Anda di halaman 1dari 42

BAB I PENDAHULUAN

Peranan unggas mempunyai andil yang besar dalam pemenuhan gizi, peningkatan taraf hidup, penyedia lapangan pekerjaan dan sebagainya. Sehubungan dengan itu, maka unggas terus dikembangkan dengan penelitian. Hasil utama dari unggas adalah daging dan telur, sementara hasil sampingan berupa bulu dan kotoran serta kesenangan (ornamented) sebagai hasil khusus. Ilmu pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pemeliharaan unggas secara teoritis maupun praktis serta menyangkut tentang produksi, genetik, teknologi hasil dan pemasaran unggas dinamakan ilmu ternak unggas (poultry science). Bersamaan dengan perkembangan ilmu ternak unggas maka berkembang pada usaha-usaha yang berkaitan erat dan saling mendukung antara lain vaksin, pabrik farmasi, pabrik pakan ternak, pabrik sampah dan lain-lain. Negara Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang. Sejalan dengan naiknya pendapatan perkapita penduduk Indonesia, meningkat pula kebutuhan akan protein hewani. Salah satu sumber protein hewani adalah telur ayam. Telur ayam mempunyai nilai gizi yang tidak kalah dibandingkan produk ternak yang lain, selain itu harganya yang murah dan mudah mendapatkannya. Meningkatnya konsumsi telur ayam, belum diiringi dengan kenaikan populasi dan produksi ayam petelur itu sendiri, hal ini disebabkan oleh manajemen pemeliharaan yang belum baik dan efektif. Hanya sebagian kecil dari peternakan rakyat yang sudah menerapkan manajemen pemeliharaan yang sesuai dan diikuti dengan penerapan teknologi, hal ini merupakan salah satu hambatan dalam peningkatan populasi ayam putelur, padahal Indonesia mempunyai kondisi lingkungan yang baik untuk pengembangan ayam 1

petelur, terutama temperatur lingkungan yang lebih rendah dari pada temperatur tubuh ayam, sehingga peluang pemeliharaan ayam pretelur di Indonesia masih sangat terbuka lebar. Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa lebih memahami dan menerapkan teori yang didapat dibangku kuliah dengan mempraktekkannya langsung di lapangan sehingga dapat mengetahu cara-cara pemeliharaan ayam layer dengan benar serta terampil dalam mengelolanya dan lebih mengenal langsung industri ternak unggas di kunjungan perusahaan.

BAB II KEGIATAN PRAKTIKUM

Pemeliharaan Minggu Ke-0 Pemeliharaan minggu ke-0, sebelum DOC dimasukkan dilakukan sanitasi kandang terlebih dahulu, kemudian dibuatkan brooder yang menggunakan koran pada kandang. Pakan yang diberikan pertama yaitu BR 1 dan di beri air minum, pakan yang diberikan pada minggu ini adalah sebanyak 11 gram/ ekor/hari. Hari ke-3 dilakukan vaksinasi yaitu ND 1 dengan cara diteteskan pada mata. Pagi dan sore hari sebelum dilakukan vaksinasi ND 1 ayam diberi vitastress agar pada saat dilakukan vaksinasi ayam tidak mengalami stres. Penimbangan minggu ke-0 ini yang dilakukan antara lain adalah penimbangan berat badan ayam, pengukuran panjang dan diameter shank, lingkar dada, serta panjang tulang dada, panjang badan ayam dan penimbangan pakan untuk satu minggu berikutnya.

Pemeliharaan Minggu Ke-1 Pemeliharaan minggu ke-1, ayam diberi makan pada jam 06.30 dan pukul 15.30. Pakan yang diberikan sebanyak 17 gram/ekor/hari. Pada hari ke-10 dilakukan vaksinasi Gumboro, vaksin tersebut dicampurkan pada air minum. Sebelum dilakukan vaksinasi Gumboro ayam diberi vitastress agar pada saat dilakukan vaksinasi ayam tidak mengalami stres. Penimbangan ke2 dilaukan pada hari ke-14, dilakukan penimbangan berat badan ayam, pengukuran panjang dan diameter shank, lingkar dada, serta panjang tulang dada, panjang badan ayam dan penimbangan pakan untuk satu minggu berikutnya.

Pemeliharaan Minggu Ke-2 Pemeliharaan minggu ke-2, koran yang melapisi kandang sudah mulai 3

dilepas sebab ayam sudah mulai aktif bergerak dan nafsu makan tinggi. Pakan yang diberikan pada minggu ini adalah sebanyak 22 gram/ekor/ hari. Pada hari ke-19 dilakukan vaksinasi ND 2 yang diteteskan pada mata. Pagi dan sore hari sebelum dilakukan vaksinasi ND 2 ayam diberi vitastress agar pada saat dilakukan vaksinasi ayam tidak mengalami stres. Penimbangan ke3 dilakukan sama seperti penimbangan sebelumnya.

Pemeliharaan Minggu ke-3 Pada minggu ke-3, jumlah pakan yang diberikan adalah 27 gram/ekor/hari. Pada siang sudah hari tidak perlu diberi pemanas lagi, tetapi jika pakan yang diberikan tidak habis, dianjurkan untuk diberi penerangan. Penimbangan minggu ke-4 dilakukan kegiatan sama seperti penimbangan minggu sebelumnya.

Pemeliharaan Minggu ke-4 Pada minggu ke-4 jumlah pakan yang diberikan sebesar 35 gram/ekor/hari. Penimbangan minggu ke-5 dilakukan kegiatan sama seperti penimbangan minggu sebelumnya.

Panen ayam minggu ke-5 Minggu ke-5 dilakukan penen ayam dan penimbangan terakhir. Penimbangan minggu ke-6 dilakukan kegiatan sama seperti penimbangan minggu sebelumnya tertapi tidak menimbang pakan lagi.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN Ayam Layer Ayam ras petelur merupakan hasil rekayasa genetis berdasarkan karakter-karakter dari ayam-ayam yang sebelumnya ada. Perbaikanperbaikan genetik terus diupayakan agar mencapai performance yang optimal, sehingga dapat memproduksi telur dalam jumlah yang banyak. Salah satu keuntungan dari telur ayam ras petelur adalah produksi telurnya yang lebih tinggi dibandingkan produksi telur ayam buras dan jenis unggas yang lain. Perbandingan produktivitas ayam ras petelur dengan ayam buras disajikan pada table berikut : Tabel 1. Perbandingan produktivitas ayam ras petelur dengan ayam buras Ayam buras Keterangan Aayam ras Produksi telur (butir/tahun) 200 250 40 60 Berat telur (gram) 50-60 30 40 Sifat mengeram Hampir tidak ada Ada Kemampuan produksi tinggi terbatas (Anonim, 2010)a Jenis ayam petelur dibagi menjadi dua tipe tipe ayam petelur ringan dan tipe ayam petelur medium. Tipe ayam petelur sering disebut dengan ayam petelur putih yang mempunyai ciri-ciri badan ramping atau kecil mungil, bulunya putih bersih dan berjengger merah. Ayam tipe ini umumnya berasal dari galur murni White leghorn yang mampu bertelur lebih dari 260 butir/tahun. Ayam tipe petelur ringan ini sensitif terhadap cuaca panas dan keributan. Tipe ayam petelur medium mempunyai ciri-ciri bobot badan ayam ini cukup berat, sehingga ayam ini disebut dengan ayam dwiguna. Ayam ini umumnya mempunyai warna bulu coklat dan menghasilkan telur berwarna coklat pula. Ayam tipe ringan maupun tipe medium memerlukan pemeliharaan yang relatif sama (Anonim, 2010)a.

Impor strain Grand Parent Stock (GPS) layer yang masuk ke Indonesia adalah ISA Brown, Hisex Brown, Hy Line dan Lohman Brown sedangkan untuk Parent Stock (PS) layer hanya strain Hy Line. Begitu pula dengan Hy Line yang sempat menjadi primadona strain layer juga ikut menurun dan kini bergeser ke Isa Brown (Majalah Poultry Indonesia, 2009). Strain layer yang ada di Indonesia Lohmann Brown (A), Hisex Brown (B), Hy Line Brown (C), dan Isa Brown (D). Praktikum pemeliharaan ayam layer yang telah dilakukan yaitu dengan menggunakan strain layer Isa Brown. Isa Brown adalah generasi ayam Prancis, yang merupakan persilangan antara Rhode Island dan Pulau Rhode Merah Putih ayam. Produksi telur ayam isa brown tinggi yaitu sekitar 300 telur per ekor. Isa Browns sekarang dianggap oleh peternak sebagian besar keturunan ayam, bukan hanya hibrida. Pemuliaan Isa Brown Isa Brown akan menghasilkan anak ayam Isa Brown. Keturunan ISABrown telah

dimodifikasi dari waktu ke waktu dan Isa Brown dibesarkan untuk mendapatkan kembali terbaik pada telur untuk makanan yang diberikan (Anonim, 2010)b. Strain Umur Awal Produksi (minggu) 19-20 Tabel 2. Strain ayam petelur Umur pada Puncak FCR Produksi Produksi 50% (%) (minggu) 22 92-93 2,3-2,4 Kematian (%)

Lohmann Brown MF 402 Hisex Brown Bovans White Hubbard Golden Comet Dekalb Warren

2-6

20-22 20-22 19-20

22 21-22 23-24

91-92 93-94 90-94

2,36 2,2 2,2-2,5

0,4-3 5-6 2-4

20-21

22,5-24

90-95

2,2-2,4

2-4

Bovans Goldline Brown Nick Bovans Nera Bovans Brown

20-21 19-20 21-22 21-22

21,5-22 21,5-23 21,5-22 21-23

93-95 92-94 92-94 93-95

1,9 2,2-2,3 2,3-2,45 2,252,35

6-7 4-7 2-5 2-7

(Anonim, 2010)a

Perkandangan Kandang merupakan unsur penting dalam usaha peternakan ayam. Kandang dipergunakan mulai dari awal hingga masa berproduksi. Pada prinsipnya, kandang yang baik adalah kandang yang sederhana, biaya pembuatan murah, dan memenuhi persyaratan teknis (Hartono, 1997). Perkandangan merupakan hal yang sangat penting, lebih-lebih kandang merupakan tempat untuk memelihara intensif. Maka untuk memberi keselamatan dan kenyamanan hidup diperlukan kandang yang higienis. Kandang higienis adalah kandang yang tidak lembab dan tidak menimbulkan penyakit (Prayitno dan Yuwono, 1997) Penyebab utama kelembaban adalah karena dalam ruang kandang tidak mendapat sinar matahari sehingga kontaminasi penyakit mudah timbul, padahal penyakit sangat berpengaruh terhadap berhasil tidaknya usaha yang dikelola. Maka untuk menghindari kegagalan dalam usaha untuk pembiakan, kandang harus benar-benar diperhatikan (Hartono, 1997). Tipe Kandang Tipe kandang menurut Nuroso (2010), dibagi berdasarkan bentuk atap kandang, sistem ventilasi, dan lantai kandang. Berdasarkan bentuk atap ada tiga tipe kandang, yaitu gable roof, monitor roof, dan saw tooth roof. Gable roof. Atap kandang yang terdiri dari dua sisi dan tidak ada lubang di puncaknya, tipe atap yang umum digunakan pada bangunan

seperti rumah. Tipe atap ini biasanya digunakan pada kandang yang tidak terlalu luas karena efisien dan biayanya lebih murah. Monitor roof. Atap kandang bersusun atau kandang yang terdiri dari dua sisi pada bagian puncaknya ada lubang ventilasi udara. Umumnya digunakan pada bangunan kandang yang luas sehingga sirkulasi udara lebih lancar, suhu udara di dalam kandang relatif efektif lebih sejuk dan membantu mengeluarkan debu serta gas beracun seperti amoniak. Saw tooth roof. Atap yang terdiri dari beberapa sisi yang terputusputus menyerupai gigi gergaji, sisi satu dengan yang lainnya bercelah-celah yang berfungsi untuk mengeluarkan udara. Tipe atap ini umumnya dipakai kandang pada daerah yang kondisi tanahnya tidak rata. Berdasarkan sistem ventilasi ada 2 tipe kandang, yaitu opened house dan closed house. Opened house. Disebut juga kandang terbuka dimana kondisi di dalam kandang sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan di luar kandang. Dinding kandang berslat terbuat dari bambu, kayu maupun kawat ram yang memungkinkan pergerakan udara langsung masuk kandang. Untuk

mengantisipasi kecepatan angin masuk ke dalam kandang, dinding kandang dipasang tirai pelindung yang dapat di atur buka dan tutup. Closed house. Kandang tertutup yang terkontrol kondisi di dalam kandang, sehingga kondisi di luar kandang tidak mempengaruhi secara langsung kondisi di dalam kandang. Sebagian besar dinding di dalam kandang tertutup kecuali bagian ujung kandang untuk udara masuk dan keluar. Sistem ventilasi atau pergerakan udara tergantung sepenuhnya pada kipas yang dipasang yaitu kipas yang mendorong masuk ke dalam kandang dan kipas yang menyedot udara keluar dari kandang. Berdasarkan lantai ada 2 tipe kandang, yaitu slat dan litter. 8

Slat. Slat adalah lantai kandang panggung dengan menggunakan bilahan potongan bambu atau kayu yang dipasang secara berselah. Keunggulan dari lantai slat ini adalah meminimalkan kontak langsung ayam dengan kotoran dan sirkulasi udara lebih baik dibandingkan dengan non slat. Sedangkan kekurangannya adalah ayam mudah terperosok dan terjepit pada slat. Kandang slat bisa juga dikombinasikan dengan kolam ikan (balong) yang dikenal dengan istilah longyam. Litter. Litter disebut juga kandang postal, yaitu lantai kandang yang langsung bersentuhan dengan tanahpada bangunan kandang atau di atas lantai kandang diberikan alas (litter). Litter adalah suatu lapisan permukaan dari bahan yang dapat menyerap air dengan baik dan tidak berdebu serta berfungsi sebagai alas yang melindungi ayam dari lantai yang dingin. Litter ini mempunyai peranan yang cukup penting dalam memberikan lingkungan yang nyaman. Berdasarkan literatur di atas tipe kandang yang di gunakan pada saat praktikum adalah tipe slat atau kandang panggung. Menurut Yahya (2000), tipe kandang yang digunakan pada saat praktikum adalah tipe cage. Tipe cage, yaitu bangunan kandang berbentuk sangkar berderet menyerupai batere dan alasnya dibuat berlubang (bercelah). Keuntungan sistem ini adalah tingkat produksi individual dan kesehatan masing-masing terkontrol, memudahkan tata laksana, penyebaran penyakit tidak mudah. Kelemahan sistem ini adalah biaya pembuatan semakin tinggi, ayam dapat kekurangan mineral, sering banyak lalat. Kepadatan Kandang Penggunaan kandang harus disesuaikan dengan kapasitasnya. Populasi yang terlalu padat mengakibatkan ayam menderita cekaman (stres) sehingga menurunkan laju pertumbuhan, selain itu efisiensi penggunaan pakan juga rendah, sebaliknya populasi yang terlalu rendah mengakibatkan 9

efisiensi penggunaan kandang rendah. Semua itu berdampak pada berkurangnya keuntungan secara ekonomis. Faktor yang mempengaruhi tingkat kepadatan kandang antara lain temperatur lingkungan, tipe kandang, ukuran ayam dan umur ayam (Suprijatna et al., 2005). Penerapan kepadatan kandang saat ini sangat bervariasi, namun kepadatan maksimum yang dianjurkan 34 ekor/m . Dari segi kenyamanan ternak maka kepadatan kandang yang baik adalah yang masih

memungkinkan ayam melakukan hal-hal seperti, mudah menjangkau tempat pakan dan minum dengan jarak tidak lebih dari 4 m, melakukan kebiasaan yang normal misalkan mengepakkan sayap, mandi debu dan berpindah dari suatu tempat yang sesak ke tempat yang lebih longgar (Prayitno dan Yuwono, 1997). Kepadatan kandang tidak mempengaruhi siklus produksi telur tetapi faktor usialah yang mempengaruhi produksi telur. Penjelasan tentang bagaimana profil fisiologis bertepatan menjadi perhatian dalam menentukan kesejahteraan tabel dikurung telur ayam petelur selama siklus produksi, khususnya yang berkaitan dengan stres dan metabolisme. Peningkatan tingkat plasKepadatan kandang berpengaruh terhadap peningkatan plasma adrenocortical, hormon, corticosterone (CS) yang mempengaruhi stres akut pada unggas (Davis, et. al, 2010). Temperature dan kelmbaban Praktikum industri ternak unggas kemarin menggunakan pemanas berupa lampu bohlam sebanyak 2 buah. Menurut yahya (1990) suhu lampu yang cook untuk anak ayam yang berumur sampai satu minggu adalah 32 O sampai 35O C. suhu ini diukur pada pinggir lampu pemanas, 5 cm diatas litter. Pemanas dengan suhu yang cocok adalah hal yang penting, karena pertumbuhan anak ayam sangat dipengarui oleh suhu induk buatan. Terlalu panas atau terlalu dingin membuat pertumbuhan tidak baik atau

10

pertumbuhany ang tidak merata. Suhu induk buatan diturunkan 2,5 O C tiap minggu dengan cara menaikan bola lampu dari lantai atau mengganti dengan bola lampu yang lebih kecil wattnya. Sedangkan padasaat praktikum tidak disediakan thermometer, sehingga control untuk suhu tidak bisa optimal. Temperature lingkungan yang rendah akan meningkatkan energi metabolism dan akibatnya menebabkan pembuangan panas juga meningkat. Temperature lingkungan yang tinggi ditandai dengan aktifitas mekanisme pembuangan panas dan sebagian akan meningkatkan sekresi dari hormone pengaktif metabolism. Pada saat yang sama akan terjadi penurunan konsumsi pakan, sebagai reaksi penyesuaian dari ternak pada temperature lingkungan ang tinggi, dan temperature tubuh akan menigkat. Sidadolog (2001) juga menambahkan bahwa peningkatan temperature lingkungan dari 21,2O C sampai 37,8O C meningkatkan kebutuhan air minum dua kali liapat dan konsumsi pakan menurun. Daya hidup ayam pada temperature tinggi berkorealasi positif dengan presistensi (kemampuan0 konsumsi air minum. Peningkatan konsumsi air merupakan usaha ayam untuk mepercepat pembuangan paans melalui evaporasi dan konduksi pada jaringan organ pencernaan (Sidadolog, 2001). Pakan Pakan adalah campuran berbagai macam bahan organik dan anorganik yang diberikan kepada ternak untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan, perkembangan dan reproduksi. Agar pertumbuhan dan produksi minimal jumlah dan kandungan zat-zat makanan yang diperlukan oleh ternak harus memadai (Suprijatna et al., 2005). Pakan yang digunakan. Pakan yang digunakan pada saat praktikum adalah BR1. Pakan BR1 digunakan mulai DOC sampai mencapai umur 6 minggu. Pakan jadi merupakan formulasi pakan yang memenuhi persyaratan daan diramu sesuai 11

dengan kebutuhan ternak. Kelebihan pakan jadi yaitu kandungan pakannya sudah lengkap dan tinggal diberikan sesuai kebutuhan ternak, selain itu juga praktis. Kekurangan pakan jadi adalah harganya yang relative lebih tinggi daripada hasil pencampuran konsentrat (Rasidi, 2000). Bentuk Pakan Pakan bentuk crumble ini lebih disukai unggas usia muda atau pada fase pertumbuhan. Kelebihan pakan bentuk crumble dibandingkan dengan pakan bentuk tepung tepung adalah bersifat higienis karena dalam pembuatannya melalui proses penguapan (pengukusan) sehingga dapat membunuh mikroba atau menghilangkan zat penghambat yang merugikan unggas. Pemberian pakan bentuk crumble ini juga akan meningkatkan efisiensi jumlah pakan yang dikonsumsi unggas karena unggas tidak memilih bahan baku pakan yang disenangi. Kekurangan bentuk pakan crumble harga pakan relative tinggi dibandingkan pakan bentuk tepung (Rasidi, 2000). Pakan bentuk pellet umumnya diberikan pada ternak usia dewasa. Struktur pakan bentuk pellet lebih kompak dan seragam sehingga menjamin keseimbangan zat-zat nutrisi yang terkandung pada pakan. Pembuatan pakan pellet juga melalui proses pengukusa seperti halnya pembuatan pakan crumble sehingga pakan ini sifatnya lebih higienis. Kelebihan lain dari pakan bentuk pellet adalah daya simpannya lebih lama dan penggunaanya lebih efisien karena pakan yang terbuang sedikit. Pakan bentuk pellet sebaiknya dibuat dengan diameter 2,5 sampai 5 mm (Rasidi, 2000). Kandungan pakan. Analisa komposisi bahan pakan BR1 adalah air 12%, protein kasar 21%, lemak kasar 4%, serat kasar 4,5%, kalsium 0,9-1,1%, dan phosphor 0,7-0,9% (Anonim, 2009)d. Pakan dapat dikatakan berkualitas baik jika mampu memberikan seluruh kebutuhan nutrisi secara tepat, baik jenis, jumlah, serta imbangan nutrisi tersebut bagi ternak. Dengan pakan berkualitas baik, proses 12

metabolism yang terjadi di dalam tubuh ternak akan berlangsung secara sempurna, sehingga ternak akan dapat memberikan hasil akhir berupa daging sesuai dengan harapan (Ichwan, 2003). Ransum untuk anak ayam petelur harus mempunyai kandungan zat-zat makanan yang cukup agar bisa mendapatkan pertumbuhan yang sempurna. Zat zat yang terkandung dalam makanan anak ayam tersebut adalah kandungan protein 19 sampai 21% ditambah tingkat energi yang tepat untuk memperoleh pertumbuhan mula anak ayam yang cepat, dirumuskan agar anak ayam mau makan karena bahan-bahan pelezatnya, hanya digunakan bahan-bahan yang bermutu tinggi dan dapat meningkatkan pengembangan tulang dan otot yang kuat (Chan et al., 2000). Standar kebutuhan setiap fase ayam layer. Berdasarkan jumlah kebutuhan zat-zat makanan harian untuk kebutuhan berbagai tujuan, pakan dikelompokkan sebagai tinggi, rendah, variabel, atau intermediet. Kebutuhan pakan untuk produksi telur disebut kebutuhan penggunaan tinggi (hight demand uses), molting sebagai kebutuhan penggunaan rendah (low demand uses), sedangkan pertumbuhan dan penggemukan dikelompokkan sebagai kebutuhan penggunaan

intermediet (Suprijatna et al., 2005). Setiap fase ayam layer membutuhkan nutrisi yang berbeda-beda sesuai dengan umur. Kebutuhan setiap fase ayam layer sebagai berikut:

13

Tabel 3. Tabel kebutuhan nutrisi ayam petelur Ayam Petelur Zat Nutrisi Starter 1-6 Grower 6-20 > 20 minggu minggu minggu Protein Kasar (%) 18-20 13,5-16 15-18 Serat Kasar (%) < 6,5 <7 <7 Lemak Kasar (%) 2,5-7 2,5-7 2,5-7 Abu (%) 5-8 5-8 10-14 Kalsium (%) 0,9-1,2 0,9-1,2 3,25-4 Phospor (%) 0,65-0,9 0,6-0,9 0,6-0,9 Aflatoksin (ppb) < 50 ppb < 50 ppb < 60 ppb L-Lysine (%) > 0,9 > 0,65 > 0,78 DL-Methionine > 0,4 > 0,3 > 0,38 Sumber: Standar Nasional Indonesia, 1995

Manajemen Pemeliharaan Sebelum DOC (Day Old Chicken) datang dipersiapkan kandang terlebih dahulu. Kandang dibersihkan 3 hari sebelum pemasukan DOC meliputi pembersihan kandang dengan mencuci kandang yang akan digunakan oleh setiap kelompok. Tempat pakan dan tempat minum dibersihkan. Lantai kandang dibersihkan dan dipel, lingkungan kandang juga dibersihkan. Kandang disemprot dengan desinfektan, dan setiap kandang dipasang lampu bohlam 40 watt sebanyak 2 buah tetapi jangan dinyalakan terlebih dahulu. Kemudian 1 hari sebelum pemasukan DOC pembuatan brooder yaitu dengan menutup kandang dengan koran, untuk menjaga suhu dan kelembaban di dalam kandang dan lampu bohlam dinyalakan. Kandang yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah kandang model cages. Sebelum DOC dimasukkan kedalam kandang DOC

diidentifikasi dengan peniti yang di tusuk pada bagian sayap, sehingga pada saat pengambilan data setiap minggu tidak terjadi kekeliruan. Selain itu DOC ditimbang, pakan ditimbang 11 g/ekor/hari dan air minum dicampurkan dengan gula sebagai pengganti energi. DOC yang dipelihara dalam satu

14

kandang berjumlah 15 ekor. Pakan yang diberikan berbentuk pellet merk BR1, dengan frekuensi 2 kali sehari yaitu pagi pukul 06.30 dan pukul 15.00. Litter kandang diganti apabila sudah kotor, dan air minum diganti setiap pemberian pakan. Vaksin Mareks diberikan pada DOC setelah mentas. Biasanya DOC ayam petelur yang akan didistribusikan divaksin Mareks terlebih dahulu. Penyakit Mareks (Mareks Disease) merupakan penyakit yang sangat infeksius yang disebabkan oleh virus yang dikenal sebagai herpesvirus, dengan subfamili Gamma herpesvirinae (Anonim, 2007)e. Gejala klinis yang terjadi antara lain kelemahan alat gerak

menyebabkan sayap terkulai dan kelumpuhan kaki. Perubahan pasca mati antara lain pada bentuk visceral, maka terlihat benjolan-benjolan atau tumor pada indung telur, hati, limpa, prankreas, jantung, paru-paru, proventrikulus, ginjal dan usus, warna organ menjadi putih kelabu dengan bidang sayatan keras dan kering (Anonim, 2007)e. Setelah 3 hari pemeliharaan diberikan vaksin ND1 yang dilakukan dengan tetes mata, setiap ekor ayam satu tetes. Air minum yang diberikan dicampurkan dengan vitastress pada pagi hari sebelum vaksin dan sore hari setelah vaksin. Newcastel Disease merupakan nyakit yang sangat menular dengan angka eatian tinggi, disebabkan oleh virus paramyxovirus. Gejala peyakit ini antara lain pada anak ayam pernapasan sesak, batuk, lemah, nafsu makan menurun, sayap terkulai dan leher berputar (tortokolis). Kelainan pasca mati meliputi bintik-bintik perdarahan pada proventrikulus dan seca tonsil, eksudat dan peradangan pada saluran pernapasan sert nekrosis pada usus. Trachea terlihat lebih merah karena terjadi peradangan (Anonim, 2007)e. Cara pencegahan penyakit ND adalah dengan vaksinasi. Vaksin diberikan pada anak ayam umur sehari menggunakan vaksin Hitchner B1. Kemudian vaksin Hitchner B1 secara aerosol atau tetes mata pada hari ke-10. 15

Vaksin berikutnya diberikan ada umur 24 hari dan 8 minggu dengan vaksin Hitchner B1 dalam air, diikuti pemberian vaksin emusi multivn yang inaktivasi dengan minyak pada umur 18 sampai 20 minggu. Vaksn multivalen ini dapat diberkan lagi ada umur 45 minggu (Anonim, 2007)e. Setelah 12 hari setelah pemeliharan diberikan vaksin gumboro yang dilakukan dengan dicampurkan dengan air minum. 2 jam sebelum pemberian vaksin air minum dikosongkan untuk memaksimalkan agar pada saat pemberiaan vaksin melalui air minum dapat maksimal. Setetah 2 jam pemberian vaksin segera diganti dengan air yang telah diberi vitastress, karena waktu aktif dari vaksin gumboro adalah 2 jam. Setelah 17 hari pemeliharaan ayam diberi vaksin ND2 yang dilakukan dengan tetes mata, setiap satu ekor ayam satu tetes. Air minum yang diberikan dicampurkan dengan vitastress pada pagi hari sebelum vaksin dan sore hari setelah vaksin. Penyakit IBD (Infectious Bursal Disease) disebabkan oleh virus RNA dengan famili Birnaviridae dan genus Birnavirus. Gejala yang terlihat pada unggas yang menderita adalah kelemahan, dehidrasi, merejan, kadang bulu sekitar anus kotor, peradangan sekitar kloaka, diare yang kadang disertai darah, nafsu maan hilang, dan selanjutnya mati. Perubahan pasca mati pada penderita IBD antara lain pembekkan bursa fabrisius hingga dua kali ukuran normal, dan perdarahan pada otot terutama otot ektoral dan pada perbatasan antara proventriculus dengan verticulus (Anonim, 2007)e. Vaksinasi yang dilakukan pada peternakan pembibit petelur vaksinasi dilakukan dengan vaksin aktif pada umur 12 minggu. Vaksin ke dua dilakukan pada umur 20 minggu dengan vaksin inaktif. Ayam petelur dan ayam broiler perlu divaksin pada saat umur 3 sampai (Anonim, 2007)e. Pengambilan data dilakukan setiap minggu meliputi panjang shank, diameter shank, panjang tulang dada, lingkar dada, panjang badan, bobot 16 minggu dengan vaksin aktif

badan, dan sisa pakan, untuk mencari FCR. Pemberian pakan bertambah setiap minggu, untuk pemeliharaan minggu pertama 11 g/ekor/hari, minggu kedua 17 g/ekor/hari, minggu ketiga 22 g/ekor/hari, minggu keempat 28 g/ekor/hari, minggu kelima 35 /ekor/hari, dan minggu keenam 41 g/ekor/hari. Setelah panen pada minggu keenam litter dibersihkan, dan lingkungan kandang juga dibersihkan. Saat pemeliharaan tidak ada ayam yang mati.

Penampilan Produksi FI (Feed Intake) Feed Intake (FI) atau konsumsi pakan yaitu jumlah pakan yang dihabiskan oleh ayam atau unggas pada periode waktu tertentu, misalnya konsumsi pakan setiap hari dihitung dengan satuan gram/ekor/hari (Yuwanta, 2004). Menurut Basuki et al (1998) Feed Intake atau Feed Consumtion adalah jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ternak merupakan selisih antara pakanyang diberikan dengan pakan yang tersisa. Berikut adalah standar feed intake dan berat badan ayam petelur strain Lohman Brown.

17

Tabel 4. Target performa pullet strain Lohman Brown Lohman Brown Umur (minggu) BB (g) FI (g/ekor/hari) 1 75 11 2 130 17 3 195 22 4 275 28 5 367 35 6 475 41 7 583 47 8 685 51 9 782 55 10 874 58 11 961 60 12 1043 64 13 1123 65 14 1197 68 15 1264 70 16 1330 71 17 1400 72 18 1475 75 Sumber: Manajemen Pemeliharaan MB 402 2009

Pengambilan data feed intake dan berat badan di ambil setiap minggunya. Berdasarkan target performa pullet strain Lohman Brown. Data berat badan dan feed intake pada saat praktikum adalah sebagai berikut: Umur 0 1 2 3 4 5 Tabel 5. Data berat badan dan feed intake saat praktikum Feed intake Berat Badan (x) 42,21 9,23 175,87 15,88 216,53 17,13 276,93 27,33 405,2 31,63 544,4 37,72

Berdasarkan data berat badan dan feed intake. Feed intake yang didapat saat praktikum belum mencapai target performa pemeliharaan ayam strain Lohman Brown. Kebutuhan pakan untuk ternak berbeda-beda 18

tergantung

dari

spesiesnya,

jenis

kelamin,

ukuran

ternak,

tingkat

pertumbuhan, penyakit, kondisi ternak, lingkungan dan defisiensi nutrien tertentu. Dalam kondisi normal pakan sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhannya (Kamal, 1994). Tingkat konsumsi pakan pada ayam cenderung dipengaruhi oleh tingkat energi pakan, maka kandungan nutrien dalam pakan perlu disesuaikan dengan tingkat energi dan protein. Asam-asam amino pakan hanya digunakan secara efektif jika tingkat energinya cukup (Blakely and Bade, 1991).

Gain. Gain weight adalah berat badan pada periode waktu tertentu denga cara mengurangi berat badan ayam pada akhir minggu dengan berat badan pada awal minggu, kemudian dibagi dengan jumlah ayam dan jumlah hari sehingga diperoleh satuannya dalam gram/ekor/hari (Yuwanta, 2004). Semakin tinggi tingkat energi dalam pakan dan semakin tinggi persentase asam amino essensial menyebabkan berat karkas akan semakin meningkat. Ternak yang memperoleh pakan dengan kualitas baik akan menunjukan berat badan yang lebih tinggi sehingga persentase karkasnya juga lebih tinggi (Tilman, et. al., 1991). Menurut Wahyu (1997) untuk mencapai hasil yang memuaskan dari produk ternak perlu diperhatikan agar komposisi pakan dalam keadaan seimbang antara energi, protein dan nutrien lainnya sesuai dengan kebutuhan pemeliharaan. Meskipun demikian, jenis kelamin dan gerakan mekanik dari ternak juga berpengaruh terhadap besarnya ADG (Basuki, 2002). Berdasarkan data berat baan praktikum pada tabel 3 dan tabel target performa pullet strain Lohman Brown. Data saat praktikum berat badan minggu ke-0 sampai minggu ke-5 berturut-turut yaitu 33,867 g, 66,13 g, 75,6 g, 108,67 g, 84,67 g, 139,2 g. Sedangkan target performa strain Lohman 19

Brown minggu ke-1 sampai minggu ke-6 berturut-turut yaitu 75 g, 130 g, 195 g, 275 g, 367 g, 475 g. Berdasarkan perbandingan tersebut dapat diketahui target berat badan dapat dicapai setelah minggu ke-2, minngu pertama target berat badan belum terpenuhi.

Feed Convertion Ratio FCR merupakan besarnya perubahan dari pakan yang dikonsumsi menjadi gain (berat badan) (Yuwanta, 2004). Pengertian FCR dalam lingkup ayam layer yang sedang produksi, FCR merupakan perbandingan antara banyaknya pakan yang dikonsumsi dengan tingkat produksi (telur) yang dicapai. Sehingga makin kecil angka konversi pakan menunjukkan semakin baik efisiensi penggunaan pakan. Bila angka perbandingan kecil berarti kenaikan berat badan memuaskan atau ayam makan tidak terlalu banyak untuk meningkatkan berat badannya (Gemilang, 2008). Data FCR saat praktikum adalah sebagai berikut: Tabel 6. Feed convertion ratio ayam layer saat praktikum Minggu ke Rata-rata FCR (%) 1 1,9 2 1,68 3 1,59 4 1,75 5 1,89 6 2,62 Menurut Reksohadiprojo (1995), FCR dipengaruhi oleh kualitas ternak yang dipelihara (termasuk daya adaptasinya terhadap pakan yang diberikan), kualitas bahan pakan yang diberikan, dan metode pemberian pakan yang digunakan.

Mortalitas Pada saat praktikum pemeliharaan telur yang berjumlah 15 ekor dalam

20

satu kelompok. Ayam yang dipelihara tidak ada yang mati. Mortalitas merupakan Ada banyak angka hal kematian yang dalam pemeliharaan mortalitas ternak. dalam

berpengaruh

terhadap

pemeliharaan unggas. Misalnya, adalah karena penyakit, kekurangan pakan, kekurangan minum, temperatur, sanitasi, dan lain sebagainya. Penyakit didefinisikan sebagai segala penyimpangan gejala dari keadaan kesehatan yang normal. Tingkat kematian yang disebabkan oleh penyakit tergantung dari jenis penyakit yang menyerang unggas. Dalam

pemeliharaan petelur yang berhasil, tingkat kematian 10 sampai 12% dianggap normal dalam satu tahun produksi. Dalam kelompok pedaging, kematian maksimum per tahun normalnya adalah sekitar 4%. Setiap kematian yang melebihi angka tersebut harus dianggap sebagai kondisi yang serius yang harus mendapat perhatian segera dari peternak yang bersangkutan (Blakely and Bade, 1991).

Mortalitas Pada saat praktikum pemeliharaan telur yang berjumlah 15 ekor dalam satu kelompok. Ayam yang dipelihara tidak ada yang mati. Mortalitas merupakan Ada banyak angka hal kematian yang dalam pemeliharaan mortalitas ternak. dalam

berpengaruh

terhadap

pemeliharaan unggas. Misalnya, adalah karena penyakit, kekurangan pakan, kekurangan minum, temperatur, sanitasi, dan lain sebagainya. Penyakit didefinisikan sebagai segala penyimpangan gejala dari keadaan kesehatan yang normal. Tingkat kematian yang disebabkan oleh penyakit tergantung dari jenis penyakit yang menyerang unggas. Dalam

pemeliharaan petelur yang berhasil, tingkat kematian 10 sampai 12% dianggap normal dalam satu tahun produksi. Dalam kelompok pedaging, kematian maksimum per tahun normalnya adalah sekitar 4%. Setiap kematian yang melebihi angka tersebut harus dianggap sebagai kondisi 21

yang serius yang harus mendapat perhatian segera dari peternak yang bersangkutan (Blakely and Bade, 1991).

Vaksinasi dan Pencegahan Peyakit Vaksinasi Pengertian Vaksin Vaksin adalah suatu produk biologis yang berisis sejumlah besar jasad renik yang sudah dilemahakan yang mempunyai anti gen tertentu jika masuk ke dalam tubuh akan merangsang pembentukan anti bodi. Daya kerja suatu vaksin adalah spesifik, sehingga doiperlukan vaksin yang berbeda untuk tiap jenis penyakit. Vaksin adalah cairan yang mengandung virus penyakit tertentu. Gunanya untuk menimbulkan kekebalan tubuh bila suatu ketika penyakit tersebut menyerang (Rasyaf, 1994).

Macam-macam Vaksin Vaksin dibedakan menjadi 2 macam yaitu vaksin aktif dan inaktif. Menurut Sudarmono (2003), vaksin aktif (hidup) merupakan vaksin yang dibuat dari virus yang masih hiduo, tetapi tidak ganas lagi, sehingga ayam yang divaksin pun tetap aman. Sedangkan vaksin inaktif (mati) merupakan vaksin yang dibuat dari bahan-bahan kimia. Vaksin ini dapat memberikan kekebalan yang tinggi karena kualitasnya emulsi lemak yang baik. Tanpa larutan minyak (emulsi lemak), vaksin inaktif ini hanya mampu memberikan kekebalan dalam waktu yang singkat, karena virus mati yang dimasukkan ke dalam tubuh ayam, dalam waktu beberapa hari saja akan dikeluarkan dari tubuh ayam.

Cara Pemberian Vaksin Vaksin dapat diberikan kepada ayam dengan tiga cara yaitu melalui 22

tetes mata, air minum dan suntik. Menurut Redaksi Trubus (2010), cara pemberian vaksin melalui tetes mata diberikan saat memberikan vaksin ND yang diaplikasikan 1 sampai 4 hari pertama. Vaksin dicampurkan dengan pelarut (larutan warna biru) dengan memasukkan ke dalam botol pelarut dan diaduk dengan mengocok perlahan. Ayam dipegang bagian kepala lalu diteteskan pada salah satu mata kanan, mata kiri atau hidung dan satu ayam hanya mendapatkan satu tetes. Vaksin yang dilakukan melalui air minum yaitu vaksin gumboro atau IB (infectious bronchitis), yang diaplikasikan 10 sampai 12 hari pemeliharaan. Vaksin ini diaplikasikan dengan cara dua jam sebelum pelaksanaan, biarkan gallon air minum dalam keadaan kosong sehingga ayam haus. Saat gallon terisi penuh larutan vaksin, diharapkan semua ayam bergegas minum karena kehausan Vaksin yang diberikan dengan disuntik diaplikasikan vaksin marek, ND lanjutan dan vaksin AI. Vaksin dan adjuvant (media perantara vaksin) dicampurkan lalu dikocok dalam botol vaksin hingga homogeny. Adanya adjuvant membuat vaksin diserap perlahan sehingga dapat bertahan lama di dalam tubuh ayam. Tangakap dan pegang ayam dengan tangan kiri dari arah belakang ayam, dengan jempol dan telunjuk dan jepit leher belakang ayam. Suntik vaksin di bagian kulit yang di jepit, tusuk jarum suntik di bawah kulit pada pangkal leher, jangan sampai masuk ke pembuluh darah karena dapat mengakibatkan infeksi (Redaksi Trubus, 2010). Vaksinasi pada ayam perlu memperhatikan hal-hal berikut ini antara lain: 1. Pada vaksinasi via air minum: 1) ayam dipuasakan air minum selama 1 sampai 2 jam (tergantung kondisi cuaca) sebelum vaksinasi; 2) Jumlah dan distribusi tempat minum sesuai dengan jumlah ayam; 3) Tempat minum jangan terkena sinar matahari langsung dan jauhkan dari brooder; 4) Jika perlu vaksin diberikan 2 tahap untuk menghindari ayam yang tidak kebagian vaksin 23

2. Tidak tergesa-gesa saat melakukan vaksinasi dan pastikan semua ayam telah tervaksin dengan dosis yang sama 3. Pastikan vaksin yang diberikan masuk ke dalam tubuh ayam dengan baik, yaitu 1) tetes mulut ditunjukkan dari reflek menelan; 2) tetes hidung ditunjukkan ayam telah menghirup vaksin; 3) tetes mata dimana ayam telah berkedip; 4) injeksi (suntikan) terlihat pada lokasi suntikan tidak basah. Dan secara umum tempat vaksinasi tidak banyak tercecer vaksin 4. Ukuran jarum untuk ayam ialah 0,5 atau 0,9 mm dan jarum sebaiknya diganti minimal setiap 500 penyuntikan. Selain itu pastikan posisi penyuntikan membentuk sudut 30o dengan bagian tubuh ayam, jangan tegak lurus 5. Untuk vaksin inaktif selama vaksinasi hendaknya vaksin tetap dikocok secara periodik 6. Hati-hati saat memegang dan melepaskan ayam 7. Jangan melakukan desinfeksi selama 24 sampai 48 jam sebelum dan sesudah vaksinasi dengan vaksin aktif (selain via injeksi) 8. Berikan vita stress sebelum dan sesudah vaksinasi selama 3 hari berturut-turut (Anonimf, 2010).

Fungsi Vaksin Vaksin dilakukan dengan tujuan memberikan kekebalan pada tubuh ayam yang divaksinansi dari serangan penyakit. Usaha pencegahan penyakit ayam melalui program vaksinasi harus mendapatkan perhatian dan prioritas utama.

Pencegahan Peyakit Pencegahan penyakit merupakan suatu kegiatan yang penting yang harus diterapkan oleh setiap peternak. Pencegahan penyakit lebih baih 24

daripada mengobati ayam yang sudah sakit. Apabila pencegahan penyakit dilakukan secara intensif makakecil kemungkinan ayam akan terserang penyakit.

Biosekuriti Biosekuriti merupakan upaya untuk menjadikan suatu kawasan Peternakan terbebas dari bibit penyakit (mikroorganisme patogen) dari vector pembawanya (Junaidi, 2009). Biosekuriti yang dilakukan dalam praktikum antara lain penyemprotan dengan desinfektan apabila akan masuk ke dalam kandang. Pencelupan kaki (deeping) sebelum masuk masuk ke dalam kandang, membersihkan tempat pakan dan minum, serta membersihkan alas kandang. Menurut Sudarmono (2003), pinsip biosekuriti antara lain menciptakan suasana yang bersih di dalam kandang maupun lingkungan kandang, ventilasi bersih. Tempat pakan dan minum dibersihkan dengan dengan air bersih terutama lumut yang menempel pada tempat minum, sisa makanan dibersihkan. Mencipakan suasana tenang di kandang maupun lingkingan sekitar kandang. Orang asing sebaiknya dicegah masuk ke dalam areal peternakan. Pinjam-meminjam alat kandang sebaiknya dihindari, dan ransum yang diberikan sesuai dengan kebutuhan.

Sanitasi Sanitasi adalah program di suatu kawasan peternakan untuk menjaga tidak terjadinya perpindahan bibit penyakit menular sehingga ternak yang dipelihara terbebas dari infeksi bibit penyakit serta selalu dalam kondisi sehat. Menurut Junaidi (2009), program sanitasi yang sebaiknya dilakukan antara lain menyemprot kandanng menggunakan disenfektan secara rutin. Membersihkan kandang dan lingkungan kandang secra rutin. Karantina ayam 25

apabila terindiksi penyakit. Lalu lalang perpindahan karyawan atau peralatan kandang dibatasi, dan binatang liar yang memungkinkan perpindahan sebagai vektor peyebab penyakit perlu dibasmi. Selain itu pemeliharaan sebaiknya dengan umur yang seragam dalam satu flok, menjaga litter kandang tetap kering, menjaga ventilasi dan aliran udara dalam kandang agar selalu dalam keadaan baik.

Analisis Hubungan Analisis hubungan didapatkan berdasarkan korelasi antara berat badan dengan panjang shank, diameter shank, panjang tulang dada, lingkar dada dan panjang badan. 1. Hubungan antara Berat Badan dan Panjang Shank Tabel 7. Hubungan antara berat badan dan panjang shank Minggu Berat x2 Panjang y2 x.y keBadan (x) Shank (y) 0 42,21 1781,68 2,28 5,2 96,24 1 175,87 30930,26 2,55 6,5 448,47 2 216,53 46885,24 2,65 7,02 537,80 3 276,93 76690,22 4,06 16,48 1124,34 4 405,2 161187,04 4,65 21,62 1884,18 5 544,4 296371,36 5,57 31,02 3032,31 Total 1661,14 613845,8 21,76 87,84 7123,4
x2 n 613845,8 6 y2 n 87,84 6

FKx

FKy

= 102307,63 SSx = x2 - Fkx = 613845,8 102307,63 = 515538,17

= 14,64 SSy = y2 - FKy = 87,84 14,64 = 73,2

26

SPxy = xy -

x y n 1661,14 21,76 6

Rxy

SPxy SSx SSy 1099

=7123,4 -

515538,17 73,2 1099 6143,08

= 7123,4 6024,40 = 1099 Thit =


Rxy 2 1()2

= 0,18 =
0,18 4 1-0,0324

0,36 0,98

= 0,37

Ttabel = t /2 (n-2) =t
0,05 2

= 2,776 Thitung < Ttabel = 0,37 < 2,776 Uji Not Signifikan. Ho diterima, Ha ditolak Berdasarkan perhitungan dapat disimpulkan bahwa panjang shank tidak mempengaruhi berat badan secara nyata.

2. Hubungan antara Berat Badan dan Diameter Shank Tabel 8. Hubungan antara berat badan dan diameter shank Minggu Berat x2 Diameter y2 x.y ke Badan (x) shank (y) 1 42,21 1781,68 0,322 0,10 13,59 2 175,87 30930,26 0,42 0,18 73,86 3 216,53 46885,24 0,51 0,26 110,43 4 276,93 76690,22 0,73 0,53 202,16 5 405,2 161187,04 0,75 0,56 303,9 6 544,4 296371,36 1,016 1,032 533,1

27

Total

1661,14
x2 n 613845,8 6

613845,8

3,748
y2 n 2,662 6

2,662

1237,04

FKx

FKy

= 102307,63 SSx = x2 - Fkx = 613845,8 102307,63 = 515538,17


x y n 1661,14 3,748 6

= 0,44 SSy = y2 - FKy = 87,84 0,44 = 87,4


SPxy SSx SSy 6085,74 515538,17 87,4 6085,74 6712,53

SPxy = xy -

Rxy

=1237,04 -

= 7123,4 1037,66 = 6085,74

= 0,91

Thit

Rxy 2 1()2

0,91 4 1-0,83

1,82 0,4

= 4,55

Ttabel = t /2 (n-2) =t
0,05 2

= 2,776 Thitung > Ttabel = 4,55 > 2,776 Uji Signifikan. Ho ditolak Ha diterima. 28

Berdasarkan

perhitungan

dapat

disimpulkan

bahwa

diameter

shank

mempengaruhi berat badan secara nyata. 3. Hubungan antara Berat Badan dan Lingkar Dada Minggu ke 1 2 3 4 5 6 Total Tabel 9. Hubungan antara berat badan dan lingkar dada Berat x2 Lingkar y2 x.y Badan (x) Dada (Y) 42,21 4448,89 8,34 69,56 352,03 175,87 16659,06 10,73 115,13 1887,08 216,53 39097,15 12,43 154,50 2691,47 276,93 88090,24 18 324 4984,74 405,2 164917,21 18,2 331,24 7374,64 544,4 279915,06 18,48 341,51 100605,512 1661,14 593127,62 86,18 1335,94 117895,472
x2 n 613845,8 6 y2 n 1335,94 6

FKx

FKy

= 102307,63 SSx = x2 - Fkx = 613845,8 102307,63 = 515538,17


x y n 1661,14 86,18 6

= 222,66 SSy = y2 - FKy = 1335,94 222,66 = 1113,28


SPxy SSx SSy 94035,972 515538,17 1113,28 94035,972 23957,01

SPxy = xy -

Rxy

=117895,472-

= 117895,472 23859,5 = 94035,972 = 3,93

29

Thit

Rxy 2 1()2

3,93 4 1-15,44

7,86 3,8

= 2,07

Ttabel = t /2 (n-2) =t
0,05 2

= 2,776 Thitung > Ttabel = 2,07 < 2,776 Uji non Signifikan. Ho diterima Ha ditolak. Berdasarkan perhitungan dapat disimpulkan bahwa lingkar dada tidak mempengaruhi berat badan secara nyata.

4. Hubungan antara Berat Badan dan Panjang Tulang Dada Tabel 10. Hubungan antara berat badan dan panjang tulang dada Umur Berat x2 Pjng Tulang y2 x.y Badan (x) Dada (y) 1 42,21 4448,89 2,41 5,81 101,73 2 175,87 16659,06 4,04 16,32 710,51 3 216,53 39097,15 4,38 19,18 948,40 4 276,93 88090,24 5,13 26,32 1420,65 5 405,2 164917,21 7,82 61,15 3168,664 6 544,4 279915,06 8,07 65,12 4393,31 Jumlah 1661,14 593127,62 31,85 193,9 10743,264
x2 n 613845,8 6 y2 n 193,9 6

FKx

FKy

= 102307,63 SSx = x2 - Fkx

= 32,32 SSy = y2 - FKy

30

= 613845,8 102307,63 = 515538,17


x y n 1661,14 31,85 6

= 193,9 32,32 = 161,58


SPxy SSx SSy 1925,384 515538,17 161,58 1925,384 9126,92

SPxy = xy -

Rxy

=10743,264-

= 10743,264 8817,88 = 1925,384

= 0,21

Thit

Rxy 2 1()2

0,21 4 1-0,46

0,42 0,73

= 0,58

Ttabel = t /2 (n-2) =t
0,05 2

= 2,776 Thitung < Ttabel = 0,58 < 2,776 Uji non Signifikan. Ho diterima Ha ditolak Berdasarkan perhitungan dapat disimpulkan bahwa panjang tulang dada tidak mempengaruhi berat badan secara nyata.

31

5. Hubungan antara Berat Badan dan Panjang Badan Tabel 11. Hubungan antara berat badan dan panjang badan Berat x2 Pjng Badan y2 x.y Badan (x) (y) 1 42,21 4448,89 16,23 263,41 685,07 2 175,87 16659,06 20,2 498,04 3552,57 3 216,53 39097,15 26,4 696,96 5716,392 4 276,93 88090,24 31,67 1002,99 8770,37 5 405,2 164917,21 35,42 1254,58 1435,184 6 544,4 279915,06 39,2 1536,64 21340,48 Jumlah 1661,14 593127,62 169,12 5252,62 41500,066 Umur FKx =
x2 n 613845,8 6

FKy

y2 n 5252,62 6

= 102307,63 SSx = x2 - Fkx = 613845,8 102307,63 = 515538,17


x y n 1661,14 169,12 6

= 875,44 SSy = y2 - FKy = 5252,62 875,44 = 4377,18


SPxy SSx SSy -5321,924 515538,17 4377,18 -5321,924 47503,72

SPxy = xy -

Rxy

=41500,066-

= 41500,066 46821,99 = -5321,924

= -0,11

Thit

Rxy 2 1()2

-0,11 4 1 + 0,0121

-0.22 0,98

= -0,224

Ttabel = t /2 (n-2)

32

=t

0,05 2

= 2,776 Thitung > Ttabel = -0,244 < 2,776 Uji non Signifikan. Ho ditoerima Ha ditolak. Berdasarkan perhitungan dapat disimpulkan bahwa panjang badan tidak mempengaruhi berat badan secara nyata.

33

Kunjungan perusahaan

Identitas perusahaan Sejarah perusahaan KP4 merupakan salah satu dari 5 Sub-Unit pada Unit Sarana Penunjang Penelitian di UGM berdasarkan SK Rektor UGM

No.:UGM/33/2803/UM/01/37 tahun 1988 tentang Pembentukan Unit Sarana Penunjang penelitian. Kebun Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Pertanian atau Agricultural Training, Research and Development Station (KP4/ATRD) Universitas Gadjah Mada seluas 35 hektar didirikan pada tahun 1975 dengan bantuan The Rockefeller Foundation. Lokasi KP4 adalah di Kalitirto, Berbah, Sleman, berjarak sekitar 15 km dari kampus induk UGM. Selanjutnya, sesuai SK Mendikbud No.: 0132/0/93 tentang Organisasi dan Tata Kerja Universitas Gadjah Mada, KP4 UGM memiliki status sebagai SubUnit Sarana Penunjang Penelitian, yang secara operasional bertanggung jawab pada Rektor up. Pembantu Rektor I, sedang pembinaannya dibawah Lembaga Penelitian UGM. Berdasarkan SK Rektor UGM No.: 168/P/SK/HKTL/2003 telah diadakan Perubahan Nama dari Kebun Pendidikan, Penelitian dan

Percobaan Pertanian UGM menjadi Kebun Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Pertanian UGM dengan singkatan yang sama (KP4 UGM). Selanjutnya berdasarkan SK Rektor UGM No.: 259/P/SK/HT/2004 tentang Organisasi dan Rincian Tugas Kantor Pimpinan Universitas, Lembaga, Direktorat, Biro, dan Unit Kerja di Lingkungan Universitas Gadjah Mada, KP4 terdiri atas 2 bidang yaitu: bidang Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pertanian dan bidang Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Hewan Ternak. KP4-UGM secara operasional bertanggungjawab kepada Rektor up. Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. 34

Visi Menjadi unsur penunjang pendidikan, penelitian, pengembangan universitas terbaik bidang sumber daya hayati dan lingkungan hidup di Asia Tenggara. Stuktur Organisasi

Jumlah pemilikan Kandang yang digunakan di KP4 adalah kandang open hoise close hous. Seriap kandang berisi berisi 5000 ekor ayam dengan total 45.000 ayam. Strain yang digunakan adalah lohmann yang berasal dari pembibitan sendiri.

35

Manajemen perkandangan Perkandangan Kandang yang digunakan di KP4 adalah kandang open house atau kandang terbuka berjumlah 5 dan close house atau kandang tertutup

berjumlah 4. Model kandang sistem terbuka memberikan konstribusi yang kurang bagus bila dibandingkan dengan model kandang sistem tertutup. Di samping itu, model kandang sistem terbuka tidak sesuai lagi dengan perkembangan mutu genetik ayam ras saat ini, yakni dengan strain-strain modern dengan tingkat pertumbuhan yang relatif cepat bila dibandingkan dengan strain ayam tempo dulu (Ahmadi, 2010). Kandang model tertutup dimaksudkan untuk meminimalisir kontak

antara ayam dengan kondisi lingkungan di luar kandang. Tujuan pembuatan model kandang ini adalah menciptakan lingkungan idealdalam kandang, meningkatkan produktivitas ayam, efisiensi lahan dan tenaga kerja serta menciptakan usaha peternakan yang ramah lingkungan (Ahmadi, 2010). Pakan dan minum Pakan yang digunakan adalah pakan BRI. Minum yang digunakan berasal dari air sumur. Tempat pakan dan tempat minum yang digunakan adalah tempat pakan nampan dan tempat minum otomatis. Pembagian pakan dan dekatnya jarak tempat pakan (feeder) dengan unggas merupakan hal penting untuk mencapai target tingkat konsumsi pakan. Sistem pemberian pakan adalah tempat pakan manual dan otomatis. Tempat pakan manual ada 3 yaitu 1) Tempat pakan memanjang (long feeder), dengan standar 5 cm/ekor, 2) Tempat pakan bundar (round feeder), dengan standar 2 cm/ekor dan 3) Tempat pakan nampan (tray feeder), umumnya digunakan minggu pertama dengan standart pada hari I yaitu 1 nampan untuk 100 ekor. Tempat pakan otomatis (chain feeder dan pan feeder) yaitu tempat pakan nampan digunakan pada fase brooding yang secara perlahan-lahan diganti dengan tempat pakan gantung. Untuk mencegah pakan tumpah bentuk tempat pakan 36

mempunyai bibir serta jeruji agar ayam tidak mengais pada tempat pakan; tinggi tempat pakan digantung tapi piringannya masih menempel di lantai; pengisian pakan sepertiga tinggi piringan (Anonim, 2010). Penyediaan air yang bersih dan dingin secukupnya merupakan hal yang utama untuk memperoleh pertumbuhan broiler yang baik. Tempat minum terdiri dari manual dan otomatis. Tempat minum manual yaitu tempat minum berupa long drinker atau round drinker harus digantung dan pastikan tinggi bibir tempat minum sejajar dengan bagian punggung ayam bila ayam bediri. Tempat minum ini harus memiliki sekurang-kurangnya 1 cm/ayam. Tempat minum otomatis yaitu tempat minum yang banyak digunakan adalah tempat minum bulat baik manual maupun otomatis dengan bentuk

menyerupai bel (automatic bell drinker), Nipples, drink cups, hanging automatic waterer. Ketinggian tempat minum diatur setinggi punggung ayam,demikian pula tinggi air pada tempat minum yang diatur sesuai besar ayam. Pada tempat minum otomatis kebutuhan tersebut bisa diatur dengan mudah (Anonim, 2010).

Vaksinasi dan penanganan penyakit Vaksinasi Vaksin yang diberikan pada saat DOC berada dalam hatcher. Vaksin yang diberikan adalah vaksin ND, vaksin ABD dan vaksin BD. Metode pemberian dilakukan dengan suntik untuk vaaksin ABD dan spray dan injection untuk vaksin ND dan BD. Menurut Sauvani (2010), macam-macam vaksin yang digunakan dalam pemeliharaan ayam broiler antara lain: Vaksin Merek. Vaksin ini digunakan untuk mencegah penyakit Marek dan diberikan secara subcutan atau intramuskular pada DOC. Biasanya vaksin ini sudah dilakukan oleh breeder.vaksinasi dilakukan dengan injeksi subcutan di bawah leher.

37

Vaksin ND + IB. Vaksin ini digunakan untuk mencegah penyakit Newcastle Disease dan Infectious Bronchitis.Cara pemberian vaksin ini ada 2 cara yaitu dengan tetes mata dan suntik injeksi intramuskular pada bagian dada. Vaksin IB. Vaksin IB digunakan untuk menimbulkan kekebalan ayam terhadap Infectious Bronchitis. Pemberian vaksin ini sangat mudah yaitu dengan mencampurkannya dalam air minum. Vaksin ND. Pemberian vaksin ini bertujuan mencegah timbulnya penyakit Newcastle Disease pada unggas. Vaksin ini juga dilakukan dengan 3 cara yaitu d engan pemberian tetes mata, metode injeksi subcutan

dan injeksi intramuskuler pada dada. Vaksin Cocci. Vaksin Cocci ini sangat mahal harganya, sehingga kadangkala banyak peternak yang melewati vaksin ini karena dalam beberapa pakan ayam jadipun sudah mengandung koksidiostat. Cara pemberian vaksin ini terdapat 2 kategori ada yang menggunakannya melalui air minum dan ada juga yang menyemprotkannya ke pakan. Vaksin Gumboro. Vaksin gumboro juga diberikan pada air minum. Vaksin Coryza. Vaksin coryza ini digunakan untuk mencegah timbulnya wabah Snot atau Coryza. Cara pemberian vaksin ini dilakukan dengan injeksi intramuskuler pada dada atau paha. Vaksin Fowl Pox. Vaksinasi cacar ini sangat berbeda dengan vaksinvaksin lainnya. Pemberian vaksin ini dilakukan dengan metode tusuk sayap. Vaksin ini dikemas dalam satu vial berbentuk cairan emulsi. Vaksin ILT. Vaksinasi ILT bertujuan untuk membentuk kekebalan tubuh ayam terhadap terjadinya infeksi pada saluran laringotracheal. Cara pemberian vaksin ini adalah tetes mata, tetes hidung dan pemberian pada air minum. Vaksin EDS. Vaksin ini selain merupakan booster untuk ND dan IB, vaksin ini juga digunakan untuk mencegah terjadinya Egg Drop Syndrom 38

pada ayam layer. Vaksinasi ini dilakukan dengan melakukan injeksi intramuskuler pada dada. Vaksin AI. Vaksinasi ini mulai merebak setahun belakangan ini akibat adanya kasus flu burung yang melanda Thailand, China dan Malaysia. Di beberapa wilayah Indonesia juga terjangkit wabah flu burung. Penyakit ini juga membuat kerugian yang sangat luar biasa karena seluruh ayam yang terkena harus dimusnahkan. Namun, flu burung ini dapat ditanggulangi dengan melakukan vaksinasi sejak dini yaitu melakukan vaksinasi pada anak-anak ayam atau pada ayam dewasa agar terbentuk kekebalan tubuh terhadap serangan flu burung yang dicurigai disebarkan melalui burungburung liar yang melakukan migrasi. Vaksin ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan injeksi subcutan dan injeksi intramuskuler pada otot dada.

Pencegahan penyakit Biosekuriti. Tindakan biosekuriti yang dilakukan adalah

penyemprotan desinfektan di pintu gerbang pada kendaraan dan foot deeping. Desinfektan dengan clotin untuk mencegah penyakit akibat litter. Menurut Deni (2007), berikut ini adalah beberapa hal penting lainya dalam penerapan biosekuriti pada peternakan ayam untuk menjamin keamanan produk unggas, diantaranya adalah tempat, tempat yang baik terletak di suatu area yang mempunyai kepadatan unggas rendah, jauh dari peternakan lain, dan jauh dari burung-burung liar. Prosedur manajemen yang mencakup bangunan, lingkungan dan peralatan harus dipelihara dengan baik, peternakan harus dijaga kebersihan dan pemeliharaannya, ada lokasi tempat pembuangan limbah, biosekuriti kepada personal atau pengunjung untuk mencegah patogen memasuki area peternakan, perusahaan perlu ada kebijakan yang mengatur mobilitas pengunjung dan personal ke lokasi peternakan, mengantisipasi penyakit yang sedang dicurigai atau ditetapkan, semua sarana angkutan memasuki lokasi harus bebas dari potensi patogens. 39

pekerja dan peralatan Semua peralatan harus dibersihkan dan disucihamakan dengan desinfektan, pekerja tidak ada kontak dengan unggas lain, ternak atau burung-burung liar, personil tidak masuk ke lokasi peternakan jika dicurigai ada penyakit yang bersifat zoonosis. Sanitasi. Tindakan sanitasi yang dilakukan adalah pembersihan litter jika litter tersebit basah dan diganti dengan litter yang baru. Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan merupakan usaha pencegahan penyakit yang paling murah, hanya dibutuhkan tenaga yang ulet/terampil saja. Tindakan preventif dengan memberikan vaksin pada ternak dengan merek dan dosis sesuai catatan pada label yang dari poultry shoup (Faishal, 2010). Cara pengontrolan terhadap penyebaran penyakit adalah dengan menjaga sanitasi kandang dan sistem operasional di peternakan. Sanitasi bukan dan tidak terbatas hanya dalam satu perlakuan (misal: kebersihan pakan dan kandang-kandang) tetapi haruslah berhubungan dengan Bio Security atau pengamanan terhadap organisme hidup yang dalam hal ini adalah jenis virus, protozoa, bakteri dan jamur (Sauvani, 2010).

Produktivitas IP. IP yang diperoleh pada pemeliharaan ayam broiler di KP4 adalah 471,66%. Penghitungan Index Performance (IP) merupakan salah satu parameter keberhasilan pemeliharaan ayam broiler. Standar performans harian broiler bervariasi tergantung dari umur pemeliharaan (Komara, 2009).

FCR. FCR (Feed Conversion Ratio) atau konversi pakan dipengaruhi oleh kualitas ternak yang dipelihara termasuk daya adaptasi ternak terhadap pakan yang diberikan, kualitas bahan pakan, dan metode pemberian pakan yang digunakan (Cahyono,1995).

40

FCR yang dipelihara di KP4 adalah 1,7 dengan berat badan 1,8 kg dan umur panen 22 sampai 23 hari. Menurut Anonim (2009), FCR rata-rata untuk ayam adalah 1,65 sampai 1,85 dengan bobot badan mencapai 2 kg.

Mortalitas. Mortalitas yang terjadi mencapai 2 sampai 3%. Hal-hal yang diperhatikan dalam menekan angka kematian adalah mengontrol kesehatan ayam, mengontrol kebersihan tempat pakan dan minum serta kandang, melakukan vaksinasi secara teratur, memisahkan ayam yang terkena penyakit dengan tidak yang terkena penyakit, memberikan pakan dan minum pada waktunya (Siregar et al., 1990). Menurut Sainsbury (1995), besarnya angka kematian pada awal pemasukan DOC tergantung pada kesuksesan sterilisasi kandang dalam mengeliminasi bibit penyakit. Berdasarkan pengamatan memang masalah sterilisasi kandang masih sangat kurang, pembuangan kotoran di dekat kandang dan tentu saja kotoran merupakan sarang penyakit. Selain itu

waktu DOC mati belum dilakukan vaksinasi sehingga dengan mudah terserang penyakit. DOC pada saat itu belum memiliki kekebalan untuk melawan penyakit.

Pengananan limbah Penanganan limbah di farm ini dengan menjual sekam bekas dan kotoran. Menurut Rasyaf (1990), tinja unggas dapat dijadikan bahan pakan untuk unggas itu sendiri dan biasanya adalah tinja ayam ras, proses ini dikenal dengan proses daur ulang.

Kendala Perusahaan Kendala yang dihadapi adalah cuaca panas pada pemeliharaan ayam dan kandang yang terlalu longgar. Pada umumnya kondisi cuaca di Indonesia selalu panas. Dalam kondisi panas feed intake menurun dan konsumsi 41

minum meningkat. Kandang close house kurang efektif sehingga banyak ruang yang terbuang dan atap terlalu tinggi.

Saran dan kritik Dalam pembuatan kandang harus sesuai dengan populasi ayam yang dipelihara. Jangan sampai ada ruangan yang tidak terpakai. Kandang close house yang dipakai pada peternakan ayam broiler di KP4 sudah ketinggalan jaman dan alat yang digunakan masih sederhana. Sebaiknya teknologi dan peralatan ditingkatkan menurut perkembangan jaman sekarang. Agar dapat menunjang produksi ayam broler.

42