Anda di halaman 1dari 1

Kliping Berita Kesehatan

PUBLIKSETJENKEMENTERIAN KESEHATAN RI PUSATKOMUNIKASI


X-5 KAV.4-9JAKARTA 12950 JL. H.R.RASUNASAID 52921 669 TELP.(021) 5223002,52907416,52907418,52907419FAX. (021) 5223002,52960661,

Mm*lmoNurn Halaman
,1 t1$Arl\ riiidtl iinfi{1

: RABU I JAN 2013 Hariffanssal


, 21

MB

EDISI PAGI

Penggunaan harus obatpenenang dengan pengawasan dokter sertadiberikan dalam dosis efektif walttuyangpendek, terkecil danjangka
EnrKlnrrHlx
UDAH 10 tahun Fikri mengonsumsi obatpenenangsetiaphari. Awalnya ia diresepkanobat penenangjenis alprazolamoleh dokter umum. Dosisnya2x0,5mg per hari. Tujuannya agar ia bisa tidur nyenyak. Saatitu ia memang mengalamiinsomnia dan kerap gelisah. Kaiena merasa nyaman, ia meneruskan konsumsi obat itu meski tidak lagi kontrol ke dokter. Dosisnya terus meningkat hingga saat ini ia memakai 2x3 mg per hari, sebuah takaran yang secara medis tergolong tinggi. Laki-laki berusia 48 tahun itu sebenarnya ingin berhenti dari kebiasaantersebut. Namun, itu rupanya bukan hal mudah. Pernah ia mencoba metode yang disebut cold turkqt, yakni berhenti menggunakan obat samasekali. Namun, dampaknya sungguh menyiksa. Ia mengalami efek putus obat yang berat. Tubuhnyamenggigil,lemasbagai tak bernrlang, merasa lelah yang teramat sangat, keluar keringat dingin, dan pikiran seperti tidak bisa digunakan. Ia pun terpaksa mengonsumsi obat itu lagi. Kasus serupa terjadi pada Riska,ibu rumah tangga berusia 37 tahun. Setahun lalu, karena mengalami gangguancemas, ia berkunjung ke psikiater. Ia di.beri obat alprazolam berdasar resep dengan dosis 3x0,25mg per sehari. Ia kemudian memutuskan lepas dari rutinitas kontrol ke psikiater. Namun, ia tetap membeli obat berdasarkan resep dokter umum. Dosiskonsumsiobat penenangnya meningkatmenjadi 3x0,5mg per hari dan terkadang menambah dosis sendiri menjadi 3x0,75mg jika merasatidak nyaman,

Kecanduan Hatl-Hatl Penenang 0bat


Cari akarpenyebab Menurut Andri,untukkasus keterganmisalnya saat ia kelelahan mengurus anak, sementara tak ada keluarga yang membantu. Meski sudah mengonsumsi obat antidepresi,ia tetap tak bisa lepas dari obat penenang. Kedua ilustrasi kasus itu diceritakan psikiater dr Andri SpKJsaat membahas Ia menjetopik kecanduanobatpenenang. laskan obat alprazolam merupakan salah sdtujenis obat cemasgolonganbenzodiazepina yang paling efektif. Dengan efektivitas yang sangat potensial dan waktu kerja yang pendek, obat itu sering diresepkan pada pasien dengan dosis beberapa kali dalam sehari. tungan obat penenang, penanganan yang baik haruslah dimulai denganpengenalan dasar gejala mengapa pasien sampai menggunakanalprazolam. "Pasienperlu menggunakanobat itu pastinya bukan karena tanpa alasan. Gangguankecemasandan insomnia ialah Iatar belakang tersering orang mulai menggunakan alprazolam. Akar penyebab gangguan itu harus diatasi," jelas Kepala Klinik PsikosomatikRS Omni Alam Sutera, Tangerangitu. Bila akar penyebab gangguankecemasan dan insomnia tidak teratasi, pengguna alprazolam cenderung mengalami toleransi sehinggamembutuhkan dosisygng makin besar. "Karenanya penggunaan obat penenang harus diawasi dokter, diberikan dalam dosis efektif terkecil, dan jangka waktu yang pendek." kecanduanakan lebih baik Penanganan bila pasien diberi obat pengganti alprazolam seperti clonazepam atau diazepam. Namun pada pasien yang mengonsumsi alprazolam dengandosistinggi (lebih dari 2 mg per hari), biasanya penghentian tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba. Langkahyangtepatialah menurunkan dosissecaraperlahan. "Penggunaan antidepresan seperti sertraline ataufluoxetine juga bisa membantu untuk mengatasi kecemasan dan mengurangi penggunaan obat alprazolam pada akhirnya," tambah Andri. Andri menekankan perlunya pasien meririliki motivasi yang tinggi untuk berhenti dari kecanduan alprazolam. Kalau tidak, usaha apa pun akan percuma. "Satu hal yang paling penting, segeralah berkonsultasi jika Anda telah menggunakan alprazolam untuk waktu lama," sarannya.(*/S-5)

af

penenang, ketergantungan obat penanganan yang baik haruslah pengenalan dimulai dengan dasar pasien gejala mengapa sampai menggunakan alprazolam."
SpKJ drAndri
psikosomatik Psikiater medis & pakar

untukkasus

"sayangnya obat ini mempunyai efek untuk menghasilkan toleransi (dosissemakin meningkat) dan ketergantungan yang berat pada pasienjika tanpa pengawasan yangtepat dan bijak," ujar Andri yangjuga pakar psikosomatik medis. Kebutuhan penggunaan akhirnya bisa menjadi suatuketergantunganfisik dan psikis. Apalagipada pasien pengguna alkohol atau memiliki riwayat penyalahgunaanzat narkotika. "Pasien-pasienseperti ini bila menggunakanalprazolam,dosisnyaakan cenderungterus naik dan sulit lepas."

eni@mediaindonesia.com