Anda di halaman 1dari 7

trauma abomen

Senin, 17 Desember 2012


trauma abdomen

A. Pengertian Trauma adalah cedera fisik dan psikis, kekerasan yang mengakibatkan cedera. Trauma abdomen terbagi menjadi jenis : Trauma terhadap dinding abdomen.Trauma pada dinding abdomen terdiri dari : 1. Kontusio dinding abdomen ,disebabkan oleh trauma tumpul . Kontusio dinding abdomen tidak terdapat cedera abdomen , tetapi trauma tumpul pada abdomen dapat terjadi karena kecelakaan motor , jatuh, atau pukulan. 2. Laserasi , merupakan trauma tembus abdomen yang disebabkan oleh luka tembakan atau luka tusuk yang bersifat serius dan biasanya memerlukan pembedahan. Hampir semua luka tembak membutuhkan bedah ekspolarasi, luka tusuk mungkin lebih ditangani secara konser atif. Trauma abdomen adalah terjadinya cedera atau kerusakan pada organ abdomen yang menyebabkan perubahan fisiologi sehingga terjadi gangguan metabolisme , kelainan imunologi dan gangguan faal berbagai organ.

B. Etiologi !enyebab trauma abdomen antara lain : trauma, iritasi , infeksi,obstruksi dan operasi . Kerusakan organ abdomen dan pel is dapat disebabkan trauma tembus ,biasanya tikaman atau tembakan dan trauma tumpul akibat kecelakaan mobil,pukulan langsung atau jatuh.. Luka yang tampak ringan bisa menimbulkan cedera eksterna yang mengancam nya"a 2 C. Patofisiologi Trauma abdomen terjadi karena trauma ,infeksi ,iritasi dan obstruksi. Kemungkinan bila terjadi perdarahan intra abdomen yang serius pasien akan memperlihatkan tanda#tanda iritasi yang disertai penurunan hitung sel darah merah dan akhirnya gambaran klasik syok hemoragik. $ila suatu organ iseral mengalami

perforasi, maka tanda %tanda perforasi ,tanda#tanda iritasi peritonium cepat tampak. Tanda#tanda dalam trauma abdomen tersebut meliputi nyeri tekan , nyeri spontan ,nyeri lepas dan distensi abdomen tanpa bising usus bila telah terjadi peritonitis umum. $ila syok telah lanjut pasien akan mengalami tatikardi dan peningkatan suhu tubuh , juga terdapat leukositosis. $iasanya tanda %tanda peritonitis belum tampak .!ada fase a"al perforasi kecil hanya tanda#tanda tidak khas yang muncul . $ila terdapat kecurigaan bah"a masuk kerongga abdomen , maka operasi harus dilakukan &ang mungkin terjadi pada trauma abdomen : Perporasi 'ejala perangsangan perotonium yang terjadi dapat di sebabkan oleh (at kimia atau mikroorganisme. $ila perporasi terjadi di bagian atas, misalanya lambung terjadi perangsangan oleh (at kimia segera sesudah truma dan timbul gejala pritonitis hebat. $ila perporasi terjadi di bagian ba"ah seperti kolon mula#mula timbul gejala karena mikroorganisme membutuhkan "aktu untuk berkembang biak baru seteloah 2) jam timbul gejal#gejala akut abdomen karena perangsangan peritonum. *engingat kolon tempat terakhirnya menghasilkan feces, maka jika kolon terluka dan mengalami perporasi perlu melakukan pembedahan,peritonium akan terkontaminasi bakteri dan feces. Hal ini mengakibatkan peritonitis lebih berat.

+ Pendarahan ,etiap trauma abdomen -truma tumpul, tajam, dan tembak. dapat menimbulkan pendarahan. &ang paling banyak terkenan robekan pada truma adalah alat prenkim, mesenteriumdan ligamenta, sedangkan sedangkan alat#alat

trktusdigesti us pada trauma tumpul bisa terhindar. /iagnostik pada trauma tumpul lebih sulit di bandingkn pada taruma tajam,lebih#lebih pada tatap permulaan. !enting sekali untuk menentukan secepatnya, apakah ada pendarahan dan tindakan harus segera dilakukan untuk menghentikan pendarahan tersebut. 0ontohnya trauma tumpul yang menimbulkan pendarahan dari limpah. /alam tahap pertama darah akan berkumpul sakus leanalis, sehingga tanda#tanda umum perabgsangan peritonial belum ada sama sekali. /alam hal ini sebagai pedoman untuk menentukan limpa robek -rupuk lienalis.. 1danya bekas jejas dalam trauma limpah 'erakan pernapasan di epigastrium kiri berkurang 2yeri tekan yang hebat di ruang interkostalis 3#14 garis aksiler depan kiri. D. Manifestasi Klinis *anifestasi klinis trauma abdomen dapat meliputi : nyeri -khususnya karenagerakan. nyeri tekan dan lepas-mungkin menandakan iritasi peritonium karena cairan gastrointestinal atau darah. distensi abdomen demam anoreksia mual dan muntah tatikardi peningkatan suhu tubuh

E. !A"DA DA" #E$A%A !&A'MA ABD(ME" Trauma tembus -trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga !eritoneum. : 1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ 2. 5espon stres simpatis +. !erdarahan dan pembekuan darah ). Kontaminasi bakteri 6. Kematian sel '1*$15 T517*1 T8*$7, Trauma tumpul -trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritonium.. 1. Kehilangan darah. 2. *emar9jejas pada dinding perut.

+. Kerusakan organ#organ. ). 2yeri tekan, nyeri ketok, nyeri lepas dan kekakuan dinding perut 6. :ritasi cairan usus '1*$15 T517*1 T7*!7L 6 K("SEP KEPE&A*A!A" !&A'MA ABD(ME" PENGKAJIAN !engkajian pasien trauma abdomen -,melt(er, 2441. adalah meliputi : 1. Trauma Tembus abdomen /apatkan ri"ayat mekanisme cedera ; kekuatan tusukan9tembakan ; kekuatan tumpul -pukulan. :nspeksi abdomen untuk tanda cedera sebelumnya : cedera tusuk, memar, dan tempat keluarnya peluru. 1uskultasi ada9tidaknya bising usus dan catat data dasar sehingga perubahan dapat dideteksi. 1danya bising usus adalah tanda a"al keterlibatan intraperitoneal ; jika ada tanda iritasi peritonium, biasanya dilakukan laparatomi -insisi pembedahan kedalam rongga abdomen.. Kaji pasien untuk progresi distensi abdomen, Kaji cedera dada yang sering mengikuti cedera intra#abdomen, obser asi cedera yang berkaitan. Catat semua tanda fisik selama pemeriksaan pasien 2. Trauma tumpul abdomen /apatkan semua data yang mungkin tentang hal#hal sebagai berikut : *etode cedera. <aktu a"itan gejala. Lokasi penumpang jika kecelakaan lalu lintas .,abuk keselamatan digunakan9tidak, tipe restrain yang digunakan. <aktu makan atau minum terakhir. Kecenderungan perdarahan. !enyakit danmedikasi terbaru. 5i"ayat immunisasi, dengan perhatian pada tetanus. 1lergi. Lakukan pemeriksaan cepat pada seluruh tubuh pasienuntuk mendeteksi masalah yang mengancam kehidupan. = PENATALAKSANAAN

).

1. ,egera dilakukan operasi untuk menghentikan pendarahan secepatnya. >ika penderita dalam keadaan syok tidak boleh dilakukan tindakan selain tindakan syok operasi. 2. !emberian antibiotika :? pada penderita trauma tembus atau pada trauma tumpul bila ada persangkaan perlakuan intestinal. +. Luka tembus merupakan indikasi dilakukan tindakan laparatomi eksplorasi bila ternyata peitonium robek. Luka karena benda tajam yang dangkal hendaknya di eksplorasi dengan memakai anastesi local, bila rektus posterior tidak sobek, maka tidak diperlukan laparatomi. ). !enderita dengan trauma tumpul yang terkesan adanya pendarahan hebat yang meragukan kestabilan sirkulasi atau ada tanda#tanda perlukaan abdomen lainnya memerlukan pembedahan. 6. Laparatomi !rioritas utama dalah menghentikan pendarahan yang berlansung. Kontaminasi lebih lanjut oleh isi usus harus dicegah dengan mengisolasikan bagian usus yang terperforasi dengan mengklem setelah pendarahan teratasi *elalui ekpolarasi yang seksama amati dan teliti seluruh alat#alat di dalamnya. Korban trauma khusus memerlukan pengamatan khusus terhadap kemungkinann perlakuan pada pancreas dan duodenum. Hematoma retroperitoneal yang tidak meluas atau berpulsasi tidak boleh dibuka !erlakuaan khusus perlu terapi 5ongga peritoneal harus di cuci dengan larutan garam fisiologis sebelum di tutup Kulit dan lemak subcutan di biarakan terbuka bila ditemukan kontaminasi fekal, penutup primer yang terlambat akan terjadi dalam "aktu )#6 hari kemudian.

@ DIAGNOSA KEPERA ATAN /iagnosa kepera"atan pada pasien dengan trauma abdomen -<ilkinson, 244=. adalah : 1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan cedera tusuk. 2. 5isiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit. +. 2yeri akut berhubungan dengan trauma9diskontinuitas jaringan. ). :ntoleransi akti itas berhubungan dengan kelemahan umum. 6. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri9ketidak nyamanan, terapi pembatasan akti itas, dan penurunan kekuatan9tahanan. INTER!ENSI DAN I"PLE"ENTASI

:nter ensi dan implementasi kepera"atan yang muncul pada pasien dengan trauma abdomen -<ilkinson, 244=. meliputi : 1. Kerusakan integritas kulit adalah keadaan kulit seseorang yang mengalami perubahan secara tidak diinginkan. Tujuan : *encapai penyembuhan luka pada "aktu yang sesuai. Kriteria Hasil : # tidak ada tanda#tanda infeksi seperti pus. # luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. # Tanda#tanda ital dalam batas normal atau dapat ditoleransi. :nter ensi dan :mplementasi : a. Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka. 59 mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang tepat. b. Kaji lokasi, ukuran, "arna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka. 59 mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah inter ensi. +. !antau peningkatan suhu tubuh. 59 suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan. d. $erikan pera"atan luka dengan tehnik aseptik. $alut luka dengan kasa kering dan steril, gunakan plester kertas. 59 tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi. A e. >ika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya debridement. 59 agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainnya. f. ,etelah debridement, ganti balutan sesuai kebutuhan. 59 balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah9 tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi. g. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. 5 9 antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi. 2. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer, perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang tinggi, prosedur invasif dan kerusakan kulit. Tujuan : infeksi tidak terjadi 9 terkontrol. Kriteria hasil : # tidak ada tanda#tanda infeksi seperti pus. # luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. # Tanda#tanda ital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.

:nter ensi dan :mplementasi : a. !antau tanda#tanda ital. 59 mengidentifikasi tanda#tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat. b. Lakukan pera"atan luka dengan teknik aseptik. 59 mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen. +. Lakukan pera"atan terhadap prosedur in asif seperti infus, kateter, drainase luka, dll. 59 untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.

, d. >ika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit. 59 penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi. e. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik. 59 antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme pathogen. E!AL#ASI 8 aluasi yang diharapkan pada pasien dengan trauma abdomen adalah : 1. *encapai penyembuhan luka pada "aktu yang sesuai. 2. :nfeksi tidak terjadi 9 terkontrol. +. 2yeri dapat berkurang atau hilang. ). !asien memiliki cukup energi untuk berakti itas. 6. !asien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.