Anda di halaman 1dari 6

PENATALAKSANAAN BV Penyakit baktrerial vaginosis merupakan penyakit yang cukup banyak ditemukan dengan gambaran klinis ringan tanpa

komplikasi. Sekitar 1 dari 4 wanita akan sembuh dengan sendirinya, hal ini diakibatkan karena organisme Lactobacillus vagina kembali meningkat ke level normal, dan bakteri lain mengalami penurunan jumlah. Namun pada beberapa wanita, bila bakterial vaginosis tidak diberi pengobatan, akan menimbulkan keadaan yang lebih parah. Oleh karena itu perlu mendapatkan pengobatan, dimana jenis obat yang digunakan hendaknya tidak membahayakan dan sedikit efek sampingnya. 7 Semua wanita dengan bakterial vaginosis simtomatik memerlukan pengobatan, termasuk wanita hamil. Setelah ditemukan hubungan antara bakterial vaginosis dengan wanita hamil dengan prematuritas atau endometritis pasca partus, maka penting untuk mencari obat-obat yang efektif yang bisa digunakan pada masa kehamilan. Ahli medis biasanya menggunakan antibiotik seperti metronidazol dan klindamisin untuk mengobati bakterial vaginosis. 6,7,9 a. Terapi sistemik Metronidazol merupakan antibiotik yang paling sering digunakan yang memberikan keberhasilan penyembuhan lebih dari 90%, dengan dosis 2 x 400 mg atau 500 mg setiap hari selama 7 hari. Jika pengobatan ini gagal, maka diberikan ampisilin oral (atau amoksisilin) yang merupakan pilihan kedua dari pengobatan keberhasilan penyembuhan sekitar 66%).4,6,16,20 o Kurang efektif bila dibandingkan regimen 7 hari o Mempunyai aktivitas sedang terhadap G.vaginalis, tetapi sangat aktif terhadap bakteri anaerob, efektifitasnya berhubungan dengan inhibisi anaerob. 1 Metronidazol dapat menyebabkan mual dan urin menjadi gelap. 7 Klindamisin 300 mg, 2 x sehari selama 7 hari. Sama efektifnya dengan metronidazol untuk pengobatan bakterial vaginosis dengan angka kesembuhan 94%. Aman diberikan pada wanita hamil. Sejumlah kecil klindamisin dapat menembus ASI, oleh karena itu sebaiknya menggunakan pengobatan intravagina untuk perempuan menyusui. 6 Amoksilav (500 mg amoksisilin dan 125 mg asam klavulanat) 3 x sehari selama 7 hari. Cukup efektif untuk wanita hamil dan intoleransi terhadap metronidazol. 6 Tetrasiklin 250 mg, 4 x sehari selama 5 hari. 6 Doksisiklin 100 mg, 2 x sehari selama 5 hari. 6 Eritromisin 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari. 6 Cefaleksia 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari. 6 b. Terapi Topikal

Metronidazol gel intravagina (0,75%) 5 gram, 1 x sehari selama 5 hari. 6 Klindamisin krim (2%) 5 gram, 1 x sehari selama 7 hari. 6 Tetrasiklin intravagina 100 mg, 1 x sehari. 6 Triple sulfonamide cream.3,6 (Sulfactamid 2,86%, Sulfabenzamid 3,7% dan Sulfatiazol 3,42%), 2 x sehari selama 10 hari, tapi akhir-akhir ini dilaporkan angka penyembuhannya hanya 15 45 %.6 Pengobatan bakterial vaginosis pada masa kehamilan. Terapi secara rutin pada masa kehamilan tidak dianjurkan karena dapat muncul masalah. 6,9 Metronidazol tidak digunakan pada trimester pertama kehamilan karena mempunyai efek samping terhadap fetus.6,12 Salah satu efek samping penggunaan Metronidazole ialah teratogenik pada trimester pertama.30 Dosis yang lebih rendah dianjurkan selama kehamilan untuk mengurangi efek samping (Metronidazol 200-250 mg, 3 x sehari selama 7 hari untuk wanita hamil). Penisilin aman digunakan selama kehamilan, tetapi ampisilin dan amoksisilin jelas tidak sama efektifnya dengan metronidazol pada wanita tidak hamil dimana kedua antibiotik tersebut memberi angka kesembuhan yang rendah. 6 Metronidazole dapat melewati sawar placenta dan memasuki sirkulasi ketuban dengan pesat. Studi reproduksi telah dilakukan pada tikus di dosis sampai lima kali dosis manusia dan dinyatakan tidak ada bukti perburukan kesuburan atau efek bahaya ke janin karena Metronidazole. Tidak ada efek fetotoxicity selama penelitian pemberian Metronidazole secara oral untuk tikus yang hamil pada 20 mg / kg / hari, dosis manusia (750 mg / hari) berdasarkan mg / kg berat badan.30 Pada trimester pertama diberikan krim klindamisin vaginal karena klindamisin tidak mempunyai efek samping terhadap fetus. Pada trimester II dan III dapat digunakan metronidazol oral walaupun mungkin lebih disukai gel metronidazol vaginal atau klindamisin krim. 6 Untuk keputihan yang ditularkan melalui hubungan seksual. Terapi juga diberikan kepada pasangan seksual dan dianjurkan tidak berhubungan selama masih dalam pengobatan. 21 Pengobatan secara oral atau lokal dapat digunakan untuk pengobatan pada wanita hamil dengan gejala VB yang resiko rendah terhadap komplikasi obstertri. Wanita tanpa gejala dan wanita tanpa faktor resiko persalinan preterm tidak perlu menjalani skrening rutin untuk pemngobatan bacterial vaginosis. Wanita dengan resiko tinggi persalinan preterm dapat mengikuti skrining rutin dan pengobatan bacterial vaginosis. Jika pengobatan untuk pencegahan terhadap komplikasi kehamilan dijalani, maka diharuskan menggunakan metronidazole oral 2 kali sehari selama 7 hari. Topical (pada vagina) tidak

direkomendasikan untuk indikasi ini. Test skrining harus diulangi 1 bulan setelah pengobatan untuk memastikan kesembuhan.31

2.9.1. Pengobatan

infeksi untuk mencegah persalinan prematur

Pada awal 1970an, penggunaan tetrasiklin dalam jangka panjang, yang dimulai pada trimester ketiga, ditemukan mengurangi frekuensi persalinan prematur baik pada wanita yang memiliki bakteriuria yang asimptomatik dan pada mereka yang tidak. Pengobatan ini jatuh hingga tidak berguna sama sekali, mungkin karena displasia tulang dan gigi infant terkait tetrasiklin. Hasil pengobatan dengan eritromisin, yang menargetkan ureaplasma atau mikoplasma pada vagina atau serviks, telah dicampur. Harus dicatat bahwa ureaplasma merupakan bagian mikroflora vagina pada banyak wanita dan keberadaannya di saluran genitalia bawah, tidak seperti keberadaannya pada saluran genitalia atas, tidak berhubungan dengan meningkatnya resiko persalinan prematur spontan. Pada tahun-tahun terakhir, percobaan pengobatan prenatal untuk mencegah persalinan prematur telah difokuskan pada vaginosis bakterialis, dengan membangkitkan minat tetapi hasilnya bercampur. Hasil keseluruhan menunjukkan bahwa wanita dengan persalinan prematur sebelumnya dan dengan vaginosis bakterialis yang didiagnosis pada trimester kedua, pengobatan selama satu minggu atau lebih dengan metronidazol oral, dan mungkin dengan eritromisin, menyebabkan berkurangnya insiden persalinan prematur secara signifikan. Tidak ada penurunan yang signifikan dalam persalinan prematur ketika antibiotik diberikan intravaginal, ketika penggunaan antibiotik lebih singkat atau regimen antibiotik tidak termasuk metronidazole atau ketika wanita yang diobati memiliki resiko rendah (didefinisikan sebagai tidak memiliki persalinan prematur sebelumnya). Untuk wanita dengan ketuban intak dan dengan gejala persalinan prematur, terapi antibiotik biasanya tidak menunda persalinan, mengurangi resiko persalinan prematur atau meningkatkan keluaran neonatus. Pada percobaan ini, wanita biasanya diobati dengan penisilin dan sefalosporin atau eritromisin. Namun, pada dua percobaan random yang kecil, penggunaan metronidazol dalam jangka waktu lama ditambah ampisilin menyebabakan penundaan yang penting hingga persalinan, meningkatkan berat badan 200 300 gram dalam berat badan lahir rata-rata, dan mengurangi insiden persalinan prematur dan menurunkan morbiditas neonatus jika dibandingkan dengan plasebo. Karena perhatian kami tentang penggunaan antibiotik yang berlebihan selama hamil dan sampel kecil dalam penelitian ini, kami enggan untuk merekomendasikan perubahan dalam

praktek saat ini. Untuk wanita yang datang dengan ketuban pecah dini, mencegah persalinan prematur merupakan tujuan yang tidak beralasan. Namun ada bukti penting bahwa terapi antibiotik untuk wanita ini selama seminggu atau lebih meningkatkan waktu untuk kelahiran dan mengurangi insiden korioamnionitis dan meningkatkan berbagai ukuran morbiditas neonatus. Persamaannya, pada wanita yang hasil test untuk streptokokus grup B positif dalam vagina, saat ini ada bukti bahwa terapi ampisilin selama perslainan mengurangi angka sepsis neonatorum dengan streptokokus grup B, tetapi bukan mereka dengan persalinan prematur spontan.

2.9.2 Wanita

Hamil dengan Resiko Rendah Kelahiran Preterm

Pada golongan ini tidak perlu dilakukan screening dan mengobati bacterial vaginosis. Pada penelitian Mc Donald et al terhadap terhadap perempuan dengan skala besar, tidak menemukan perbedaan dalam angka persalinan preterm pada 879 wanita secara acak dan diberikan metronidazole atau placebo pada kehamilan 24 dan 29 minggu. Kemudian Carey et al melaporkan tidak adanya perbedaan pada angka kelahiran preterm, berat kelahiran rendah, atau PPROM dari 1953 wanita hamil secara acak dan diberikan metronidazole atau placebo dari 8 sampai 22 minggu kehamilan.31

2.9.3. Wanita

Hamil dengan Resiko Tinggi Kelahiran Preterm

Meskipun penelitian terhadap wanita resiko rendah persalinan preterm belum menunjukan manfaat dalam mengobati bacterial vaginosis dalam kehamilan, namun pada wanita hamil dengan resiko tinggi untuk prematur mempunyai hasil manfaat yang lebih baik. Morales et al mempublikasikan hail penelitian studi secara kohort dari 80 wanita dari 13-20 minggu kehamilan dengan bacterial vaginosis dan wanita engan riwayat melahirkan preterm yang secara acak diberikan metronidazole dan placebo secara oral. 50 wanita dengan grup pengobatan mempunyai insidensi kelahiran preterm, berat bayi lahir rendah, dan PPROM yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan grup placebo. 31

2.10. KOMPLIKASI Pada kebanyakan kasus, bakterial vaginosis tidak menimbulkan komplikasi setelah pengobatan.5,12 Namun pada keadaan tertentu, dapat terjadi komplikasi yang berat. 11 Bakterial vaginosis sering dikaitkan dengan penyakit radang panggul (Pelvic Inflamatory

Disease/PID), dimana angka kejadian bakterial vaginosis tinggi pada penderita PID. 5,6 Pada penderita bakterial vaginosis yang sedang hamil, dapat menimbulkan komplikasi antara lain : kelahiran prematur, ketuban pecah dini, bayi berat lahir rendah, dan endometritis post partum. Oleh karena itu, beberapa ahli menyarankan agar semua wanita hamil yang sebelumnya melahirkan bayi prematur agar memeriksakan diri untuk screening vaginosis bakterial, walaupun tidak menunjukkan gejala sama sekali. 5,6 Mekanisme vaginosis bakterialis menyebabkan BBLR belum diketahui, tetapi terdapat bukti dengan adanya infeksi traktus genitalia bagian atas dapat membuat kelahiran prematur, melalui proses inflamasi.32 Endometritis adalah radang pada dinding uterus yang umumnya disebabkan oleh partus. Dengan kata lain endometritis didefinisikan sebagai inflamasi dari endometrium Derajat efeknya terhadap fertilitas bervariasi dalam hal keparahan radang , waktu yang diperlukan intuk penyembuhan lesi endometrium, dan tingkat perubahan permanen yang merusak fungsi dari glandula endometrium dan/atau merubah lingkungan uterus dan/atau oviduk. Organisme nonspesifik primer yang dikaitkan dengan patologi endometrial adalah Corynebacterium pyogenes dan gram negatif anaerob. 33 Bakterial vaginosis disertai peningkatan resiko infeksi traktus urinarius. Prinsip bahwa konsentrasi tinggi bakteri pada suatu tempat meningkatkan frekuensi di tempat yang berdekatan. Terjadi peningkatan infeksi traktus genitalis atas berhubungan dengan bakterial vaginosis. 6

2.11. PROGNOSIS Prognosis bakterial vaginosis dapat timbul kembali pada 20-30% wanita walaupun tidak menunjukkan gejala. Pengobatan ulang dengan antibiotik yang sama dapat dipakai.9 Prognosis bakterial vaginosis sangat baik, karena infeksinya dapat disembuhkan.5 Dilaporkan terjadi perbaikan spontan pada lebih dari 1/3 kasus. Dengan pengobatan metronidazol dan klindamisin memberi angka kesembuhan yang tinggi (84-96%).5,6,20

KESIMPULAN

Bakterial vaginosis adalah suatu keadaan yang abnormal pada vagina yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri anaerob dalam konsentrasi tinggi (Bacteroides Spp, Mobilincus Spp, Gardnerella vaginalis, Mycoplasma hominis) menggantikan flora normal vagina (Lactobacillus Spp) yang menghasilkan hidrogen peroksida sehingga vagina yang tadinya bersifat asam (pH normal vagina 3,8 4,2) berubah menjadi bersifat basa. Menurut Amsel, untuk menegakkan diagnosa dengan ditemukannya tiga dari empat gejala, yakni : sekret vagina yang homogen, tipis, putih dan melekat, pH vagina > 4,5, tes amin yang positif; adanya clue cells pada sediaan basah (sedikitnya 20% dari seluruh epitel) yang merupakan penanda bakterial vaginosis. Pengobatan bakterial vaginosis biasanya menggunakan antibiotik seperti metronidazol dan klindamisin. Untuk keputihan yang ditularkan melalui hubungan seksual terapi juga diberikan kepada pasangan seksual dan dianjurkan tidak berhubungan selama masih dalam pengobatan. Pada penderita bakterial vaginosis yang sedang hamil, dapat menimbulkan komplikasi antara lain : kelahiran prematur, ketuban pecah dini, bayi berat lahir rendah, dan endometritis post partum. Oleh karena itu, beberapa ahli menyarankan agar semua wanita hamil yang sebelumnya melahirkan bayi prematur agar memeriksakan diri untuk screening vaginosis bakterial, walaupun tidak menunjukkan gejala sama sekali.