Anda di halaman 1dari 37

ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) NEUROBLASTOMA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Neuroblastoma merupakan tumor lunak, padat yang berasal dari sel-sel crest neuralis yang merupakan prekusor dari medula adrenal dan sistem saraf simpatis. Neuroblastoma dapat timbul di tempat terdapatnya jaringan saraf simpatis. Meninfestasi klinis neuroblastoma berkaitan dengan lokasi timbulnya tumor dan metastasisnya. Kebanyakan pasien saat datang sudah stadium lanjut. Penyakit ini memiliki kekhasan dapat remisi spontan dan transformasi ke tumor jinak, terutama pada anak dalam usia 1 tahun. Terapi meliputi operasi, radioterapi, kemoterapi dan terapi biologis. Survival 5 tahun untuk stadium I dan II pasca terapi kombinasi adalah 90% lebih, stadium III kira-kira 40%-50%, stadium IV berprognosis buruk yaitu hanya 15%-20%. Neuroblastoma adalah tumor padat ekstrakranial pada anak yang paling sering, meliputi 8-10% dari seluruh kanker masa kanak-kanak, dan merupakan neoplasma bayi yang terdiagnosis adalah 2 tahun, 90% terdiagnosis sebelum 5 tahun. Insiden tahunan 8,7 perjuta anak, atau 500-600 kasus baru tiap tahun di Amerika Serikat. Insiden sedikit lebih tinggi pada laki-laki dan pada kulit putih. Ada kasus-kasus keluarga dan neuroblastoma telah didiagnosis pada penderita dengan neurofibrogematosis, nesidioblastosis dan penyakit Hischrung. Angka ketahanan hidup bayi dengan penyakit neuroblastoma yang berstadium rendah melebihi 90% dan bayi dengan penyakit metastasis mempunyai angka ketahanan hidup jangka panjang 50% atau lebih. Anak dengan penyakit stadium stadium rendah umumnya mempunyai prognosis yang sangat baik, tidak tergantung umur. Makin tua umur penderita dan makin menyebar penyakit, makin buruk prognosisnya. Meskipun dengan terapi konvensional atau CST yang agresif, angka ketahanan hidup bebas penyakit untuk anak lebih tua dengan penyakit lanjut jarang melebihi 20%. Mengingat penyakit neuroblastoma adalah penyakit yang perlu diwaspadai dan dapat dicegah kemunculannya, maka sebagai calon perawat sangat penting untuk mengetahui tentang apakah neuroblastoma dan bagaimana kita melakukan asuhan keperawatan yang baik dan benar pada anak dengan neuroblastoma. Oleh karena itu, kami menyusun makalah neuroblastoma ini sebagai bahan acuan pembelajaran bidang neurologi pada anak. Diharapkan dengan adanya makalah ini, dapat membantu proses belajar mahasiswa dan akhirnya mahasiswa mampu melaksanakan asuhan keperawatan dengan bauk dan benar pada anak dengan gangguan neuroblastoma. 1.2 Tujuan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Menjelaskan definisi neuroblastoma Menjelaskan etiologi neuroblastoma Menjelaskan patofisiologi neuroblastoma Menjelaskan manifestasi klinis neuroblastoma Menjelaskan stadium dari neuroblastoma Menjelaskan pemeriksaan diagnostik neuroblastoma Menjelaskan penatalaksanaan neuroblastoma Menjelaskan komplikasi neuroblastoma Menjelaskan prognosis neuroblastoma

10. Menjelaskan WOC neuroblastoma

1.3 Manfaat

Meningkatkan pengetahuan calon perawat tentang neuroblastoma untuk memudahkan mereka ketika praktik di rumah sakit. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Neuroblastoma adalah tumor embrional dari system saraf otonom yang mana sel tidak berkembang sempurna. Neuroblastoma umumnya terjadi bayi usia rata-rata 17 bulan. Tumor ini berkembang dalam jaringan sistem saraf simpatik, biasanya dalam medula adrenal atau ganglia paraspinal, sehingga menyebabkan adanya sebagai lesi massa di leher, dada, perut, atau panggul. Insiden neuroblastoma adalah 10,2 kasus per juta anak di bawah 15 tahun. Yang paling umum kanker didiagnosis ketika tahun pertama kehidupan (Jhon, 2010). Neuroblastoma merupakan tumor lunak, padat yang berasal dari sel-sel crest neuralis yang merupakan prekusor dari medula adrenal dan sistem saraf simpatis. Neuroblastoma dapat timbul di tempat terdapatnya jaringan saraf simpatis. Tempat tumor primer yang umum adalah abdomen, kelenjar adrenal atau ganglia paraspinal toraks, leher dan pelvis. Neuroblastoma umumnya bersimpati dan seringkali bergeseran dengan jaringan atau organ yang berdekatan (Cecily & Linda, 2002) Neuroblastoma adalah tumor padat ekstrakranial pada anak yang paling sering, meliputi 8-10% dari seluruh kanker masa knak-kanak, dan merupakan neoplasma bayi yang terdiagnosis adalah 2 tahun, 90% terdiagnosis sebelum 5 tahun.Neuroblastoma berasal dari sel krista neuralis sistem saraf simpatis dan karena itu dapat timbul di manapun dari fossa kranialis posterior sampai koksik. Sekitar 70% tumor tersebut timbul di abdomen, 50% dari jumlah itu di kelenjar adrenal. Dua pulu persen lainnta timbul di toraks, biasanya di mediastinum posterior. Tumor itu paling sering meluas ke jaringan sekitar dengan invasi lokal dan ke kelenjar limfe regional melalui nodus limfe. Penyebaran hematogen ke sumsum tulang, kerangka, dan hati sering terjadi. Dengan teknik imunologik sel tumor dapat dideteksi dalam darah tepi pada lebih dari 50% anak pada waktu diagnosis atau relaps. Penyebaran ke otak dan paru pada kasus jarang (Nelson, 2000). Neuroblastoma adalah tumor ganas yang berasal dari sel Krista neurak embronik, dapat timbul disetiap lokasi system saraf simpatis, merupakan tumor padat ganas paling sering dijumpai pada anak. Insiden menempati 8% dari tumor ganas anak, atau di posisi ke-4. Umumnya ditemukan pada anak balita, puncak insiden pada usia 2 tahun. Lokasi predeileksi di kelenjar adrenal retroperitoneal, mediastrinum, pelvis dan daerah kepala-leher. Tingkat keganasan neuroblastoma tinggi, sering metastasis ke sumsum tulang, tulang, hati, kelenjar limfe, dll (Willie, 2008). Tumor ini biasanya tidak memungkiri asalnya, dengan mengeluarkan hormon katekolamin. Tekanan darah tinggi yang merupakan akibat tumor ini jarang menimbulkan keluhan, tetapi dapat berfungsi sebagai zat penanda tumor: di dalam air kemih dapat dilihat hormon yang dikeluarkan, sehingga diagnosis tumor menjadi jelas. Dengan dapat dipastikan, apakah tumornya neuroblastoma atau nefroblastoma (Wim De Jong, 2005) 2.2 Etiologi Kebanyakan etiologi dari neuroblastoma adalah tidak diketahui. Ada laporan yang menyebutkan bahwa timbulnya neuroblastoma infantile (pada anak-anak) berkaitan dengan orang tua atau selama hamil terpapar obat-obatan atau zat kimia tertentu seperti hidantoin, etanol, dll. (Willie , 2008). Kelainan sitogenik yang terjadi pada neuroblastoma kira-kira pada 80% kasus, meliputi penghapusan (delesi) parsial lengan pendek kromosom 1, anomali kromosom 17, dan ampifilatik genomik dari oncogen N-Myc, suatu indikator prognosis buruk (Nelson, 2000). 2.3 Manifestasi Klinis Menurut Cecily & Linda (2002), gejala dari neuroblastoma yaitu: Gejala yang berhubungan dengan massa retroperitoneal, kelenjar adrenal, paraspinal.

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Massa abdomen tidak teratur,tidak nyeri tekan, keras, yang melintasi garis tengah. Perubahan fungsi usus dan kandung kemih Kompresi vaskuler karena edema ekstremitas bawah Sakit punggung, kelemahan ekstremitas bawah Defisit sensoris Hilangnya kendali sfingter

Gejala-gejala yang berhubunngan dengan masa leher atau toraks. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Limfadenopati servikal dan suprakavikular Kongesti dan edema pada wajah Disfungsi pernafasan Sakit kepala Proptosis orbital ekimotik Miosis Ptosis Eksoftalmos Anhidrosis

Menurut Willie (2008) manifestasi klinis dari neuroblastoma berbeda tergantung dari lokasi metastasenya:

Neuroblastoma retroperitoneal

Massa menekan organ dalam abdomen dapat timbul nyeri abdomen, pemeriksaan menemukan masa abdominal yang konsistensinya keras dan nodular, tidak bergerak, massa tidak nyeri dan sering melewati garis tengah. Pasien stadium lanjut sering disertai asites, pelebaran vena dinding abdomen, edema dinding abdomen.

Neurobalstoma mediastinal

Kebanyakan di paravertebral mediastinum posterior, lebih sering di mediastinum superior daripada inferior. Pada awalnya tanpa gejala, namun bila massa besar dapat menekan dan timbul batuk kering, infeksi saluran nafas, sulit menelan. Bila penekanan terjadi pada radiks saraf spinal, dapat timbul parastesia dan nyeri lengan.

Neuroblastoma leher

Mudah ditemukan, namun mudah disalahdiagnosis sebagai limfadenitis atau limfoma maligna. Sering karena menekan ganglion servikotorakal hingga timbul syndrome paralisis saraf simpatis leher(Syndrom horner), timbiul miosis unilateral, blefaroptosis dan diskolorasi iris pada mata.

Neuroblastoma pelvis

Terletak di posterior kolon presakral, relative dini menekan organ sekitarnya sehingga menimbulkan gejala sembelit sulit defekasi, dan retensi urin.

Neuroblastoma berbentuk barbell

yaitu neuroblastoma paravertebral melalui celah intervertebral ekstensi ke dalam canalis vertebral di ekstradural. Gejala klinisnya berupa tulang belakang kaku tegak, kelainan sensibilitas, nyeri. Dapat terjadi hipomiotonia ekstremitas bawah bahkan paralisis. 2.4 Stadium Beberapa system penentuan stadium staging, system kelompok evans dan kelompok Onkologi Pediatrik (Pediatrik Oncology Group POG ). System klasifikasi stadium neuroblastoma terutama memakai system klasifikasi stadium klinis neuroblastoma internasional (INSS). Klasifikasi stadium INSS :

Stadium I

Tumor terbatas pada organ primer, secara makroskopik reseksi utuh, dengan atau tanpa residif mikroskopik. Kelenjar limfe regional ipsilateral negative.

Stadium IIA

Operasi tumor terbatas tak dapat mengangkat total, kelenjar limfe regional ipsilateral negative.

Stadium IIB

Operasi tumor terbatas dapat ataupun tak dapat mengangkat total, kelenjar limfe regional ipsilateral positif.

Stadium III

Tumor tak dapat dieksisi, ekspansi melewati garis tengah, dengan atau tanpa kelenjar limfe regional ipsi atau tanpa kelenjar limfe regional ipsilateral positif.

Stadium IV :

Tumor primer menyebar hingga kelenjar limfe jauh, tulang, sumsum tulang, hati, kulit atau organ lainnya.

Stadium IVS

Usia <1 tahun, tumor metastasis ke kulit,hati, sumsum tulang, tapi tanpa metastasis tulang(Willie, 2008). System Pediatric Oncologic group (POG) membagi stadium neuroblastoma menjadi :

Stadium A

Tumor yang direseksi sacara kasar.

Stadium B

Tumor local tidak direseksi.

Stadium C

Metastasis ke kelenjar limfe intraktivita yang tidak berdekatan

Stadium D

Metastasis di luar kelenjar limfe

Stadium Ds

Bayi dengan adrenal kecil terutama dengan penyakit metastasis terbatas pada kulit, hati dan sumsum tulang

Stadium D Neonatus

Telah diketahui dengan mengalami remisi spontan. Keterlibatan sumsum tulang pada stadium ini merupakan factor prognosis yang buruk (Nelson, 2000). 2.5 Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostik pada neuroblastoma menurut Suriadi dan Rita (2006), antara lain : a) b) c) d) e) f) g) Foto abdomen bisa memperlihatkan klasifikasi tumor. Tumor adrenalis menggeser ginjal, tetapi biasanya Peningkatan kadar kartekolamin urina (VMA dan VA) mengkonfirmasi diagnosis pada 90% kasus dan CT Scan untuk mengetahui keadaan tulang pada tengkorak, leher, dada dan abdomen. Punksi sumsum tulang untuk mengetahui lokasi tumor atau metastase tumor. Analisa urine untuk mengetahui adanya Vanillymandelic acid (VMA) homovillic acid (HVA), dopamine, Analisa kromosom untuk mengetahui adanya gen N myc. Meningkatnya ferritin, neuron spesific enolase (NSE), ganglioside (GDZ). tidak merubah system pelvicalyces pada urogram intravena atau pemeriksaan ultrasonografi. juga merupakan indicator rekuensi yang sensitive. Kadang-kadang timbul metastasis tulang (Thomas, 1994)

norepinephrine.

2.6 Penatalaksanaan Menurut Cecily (2002), International Staging System untuk neuroblastoma menetapkan definisi standar untuk diagnosis, pertahapan, dan pengobatan serta mengelompokkkan pasien berdasarkan temuan-temuan radiografik dan bedah, ditambah keadaan sumsum tulang. Tumor yang terlokalisasi dibagi menjadi tahap I, II, III, tergantung cirri tumor primer dan status limfonodus regional. Penyakit yang telah mengalami penyebaran dibagi menjadi tahap IV dan IV (S untuk spesial ), tergantung dari adanya keterlibatan tulang kortikal yang jauh, luasnya penyakit sumsum tulang dan gambaran tumor primer. Anak dengan prognosis baik umumnya tidak memerlukan pengobatan, pengobatan minimal, atau banyak reseksi. Reseksi dengan tumor tahap I. Untuk tahap II pembedahan saja mungkin sudah cukup, tetapi kemoterapi juga banyak digunakan dan terkadang ditambah dengan radioterpi lokal. Neuroblastoma tahap IVS mempunyai angka regresi spontan yang tinggi, dan penatalaksanaannya mungkin hanya terbatas pada kemoterapi dosis rendah dan observasi ketat. Neuroblastoma tahap II dan IV memerlukan terapi intensif, termasuk kemoterapi, terapi radiasi, pembedahan, transplantasi sumsum tulang autokolog atau alogenik, penyelamatan sumsum tulang, metaiodobenzilquainid (MIBG), dan imunoterapi dengan antibody monklonal yang spesifik terhadap neuroblastoma. Pengobatan terdiri atas penggunaan kemoterapi multiagens secara simultan atau bergantian. 1. 2. 3. Siklofosfamid menghambat replikasi DNA. Doksorubisin mengganggu sintesis asam nukleat dan memblokir transkripsi DNA. VP-16 menghentikan metaphase dan menghambat sintesis protein dan asam nukleat.

Jenis terapi : a) a) b) c) d) e) b) a) b) c) c) a) b) c) d) e) f) g) Neuroblastoma berisiko rendah Operasi yang diikuti oleh watchful waiting (penungguan yang diawasi dengan ketat). Perawatan untuk pasien neuroblastoma beresiko rendah meliputi:

Watchful waiting sendirian untuk bayi-bayi tertentu.


Operasi diikuti oleh kemoterapi, jika kurang dari separuh dari tumor yang dikeluarkan atau jika gejalaTerapi radiasi untuk merawat tumor-tumor yang menyebabkan persoalan-persoalan serius dan tidak Kemoterapi dosis rendah. Neuroblastoma beresiko sedang Kemoterapi. Kemoterapi yang diikuti oleh operasi dan/atau terapi radiasi. Terapi radiasi untuk merawat tumor-tumor yang menyebabkan persoalan-persoalan yang serius dan tidak Neuroblastoma beresiko tinggi Kemoterapi dosis tinggi yang diikuti oleh operasi untuk mengeluarkan sebanyak mungkin tumor. Terapi radiasi pada tempat tumor dan, jika diperlukan, pada bagian-bagian lain tubuh dengan kanker. Transplantasi sel induk (Stem cell transplant). Kemoterapi yang diikuti oleh 13-cis retinoic acid. Percobaan klinik dari monoclonal antibody therapy setelah kemoterapi. Percobaan klinik dari terapi radiasi dengan yodium ber-radioaktif sebelum stem cell transplant. Percobaan klinik dari stem cell transplant yang diikuti oleh 13-cis retinoic acid.

gejala serius tidak dapat dibebaskan dengan operasi. merespon secara cepat pada kemoterapi.

Perawatan untuk pasien neuroblastoma berisiko sedang mungkin meliputi :

merespon secara cepat pada kemoterapi.

2.7 Komplikasi Komplikasi dari neuroblastoma yaitu adanya metastase tumor yang relatif dini ke berbagai organ secara limfogen melalui kelenjar limfe maupun secara hematogen ke sum-sum tulang, tulang, hati, otak, paru, dan lain-lain. Metastasis tulang umumnya ke tulang cranial atau tulang panjang ekstremitas. Hal ini sering menimbulkan nyeri ekstremitas, artralgia, pincang pada anak. Metastase ke sum-sum tulang menyebabkan anemia, hemoragi, dan trombositopenia (Willie, 2008) 2.8 Prognosis Kelangsungan hidup 5 tahun 60%. Kadang-kadang dilaporkan pemulihan spontan(Thomas, 1994). Identifikasi factor prognosis spesifik adalah penting untuk perencanaan terapi. Prediktor paling menonjol bagi keberhasilan adalah umur dan stadium penyakit. Anak yang berusia kurang dari satu tahun agak lebih baik daripada anak berumur lebih tua dengan stadium penyakit yang sama. Angka ketahanan hidup bayi dengan penyakit berstadium rendah melebihi 90% dan bayi dengan penyakit metastasis mempunyai angka ketahanan hidup jangka panjang 50% atau lebih. Anak dengan penyakit stadium stadium rendah umumnya mempunyai prognosis yang sangat baik, tidak tergantung umur. Makin tua umur penderita dan makin menyebar penyakit, makin buruk prognosisnya. Meskipun dengan terapi konvensional atau CST yang agresif, angka ketahanan hidup bebas penyakit untuk anak lebih tua dengan penyakit lanjut jarang melebihi 20% (Nelson, 2000) Factor yang terpenting dalam prognosis neuroblastoma adalah ada tidaknya ampilifikasi oncogen N-myc. 1. 2. ampilifikasi oncogen N-myc di atas 10 kopi menunjukkan prognosis buruk dan terapi perlu diperkuat. Pasien stadium III tanpa ampilifikasi oncogen N-myc digunakan terapi kombinasi agresif dan survival dapat mencapai 50%

3.

Pasien stadium I/II dan IVS tanpa ampilifikasi oncogen N-myc dapat memiliki survival mencapai 90% lebih (Willie, 2008)

2.9 WOC Download : WOC NEUROBLASTOMA BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 Pengkajian Study Kasus Anak I umur 2 tahun di bawa ke RS pada tanggal 9 April 2010 oleh Ny. F karena badannya demam. Dua bulan yang lalu, timbul benjolan pada leher seperti uci-uci kemudian membesar dan menyebar ke bagian belakang kepala. An. I tampak pucat dan berat badannya turun dari 13 kg menjadi 11 kg. 1. a. Nama Umur Jenis kelamin Tanggal Lahir Tanggal MRS Dx medis Alamat b. c. Anamnesa Biodata : An. NK : 2 th : perempuan : 27 Februari 2008 : 9 April 2010 : Neuroblastoma : Graha Indah Blok Q1 RT 48 No 9 Balikpapan Utara Keluhan Utama Riwayat penyakit sekarang An. I demam Terdapat benjolan di kepala bagian belakang An.I, dua bulan yang lalu terdapat uci-uci di lehernya. An. I pucat dan berat badannya turun 2 Kg. d. e. f. 1. B1 B2 B3 B4 B5 B6 Riwayat penyakit keluarga Riwayat alergi Pemeriksaan Fisik : RR 40x/menit (normal), tak ada penggunaan otot bantu napas, : Hipertermi suhu badannya 390C, conjungtiva anemis, CRT > 3 Detik, pucat, BP: 80/60 (bradicardy), nadi 200x/menit : tuli sensorineural dengan tes Rhyne (+) tes Weber lateralisasi pada sisi yang sehat : normal, terpasang kateter, produksi urine normal 0,5 cc kgBB/jam, warna urin normal : BB menurun, pemeriksaan serum albumin 2,0 dL , pemeriksaan Hb 8,5 g/dl (anemi), anak tampak lemas : nyeri di punggung, sulit tidur akibat massa di kepala Nenek menderita ca cerviks stadium akhir, Ibu sel BRCA (+) Tidak ada Riwayat penyakit masa lalu

Data bayi

dan porsi makan menurun, tidak mengalami gangguan buang air besar Tanda-tanda Vital

T: 39 C 2. a.

P: 200x/menit

R: 40x/menit

BP:80/60

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan diagnostic 1.

PA b. Hb Leukosit Trombosit Eritrosit Albumin 3.

: Neuroblastoma dengan metastase ke sum-sum tulang belakang Pemeriksaan laboratorium : 8,5 g/dl : 3100 x 10 u/l : 100.000 : 2,8 juta/uL (mm3) : 2,0 /dL PH PO2 : 7,34 : 75% PCO2 : 39 HCO3 : 27

CT Scan : Menunjukkan tumor telah metastase ke sum-sum tulang belakang

Terapi

Paracetamol 100 mg Injeksi novalgin 100 mg Injeksi ampicilin subaktan 4 x 225 mg Transfuse PRC (Pocket Red Cell) 2 x 100 cc 3.2 Analisa Data No 1 Data Ds: Ibu mengatakan An. I demam Do: Suhu An. I 39 C Leukosit: 3100x 10 u/L Nadi: 200x/menit CT scan: metastase ke sumsum tulang
0

Etiologi massa di occipital lobe Metastase ke sum-sum tulang Gangguan proses hemopoitik Leukosit Infeksi hiperthermi

Masalah Keperawatan Hipertermi

Ds: An. I tampak pucat Do: Hb: 8,5 g/dl Eritrosit: 2,8 juta/mm3 PO2: 75%

Tumor di oksipital Metastase ke sum-sum tulang belakang Gangguan pembentukan sel-sel darah Anemia

Pk anemia

Ds: An. I tampak kurus Do: Berat badan turun dari 13 kg

Tumor di oksipital Metastase ke sum-sum tulang

Nutrisi kurang dari kebutuhan

menjadi 11 kg Albumin: 2,0 d/L Hb: 8,5 g/dl Eritrosit : 2,8 Juta/mm3 PO2: 75%

Proses hemopoitik terganggu Anemi Kelemahan dan malaise Anorexia Nutrisi kurang dari kebutuhan

Ds: Ibu mengatakan An I sering tidak mendengar jelas apa yang disampaikannya Do: An. I terbiasa berbicara dengan suara keras

Tumor di oksipital Menekan pusat pendengaran Gangguan persepsi sensori (auditori)

Gangguan persepsi sensori (auditori)

3.3 Diagnosa 1. 2. 3. 4. Hipertermi berhubungan dengan leukositopenia karena metastase ke sum-sum tulang Pk Anemia berhubungan dengan metastase ke sum-sum tulang Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia Gangguan persepsi sensori (auditori) berhubungan dengan penekanan pusat pendengaran

3.4 Intervensi

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi 1. Hipertermi Tujuan: pasien akan 1. Mandiri: Berhubungan menunjukkan termoregulasi dengan KH: Suhu tubuh kembali Kompres dengan air biasa leukositopenia normal karena metastase 1. Suhu : 370 C ke sum-sum 2. Nadi : 140 denyut tulang per menit 3. Tekanan darah : 90/60 mmHg d. RR : 40 kali per menit 1. Kolaborasi: pemberian paracetamol 100mg dan injeksi ampicilin subaktan 4x225 mg

Rasional

1. Paracetamol untuk menurunkan panas da inj ampisilin memban mencegah terjadinya infeksi sebagai akibat dari menurunya jmlah leukosit dalam darah

1. Peningkatan suhu tubu 1 C setara dengan kebutuhan penambaha cairan sebanyak 12% cairan basal tubuh, diperlukan air yang cukup unuk mengembalikan

1. HE: Anjurkan pasien untuk minum sedikit-sedikit tapi sering

1. Pantau tekanan darah, nadi, pernafasan dalam batas normal

kehilangan 12% cairan tersebut 1. Untuk mengontrol kemajuan pasi dan menjadi evaluasi untuk tindakan pengobatan da keperawatan lanjut 2. Untuk menceg dan mengenali secara dini hipertermia

1. Ajarkan pasien/keluarga dalam mengukur suhu 1. Untuk menurunkan panas, air biasa mampu menetralkan suhu tubuh yang meningkat terutama laksanakan pengompresan pad area-area dengan arteri besar spt arteri di axilla 2. Pk Anemia Tujuan: anemia berkujrang berhubungan darfi keadaan sebelumnya dengan KH: metastase ke sum-sum 1. Hb 11-16 g/dL tulang 2. Eritrosit 4juta/mm3 1. Kolaborasi: pemberian PRC 2x100cc

1. Mandiri: Identifikasi faktor lingkungan yang memungkinkan resiko jatuh

1. Agar bisa mencegah jatuh secara mandiri oleh anggota keluarga

1. Dengan pemantauan s darah merah berkala,

1. HE: Berikan informasi yang berhubungan dengan strategi untuk mencegah cedera 1. Pantau jumlah sel darah merah tetap dalam batas normal secara berkala 1. Untuk menambah sel darah merah sehingga tidak terjadi kematian sel maupun jaringan 2. Untuk meminimalkan terjadinya jatuh dan dapat melukai pasien 3. Nutrisi kurang Tujuan: Pasien Mandiri dari menunjukkan nutrisi yang kebutuhan adekuat 1. Berikan makanan yang berhubungan KH: disukai kecuali ada dengan kontra indikasi anoreksia 1. A: BB meningkat 2. Berikan makanan yang bervariasi 3. Ukur BB pasien 2 hari B: Albumin: 3,5-5,5/dL 1x Hb: 11-16 g/dL C: malaise berkurang D: porsi makan habis 1. mempertahankan massa tubuh dan BB dalam batas normal 2. nilai lab normal

dapat membantu mencegah terjadinya nekrosis jaringan peri

1. pemberian makanan yang disukai diharapkan akan meningkatkan nafsu makan pasien 2. Menghindari kebosanan

3. Untuk mengetahui perubah BB dan menjadi data evaluas dalam pengobatan maupun perawatan lebih lanjut 4. Mengetahui kadar albumin dalam darah sebagai evaluasi apakah program intervensi ya dilaksanakan sudah tepat 5. Mengetahui kebutuhan nut 1. Pantau nilai lab: Albumin dalam rentang pasien dengan tepat dan bena normal

Kolaborasi 1. Menentukan makanan bersama ahli gizi HE

6. Dengan memberikan anjur yang baik diharap pasien mampu bekerjasama dalam proses penyembuhannya

1. Anjurkan klien untuk berpartisipasi dalammenghabiskan porsi makan 4. Gangguan Tujuan: Mandiri: persepsi sensori 1. Setelah diberikan 1. berikan lingkungan (auditori) tindakan yang tenang dan tidak berubungan keperawatan kacau dengan diharapkan penekanan ketajaman pusat pendengaran pasien pendengaran meningkat 1. bersihkan bagian telinga KH: yang kotor Pasien akan berinteraksi secara sesuai dengan orang lain dan lingkungan 1. observasi ketajaman pendengaran, catat apakah kedua telinga terlibat

1. membantu untuk menghindari masukan sensori yang berlebiha dengan mengutamaka kualitas tenang 2. telinga yang bersih dapat membantu dalam proses pendengaran yang lebih baik 3. mengetahui tingkat ketajaman pendengara pasien dan untuk evaluasi dan menentukan intervens selanjutnya 4. diharapkan dengan pemasangan alat bantu dengar pasien dapat mendengar dengan leb baik

1. kolaborasi: pemasangan alat bantu pendengaran

HE: 1. Ajarkan pasien bahasa isyarat sebagai bahasa pengganti

1. Bahasa isyarat dapat menjadi pilihan pengajaran bahasa bag klien anak yang sudah tidak mampu mendengar, juga membantu anak mendpatkan kualitas hidup yang lebih baik 2. mematuhi program terapi akan mempercepat proses penyembuhan

1. anjurkan pasien dan keluarganya untuk mematuhi program

terapi yang diberikan

BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan Neuroblastoma merupakan tumor lunak, padat yang berasal dari sel-sel crest neuralis yang merupakan prekusor dari medula adrenal dan sistem saraf simpatis. Neuroblastoma dapat timbul di tempat terdapatnya jaringan saraf simpatis.cvfev Tempat tumor primer yang umum adalah abdomen, kelenjar adrenal atau ganglia paraspinal toraks, leher dan pelvis. Neuroblastoma umumnya bersimpati dan seringkali bergeseran dengan jaringan atau organ yang berdekatan (Cecily & Linda, 2002). Kebanyakan etiologi dari neuroblastoma adalah tidak diketahui. Adapun manifestasi klinis dari neuroblastoma yaitu tergantung lokasinya, di retroperitoneal, mediastinal leher, pelvis, dan lain-lain. Sedangkan penatalaksanaannya tergantung stadium dari neuroblastoma itu sendiri DAFTAR PUSTAKA Cecily, dkk. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatri Edisi 3. Jakarta: EGC. De Jong,Wim. 2005. Kanker, Apakah itu? Pengobatan, Harapan Hidup, dan Dukungan Keluarga. Jakarta: ARCAN. Japaries, Willie. 2008. Buku Ajar Onkologi Klinis Edisi 2. Jakarta: FKUI. Maris, Jhon. 2010. Recent Advances in Neuroblastoma. Disitasi dari http://www.nejm.org/ pada 5 November 2010. Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15 Jilid 3. Jakarta: EGC. Suriadi & Yulianni,Rita. 2006. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta: CV. SAGUNG SETO. Thomas,R. 1994. Atlas bantu Pedriatri. Jakarta: Hipokrates. Wilkinson,Judith M. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN NEUROBLASTOMA


A.DEFINISI Neuroblastoma berasal dari embrionyc neural crest dan kelenjar adrenal merupakan tempat yang sering terkena, tumor ini mempunyai keganasan yang tinggi pada bayi dan anak. Biasanya di temukan pada anak usia 2-4 tahun (prof. DR Iskandar W, 1985). Neuroblastoma adalah tumor ganas yang terjadi pada system persarafan yang berasal dari sel-sel saraf yang terdapat paa medula adrenal dan system saraf simpatik (Sumadi. 2001). Neuroblastoma adalah tumor ganas yang terjadi pada sistem persarafan yang berasal dari sel sel saraf yang terdapat pada sistem saraf simpatis dan medula adrenal. B.ETIOLOGI Penyebabnya tidak diketahui. Mungkin berhubungan dengan faktor keturunan karena pada sel-sel tumor ditemukan kelainan genetik tertentu. C.PATOFISIOLOGI Sel-sel kanker yang berasal dari medula adrenal dan system saraf simpatik berploriferasi,menekan jaringan sekitarnya, kemudian menginfasi sel-sel normal disekitarnya. Tahap-tahap pada neuroblastoma: Tahap I : tumor terlokalisasi pada daerah asal tumor, nodus limfe belum terkna Tahap II : tumor unilateral, nodus limfe belumterkena Tahap III : tumor menginfiltrasi kearaah tengah, tumor unilateral dengan terkenanya nodus limfe, tumor mengenai seluruh nodus limfe. Tahap IV : tumor menginvasi nodus limfelebih jauh, mengenai tulang sumsum tulang, hati dan organ lain. Tahap IV-S : tumor dengan cirri tahap I atau II tetapi dngan metastase pada hati, sumsum tulang atau kulit.simpatis Neuroblastoma berasal dari sel Krista neuralis system saraf dan karena itu dapat timbul dimanapun dari fossa kranialis sampai koksik. Secara histologis, Neuroblastoma terdiri atas sel bulat kecil dengan granula yang banyak D.MANIFESTASI KLINIS Neuroblastoma bisa tumbuh di berbagai bagian tubuh. Kanker ini berasal dari jaringan yang membentuk sistem saraf simpatis (bagian dari sistem saraf yang mengatur fungsi tubuh involunter/diluar kehendak, dengan cara meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, mengkerutkan pembuluh darah dan merangsang hormon tertentu). Gejalanya tergantung kepada asal tumor dan luas penyebarannya. Gejala awal biasanya berupa perut yang membesar, perut terasa penuh dan nyeri perut. Gejalanya juga bisa berhubungan dengan penyebaran tumor: 1.Kanker yang telah menyebar ke tulang akan menyebabkan nyeri tulang. 2.Kanker yang telah menyebar ke sumsum tulang menyebabkan: -Berkurangnya jumlah sel darah merah sehingga terjadi anemia -Berkurangnya jumlah trombosit sehingga anak mudah mengalami memar berkurangnya jumlah sel darah putih sehingga anak rentan terhadap infeksi 3.Kanker yang telah menyebar ke kulit bisa menyebabkan terbentuknya benjolan- benjolan di kulit 4.Kanker yang telah menyebar ke paru-paru bisa menyebabkan gangguan pernafasan. 5.Kanker yang telah menyebar ke korda spinalis bisa menyebabkan kelemahan pada lengan dan tungkai.

Sekitar 90% neuroblastoma menghasilkan hormon (misalnya epinefrin, yang dapat menyebabkan meningkatnya denyut jantung dan terjadinya kecemasan).Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: -Kulitnya pucat -Di sekeliling mata tampak lingkaran hitam -Kelelahan menahun, kelelahan yang berlebihan berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan -Diare -Rasa tidak enak badan (malaise) berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan -Keringat berlebihan -Gerakan mata yang tak terkendali -Rewel. Neuroblasma mempunyai memtestasi bermacam-macam tergantung pada lokasi T-primer dan metastasenya: -Perut: akibat adanya massa, tidak nyeri, massanya ireguler dan padat, melewati garis tengah pada tubuh. -Hati: pembesaran hati, sering terjadi pendarahan, pasien tampak pucat akibat anemi. -Tulang Kranium: nyeri dan osteoporosis, sumsum tulang dapat menghentikan produksi sel-sel darah dan menimbulkan pansitopenea, petechi, ekimosis, terkadang terjadi diare kronik yang merupakan mamtestasiawal dari neuroblasmatoma hipertensi ditemukan pada 25% kasus. E. KOMPLIKASI 1.Metastase 2.Prognosis buruk F.PEMERIKSAAN FISIK 1.CT scan untuk mengetahui keadaan tulang pada tengkorak, leher, dada, dan abdomen. 2.Punksi sumsum tulang untuk mengetahui lokasi tumor atau metastase tumor. 3. Analisa urine untuk mengetahui adanya vanillylmandelic aci (VMA). Homovillic acid (HVA),dapomine, norepinephrin. 4. Analisa kromosom untuk mengetahui adanya gen N-myc 5. Meninngkatkan ferritin, neuron-specific enolase (NSE), gangnoside (GD2) G.PENATALAKSANAAN MEDIS 1.Pemeriksaan Penunjang. - Lab ~ LED - Analisa urin untuk mengetahui adanya vanillymandelic acid (UMA) homovillic acid (HUA),dopamine, norepinephrine. -Analileurumosum untuk mengatahui adanya gen N-nya. -t-scan untukmengetahui keadaan tulang pada tengkorak,leher dada dan abdomen. -Fungsi sumsum tulang untuk mengatahui lokasi tumor atau metastase tumor. -Meningkatnya fetritin, Neuron-Spesific Enolose(NSE), Ganglioside (GD2) -Radiologis *Foto thoraks. *Foto polos abdomen. *Pielografi intravena. *Reno ateriogram. G.PENANGANAN Adapun penanganannya antara lain adalah: 1.Pengobatan Pengobatannya bervariasi, tergantung kepada lokasi, penyebaran dan usia penderita. Jika kanker

belum menyebar, biasanya diangkat melalui pembedahan. Jika kanker berukuran besar atau telah menyebar, diberikan kemoterapi (obat anti-kanker vincristine, siklofosfamid, doksorubisin dan cisplastin) atau terapi penyinaran. Pemberian vitamin B12 dosis tinggi ada baiknya, walaupun belum diketahui pasti kegunaannya. 2.Terapi Pengobatan. -Pembedahan pada saat perkembangan tumor pada tahap I dan II. -Radioterapi pada saat tumor berada pada tahap III. -Kemoterapi dapat dilakukan baik pada tumor pada tahap awal maupun tahap lanjut. Obat-obatan pilihan diantaranya adalah vincristin, doxotuban, cyclophosphamide, adriamycia, crsplatia H.FOKUS PENGKAJIAN -Pemeriksaan fisik -Riwayat penyakit -Kaji adanya rasa nyeri, demam, kelemahan, berat badan menurun, anemia. -Kaji adanya masa diabdomen, inkontinensia atau retensi urin, ekimosis pada supsaorbital, exoptalmus, paralysis akibat kompresi pada saraf spinal. I.DIAGNOSA KEPERAWATAN 1.Risiko injury berhubungan dengan mengganasnya tumor, proliferasi sel, dan dampak pengobatan. 2.Risiko infeksi berhubungan dengan menurunnya system pertahanan tubuh 3.Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah 4.Nyeri berhubungan dengan dilakukannya pemeriksaan diagnostic, efek fisiologi neoplasma. J.INTERVENSI 1.Risiko injury berhubungan dengan mengganasnya tumor, proliferasi sel, dan dampak pengobatan. Tujuan: Mempertahankan kemoterapi Kriteria hasil: Anak akan sembuh dari penyakit baik secara sebagian maupun secara keseluruhan dan anak tidak akan mengalami komplikasi dari kemoterapi Perencanaan a.Memberikan kemoterapi sesuai dengan anjuran b.Siapkan anak dan keluarga apabila akan dilakukan pembedahan c.Observasi tanda-tanda cystitis d.Membantu anak dalam program radioterapi 2.Risiko infeksi berhubungan dengan menurunnya system pertahanan tubuh Tujuan: Meningkatkan system pertahanan tubuh. Kriteria hasil: Anak tidak akan memperlihatkan gejala-gejala infeksi

Perencanaan a.Memberikan vaksinasi dari virus yang tidak diaktifkan (misalnya varicella, polio salk, influenza) b.Kolaborasi untuk pemberian obat c.Menggunakan teknik aseptic untuk seluruh prosedur invasive 3.Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah Tujuan: Mengurangi mual dan muntah. Kriteria hasil: Anak tidak akan mengalami mual atau muntah. Perencanaan a.Kolaborasi untuk pemberian cairan infuse untuk mempertahankan hidrasi. b.Menghindari memberikan makanan yang memiliki aroma yang merangsang mual atau muntah.

c.Menganjurkan makan dengan porsi kecil tapi sering. 4.Nyeri berhubungan dengan dilakukannya pemeriksaan diagnostic, efek fisiologi neoplasma. Tujuan: Mengurangi rasa nyeri Kriteria hasil: Anak tidak akan mengalami rasa nyeri atau nyeri dapat berkurang. Perencanaan a.Memberikan teknik untuk mengurangi rasa nyeri nonfarmakologi. b.Kaji adanya kebutuhan klien untuk mengurangi rasa nyeri c.Evalasi efektivitas terapi pengurangan rasa nyeri secara teratur untuk mencegah timbulnya nyeri yang berulang.

LAPORAN PENDAHULUAN PADA ANAK DENGAN NEUROBLASTOMA

1. Pengertian Neuroblastoma berasal dari embrionyc neural crest dan kelenjar adrenal merupakan tempat yang sering terkena, tumor ini mempunyai keganasan yang tinggi pada bayi dan anak. Biasanya di temukan pada anak usia 2-4 tahun (prof. DR Iskandar W, 1985). Neuroblastoma adalah tumor ganas yang terjadi pada system persarafan yang berasal dari selsel saraf yang terdapat paa medula adrenal dan system saraf simpatik (Sumadi. 2001). 2. Anatomi dan Fisiologi Sistem Saraf Dan Peranannya Dalam Kontraksi Otot Rangka. Sistem saraf manusia adalah sistem saraf yang komplek, khusus, berhubungan. Terjalin komunikasai berbagai sistem harmonis. Jaringan Saraf : Neuroglia, sel schwan, neuron Kesemuanya berkaitan eratsatu unit. Neuroglia penyokong,sumber nutrisi,pelindung pada otak dan dedula spinalis (40%). Neuroglia : Oligodendroglia, Ependima, Mikroglia, astroglia. Sel Schwan : membentuk myelin pd saraf tepi Neuron : suatu sel saraf unit anatomis dan fungsional sistem saraf Neuron a. Badan sel dan tonjolan panjang & bercabang (neurit).

b. Akson : Tonjolan tabung. Panjang 0,1 mm 3 m. Impuls menjauhi badan sel.

Dendrit : Pendek Cabang banyak seperti pohon. Impuls ke badan sel. Kontraksi Otot Potensial aksi arus listrikserabut otot terlepasnya ion Caproses kimiawikontraksi otot Serabut otot rangka dirangsang srbt saraf besar(bermeilin)neuromuscular junction

Neuromuscular junctionpot aksidepolarisasiasetilkolinion Ca lepasactin-myosinkontraksi ototmenyebar Otot yg denervasiatropilemak dan fibrosa

3. Etiologi : Penyebabnya tidak diketahui. Mungkin berhubungan dengan faktor keturunan karena pada selsel tumor ditemukan kelainan genetik tertentu dan sering kali ditemukan abnormalitas pada kromosom No.1. Prognosis tergantung kepada usia anak, ukuran tumor dan luasnya penyebaran tumor. Pada anak yang berumur kurang dari 1 tahun dan tumornya kecil serta belum menyebar, prognosisnya sangat baik. Beberapa penderita mengalami regresi spontan, dimana jaringan tumor mengalami pematangan dan berkembang menjadi ganglioneuroma jinak, yang dapat diangkat melalui pembedahan. Neuroblastoma paling sering mulai selama masa kanak-kanak awal, biasanya pada anak-anak yang lebih muda dari umur 5 tahun. Ia adakalanya terbentuk sebelum kelahiran namun bisanya ditemukan di kemudian hari, ketika tumor mulai tumbuh dan menyebabkan gejala-gejala. Pada kasus-kasus yang jarang, neuroblastoma mungkin ditemukan sebelum kelahiran dengan ultrasound fetus. Pada waktu neuroblastoma terdiagnosa, kanker biasanya telah menyebar (metastasized), paling sering pada nodul-nodul limfa, tulang-tulang, sumsum tulang, hati, dan kulit.

4. Patofisiologi Neuroblastoma seringkali mulai pada jaringan syaraf dari kelenjar-kelenjar adrenal. Ada dua kelenjar adrenal, satu diujung atas dari setiap ginjal dibelakang dari perut bagian atas. Kelenjarkelenjar adrenal menghasilkan hormon-hormon penting yang membantu mengontrol denyut jantung, tekanan darah, gula darah, dan cara tubuh bereaksi pada stres. Neuroblastoma mungkin juga mulai di dada, pada jaringan syaraf dekat tulang belakang di leher, atau di sumsum tulang belakang (spinal cord). Prognosis tergantung kepada usia anak, ukuran tumor dan luasnya penyebaran tumor. Neuroblastoma hematogen, terutama ke hati sum-sum tulang, skelet, dan durameter intra cranial dapat menimbulkan tanda-tanda TIK. Secara histologis neuroblasma terdiri dari sel bulat kecil dengan granula yang banyak dengan area klasifikasi dengan nekrosis dengan pendarahan yang luas. Neuroblasma merupakan tumor dengan vascularisasi banyak berwarna ungu biasanya sulit dan dapat kistic. Tumor mudah pecah karena kapsulnya rapuh sehingga dapat menimbulkan pendarahan selama operasi. stadium-stadium berikut digunakan untuk neuroblastoma: a. Stadium 1 Pada stadium 1, tumor hanya ada disatu area dan semua tumor-tumor yang dapat dilihat dikeluarkan sepenuhnya selama operasi. b. Stadium 2

Stadium 2 dibagi kedalam stadium 2A dan 2B. Stadium 2A: Tumor hanya di satu area dan semua tumor yang dapat dilihat tidak dapat sepenuhnya dikeluarkan selama operasi. Stadium 2B: Tumor hanya di satu area dan semua tumor yang dapat dilihat mungkin sepenuhnya dikeluarkan selama operasi. Sel-sel kanker ditemukan pada nodul-nodul limfa dekat tumor. c. Stadium 3 Pada stadium 3, salah satu dari yang berikut adalah benar: 1) Tumor tidak dapat sepenuhnya dikeluarkan selama operasi dan telah menyebar dari satu sisi tubuh ke sisi lain dari tubuh dan mungkin juga telah menyebar ke nodul-nodul limfa yang berdekatan; atau 2) Tumor hanya di satu area, pada satu sisi tubuh, namun telah menyebar ke nodul-nodul limfa pada sisi lain dari tubuh; atau 3) Tumor ditengah tubuh dan telah menyebar ke jaringan-jaringan atau nodul-nodul limfa pada kedua sisi tubuh, dan tumor tidak dapat dikeluarkan dengan operasi. d. Stadium 4 Stadium 4 dibagi kedalam stadium 4 dan stadium 4S. 1) Pada stadium 4, tumor telah menyebar ke nodul-nodul limfa yang berjauhan, kulit, atau bagian-bagian lain tubuh. 2) Pada stadium 4S, yang berikut adalah benar: Anak lebih muda dari umur 1 tahun; dan Kanker telah menyebar ke kulit, hati, dan/atau sumsum tulang; dan Tumor hanya di satu area dan semua tumor yang dapat dilihat mungkin sepenuhnya dikeluarkan selama operasi; dan/atau Sel-sel kanker mungkin ditemukan pada nodul-nodul limfa dekat tumor. 5. Gejala Klinis Gejalanya tergantung kepada asal tumor dan luas penyebarannya. Gejala awal biasanya berupa perut yang membesar, perut terasa penuh dan nyeri perut. Gejalanya juga bisa berhubungan dengan penyebaran tumor: 1) Kanker yang telah menyebar ke tulang akan menyebabkan nyeri tulang 2) Kanker yang telah menyebar ke sumsum tulang menyebabkan: Berkurangnya jumlah sel darah merah sehingga terjadi anemia Berkurangnya jumlah trombosit sehingga anak mudah mengalami memar Berkurangnya jumlah sel darah putih sehingga anak rentan terhadap infeksi

3) Kanker yang telah menyebar ke kulit bisa menyebabkan terbentuknya benjolan-benjolan di kulit 4) Kanker yang telah menyebar ke paru-paru bisa menyebabkan gangguan pernafasan 5) Kanker yang telah menyebar ke korda spinalis bisa menyebabkan kelemahan pada lengan dan tungkai. Sekitar 90% neuroblastoma menghasilkan hormon (misalnya epinefrin, yang dapat menyebabkan meningkatnya denyut jantung dan terjadinya kecemasan). Gejala lainnya yang mungkin ditemukan; Kulitnya pucat Di sekeliling mata tampak lingkaran hitam Kelelahan menahun, kelelahan yang berlebihan berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan Diare Rasa tidak enak badan (malaise) berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan Keringat berlebihan Gerakan mata yang tak terkendali Rewel Demam. Sesak napas. Mudah memar atau berdarah. Petechiae (noda-noda rata yang menunjukan dibawah kulit yang disebabkan oleh perdarahan). Tekanan darah tinggi. Gerakan-gerakan otot yang tersentak-sentak. Pembengkakan dari tungkai-tungkai, pergelangan-pergelangan kaki, kaki-kaki, atau scrotum. 6. Pemeriksaan Penunjang : 1) Tes urin duapuluh empat jam: Tes dimana urin dikumpulkan untuk 24 jam untuk mengukur jumlah-jumlah dari senyawa-senyawa tertentu. Jumlah yang tidak biasa (lebih tinggi atau lebih rendah dari normal) dari senyawa dapat menjadi tanda dari penyakit pada organ atau jaringan yang membentuknya. Jumlah yang lebih tinggi dari normal dari senyawa-senyawahomovanillic acid (HMA) dan vanillyl mandelic acid (VMA) mungkin adalah tanda dari neuroblastoma. 2) Studi-studi kimia darah:

Prosedur dimana sample darah diperiksa untuk mengukur jumlah-jumlah dari senyawa-senyawa tertentu yang dilepaskan kedalam darah oleh organ-organ dan jaringan-jaringan dalam tubuh. Jumlah yang tidak biasa (lebih tinggi atau lebih rendah dari normal) dari senyawa dapat menjadi tanda dari penyakit pada organ atau jaringan yang membentuknya. Jumlah yang lebih tinggi dari normal dari hormon-hormon dopaminedan norepinephrine mungkin adalah tanda dari neuroblastoma. 3) Cytogenetic analysis: Tes dimana sel-sel dalam sample darah atau sumsum tulang dilihat dibawah mikroskop untuk mencari perubahan-perubahan tertentu pada kromosom-kromosom. 4) Aspirasi dan biopsi sumsum tulang: Pengangkatan dari potongan yang kecil dari tulang, sumsum tulang, dan darah dengan memasukan jarum kedalam hipbone (tulang pinggul) atau breastbone (tulang dada). Pathologist (ahli patologi) melihat keduanya sample-sample tulang dan sumsum tulang dibawah mikroskop untuk mencari tanda-tanda dari kanker. Biopsi: Pengangkatan dari sel-sel atau jaringan-jaringan sehingga mereka dapat dilihat dibawah mikroskop oleh pathologist untuk diperiksa tanda-tanda dari kanker. 5) X-ray: X-ray adalah tipe dari sorotan energi yang dapat menembus tubuh dan keatas film, membuat gambaran dari area-area didalam tubuh. 6) CT scan (CAT scan): Prosedur yang membuat rentetan dari gambar-gambar detil dari area-area didalam tubuh, diambil dari sudut-sudut yang berbeda. Gambar-gambar dibuat oleh komputer yang dihubungkan pada mesin x-ray. Dye (zat pewarna) mungkin disuntikan kedalam vena atau ditelan untuk membantu organorgan atau jaringan-jaringan nampak lebih jelas.Prosedur ini juga disebut computed tomography, computerized tomography, atau computerized axial tomography. 7) Pemeriksaan neurologik: Rentetan dari pertanyaan-pertanyaan dan tes-tes untuk memeriksa otak, sumsum tulang belakang (spinal cord), dan fungsi syaraf. Pengujian memeriksa status mental sesorang, koordinasi, dan kemampuan untuk berjalan secara normal, dan berapa baik otot-otot, indera-indera, dan refleksrefleks bekerja. Ini mungkin juga disebut pemeriksaan neuro atau pemeriksaan neurologik. 8) Pemeriksaan Ultrasound: Prosedur dimana gelombang-gelombang suara bertenaga tinggi (ultrasound) dipantulkan dari jaringan-jaringan atau organ-organ internal dan membuat gema-gema (echoes). Gema-gema membentuk gambar dari jaringan-jaringan tubuh yang disebut sonogram. 9) Studi Immunohistochemistry: Prosedur dimana dye-dye atau enzim-enzim ditambahkan pada sample darah atau sumsum tulang untuk menguji antigen-antigen tertentu (protein-protein yang menstimulasi respon imun tubuh). 7. Penatalaksanaan a Operasi

Operasi biasanya digunakan untuk merawat neuroblastoma. Tergantung pada dimana tumornya dan apakah ia telah menyebar, sebanyak mungkin tumor akan dikeluarkan. Jika tumor tidak dapat dikeluarkan, sebagai gantinya biopsi mungkin dilakukan.

Terapi radiasi Terapi radiasi adalah perawatan kanker yang menggunakan sinar-sinar X yang bertenaga tinggi atau tipe-tipe radiasi lain untuk membasmi sel-sel kanker atau menahan mereka untuk tumbuh. Ada dua tipe-tipe dari terapi radiasi. Radiasi eksternal menggunakan mesin diluar tubuh untuk mengirim radiasi menuju ke kanker. Radiasi internal menggunakan unsur radioaktif yang disegel dalam jarumjarum, biji-biji, kawat-kawat, atau kateter-kateter yang ditempatkan secara langsung kedalam atau dekat kanker. Cara terapi radiasi diberikan tergantung pada tipe dan stadium dari kanker yang sedang dirawat.

Kemoterapi Kemoterapi adalah perawatan kanker yang menggunakan obat-obat untuk menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker, dengan membunuh sel-sel atau menghentikan mereka membelah diri. Ketika kemoterapi diminum melalui mulut atau disuntikan kedalam vena atau otot, obat-obat memasuki aliran darah dan dapat mencapai sel-sel kanker diseluruh tubuh (systemic chemotherapy). Jika kemoterapi ditempatkan secara langsung kedalam spinal column (kolom tulang belakang), organ, atau rongga tubuh seperti perut (abdomen), obat-obat terutama mempengaruhi selsel kanker pada area-area itu (regional chemotherapy). Cara kemoterapi diberikan tergantung pada tipe dan stadium dari kanker yang sedang dirawat. Penggunaan dari dua atau lebih obat-obat anti-kanker disebut kemoterapi kombinasi (combination chemotherapy).

Penungguan yang waspada (Watchful waiting) Watchful waiting adalah pengamatan secara ketat kondisi pasien tanpa memberikan segala perawatan hingga gejala-gejala nampak atau berubah.

Monoclonal antibody therapy Monoclonal antibody therapy adalah perawatan kanker yang menggunakan antibodi-antibodi yang dibuat di laboratorium, dari tipe tunggal dari sel sistim imun. Antibodi-antibodi ini dapat mengidentifikasi senyawa-senyawa pada sel-sel kanker atau senyawa-senyawa normal yang mungkin membantu sel-sel kanker tumbuh. Antibodi-antibodi melekat pada senyawa-senyawa dan membunuh sel-sel kanker, menghalangi pertumbuhan mereka, atau menahan mereka menyebar. Monoclonal antibodies diberikan dengan infusi. Mereka mungkin digunakan sendirian atau untuk mengantar obat-obat, racun-racun, atau meteri radioaktif secara langsung ke sel-sel kanker.

Kemoterapi dosis tinggi dan terapi radiasi dengan transplantasi sel induk Kemoterapi dosis tinggi dan terapi radiasi dengan transplantasi sel induk adalah cara memberikan dosis-dosis kemoterapi yang tinggi dan terapi radiasi dan menggantikan sel-sel yang membentuk darah yang dihancurkan oleh perawatan kanker. Stem cells (sel-sel darah yang belum matang) dikeluarkan dari darah atau sumsum tulang pasien atau donor dan dibekukan dan disimpan. Setelah kemoterapi dan terapi radiasi selesai, stem cells yang disimpan dicairkan dan diberikan kembali ke pasien melalui infusi. Stem cells yang diinfuskan kembali ini tumbuh kedalam (dan memugar) sel-sel darah tubuh.

Terapi obat lain 13-cis retinoic acid obat seperti vitamin yang memperlambat kemampuan kanker untuk membuat lebih banyak selsel kanker dan merubah bagaimana sel-sel ini nampak dan beraksi.

8. Komplikasi - Metastase - Prognosis buruk

B A B II TINJAUAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian Pemeriksaan fisik 1. Keadaan Umum : Kesadaran baik, bayi tampak lemah, kulit pucat, tangis lemah, tanda-tanda infeksi ada. BB : 2500 gr. 2. Sistem respirasi: Hidung normal, gerakan dada simetris, hidung terpasang kanul 02 2 1 liter/menit, respirasi 72 X/menit reguler, Whezing -/-, Rochi -/-, sekret pada jalan nafas (-). 3. Sistem Sirkulasi: Akral hangat, kulit pink pale, kapillari refill normal, Ukuran dan posisi anatomi jantung normal, S1 dan S2 normal reguler, Frekwensi nadi 136 X/menit reguler, denyut nadi arteri femoralis +, bendungan vena jugularis (-), suhu 36,8 C. 4. Neurologis:
o

Tidak tampak adanya paralise baik pada ektremitas maupun wajah. Ovula simetris, lidah simetris. Tremor (-), Jeterry (-), kejang (-). Reflek moro (+), reflek menggenggam (+), reflek menghisap (+). Babinski (-), kaku kuduk (-), keringat dingin (-). 5. Gastrointestinal:

Rongga mulut tidak tampak kelainan anatomi, moniliasis (+), reflek menghisap (-), kemampuan menelan baik, Peristaltik (+), minum kurang, muntah,mual (+), hepar terjadi pembesaran ( hepatomegali ),terasa penuh pada abdomen 6. Perkemihan:

Tanda hernia (-), paricocel (-), bak normal warna kuning jernih, frekwensi 12 X/24 jam. Tandatanda ISK (-). 7. Reproduksi:

Bayi laki-laki, ginekomasti (+),penis normal, skrotum agak padat dan kemerahan. 8. Muskulo skeletal

Pada kepala terpasang wing nidle Dex 15 % 10 tetes/menit. Lingkar kepala 33 cm, hidrocephalus tidak ada, tidak ditemukan bulging pada ubun-ubun. Tulang ektremitas normal, tulang belakang normal, spina bifida (-), kekuatan ektremitas lemah, intoleransi aktifitas . 9. Endokrine:
o

Suhu tubuh 36,8 C, Gula darah acak hasil lab 120 mg/%. 10. Integumen

Kulit pink pale, cyanosis (-), ikterus (-), turgor menurun, erytema (-), petechie, ekimosis (+) kulit pada ektremitas bawah tampak kering, tidak ada lecet dan kemerahan pada kulit sekitas anus dan skrotum, tampak nodul kemerahan didaerah sakrum dan femur. Leher bersih dan tidak ditemukan kelainan. Kulit tangan dan kaki normal. Bentuk dan ukuran serta posisi telinga tidak tampak kelainan. Kebersihan kulit cukup. 11. Sosial

Kedua orang tua sering menanyakan keadaan anaknya dan meminta agar segera bisa diajak pulang. Ibu ingin menyusui anaknya. Keluarga sangat mengharapkan bayinya. Keluarga bertanya bagimana kemungkinan anaknya. Orang tua takut karena anaknya banyak memakai selang.

POHON MASALAH

II. ANALISA DATA NO 1. Subyektif: Bayi lahir tanggal 17/6 2010 dengan SC dan mengalami asfeksia sedang. Klien rewel faktor genetik abnormal pada kromosom I tumor pada kelenjar Adrenal Nyeri DATA PENYEBAB

MASALAH

Data obyektif Bayi tampak lemah, terpasang infus pada kepala, Leukosit : 17.900 CRP (-), menyusu kuat, S

Perforasi sel

Hati

: 36,8 C, N : 136 X/mnt, R : 74 X/mnt. Hepatomegali

nyeri pada Kuadran kanan atas

2. -

Data subyektif: Mual, muntah (-) Nafsu makan menurun (-)

faktor genetik abnormal pada kromosom I tumor pada kelenjar Adrenal

pliferaso sel Data obyektif Turgor kulit menurun BB (-) Lemas ASI/susu : 10 X 20 cc. Bayi tampak lemah BB : 2500 gr. masa ireguler dan padat abdomen

Perubahan nutrizi kurang dari kebutuhan tubuh

perasan penuh pada abdomen

mual, anoreksia

asupan nutrizi in adekuat

Data subyektif: - Klien kurang mobilisasi Data obyektif: - Mobiliasis - Otot lemas - Lemas - Pucat

Faktor genetik, Abnormal pada kromosom I, Tumor pada kelenjar Adrenal

perforasi sel

Sum-sum tulang

G3 produksi sel darah

Parsitopenia

Ptechi, ekimosis

Anemia

Cepat lelah

Intoleransi aktivitas

III. DIAGNOSE KEPERAWATAN 1. 2. 3. Gangguan rasa nyaman s.d nyeri pada kuadran kanan atas. Perubahan nutrizi kurang dari kebutuhan s.d asupan nutrizi yang inadekuat Intoleransi aktivitas s.d kelelahan

IV. RENCANA KEPERAWATAN DX Gangguan rasa nyaman s.d nyeri pada kuadran kanan atas. TTujuan Setelah dirawat selama 25 menit diharapkan nyeri berkurang dengan kriteria: Suhu 36,5-37,5 Nyeri normal 0-2 Anak tidak rewel Rencana Tindakan - Kaji tingkat nyeri - Ajarkan relaksasi nafas dalam - Berikan mainan kesukaan anak - Melakukan kolaborasi dengan tim dokter pemberian obat analgesik non narkotik Rasional

- Mengetahui tingkat dan derajad n - Mengurasi rasa nyari

- Mengalihkan proses nyari di hipo

- Menentukan terapi obat yang aka

Perubahan nutrizi kurang dari kebutuhan s.d asupan nutrizi yang inadekuat -

Setelah dirawat selama 2 kali 48 jam diharapkan nutrizi terpenuhi dengan kriteria hasil : BB meningkat Nafsu makan dan minum bertambah Turgor kulit (+)

- Kaji intake out put - Beri makan yang tidak merangsang - Beri makana sedikit tapi sering

- Mengetahui pemasukan dan pen - Mual muntah

- Memenuhi kebutuhan nutrizi - Observasi TTV

- Mengetahui keadaan umum pasi - Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat vomiting 3x sehari

- Mengurangi rasa mualdan munta

Intoleransi aktivitas s.d kelelahan

Setelah dilakukan - Kaji tingkat keemahan klien dan - Mengetahui tingkat kekuatan dan tindakan selama 2 kali identifikasi aktifitas yang dapat beraktivitas 24 jam diharapkan dilakukan klien produksi elektrolit - Berikan permainan dan kembali normal - Jenis dan alat yang tidak sesuaid aktivitas sesuai usia dengan kriteria hasil: energi. Tetapkan /buatlah jadwal yang Anak dapat/mampu - Permainan yang terlalu lama dap teratur mobilisasi sendiri tanpa dibantu olah keluarga - Kolaborasi dengan ahli fisioterapi - Berikan situasi yang aman dan tenang

- Menentukan jadwal dan teknik m

BB bertambah

4 4

Skala room 5 5

- Cara yang tenang dan aman dap dengan tenang dan nyaman

Anak menunjukan adanya peningkatan kemampuan dan berpartisipasi dalam aktivitas

Neuroblastoma
. Label: Keperawatan Medikal Bedah

Pengertian. Neuroblastoma adalah tumor ganas yang terjadi pada sistem persarafan yang berasal dari sel sel saraf yang terdapat pada sistem saraf simpatis dan medula adrenal.

Etiologi Tidak Faktor Genetik dan diketahui seringkali ditemukan secara abnormalitas pada kromosom pasti No. 1

Tanpa diketahui terkadang tumor Neuroblastoma telah ditemukan pada kelenjar Andenal saat perkembangan janin dimana ukuran mencapai puncaknya pada kehamilan 20 minggu dan kemudian Patologi. Tumor dapat timbul dimana saja yang memiliki SPL Neural Crest. Pada ganglion saraf simpatis. Neroblastoma Hematogen, terutama kehati, Sum-sum tulang, skelet, dan durameter intracranial dapat menimbulkan tanda-tanda Tik. Secara histologi Neuroblasma terdiri atas sel bulat kecil dengan granula yang banyak dengan area kalsifikasi dan Nekrosis dengan pendarahan yang luas. Neuroblasma merupakan tumor dengan vascularisasi banyak berwarna ungu biasanya sulit dan dapat kistic. Tumor mudah pecah karena kapsulnya Sistem Stadium Kelenjar I rapuh penentuan Tumor limfe sehingga stadium terbatas regional dapat yang pada menimbulkan umum alat pendarahan digunakan tubuh dapat atau selama (Evans) struktur telah operasi. adalah: asal. terkena. mengalami regresi.

Stadium II Tumor meluas keluar alat tubuh atau struktur asal tapi belum melewati garis tengah. ipsilateral Stadium III Tumor meluas melewati garis tengah. Kelenjar limfe regional bilateral dapat telah terkena. Stadium IV Tumor dengan metastasis jauh ketulang, jaringan lemah,atau kelompok jaringan limfe yang jauh. Stadium V Pasien yang digolongkan pada stadium I atau II tapi dengan penyebaran yang hanya terbatas pada satu atau lebih alat tubuh berikut: Hati, kulit atau sumsum tulang (tampa ada bukit penyebaran Manifestasi ketulang pada skeletal surver lengkap). Klinik

Neuroblasma mempunyai memtestasi bermacam-macam tergantung pada lokasi T-primer dan metastasenya. *)Tidak *)Massanya *)Melewati *)Sering *)Pasien *)Sumsum Tulang tulang dapat tampak Kranium menghentikan garis Hati terjadi pucat *)Nyeri produksi sel-sel akibat dan darah dan Ireguler tengah *)Pembesaran dan pada Perut *)Akibat adanya massa. nyeri. padat. tubuh. hati. pendarahan. anemi. Osteoporosis. menimbulkan

pansitopenea,petechi,ekimosis. Terkadang terjadi diare kronik yang merupakan mamtestasiawal dari neuroblasmatoma hipertensi ditemukan Penatalaksanaan norepinephrine. * * * G. pilihan Pembedahan Radioterapi diantaranya pada pada adalah saat saat vincristin, Analileurumosum Ct-scan Fungsi untukmengetahui sumsum tulang fetritin, Radiologis Foto Pielografi Reno Terapi perkembangan tumor doxotuban, tumor berada pada tahap pada I untuk keadaan untuk mengatahui tulang pada mengatahui * polos lokasi adanya tengkorak,leher tumor Foto Enolose(NSE), dada atau gen dan metastase N-nya. abdomen. tumor. (GD2) thoraks. abdomen. intravena. ateriogram. Pengobatan. dan II. III. crsplatia. tahap Lab Pemeriksaan ~ pada 25% kasus. Medik Penunjang. LED

~ Analisa urin untuk mengetahui adanya vanillymandelic acid (UMA) homovillic acid (HUA),dopamine,

Meningkatnya

Neuron-Spesific

Ganglioside

- Kemoterapi dapat dilakukan baik pada tumor pada tahap awal maupun tahap lanjut. Obat-obatan cyclophosphamide, adriamycia,

Terapi Untuk Neuroblastoma

Neuroblastoma adalah salah satu jenis kanker yang umum diderita pada masa kanak-kanak. Berasal dari kelenjar adrenal (di perut) dan rantai ganglion simpatetis (ditemukan pada leher, dada dan perut). Lebih dari setengah pasien berusia kurang dari 2 tahun, dengan 90% terulang pada 8 tahun pertama hidupnya. Merupakan tumor yang sangat ganas dengan lebih dari 50% berada pada tahap akhir. Operasi penghilangan tumor secara optimal sangatlah penting dan harus dikombinasikan dengan berbagai kemoterapi intensif, megaterapi dengan transplantasi sel stem sendiri, radioterapi dan teknik baru dalam manajemen minimasi residu penyakit.

Operasi Neuroblastoma
Operasi penghilangan neuroblastoma merupakan modalitas sangat penting dalam pemberantasan tumor dari dalam tubuh. Pencapaian bedah eksisi tumor total memberikan pasien hasil yang terbaik. Neuroblastoma tidak hanya memiliki karakteristik mendapat masukan dari pembuluh darah, tetapi seringkali menutup pembuluh darah penting sehingga pembuangan total benar-benar tantangan. Mengenali karakteristik tumor, keberadaan obat lain, dan teknik dan teknologi operasi canggih memungkinkan bedah eksisi total yang aman dan efektif pada ekstirpasi tumor, sementara pada waktu yang bersamaan, melindungi struktur dan fungsi organ penting. Operasi tersebut memerlukan kemampuan tim operasi kanker anak-anak yang terlatih, didukung tim anestesi anak-anak yang responsif serta tim perawat paska operasi yang bermotivasi tinggi. Tim kanker anak kami yang berdedikasi mengkordinasi pengobatan multi disiplin.