Anda di halaman 1dari 11

PETUNJUK PEMBERANTASAN RABIES DI INDONESIA DEPARTEMEN KESEHATAN R.

I DIREKTORAT JENDRAL PPM & PPL TAHUN 2000 KATA PENGANTAR Rabies (penyakit anjing gila)merupakan penyakit Zoonosa yang terpenting di Indonesia karena penyakit tersebut tersebar luas di 18 propinsi, dengan jumlah kasus gigitan yang cukup tinggi setiap tahunnya (16.000 kasus gigitan),serta belum diketemukan obat/cara pengobatan untuk penderita rabies sehingga selalu diakhiri dengan kematian pada hampir semua penderita rabies baik manusia m aupun hewan. Sampai pada tahun 1999 hanya 5 propinsi di Indonesia yang masih dinyatakan bebas historis rabies.Propinsi-propinsi tersebut ialah Bali,NusaTenggara Barat,Maluku,Irian Barat,Maluku,Irian Jaya dan Kalimantan Barat.Sesuai dengan SK Mentri Pertanian No.892/KPTS/TN.560/9/97,3 propinsi yang dinyatakan bebas yaitu di Yogyakarta,Jawa Tengah dan Jawa Timur.Penyakit rabies diketemukan di kota maupun di pedesaan(rural area) dengan sumber utama binatang anjing,hewan piaraan yang sangat erat hubungannya dengan manusia. Penanggulangan rabies yang menyangkut hewan menjadi tanggung jawab Departemen Pertanian cq.Direktotat Jendral Peternakan,sedangkan yang menyangkut manusia menjadi tanggung jawab Departemen Kesehatan. Buku ini disusun dengan maksudagar dapat dipergunakan sebagai petunjuk, khususnya untuk dokterdokter dan paramedis yang mengelola gigitan hewan serta merawat penderita rabies. Setiap kasus gigitan hewan harus ditangani segera karena waktu merupakan faktor yang sangat penting dalam penyelamatan jiwa manusia dari kematian akibat penyakit rabies. Bilamana diketemukan satu kasus gigitan hewan maka perlu diadakan pelacakan terhadap hewan yang bersangkutan9melalui (Dinas peternakan setempat),serta waspada adanya kemungkinan kasus-kasus gigitan tambahan yang memerlukan tindakan pengamanan segera. Meskipun telah kita ketahui bahwa kasus rabies pada manusia hampir selalu diakhiri dengan kematian, namun sebagai petugan kesehatan kita harus memberikan perawatan semaksimal kepada penderita rabies dengan tujuan meringankan penderiaan yang bersangkutan. Pengelolaan kasus-kasus rabies ini hendaknya dilakukan secara cermat,berhati-hati serta teliti sesuai dengan petunjuk buku ini. Buku ini merupakan terbitan yang ke-enam bagi dokter-dokter dan paramedis saran saran perbaikanuntuk penerbitan selanjutnya sangat diharapkan dari semua pihak. Akhirnya saya mengharapkan semoga buku ini dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi para petugas pelaksana/pengelola program pemberantasan rabies di wilayah masing-masing.

Jakarta,Juni 2000 DIREKTORAT JENDRAL PPM & PL DEPARTEMEN KESEHATAN RI ttd Prof.Dr.Umar Fahmi MPH NIP.130520334

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI... iii PENDAHULUAN 1 I. PROGRAM PEMBERANTASAN RABIES. 5 A. LANDASAN KERJASAMA . 5 B. VISI .. 7 C. MISI ..... 7 D. TUJUAN .. 7 E. STRATEGI... 7 F. SASARAN & LANGKAH-LANGKAH .... 8 II. KEBIJAKSANAAN PROGRAM PEMBERANTASAN RABIES. 8 A. KEBIJAKSANAAN UMUM.. 15 B. KEBIJAKSANAAN OPERASIONAL . 15 C. POKOK KEGIATAN DALAM UPAYA PEMBERANTASAN RABIES 18 D. POKOK-POKOK &LANGKAH KEGIATAN ..19 III. ORGANISASIDAN MEKANISME KERJA PEMBERANTASAN RABIES . 24 A. TINGKAT PUSAT... 24 B. TINGKAT DAERAH IV. PEMBAGIAN STATUS DAERAH DAN KRITERIANYA 31 A. STATUS DAERAH.....31 B. BATAS DAERAH. 32

PENDAHULUAN Penyakit anjing gila atau dikenal dengan nama rabies merupakan penyakit infeksi akut(bersifat zoonosis)pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies dan ditularkan melalui gigitan hewan penular terutama anjing, kucing dan kera. Penyakit ini bila sudah menunjukkan gejala klinis pada hewan dan manusia selalu diakhiri dengan kematian,sehingga menimbulkan rasa cemas dan takut bagi orang-orang yang terkena gigitan dan kekhawatiran serta keresahan bagi masyarakat pada umumnya. Kasus rabies di Indonesia pertama kali dilaporkan oleh Esser pada tahun 1884 pada seekor kerbau,kemudian oleh Penning tahun 1889 pada seekor anjing dan oleh Eilerls de Zhaan tahun 1889 pada manusia.Semua kasus ini terjadi di Propinsi Jawa Barat dan setelah itu rabies terus menyebar ke daerah Indonesia lainnya. Sehubungan dengan hal tersebut diatas,pemerintah secara sensitif dan sistematis melakukan program pembebasan secara bertahap. Program ini dimulai pada Pelita V (1989 1993) DI Pulau Jawa dan Kalimantan dan Kemudian pada Pelita VI (1994 1988) diperluas ke pulau tertular yaitu Pulau Sumatra dan Sulawesi.Dengan demikian program pemberantasan rabies ini menjadi program nasional. Situasi rabies yang telah dicapai dalam pelaksanaan program pembebasan rabies selama ini mencakup : 1. Sampai saat ini 5 propinsi di Indonesia tetap bebas rabies yaitu Bali, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Papua Dan Kalimantan Barat dan Sampai saat ini ada 18 propinsi yang belum bebas kasus rabies, pada tahun 1998 Propinsi Nusa Tenggara Timur telah menjadi tertular rabies sejak terjadinya outbreak di Pulau Flores Kabupaten Flores Timur. 2. Propinsi Jawa Timur, DI Yogyakarta dan Jawa Tengah telah berhasil dibebaskan dari kasus rabies dengan diterbitkan surat keputusan meteri Pertanian No.892/Kpts/TN.560/9/97 tanggal 9 Sptember 1997. Namun untuk Pulau Jawa, Propinsi Jawa Barat Masih dinyatakan sebagai daerah tertular rabies karena m asih dilaporkan adanya kasus rabies pada manusia dan hewan, nmun demikian tampak terjadi juga penurunan kasus. 3. Jumlah rata rata per tahun kasusgigitan pada manusia oleh hewan penular rabies selama tiga tahun terakhir (1997 - 19990) 13880 kasus,diantaranya 7509 (54,2%) divaksinasi anti rabies (VAR) dan 170(1,2%) pemberian kombinasi vaksinasi anti rabies (SAR). Ditemuka rata-rata per tahun 88 kasus rabies pada manusia selama tiga tahun (1997 1999), dan 2002 spesimen hewan yang diperiksa rata-rata pertahun, diantaranya 1111spesimen (55,5%) menunjukkan positif rabies. 4. Situasi rabies pada tahun 1999,dilaporkan kasus gigitan hewan pada manusia 5930 kasus (50%) diberi VAR dan 56 kasus (0,5 %) idebi kombinasi SAR dan SAR. Sedangkankasus rabies pada manusia sebanyak 131 kasus, dan dari 850 spesimen hewan yang diperiksa 767 (90,2%) menunjukkan positif rabies. Mengingat akan bahayanya rabies terhadap kesehatan dan ketenteraman masyarakat karena dampak buruknya selalu diakhiri kematian serta datpat mempengaruhi dampak perekonomian khususnya bagi pengembangan daerah-daerah pariwisata di Indonesia yang tertular rabies, maka usaha pengendalian penyakit berupa pencegahan dan pemberantasan perlu dilaksanakan seintensif mungkin, bahkan menuju pada program pembebasan. Program pembebasan rabies merupakan Kesepakatan Nasional dan merupakan kerjasama kegiatan 3 (tiga) Departemen, yaitu Departemen Pertanian (Ditjen Peternakan), Departemen Dalam Negri (Ditjen PUOD) dan Departemen kesehatan (Ditjen PPM & PL)sejak awal Pelita V tahun 1989 hingga diperpanjang sampai tahun 2000.

I.

PROGRAM PEMBERANTASAN RABIES

A.LANDASAN KERJASAMA : Untuk dapat mencapai hasil maksimal pembebasan rabies ini, perlu diadakan kerja sama dengan istansi terkait sesuai dengan kewenangan masing-masing berdasarkan ketentuan yang berlaku sebagai berikut: 1. Tindakan tindakan yang menyangkut hewan menjadi tugas dan tanggung jawab Departemen Pertanian (Ditjen. Peternakan). 2. Tindakan tindakan yang menyangkut manusia yang digigit hewan tersangka/rabies dan penderita lysa menjadi tanggung jawab Departemen Kesehatan (Ditjen PPM-ML). 3. Departemen Dalam Negri (Ditjen PUOD) Mengkoordinasi kegiatan kerjasama sektor sektor terkait dan menggerakkan peran serta masyarakat. Adapun Peraturan Perundangan yang melandasi kerja sama lintas sektoral yang dipergunakan Indonesia ialah: 1. Hondsdolheid Ordonati, Staatsblad tahun 1926 No.451 dan 452. 2. Undang undang Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan No.6 tahun 1967. 3. Peraturan Pemerihtah No. 22 tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Vetenir. 4. Undang undang Pokok Kesehatan No. 3 tahun 1992. 5. Keputusan Menteri Pertanian No.190/Kpts/Org/5/1975. 6. Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri (Kesehatan,Pertanian,Dalam Negeri) tahun 1978. 7. Surat Keputusan Bersama (SKB) Dirjen (Peternakan,PPM & PLP,PUOD)tahun 1989 dan tahun 1999. 8. Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 32 tahun 1982 tentang koordinasi bagi pencegahan,pemberantasan dan penanggulangan penyakit rabies di daerah. 9. Edaran Pangab ke seluruh jajaran ABRI untuk membantu pemberantasan rabies. 10. Surat Keputusan Gubernur. B.VISI Indonesia bebas rabies 2005 C.MISI 1. Memberdayakan masyarakat menuju kemandirian dalam melindungi diri dari rabies. 2. Menggalang menggerakkan,dan mewujudkan kemitraan dalam pembebasan rabies. 3. Menjamin mutu pelayanan kesehatan manusia dan hewan dalam pembebasan rabies. D. TUJUAN : Meningkatnya pemahaman kemampuan dan peran serta masyarakat, terwujudnya kemitraan sektor terkait, serta terselenggarakannya pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau pada manusia dan hewan sehingga tercapai Indonesia bebas rabies 2005. E.STRATEGI: 1. Peningkatan Peran Serta Masyarakat (PSM). 2. Peningkatan kemitraan. 3. Peningkatan keterpaduan mutu program lintas sektor 4. Peningkatan mutu program lintas sektor. 5. Peningkatan mutu program pelayanan kesehatan, terutama vaksinasi/eliminasi hewan dan pengobatan pasteur. 6. Peningkatan Profesionalisme. 7. Percepatan desentralisai. 8. Pertahapan tercapainya daerah bebas rabies berdasarkan prioritas. F.SASARAN & LANGKAH LANGKAH : ?? Sasaran dari peningkatan Peran Serta Masyarakat (PSM) ialah: Individu, keluarga dan masyarakat didaerah tertular rabies mampu melindungi diri dari rabies. Langkah-langkahnya adalah: 1. Melakukan identifikasi pengetahahuan sikap dan prilaku (PSP) masyarakat rabies,termasuk kelompok-kelompok masyarakat (kader). 2. Mengembagkan metode dan media KIE. 3. Membuat pedoman/petunjuk pelaksanaan KIE.

tentang

4.

Memasukkan masalah rabies ke dalam kurikulum sekolah sebagai muatan lokal dengan menyediakan modul (sd/sltp) 5. Menyelenggarakan KIE kepada masyarakat termasuk kader dengan melibatkan kelompok potensial. 6. Memfasilitasi kegiatan masyarakat dalam pempebasan rabies. ?? Sasaran dari peningkatan kemitraan ialah : Semua mitra terkait di tingkat Pusat,Propinsi,Kabupaten/Kota,Kecamatan,Desa/Kelurahan (LSM,organisasi profesi kemasyarakatan & dunia usaha) komit. Langkah langkahnya adalah: 1. Melakukan indentifikasi program di mitra kerja. 2. Menyediakan peta daerah tertular rabies. 3. Melakukan pemasaran sosial melaui media yang ada. 4. Membangun jaring kemitraan. 5. Menyusun rencana kerja terpadu. 6. Memadukan sumber daya yang tersedia. 7. Melakukan pertemuan berkala. 8. Melakukan monitoring dan evaluasi (monev). ?? Sasaran dari peningkatan keterpaduan program lintas sektor ialah : Program dan sektor terkait komit. Langkah- langkah nya adalah: 1. Mengidentifikasi program sumber daya lintas sektor dan program. 2. Menyusun rencana pengelolaan program terpadu. 3. Melakukan advokasi pada pemerintah pusat & daerah. 4. Melakukan pertemuan secara berkala. 5. Melakukan monitoring dan evaluasi. 6. Mengoptimalkan TIKOR dan menyediakan sekretariat dengan sarana dan prasarana yang lengkap. ?? Sasaran dari peningkatan mutu pelayanan kesehatan, terutama vaksinasi/eliminasi hewan dan pengobatan pasteur ialah: 1. Penderita gigitan hewan tersangka/rabies & kelompok masyarakat berisiko tinggi terlindungi. 2. Hewan penular rabies terutama anjing kebal terhadap rabies dan tidak ada lagi anjing liar. Langkah-langkahnya adalah: 1. Membentuk dan meningkatkan fungsi Rabies Center di tempat-tempat yang diperlukan dan memenuhi standard. 2. Membentuk dan meningkatkat fungsi Pos Keswan di tempat-tempat yang diperlukan dan memenuhi standard. 3. Menganalisis kasus dan menganalisis kebutuhan sarana untuk perencanaan pelayanan. 4. Meningkatkan cakupan pengobatan pastuer. 5. Melakukan surveilans epidemiologi pelacakan kasus tambahan dan riset operasional. 6. Meningkatkan pemantauan pelaksana SOP. 7. Melaksanakan evaluasi kualitas pelayanan.(quality assurance). 8. Melaksanakan perbaikan pelayanan . 9. Meningkatkan cakupan vqksinasi anjing & reservoir lain, serta eliminasi anjing liar/tak bermilik. 10. Meningkatkan pengawasan lalu lintas hewan penular rabies. 11. Membentuk dan meningkatkan tipe C untuk diagnosa rabies. ?? Sasaran dari peningkatan profesionalisme iaalah: Sumber Daya Manusia (SDM) di tingkat pusat,propinsi,kab/kota,kecamatan,desa/kelurahan mampu & trampil dalam pembebasan rabies. Langkah-langkahnya adalah : 1. Melakukan need assesment/analis kebutuhan tenaga & penentuan jenis pendidikan pelatihan. 2. Membuat modul pelatihan. 3. Menyelenggarakan pelatihan TOT & petugas. 4. Melaksanakan evaluasi & pembinaan pasca pelatihan. 5. Menyempurnakan SOP. 6. Menyediakan sarana & prasarana yang memadai sesuai dengan SOP. 7. Melaksanakan quality assurance/evaluasi kinerja. 8. Mmelaksanakan penelitian operasional. 9. Mengembangkan sistem penghargaan. ?? Sasaran dari percepatan desentralisasi ialah: Penaggung jawab program rabies di tingkat Pusat, Propinsi, Kab/Kota, Kecamatan mampu membuat kebijaksanaan operasional.

Langkah-langkahnya adalah : 1. Meengembangkan sistem informasi menangani rabies. 2. Meningkatkan kemampuan pengelolaan program. 3. Melakukan pembagian tugas sesuai dengan administrasi dan kewenangannya. 4. Mobilisasi sumber daya. 5. Mengembangkan dan melaksanakan kebijaksanaan operasional spesifik daerah. ?? Sasaran dari pentahapan tercapainya daerah bebas rabies berdasarkan prioritas ialah: 1. Propinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta pada tahun 2002 bebas rabies. 2. Pulau Flores Pada tahun 2002 bebas rabies. 3. Pulau Sumatra dan Kalimantan pada tahun 2004 bebas rabies. 4. Pulau Sulswesi pada tahu n 2005 bebas rabies. Langkah-langkahnya adalah: 1. Intensifikasi dan identifikasi langkah-langkah yang ada pada strategi (1-6) sesuai dengan tahapan prioritas. 2. Sertifikasi bebas rabies oleh Menteri Pertanian. 3. Mengoptimalisasi pertemuan berkala TIKOR PUSAT dan DAERAH. 4. Melakukan advokasi pentahapan daerah bebas rabies. II.KEBIJAKSANAAN PROGRAM PEMBERANTASAN RABIES. A. KEBIJAKSANAAN UMUM : 1. Pertanian cq.Ditjen Peternakan,Departemen Kesehatan cq.Ditjen PPM & PL dan Departemen Dalam negri cq.Ditjen PUOD. 2. Mencegah kejadian rabies pada manusia dengan penanganan kasus gigitan hewan tersangka/rabies sedini mungkin. 3. Mencegah penularan rabies pada manusia dengan melaksanakan vaksinasi dan eliminasi hewan penular rabies. 4. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petugas dalam penanganan kasus gigitan hewan tersangka rabies. 5. Meningkatkan Peran Serta Masyarakat (PSM) untuk program pembenasan rabies. B. KEBIJAKSANAAN OPERASIONAL : 1. Menurunkan angka kematian pada manusia menjadi nol kasus dengan : ?? Menunjuk Rumah Sakit Kabupaten dan Puskesmas tertentu di wilayah rawan rabies sebagai Rabies Centre( Pusat Pelayanan Rabies) yang berfungsi sebagai Pusat Informasi tentang pencegahan rabies dan memberikan pelayanan vaksinasi kepada penderita gigitan hewan tersangka/rabies,dengan menyediakan minimal 1 kuur VAR di Puskesmas dan 1 kuur VA R + 3 flacon SAR di Rumah Sakit (RS). ?? Memberikan pelayanan sedini mungkin kepada semua kasus gigitan hewan penular rabies berupa pencucian luka gigitan dengan sabun deterjen lain menggunakan air mengalir selama 10 15 menit dan pengobatan pasteur dengan penyuntikan Vaksin Anti Rabies (VAR) atau kombinasi VAR dan serum Anti Rabies (SAR) yang digunakan jenis tissue culture. 2. Dalam rangka Efisiensi kasus gigitan hewan tersangka/rabies yang ringan dan berisiko rendah untuk menjadi rabies ,vaksinasi diberikan setelah hasil observasi hewan tersangka rabies menunjukkan adanya indikasi rabies atau konfirmasi laboratorium. 3. Peningkatan penyuluhan kepada masyarakat : ?? Setiap luka gigitan hewan penular rabies dilakukan pencucian dengan sabun atau diterjent menggunakan air mengalir selama 10-15 menit. ?? Agar setiap hewan penular rabies yang menggigit dapat ditangkap dan diobservasi,sehingga pemborosan pemakaian vaksin dapat dihindari. 4. Melaksanakan pelatihan penata laksanaan kasus gigitan hewan tersangka/rabies kepada Dokter,Paramedis Puskesmas/Rumah Sakit di daerah rawan rabies secara teratur dan berkesinambungan. 5. Orientasi tentang rabies dan pencegahan pada petugas Pustu,Bidan di desa,Mantri praktek, petugas Balai Pengobatan (BP),petugas kesehatan lain ,dukun,PKK,dan LSM. 6. Pendistribusian Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) di Rumah Sakit (RS)/Puskesmas yang ditunjuk sebagai pusat Pengobatan Rabies (Rabies Centre). 7. Membentuk Tim Koordinasi (TIKOR) rabies di Tingkat Propinsi,Kabupaten/Kota,Kecamatan dan Desa untuk pencegahan ,pemberantasan dan penanggulangan rabies bagi daerah-daerah yang belum mempunyai.

C. POKOK KEGIATAN DALAM UPAYA PEMBERANTASAN RABIES : Pokok kegiatan yang dilaksanakan oleh sektor peternakan: 1. Vaksinasi hewan yang dilaksanakan melalui vaksinasi masal (bulan rabies). 2. Pengawasan lalu lintas hewan, melalui Perda yang mengacu kepada UU.No,6. 1967 tentang : Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan. 3. Eliminasi anjig-anjing liar/tak bertuan dengan melakukan pengamatan langsung di tempat tempat persembunyian atau sarang-sarang anjing. Pokok-pokok yang dilaksanakan olek Sektor Kesehatan : 1. Vaksinasi Anti Rabies pada kasus gigitan hewan tersangka rabies melalui pemberian Vaksinasi Anti Rabies (VAR) atau kombinasi Vaksinasi Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) di Puskesmas dan Rumah Sakit. 2. Pencucian luka gigitan hewan-hewan tersangka rabies dengan sabun atau detergen lain untuk mengurangi masuknya kuman ke dalam tubuh. 3. Melaksanakan folow up pengobatan melalui kunjungan petugas Puskesmas ke tempat penderita. 4. Melakukan pelacakan kasus gigitan tambahan melalui Penyelidikan Epidemiologi (Pe). 5. Melakukan rujukan penderita rabies ke Rumah Sakit guna perawatan intensf. D. POKOK-POKOK & LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN : 1. Melaksanakan kegiatan dengan prinsip efisiensi: 1. 1 . Penajaman dan penetapan prioritas sasaran wilayah. ?? Membuat daftar desa tertular (dasar kasus 2 tahun terakhir). ?? Membuat peta wilayah Desa/Kecamatan Tertular. ?? Menentukan daerah sasaran pemberantasan ,yaitu desa tertular dan desa-desa sekitarnya dengan radius 10 km. ?? Membuat daftar Puskesmas/Pustu di wilayah pemberantasan. 1. 2.Membentuk lokasi Rabies Centre (Pusat Pelayanan Rabies) di Puskesmas & Rumah sakit yang memenuhi syarat: ?? Letak lokasi strategis dan mudah dicapai. ?? Tesedia dokter dan paramedis yang sudah dilatih. ?? Tersedia stok VAR dan SAR. ?? 1 kuur VAR di Puskesmas dan 1 Kuur VAR+ 3flacon SAR di Rumah Sakit. 2. Melaksanakan kewaspadaan dini : 2. 1.Penatalaksanaan kasus gigitan hewan tersangka/rabies, dilaksanakan : ?? Pertolongan pertama dengan melakukan pencucian luka oleh keluarga dan segera membawa penderita gigitan ke Puskesmas/Rumah Sakit terdekat atau Rabies Center untuk penanganan pada manusia. ?? Segera melapor kepada Kepala Wilayah (perangkat desa,kecamatan) atau peternakan untuk penanganan pada hewan penular rabies. ?? Pemberian VAR/SAR secara selektif (indikasi tajam). ?? Pelacakan kasus gigitan tambahan dengan melakukan monitoring pengobatan lanjut. 2. 2.Pelatihan Teknis dan manajemen Pengelolaan Rabies secara strategis (Puskesmas,RS dan Kab/Kota) ?? Pelatihan managemen Strategik dengan pendekatan Lokal Area Spesifik (P1,P2,P3).bagi Pengelola P2.Rabies. ?? Pelatihan Perencanaan Kab/Kota dan Puskesmas terpadu (Infomasi perencanaan Block Grant: Paket Puskesmas). ?? Pelatihan penatalaksanaan Kasus Gigitan Hewan Tersangka/Rabies bagi Dokter dan Paramedis Puskesmas /Rumah Sakit. ?? Pelatihan bagi Mantri praktek, Bidan Desa,Dukun dll. 2. 3.Pelatihan kader & Orientasi Tokoh Masyarakat: ?? Direncanakan dan dilaksanakan oleh Puskesmas. ?? Materi yang diberikan bahaya rabies dan pencegahannya. ?? Tugas dan fungsi untuk penyuluhan/sosialisasi rabies. 2. ?? ?? ?? ?? 2. 4 .Penyediaan bahan, sarana dan biaya operasional. Pembahasan perencanaan terpadu (lintas sektor/program). Pengajuan rencana penyediaan bahan VAR/SAR melalui APBN,APBD 1,APBDII,dll). Pengajuan rencana sarana & biaya operasional dan pertemuan. Pengajuan rencana sarana penyuluhan. 5.Pelaksanaan Operasional untuk kegiatan :

?? ?? ?? ?? 2. ?? ?? 2. 2. ?? ?? 3. 3. 3.

Perwatan luka gigitan. Pengobatan Pastuer. Pelacakan kasus gigitan tambahan (PE) dan follow up pengobatan. Pelaksanaan rujukan penderita rabies ke Rumah Sakit. 6.Peningkatan penyuluhan kesehatan masyarakat : Pendekatan penyuluhan kesehatan masyarakat : Desiminasi informasi P2 Rabies kepada lintas sektor terkait. 7.Pemantauan pengendalian dan evaluasi (melalui bintek dan supervisi). 8.Pertemuan Lintas Sektor. Pembentukan/memfungsikan TIKOR Rabies secara berjenjang. Persiapan bulan Vaksinasi&Eliminasi hewan penular rabies. Desentralisasi perencanaan Dati II & Puskesmas. 1.Petunjuk perencanaan Dati II Block Grant & Puskesmas (Paket Puskesmas ). 2.Pelatihan & orientasi sistem perencanaan.

III. ORGANISASI DAN MEKANISME KERJA PEMBERANTASAN RABIES A. TINGKAT PUSAT : Pelaksanaan Pusat ialah dibentuknya Tim Koordinasi Rabies Tingkat Pusat (TIKORPUS), dengan susunan sebagai berikut : Ketua : Direktur Jenderal Peternakan Wakil Ketua I : Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Wakil Ketua II : Direktur Jenderal Pemerintahan Umum dan Otonomo Daerah. TIKORPUS mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut: 1. Mengkoordinasi semua kegiatan pembebasan rabies listas sektoral dari semua unsur terkait secara nasional mulai dari perencanaan , pelaksanaan dan pemantauan/evaluasi. 2. Mengadakan pertemuan minimal empat kali setiap tahun. 3. Memberikan arah dan pedomankegiatan pembebasan rabies secara nasional. 4. Memantau seluruh kegiatan pembebasan rabies. 5. Menyediakan sarana kegiatan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan pembebasan rabies secara proporsional 6. Menetapkan jadwal kegiatan pembebasan rabies tingkat nasional. 7. Mengolah data rabies secara nasional. TIKORPUS mempunyai lintas kerja dengan : 1. Tim Pemantau Rabies Tingkat Pusat. 2. Pusat veterinaria Farma (PUSVETMA). 3. Balai pengujian Mutu dan Stratifikasi Obat Hewan (BPMSOH). B. TINGKAT DAERAH : Pelaksana Daerah : 1. Gubernur KDH Propinsi mempunyai fungsi dan tugas sebagai berikut: ?? Membetuk TIKOR Pembebasan Rabies Propinsi. ?? Mengkoordinasikan perencanaan,pelaksanaan pemantauan kegiatan pembebasn rabies di Wilayah daerahnya yang dilaksanakan oleh instansi pusat dan daerah dalam suatu kesaruan operasional. ?? Menggerakkan keikutsertaan seluruh lapisa masyarakat dan lembaga-lembaga kemasyarakatan di wilayahnya. ?? Selaku TIKOR Propinsi melaporkan kegiatan pembebasan rabies kepada Menteri Dalam Negeri denga tembusan kepada Direktorat Jenderal PUOD , Direktorat Jenderal Peternakan dan Direktorat Jenderal PPM&PL. 2. Bupati/Walikota mempunyai fungsi dan tugas sebagai berikut : ?? Membentuk TIKOR Pembebasan Rabies Kab/Kota. ?? Mengkoordinasikan perencanaan ,pelaksanaan dan pemantauan kegiatan pembebasan rabies di wilayah daerahnya dalam operasional. ?? Menggerakkan keikutsertaan seluruh masyarakat dan lembaga-lembaga kemasyarakatan di wilayahnya. ?? Selaku Ketua Kab/Kota melaporkan kegiatan pembebasan rabies kepada Gubernur Propinsi selaku Ketua TIKOR Propinsi Tembusan disampaikan kepada Dinas Peternakan Propinsi dan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi. 3. Camat mempunyai funngsi dan tugas sebagai berikut: ?? Membentuk TIKOR Pembebasan Rabies Tingkat Kecamatan.

?? Mengkoordinasikan Perencanaan ,Pelaksanaan dan pemantauan kegiatan pemberantasan rabies di wilayah daerahnya dalam satu kesatuan tindak. ?? Menggerakkan keikutsertaan seluruh lapisan masyarakat dan lembaga lembaga kemasyakatan diwilayahnya. ?? Selaku Ketua TIKOR melaporkan kegiatan pembebasan rabies kepada Bupati/Walikota selaku Ketua TIKOR Kab/Kota. 4. Kepala Desa atau Lurah, mempunyai fungsi dan tugas sebagai berikut : ?? Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kewajiban Ketua-ketua RT (Rukun Tetangga ). ?? Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan Kader. ?? Menetapkan pos Basra (pembebasan rabies)sebagai tempat vaksinasi. ?? Menginstruksikan pelaksanaan kegiatan Basra dan menetapkan hari H pelaksanaan vaksinasi dan eliminasi. ?? Mengkoordinasikan kegiaytan sebagai berikut: ?? Pengiriman penderita yang digigit hewan yang tersangka penderita rabies ke Puskesmas atau Unit Kesehatan yang mempunyai fasilitas pengobatan anti rabies. ?? Pelaporan adanya kegiatan kasus gigitan hewan tersangka rabies ke Camat cq Petugas Peternakan Kab/Kota. ?? Penangkapan hewan-hewan tersangka rabies. 5. Ketua Rukun Tetangga (RT), mempunyai fungsi dan tugas sebagain berikut: ?? Mendata pemilik anjing, populasi anjing dan mutasi anjing di RT nya. ?? Bertanggung jawab dalam mengerahkan pemilik anjing supaya memvaksinasi anjingnya. 6. Kader Basra Desa mempunyai fungsi dan tugas sebagai berikut : ?? Pendataan populasi dan mutasi anjing (bermilik dan liar) minimal 3 bulan sekali. ?? Melaksanakan eliminasi anjing (tugas utama)minimal 2 kali dalam setahun. ?? Membantu vaksinator dalam melaksanakan vaksinasi minimal 2 kali setahun. 7. Kepala Cabang Dinas (KCD) Peternakan. ?? Melakukan bimbingan tekhnik pelaksanaan di desa,pelaksanaan observasi pengambilan dan pengiriman spesimen. ?? Orientasi kepada Camat, Kepala Desa atau Lurah dan aparatnya. 8. Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) dan Puskesmas/Rumah Sakit yang ditunjuk sebagai Rabies Center, yang mempunyai fungsi dan tugas sebagai berikut: ?? Melaksanakan penanganan kasus gigitan hewan tersangka rabiesdengan: Melakukan pencucian luka.gigitan selama 10-15 menit.dengan air mengalir dan pemberian antiseptic (alkohol 70%,betadine,dll). ?? Melakukan pengobatan Pasteur, memberikan Vaksinasi Anti Rabies (VAR) dan Serum anti Rabies (SAR) sesuia dengan Standar Operasi Procedure (SOP). ?? Menyediakan dan menyimpan : (Khusus Puskesmas/RS yang ditunjuk sebagai Rabies Center. VAR Manusia minimal 1 kuur (4 dosis) disimpan pada suhu 2-8 C di Puskesmas yang ditunjuk sebagai Rabies Center. ?? Membantu menyimpan vaksi rabies hewan minimal :200 dosis pada suhu 4 C. ?? Membantu medistribusikan vaksi rabies hewan ke desa sesuai tempat dan jadwal pelaksanaan. ?? Melakukan penyuluhan pertolongan pertama pada kasus gigitan hewan tersangka rabies kepada masyarakat. ?? Melaporkan kasus gigitan ke petugas peterkakan setempat. ?? Ikut berperan serta dalam pelatihan kader desa. ?? Memberikan Pre Exposure kepada petugas yang berisiko tinggi bila diperlukan (Petugas Laboratorium,Kader Basra). IV. PEMBAGIAN STATUS DAERAH DAN KRITERIANYA A. STATUS DAERAH : 1. Daerah bebas kriterianya : ?? Daerah yang secara historis tidak pernah ditemukan penyakit rabies. ?? Dearah yang tertular rabies tapi dalam 2 tahun terakhir tidak ada kasus secara klinis dan epidemiologis serta sudah dikonfirmasi secara laboratoris. 2. Daerah Tertular Kriterianya: Daerah yang dalam 2 tahun terakhir pernah ada kasus rabies pada hewan dan manusia(baik secara berurutan atau tunggal) secara klinis, epidemilogis dan dikonfirmasi secara laboratoris. Khusus untuk manusia kasusnya berasal dari daerah tersebut (bukan kasus import). 3. Daerah Tersangka kriterianya :

?? Daerah yang dalam 2 tahun terakhir ada kasus rabies secara klinis dan epidemiologis tapi belum dibuktikan secara laboratoris. ?? Daerah yang berbatasan langsung dalam satu daratan dengan daerah tertular. B. BATAS DAERAH : Yang dapat dijadikan pegangan dalam menentukan batasan daerah adalah : 1. Pulau. 2. Propinsi/Kabupaten/Kota yang mempunyai sarana pengawawasan lalu lintas hewan penular rabies yang mencegah penularan rabies (batas alam, check point).