Anda di halaman 1dari 25

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pesatnya perkembangan industri beserta produknya memiliki dampak positif terhadap kehidupan manusia berupa makin luasnya lapangan kerja, kemudahan dalam komunikasi dan transportasi dan akhirnya juga berdampak pada peningkatan sosial ekonomi masyarakat. Disisi lain dampak negatif yang terjadi adalah timbulnya penyakit akibat pajanan bahan-bahan selama proses industri atau dari hasil produksi itu sendiri. Timbulnya penyakit akibat kerja telah mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 22 tahun 1993 telah ditetapkan 31 macam penyakit yang timbul karena kerja. Berbagai macam penyakit yang timbul akibat kerja, organ paru dan saluran nafas merupakan organ dan sistem tubuh yang paling banyak terkena oleh pajanan bahan-bahan yang berbahaya di tempat kerja. Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja. Dengan demikian penyakit akibat kerja merupakan penyakit yang artificial atau man mad disease. World Health Organization (WHO) membedakan empat kategori penyakit akibat kerja: penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan, seperti Pneumokoniosis, penyakit yang salah satunya penyebabnya ialah pekerjaan, seperti carcinoma Bronkhogenik, penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab diantara faktor-faktor penyebab lainnya seperti Bronchitis kronis, penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah ada sebelumnya seperti Asma. Bisinosis adalah suatu penyakit paru-paru akibat pekerjaan yang terjadi karena menghirup debu kapas atau debu dari serat tanaman lainnya, seperti rami. Lokasi tersangkutnya zat tersebut pada saluran pernafasan atau paru-paru dan jenis penyakit paru yang terjadi, tergantung kepada ukuran dan jenis partikel yang terhirup.Partikel yang lebih besar mungkin akan terperangkap di dalam hidung atau saluran pernafasan yang besar, tetapi partikel yang sangat kecil bisa sampai ke paru-paru.
1

MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

SKENARIO Seorang pekerja pabrik garmen mengeluh timbul rasa berat di dada atau nafas pendek disertai juga demam dan nyeri otot pada setiap hari pertama kembali bekerja dari setiap libur panjang (Hari Raya Idul Fitri) ataupun sehabis libur Sabtu dan Minggu. 1.2 IDENTIFIKASI ISTILAH YANG TIDAK DIKETAHUI Garmen pakaian jadi

1.3 RUMUSAN MASALAH Pekerja pabrik garmen merasa berat di dada atau nafas pendek disertai demam dan nyeri otot pada setiap hari pertama kembali bekerja dari libur panjang atau sehabis libur Sabtu dan Minggu. 1.4 ANALISIS MASALAH

7 LANGKAH DIAGNOSIS PAK

Pekerja pabrik garmen merasa berat di dada atau nafas pendek disertai demam dan nyeri otot pada setiap hari pertama kembali bekerja dari libur panjang atau sehabis libur Sabtu dan Minggu.
PENATALAKSANAAN

MEDIKA MENTOSA

NON MEDIKA MENTOSA

PENGENDALIAN / PENCEGAHAN 2

MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

1.5 HIPOTESIS Pekerja pabrik garmen merasa berat di dada atau nafas pendek disertai demam dan nyeri otot pada setiap hari pertama kembali bekerja dari libur panjang atau sehabis libur Sabtu dan Minggu di diagnosa menderita bissinosis akibat paparan di tempat kerja.

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 7 LANGKAH DIAGNOSA PENYAKIT AKIBAT KERJA 1. Diagnosis Klinis a. Anamesis Anamnesis adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara. Anamnesis terbagi menjadi dua tipe, yang pertama autoanamnesis yaitu wawancara yang ditujukan langsung kepada pasien, yang kedua alloanamnesis yaitu wawancara yang ditujukan kepada pihak keluarga, orang tua, atau kerabat selain pasien. Yang termasuk didalam alloanamnesis adalah semua keterangan dokter yang merujuk, catatan rekam medik, dan semua keterangan yang diperoleh selain dari pasiennya sendiri. Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan dalam anamnesis: Menanyakan identitas pasien ? ( nama, umur, pekerjaan di bagian apa, alamat,dll)1 Menanyakan keluhan utama ? (pada kasus : rasa berat di dada atau nafas pendek disertai demam dan nyeri otot) Menanyakan ada keluhan tambahan ? ( batuk, dahak, flu, dll ) Riwayat penyakit Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) : Rasa berat di dada/ nafas pendek / sesak napas Sejak kapan sesak dirasakan ? apakah sering terjadi ? Disertai flu ? Sesak muncul pada waktu tertentu atau sepanjang hari/menetap berhari-hari ? (pada kasus: pasien mengalami sesak napas dan gejala
MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012 3

lainnya setiap hari pertama kembali bekerja setelah libur panjang atau setelah hari sabtu-minggu)2 Sesak dirasakan menetap (berhari-hari) atau hilang timbul Apakah muncul hanya di tempat kerja Ada faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya sesak atau memperberat gejalanya ? (seperti merokok) Demam Sejak kapan ? Demam timbul mendadak ? Demamnya naik turun atau menetap ? Nyeri otot Sejak kapan ? Dimana saja lokasi nyerinya ? Nyeri menetap atau hilang timbul ? Ada faktor yang memperberat ? Riwayat Penyakit Dahulu (RPD) : Sebelumnya apakah pernah mengalami gejala seperti ini ? Pernah terkena penyakit menahun ? (tbc, asthma, dll) Pernah menderita penyakit yang menyebabkan harus dirawat di rumah sakit ? (trauma, dbd,dll) Riwayat Penyakit Keluarga (RPK) : Apakah memiliki riwayat penyakit keturunan di keluarga ? (DM, asthma, jantung, kanker,dll) Riwayat pekerjaan dan lingkungan kerja Untuk diagnosis penyakit akibat kerja sangat penting untuk ditanyakan mengenai riwayat pekerjaan pasien. Sudah berapa lama bekerja sekarang ? bekerja di bagian/dibidang apa sekarang ? Menanyakan riwayat pekerjaannya sebelumnya (dimana, berapa lama, sebagai apa, dll )?
MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012 4

Berapa lama waktu bekerja dalam sehari ? Apakah gejala penyakit berkurang pada saat tidak masuk bekerja ? Alat kerja, bahan kerja, proses kerja apa yang digunakan dalam bekerja ? Barang apa yang diproduksi/dihasilkan ? Alat pelindung diri apa yang digunakan ? Apakah hanya bekerja di ruangan atau ke luar ruangan pabrik juga ? Pekerja pabrik lain ada yang mengalami hal yang sama ? b. Pemeriksaan Fisik Sebagian besar kasus tidak menunjukkan adanya tanda gangguan fisik. Hal tersebut tidak berarti bahwa langkah pemeriksaan fisik dapat dihilangkan atau hanya sepintas. Observasi menyeluruh terhadap pasien akan mengungkapkan pasien yang napasnya memburu pada waktu istirahat atau setelah melakukan tes fungsi paru.2 Mungkin ditemukan jari tabuh pada kasus asbestosis, berilosis atau kanker paru. Pada auskultasi paru dapa ditemukan krepitasi halus pada basal paru pasien dengan asbestosis atau silikosis. Mungkin terdapat mengi atau ronkhi pada pasien dengan asma yang berhubungan dengan pekerjaan. Manifestasi extrapulmonar penyakit berilium kronis, kanker paru atau mesotelioma ganas harus dicari jika dianggap perlu. Hal ini juga penting dalam menentukan diagnosis banding atau mencari kemungkinan terjadinya komplikasi, misalnya gagal jantung atau stenosis katup mitral yang mungkin tidak berhubungan dengan kerja.3 Pemeriksaan Fisik yang dapat dilakukan, antara lain : Tanda-tanda vital (suhu, tekanan darah, frekuensi napas, frekuensi nadi) Pemeriksaan fisik paru : inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi Umumnya pada pemeriksaan fisik pada pasien yang menderita penyakit paru akibat kerja akan didapatkan keluhan irtitsi saluran nafas bagian atas seperti : bersin-bersin, iritasi pada mata, hidung, stridor dan gambaran trakeobronkitis. Gejala sistemik dapat berupa mual, muntah, sakit kepala, kadang-kadang demam, pada keadaan berat dapat terjadi oedem pulmonum.
5

MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

c. Pemeriksaan Penunjang Rontgen paru Pemeriksaan rontgen paru menunjukkan infiltrate tidak nyata di beberapa tempat, mirip dengan edema paru atau bulatan opak kecil yang luas. Terdapat leukositosis pada tahap akut. Kesembuhan biasanya sempurna, tapi bisa kembali kambuh pada pajanan ulang. Kejadian kronis dan berulang- ulang akan menjurus terbentuknya fibrosis interstitialis kronis.3 Gambaran radiologi dari bisinosis tidak memberikan gambaran yang khas. Pada stadium dini tidak ditemukan kelainan radialogi paru. Pada stadium C1 - C3 gambaran yang mungkin didapatkan adalah gambaran bronkitis kronik dan empisema. Hal ini tidak dapat dibedakan. Hal yang dapat membedakannya adalah adanya r-iwayat Monday tightness dan riwayat pajanan debu kapas atau bahan lainnya yang dapat menyebabkan bisinosis.4

Test Fungsi Paru Tes fungsi paru saat istirahat (spirometri, volume paru, kapasitas difusi),merupakan tes

diagnostik yang penting untuk menentukan status fungsi paru pasien dengan penyakit paru kerja, terlebih pada proses interstitial. Spirometri merupakan suatu proses untuk mengukur seberapa besar ventilasi yang terjadi pada paru-paru. Untuk mengetahui volume udara yang terdapat di dalam paru dapat digunakan metode spirometri. Dalam pencatatan mengunakan spirometer terdapat 3 volum yang tercatat, yaitu volum tidal, volum cadangan inspirasi, volume cadangan ekspirasi. Dan terdapat satu jenis volume yang tidak dapat tercatat mengunakan spirometer yaitu volum residu. Volum tidal adalah jumlah udara yang keluar masuk paru-paru dalam keadaan normal. Volume cadangan inspirasi adalah volume udara ekstra yang masih dapat dihirup setelah inspirasi tidal. Volume cadangan ekspirasi adalah volume udara yang masih dapat dikeluarkan oleh paru-paru setelah melakukan ekspirasi dalam keadaan normal. Sedangkan volume residu adalah volume minimal yang terdapat dalam paru-paru, dan tidak dapat dikeluarkan oleh proses pernafasan. Dengan mengabungkan beberapa volume diatas dapat diperlihatkan beberapa kapasitas paru-paru. Kapasitas tersebut antara lain, kapasitas inspirasi, kapasitas residu fungsional, kapasitas vital, dan kapasitas paru total. Kapasitas inspirasi merupakan volume tidal ditambah dengan volume inspirasi, kapasitas ini menunjukan volume udara yang dihirup
MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012 6

seseorang setelah ekspirasi normal sampai dengan volume maksimum dari paru-paru tersebut. Yang berikutnya merupakan kapasitas residu fungsional. Kapasitas ini merupakan penjumlahan dari volume cadangan ispirasi dengan volume residu. Kapasitas ini menjelaskan udara yang masih terdapat dalam paru-paru saat akhir ekspirasi. Berikutnya adalah kapasitas vital paru-paru, kapasitas ini adalah kapasitas yang dimungkinkan dikeluarkan atau dimasukkannya udara oleh kemampuan otot-otot pada rongga dada. Oleh karena itu, kapasitas ini merupakan penjumlahan dari seluruh volume paru yang telah disebutkan diatas, keculai volume residu. Kapasitas yang berikutnya dalah volume residu, volume ini adalah volume total dari paru-paru. Kapasitas ini merupakan penjumlahan kapasitas yang telah disebutkan diatas.

Gambar 1. Spirometer (sumber:kepustakaan 3)

Perubahan pada fungsi paru merupakan suatu penanda yang pasti pengaruh debu kapas terhadap sistem pernapasan. Karakteristik yang khas pada penderita kelainan ini adalah adalah adanya penurunan kapasitas vital paru dan volume ekspirasi paksa dari paru. Kelainan ini bertambah parah bersamaan dengan bertambahnya lama kerja. Kelainan ini timbul pada hari pertama kerja dan akan hilang beberapahari. Mekanisme toleransi munkin saja terjadi tetapi dengan mekanisme yang tidak jelas. Pada bisinosis karakteristiknya adalah kelain obstruktif paru baik dapat berupa akut ataupun kronis. Penurunan fungsi paru terjadi pada hari pertama bekerja. Keparahan dari gejala sangat bergantung dari perubahan fungsi paru dan juga berperngaruh dari adaptasi. Beberapa penelitian menunjukan perubahan dari ukuran saluran pernapasan bagian distal, ini menunjukan perjalanan penyakit dari saluran napas distal. Penurunan dari FEV1 pada jangka waktu yang lama akan menyebabkan penurunan
MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012 7

fungsi paru pada pekerja secara permanen. Ini menunjukan bahwa pekerja kapas dan rami akan menurunkan fungsi paru. Pada keadaan yang lanjut akan terjadi kombinasi dari gangguan obstruktif dan restriktif. Pada penelitian yang dilakukan Fishwick dan Pickering menunjukan bahwa gangguan bronkus yang dialami pekerja sebesar 78%. Dan pada pekerja yang tidak berhubungan dengan tekstil hanya 17% yang mengalami gangguan bronkus.

d. Pemeriksaan tempat kerja Bila memungkinkan akan jauh lebih baik jika dilakukan survey pada tempat kerja, yang perlu di nilai adalah tentang pabrik ( bahan baku, proses produksi ,dan hasil produksi),aspek fisik , kimia, mekanik, ergonomic, biologi, psikososial, data tenaga kerja( menunjukan jumlah populasi yang terpajan), pelayanan kesehatan yang tersedia, serta fasilitas pendukung lain nya. 2. Pajanan yang dialami Pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh seorang tenaga kerja adalah esensial untuk dapat menghubungkan suatu penyakit dengan pekerjaannya. Untuk ini perlu dilakukan anamnesis mengenai riwayat pekerjaannya secara cermat dan teliti, yang mencakup: Penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh penderita secara kronologis5 Lama menekuni pekerjaan tersebut Bahan yang diproduksi Materi (bahan baku) yang digunakan Jumlah pajanannya Pemakaian alat perlindungan diri Pola waktu terjadinya gejala6-8 Informasi mengenai tenaga kerja lain (apakah ada yang mengalami gejala serupa) Informasi tertulis yang ada mengenai bahan-bahan yang digunakan (Material Safety Data Sheet/MSDS), label, dan sebagainya.1
8

Faktor-faktor bahaya yang disebabkan oleh kondisi lingkungan kerja antara lain adalah :
MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

Faktor fisik, misalnya: penerangan, suara, radiasi, suhu, kelembaban dan tekanan udara, ventilasi. Faktor kimia, misalnya : gas, uap, debu, kabut, asap, awan, cairan, abu terbang dan benda padat. Faktor biologi, misalnya : virus dan bakteri baik dari golongan tumbuhan atau hewan. Faktor ergonomi atau fisiologis, misalnya : konstruksi mesin, sikap dan cara kerja. Dan Faktor mental - psikologis, misalnya : suasana kerja, hubungan diantara pekerja dan pengusaha Pajanan yang di alami pada kasus bisinosis terutama berupa factor kimia organic yakni debu kapas yang berperan sebagai etiologi dari penyakit tersebut Debu merupakan salah satu bahan yang sering disebut sebagai partikel yang melayang di udara Suspended Particulate Matter / SPM) dengan ukuran 1 mikron sampai dengan 500 mikron. Debu industri yang terdapat di udara dibagi menjadi 2, yaitu : Deposite particulate matter yaitu partikel debu yang hanya sementara di udara. Partikel ini akan segera mengendap karena daya tarik bumi. Suspended particulate matter adalah debu yang tetap berada di udara dan tidak mudah mengendap.9 Debu kapas merupakan salah satu debu yang berasal dari makhluk hidup atau di sebut debu organic, nilai ambang batas untuk debu kapas menurut WHO ; 0,2 mg/m3 untuk pemintalan dan 0,75 mg/m3. Sedangkan penelitian ukuran tersebut dapat mencapai target organ sebagai berikut : 1. Partikel diameter > 5,0 mikron terkumpul di hidung dan tenggorokan., ini dapat menimbulkan efek berupa iritasi yang ditandai dengan gejala faringitis. 2. Partikel diameter 0,5 5,0 mikron terkumpul di paru paru hingga alveoli, ini dapat menimbulkan efek berupa bronchitis, alergi, atau asma 3. Partikel diameter < 0,5 mikron terkumpul di alveoli dan dapat terabsorbsi ke dalam darah.
9

MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

3. Hubungan pajanan dengan penyakit Tentukan apakah pajanan tersebut memang dapat menyebabkan penyakit tersebut. Apakah terdapat bukti-bukti ilmiah dalam kepustakaan yang mendukung pendapat bahwa pajanan yang dialami menyebabkan penyakit yang diderita. Jika dalam kepustakaan tidak ditemukan adanya dasar ilmiah yang menyatakan hal tersebut di atas, maka tidak dapat ditegakkan diagnosa penyakit akibat kerja. Jika dalam kepustakaan ada yang mendukung, perlu dipelajari lebih lanjut secara khusus mengenai pajanan sehingga dapat menyebabkan penyakit yang diderita (konsentrasi, jumlah, lama, dan sebagainya).10.11 Ditanyakan juga pendapat pekerja tentang keluhan yang dirasakannya. Apakah keluhan atau gejala tersebut timbul akibat pekerjaanya atau tidak.1

Partikel debu dapat menimbulkan penyakit atau tidak bergantung kepada: a. Ukuran partikel debu Bila partikel debu yang masuk ke dalam paru berukuran diameter 2-10 mikron, ia akan tertahan dan melekat pada dinding saluran pernafasan bagian atas.12 Sedang yang berukuran 3-5 mikron akan masuk lebih dalam dan tertimbun pada saluran nafas bagian tengah. Partikel debu yang berukuran 1-3 mikron akan masuk lebih dalam lagi sampai ke alveoli dan mengedap. Sedangkan yang ukurannya lebih kecil dari 1 mikron, tidak mengendap di alveoli karena teramat ringan dan pengaruh adanya peredaran udara. b. Distribusi dari partikel debu yang terinhalasi c. Kadar dan lamanya paparan Biasanya diperlukan kadar yang tinggi untuk dapat mengalahkan kerja eskalator silia dengan waktu paparan yang lama. Pada bisinosis, memerlukan waktu paparan selama 5 tahun. d. Sifat debu Bahan-bahan tertentu terutama debu organik seperti serat kapas dapat menimbulkan bisinosis. e. Kerentanan individu
10

MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

Hal ini sulit diperkirakan karena individu yang berbeda dengan paparan yang sama akan menimbulkan rekasi yang berbeda. Diperkirakan dalam paparan terhadap bahan kimia dan debu dapat merusak epitelium saluran nafas, sensitasi reseptor sensoris sehingga dapat meningkatkan refleks bronkokonstriksi f. Pembersihan partikel debu Terdapat dua mekanisme pembersihan partikel debu, yaitu mukosiliaris dan pengaliran limopatik. Efisiensi mekanisme ini bervariasi tiap individu. Pembersihan partikel tergantung dari mana partikel tersebut didepositkan. Partikel yang tertinggal di atas mukus siliaris epitelium, sistem silia akan mendorong partikel tersebut ke faring, kemudian akan ditelan atau dibatukkan keluar bersama mukus. Partikel yang tertimbun pada daerah distal, pada saluran nafas yang tidak mengandung silia dibersihkan lebih lambat, partikel ini akan difagositir oleh makrofag kemudian dibawa ke saluran nafas yang dilapisis epitel bersilia sehingga ikut terbang melalui mukus. Sebagian partikel akan tertinggal di parenkim paru atau dibawa oleh makrofag melalui sistem limfatik.5

4. Pajanan yang di alami cukup besar Jika penyakit yang diderita hanya dapat terjadi pada keadaan pajanan tertentu, maka pajanan yang dialami pasien di tempat kerja menjadi penting untuk diteliti lebih lanjut dan membandingkannya dengan kepustakaan yang ada untuk dapat menentukan diagnosis penyakit akibat kerja. Untuk mengetahui apakah besar pengaruh suatu pajanan itu, harus diteliti patofisiologi penyakit yang dapat ditimbulkan oleh pajanan tersebut dan juga bukti epidemiologis penyakit tersebut. Harus diteliti secara kualitatif cara atau proses kerja, lama kerja dan lingkungan kerja. Dilakukan juga observasi di tempat dan lingkungan kerja dan diperiksa apakah pekerja mengaplikasikan pemakaian APD (alat pelindung diri).2

a. Patofisiologi penyakit Teori alergi atau imunologi


11

MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

Paparan terhadap debu kapas menyebabkan iritasi saluran nafas bagian atas dan bronkus, di mana setelah paparan yang lama perlahan-lahan berlanjut menjadi penyakit paru obstruktif kronik. Teori pelepasan histamin dan mediator lainnya. Ada bukti bahwa suatu zat toksik yang melepaskan histamin mungkin bertanggung jawab atas gejala-gejala khas bisinosis, yaitu sesak nafas pada hari pertama bekerja. Secara luas diyakini bahwa kerja pelepasan histamin ini disebabkan oleh senyawa molekuler kecil yang larut air dan stabil panas, yang berasal dari bulu-bulu tanaman kapas. Mekanisme kemotaktik Aktivitas endotoksin13 Inhalasi endotoksin bakteri gram negatif telah terbukti dapat menyebabkan gejalagejala menyerupai bisinosis. Teori enzim Enzim dapat bekerja melalui tiga mekanisme, yaitu: 1. Enzim berperan sebagai alergen dan mengakibatkan pembentukan IgE yang dapat menimbulkan gejala asma bronkial dan rinitis 2. Enzim yang berasal dari Bacillus subtilis dan Aspergillus oryzae dalam debu kapas melepas histamin secara nonspesifik. 3. Enzim dapat merusak jaringan secara langsung

b. Kualitatif Proses kerja pasien berhubungan dengan debu dari kapas, ditambah pasien mungkin sudah bekerja di pabrik tersebut selama beberapa tahun, sehingga telah terpajan dengan debu dalam waktu yang lama.

c. Observasi tempat dan lingkungan kerja Yang menjadi masalah terhadap lingkungan adalah adanya limbah kapas yang berterbangan (flying waste) dan berserakan di ruangan pabrik maupun di luar pabrik (halaman dan sekitarnya). Upaya mengurangu flying waste ini harus dipsang alat pengisap debu kapas dan cerobong-cerobong dalam pabrik diberi kisi-kisi/saringan.
12

MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

Demikian pula di luar pabrik diupayakan reboisasi (hutan buatan) sebagai paru-paru pabrik untuk mengurangi flying waste di sekitar lingkungan pabrik.14,15 Sanitasi terhadap fasilitas di pabrik seperti kamar mandi, tenpat ganti pakaian, dan ruang transit pekerja harus diperhatikan. Salah satu bagian yang penting pada sanitasi lingkungan kerja adalah ketatarumahtanggaan (layout mesin-mesin dan peralatan).

d. Pemakaian alat pelindung diri Pemakaian masker dapat menghindari dari potensi paparan debu kapas

e. Jumlah pajanan suhu lingkungan kerja pasca lokasi penyimpanan bahan baku I (bill store) hingga proses pemintalan kapas menjadi benang (finishing) melebihi ambang batas kenyamanan bekerja 21-30 oC.5-7 penerangan pacta setiap tempat pemrosean pemintalan kapas umumbya masih kurang dari yang disyarakan (100 lux) untuk penerangan yang cukup agar pekerja dapat membedakan barang-barang kecil secara sepintas. tingkat kebisingan yang melebihi ambang batas pendengaran (>85 dB) terdapat pada mesin speed. spinningn and finishing. untuk mengatasi kebisingan ini, perusahaan harus menyediakan alat pelindung pendengaran (ear plug/sumbatan telinga). Oleh karena sifat dari ear plug tersebut lama-lama menjadi keras sehingga pekerja tidak memakainya dan berusaha untuk menggantikan dengan memakai seumbat kapas. Upaya proteksi pendengaran ini masih belum maksimal. pada proses pemintalan, limbah debu kapas (flying waste) paling banyak didapat pada proses blowing. carding and spinning. Limbah aktual pada pekerjaan blowing dan carding masing-masing sebesar 3,5% dan 2,5%. Hasil pengukuran terhadap kandungan debu kapas pada dua titik pengukuran pada setiap ruangan dengan waktu yang berbeda ternyata pada debu kapasnya. Mengingat limbah kapas yang dihasilkan paling banyak. Potensi paparan debu kapas di ketiga lokasi tersebut di atas mengisyaratkan pekerja harus memakai masker.8,9
13

MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

5. Peranan factor individu Meneliti apakah ada faktor individu yang dapat mempercepat atau memperlambat kemungkinan terjadi penyakit akibat hubungan kerja misalnya: Status kesehatan fisik: o Alergi o Riwayat penyakit keluarga (status genetik) o Kebiasaan olahraga Status kesehatan mental Higiene perorangan Kebiasaan merokok Kebiasaan memakai alat pelindung dengan baik.1,2

6. Factor lain di luar pekerjaan a. Hobi pekerja yang berhubungan dengan debu b. Kebiasaan merokok ditambah paparan terhadap debu meningkatkan risiko bisinosis c. Pasien mungkin terpajan debu di rumah karena tidak mempunyai sistem ventilasi yang bagus serta hygiene yang buruk d. Pekerjaan sambilan pasien yang terkait dengan debu atau asap kotoran.3,7

7. Diagnosis okupasi Sesudah menerapkan ke enam langkah di atas perlu dibuat suatu keputusan berdasarkan informasi yang telah didapat yang memiliki dasar ilmiah. Seperti telah disebutkan sebelumnya, tidak selalu pekerjaan merupakan penyebab langsung suatu penyakit, kadangkadang pekerjaan hanya memperberat suatu kondisi yang telah ada sebelumnya. Hal ini perlu dibedakan pada waktu menegakkan diagnosis. Suatu pekerjaan/pajanan dinyatakan sebagai penyebab suatu penyakit apabila tanpa melakukan pekerjaan atau tanpa adanya pajanan tertentu, pasien tidak akan menderita penyakit tersebut pada saat ini.
14

MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

Sedangkan pekerjaan dinyatakan memperberat suatu keadaan apabila penyakit telah ada atau timbul pada waktu yang sama tanpa tergantung pekerjaannya, tetapi pekerjaannya/ pajanannya memperberat/ mempercepat timbulnya penyakit. - meneliti langkah 1 sampai 6 - melihat referensi/ bukti ilmiah hubungan kausal pajanan dan penyakit : pasien ini menderita PAK (penyakit akibat kerja) : Occupational Diseases)

2.2 DIAGNOSIS KERJA - BISSINOSIS

Definisi Bisinosis adalah penyakit paru akibat kerja dengan karakteristik penyakit saluran udara akut atau kronis yang dijumpai pada pekerja pengolahan kapas, rami halus, dan rami.

Agen penyebab/pekerja berisiko Penyebab sebenarnya tidak diketahui tapi secara umum diterima bahwa penyakit ini disebabkan pajanan terhadap kapas, rami halus, dan rami. Pekerja kapas yang paling berisiko adalah mereka yang berada di kamar peniup dan penyisir tempat pajanan terhadap debu kapas mentah paling tinggi.

Gambaran Klinis Penyakit ini memiliki ciri : 1. Nafas pendek dan dada sesak4-7 2. Gejala paling nyala dialami paada hari pertama kerja seminggu (sesak pada senin pagi) 3. Mungkin disertai batuk yang lama-kelamaan menjadi basah berdahak. 4. Pengukuran fungsi paru (sebelum dan sesudah giliran tugas) dapat menghasilkan penurunan FEV1 melampaui giliran tugas. Pada sebagian besar individu, temuan ini akan berkurang atau hilang pada hari kedua bekerja. 5. Dengan pajanan yang berkepanjangan, baik gejala maupun perubahan fungsi akan menjadi lebih berat dan mungkin akan menetap selama seminggu kerja.
MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012 15

Gejala bisinosis di bagi dalam 4 derajat , yaitu : Derajat 0 Derajat Derajat 1 Derajat 2 Tidak ada gejala Kadang-kadang dada tertekan pada hari pertama kerja Dada tertekan atau sesak napas tiap hari pertama minggu kerja Rasa berat didada dan sukar bernafas tidak hanya pada hari pertama tapi pada hari lain minggu kerja Derajat 3 Gejala seperti derajat 2 ditambah toleransi terhadap aktivitas secara menetap dan pengurungan kapasitas ventilasi Table 1 : Derajat derajat bissinosis5-9

Diagnosis bisinosis ditegakkan berdasarkan adanya riwayat klinis dan riwayat pajanan. Gambaran penurunan FEV1 yang bermakna (10% atau lebih) setelah terpajan selama 6 jam pada hari pertama bekerja setelah akhir minggu memberikan bukti objektif tentang efek akut. Derajat perbaikan penyumbatan jalan napas dapat dikaji dengan tes FEV1 sebelum tugas dilakukan setelah 2 hari tidak terpajan.1

2.3 DIAGNOSIS BANDING Asma karena pekerjaan 3 Definisi Asma karena pekerjaan adalah suatu penyakit saluran pernafasan yang ditandai dengan serangan sesak nafas dan batuk, yang disebabkan oleh berbagai bahan yang ditemui di tempat kerja yang menimbulkan gangguan aliran nafas dan hipereaktiviti bronkus yang terjadi akibat suatu keadaan di lingkungan kerja dan tidak terjadi pada rangsangan diluar tempat kerja. Gejala-gejala tersebut biasanya timbul akibat kejang pada otot-otot yang melapisi saluran udara, sehingga saluran udara menjadi sangat sempit.
16

MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

Etiologi Banyak bahan (alergen, penyebab terjadinya gejala) di tempat kerja yang bisa menyebabkan asma karena pekerjaan. Yang paling sering adalah molekul protein (debu kayu, debu gandum, bulu binatang, partikel jamur) atau bahan kimia lainnya (terutama diisosianat). Angka yang pasti dari kejadian asma karena pekerjaan tidak diketahui, tetapi diduga sekitar 2-20% asma di negara industri merupakan asma karena pekerjaan.

Gambaran Klinis Gejala biasanya timbul sesaat setelah terpapar oleh alergen dan seringkali berkurang atau menghilang jika penderita meninggalkan tempat kerjanya. Gejala seringkali semakin memburuk selama hari kerja dan membaik pada akhir minggu atau hari libur. Beberapa penderita baru mengalami gejalanya dalam waktu 12 jam setelah terpapar oleh alergen. Gejalanya berupa: sesak napas, bengek atau mengi, batuk, dan merasakan sesak di dada.

Diagnosis Dalam riwayat perjalanan penyakit, biasanya penderita merasakan gejala yang semakin memburuk jika terpapar oleh alergen tertentu di lingkungan tempatnya bekerja. Pada pemeriksaan dengan stetoskop akan terdengar bunyi wheezing (bengek, mengi). Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:

Tes fungsi paru Pengukuran puncak laju aliran ekspirasi sebelum dan sesudah bekerja Rontgen dada Hitung jenis darah Tes provokasi bronkial (untuk mengukur reaksi terhadap alergen yang dicurigai) Tes darah untuk menemukan antibodi khusus.

17

MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

Pneumonitis Hipersensitif 3

Definisi Pneumonitis Hipersensitivitas (Alveolitis Alergika Ekstrinsik, Pneumonitis Interstisial Alergika, Pneumokoniosis Debu Organik) adalah suatu peradangan paru yang terjadi akibat reaksi alergi terhadap alergen (bahan asing) yang terhirup. Alergen bisa berupa debu organik atau bahan kimia (lebih jarang). Debu organik bisa berasal dari hewan, jamur atau tumbuhan.

Etiologi Pneumonitis hipersensitivitas biasanya merupakan penyakit akibat pekerjaan, dimana terjadi pemaparan terhadap debu organik ataupun jamur, yang menyebabkan penyakit paru akut maupun kronik. Pemaparan juga bisa terjadi di rumah, yaitu dari jamur yang tumbuh dalam alat pelembab udara, sistem pemanas maupun AC. Penyakit akut bisa terjadi dalam waktu 4-6 jam setelah pemaparan, yaitu pada saat penderita keluar dari daerah tempat ditemukannya alergen. Penyakit kronik disertai perubahan pada foto rontgen dada bisa terjadi pada pemaparan jangka panjang. Penyakit kronik bisa menyebabkan terjadinya fibrosis paru (pembentukan jaringan parut pada paru). Contoh dari pneumonitis hipersensitivitas yang paling terkenal adalah paru-paru petani (farmer's lung), yang terjadi sebagai akibat menghirup bakteri termofilik di gudang tempat penyimpanan jerami secara berulang. Hanya sebagian kecil orang yang menghirup debu tersebut yang akan mengalami reaksi alergi dan hanya sedikit dari orang yang mengalami reaksi alergi, yang akan menderita kerusakan paru-paru yang menetap. Secara umum, untuk terjadinya sensitivitas dan penyakit ini, pemaparan terhadap alergen harus terjadi secara terus menerus dan sering.

Tabel 2. Penyebab Pneumonitis Hipersensitivitas Penyakit Paru-paru petani Paru-paru pemelihara burung Paru-paru peternak burung dara Paru-paru pemelihara ayam betina
MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

Sumber Partikel Debu Jerami yang berjamur Kotoran betet, burung dara, ayam
18

Paru-paru penyejuk ruangan Bagassosis Paru-paru pekerja jamur Paru-paru pekerja gabus (Suberosis) Penyakit kayu maple Paru-paru pekerja gandum Sequoiosis Paru-paru pekerja keju Penyakit kumbang gandum Paru-paru pekerja kopi Paru-paru pekerja atap Paru-paru pekerja kimia

Pelembab udara, penyejuk ruangan Limbah tebu Pupuk jamur Gabus yang berjamur Kayu maple yang berjamur Gandum yang berjamur Debu kayu merah yang berjamur Keju yang berjamur Tepung gandum yang terinfeksi Biji kopi Serabut atau tali yang digunakan untuk atap Bahan kimia yang digunakan untuk membuat serabut busa poliuretan, penyekatan, molding, karet tiruan dan bahan pembungkus

Manifestasi klinis Gejala dari pneumonitis hipersensitivitas akut:


batuk demam menggigil sesak nafas merasa tidak enak badan.

Gejala pneumonitis hipersensitivitas kronis:


sesak nafas, terutama ketika melakukan kegiatan batuk kering nafsu makan berkurang penurunan berat badan.
19

MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

Diagnosis Pada pemeriksaan dengan stetoskop, terdengar suara pernafasan ronki. Pemeriksaan yang biasa dilakukan:
a. b. c. d.

Rontgen dada Tes fungsi paru Hitung jenis darah Pemeriksaan antibodi

e. Presipitan aspergillus f. CT scan dada resolusi tinggi g. Bronkoskopi disertai pencucian atau biopsi transtrakeal

2.4 PENATALAKSANAAN

Medikamentosa Untuk meringankan gejala, biasanya diberikan bronkodilator, baik dalam bentuk hirup (albuterol) maupun tablet (theophylline). Pada kasus yang lebih berat bisa diberikan corticosteroid.

Nonmedikamentosa Pasien dengan gejala khas yang menunjukkan penurunan FEV1 10 % atau lebih harus dipindahkan ke daerah yang tidak terpajan. Pasien dengan penyumbatan jalan nafas sedang atau berat, misalnya FEV1 lebih rendah dari 60% dari nilai yang diperkirakan, juga harus lebih baik tidak terpajan lebih lanjut. Edukasi perubahan cara kerja Pengobatan terpenting bagi pasien bisinosi sadalah menyingkirkannya dari lingkungan kerja yang potensial risiko tinggi. Dalam pelaksanaannya biasanya para pekerja dilakukan putar kerja.

20

MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

2.5 PENCEGAHAN / PENGENDALIAN

1. Edukasi dimana diberikan penyuluhan-penyuluhan agar para pekerja tidak selalu sering berada dekat pada pajanan atau cara kerjanya diubah: Melakukan proses produksi dengan cara membasahi tempat produksi sehingga tidak menghasilkan debu dengan kadar yang tinggi. Bila bahan yang berbahaya tidak dapat dihilangkan, pajanan terhadap pekerja dapat dihindari dengan mengisolasi proses produksi. Teknik ini telah digunakan dalam menangani bahan radioaktif dan karsinogen, dan juga telah berhasil digunakan untuk mencegah asma kerja akibat pemakaian isosianat dan enzim proteolitik. Bila proses isolasi produksi tidak bisa dilakukan, maka masih ada kemungkinan untuk mengurangi bahan pajanan dengan ventilasi keluar ( exhaust ventilation ). Metode ventilasi keluar telah berhasil digunakan untuk mengurangi kadar debu di industri batubara dan asbes.

2. Teknik Eliminasi Pemeriksaan prakerja Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan dokter sebelum tenaga kerja diterima untuk melakukan pekerjaan, meliputi: Pemeriksaan fisik lengkap Kesegaran jasmani Rontgen paru-paru (bilamana mungkin) Laboratorium rutin Pemeriksaan lain yang dianggap penting Tujuan pemeriksaan Kesehatan sebelum bekerja Memastikan pekerja dalam kondisi kesehatan yang setinggi-tingginya Tidak mempunyai penyakit menular Cocok dengan pekerjaannya.
21

MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

Pemeriksaan berkala Pemeriksaan kesehatan pada waktu-waktu tertentu terhadap tenaga kerja yang dilakukan oleh dokter. Dilakukan minimal setahun sekali. Tujuan pemeriksaan kesehatan berkala:

Mempertahankan derajat kesehatan tenaga kerja sesudah berada dalam pekerjaannya Menilai kemungkinan adanya pengaruh pekerjaan terhadap kesehatan Bila ada penyakit akibat kerja wajib lapor ke Dirjen Binalindung Tenaga Kerja melalui Kanwil Ditjen Binalindung Tenaga kerja. Pemeriksaan ini meliputi: Pemeriksaan fisik lengkap Kesegaran jasmani Rontgen paru-paru Laboratorium rutin Pemeriksaan lain yang dianggap penting( spirometri)

Pemeriksaan khusus Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh dokter secara khusus terhadap tenaga kerja tertentu. Sasaran pemeriksaan kesehatan khusus:

o Tenaga kerja yang mengalami kecelakaan atau penyakit yang membutuhkan perawatan yang lebih dari 2 minggu. o Tenaga kerja yang berusia di atas 40 tahun atau tenaga kerja wanita dan tenaga kerja cacat serat tenaga kerja muda yang melakukan pekerjaan tertentu. o Tenaga kerja yang terdapat dugaan-dugaan tertentu mengenai gangguan-gangguan kesehatan perlu dilakukan pemeriksaan khusus sesuai dengan kebutuhan o Terdapat keluhan-keluhan di antara tenaga kerja, atau atas pengamatan petugas pengawas K3 atau penilaian Pusat Bina Hiperkes atau pendapat umum masyarakat. Pengenceran Pengenceran dilakukan jika bahan bahan yang dipakai di pabrik berupa bahan kimia. Dimana untuk mengurangi toksisitas, maka bahan tersebut diencerkan.
22

MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

3. APD Alat pelindung diri di sini bukan hanya sekedar masker, namun yang terbaik adalah respirator. Respirator adalah suatu masker yang menggunakan filter sehingga dapat membersihkan udara yang dihisap. Ada 2 macam respirator, yaitu yang half-face respirator, di sini berfungsi hanya sebagai penyaring udara, dan full-face respirator, yaitu sekaligus berfungsi sebagai pelindung mata.Pemakaian respirator adalah usaha terakhir, bila usaha lain untuk mengurangi pajanan tidak memberikan efek yang optimal. Untuk menggunakan respirator, seseorang harus melalui evaluasi secara medis.Hal ini penting karena respirator tidak selalu aman bagi setiap orang.Pemakaian respirator dapat berakibat jantung dan paru bekerja lebih keras sehingga pemakaian respirator dapat menjadi tidak aman bagi penderita asma, gangguan jantung atau orang yang mempunyai masalah dengan saluran napasnya. Pelatihan bagi pekerja yang akan menggunakan respirator sangat penting. Dengan pelatihan tersebut pekerja diberi pemahaman tentang jenis respirator, cara memilih respirator yang cocok, cara pemakaian serta cara perawatan agar tidak mudah rusak.

23

MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

BAB 3 PENUTUP
1. Penyakit Bisinosis adalah penyakit pneumoconiosis yang disebabkan oleh pencemaran debu napas atau serat kapas di udara yang kemudian terhisap ke dalam paru-paru. 2. Pekerja-pekerja yang bekerja di lingkungan pabrik tekstil, yang mengolah kapas semuanya termasuk mempunyai risiko timbulnya bissinosis. 3. Secara umum penyebab yang dapat diterima bahwa penyakit ini disebabkan pajanan terhadap kapas. 4. Diperkirakan pathogenesis penyakit ini yaitu sesudah debu inorganik dan bahan pertikel terinhalasi akan melekat pada permukaan mukosa saluran napas (bronkiolus respira-torius, duktus alveolaris dan alveolus) karena tempat tersebut basah sehingga mudah ditempeli debu. 5. Derajat-derajat bisinosis dibagi dalam Derajat C1/2, Derajat Cl, Derajat C2 dan Derajat C3. 6. Gejala klinik Penyakit ini memiliki ciri napas pendek dan dada sesak. Gejala paling nyata dialami pada hari pertama hari kerja seminggu ("Sesak pada senin pagi"). 7. Pendekatan diagnosis pada pasien dengan penyakit paru lingkungan maupun penyakit paru kerja memerlukan aktivitas proses diagnosis yang lazim, yaitu meliputi anamnesis secara sistetnatik, lengkap dan terarah, pemeriksaan fisis dan beberapa pemeriksaan penunjang yang diperlukan. 8. Pengobatan terpenting bagi pasien bissinosis adalah menyingkirkannya dari lingkungan kerja yang potensial risiko tinggi.

Kesimpulan : Pekerja pabrik garmen merasa berat di dada atau nafas pendek disertai demam dan nyeri otot pada setiap hari pertama kembali bekerja dari libur panjang atau sehabis libur Sabtu dan Minggu di diagnosa menderita bissinosis akibat paparan di tempat kerja. Hipotesis diterima.
24

MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012

BAB 4 DAFTAR PUSTAKA


1. Suryadi. Buku ajar praktik kedokteran kerja. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007. h. 234-7. 2. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2007. h. 135-6. 3. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrta MK, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006. h. 94-7. 4. Baratwidjaja GK, Harjono. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid II. Edisi ke-3. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2001. 5. Darmanto, D. Respirologi (respiratory medicine). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;2007.h. 155-8 6. Djojodibroto D. Respirologi. Jakarta: EGC;2009.h.198-202. 7. J.M Harrington. Buku saku kesehatan kerja. Edisi ke-3. Jakarta:EGC;2003.h.87-93. 8. J.Jeyaratnam, David K. Buku ajar praktik kedokteran kerja. Jakarta:EGC;2009.h.6586,351-68. 9. Rahmatullah P. Buku ajar IPD jilid 3. Edisi ke-5. Jakarta: InternaPublishing;2009.h.228791. 10. John R. Ikhtisar Kesehatan dan Keselamatan Kerja.Edisi ke-3. Jakarta:penerbit Erlangga;2006.h.142-3,178-180. 11. Levy.S.B. Occupational HEALTH: recognizing and preventing work-related disease and injury. Edisi 4. Philadelphia: Lippincott Williams &Wilkins;2000.hal 491-2. 12. Kumar V, Cotran R.S, Robbins S.L. Pneumokoniosis. Dalam: Buku ajar patologi Robbins. edisi ke-7 volume 1. 2007. Hal 301-7 13. Ridley, John. Ikhtisar kesehatan dan keselamatan kerja. Jakarta : Penerbit Erlangga. 2008. Hal142. 14. LaDou J.Current occupational and environmental medicine. Edisi 4.USA: McGraw-Hill Companies;2007.Hal.310-32. 15. Rajhans GS,Pathak BP.Practical guide to respirator usage in industry. Edisi 2.USA:Elsevier science;2002.Hal 47-77
25

MAKALAH KELOMPOK B8 | UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012