Anda di halaman 1dari 18

BRENDA KARINA 1102010052

MALPRAKTEK
DEFINISI DAN PENYEBAB
tndakan tenaga profesona (profes) yang bertentangan dengan standard
operatng procedure (SOP), kode etk profes, serta undang-undang yang berakubak
dsenga|a maupun akbat keaaanyang mengakbatkan kerugan dan kematan terhadap
orang an. Batasan pengertan tersebut dapat dketahu bahwa mapraktk sebenarnya tdak
hanya ter|ad pada keompok profes dokter sa|a. Tetap |uga dapat ter|ad pada keompok
profes annya sepert advokat (pengacara), notars, akuntan, dan profes annya.
Mapraktek kedokteran kn terdr dar 4 ha :
(1) Tanggung |awab krmna,
(2) Mapraktk secara etk,
(3) Tanggung |awab sp, dan
(4) Tanggung |awab pubc
Mapraktek Krmna. Mapraktek krmna ter|ad ketka seorang dokter yang
menangan sebuah kasus teah meanggar undang-undang hukum pdana. Mapraktk
danggap sebaga tndakan krmna dan termasuk perbuatan yang dapat dancam hukuman.
Ha n dakukan oeh Pemerntah untuk mendung masyarakat secara umum. Perbuatan n
termasuk ketdak|u|uran, kesaahan daam rekam meds, penggunaan ega obat - obat
narkotka, peanggaran daam sumpah dokter, perawatan yang aa, dan tndakan
peecehan seksua pada pasen yang sakt secara menta maupun pasen yang drawat d
bangsa pskatr atau pasen yang tdak sadar karena efek obat anestes. Peraturan hukum
mengena tndak krmna memang tdak memk batasan antara tenaga profesona dan
anggota masyarakat an. |ka perawatan dan tata aksana yang dakukan dokter danggap
mengabakan atau tdak bertanggung |awab, tdak bak, tdak dapat dpercaya dan keadaan
- keadaan yang tdak mengharga nyawa dan keseamatan pasen maka ha tu pantas untuk
menerma hukuman. Dan |ka kematan men|ad akbat dar tndak mapraktk yang
dakukan, dokter tersebut dapat dkenakan tuduhan tndak krmna pembunuhan.
Tu|uannya memk maksud yang bak namun secara tdak angsung ha n men|ad
berebhan. Seorang dokter dath untuk membuat keputusan meds yang sesua dan tdak
boeh mengenyampngkan penddkan dan athan yang teah daunya serta tdak boeh
membuat keputusan yang tdak bertanggung |awab tanpa mempertmbangkan dampaknya.
Ia |uga tdak boeh meakukan tndakan buruk atau ega yang tdak bertanggung |awab dan
tdak boeh mengabakan tugas profesonanya kepada pasen. Da |uga harus seau pedu
terhadap kesehatan pasen.
(http://www.harian-aceh.com/opini/85-opini/3050-malpraktik.html)
(http://cetrone.bogspot.com/2008/12/mapraktek-defns-mapraktek-adaah.htm)
Mapraktek berasa dar malpractice yang pada hakekatnya adaah kesaahan daam
men|aankan profes yang tmbu sebaga akbat adanya kewa|ban-kewa|ban yang harus
dakukan oeh dokter, daam art an mapraktek adaah kesaahan daam men|aankan
profes meds yang tdak sesua dengan standar profes meds daam men|aankan
profesnya. (D. Veronica Komalawati. 2000). Namun kadang-kadang mapraktek dkatkan
dengan penyaahgunaan keadaan karena kengnan untuk mencar keuntungan prbad
1
semata. Tdak |arang pua dengan menggunakan aasan tdak adanya inorme! con"ent,
pasen menggugat atau menuntut gant rug kepada dokter dengan tuduhan mapraktek.
Menurut |ohn D. Bum, mapraktek dartkan sebaga bentuk keaaan profes daam
bentuk uka atau cacat yang dapat dukur yang ter|ad pada pasen sehngga pasen
menga|ukan gugatan atau tuntutan gant rug sebaga akbat angsung dar tndakan dokter
(#ermin #a!iati Koe"wa!$i. %&&8)
Sebab Tmbunya Mapraktek
Peayanan kesehatan pada dasarnya bertu|uan untuk meaksanakan upaya
pencegahan dan pengobatan suatu penyakt, termasuk d daamya peayanan meds yang
ddasarkan atas dasar hubungan ndvdua antara dokter dengan pasen yang
membutuhkan kesembuhan atas penyakt yang ddertanya. Dokter merupakan phak yang
mempunya keahan d bdang meds atau kedokteran yang danggap memk kemampuan
dan keahan untuk meakukan tndakan meds. Sedangkan pasen merupakan orang sakt
yang awam akan penyakt yang ddertanya dan mempercayakan drnya untuk dobat dan
dsembuhkan oeh dokter. Oeh karena tu dokter berkewa|ban memberkan peayanan
meds yang sebak-baknya bag pasen. Peayanan meds n dapat berupa penegakkan
dagnoss dengan benar sesua dengan prosedur, pemberan terap, meakukan tndakan
meds sesua standar peayanan meds serta memberkan tndakan wa|ar yang memang
dperukan untuk kesembuhan penyakt yang dderta pasen ('. ()") #anaiah. %&&&).
Daam hubungan antara dokter dan pasen, masng-masng phak mempunya hak dan
kewa|ban. Dokter berkewa|ban memberkan peayanan meds mua dar tanya |awab
(anamnesa), kemudan dakukan pemerksaan fsk oeh dokter terhadap pasennya. Dokter
akan menentukan dagnosa penyakt yang dderta pasen. Seteah dagnoss dtegakkan
baruah dokter memutuskan |ens terap atau tndakan meds yang akan dakukan kepada
pasen (#ermin #a!iati Koe"wa!$i. %&&8).
Daam bdang pengobatan, dokter dan pasen menyadar bahwa tdak mungkn dokter
men|amn upaya pengobatan akan seau berhas sesua dengan kengnan pasen atau
keuarganya. Dokter hanya berupaya secara maksma secara hat-hat dan cermat
berdasarkan mu pengetahuan dan pengaamannya daam menangan penyakt daam
rangka mengusahakan kesembuhan penyakt pasennya.
Sedangkan, Pasien mempunya kewa|ban memerksakan dr sedn mungkn tentang
penyakt yang ddertanya dengan memberkan nformas yang benar dan engkap berkatan
dengan penyaktnya. Pasen |uga wa|b mematuh petun|uk dan nasehat yang dan|urkan
dokter berkatan dengan makan, mnum maupun strahat yang cukup. Sean tu pasen
harus merasa yakn kaau dokter akan berupaya maksma daam mengobat penyaktnya
sehngga pasen harus kooperatf dan tdak menoak apaba dperksa dokter.
2
Daam tndakannya, seorang dokter terkadang harus dengan senga|a menyakt atau
menmbukan uka pada tubuh pasen. Msanya dokter bedah yang meakukan pembedahan
terhadap suatu organ tubuh pasen. Oeh karena tu daam setap pembedahan, dokter
harus berhat-hat agar uka yang dakbatkannya tdak menmbukan masaah dkemudan
har, sepert ter|adnya inek"i no"okomial.
Sean tu |uga serng ter|adnya keapaan / keaaan yang merupakan bentuk
kesaahan yang tdak berupa kesenga|aan, akan tetap |uga bukan merupakan sesuatu yang
ter|ad karena kebetuan. |ad daam keapaan n tdak ada nat |ahat dar peaku / petndak.
Keapaan / keaaan dan kesaahan daam meaksanakan tndakan meds menyebabkan
ter|adnya ketdakpuasan pasen terhadap dokter daam meaksanakan upaya pengobatan
sesua profes kedokteran. Keapaan dan kesaahan tersebut menyebabkan kerugan berada
pada phak pasen.
KLASIFIKASI
Mapraktek dapat ter|ad karena :
Tndakan yang dsenga|a ( msconduct)
Tndakan keaaan ( neggence)
Ketdak mahran ( ack of sk )
Tndakan yang dsenga|a ( msconduct)
Kesenga|aan yang dapat dakukan daam bentuk :
-peanggaran ketentuan etk
-peanggaran ketentuan dspn profes
-peanggaran hukum admnstras, hukum pdana dan perdata sepert meakukan
kesenga|aan yang merugkan pasen
-peanggaran wa|b smpan rahasa kedokteran
-penyerangan seksua
-berpraktek tanpa SIP
-senga|a meanggar standar
-berpraktek duar kompetens
Tndakan keaaan ( neggence)
Keaaan ada 3 bentuk :
a. Mafeasance
meakukan tndakan yang meanggar hukum/ tdak tepat / tdak ayak
Msa ; meakukan tndakan meds tanpa ndkas yang memada
3
b. Msfeasance
maakukan phan tndakan meds yang tepat tetap dakuakn dengan tdak tepat
Msa : meakukan tndakan meds menyaah/ tdak sesua prosedur
c. Nonfeasance
tdak meakukan tndakan meds yang merupakan kewa|ban bagnya
Syarat ter|adnya keaaan, harus memenuh 4 unsur :
1. Adanya kewa|ban untuk meakukan / tdak meakukan sesuatu
2. Adanya peanggaran / kegagaan memenuh kewa|ban tersebut
3. Adanya kerugan/ cedera pada pasen
4. Adanya hubungan kausatas antara peanggaran / kegagaan memebuh kewa|ban
tersebut dengan cedera/ kerugan.
Kasfkas mapraktek :
1) Mapraktek krmna ( pdana )
a. Bersfat kesenga|aan
- abrs tanpa ndkas medk
-euthanasa
-membocorkan rahasa kedokteran
-surat keterangan pasu
b. Bersfat kecerobohan
-meakukan tndakan meds tdak ege arts
-tdak meakukan rekam medk
-meakukan tndakan meds tanpa nformed concent
c. Bersfat keaaan
-apa/ kurang berhat-hat sehngga pasen menderta uka-uka.
2) Mapraktek sp ( perdata )
3) Mapraktek Admnstras
4) Mapraktek Etk
Penyebab ter|adnya keaaan / mapraktek :
4
Masaah komunkas dokter- pasen
Informas tdak |eas
Masaah manusa (SDM)
Berhubungan dengan pasen
Transfer pengetahuan ddaam organsas
Poa SDM/ aur tugas
Kegagaan teknk peaksanaan
Keb|akan dan prosedur tdak engkap
PENANGANAN PENUDUAN MALPRAKTEK
Suatu tuntutan hukum perdata, daam ha n sengketa antara phak dokter dan
rumah sakt berhadapan dengan pasen dan keuarga atau kuasanya, dapat dseesakan
meau dua cara, yatu cara tgas (meau proses peradan) dan cara non tgas (d uar
proses peradan).
Apaba dph penyeesaan meau proses pengadan, maka penggugat akan
menga|ukan gugatannya ke pengadan neger d wayah ke|adan, dapat dengan
menggunakan kuasa hukum (pengacara) ataupun tdak. Daam proses pengadan umumnya
ngn dcapa suatu putusan tentang kebenaran suatu gugatan berdasarkan bukt-bukt yang
sah (rght-based) dan kemudan putusan tentang |umah uang gant rug yang "ayak"
dbayar oeh tergugat kepada penggugat. Daam menentukan putusan benar-saahnya suatu
perbuatan hakm akan membandngkan perbuatan yang dakukan dengan suatu norma
tertentu, standar, ataupun suatu kepatutan tertentu, sedangkan daam memutus besarnya
gant rug hakm akan mempertmbangkan kedudukan sosa-ekonom kedua phak (pasa
1370-1371 KUH Perdata).
Apaba dph proses d uar pengadan (aternatve dspute resouton), maka kedua
phak berupaya untuk mencar kesepakatan tentang penyeesaan sengketa (mufakat).
Permufakatan tersebut dapat dcapa dengan pembcaraan kedua beah phak secara
angsung (konsas atau negosas), ataupun meau fastas, medas, dan arbtras, atau
cara-cara kombnas. Fastator dan medator tdak membuat putusan, sedangkan arbtrator
dapat membuat putusan yang harus dpatuh kedua phak. Daam proses mufakat n
dupayakan mencar cara penyeesaan yang cenderung berdasarkan pemahaman
kepentngan kedua phak (nterest-based, wn-wn souton), dan bukan rght-based. Hakm
pengadan perdata umumnya menawarkan perdamaan sebeum dmuanya persdangan,
bahkan akhr-akhr n hakm memfastas dakukannya medas oeh medator tertentu.
Daam ha tuntutan hukum tersebut da|ukan meau proses hukum pdana, maka
pasen cukup meaporkannya kepada penydk dengan menun|ukkan bukt-bukt permuaan
atau aasan-aasannya. Sean|utnya penydkah yang akan meakukan penydkan dengan
meakukan tndakan-tndakan keposan, sepert pemerksaan para saks dan tersangka,
pemerksaan dokumen (rekam meds d satu ss dan byaws, standar dan petun|uk d ss
annya), serta pemerksaan saks ah. Vsum et repertum mungkn sa|a dbutuhkan
penydk. Berkas has pemerksaan penydk dsampakan kepada |aksa penuntut umum
untuk dapat dsusun tuntutannya. Daam ha penydk tdak menemukan bukt yang cukup
maka akan dpkrkan untuk dterbtkannya SP3 atau penghentan penydkan.
Sean tu, kasus medkoega dan kasus potensa men|ad kasus medkoega, |uga
harus dseesakan dar ss profes dengan tu|uan untuk d|adkan pea|aran guna mencegah
5
ter|adnya penguangan d masa mendatang, bak oeh peaku yang sama ataupun oeh
peaku an. Daam proses tersebut dapat dakukan pemberan sanks (profes atau
admnstratf) untuk tu|uan pen|eraan, dapat pua tanpa pemberan sanks - tetap
memberakukan koreks atas faktor-faktor yang berkontrbus sebaga penyebab ter|adnya
"kasus" tersebut. Penyeesaan secara profes umumnya ebh bersfat audt kns, dan dapat
dakukan d tngkat nsttus kesehatan setempat (msanya berupa Rapat Komte Meds,
konferens kematan, presentas kasus, audt kns terstruktur, proses an|utan daam
ncdent report system, d), atau d tngkat yang ebh tngg (msanya daam sdang Dewan
Etk Perhmpunan Spesas, MKEK, Makers, MDTK, d). Ba putusan MKEK menyatakan
phak meds teah meaksanakan profes sesua dengan standar dan tdak meakukan
peanggaran etk, maka putusan tersebut dapat dgunakan oeh phak meds sebaga bahan
pembeaan.
Langkah-Langah Penanganan Kasus
Berbcara mengena angkah-angkah tndakan kta daam menghadap kemungknan
adanya tuntutan hukum, seharusnya dmua dar angkah pencegahan. Daam upaya n
dmasukkan perspektf safety d setap angkah prosedur atau tndakan meds dengan |uga
mebatkan proses mana|emen rsko. Dengan perspektf safety berart meyakn bahwa
faktor-faktor yang berkontrbus daam keberangsungan ayanan meds, bak perangkat
keras (hardware) dan perangkat unak (software), maupun sumber daya manusa (veware
atau branware) sudah berorentas kepada keseamatan.
Daam ha teah ter|ad perstwa yang potensa men|ad kasus tuntutan hukum,
maka profesona wa|b menganass perstwa tersebut untuk menemukan apakah
"kesaahan" yang teah ter|ad dan kemudan meakukan koreks, guna mencegah
teruangnya perstwa serupa d kemudan har. Untuk dapat meakukan ha tu, a harus
membuat catatan tentang kronoog perstwa dan men|easkan aasan masng-masng
tndakannya, dan menandatangannya (semacam pernyataan affdavt). Ha n bsa dcapa
apaba a memk dokumen (rekam meds) yang cukup engkap, termasuk nformed
consent dan catatan yang terkat. Apaba ebh dar satu orang yang terbat daam kasus
tersebut, maka mereka harus membahasnya bersama untuk dapat sang meengkap
"|aannya certera" - tanpa meakukan manpuas fakta.
Apaba tngkat potensa men|ad kasus medkoeganya cukup tngg, maka kasus
tersebut daporkan ke atasan (ketua KSMF atau Komte Medk) untuk dbahas bersama.
Insttus kesehatan yang reatf kec dan memk staf meds yang terbatas mungkn sukar
membahas kasus yang "spesastk" dengan bak, maka harus berupaya untuk mengundang
pakar dar organsas profes atau perhmpunan spesas terkat. Daam audt kns tersebut
dakukan pembahasan tentang keadaan pasen, stuas-konds yang merupakan "tekanan",
dagnoss ker|a dan dagnoss bandng, ndkas meds dan kontra-ndkas, aternatf
tndakan, nformed consent, komunkas, prosedur tndakan dbandngkan dengan standar,
penyebab perstwa yang menu|u ke perstwa medkoega, penanganan perstwa tersebut
saat tu, dagnoss akhr, dan kesmpuan apakah prosedur meds dan aasannya teah
dakukan sesua dengan standar profes atau SOP yang cocok dengan stuas-konds kasus.
Keseuruhan yang dakukan d atas adaah |uga merupakan angkah-angkah
persapan menghadap kompan pasen, atau bahkan menghadap somas dan gugatan d
kemudan har. D sampng tu profesona terkat kasus tersebut harus mehat kemba
dokumen kompetens (keahan) dan kewenangan meds (per|nan), serta kompetens /
kewenangan meds khusus (dokumen peathan/workshop, pengakuan kompetens,
pengaaman, d) yang berkatan dengan kasus.
6
Pertmbangan apakah kasus akan dseesakan d pengadan ataukah dengan cara
perdamaan peru dbahas pada waktu tersebut. Kasus yang secara nyata merupakan
kesaahan phak meds dan dna "undefensabe" sebaknya dseesakan dengan cara non
tgas. Sebaknya, kasus yang secara nyata tdak memk ttk emah d phak meds dapat
dpertmbangkan untuk dseesakan meau sdang pengadan. Kadang-kadang terdapat
kasus "abu-abu" atau "kasus rngan" yang penyeesaan cara non tgas mungkn akan ebh
"menguntungkan" dar seg fnansa darpada memh cara penyeesaan tgas.
Kepada pasen dan/atau keuarganya harus dberkan pen|easan yang memuaskan
tentang ter|adnya perstwa tersebut, penyebabnya atau kemungknan penyebabnya,
tndakan yang teah dakukan untuk mencegah atau mengatasnya, tndakan yang mash
dperukan, dan peuang kesembuhannya d masa mendatang. Apaba pasen menngga
duna, maka pen|easan tentang sebab kematan yang cukup rnc dperukan. Keberhasan
pen|easan n sangat bergantung kepada kuatas pen|easan yang teah dberkan sewaktu
memperoeh nformed consent. Keuhan atau kompan pasen dan/atau keuarganya harus
drespons dengan segera dan adekuat. Aangkah ebh bak apaba pen|easan dakukan
oeh tm dokter terkat ddampng oeh saah seorang drektur dan wak dar Komte Meds.
Apaba d kemudan har datang somas, maka tm dokter segera berkonsutas
dengan atasan dan penasehat hukum terkat. Tenaga meds dan staf an yang terbat pada
kasus tersebut harusah berada daam satu phak yang sod dengan rumah sakt agar tdak
mudah dgoyang oeh phak penuntut. Suatu pertemuan dan pen|easan yang adekuat
serngka dapat meredakan permasaahan. Tdak sedkt yang beran|ut ke pembcaraan
tentang "kompensas" fnansa d uar pengadan. Cara tersebut drasakan cukup efektf
untuk mencegah kasus ke pengadan yang membawa berbaga dampak. Proses d
pengadan danggap dapat merusak ctra pofesona, mengganggu bsns, berbaya tngg
dan makan waktu ama. Namun, sebagan kec kasus mungkn mash akan ma|u ke
pengadan.
Tdak |arang, sebagamana akhr-akhr n serng ter|ad, pasen dan kuasanya
mengungkapkan kasusnya kepada pubk meau meda massa - dhat dar ss mereka
dengan perseps mereka sendr. Tusan, tayangan atau pernyataan yang sangat
menyudutkan rumah sakt atau menyesatkan perseps masyarakat sebaknya segera
drespons oeh rumah sakt dengan memberkan nformas yang adekuat tanpa harus
membuka rahasa kedokteran.
Daam kasus pdana dugaan keaaan yang mengakbatkan cedera atau kematan,
penanganan awanya boeh danggap sama dengan d atas. Sean|utnya proses pemerksaan
oeh penydk dkut dengan patuh, dengan memberkan pembea|aran kepada penydk d
bdang meds dan medkoega. D wayah hukum Poda Metro |aya dsepakat untuk
menga|ukan satu atau dua orang saks ah d bdang yang dbutuhkan, satu berasa dar
organsas profes (MKEK) dan satu dar kaangan akadems (dosen Fakutas Kedokteran).
Guna menghadap ha tu, organsas profes (PDSp) membentuk semacam "dewan
pakar" atau "dewan kehormatan pembna", yang akan mena kasus dar ss profes dan
kemudan akan men|ad saks ah - menyampakan has pembahasan peer-group tersebut
kepada penydk.
ALUR UKUM
A! MKEK "
Daam ha seorang dokter dduga meakukan peanggaran etka kedokteran
(tanpa meanggar norma hukum), maka a akan dpangg dan dsdang oeh Ma|es
Kehormatan Etk Kedokteran (MKEK) IDI untuk dmnta pertanggung-|awaban (etk dan
dspn profes)nya. Persdangan MKEK bertu|uan untuk mempertahankan akuntabtas,
7
profesonasme dan keuhuran profes. Saat n MKEK men|ad satu-satunya ma|es profes
yang menydangkan kasus dugaan peanggaran etk dan/atau dspn profes d kaangan
kedokteran. D kemudan har Ma|es Kehormatan Dspn Kedokteran Indonesa (MKDKI),
embaga yang dmandatkan untuk ddrkan oeh UU No 29 / 2004, akan men|ad ma|es
yang menydangkan dugaan peanggaran dspn profes kedokteran.
Proses persdangan etk dan dspn profes dakukan terpsah dar proses
persdangan gugatan perdata atau tuntutan pdana oeh karena doman dan |ursdksnya
berbeda. Persdangan etk dan dspn profes dakukan oeh MKEK IDI, sedangkan gugatan
perdata dan tuntutan pdana daksanakan d embaga pengadan d ngkungan peradan
umum. Dokter tersangka peaku peanggaran standar profes (kasus keaaan medk) dapat
dperksa oeh MKEK, dapat pua dperksa d pengadan - tanpa adanya keharusan sang
berhubungan d antara keduanya. Seseorang yang teah dputus meanggar etk oeh MKEK
beum tentu dnyatakan bersaah oeh pengadan, demkan pua sebaknya.
Persdangan MKEK bersfat nkustora khas profes, yatu Ma|es (ketua dan
anggota) berskap aktf meakukan pemerksaan, tanpa adanya badan atau perorangan
sebaga penuntut. Persdangan MKEK secara forme tdak menggunakan sstem pembuktan
sebagamana azmnya d daam hukum acara pdana ataupun perdata, namun demkan
tetap berupaya meakukan pembuktan mendekat ketentuan-ketentuan pembuktan yang
azm.
Daam meakukan pemerksaannya, Ma|es berwenang memperoeh :
1. Keterangan, bak san maupun tertus (affdavt), angsung dar phak-phak terkat
(pengadu, teradu, phak an yang terkat) dan peer-group / para ah d bdangnya yang
dbutuhkan
2. Dokumen yang terkat, sepert bukt kompetens daam bentuk berbaga |asah/ brevet
dan pengaaman, bukt keanggotaan profes, bukt kewenangan berupa Surat I|n Praktek
Tenaga Meds, Per|nan rumah sakt tempat ke|adan, bukt hubungan dokter dengan rumah
sakt, hospta byaws, SOP dan SPM setempat, rekam meds, dan surat-surat an yang
berkatan dengan kasusnya.
Ma|es etk ataupun dspn umumnya tdak memk syarat-syarat bukt seketat
pada hukum pdana ataupun perdata. Bars Disciplinary Tribunal Regulation, msanya,
memboehkan adanya bukt yang bersfat hearsay dan bukt tentang peraku teradu d masa
ampau. Cara pemberan keterangan |uga ada yang mengharuskan ddahuu dengan
pengangkatan sumpah, tetap ada pua yang tdak mengharuskannya. D Austraa, saks
tdak peru dsumpah pada nforma hearng, tetap harus dsumpah pada forma hearng
(|ens persdangan yang ebh tngg darpada yang nforma). Sedangkan bukt berupa
dokumen umumnya d"sah"kan dengan tandatangan dan/atau stempe nsttus terkat, dan
pada bukt keterangan dakhr dengan pernyataan kebenaran keterangan dan tandatangan
(affdavt).
Daam persdangan ma|es etk dan dspn, putusan damb berdasarkan bukt-
bukt yang danggap cukup kuat. Memang bukt-bukt tersebut tdak harus memk standard
of proof sepert pada hukum acara pdana, yatu setngg beyond reasonabe doubt, namun
|uga tdak serendah pada hukum acara perdata, yatu preponderance of evdence. Pada
beyond reasonabe doubt tngkat kepastannya danggap meebh 90%, sedangkan pada
preponderance of evdence danggap cukup ba teah 51% ke atas. Banyak ah menyatakan
bahwa tngkat kepastan pada perkara etk dan dspn bergantung kepada sfat masaah
yang da|ukan. Semakn serus dugaan peanggaran yang dakukan semakn tngg tngkat
kepastan yang dbutuhkan.
Perkara yang dapat dputuskan d ma|es n sangat bervaras |ensnya. D MKEK
IDI Wayah DKI |akarta dputus perkara-perkara peanggaran etk dan peanggaran dspn
profes, yang dsusun daam beberapa tngkat berdasarkan dera|at peanggarannya. D
Austraa dgunakan berbaga stah sepert unacceptabe conduct, unsatsfactory
professona conduct, unprofessona conduct, professona msconduct dan nfamous
conduct n professona respect. Namun demkan tdak ada pen|easan yang mantap tentang
stah-stah tersebut, meskpun umumnya memasukkan dua stah terakhr sebaga
8
peanggaran yang serus hngga dapat dkena sanks skorsng ataupun pencabutan |n
praktk.
Putusan MKEK tdak dtu|ukan untuk kepentngan peradan, oeh karenanya tdak
dapat dpergunakan sebaga bukt d pengadan, kecua atas perntah pengadan daam
bentuk permntaan keterangan ah. Saah seorang anggota MKEK dapat memberkan
kesaksan ah d pemerksaan penydk, ke|aksaan ataupun d persdangan, men|easkan
tentang |aannya persdangan dan putusan MKEK. Seka ag, hakm pengadan tdak terkat
untuk sepaham dengan putusan MKEK.
Eksekus Putusan MKEK Wayah daksanakan oeh Pengurus IDI Wayah dan/atau
Pengurus Cabang Perhmpunan Profes yang bersangkutan. Khusus untuk SIP, eksekusnya
dserahkan kepada Dnas Kesehatan setempat. Apaba eksekus teah d|aankan maka
dokter teradu menerma keterangan teah men|aankan putusan.
(http://koran!emokra"iin!one"ia.wor!pre"".com/200&/%2/%%/etika-ke!okteran-in!one"ia-
!an-penan*anan-pelan**aran-etika-!i-in!one"ia/)
B! MDKI "
Ma|es Kehormatan Dspn Kedokteran Indonesa merupakan embaga otonom
dar Kons Kedokteran Indonesa, dan daam men|aankan tugasnya bersfat ndependen,
serta bertanggung |awab kepada Kons Kedokteran Indonesa. Berkedudukan d bu kota
negara Repubk Indonesa.
Ma|es Kehormatan Dspn Kedokteran d tngkat provns dapat dbentuk oeh
Kons Kedokteran Indonesa atas usu Ma|es Kehormatan Dspn Kedokteran
Indonesa.Pmpnan Ma|es Kehormatan Dspn Kedokteran Indonesa terdr atas seorang
ketua, seorang wak ketua, dan seorang sekretars. Keanggotaan Ma|es Kehormatan
Dspn Kedokteran Indonesa terdr atas 3 (tga) orang dokter gg dan organsas profes
masng-masng, seorang dokter dan seorang dokter gg mewak asosas rumah sakt, dan
3 (tga) orang sar|ana hukum.
Anggota Ma|es Kehormatan Dspn Kedokteran Indonesa dtetapkan oeh
Menter atas usu organsas profes. Masa bakt keanggotaan Ma|es Kehormatan Dspn
Kedokteran Indonesa sebagamana dmaksud daam Pasa 60 adaah 5 (ma) tahun dan
dapat dangkat kemba untuk 1 (satu) ka masa |abatan. Pmpnan Ma|es Kehormatan
Dspn Kedokteran Indonesa dph dan dtetapkan oeh rapat peno anggota. Ketentuan
ebh an|ut mengena tata cara pemhan pmpnan Ma|es Kehormatan Dspn Kedokteran
Indonesa datur dengan Peraturan Kons Kedokteran Indonesa.
Ma|es Kehormatan Dspn Kedokteran Indonesa bertugas:
1. Menerma pengaduan, memerksa, dan memutuskan kasus peanggaran dspn dokter
dan dokter gg yang da|ukan
2. Menyusun pedoman dan tata cara penanganan kasus peanggaran dspn dokter atau
dokter gg.
Peanggaran dspn adaah peanggaran terhadap aturan aturan dan/atau
ketentuan penerapan kemuan daam peaksanaan peayanan yang seharusnya dkut oeh
dokter dan dokter gg. Sebagan dar aturan dan ketentuan tersebut terdapat daam UU
Praktk Kedokteran, dan sebagan ag tersebar ddaam Peraturan Pemerntah, Permenkes,
Peraturan KKI, Pedoman Organsas Profes, KODEKI, Pedoman atau ketentuan an.
Peanggaran dspn pada hakkatnya dbag men|ad:
1. Meaksanakan praktk kedokteran dengan tdak kompeten.
2. Tugas dan tanggung |awab profesona pada pasen tdak daksanakan dengan bak.
3. Berperaku tercea yang merusak martabat dan kehormatan profes kedokteran.
Setap orang yang mengetahu atau kepentngannya drugkan atas tndakan dokter atau
gg daam men|aankan praktk kedokteran dapat mengadukan secara tertus kepada Ketua
Ma|es Kehormatan Dspn Kedokteran Indonesa. Pengaduan sekurang-kurangnya harus
memuat:
9
1. denttas pengadu;
2. nama dan aamat tempat praktk dokter atau dokter gg dan waktu tndakan dakukan
dan
3. aasan pengaduan. Pengaduan sebagamana dmaksud datas, tdak menghangkan hak
setap orang untuk meaporkan adanya dugaan tndak pdana kepada phak yang berwenang
dan/atau menggugat kerugan perdata ke pengadan.
Ma|es Kehormatan Dspn Kedokteran Indonesa memerksa dan memberkan
keputusan terhadap pengaduan yang berkatan dengan dspn dokter dan dokter gg.
Apaba daam pemerksaan dtemukan peanggaran etka, Ma|es Kehormatan Dspn
Kedokteran Indonesa meneruskan pengaduan pada organsas profes. Keputusan Ma|es
Kehormatan Dspn Kedokteran Indonesa mengkat dokter, dokter gg, dan Kons
Kedokteran Indonesa. Keputusan dapat berupa dnyatakan tdak bersaah atau pemberan
sanks dspn. Sanks dspn dapat berupa:
1. pemberan perngatan tertus;
2. rekomendas pencabutan surat tanda regstras atau surat zn praktk; dan/atau
3. kewa|ban mengkut penddkan atau peathan d nsttus penddkan kedokteran atau
kedokteran gg.
Ketentuan ebh an|ut mengena peaksanaan fungs dan tugas Ma|es
Kehormatan Dspn Kedokteran Indonesa, tata cara penanganan kasus, tata cara
pengaduan, dan tata cara pemerksaan serta pemberan keputusan datur dengan Peraturan
Kons Kedokteran Indonesa.
(http://www.unfk83.com/peraturan-dan-per|nan-f16/kons-kedokteran-ndonesa-
t252.htm)
Daam ha tenaga kesehatan ddakwa teah meakukan ciminal malpractice+harus
dbuktkan apakah perbuatan tenaga kesehatan tersebut teah memenuh unsur tdak
pdanya yakn :
a. Apakah perbuatan (po"iti act atau ne*ati act) merupakan perbuatan yang tercea
b. Apakah perbuatan tersebut dakukan dengan skap batn (men" rea) yang saah (senga|a,
ceroboh atau adanya keapaan). Sean|utnya apaba tenaga perawatan dtuduh teah
meakukan keapaan sehngga mengakbatkan pasen menngga duna, menderta uka,
maka yang harus dbuktkan adaah adanya unsur perbuatan tercea (saah) yang dakukan
dengan skap batn berupa apa atau kurang hat-hat ataupun kurang praduga.
Daam kasus atau gugatan adanya ci,il malpractice pembuktanya dapat dakukan dengan
dua cara yakn :
1. Cara angsung
Oeh Tayor membuktkan adanya keaaan memaka took ukur adanya 4 D yakn :
1. D)t- (kewa|ban)
Daam hubungan per|an|an tenaga perawatan dengan pasen, tenaga perawatan harusah
bertndak berdasarkan
(1) Adanya ndkas meds
(2) Bertndak secara hat-hat dan tet
(3) Beker|a sesua standar profes
(4) Sudah ada nformed consent.
%. Dereliction o D)t- (pen-impan*an !ari kewa$i.an)
|ka seorang tenaga perawatan meakukan asuhan keperawatan menympang dar apa yang
seharusnya atau tdak meakukan apa yang seharusnya dakukan menurut standard
profesnya, maka tenaga perawatan tersebut dapat dpersaahkan.
%. Direct /a)"ation (pen-e.a. lan*")n*)
2. Dama*e (ker)*ian)
Tenaga perawatan untuk dapat dpersaahkan harusah ada hubungan kausa (angsung)
antara penyebab (ca)"al) dan kerugan (!ama*e) yang dderta oeh karenanya dan tdak
ada perstwa atau tndakan sea dantaranya., dan ha n harusah dbuktkan dengan |eas.
Has (o)tcome) negatf tdak dapat sebaga dasar menyaahkan tenaga perawatan.
10
Sebaga adagum daam mu pengetahuan hukum, maka pembuktannya adanya kesaahan
dbebankan/harus dberkan oeh s penggugat (pasen).
2. Cara tdak angsung
Cara tdak angsung merupakan cara pembuktan yang mudah bag
pasen, yakn dengan menga|ukan fakta-fakta yang dderta oehnya
"e.a*ai ha"il la-anan perawatan (!oktrin re" ip"a lo0)it)r).
Doktrn re" ip"a lo0)it)r dapat dterapkan apaba fakta-fakta yang ada memenuh krtera:
a. Fakta tdak mungkn ada/ter|ad apaba tenaga perawatan tdak aa
b. Fakta tu ter|ad memang berada daam tanggung |awab tenaga perawatan
c. Fakta tu ter|ad tanpa ada kontrbus dar pasen dengan perkataan an tdak
ada contri.)tor- ne*li*ence.
gugatan pasen .
Tuduhan akan adanya Maapraktk sebenarnya bukan hanya dtu|ukan pada
mereka yang berprofes sebaga Tenaga Kesehatan yang saah satunya adaah Dokter, akan
tetap tuduhan Maapraktk dapat dtuduhkan kepada semua keompok Profesonas, yatu
apakah mereka tu keompok Wartawan, Advokat, Paranorma dan keompok annya.
Pengertan Maapraktk seama n banyak damb dar kaangan mereka yang berprofes
sebaga tenaga kesehatan, terutama Dokter.
Sedang batasan pengertan umum tentang Mapraktk d kaangan tenaga
kesehatan adaah ; Seseorang tenaga kesehatan daam memberkan tanggung|awab
profesnya kepada pasen dakukan d uar prosedure dan stardard profes pada umumnya
yang berakbat cacat dan matnya sang pasen. Namun rumusan akan standard profes yang
bersfat baku, khususnya bag tenaga kesehatan (Dokter) secara tegas beum ada
drumuskan d daam undang-undang.
Pembeaan Dapat Dakukan Seorang Dokter |ka Dsukan Meakukan
Peneantaran. Meskpun seorang pasen menga|ukan kasus prma face bahwa dokter teah
meakukan peneantaran, bahkan menga|ukan bukt bahwa dokter tersebut tdak
memberkan kenyamanan peayanan kesehatan sesua standar meda yang dharapkan oeh
pasen pada waktu tertentu atau berdasarkan kepercayaan pada doktrn res psa oqutur
(Bukt - bukt berbcara untuk drnya sendr), hukum memboehkan seorang dokter untuk
membea drnya, sean penyangkaan tndakan peneantaran. Pembeaan yang dapat
dakukan, antara an :
1. Perkraan resko tndakan pada pasen
2. Kekutsertaan ter|adnya peneantaran oeh pasen sendr
3. Bahwa peneantaran tersebut bukan untuk mendung dokter tersebut
meankan orang an, msa perawat.
Tenaga kesehatan dapat dgugat berdasarkan pasa 1365 KUH Perdata |o. pasa
55 UU No.23 tahun 1992 dan dapat dtuntut pdana berdasarkan pasa 359, 360 dan 361
KUHP, pasa 80, 81, 82 dar UU No.23 tahun 1992 dan ketentuan pdana annya. D sampng
hak-hak pasen, dsn peru |uga kta kemukakan sedkt tentang hak-hak tenaga kesehatan
khususnya para dokter. Adapun mengena hak-hak dokter dapat dkemukakan sbb : Hak
untuk berker|a menurut standard profes meds, hak menoak untuk meaksanakan tndakan
meds yang tdak dapat a pertanggung|awabkan secara profesona, hak untuk menoak
yang menurut suara hatnya tdak bak, hak mengakhr hubungan dengan pasen |ka a
mena ker|asamanya dengan pasen tdak ada gunanya ag, hak atas prvacy dokter, hak
atas khtkat bak dar pasen daam peaksanaan kontrak terapeutk (penyembuhan), hak
atas baas |asa, hak untuk membea dr dan hak memh pasen namun hak n tdak mutak
sfatnya. |ad dsn dapat dtark kesmpuan bahwa Maapraktk erat hubungannya dengan
peanggaran terhadap standard profes medk, peanggaran prosedure tndakan medk, dan
bag peanggarnya tentu dapat dgugat, dtuntut pdana dan dber sanks admnstratf
berupa pencabutan |n praktk.
11
Dokter #ikatakan $e%ak&kan $a%'raktek (ika"
- Dokter kurang menguasa ptek kedokteran yang sudah beraku umum dkaangan profes
kedokteran
- Memberkan peayanan kedokteran dbawah standar profes (tdak ege arts)
- Meakukan keaaan yang berat atau memberkan peayanan dengan tdak hat-hat
- Meakukan tndakan medk yang bertentangan dengan hukum
|ka dokter hanya meakukan tndakan yang bertentangan dengan etk kedokteran, maka a
hanya teah meakukan mapraktek etk. Untuk dapat menuntut penggantan kerugan
kerena keaaan, maka penggugatan harus dapat membuktkan adanya 4 unsur berkut:
- Adanya suatu kewa|ban bag dokter terhadap pasen
- Dokter teah meanggar standar peayanan medk yang azm dpergunakan
- Penggugat teah menderta kerugan yang dapat dmntakan gant rugnya
- Secara faktua kerugan tu dsebabkan oeh tndakan dbawah standar
Ungkapan mapraktk meds secara angsung pada kasus kns dengan outcome
yang tdak dngnkan adaah tdak tepat atau tdak ad (tdak far). Istah yang sebenarnya
netra sebeum ada pembuktan adaah adverse cnca ncdent, adverse event, atau
medca accdent, yang umumnya dgunakan daam perpustakaan Inggrs (daam
kepustakaan Amerka ebh serng dgunakan kata-kata medca error se|ak dn, yang |uga
tdak netra). Adverse cnca ncdent atau medca accdent menggambarkan perstwa atau
ke|adan kns yang cocok atau yang berawanan dengan harapan, tanpa menetapkan duu
apa penyebab ke|adan yang tdak dngnkan tu dan sapa yang bersaah. In sesua dengan
asas hukum praduga tak bersaah, sampa kesaahan benar-benar terbukt.
Menurut Guwand mapraktk adaah (Guwand, |. 1994, 18):
a. Meakukan suatu ha yang seharusnya tdak boeh dakukan oeh dokter atau dokter gg;
b. Tdak meakukan apa yang seharusnya dakukan atau meaakan kewa|ban (neggence).
c. Meanggar suatu ketentuan menurut atau berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Seorang dokter atau dokter gg yang menympang dar standar profes dan
meakukan kesaahan profes beum tentu meakukan mapraktk meds yang dapat
dpdana, mapraktk meds yang dpdana membutuhkan pembuktan adanya unsur cupa
ata atau kaaaan berat dan pua berakbat fata atau serus (Amen, Fred, 1991). Ha n
sesua dengan ketentuan pasa 359 KUHP, pasa 360, pasa 361 KUHP yang dbutuhkan
pembuktan cupa ata dar dokter atau dokter gg. Dengan demkan untuk pembuktan
mapraktk secara hukum pdana meput unsur :
1) Teah menympang dar standar profes kedokteran;
2) Memenuh unsur cupa ata atau keaaan berat; dan
3) Tndakan menmbukan akbat serus, fata dan meanggar pasa 359, pasa 360, KUHP.
Adapun unsur-unsur dar pasa 359 dan pasa 360 sebaga berkut :
1) Adanya unsur keaaan (cupa).
2) Adanya wu|ud perbuatan tertentu .
3) Adanya akbat uka berat atau matnya orang an.
4) Adanya hubungan kausa antara wu|ud perbuatan dengan akbat kematan orang an tu.
UPAYA PEN)EGAAN
Dengan adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenaga meds karena
adanya mapraktek dharapkan tenaga daam men|aankan tugasnya seau bertndak hat-
hat, yakn:
a. 1i!ak men$an$ikan ata) mem.eri *aran"i akan ke.erha"ilan )pa-an-a+ karena per$an$ian
.er.ent)k !a-a )pa-a (in"panin* ,er.inteni") .)kan per$an$ian akan .erha"il (re")ltaat
,er.inteni").
.. 2e.el)m melak)kan inter,en"i a*ar "elal) !ilak)kan inorme! con"ent.
12
c. Mencatat semua tndakan yang dakukan daam rekam meds.
!. Apaba ter|ad keragu-raguan, konsutaskan kepada senor atau dokter.
e. Memperakukan pasen secara manusaw dengan memperhatkan segaa kebutuhannya.
. Men|an komunkas yang bak dengan pasen, keuarga dan masyarakat sektarnya.
(http://exceent-awyer.bogspot.com/2010/04/mapraktek-vs-uu-kesehatan.htm)
(http://cetrone.bogspot.com/2008/12/mapraktek-defns-mapraktek-adaah.htm)
DASAR UKUM
Dar seg hukum keaaan atau kesaahan akan terkat dengan sfat perbuatan
meawan hukum yang dakukan oeh orang yang mampu bertanggung |awab. Seseorang
dkatakan mampu bertanggung |awab apaba dapat menyadar makna yang sebenarnya
dar perbuatannya. Dan suatu perbuatan dkategorkan sebaga criminal malpractice
apaba memenuh rumusan dek pdana yatu perbuatan tersebut harus merupakan
perbuatan tercea dan dakukan skap batn yang saah berupa kesenga|aan, kecerobohan
atau keapaan (2aitri #ari-ani. 2005).
/riminal malpractice yang berupa kesenga|aan sepert meakukan abors tanpa adanya
ndkas medk, tdak meakukan pertoongan terhadap seseorang yang daam keadaan
emer*enc-, membuat ,i")m et repert)m yang tdak benar serta memberkan keterangan
yang tdak benar pada sdang pengadan daam kapastas sebaga ah. Perha mapraktek
daam hukum pdana ada beberapa pasa yang mengaturnya antara an :
a. Pasa 359 KUHP yatu karena kesaahannya menyebabkan orang mat.
b. Pasa 360 KUHP yatu karena kesaahannya menyebabkan orang an uka berat.
c. Pasa 361 KUHP yatu karena kesaahannya meakukan suatu |abatan atau peker|aannya
hngga menyebabkan mat atau uka berat maka akan dhukum berat.
d. Pasa 299, 348, 349, 350 KUHP mengena pengguguran kandungan tanpa ndkas medk.
Daam mu hukum pdana, suatu perbuatan dkatakan sebaga perbuatan pdana
apaba memenuh semua unsur yang teah dtentukan daam suatu aturan perundang-
undangan pdana. Pasa 1 KUHP (Ktab Undang-undang Hukum Pdana) menyatakan tia!a
")at) per.)atan -an* !apat !ipi!ana+ melainkan ata" kek)atan ketent)an pi!ana !alam
per)n!an*-)n!an*an -an* telah a!a "e.el)m per.)atan it) ter$a!i.
Perbuatan pdana dapat bersfat kesenga|aan maupun keapaan, karena tu
berdasarkan mu hukum pdana criminal malpractice apakah masuk dek kesenga|aan atau
keapaan? /riminal malpractice bersfat dek kesenga|aan apaba ada unsur dengan
senga|a yatu perbuatan pdana yang ddasarkan pada senga|a untuk meakukan perbuatan
pdana tersebut. |ad perbuatan tu ddasar sepenuhnya oeh peaku perbuatan pdana
(Kompa"+ 22 3kto.er 2004).
Pada /riminal 'alpractice+ pembuktannya ddasarkan pada terpenuhnya semua unsur
pdana. Pembuktanpun tunduk pada hukum acara pdana yang beraku yatu KUHAP. Daam
pasa 184 KUHAP dsebutkan tentang aat-aat bukt yang dapat dgunakan untuk
membuktkan perbuatan pdana yatu keteran*an "ak"i+ keteran*an ahli+ ")rat+ pet)n$)k
!an keteran*an ter!akwa. Perbuatan dkatakan terbukt sebaga perbuatan pdana apaba
berdasarkan mnma dua aat bukt tersebut penydk memperoeh keyaknan bahwa
perbuatan tersebut merupakan perbuatan pdana.
Keapaan atau keaaan merupakan saah satu unsur dar Pasa 359 KUHP yang terdr
dar unsur kelalaian+ w)$)! per.)atan tertent)+ aki.at kematian oran* lain "erta h).)n*an
ka)"al antara w)$)! per.)atan !en*an aki.at kematian oran* lain ter"e.)t. Berdasarkan
pengertan mapraktek, maka dapat dkatakan bahwa mapraktek terdr dar unsur-unsur
adanya unsur kesaahan / keaaan dokter daam men|aankan profesnya, adanya wu|ud
perbuatan tertentu (mengobat / merawat pasen), adanya akbat uka berat atau matnya
orang an (pasen), adanya hubungan kausa bahwa uka berat atau kematan tersebut
merupakan akbat dar perbuatan dokter yang mengobat pasen dengan tdak sesua
standar peayanan meds.
13
Unsur-unsur tersebut memenuh rumusan pasa 359 KUHP, ba pasen dan atau
penydk dapat membuktkan adanya keempat unsur tersebut maka pasa 359 KUHP dapat
dterapkan kepada dokter yang meakukan mapraktek. Namun untuk menentukan suatu
keaaan yang dakukan oeh seorang dokter bukanah ha yang mudah karena banyak
faktor yang mempengaruh dan men|ad atar beakang ter|adnya kasus tersebut.
INF*RMED )*N)ENT
DEFINISI
Menurut PerMenKes no 290/MenKes/Per/III/2008 dan UU no 29 th 2004 Pasa 45
serta Manua Persetu|uan Tndakan Kedokteran KKI tahun 2008. maka Informed Consent
adaah persetu|uan tndakan kedokteran yang dberkan oeh pasen atau keuarga
terdekatnya seteah mendapatkan pen|easan secara engkap mengena tndakan
kedokteran yang akan dakukan terhadap pasen tersebut. Menurut Lampran SKB IDI No.
319/P/BA./88 dan Permenkes no 585/Men.Kes/Per/IX/1989 tentang Persetu|uan Tndakan
Meds Pasa 4 ayat 2 menyebutkan daam memberkan nformas kepada pasen /
keuarganya, kehadran seorang perawat / paramedk annya sebaga saks adaah pentng.
KLASIFIKASI
Secara umum bentuk persetu|uan yang dberkan pengguna |asa tndakan meds (pasen)
kepada phak peaksana |asa tndakan meds (dokter) untuk meakukan tndakan meds
dapat dbedakan men|ad tga bentuk, yatu :
Persetu|uan Tertus, basanya dperukan untuk tndakan meds yang mengandung
resko besar, sebagamana dtegaskan daam PerMenKes No.
585/Men.Kes/Per/IX/1989 Pasa 3 ayat (1) dan SK PB-IDI No. 319/PB/A.4/88 butr 3,
yatu ntnya setap tndakan meds yang mengandung resko cukup besar,
mengharuskan adanya persetu|uan tertus, seteah sebeumnya phak pasen
memperoeh nformas yang adekuat tentang perunya tndakan meds serta resko
yang berkatan dengannya (teah ter|ad nformed consent)
Persetu|uan Lsan, basanya dperukan untuk tndakan meds yang bersfat non-
nvasf dan tdak mengandung resko tngg, yang dberkan oeh phak pasen
Persetu|uan dengan syarat, dakukan pasen meau syarat, msanya pasen yang
akan dsuntk atau dperksa tekanan darahnya, angsung menyodorkan engannya
sebaga tanda menyetu|u tndakan yang akan dakukan terhadap drnya.
DASAR UKUM
A! UU No! ++ Ta,&n 200- Tentan. R&$a, Sakit "
Dasar hukumnya: Undang-Undang Dasar 1945 Pasa 5 ayat (1), Pasa 20 , Pasa
28H ayat (1), dan Pasa 34 ayat (3)
Daam pasa 28H ayat (1) UUD 1945 dsebutkan bahwa setap orang berhak
memperoeh peayanan kesehatan, sedangkan pada pasa 34 ayat (3) dnyatakan Negara
bertanggung |awab atas penyedaan fastas peayanan kesehatan dan fastas peayanan
umum yang ayak.
Kewa|ban Rumah Sakt :
Kewa|ban RS mendung dan memberkan bantuan hukum bag semua petugas RS
daam meaksanakan tugas;
14
Daam katan dan tanggung |awab secara Perdata terhadap semua kegatan yang
dakukan oeh tenaga kesehatannya sesua dengan buny pasa 1367 ayat (3) KUH
Perdata. (baca seengkapnya d UU No.44 Tahun 2009)
Upaya pencegahan mapraktk dar rumah sakt :
RS hanya mempeker|akan tenaga kesehatan yang kompeten, dan ada program
peathan dan pengembangan yang berkean|utan
RS menyedakan reguas (norma), standar-standar, prosedur, dan crtera
(patokan/parameter), dan d|aankan secara konssten
RS menyedakan organsas yang menun|ang ker|a bermutu msanya dengan
menga|ukan system akredtas dan atau ISO
Mengahkan resko profes kepada phak Asurans
Menykap secara b|ak se|ak dn apaba dtemukan potens tuntutan
Sstem perndungan |ka ter|ad perkara :
RS harus memk sstm untuk meakukan koordnas, konsodas, untuk
menganass kasus, menemukan kesaahan ba ada, menentukan poss hukumnya,
dan menetukan angkah-angkah mengatasnya
RS memk organsas yang mamapu memebrkan advokas/pendampngan, dar ss
hukum maupun ss tekns dan admnstratve
(http://www.konsutanrumahsakt.com/home/ndex.php?page=deta&cat=2&d=177)
B! UU No! /0 Ta,&n 200- Tentan. Kese,atan "
Terdr dar 5 dasar pertmbangan perunya dbentuk undang-undang kesehatan
yatu pertama; kesehatan adaah hak asas dan saah satu unsur kese|ahteraan, kedua5
prnsp kegatan kesehatan yang nondskrmnatf, partspatf dan berkean|utan. Ketiga;
kesehatan adaah nvestas. Keempat; pembangunan kesehatan adaah tanggung |awab
pemerntah dan masyarakat, dan yang Kelima adaah bahwa undang-undang kesehatan no
23 tahun 1992 sudah tdak sesua ag dengan perkembangan, tuntutan dan kebutuhan
hukum daam masyarakat.
Pen|easannya dar Undang-undang n adaah e!u"udkan dera"at
kesehatan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan keadaan kesehatan
yang lebih baik dari sebelumnya# Dera"at kesehatan yang setinggi-tingginya
mungkin dapat dicapai pada suatu saat sesuai dengan kondisi dan situasi serta
kemampuan yang nyata dari setiap orang atau masyarakat# $paya kesehatan
harus selalu diusahakan peningkatannya secara terus menerus agar masyarakat
yang sehat sebagai in%estasi dalam pembangunan dapat hidup produkti& secara
sosial dan konomis#' Terdapat 205 pasa daam undang-undang tersebut.
Tndakan meds yang dakukan tanpa zn pasen, dapat dgoongkan sebaga
tndakan meakukan penganayaan berdasarkan KUHP Pasa 351 ( trespass, battery, body
assaut ). Menurut Pasa 5 Permenkes No 290 / Menkes / PER / III / 2008, persetu|uan
tndakan kedokteran dapat dbatakan atau dtark kemba oeh yang member persetu|uan,
sebeum dmuanya tndakan ( Ayat 1 ). Pembataan persetu|uan tndakan kedokteran harus
dakukan secara tertus oeh yang member persetu|uan ( Ayat 2 ).
(http://www.unfk83.com/peraturan-dan-per|nan-f16/nformed-consent-t143.htm)
(http://ara2008.wordpress.com/2010/01/19/membaca-undang-undang-repubk-ndonesa-
nomor-36-tahun-2009-tentang-kesehatan/)
Aspek Hukum Perdata, suatu tndakan meds yang dakukan oeh peaksana |asa
tndakan meds (dokter) tanpa adanya persetu|uan dar phak pengguna |asa tndakan meds
15
(pasen), sedangkan pasen daam keadaan sadar penuh dan mampu memberkan
persetu|uan, maka dokter sebaga peaksana tndakan meds dapat dpersaahkan dan
dgugat teah meakukan suatu perbuatan meawan hukum (onrechtmatge daad)
berdasarkan Pasa 1365 Ktab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer). Ha n karena
pasen mempunya hak atas tubuhnya, sehngga dokter dan harus menghormatnya;
Aspek Hukum Pdana, "nformed consent" mutak harus dpenuh dengan adanya
pasa 351 Ktab Undang-Undang Hukum Pdana (KUHP) tentang penganayaan. Suatu
tndakan nvasve (msanya pembedahan, tndakan radoogy nvasve) yang dakukan
peaksana |asa tndakan meds tanpa adanya zn dar phak pasen, maka peaksana |asa
tndakan meds dapat dtuntut teah meakukan tndak pdana penganayaan yatu teah
meakukan peanggaran terhadap Pasa 351 KUHP.
TU1UAN
Memberkan perndungan kepada pasen terhadap tndakan dokter yang sebenarnya
tdak dperukan dan secara medk tdak ada dasar pembenarannya yang dakukan
tanpa sepengetahuan pasennya
Member perndungan hukum kepada dokter terhadap suatu kegagaan dan bersfat
negatf, karena prosedur medk modern bukan tanpa resko, dan pada setap
tndakan medk ada meekat suatu resko ( Permenkes No. 290/Menkes/Per/III/2008
Pasa 3 )
Perunya dmntakan nformed consent dar pasen karena nformed consent mempunya
beberapa fungs sebaga berkut :
1. Penghormatan terhadap harkat dan martabat pasen seaku manusa
2. promos terhadap hak untuk menentukan nasbnya sendr
3. untuk mendorong dokter meakukan kehat-hatan daam mengobat pasen
4. menghndar penpuan dan mseadng oeh dokter
5. mendorong damb keputusan yang ebh rasona
6. mendorong keterbatan pubk daam masaah kedokteran dan kesehatan
7. sebaga suatu proses edukas masyarakat daam bdang kedokteran dan kesehatan.
Pada prnspnya nformed consent deberkan d setap pengobatan oeh dokter. Akan tetap,
urgens dar penerapan prnsp nformed consent sangat terasa daam kasus-kasus sebaga
berkut :
1. daam kasus-kasus yang menyangkut dengan pembedahan/operas
2. daam kasus-kasus yang menyangkut dengan pengobatan yang memaka teknoog baru
yang sepenuhnya beum dpaham efek sampngnya.
3. daam kasus-kasus yang memaka terap atau obat yang kemungknan banyak efek
sampng, sepert terap dengan snar aser, d.
4. daam kasus-kasus penoakan pengobatan oeh ken
5. daam kasus-kasus d mana d sampng mengobat, dokter |uga meakukan rset dan
ekspermen dengan berob|ekan pasen.
KETENTUAN
Persetu|uan yang dtanda tangan oeh pasen atau keuarga terdekatnya
tersebut, tdak membebaskan dokter dar tuntutan |ka dokter meakukan keaaan.
Tndakan meds yang dakukan tanpa persetu|uan pasen atau keuarga terdekatnya, dapat
dgoongkan sebaga tndakan meakukan penganayaan berdasarkan KUHP Pasa 351.
Informas/keterangan yang wa|b dberkan sebeum suatu tndakan kedokteran daksanakan
adaah:
1. Dagnosa yang teah dtegakkan.
2. Sfat dan uasnya tndakan yang akan dakukan.
3. Manfaat dan urgensnya dakukan tndakan tersebut.
16
4. Resko resko dan kompkas yang mungkn ter|ad darpada tndakan kedokteran
tersebut.
5. Konsekwensnya ba tdak dakukan tndakan tersebut dan adakah aternatf cara
pengobatan yang an.
6. Kadangkaa baya yang menyangkut tndakan kedokteran tersebut.
Resko resko yang harus dnformaskan kepada pasen yang dmntakan persetu|uan
tndakan kedokteran :
a. Resko yang meekat pada tndakan kedokteran tersebut.
b. Resko yang tdak bsa dperkrakan sebeumnya.
Daam ha terdapat ndkas kemungknan peruasan tndakan kedokteran, dokter
yang akan meakukan tndakan |uga harus memberkan pen|easan ( Pasa 11 Ayat 1
Permenkes No 290 / Menkes / PER / III / 2008 ). Pen|easan kemungknan peruasan tndakan
kedokteran sebagamana dmaksud daam Ayat 1 merupakan dasar darpada persetu|uan
( Ayat 2 ).
Pengecuaan terhadap keharusan pemberan nformas sebeum dmntakan persetu|uan
tndakan kedokteran adaah:
Daam keadaan gawat darurat ( emergens ), dmana dokter harus segera bertndak
untuk menyeamatkan |wa.
Keadaan emos pasen yang sangat ab sehngga a tdak bsa menghadap stuas
drnya. In tercantum daam PerMenKes no 290/Menkes/Per/III/2008.
Reka$ Me#is
De2inisi "
1. E#na K &22$an:berkas yang menyatakan sapa, apa, mengapa, dmana, kapan
dan bagamana peayanan yang dperoeb seorang pasen seama drawat atau
men|aan pengobatan.
2. Per$enkes No! 3+-a4Menkes5Per46II41-7-:berkas yang bes catatan dan
dokumen mengena denttas pasen, bas pemerksaan, pengobatan, tndakan dan
peayanan annya yang dterma pasen pada sarana kesebatan, bak rawat |aan
maupun rawat nap.
3. Ge$a%a atta: kumpuan fakta tentang kehdupan seseorang dan rwayat
penyaktnya, termasuk keadaan sakt, pengobatan saat n dan saat ampau yang
dtus oeb para prakts kesehatan daam upaya mereka memberkan peayanan
kesehatan kepada pasen.
4. Per$enkes No! 3+-a4Menkes5Per46II41-7- Men&r&t 8aters #an M&r',9:
Kompendum (khtsar) yang bers nformas tentang keadaan pasen seama
perawatan atau seama pemeharaan kesehatan".
(http://astaqauyah.com/2007/10/rekam-meds-defens-dan-kegunaannya/)
Isi Reka$ Me#is "
1. Data $e#is ata& #ata k%inis: segaa data tentang rwayat penyakt, has pemerksaan
fsk, dagnoss, pengobatan serta hasnya, aporan dokter, perawat, has pemerksaan
aboratorum, ronsen dsb. Data-data n merupakan data yang bersfat rahasa (confdenta)
sebngga tdak dapat dbuka kepada pbak ketga tanpa zn dar pasen yang bersangkutan
kecua |ka ada aasan an berdasarkan peraturan atau perundang-undangan yang
memaksa dbukanya nformas tersebut.
2. Data sosio%o.is ata& #ata non:$e#is:segaa data an yang tdak berkatan angsung
dengan data meds, sepert data denttas, data sosa ekonom, aamat dsb. Data n oeh
17
sebagan orang danggap bukan rahasa, tetap menurut sebagan annya merupakan data
yang |uga bersfat rahasa (confdensa).
(http://astaqauyah.com/2007/10/rekam-meds-defens-dan-kegunaannya/)
A! Pen9e%en..araan "
Secara gars besar penyeenggaraan Reka$ Me#is daam Permenkes tersebut datur
sebaga berkut:
Rekam Meds harus segera dbuat dan dengkap seuruhnya seteah pasen
menerma peayanan (pasa 4). Ha n dmaksudkan agar data yang dcatat mash
orgna dan tdak ada yang terupakan karena adanya tenggang waktu.
Setap pencatatan Rekam Meds harus dbubuh nama dan tanda tangan petugas
peayanan kesehatan. Ha n dperukan untuk memudahkan sstm pertanggung-
|awaban atas pencatatan tersebut (pasa 5)
Pada prnspnya s Reka$ Me#is a#a%a, $i%ik 'asien, sedangkan ;erkas Reka$
Me#is <se=ara 2isik> a#a%a, $i%ik R&$a, Sakit ata& instit&si kese,atan. Pasa 10
Permenkes No. 749a menyatakan bahwa berkas rekam meds tu merupakan mk sarana
peayanan kesehatan, yang harus dsmpan sekurang-kurangnya untuk |angka waktu 5
tahun terhtung se|ak tangga terakhr pasen berobat. Untuk tu|uan tuah d setap nsttus
peayanan kesehatan, dbentuk Unt Rekam Meds yang bertugas menyeenggarakan proses
pengeoaan serta penympanan Rekam Meds d nsttus tersebut.
(http://astaqauyah.com/2007/10/rekam-meds-defens-dan-kegunaannya/)
B! Man2aat "
Permenkes no. 749a tahun 1989 menyebutkan bahwa Reka$ Me#is memk 5 ,manfaat
yatu:
1. Sebaga dasar pemeharaan kesehatan dan pengobatan pasen
2. Sebaga bahan pembuktan daam perkara hukum
3. Bahan untuk kepentngan penetan
4. Sebaga dasar pembayaran baya peayanan kesehatan dan
5. Sebaga bahan untuk menyapkan statstk kesehatan.
Daam kepustakaan dkatakan bahwa rekam meds memk 5 manfaat, yang untuk
mudahnya dsngkat sebaga ALFRED, yatu:
1. A#$instrat%?e ?a%&e: Rekam meds merupakan rekaman data admntratf peayanan
kesehatan.
2. Le.a% ?a%&e: Rekam meds dapat.d|adkan bahan pembuktan d pengadan
3. Finan=ia% ?a%&e: Rekam meds dapat d|adkan dasar untuk perncan baya peayanan
kesehatan yang harus dbayar oeh pasen
4. Resear=, ?a%&e: Data Rekam Meds dapat d|adkan bahan untuk penetan daam
apangan kedokteran, keperawatan dan kesehatan.
5. E#&=ation ?a%&e: Data-data daam Rekam Meds dapat bahan penga|aran dan
penddkan mahasswa kedokteran, keperawatan serta tenaga kesehatan annya.
(http://astaqauyah.com/2007/10/rekam-meds-defens-dan-kegunaannya/)
)! Pen9i$'anan"
Rekam Meds harus dsmpan dan d|aga kerahasaan oeh dokter, dokter gg dan
pmpnan sarana kesehatan. Batas waktu ama penympanan menurut Peraturan Menter
Kesehatan pang ama 5 tahun dan resume rekam meds pang sedkt 25 tahun.
(http://namc.or.d/downoad/Manua%20Rekam%20Meds.pdf)
18