan kasus lain. B. Tujuan
1. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi dari correctional setting 2. Mahasiswa mampu menjelaskan area dari correctional setting

3. Mahasiswa mampu menjelaskan masalah kesehatan yang ada di correctional setting 4. Mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan pada correctional setting

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Correctional setting adalah pelayanan kesehatan pada suatu komunitas yang terisolasi, tertutup dari masyarakat, yang mempunyai aturan dan kehidupan dengan karakteristik yang dibentuk oleh penghuninya dan perawat harus menseting lingkungan tersebut agar pelayanan kesehatan dapat terpenuhi. Correctional setting merupakan praktik keperawatan yang relatif baru bagi keperawatan komunitas. Praktik ini menawarkan posisi yang menantang bagi perawat kesehatan komunitas untuk memperluas batas praktek keperawatan. B. Area Correctional setting Correctional setting dibagi dala 3 tipe fasilitas :
1. Prisons

Yaitu fasilitas federal/ Negara bagian yang memberikan hukuman lebih dari 1 tahun bagi para narapidana dan biasanya dengan kasus criminal.
2. Jails

Yaitu fasilitas untuk wilayah lokal untuk menahan para detainees dan inmates. Detainees /tahanan yaitu orang yang belum diputuskan bersalah dan masih menjalani percobaan karena tidak dapat membayar jaminan atau karena belum ada jaminan bagi mereka. Inmates/ narapidana yaitu tahanan yang telah diputuskan bersalah.
3. Juvenille detention facilities

Yaitu tempat untuk aak-anak dan remaja yangdihukum karena masalah criminal dan menjalani masa percobaan tetapi tidak dapat dibebaskan tanpa ada tanggung jawab dari orang dewasa.

Pelayanan kesehatan correctional setting perlu sekali dilakukan karena beberapa alasan :
1. Hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara adil dan optimal dan melarang kekejaman serta hukuman yang tidak wajar bagi para tahanan untuk mencegah terjadinya cedera atau penyakit. 2. Para penghuni hidup dalam kemiskinan/ kekurangan, berpendidikan rendah dan gayahidup yang tidak sehat seperti penyalahgunaan obat. Karena banyak penghuni yang tidak mampu membayar pelayanan kesehatan di luar maka biaya akan ditanggung oleh lembaga tersebut. 3. Untuk mencegah penularan penyakit dari lembaga pemasyarakatan ke komunitas, atau para antar penghuni.

C. Masalah kesehatan dalam Correctional setting a) Kesehatan mental Menurut data dari Bureau of justice, 1999 kira-kira 285.000 tahanan dilembaga pemasyarakatan mengalami gangguan jiwa. Penyakit jiwa yang sering dijumpai adalah skozofrenia, bipolar affective disorder dan personality disorder. Karena banyak yang mengalami ganguan kesehatan jiwa maka pemerintah harus menyediakan pelayanan kesehatan mental. b) Kesehatan fisik Perawatan kesehatan yang paling penting adalah penyakit kronis da penyakit menular seperti HIV, Hepatitis dan Tuberculosis. 1) HIV Angka kejadian HI dianara para narapida diperkiraan 6 kali lebih tinggi daripada populasi umum. Tingginya angka infeksi HIV ini berkaian dengan perilaku yang beresiko tinggi seperti penggunaan obat-obaan, sexual intercourse yang tidak aman dan pemakaian tato. Pendekatan yang dilakukan utnuk menekan angka kejadian yaitu dengan dilakukannya penegaan dan program pendidikan kesehatan mengenai HIV dan AIDS. 2) Hepatitis Hepatitis B dan C meningkat lebih tinggi dariopada populasi umum walaupun data yang ada belum lengkap. Hal ini berkaitan denga penggunaan obat-obat lewat suntikan, tato, imigran dari daerah dengan insiden hepatitis B dan C tinggi.National Commision on Correctional Healt Care (NCCHC) menyarankan agar dilakukan skrining pada semua tahanan dan jika diindikasikan maka harus segera diberikan pengobatan. NCCHC juga merekomendasikan pendidikan bagi semua staf dan tahanan mengenai cara penyebaran, pencegahan, pengobatan dan kemajuan penyakit.

3) Tuberculosis Angka TB tiga kali lebih besar di LP dabanding populasi umum. Hal ini terkait dengan kepadatan penjara dan ventilasi yang buruk, yang mempengaruhi penyebaran penyakit. Pada tahun 196, lembaga yang menangani tuberculosis yaitu CC merekomendasikan pencegahan dan pengontrolan TB di lembaga pemasyarakatan yaitu : a. Diadakannya skrining TB bagi semua staf dan tahanan b. Diadakan penegahan transmisi penyakit dan diberikan pengobatan yang sesuai c. Monitoring dan evaluasi skrining Populasi yang memiliki masalah kesehatan pada lembaga pemasyarakatan yang unik, yaitu : 1. Wanita Masalah kesehatan yang ada mungkin lebih komplek misalnya tahanan wanita yang dalam keadaan hamil, meninggalkan anak dalam pengasuhan orang lain (terpisah dari anak), korban penganiaaan dan kekerasan social, penyalahgunaan obat terlarang. Tetapi pelayanan kesehatan yang selama ini diberikan belum cukup maksimal untuk memenuhi kebutuhan mereka seperti pemeriksaan ginekologi untuk wanita hamil dan korban kekerasan seksual. NCCHC menawarkan ketentuan-ketentuan berikut untuk pemenuhan pelayanan kesehatan : a. LP memberikan pelayanan lengkap secara rutin termasuk pemeriksaan ginekologi secara koprehensif. b. Pelayanan kesehatan komprehensif meliputi kesehatan reproduksi, korban dari penipuan, konseling berkaitan dengan peran sebagai orang tua dan pemakaian obatobatan dan alcohol. 2. Remaja Meningkatnya jumlah remaja yang terlibat tindak kriminal membuat mereka harus ikut dihukum dan ditahan seperti orang dewasa. Hal ini akan menghalagi pemenuhan kebutuan untuk berkembang seperti perkembangan fisik, emosi dan nutrisi yang dibutuhkan. Para remaja ini akan mempunyai masalah-masalah kesehatan seperti kekerasan seksual, penyerangan oleh tahanan lain atau tindakan bunuh diri. Disini perawat harus memantau tingkat perkembangan dan pengalaman mereka dan perlu waspada bahwa pada usia ini paling rentan terkena masalah kesehatan. C. Asuhan Keperawatan dalam Correctional Setting

a. Pengkajian 1. Pengkajian Sosial a. Umur Saat ini semakin banyak orang yang tinggal dalam panti rehabilitasi baik anak muda maupun dewasa. Sebagian besar pelanggaran yang dilakukan oleh remaja berhubungan dengan kekerasan dan penyalahgunaan obat. Semakin banyak anak muda yang masuk penjara dan diperlakukan seperti orang dewasa. Hal ini berarti bahwa pemberian pelayanan kesehatan harus memenuhi kebutuhan perkembangan usia ini seperti memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis. Dalam institusi correctional juga terjadi peningkatan jumlah orang dewasa secara signifikan. Proses penuaan pada penghuni penjara berarti bahwa perawat harus mengatasi masalah utama yang terjadi pada orang dewasa. b. Fisik Saat ini semakin banyak orang yang tinggal dalam panti rehabilitasi baik anak muda maupun dewasa. Sebagian besar pelanggaran yang dilakukan oleh remaja berhubungan dengan kekerasan dan penyalahgunaan obat. Semakin banyak anak muda yang masuk penjara dan diperlakukan seperti orang dewasa. Hal ini berarti bahwa pemberian pelayanan kesehatan harus memenuhi kebutuhan perkembangan usia ini seperti memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis. Dalam institusi correctional juga terjadi peningkatan jumlah orang dewasa secara signifikan. Proses penuaan pada penghuni penjara berarti bahwa perawat harus mengatasi masalah utama yang terjadi pada orang dewasa. c. Genetik Ada 2 faktor genetik yang mempengaruhi kesehatan dalam correctional settingadalah jenis kelamin dan etnisitas. Jenis kelamin Secara umum fasilitas dalam institisi correctional terpisah antara pria dan wanita. Sehingga perawat yang bekerja dengan tahanan pria tidak bekerja seperti tahanan wanita .Namun apapun gender, perawat mungkin menemukan masalah yang unik dalam kelompok baik pria maupun wanita. Tahanan wanita mengalami masalah kesehatan yang berbeda karena jumlah mereka kecil. Etnisitas

Merupakan aspek lain yang dipertimbangkan dalam populasi penjara. Anggota kelompok minoritas mempunyai status kesehatan yang rendah dan memiliki resiko terkena penyakitmenular selama dipenjara. Perawat perlu mengkaji kelompok minoritas ini untuk mengetahui masalah utama yang terjadi pada kelompok ini. 2. Pengkajian Epidemiologi Perawat dalam correctional setting perlu mengkaji klien secara individu untuk mengetahui masalah kesehatan fisik. Perawat perlu untuk mengidentifikasi masalah yang memiliki kejadian yang tinggi di institusi. Area yang perlu diperhatikan meliputi penyakit menular, penyakit kronik, cedera dan kehamilan. Penyakit menular meliputi TBC, HIV AIDS , hepatitis B , dan penyakit seksual lain. TBC Perawat sebaiknya menanyakan gejala dan riwayat penyakit agar pasien yang terinfeksi dapat diisolasi. HIV AIDS Perawat mengkaji riwayat HIV, perilaku beresiko tinggi dan riwayat atau gejala infeksi oportunistik yang mungkin terjadi pada semua tahanan. Hepatitis B dan penyakit seksual lain Perawat mengkaji riwayat penyakit menular seksual dan hepatitis B serta waspada adanyatanda fisik dan gejala penyakit ini. Penyakit kronis yang biasa terjadi antara lain : diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan paru serta kejang. Perawat harus mengkaji dengan tepat riwayat kesehatan dari klien, anggota keluarga dan pemberi pelayanan kesehatan di komunitas. Perawat harus mengkaji adanya penyakit / kondisi kronik pada klien dan mengidentifikasi masalah dengan tingkat kejadian yang tinggi di institusi / populasi dimana ia bekerja. Cedera Merupakan area lain dari fungsi fisiologis yang harus dikaji oleh perawat. Cedera mungkin diakibatkan karena aktivitas sebelum penahanan, tindakan petugas atau kecelakaan yang terjadi selama di tahanan. Perawat harus memperhatikan potensial terjadinya cedera internal dan mengkaji tanda tanda trauma.

Kehamilan 3. Pengkajian Perilaku dan lingkungan Faktor faktor yang mempengaruhi kesehatan di correctional setting meliputi diet, penyalahgunaan obat, merokok, kesempatan berolahraga / rekreasi , serta penggunaan kondom di lingkungan correctional setting Pengkajian psikologis pada correctional setting juga penting karena : a. Banyak tahanan yang mengalami penyakit mental yang terjadi selama berada di tahanan. b. Berada di tahanan merupakan hal yang menimbulkan stress dan menimbulkan efek psikis seperti depresi dan bunuh diri. Perawat di correctional setting harus mewaspadai tanda tanda depresi dan masalah mental ( correctional setting ) lain pada tahanan dan mengkaji potensi terjadinya bunuh diri. Semuacorrectional setting harus mempunyai program pencegahan bunuh diri dan penaganan bunuh diri. Perwat harus melakukan pengawasan yang ketat pada tahanan yang berada dalam isolasi . c. Lingkungan dalam correctional setting juga dapat menimbulkan kekerasan seksual yang menimbulkan konsekuensi psikis. Dalam mengkaji hal ini, perawat harus mewaspadai tanda tanda kekerasan dan menanyakan pada klien mengenai masalah ini. Jika kekerasan seksual telah terjadi, perawat perlu untuk melindungi klien dari cedera yang lebih lanjut. d. Layanan kesehatan mental mungkin kurang di beberapa correctional setting. e. Tahanan yang dihukum mati, memerlukan dukungan emosi dan psikologis. Perawat harus mengkaji masalah psikis yang timbul dan membantu mereka melalui konseling dengan tepat 4. Pengkajian Administratif dan policy .Perawat di correctional setting juga mengkaji keadekuatan sistem pelayanan kesehatan dalam memenuhi kebutuhan tahanan. Fasilitas di correctional setting bisa menggunakan salah satu pendekatan di bawah ini untuk menyediakan perawatan kesehatan untuk tahanan. a) Layanan kesehatan diberikan oleh staf yang bekerja di institusi. b) Membuat kontrak dengan agensi untuk menyediakan pelayanan kesehatan.

Apapun pendekatan yang digunakan, perawat perlu mengkaji keadekuatan pelayanan kesehatan yang diberikan untuk tahanan. Pelayanan minimal meliputi perwatan primer dan

DAFTAR PUSTAKA Marry Jo Clark. Nursing In The Community. Amerika : Appleton a Lange. 1999. Marry A Nies. Community Health Nursing. Saunders company. Lipincolt. 2001