Anda di halaman 1dari 15

TUGAS 1

: FARMAKOLOGI

Golongan antibiotika berdasarkan struktur kimia kecuali beta-lactam 1. Golongan aminoglikosida Golongan ini ditemukan dalam rangka mencari anti mikroba untuk mengatasi kuman gram negatif. Tahun 1943 berhasil diisolasi suatu turunan Streptomyces griseus yang menghasilkan streptomisin, yang aktif terutama terhadap mikroba gram negative termasuk terhadap basil tuberculosis. Kemudian ditemukan lagi berbagai antibiotic lain yang bersifat mirip streptomisin sehingga antibiotic ini dimasukan dalam suatu kelompok yaitu antibiotic golongan aminoglikosida. Golongan inbi mempunyai 2 atau 3 gugus amino pada rumus molekulnya. Mekanisme kerja Dengan mengikatkan diri pada ribosoma sel-sel bakteri, sehingga proteinnya dikacaukan. Penggolongan Berdasarkan rumus kimianya digolongkan sebagai berikut : Streptomisin Neomycin Kanamicin Gentamisin Framisetin a. Streptomycin Diperoleh dari streptomyces graseus oleh walksman (1943) dan sampai sekarang penggunaannya hamper terbatas hanya untuk tuberkulosa. Toksisitasnya sangat besar karena dapat menyebabkan kerusakan pada saraf otak ke 8 yang melayani organ keseimbangan dan pendengaran. Gejala-gejala awalnya adalah sakit kepala, vertigo, mual dan muntah. Kerusakan bersifat reversible, artinya dapat pulih kembali kalau penggunaan obat diakhiri meski kadang-kadang tidak seutuhnya. Resistensinya sangat cepat sehingga dalam penggunaan harus dikombinasikan dengan INH dan PAS Na atau rifampisin. Pemberian melalui parenteral karena tidak diserap oleh saluran cerna. Derivate streptomisin, dehidrostreptomisin, menyebabkan kerusakan organ pendengaran lebih cepat dari streptomisin sehingga obat ini tidak digunakan lagi sekarang. b. Neomisin Diperoleh dari streptomyces fradiae oleh Walksman. Tersedia untuk penggunaan topical dan oral, penggunaan secara parenteral tidak dibenarkan karena toxis. Karena baik sebagai antibiotik usus (aktif terhadap bakteri usus) maka digunakan untuk strelisasi usus sebelum operasi. Penggunaan local banyak dikombinasikan dengan antibiotik lain (polimiksin B, basitrasin) untuk menghindari terjadinya resistensi. c. Kanamisin diperoleh dari streptomises kanamyceticus (umezawa 1995). Persediaan dalam bentuk larutan atau bubuk kering untuk injeksi.pemakaian oral hanya kadang-kadang

diberikan untuk infeksi usus, atau membersihkan usus untuk persiapan pembedahan. Berkhasiat bakteriostatic pada basil TBC, bahkan yang resisten terhadap streptomysin sehingga menjadi obat pilihan ke dua bagi penderita TBC. Juga digunakan dalam pengobatan infeksi saluran kemih oleh pseudomonas (suntikan). Efek sampingnya gangguan keseimbangan dan pendengaran, toksis terhadap ginjal. d. Gentamisin Diperoleh dari Mycromonospora purpurea. Berkhasiat terhadap infeksi oleh kuman gram negatif seperti proteus,pseudomonas, klebsiella, enterobacter, yang antara lain dapat menyebabkan meningitis, osteomielitis pneumonia, infeksi luka bakar, infeksi saluran kencing, telinga,hidung dan tenggorokan. Sebaiknya penggunaan gentamicin secara sistemis hanya diterpkan pada infeksiinfeksi yang berat saja dan penggunaan gentamisin secara topical khusunya dilingkungan rumah sakit dibatasi agar tidak terjadi resistensi pada kuman-kuman yang sensitive. Efek sampingnya gangguan keseimbangan dan pendengaran toksis terhadap ginjal. e. Framicetin Diperoleh dari Streptomyces decaris. Rumus kimia dan khasiatnya mirip neomisin. Hanya digunakan secara local saja, misalnya salap atau kasa yang diimpragnasi.

2. Golongan Kloramfenicol Kloramfenicol diisolasi pertama kali pada tahun 1974 dari streptomyces venezuelae. Merupakan antibiotik dengan spectrum luas dan memiliki daya anti mikroba yang kuat maka penggunaan obat ini meluas dengan cepat sampai tahun 1950 ketika diketahui bahwa obat ini menimbulkan anemia aplastis yang fatal. Karena toksisitasnya, penggunaan sistemik sebaiknya dicadangkan untuk infeksi berat akibat haemophilus influenza, demam tiroin , meningitis , abses otak dan infeksi berat lainya. Bentuk tetes mata sangat bermanfaat untuk konjungtivitis bacterial. Kloramfenikol merupakan Kristal putih yang sangat sulit larut dalam air ( 1 : 400 ) dan rasanya sangat pahit, maka untuk anak-anak digunakan bentuk esternya yaitu K-palmitat dan Kstearat/suksinat yang tidak pahit rasanyadan dibuat dalam bentuk suspense dalam tubuh bentuk ester akan diubah menjadi kloramfenikol aktif. Mekanisme kerja merintangi sistensi protein bakteri. Efek samping Kerusakan sumsum tulang belakang yang mengakibatkan pembuatan eritrosit terganggu sehingga timbul anemia aplastis. Gangguan gastrointestinal : mual, muntah, diare . Gangguan neuron : sakit kepala, neuritis optic, neuritis perifer Penggunaan Kloramfenikol merupakan drug of choice = obat pilihan untuk thypus-abdominalis dan infeksi parah meningitis, pneumonia (disebabkan Haemophilus influenzae). Sebaiknya

tidak diberikan pada bayi premature untuk menghindari gray sindrom karena enzyme perombakan di hati bayi belum aktif, Ibu hamil dan menyusui. Devirat kloramfenikol ialah tiamfenikol, dipakai sebagai pengganti kloramfenikol karena dianggap lebih aman ( namun belum terdapat cukup bukti untuk itu ). Obat Generik Kloramfenikol (generik) kapsul 250 mg, suspense 125 mg/5 ml Tiamfenikol (generic) kapsul 250 mg, 500 mg

3. Golongan Tetrasiklin Antibiotik golongan tetrasiklin yang pertama ditemukan adalah klor tetrasiklin yang dihasilkan oleh streptomyces aureofaciens. Kemudian ditemukan oksi tetrasiklin dari streptomyces rhimosus. Tetrasiklin sendiri dibuat secara sintetis dari klor tetra siklin. Tetrasiklin merupakan antibiotik dengan spectrum luas, bersifat bakteriostatic dan mekanisme kerjanya dengan jalan menghambat sintesa protein bakteri.penggunaan saat ini semakain berkurang karena masalah resistensi. Sifat kimia Berwarna kuning, bersifat amfoter dan mudah terurai oleh cahaya menjadi anhidro dan epi tetrasiklin yang toksis untuk ginjal. Tetrasiklin yang telah mengalami penguraian mudah dilihat dari sedianya yang berwarna kuning tua sampai coklat tua. Tetrasiklin harus disimpan ditempat yang kering, terlindung dari cahaya. Dengan logam bervalensi 2 dan 3 (Ca, Mg, Fe) membentuk kompleks yang inaktif, maka tetrasiklin tidak boleh diminum bersama dengan susu dan obat obat antasida.

Penggunaan Tetra siklin banyak digunakan untuk mengobati bronchitis akut dan kronis disentri amoeba, pneumonia , kolera, infeksi saluran empedu penggunaan local jarang dipakai karena jarang menimbulkan sensitasi. Efek samping Mual, muntah-muntah diare karena ada perubahan flora usus Mengendap pada jaringan tulang dan gigi yang sedang tumbuh (terikat pada kalsium) menyebabkan gigi menjadi bercak-bercak coklat dan mudah berlubang serta pertumbuhan tulang terganggu. Fotosensitasi Sakit kepala, vertigo Peringatan / larangan : Tidak boleh diberikan pada anak-anak dibawah 8 tahun, ibu hamil dan menyusui. Tidak boleh diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan hati. 4. Golongan Makrolida

Kelompok antibiotik ini terdiri dari eritromisin dan spiramisin . a. Eritromisin dihasilkan oleh streptomyces erythreus. Berkhasiat sebagai bakteriostatic dengan mekanisme kerja merintangi sinsesis protein bakteri. Antibiotik ini tidak stabil dalam suasana asam( mudah terurai oleh asam lambung) dan kurang stabil pada suhu kamar. Untuk mencegah pengrusakan oleh asam lambung maka dibuat salut selaput atau yang digunakan jenis esternya(stearat dan estolat) karena mempunyai spectrum anti bakteri yang hamper sama sama penisilin , maka obat ini digunakan sebagai alternative pengobatan pengganti penisilin , bagi yang sensitive terhadap penisilin. b. Spiramisin Spectrum kegiatannya sama dengan eritromisin, hanya lebih lemah. Keuntungannya adalah daya penetrasi ke jaringan mulut, tenggorokan dan saluran pernafasan lebih baik dari Eritromisin. Sediaan : Spiramisin ( generic ) tabl. 250 mg, 500 mg.

5. Rifampisin dan asam fusidat a. Rifampicin Antibiotika yang dihasilkan dari streptomyces mediterranei. Berkhasiat bakteriostatik terhadap mikrobakterium tuberculosa dan lepra. Penderita dengan pengobatan rifampicin perlu diberitahu bahwa obat ini dapat menyebabkan warna merah pada urun, dahak dan keringat dan air mata, juga pemakaian lensa kontak dapat menjadi merah permanen. b. Asam fusidat Dihasilkan oleh jamur antara lain fusidum coccineum merupakan satu-satunya antibiotika dengan rumus steroid.aktifitasnya mirip penisilin tetapi lebih sempit. Berkhasiat bakteriostatik berdasarkan penghambatan sintesis protein bakteri. Khususnya dianjurkan pada radang sumsum tulang, biasanya obat dikombinasikan dengan eritromysin atau penesilin.

6. Golongan Sulfonamida Pengertian Sulfonamide merupakankelompok terapi dengan rumus dasar H 2N C 6H 4 SO2NH R Adalah anti mikroba yang digunakan secara sintetis maupun topical untuk beberapa penyakit infeksi. Sebelum ditemukan antibiotik, sulfa merupakan kemoterapi utama, tetapi kemudian penggunaannya terdesak oleh antibiotik. Pertengahan tahun 1970 penemuan preparat kombinasi trimetroprim dan sulfametoksazol meningkatkan kembali penggunaan sulfonamide.

Selain sebagai kemoterapi derivate sulfonamide juga digunakan sebagai diuretika dan anti diabetika oral (ADO). Sulfa bersifat bakteriostatik luas terhadap banyak bakteri gram positif dan negatif. Mekanisme kerjanya berdasarkan antagonism saingan antara paba (para amino benzoic acid) yang rumus dasarnya mirip dengan rumus dasar sulfa : H 2N C 6H 4 COOH Efek samping Efek samping yang terpenting adalah kerusakan pada sel-sel darah yang berupa agranulositosis, anemia aplastis dan hemolitik. Efek samping yang lain ialah reaksi alergi dan gangguan pada saluran kemih dengan terjadinya Kristal uria yaitu menghablurnya sulfa di dalam tubuli ginjal. Untuk menghindari terjadinya Kristal uria, pada pengobatan dengan sulfa perlu : Penambahan Na- bicarbonate untuk melarutkan senyawa yang mengkristal Minum air yang banyak (minimal 1.5 liter/hari) Dengan membuat preparat kombinasi (trisulfa) yang terdiri dari sulfadiazine, sulfamerazin, sulfamezatin. Penggolongan Berdasarkan efek yang dihasilkan sulfonamide dibagi menjadi 2 yaitu : Efek sistemis, contohnya cotrimoxazole, trisulfa Efek local, contohnya sulfacetamid

7. Golongan poliena (fungistatika) Adalah obat-obat yang digunakan untuk menghilangkan infeksi yang disebabkan oleh jamur. Infeksi oleh jamur dapat terjadi pada : Kulit oleh dermatofit (jamur yang hidup diatas kulit) Selaput lender mulut, bronchi, usus dan vagina oleh sejenis ragi yang disebut candida albicans. Salah satu sebab meluasnya infecsi oleh fungi ialah meningkatnya pemakaian antibiotika spectrum luas atau p[emakaian kortikosteroid yang kurang tepat. Factor hygiene juga sangat mempengaruhi penyebaran infeksi oleh fungi. Infeksi jamur sering berkaitan dengan gangguan daya tahan tubuh, bila daya tahan tubuh turun, maka pengobatan sering mengalami kegagalan. Penggolongan Antibiotika (griseofulvin, amfoterisin, nistatin) Asam-asam organic (asam salisilat, asam benzoate, asam undesilinat) Derivate imidazol ( ketokonazole, klortimazole, mikonazole) Obat generic, indikasi, kontraindikasi, efek samping 1. Griseofulvin Dihasilkan oleh penesillium griseofulvinum, berkhasiat fungistatik pada penggunaan oral terhadap banyak dermatofit, efektif untuk mengobati infeksi kulit dan kuku yang menahun, penyembuhan berlangsung sangat perlahan.

Indikasi

:infeksi dermatofitosis kulit, kulit kepala, rambut dan kuku bila terapi topical gagal : gangguan fungsi hati, kehamilan

kontraindikasi

efek samping : sakit kepala, mual, muntah sediaan : griseofulvin (generic) tablet 125 mg

2. Nistatin Berasal dari streptomyses moursei Indikasi : kandidiasis (stomatitis, sariawan pada mulut, vaginitis pada vagina) :-

Kontraindikasi

Efek samping :mulut, muntah diare (diberikan peroral) iritasi local pada pemakaian topical. Sediaan ; nistatin (generik) tablet 500.000 UI : wadah kedap udara, suhu dibawah 50C terlindung dari sinar

Cara penyimpanan

3. Amfoterisin B Dihasilkan oleh streptomyces nodosus Indikasi : kandidiasis intestinal :-

Kontraindikasi

Efek samping : anoreksia, mual, muntah. Diare, sakit kepala Sediaan : generic

4. Asam salisilat Asam organic berkhasiat fungisisida, dalam salep konsentrasi 3-6% juga bersifat keratolitik (melarutkan lapisan tanduk kulit, konsentrasi 5-10%)

5. Mikonazol Merupakan derivate imidazol dengan kasiat fungisid kuat Indikasi : terapi topical tinea pedis, kandidiasis kuat : hipersensitifvitas

Kontraindikasi

Efek samping : rasa terbakar, kemerahan. Bila efek samping sangat mengganggu pemakaian harus dihentikan. Sediaan : mikonazole nitrat (generic), krim, serbuk warna putih

Cara penyimpanan

: pada suhu 15-300C, wadah kedap udara

6. Ketokonazole Indikasi : kandidiasis mukosa resisten yang kronis, mukosa saluran cerna, kandidiasis vagina, infeksi dermatofit pada kulit atau kuku tangan Kontra inddikas: gangguan fungsi hati, kehamilan dan menyusui Efek samping : mual, muntah, nyeri perut, sakit kepala, ruam, urtikaria, pruritus. Sediaan : ketokonazole (generic) tablet 200mg

TUGAS 2 PENGOBATAN TBC Pengobatan TBC Kriteria I (Tidak pernah terinfeksi, ada riwayat kontak, tidak menderita TBC) dan II (Terinfeksi TBC/test tuberkulin (+), tetapi tidak menderita TBC (gejala TBC tidak ada, radiologi tidak mendukung dan bakteriologi negatif) memerlukan pencegahan dengan pemberian INH 510 mg/kgbb/hari. 1. Pencegahan (profilaksis) primer Anak yang kontak erat dengan penderita TBC BTA (+). INH minimal 3 bulan walaupun uji tuberkulin (-). Terapi profilaksis dihentikan bila hasil uji tuberkulin ulang menjadi (-) atau sumber penularan TB aktif sudah tidak ada. 2. Pencegahan (profilaksis) sekunder Anak dengan infeksi TBC yaitu uji tuberkulin (+) tetapi tidak ada gejala sakit TBC. Profilaksis diberikan selama 6-9 bulan. Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu : Obat primer : INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin, Pirazinamid. Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat ditolerir, sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat ini. Obat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin, Kapreomisin dan Kanamisin. Dosis obat antituberkulosis (OAT) Obat Dosis harian (mg/kgbb/hari) Dosis 2x/minggu (mg/kgbb/hari) Dosis 3x/minggu (mg/kgbb/hari)

INH Rifampisin Pirazinamid Etambutol Streptomisin

5-15 (maks 300 mg) 10-20 (maks. 600 mg) 15-40 (maks. 2 g) 15-25 (maks. 2,5 g) 15-40 (maks. 1 g)

15-40 (maks. 900 mg) 10-20 (maks. 600 mg) 50-70 (maks. 4 g) 50 (maks. 2,5 g) 25-40 (maks. 1,5 g)

15-40 (maks. 900 mg) 15-20 (maks. 600 mg) 15-30 (maks. 3 g) 15-25 (maks. 2,5 g) 25-40 (maks. 1,5 g)

Sejak 1995, program Pemberantasan Penyakit TBC di Indonesia mengalami perubahan manajemen operasional, disesuaikan dengan strategi global yanng direkomendasikan oleh WHO. Langkah ini dilakukan untuk menindaklanjuti Indonesia WHO joint Evaluation dan National Tuberkulosis Program in Indonesia pada April 1994. Dalam program ini, prioritas ditujukan pada peningkatan mutu pelayanan dan penggunaan obat yang rasional untuk memutuskan rantai penularan serta mencegah meluasnya resistensi kuman TBC di masyarakat. Program ini dilakukan dengan cara mengawasi pasien dalam menelan obat setiap hari,terutama pada fase awal pengobatan. Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1996 dan telah diimplementasikan secara meluas dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Sampai dengan tahun 2001, 98% dari populasi penduduk dapat mengakses pelayanan DOTS di puskesmas. Strategi ini diartikan sebagai "pengawasan langsung menelan obat jangka pendek oleh pengawas pengobatan" setiap hari. Indonesia adalah negara high burden, dan sedang memperluas strategi DOTS dengan cepat, karenanya baseline drug susceptibility data (DST) akan menjadi alat pemantau dan indikator program yang amat penting. Berdasarkan data dari beberapa wilayah, identifikasi dan pengobatan TBC melalui Rumah Sakit mencapai 20-50% dari kasus BTA positif, dan lebih banyak lagi untuk kasus BTA negatif. Jika tidak bekerja sama dengan Puskesmas, maka banyak pasien yang didiagnosis oleh RS memiliki risiko tinggi dalam kegagalan pengobatan, dan mungkin menimbulkan kekebalan obat. Akibat kurang baiknya penanganan pengobatan penderita TBC dan lemahnya implementasi strategi DOTS. Penderita yang mengidap BTA yang resisten terhadap OAT akan menyebarkan infeksi TBC dengan kuman yang bersifat MDR (Multi-drugs Resistant). Untuk kasus MDR-TB dibutuhkan obat lain selain obat standard pengobatan TBC yaitu obat fluorokuinolon seperti siprofloksasin, ofloxacin, levofloxacin (hanya sangat disayangkan bahwa obat ini tidak dianjurkan pada anak dalam masa pertumbuhan). Pengobatan TBC pada orang dewasa Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3 Selama 2 bulan minum obat INH, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol setiap hari (tahap intensif), dan 4 bulan selanjutnya minum obat INH dan rifampisin tiga kali dalam seminggu (tahap lanjutan). Diberikan kepada: Penderita baru TBC paru BTA positif. Penderita TBC ekstra paru (TBC di luar paru-paru) berat. Kategori 2 : HRZE/5H3R3E3 Diberikan kepada: Penderita kambuh. Penderita gagal terapi. Penderita dengan pengobatan setelah lalai minum obat. Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3 Diberikan kepada:

Penderita BTA (+) dan rontgen paru mendukung aktif. Pengobatan TBC pada anak Adapun dosis untuk pengobatan TBC jangka pendek selama 6 atau 9 bulan, yaitu: 1. 2HR/7H2R2 : INH+Rifampisin setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH +Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 7 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH). 2. 2HRZ/4H2R2 : INH+Rifampisin+Pirazinamid: setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH+Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 4 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH). Pengobatan TBC pada anak-anak jika INH dan rifampisin diberikan bersamaan, dosis maksimal perhari INH 10 mg/kgbb dan rifampisin 15 mg/kgbb. Dosis anak INH dan rifampisin yang diberikan untuk kasus: TB tidak berat INH : 5 mg/kgbb/hari Rifampisin : 10 mg/kgbb/hari TB berat (milier dan meningitis TBC) INH : 10 mg/kgbb/hari Rifampisin : 15 mg/kgbb/hari Dosis : 1-2 mg/kgbb/hari (maks. 60 mg) prednison OBAT TBC Tuberkulosis (TBC) dapat menyerang berbagai organ tubuh tetapi yang akan dibahas adalah obat TBC untuk paru-paru. Tujuan pengobatan TBC ialah memusnahkan basil tuberkulosis dengan cepat dan mencegah kambuh. Idealnya pengobatan dengan obat TBC dapat menghasilkan pemeriksaan sputum negatif baik pada uji dahak maupun biakan kuman dan hasil ini tetap negatif selamanya. Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu : Obat primer : INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin, Pirazinamid. Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat ditolerir, sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat ini. Obat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin, Kapreomisin dan Kanamisin. Meskipun demikian, pengobatan TBC paru-paru hampir selalu menggunakan tiga obat yaitu INH, rifampisin dan pirazinamid pada bulan pertama selama tidak ada resistensi terhadap satu atau lebih obat TBC primer ini. Isoniazid Isoniazid atau isonikotinil hidrazid yang disingkat dengan INH. Isoniazid secara in vitro bersifat tuberkulostatik (menahan perkembangan bakteri) dan tuberkulosid (membunuh bakteri). Mekanisme kerja isoniazid memiliki efek pada lemak, biosintesis asam nukleat,dan glikolisis. Efek utamanya ialah menghambat biosintesis asam mikolat (mycolic acid) yang merupakan unsur penting dinding sel mikobakterium. Isoniazid menghilangkan sifat tahan asam dan menurunkan jumlah lemak yang terekstrasi oleh metanol dari mikobakterium.

Isoniazid mudah diabsorpsi pada pemberian oral maupun parenteral. Kadar puncak diperoleh dalam waktu 12 jam setelah pemberian oral. Di hati, isoniazid mengalami asetilasi dan pada manusia kecepatan metabolisme ini dipengaruhi oleh faktor genetik yang secara bermakna mempengaruhi kadar obat dalam plasma. Namun, perbedaan ini tidak berpengaruh pada efektivitas dan atau toksisitas isoniazidbila obat ini diberikan setiap hari. Efek samping Mual, muntah, anoreksia, letih, malaise, lemah, gangguan saluran pencernaan lain, neuritis perifer, neuritis optikus, reaksi hipersensitivitas, demam, ruam, ikterus, diskrasia darah, psikosis, kejang, sakit kepala, mengantuk, pusing, mulut kering, gangguan BAK, kekurangan vitamin B6, penyakit pellara, hiperglikemia, asidosis metabolik, ginekomastia, gejala reumatik, gejala mirip Systemic Lupus Erythematosus. Resistensi Resistensi masih merupakan persoalan dan tantangan. Pengobatan TBC dilakukan dengan beberapa kombinasi obat karena penggunaan obat tunggal akan cepat dan mudah terjadi resistensi. Disamping itu, resistensi terjadi akibat kurangnya kepatuhan pasien dalam meminum obat. Waktu terapi yang cukup lama yaitu antara 69 bulan sehingga pasien banyak yang tidak patuh minum obatselama menjalani terapi. Isoniazid masih merupakan obat yang sangat penting untuk mengobati semua tipe TBC. Efek sampingnya dapat menimbulkan anemia sehingga dianjurkan juga untuk mengkonsumsi vitamin penambah darah seperti piridoksin (vitamin B6). TB vit B6 sudah mengandung isoniazid dan vitamin B6 dalam satu sediaan, sehingga praktis hanya minum sekali saja. TB vit B6 tersedia dalam beberapa kemasan untuk memudahkan bila diberikan kepada pasien anak-anak sesuai dengan dosis yang diperlukan. TB Vit B6 tersedia dalam bentuk: 1. Tablet Mengandung INH 400 mg dan Vit B6 24 mg per tablet 2. Sirup Mengandung INH 100 mg dan Vit B6 10 mg per 5 ml, yang tersedia dalam 2 kemasan : Sirup 125 ml Sirup 250 ml Perhatian: Obat TBC di minum berdasarkan resep dokter dan harus sesuai dengan dosisnya. Penghentian penggunaan obat TBC harus dilakukan atas seizin dokter.

ETAMBUTOL HCL 500 MG Indikasi : Anti-tuberkulosa. Penggunaan bukan sebagai obat tunggal, tetapi dikombinasi dengan paling sedikit satu macam obat antituberkulosa, misalnya rifampisin, INH. Cara kerja obat : - Etambutol merupakan tuberkulostatik dengan mekanisme kerja menghambat sintesa RNA. - Absorpsi setelah pemberian per oral cepat. - Ekskresi sebagian besar melalui ginjal, hanya lebih kurang 10% diubah menjadi metabolit yang inaktif. - Obat ini tidak dapat menembus jaringan otak, tetapi pada penderita meningitis tuberkulosa dapat ditemukan kadar terapeutik dalam cairan serebrospinal.

- Banyak digunakan pada pengobatan ulang atau kasus resistensi primer, dalam hal ini dikombinasi dengan antituberkulosa lain. Kontra indikasi : - Anak-anak di bawah usia 13 tahun. - Neuritis optikus. - Penderita yang hipersensitif terhadap obat ini. Efek samping : - Efek samping obat yang perlu diperhatikan adalah toksisitas okuler yang tergantung pada dosis dan lamanya pengobatan. Pada umumnya perubahan visual reversibel selama beberapa minggu atau beberapa bulan, tetapi bisa juga setelah 1 tahun atau lebih, bahkan irreversibel. Neuritis Retrobulbar bilateral bisa terjadi dengan gejala : terjadinya penurunan ketajaman visual; kehilangan kemampuan membedakan warna; penyempitan lapangan pandangan; skotomata sentral dan perifer. - Efek samping lain yang dilaporkan : reaksi anafilaktoid; pruritus; dermatitis; anoreksia; nyeri abdomen; demam; nyeri sendi; gangguan gastrointestinal (mual, muntah); malaise; sakit kepala; pusing; gelisah; disorientasi; halusinasi. Walaupun jarang ditemukan, bisa timbul rasa kaku dan kesemutan pada ekstremitas yang disebabkan karena neuritis. Peringatan dan perhatian : - Pemeriksaan mata harus dilakukan sebelum pengobatan. - Penderita dinasihatkan untuk segera melapor kepada dokter apabila terjadi perubahan ketajaman visual. - Etambutol harus dihentikan dengan segera apabila terjadi gangguan visual. - Pada penderita dengan gangguan visual seperti katarak; peradangan mata yang berulang; neuritis optikus; retinopati diabetik; evaluasi perubahan visual lebih sulit dilakukan. Oleh karena itu harus dapat dibedakan dengan pasti antara perubahan visual karena penyakitpenyakit/keadaan-keadaan tersebut dengan perubahan visual yang disebabkan karena etambutol. Pada penderita ini harus dipertimbangkan antara keuntungan pemakaian etambutol dengan kemungkinan terjadinya efek samping. - Pada pengobatan jangka panjang pemeriksaan fungsi organ harus dilakukan secara periodik termasuk ginjal; hati; hematopoetik. - Hati-hati pemberian etambutol pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal. Pada penderita ini dosis harus diturunkan dan disesuaikan dengan kadar etambutol dalam darah. - Data-data yang menunjang keamanan pemakaian etambutol pada wanita hamil dan menyusui belum mencukupi. Aturan pakai : Dosis lazim : 15-25 mg/kg berat badan/hari sebagai dosis tunggal. Pengobatan awal. Penderita yang belum pernah mendapat pengobatan anti-tuberkulosa sebelumnya, dosis etambutol adalah : 15 mg/kg berat badan/hari dalam dosis tunggal setiap 24 jam.Pengobatan ulang. Pada penderita yang pernah mendapat pengobatan anti-tuberkulosa sebelumnya, dosis etambutol adalah : 25 mg/kg berat badan/hari dalam dosis tunggal setiap 24 jam. RIFAMPISIN. Indikasi : Tuberkulosa, lepra. Kontra indikasi : Hipersensitifitas, sakit kuning. Perhatian : Resistensi, bayi prematur dan bayi baru lahir, penyakit hati, kekurangan makanan bergizi, alkoholisme, porfiria. Interaksi obat :

menurunkan efek antikoagulan oral Koumarin. Efek samping : Perubahan warna menjadi merah pada cairan tubuh, gangguan saluran pencernaan, reaksi hipersensitifitas, efek susunan saraf pusat, reaksi endokrin, sindroma flu. Dosis : Lepra : - dewasa : 600 mg sekali sebulan. - anak-anak : 10 mg/kg berat badan sekali sebulan. Dikombinasi dengan obat-obat anti lepra lainnya. Tuberkulosa : dewasa dengan berat badan : 450 mg/hari. kurang dari 50 kg dewasa dengan berat badan 50 kg : 600 mg/hari. atau lebih - anak-anak : 10-20 mg/kg berat badan. Maksimal : 600 mg/hari. OFLOXACIN Cara kerja obat : Qipro (Ofloxacin) merupakan anti bakteri golongan fluoro-quinolon dengan spektrum luas, mempunyai efek bakterisidal terhadap enterobakteriaceae, Pseudomonas aeruginosa, Haemophylus dan Neisseria Spp.Juga terhadap bakteri Staphylococcus dan beberapa bakteri gram positif. Ofloxacin bekerja dengan cara menghambat sub unit A pada DNA-gyrase (topoisomerase) yang merupakan bagian esensial dalam proses reproduksi DNA bakteri. Indikasi : Infeksi saluran kemih atas dan bawah, uretritis dan servisitis gonokokus dan non gonokokus, infeksi pada saluran nafas bawah kecuali yang disebabkan oleh Streptococcus, kulit dan jaringan lunak, kandungan. Kontra indikasi : Hipersensitivitas, wanita hamil & menyusui, anak-anak dan remaja selama masa pertumbuhan. Efek samping : - Efek samping saluran cerna : mual, muntah, diare, sakit abdominal, stomatitis dan dyspepsia. - Efek pada susunan syaraf pusat : sakit kepala, pusing-pusing, depresi, halusinasi, psikosis, gelisah, gemetar, mengantuk, insomnia, mimpi buruk dan gangguan penglihatan. - Efek pada kulit, karena reaksi hipersensitif seperti rash, pruritus. - Efek pada darah : eosinofilia, lekositopenia, lekositosis, anemia. - Efek pada nilai Laboratorium/deposit urine. Kadar transaminase dan alkali fosfatase dalam darah mungkin meningkat untuk sementara; ikterus kolestatik dapat terjadi terutama pada pasien yang pernah mengalami kelainan hati, peningkatan kadar urea, kreatinin dan bilirubin darah secara transien, hiperglikemia, pada kasus tertentu terjadi kristaluria dan hematuria. Peringatan dan perhatian : - Hati-hati untuk pasien epilepsi atau gangguan susunan syaraf pusat lainnya. Pengobatan hanya diberikan bila pertimbangan manfaat lebih besar dibandingkan kemungkinan risiko efek sampingnya terhadap susunan syaraf pusat. - Hati-hati untuk penderita kelainan hati dan ginjal, defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase atau myasthenia gravis (kelumpuhan otot).- Dianjurkan diminum dengan banyak air untuk menghindari terjadinya kristaluria.

- Hati-hati untuk pengemudi atau operator yang menjalankan mesin karena obat ini dapat mengganggu respons mengemudi/menjalankan mesin, terutama bila diminum bersama-sama alkohol. - Jangan dimakan dengan obat-obat antasid, sediaan-sediaan yang mengandung senyawa besi, theophyllin, warfarin, probenecid, obat-obat antineoplastik dan imunosupresan. - Jangan dimakan dalam kurun waktu 4 jam bersama-sama dengan obat-obat yang mengandung garam-garam Mg, Al dan Fe. - Tidak dianjurkan untuk pengobatan infeksi streptokokus dan infeksi lain yang disebabkan oleh organisme yang masih peka terhadap antibiotik lain yang sudah lama dikenal. - Pada penderita usia lanjut dosis harus dikurangi karena mem-punyai kecenderungan creatinine clearancenya menurun. - Hentikan pengobatan bila terjadi shock atau gejala shock dan reaksi hipersensitifitas. Interaksi obat : - Obat-obat antasida - Obat-obat yang mengandung senyawa-senyawa besi, garam-garam Mg dan Al - Theophyllin - Warfarin - Probenecid - Obat-obat antineoplastik dan imunosupresan Aturan pakai : Diminum sebelum atau sesudah makan. - Infeksi saluran kemih : 100 - 400 mg, 1 - 2 kali sehari selama 1-10 hari. - Infeksi saluran nafas bawah : 200-600 mg, 1-3 kali sehari selama 10 hari. - Uncomplicated gonococcal urethritis : dosis tunggal 100-400 mg Non-gonococcal urethritis : 400 mg sehari selama 9 hari - Infeksi kulit dan jaringan lunak : 400 mg sehari selama 7 hari - Infeksi kandungan : 400 mg sehari selama 7 hari - Penderita dengan kegagalan fungsi ginjal. Creatinine clearance (ml/menit) Dosis 10 - 50 Dosis umum yang dianjur-kan, 1 x sehari < 10 x dosis umum yang di-anjurkan, 1 x sehari CIPROFLOXACIN HCL Cara kerja obat : Ciprofloxacin adalah antibakteri golongan fluoroquinolon dengan spektrum luas, bekerja sebagai bakterisid terhadap enterobakteriaceae, Pseudomonas aeruginosa, Haemophylus dan Neisseria spp. Juga terhadap bakteri Staphylococcus dan beberapa bakteri gram positif. Ciprofloxacin bekerja dengan cara menghambat subunit A pada DNA-gyrase (topoisomerase) yang merupakan bagian esensial dalam proses sintesa DNA bakteri. Karena mekanisme kerjanya yang spesifik, maka tidak terjadi resistensi paralel dengan antibiotika lain yang bukan golongan kuinolon karboksilat. Oleh karena itu obat ini juga sangat efektif untuk kuman yang sudah resisten terhadap obat antibiotika lain seperti Amino-glikosida, Penisilin, Sefalosporin dan Tetrasiklin. Indikasi : - Infeksi saluran kemih - Infeksi saluran cerna termasuk demam tifoid dan paratifoid - Infeksi saluran nafas kecuali pneumonia akibat streptokokus - Infeksi kulit dan jaringan lunak - Infeksi tulang dan sendi - Uretritis dan servisitis gonore Kontra indikasi : - Penderita yang hipersensitif terhadap ciprofloxacin dan kuinolon lain.

- Anak-anak dan remaja dalam masa pertumbuhan. - Wanita hamil dan menyusui. Efek samping : - Efek pada saluran cerna : mual, muntah, diare, sakit abdominal, stomatitis dan dyspepsia. - Efek pada susunan syaraf pusat : sakit kepala, depresi, halusinasi psikosis, pusing-pusing, gelisah, gemetar, mengantuk, insomnia, mimpi buruk dan gangguan penglihatan. - Efek pada kulit, karena reaksi hipersensitif seperti rash, pruritus. - Efek pada darah : eosinofilia, leukositopenia, leukositosis, anemia. - Efek pada nilai laboratorium / deposit urine. Kadar transaminase dan alkali fosfatase dalam darah mungkin meningkat untuk sementara; ikterus kolestatik dapat terjadi terutama pada pasien yang pernah mengalami kelainan hati, peningkatan kadar urea, kreatinin dan bilirubin darah secara transien; hiperglikemia pada kasus tertentu terjadi kristaluria dan hematuria. Peringatan dan perhatian : - Hati-hati untuk pasien epilepsi atau gangguan susunan syaraf pusat lainnya. Pengobatan hanya diberikan bila pertimbangan manfaat lebih besar dibandingkan kemungkinan risiko efek sampingnya terhadap susunan syaraf pusat. - Hati-hati untuk penderita kelainan hati dan ginjal, defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase atau myasthenia gravis (kelumpuhan otot). - Dianjurkan diminum dengan banyak air untuk menghindari terjadinya kristaluria. - Hati-hati untuk pengemudi atau operator yang menjalankan mesin karena obat ini dapat mengganggu respon mengemudi / menjalankan mesin terutama bila diminum bersama-sama alkohol. - Jangan dimakan dengan obat-obat antasid, sediaan-sediaan yang mengandung senyawa besi, theophyllin, warfarin, probenecid, obat-obat antineoplastik dan imunosupresan. - Jangan dimakan dalam kurun waktu 4 jam bersama-sama dengan obat-obat yang mengandung garam-garam Mg, Al dan Fe. Interaksi obat : - Obat-obat antasida - Obat-obat yang mengandung senyawa-senyawa besi, garam-garam Mg dan Al - Theophyllin - Warfarin - Probenecid - Obat-obat antineoplastik dan imunosupresan Aturan pakai : Dewasa : Infeksi saluran kemih ringan/sedang : 2 x 250 mg/hari Infeksi saluran kemih berat : 2 x 500 mg/hari Infeksi saluran nafas, tulang, sendi, kulit dan jaringan lunak ringan sampai berat : 2 x 500 mg/hari Infeksi saluran nafas, tulang, sendi, kulit dan jaringan lunak berat : 2 x 750 mg/hari Infeksi saluran cerna : 2 x 500 mg/hari Untuk gonore akut, dosis tunggal : 250 mg/hari Untuk mencapai kadar yang adekuat pada osteomyelitis akut, dosis tidak boleh kurang dari : 2 x 750 mg/hari Untuk penderita dengan angka creatinine clearance lebih kecil dari 20 ml/menit : dosis diturunkan sampai separuhnya. Cara pemberian : Tablet harus ditelan dengan sejumlah air yang cukup dan diberikan sebelum atau sesudah makan (pemberian tablet dalam keadaan lambung kosong akan mempercepat penyerapan). Lamanya pengobatan tergantung pada beratnya penyakit, maupun perbaikan klinis dan bakteriologis.

- Untuk infeksi akut, lama pengobatan biasanya 5 - 10 hari. - Pada umumnya pengobatan harus diteruskan sampai minimal 3 hari setelah gejala klinis hilang.

KANAMICIN Kanamisin adalah suatu antibiotika makrolida yang digunakan untuk mengatasi penyakit infeksi. Obat ini tersedia untuk pasien dalam bentuk oral ataupun injeksi. Kanamycin pertama kali diekstrak dari Streptomyces kanamyceticus Farmakologi Kanamisin mempengaruhi 30S subunit ribosom yang menyebabkan mutasi dan mencegah translasi RNA. Akibatnya bukan codon CAT, tetapi codon ATG yang dibaca oleh aminoacyl tRNA (aa-tRNA). Aminoacyl tRNA sudah tentu akan membawa asam amino yang berbeda karena anticodon aa-tRNA yang berbeda. Akibat selanjutnya maka sintesis protein hasil dari cetakan asam amino hasil kesalahan codon menjadi salah dan terus diperbanyak secara salah. Protein ini justru merusak dan membunuh bakteri itu sendiri. Sifat kanamisin seperti ini dan bersifat kurang selektif hanya terhadap bakteri saja, tentu akan mengganggu kehidupan sel inang (host) dan muncul sebagai efek samping yang toksik, terutama indera pendengaran (tuli atau bunyi berdenging), organ ginjal dan reaksi alergi. Struktur Kimia Secara kimiawi, kanamicin mempunyai nama : 2-(aminomethyl)-6-[4,6-diamino-3-[4 amino-3,5dihydroxy-6-(hydroxymethyl)tetrahydropyran-2-yl]oxy-2-hydroxycyclohexo-xy]-tetrahydropyran3,4,5-triol Formula kanamisin adalah C18H36N4O11-2H2SO4. Tersedia dalam kemasan injeksi steril (Kanamycin sulfate Injection, USP) dalam dosis 75mg, 500 mg, and 1.0 g dalam garam bisulfit bersama antioxidant, 0.099%, 0.66%, and 0.45%; dan sodium citrate, 0.33%, 2.2%, dengan pH 4.5 karena berbentuk sulfuric acid. Indikasi Kanamisin diberikan untuk pengobatan jangka pendek infeksi serius yang disebabkan oleh E.coli, spesies Proteus (indole-positive dan indole-negative), Enterobacter aerogenes, Kiebsiella pneumoniae, Serratia marcescens, spesies Acinetobacter. Lazimnya sebelum memulai pemberian kanamisin harus dilakukan uji bakteriologi, namun tanpa melakukan uji tersebut, terapi masih boleh dimulai dengan pengamatan cermat kemungkinan kausa bakteri seperti diatas dan efek samping yang mungkin timbul. Pemberian kanamisin dapat juga sebagai terapi awal dalam kombinasi dengan penisilin atau sefalosporin, walaupun sebenarnya kanamisin bukan antibiotika pilihan untuk infeksi stafilokokus. Pada kondisi tertentu dimana ditemukan infeksi berat campuran oleh bakteri gram (-) atau dengan stafilokokus maka kanamisin boleh digunakan sebagai terapi awal sebelum diperoleh data bakteri yang peka (susceptible) dari infeksi tersebut l