Anda di halaman 1dari 7

Kekurangan Pendengaran Yang dimaksud dengan kekurangan pendengaran adalah keadaan dimana seorang kurang dpat mendengar dan

mengerti suara atau percakpan yang didengar untuk mendiagnosis kurang pendengaran. Sebagi dokter umum cukuplah memperhatikan keempat aspek penting berikuta ini : Penentuan pada penderita apakah ada kurang pendengaran atau tidak. Jenis kurang pendengaran Derajat kurang pendengaran Menentukan penyebab kurang pendengaran 1. Penentuan pada penderita apakah ada KP atau tidak Dalam penentuan apakah ada KP atau tidak pada penderita hal penting yang harus diperhatiakan adalah umur prnderita. Respon manusia terhadap suara atau percakapan yang didengranya tergantung pada umur pertumbuhannya. Usia 6 tahun diambil sebagai batas, kurang dari 6 tahun respon anak terhadap suara atau percakapan berbeda-beda tergantung umurnya, sedangkan lebih dari 6 tahun respon anak terhadap suara atau percakapan yang didengar sama dengan orang dewasa karena luasnya aspek diagnostik KP. Pad kedua golongan umur tersbut, maka dalam makalah ini yang diuraikan hanya diagnosis KP pada anak-anak umur 6 tahun keatas dan dewasa. 2. Jenis KP Jenis KP berdasarkan lokalisasi lesi : a. KP jenis hantaran Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga luar dan atau telinga tengah. b. KP jenis sensorineural Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga dalam (pada koklea dan N.VIII)

c. KP jenis campuran Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga tengah dan telinga dalam. d. KP jenis sentral Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada nucleus auditorius dibatang otak sampai dengan korteks otak. e. KP jenis fungsional Pada KP jenis ini tidak dijumpai adanya gangguan atau lesi organic pada system pendengaran baik perifer maupun sentral, melainkan berdadasarkan adanya masalah psikologis atau omosional. Untuk KP jenis sentral dan fungsional mengingat masih terbatasnya pengetahuan proses pendengara diwilayah trsebut, disamping masih belum banyak dikenal teknik uji pendengaran yang dapat dimanfaatkan untuk bahan diagnostik, maka pada makalah ini akan dibatasi pada diagnosis KP jenis hantaran sensorineural dan campuran saja. 3. Menentukan penyebab KP Menetukan penyebab KP merupakan hal yang paling sukar diantara kempat batasan atau aspek tersebut diatas, untuk itu diperlukan : a. Anamnesis yang luas dan cermat tentang riwayat terjadinya KP tersebut b. Pemeriksaan umum dan khusus (telinga, hidung dan tenggorokan ) yang teliti. c. Pemeriksaan penunjang (bila diperlukan seperti foto laboratorium) Ada 4 cara yang dapat kita lakukan untuk mengetes fungsi pendengaran penderita, yaitu : a. Tes bisik b. Tes bisik modifikasi c. Tes garputala d. Pemeriksaan audiometric

Tes Pendengaran
A. Tes Pendengaran Tes pendengaran adalah suatu cara menguji fungsi pendengaran seseorang yang dimulai dari tes sederhana hingga tes canggih. Tujuan tes pendengaran : 1. Menentukan pendengaran seseorang normal atau tidak. 2. M e n e n t u k a n d e r a j a t k e k u r a n g a n p e n d e n g a r a n . 3. Menentukan lokalisasi penyebab gangguan pendengaran B. Jenis Jenis Tes Pendengaran 1. Tes Pendengaran Konvensional 1) Tes bisik Tes bisik adalah suatu tes pendengaran dengan memberikan suara bisik berupa kata-kata ke telinga penderita pada jarak tertentu. Hasilnya berupa jarak pendengaran, yaitu jarak antara pemeriksa dengan penderita dimana suara bisik masih dapat terdengar.

2) Tes Bisik Modifikasi Tes bisik modifikasi merupakan hasil perubahan tertentu dari tes bisik. Tes bisik modifikasi digunakan sebagai skrining pendengaran dari kelompok orang berpendengaran normal dengan kelompok orang berpendengaran abnormal dari sejumlah besar populasi. Misalnya tes kesehatan pada penerimaan CPNS.

3) Tes Garpu Tala Test ini menggunakan seperangkat garpu tala yang terdiri dari 5 garpu tala darinada c dengan frekwensi 2048 Hz,1024 Hz, 512Hz,256 Hz dan 128 Hz. Keuntungan test garpu tala ialah dapat diperoleh dengan cepat gambarankeadaan pendengaran penderita. Kekurangannya ialah tidak dapat ditentukanbesarnya intensitas bunyi karena tergantung cara menyentuhkan garpu talayaitu makin keras sentuhan garpu tala makin keras pula intensitas yangdidengar. Sentuhan garpu tala harus lunak tetapi masih dapat didengar olehtelinga normal.

Gambar 1. Tes Garpu Tala

Macam - macam tes garpu tala : a. Tes Batas Atas & Batas Bawah

Tes batas atas dan batas bawah merupakan tes garpu tala yang bertujuan menentukan frekuensi garpu tala yang dapat didengar penderita melalui hantaran udara pada intensitas ambang normal b. Tes Rinne Tes Rinne merupakan tes garpu tala yang brtujuan membandingkan kemampuan pendengaran memalui hantaran tulang dan hantaran udara pada satu telinga pasien.

c.

Tes Weber

Tes weber ,erupakan tes garpu tala yang bertujuan membandingkan kemampuan pendengaran melalui hantaran tulang antara kedua telinga. d. Tes Schwabach Tes schwabach merupakan tes garpu tala yang bertujuan membandingkan kemampuan pendengaran pasien dengan pendengaran pemeriksa melalui hantaran tulang.

4) Tes Audiometri Nada Murni Audiometri nada murni adalah tes dasar untuk mengetahui ada tidaknya gangguan pendengaran. Selama tes, orang yang dites akan mendengar nada murni yang diberikan pada frekwensi yang berbeda melalui sebuah headphone atau ear phone. Intensitas nada berangsurangsur dikurangi sampai ambang dengar, titik dimana suara terkecil yang dapat didengar akan diketahui. Hasilnya ditunjukkan dalam desibel (dB) dan dimasukkan ke bentuk audiogram.

2. Tes Pendengaran Non Konvensional 1) Tes Timpanometri Timpanometri dilakukan untuk mengetahui keadaan di telinga tengah. Misalnya, apakah ada cairan, gangguan rangkaian tulang pendengaran (ossicular chain), kekakuan gendang telinga atau bahkan gendang telinga terlalu lentur. Alat yang digunakan dalam pemeriksaan timpanometri adalah timpanometer.

Gambar 2. Tes Timpanometri

Timpanogram adalah suatu penyajian berbentuk grafik dari kelenturan relatif sistem timpano osikular sementara tekanan udara di liang telinga diubah-ubah. Kelenturan maksimal diperoleh pada tekanan udara normal, dan berkurang jika tekanan udara ditingkatkan atau diturunkan. Individu dengan pendengaran normal atau dengan gangguan sensorineural akan memperlihatkan sistem timpano osikular yang normal.

Gambaran hasil timpanometri tersebut adalah: tipe A mengindikasikan bahwa kondisi telinga tengah normal. tipe B terdapat cairan di telinga tengah. tipe C terdapat gangguan fungsi tuba eustachius. tipe AD terdapat gangguan rangkaian tulang pendengaran. tipe AS terdapat kekakuan pada tulang pendengaran (otosklerosis)

2) Tes BERA (Brainsteem Evoked Response Audiometry) Tes BERA ini dapat menilai fungsi pendengaran bayi atau anak yang tidak kooperatif, yang tidak dapat diperiksa dengan cara konvensional. Reaksi yang timbul sepanjang jaras-jaras saraf pendengaran dapat dideteksi berdasarkan waktu yang dibutuhkan (satuan milidetik) mulai dari saat pemberian impuls sampai menimbulkan reaksi dalam bentuk gelombang. Gelombang yang terjadi sebenarnya ada 7 buah, namun yang penting dicatat adalah gelombang I, III dan V.

Pemeriksaan BERA yang lengkap dapat memberikan informasi mengenai: a. Masa latensi absolut gelombang I, III, V pada intensitas yang berbeda

b. interpeak latency intervals yaitu dari gelombang I - III, I-V, III-V c. d. Beda masa laten absolut telinga kanan dan kiri (interaural latency) Perubahan masa latensi gelombang apabila intensitasnya diturunkan (latency intencity

function) e. f. Perubahan masa latensi gelombang dengan perubahan kecepatan stimulus Rasio amplitudo gelombang (absolute dan relative)

3) Auditory Steady State Response (ASSR) Pemeriksaan elektrofisiologis lain untuk menilai AEP adalah Auditory Steady State Response (ASSR), atau kadang-kadang dikenal juga sebagai Steady-State Evoked Potential (SSEP). ASSR adalah salah satu metode pemeriksaan terbaru yang dapat digunakan oleh para audiologis untuk menentukan prediksi ambang pendengaran pada anak-anak. Tujuan ASSR adalah untuk membuat estimasi audiogram statistik yang akurat. Pada respons dari ABR diukur dalam microvolts, sedangkan pada ASSR diukur dalam nanovolts. Pada dasarnya, cara pemeriksaan pada tes ASSR ini sama dengan pemeriksaan pada BERA. Yang membedakan adalah frekuensi yang diperiksa serta gambaran hasil tes. Hasil tes BERA gambarannya berupa gelombang-gelombang sedangkan hasil tes ASSR berupa audiogram. Biasanya, jika dalam pemeriksaan BERA tidak ditemukan gelombang V di intensitas 80 dB,

maka disarankan untuk melakukan tes ASSR untuk mengetahui berapa derajat gangguan pendengaran bayi atau anak. Hasil tes ASSR ini sangat penting digunakan dalam pemilihan dan pengaturan alat bantu dengar, terutama pada alat bantu dengar digital programmable. Ketepatan gain atau amplifikasi yang diberikan harus sesuai dengan hasil tes ASSR dan hasil tes pendengaran subyektif yang mendukung, yaitu Free Field Test.

4) Tes OAE (Otoacoustic Emission) Pemeriksaan OAE untuk menilai apakah koklea berfungsi normal merupakan pemeriksaan objektif , mudah, otomatis, non infansif, tidak terganting perilaku anak, cepat, sensivitas dan spesifitas mendekati 100 %. Kelemahannya dipengaruhi oleh bising lingkungan, kondisi telinga luar dan luar, kegagalannya pada 24 jam kelahiran pertama cukup tinggi, serta alat relative mahal. 5) Pemeriksaan ABR (Auditory Brainstem Response) Pemeriksaan ABR untuk menilai apakah saraf pendengaran dan batang otak berfungsi normal merupakan pemeriksaan yang objektif, mudah, non invansif, tidak tergantung perilaku anak yang di pengaruhi, dan tidak dipengaruhi kondisi telinga luar dan telinga tengah. Kelemahannya dipengaruhi oleh bising lingkungan, waktu pemeriksaan relative lama, membutuhkan sedasi dan tenaga ahli serta harga alat relative mahal