Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN SEMENTERA PRAKTIKUM FT. INFEKSI & TUMOR P3.

INFEKSI SALURAN KEMIH DAN PROFILAKSIS ANTIBIOTIK


Dosen Pengampu : Sri Susilowati, MSi., Apt

Halimatus S Zein 105010567

LABORATORIUM FT. INFEKSI & TUMOR FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG 2013

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM FARMAKOTERAPI INFEKSI DAN TUMOR PERCOBAAN III

INFEKSI SALURAN KEMIH DAN PROFILAKSIS ANTIBIOTIK

I.

TUJUAN PRAKTIKUM Mahasiswa dapat memahami dan mengevaluasi penatalaksanaan terapi pada penyakit infeksi saluran kemih dan profilaksis antibiotik.

II. DASAR TEORI INFEKSI SALURAN KEMIH A. Definisi Infeksi saluran kemih didefinisikan sebagai presentasi klinis dari mikroorganisme dalam urin yang melebihi batas ambang normal mikroorganisme tersebut, yang berpotensi menginvasi pada jaringan dan struktur saluran kemih (dipiro et al, 2005). Seseorang bisa dikatakan mengalami infeksi saluran kemih pada saluran kemihnya bila jumlah bakteri di dalam urinnya lebih dari 100.000/mL urin. Namun pada beberapa pasien wanita, bisa dikatakan infeksi meskipun jumlah bakterinya kurang dari 100.000/mL urin (Dipiro et al, 2005). Urinary Tract Infection (UTI) atau lebih dikenal Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan masalah yang banyak dijumpai dalam praktek klinis. Menurut saluran yang terkena maka ISK dapat dibedakan menjadi bagian atas (pielonefritis) dan bagian bawah (sisititis, prostatitis, uretritis) (Tisher dan Wilcox, 1997).

B. Etiologi Kebanyakan infeksi saluran kemih disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari flora tinja usus bagian bawah. Hampir 80% infeksi yang terjadi pada penderita tidak rawat inap dan tidak obstruksi disebabkan oleh Escherichia coli. Bakteri Gram negatif lainnya seperti klabsiella pneumonia dan Proteus mirabilis serta coccus bakteri Gram positif seperti misalnya Enterococcus faecalis dan Staphylococcus epidermis juga merupakan uropatogen potensial (Shulman et al, 1994) Route of infection Secara umum, organisme masuk ke dalam saluran kemih melalui tiga rute: ascending, hematogen (descending), dan jalur limfatik. Uretra wanita biasanya dilewati bakteri yang berasal dari flora tinja. Panjang pendek urethra perempuan dan kedekatannya dengan daerah perirectal membuat Kolonisasi dapat terjadi(Dipiro, 2005). Faktor lain yang menyebabkan kolonisasi uretra meliputi penggunaan spermisida dan diafragma sebagai metode kontrasepsi. Walaupun ada bukti pada wanita yang menalami infeksi kandung kemih , modus masuknya mikroorganisme tidak sepenuhnya dipahami. Memijat uretra perempuan dan hubungan seksual membuat bakteri dengan mudah mencapai kandung kemih. Sekali bakteri telah mencapai kandung kemih, organisme berkembang biak cepat dan dapat naik ke ureter ke ginjal. Urutan kejadian lebih mungkin terjadi jika reflux vesicoureteral (refluks urin ke ureter dan ginjal saat berkemih). Kenyataan bahwa ISK lebih umum pada wanita dari pada laki-laki karena perbedaan anatomi di lokasi dan panjang uretra cenderung untuk mendukung tingkatan rute infeksi sebagai rute akuisisi(Dipiro, 2005).

C.

Patofisiologi Rute infeksi bakteri pada ISK diketahui sebagai berikut:

1) Asenden Seperti pada dugaan masuknya bakteri tinja ke dalam kandung kencing melaluri uretra wanita atau ke dalam ginjal melalui ureter 2) Hematogen Seperti pada infeksi Staphylococcus pada korteksi ginjal 3) Perluasan langsung Seperti pada sistitis terkait dengan fistula enterovesika (Shulman et al, 1994). Pada wanita, pendeknya uretra dan berdekatannya antara uretra dan daerah perirektal menyebabkan kolonisasi dari uretra. Bakteri dapat memasuki kantung kemih melalui uretra. Setelah berada di kantung kemih, organisme akan membelah diri dengan cepat dan dapat bergerak keatas menuju ginjal melalui ureter. Bakteriuria hanya mengkonfirmasi adanya bakteri dalam kandung kencing, untuk menentukan tempat infeksi yang lebih tepat, penelitian menetapkan tempat-tempat yang bisa mempresentasikan tempat adanya infeksi dari bakteri di tempat infeksi dengan beberapa metode, yaitu: 1) Katerisasi ureter Prosedur ini dilakukan dengan sara sistoskop dimasukkan ke dalam kandung kencing, kemudian kandung kencing dicuci dengan larutan irigasi steril. Kateter dimasukkan ke tiaptiap mid ureter dan kencing dikumpulkan dari kedua gunjal untuk biakan dan analisis kencing. Hal ini dapat menentukan tempat dan lokalisasi infeksi pada saluran kemih. 2) Pencucian kandung kencing Pada prosedur ini kateter multilumen dimasukkan ke dalam kandung kencing dan biakan kencing dasar diambil. Kandung kencing kemudian diisi dengan larutan salin yang

berisi antibiotik aminoglikosida selama 30-45 menit, kemudian larutan dicuci dengan salin dan biakan kencing diambil secara seri dengan interval 10 menit. Pada kebanyakan kasus infeksi saluran kemih, biakan pasca cuci steril. Jika ditemukan bakteri dan bertambah jumlahnya maka kemungkinan berasal dari ginjal. 3) Deteksi bakteri terselubung antibodi dalam kencing Prosedur ini hanya melihat hasil fluoresen, bila terdapat fluoresen (bakteri diselubungi antibodi) dari hasil isolasi kencing pasien maka dimungkinkan bakteri tersebut menyebabkan pielonefritis. Teknik lainnya seperti biopsi ginjal, penentuan kemampuan ginjal membuat konsentrasi maksimum, dan teter serologis semuanya gagal sebagai criteria yang cukup untuk mendeteksi pielonefritis kronik (Shulman et al, 1994). Prinsip-prinsip penatalaksanaan pada ISK berdasarkan biakan urin dan pemeriksaan faal ginjal sebelum dimulai terapi. Jika hasil biakan belum ada maka terapi awal menggunakan antibiotik dilakukan bersama dengan koreksi faktor predisposisi seperti contohnya ureterolitotomi pada ISK terkomplikasi dengan batu ginjal. Lalu terapi dilakukan pada penderita berdasarkan simptomatik, bakteriuria yang terjadi setelah instrumentasi saluran kemih perlu diterapi, dan respons terapi harus dipantau dengan kultur urin 1-2 minggu setelah terapi selesai (Mangatas dan Suwitra, 2004). D. Gejala klinis Pasien yang terkena ISK pada umumnya tidak memberikan gejala yang berarti, namun biasanya semuanya terkait dengan tempat dan keparahan infeksi. Gejala-gejala yang dapat timbul meliputi berikut ini, baik sendirian maupun timbulnya bersama-sama seperti menggigil, demam, nyeri pinggang, dan sering mual sampai muntah, disuria, sering terburuburu kencing, nyeri suprapubik, dan hematuria (Shulman et al, 1994).

E. Diagnosa Untuk menetapkan diagnosa maka harus diketahui terlebih dahulu gejala apa saja yang dialami. Gejala dan tanda ISK pada pasien dewasa dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1.

Wanita dilaporkan lebih banyak mengalami hematuria. Gejala sistemik seperti demam, biasanya tidak ada dalam ISK. Sayangnya, sebagian besar pasien ISK dengan bakteriuria yang signifikan tidak mengalami gejala-gejala di atas. Pasien mungkin merasa sehat, baik pasien geriatric, pediatric, wanita hamil dan pasien yang menggunakan kateter. Perlu diingat, untuk membedakan apakah infeksi terdapat di saluran kemih bagian atau bawah tidak hanya berdasarkan gejala yang dialami pasien. Pada pasien geriatric biasanya tidak mengalami gejala yang spesifik, tetapi mereka menunjukkan perubahan status mental, perubahan kebiasaan makan, atau gejala gastrointestinal. Sebagai tambahan, pasien yang menggunakan kateter atau pasien dengan gangguan neurologic biasanya tidak mengalami gejala saluran kemih bagian bawah, sedangkan nyeri pinggul dan demam mungkin akan ditemukan pada geriatric.

Penegakkan diagnosa ISK, tidak hanya dengan mengetahui gejala-gejala yang dialami pasien tetapi juga harus dilakukan kultur mikroorganisme pada spesimen urin untuk membedakan bakteri yang menyebabkan infeksi. a. Urine collection Pemeriksaan urin merupakan landasan untuk menilai ISK. Terdapat 3 metode pemeriksaan urin yang dapat diterima. Yang pertama midstream clean-catch method. Setelah urethral dibersihkan, kemudian 20-30 ml urin dikosongkan dan dibuang. Kemudian urin dikumpulkan dan proses berlangsung secara bertahap (sesegera mungkin didinginkan). Spesimen yang disimpan pada suhu ruang selama beberapa jam dapat menimbulkan kesalahan dalam penghitungan bakteri. Midstream method merupakan metode yang didasarkan pengumpulan urin secara rutin. Ketika spesimen urin rutin tidak dapat dikumpulkan atau terjadi kontaminasi, maka terdapat alternative teknik pengumpulan yang dapat digunkan Metode yang kedua dengan menggunakan kateterisasi dan aspirasi suprapubic kandung kemih. Kateterisasi dibutuhkan pada pasien yang tidak kooperatif atau tidak dapat mengeluarkan urin secara normal. Aspirasi suprapubic kandung kemih dilakukan dengan memasukkan jarum secar langsung ke dalam kandung kemih untuk mengambil urine. Aspirasi suprapubic kandung kemih aman diberikan pada neonates, bayi, paraplegics, pasien dengan penyakit yang serius, dan pasien ISK yang sudah menjalani metode kultur sebelumnya tetapi tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. b. Perhitungan bakteri Diagnosa ISK didasarkan pada isolasi bakteri yang signifikan dari spesimen urin. Penilaian mikroskopik sampel urin merupakan metode yang paling mudah dan metode yang dapat dipercaya untuk mendiagnosa adanya bakteriuria. Penilaian mikroskopik leukosit pada urine juga digunakan untuk mengetahui pyuria. Pyuria merupakan gejala yang dapat

dikaitkan dengan adanya bakteriuria. Pyuria tidandai dengan white blood cell (WBC) lebih dari 10 WBC/mm3. Hematuria, biasanya diketahui dengan penilaian mikroskopis, biasanya dialami pada pasien ISK tetapi nonspesifik. Hematuria mungkin menggambarkan adanya penyakit lain, seperti renal calculi, tumor atau glomerulonefritis. Proteinuria biasnya ditemui pada pasien yang mengalami infeksi. c. Kultur Metode yang paling dipercaya untuk menegakkan diagnosa adalah penilaian secara kuantitatif kultur urine. Secara normal, urin yang berada dalam kandung kemih steril. Sehingga hal ini dapat digunakan untuk mengetahui adanya kontaminasi pada urine pasien yang mengalami infeksi yang dilakukan dengan menghitung bakteri pada sampel urin. Pasien yang mengalami infeksi biasanya didapatkan lebih dari 105 bakteri/ml urin.

F. Terapi Prinsip umum terapi ISK adalah: 1) Eradikasi bakteri penyebab dengan menggunakan antibiotik yang sesuai 2) Mengoreksi kelainan anatomis yang merupakan faktor predisposisi (Suyono, et al, 2001). Tujuan dari pengobatan ISK adalah mencegah dan menghilangkan gejala, mencegah dan mengobati bakterimia dan bakteruria, mencegah dan mengurangi resiko kerusakan jaringan ginjal yang mungkin timbul dengan pemberian obat-obatan yang sensitif, murah, aman, dan dengan efek samping yang minimal (Suyono et al, 2001). Menurut Suyono et al, pengobatan ISK pada berbagai bentuk ISK antara lain: 1) Sindrom uretra akut atau sistitis

-sulfametoksazol 320-1600 mg

Bila fasilitas kultur tidak ada, maka pengobatan dilakukan dengan pemberian: -sulfametoksazol 160-180 mg dua kali sehari

Asam pipemidik 400 mg dua kali sehari 2) Pielonefritis akut -sulfametoksazol 160-800 mg dua kali sehari

imik 400 mg dua kali sehari 3) Pielonefritis kronik Pengobatan dilakukan bilamana pada biakan bakteri ditemukan bakteriuria bermakna, yaitu dengan pemberian antimikroba yang sesuai. Bilamana ada kelainan anatomi dilakukan koreksi, bila keadaan memungkinkan.

4) Bakteriuria tak bergejala Pada wanita hamil bakteriuria tak bergejala diobati dengan antimikroba dosis tunggal, kemudian dipantau selama dua sampai empat minggu. Bilamana masih tetap ditemukan bakteriuria diberikan antimikroba dua minggu, kemudian dipantau lagi setelah pengobatan dihentikan. Bilamana masih terjadi rekurensi, antimikroba dilanjutkan sampai enam minggu atau sampai partus. Setelah partus tiga atau sampai empat bulan dilakukan pemantauan saluran kemih dengan pielografi intravena. Algoritma terapi infeksi saluran kemih pada laki-laki

Algoritma terapi infeksi saluran kemih pada wanita

PROFILAKSIS ANTIBIOTIKA

A. Definisi Antibiotik profilaksis adalah antibiotik digunakan bagi pasien yang belum terkena infeksi, tetapi diduga mempunyai peluang besar untuk mendapatkannya, atau bila terkena infeksi dapat menimbulkan dampak buruk bagi pasien. Penggunaan antibiotik di rumah sakit, sekitar 30-50 % untuk tujuan profilaksis bedah. Profilaksis bedah merupakan pemberian antibiotik sebelum adanya tanda-tanda dan gejala suatu infeksi dengan tujuan mencegah terjadinya manifestasi klinik infeksi. Penggunaan antibiotik prabedah dapat mengurangi kejadian infeksi, khususnya infeksi luka, setelah pembedahan tertentu. Namun manfaat itu harus dipertimbangkan dengan risiko reaksi alergi dan toksik, munculnya bakteri resistan, interaksi obat, superinfeksi dan biaya. Sekitar 5% pasien yang menerima antibiotik diperkirakan akan mengalami infeksi serius untuk pengobatan ini. Di Amerika kerugian diperkirakan sebesar 400-2600 dolar per luka operasi yang berarti antara 130-840 juta dolar pertahun [1]. Di Indonesia infeksi pasca bedah ini memperpanjang waktu perawatan antara 15-19 hari [4]. Pada umumnya, antibiotik profilaksis dianjurkan hanya untuk tindakan dengan kejadian infeksi yang tinggi dan tindakan dengan konsekuensi infeksinya sangat serius. Jenis mikroorganisme patogen yang diduga menginfeksi luka pada bedah orthopaedi adalah S. aureus, E. coli dan Pseudomonas.

B. Tujuan profilaksis antibiotik Tujuan dari pemberian antibiotik profilaksis adalah untuk mengurangi insidensi infeksi luka pascabedah. Sangat penting untuk mengenal perbedaan antara profilaksis dan pengobatan empirik. Profilaksis merupakan prosedur yang berhubungan dengan angka infeksi yang tinggi, seperti implantasi material prostetik, pemasangan implant pada patah tulang dimana mempunyai konsekuensi infeksi yang serius. Antibiotik sebaiknya dapat menutupi organisme yang paling mungkin akan mengkontaminasi dan akan berada di jaringan pada saat dilakukan insisi awal. Terapi empirik merupakan kelanjutan dari penggunaan antibiotik setelah prosedur operasi dan berdasarkan penemuan pada saat berlangsungnya operasi. Profilaksis yang tidak tepat dapat disebabkan oleh pemakaian spektrum luas (broad spectrum) dan sebagai terapi lanjutan tanpa rekomendasi periode waktu. Cara ini dapat meningkatkan risiko efek samping dan akan menyebabkan organisme menjadi resistan. C. Infeksi Pasca bedah Timbulnya infeksi pasca bedah merupakan penyebab utama peningkatan mortalitas dan morbiditas pasien rawat inap di rumah sakit sehingga terputusnya kendali infeksi dapat mengakibatkan komplikasi septik yang mungkin dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan pasien dibandingkan penyakit semula atau pembedahannya. Sekitar 70% dari seluruh infeksi nosokomial dilaporkan terjadi pada pasien yang menjalani pembedahan, serta hal ini dapat menimbulkan dampak terhadap fungsi sosial rumah sakit. Apabila infeksi luka operasi terjadi pada bedah orthopaedi, pus (cairan pada tulang yang terinfeksi) bekerja melalui sistem havers dan kanal volkmann, menghilangkan periosteum dari permukaan tulang. Ruang subperiosteal juga diisi oleh pus. Pus juga terdapat pada rongga medular. Kombinasi pus pada rongga medular dan ruang subperiosteal menyebabkan nekrosis dari tulang kortikal. Nekrosis tulang kortikal ini dapat berlanjut

menjadi tempat akumulasi bakteri meskipun telah mendapat terapi dengan antibiotik, karena antibiotik dan sel inflamasi tidak dapat mencapai area ini. Berdasarkan keunikan infeksi tulang ini, cara terbaik adalah dengan pencegahan. Pada bedah orthopaedi harus mengetahui resiko terjadinya infeksi berdasarkan kondisi pasien dan kondisi pembedahan. Kondisi pasien meliputi nutrisi, status imunologi dan infeksi pada tempat tertentu. kondisi pembedahan meliputi antibiotik profilaksis, keadaan kulit dan luka, lingkungan operasi, teknik pembedahan dan terapi infeksi yang akan datang, misal pada fraktur terbuka. Dengan kata lain, pencegahan terhadap infeksi jauh lebih mudah dari pada terapi. Pencegahan infeksi pascabedah akan berhasil guna dan tepat guna apabila epidemiologi dari infeksi ini diketahui. Salah satu aspek epidemiologi infeksi pascabedah yang sangat penting untuk diketahui dalam upaya pencegahan infeksi ini adalah faktor risiko terjadinya infeksi pasca bedah. Faktor risiko tersebut adalah sebagai berikut: Infeksi akan lebih besar kejadiannya pada operasi toraks dan atau abdomen, operasi dilakukan selama lebih dari dua jam, jenis luka operasi adalah jenis luka terkontaminasi atau kotor, terdapat penyakit lain yang mendasari (underlying disease) keadaan umum pasien [2]. ASA (American Society of Anaesthesiologist) pasien prabedah, yaitu akan lebih tinggi risiko terkena infeksi pascabedah apabila berada pada ASA tiga atau lebih [3]. Garibaldi (1990) menambahkan adanya satu faktor lagi yaitu kultur kuman intraoperatif yang positif [4], sedangkan Djojosugito (1990) di Indonesia menambahkan dua faktor lagi yang bermakna yaitu pemakaian antibiotika yang tidak rasional dan keadaan sosial ekonomi yang rendah [5]. Penulis lain mengemukakan faktor yang dapat mempengaruhi infeksi luka operasi seperti drain dari luka operasi, walaupun faktor ini

tidak bermakna dalam analisis multifaktorial, tapi dapat dipertimbangkan dalam upaya pencegahan infeksi pascabedah. Personil kamar bedah merupakan faktor di luar pasien. Personil ini juga merupakan sumber kuman penyebab, di samping sumber kuman tersebut sebagian besar berasal dari pasiennya sendiri. Personil rumah sakit yang mengandung kuman disebut carrier, dan biasanya berasal dari tangan, kulit, rambut, anus, vagina dan traktus respirasi atas. Oleh karena itu infeksi pada daerah tersebut akan menjadi halangan bagi personil kamar bedah untuk bekerja. Antibiotik profilaksis adalah antibiotik digunakan bagi pasien yang belum terkena infeksi, tetapi diduga mempunyai peluang besar untuk mendapatkannya, atau bila terkena infeksi dapat menimbulkan dampak buruk bagi pasien. Penggunaan antibiotik di rumah sakit, sekitar 30-50 % untuk tujuan profilaksis bedah. Profilaksis bedah merupakan pemberian antibiotik sebelum adanya tanda-tanda dan gejala suatu infeksi dengan tujuan mencegah terjadinya manifestasi klinik infeksi. Selama 24 jam pertama, infeksi tergantung pada jumlah koloni bakteri yang ada. Pada dua jam pertama mekanisme pertahanan tubuh bekerja untuk menurunkan jumlah bakteri. Empat jam berikutnya, jumlah bakteri konstan karena terjadi keseimbangan antara bakteri yang bermultiplikasi dan bakteri yang dibunuh oleh sistem pertahanan tubuh. Enam jam pertama ini disebut sebagai periode emas (Golden Period), setelah itu bakteri bermultiplikasi secara eksponen. Antibiotik menurunkan pertumbuhan bakteri secara geometrik dan menunda reproduksi bakteri. Profilaksis antibiotik diberikan untuk memperlama `Golden Period [6]. Antibiotik profilaksis harus aman, bakterisid dan efektif melawan bakteri yang menyebabkan infeksi pada bedah orthopaedi. Kulit pasien merupakan sumber utama infeksi orthopaedi

sehingga antibiotik profilaksis harus melawan secara langsung bakteri yang biasa terdapat di kulit. D. Pedoman untuk Memilih Antibiotik Profilaksis Obat-obatan profilaksis harus diarahkan terhadap organisme yang mempunyai kemungkinan terbesar dapat menyebabkan infeksi, tetapi tidak harus membunuh atau melemahkan seluruh patogen. Untuk sebagian besar tindakan, sefalosporin generasi pertama atau kedua yang tidak mahal, seperti sefazolin, mempunyai half-life yang cukup panjang dan aktif terhadap stafilokoki dan streptokoki, efektif apabila diberikan secara intravena (IV) 30 menit sebelum pembedahan. Kecuali pada apendektomi, di mana sefoksitin (Mefoxin) atau sefotetan (Cefotan) lebih baik karena lebih aktif dari pada sefazolin terhadap organisme anaerobik dalam usus. Stafilokoki metisilin-resisten (Methicilin Resistant Staphylococcus Aureus/MRSA) adalah patogen pascabedah yang penting, di mana vankomisin dapat digunakan, tetapi penggunaan rutin untuk profilaksis harus dihindari karena hal ini dapat merangsang timbulnya organismeorganisme resistan. Juga, sefalosporin generasi ketiga dan keempat (misalnya sefotaksim atau sefepime) tidak dapat digunakan sebagai profilaksis pembedahan rutin karena: Kurang aktifnya sefazolin terhadap stafilokoki, serta mahal. Spektrum aktivitasnya mencakup organisme yang jarang ditemukan dalam pembedahan elektif: dan Penggunaan luas dapat menimbulkan resistensi.

E. Dosis Dosis tunggal IV antibiotik yang diberikan dalam 30 menit atau kurang sebelum insisi kulit akan memberikan konsentrasi dalam jaringan yang memadai sepanjang pembedahan. (Apabila vankomisin digunakan, sekurang-kurangnya dibutuhkan satu jam). Jelaslah konsep infusi tugas jaga antibiotik profilaksis tidak dapat diterima karena penundaan pembedahan dapat terjadi sehingga menyebabkan konsentrasi dalam jaringan menjadi kurang efektif apabila pembedahan belum dimulai. Apabila pembedahan diperpanjang (lebih dari 4 jam) kehilangan darah hebat terjadi atau antibiotik dengan half-life pendek, seperti sefoksitin digunakan, satu atau lebih dosis tambahan harus diberikan selama tindakan tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Kharisma, dkk (2006) antibiotik profilaksis yang diberikan pada pasien pediatrik dosis dihitung sesuai dengan berat badannya, diberikan secara dan waktu pemberian adalah kurang dari 1 jam sebelum pelaksanaan operasi serta lama pemberiannya adalah diberikan satu hari, satu kali sebelum operasi, ternyata menunjukkan angka kejadian infeksi luka operasi (ILO) adalah 15.9% [7]. Pedoman pemberian antibiotik profilaksis pada pembedahan adalah sebagai berikut: 1. Mempunyai risiko untuk infeksi apabila tidak mempunyai agen profilaktik. 2. Harus ada pengetahuan mengenai kemungkinan flora yang berhubungan dengan luka operasi. 3. Antibiotik profilaksis harus dapat memotong aktifitas patogen terhadap luka yang terkontaminasi atau pada lapangan operasi. 4. Bila menggunakan lebih dari satu antibiotik, maka antibiotik terpilih harus berdasarkan mikroorgnisme terbanyak.

5. Antibiotik profilaksis diberikan dalam dosis yang menunjukkan konsentrasi efektif sebelum kontaminasi bakteri intraoperatif. Pemberian yang dianjurkan adalah 30-45 menit sebelum insisi kulit (biasanya bersamaan dengan induksi anestesia). 6. Berikan sesuai dengan dosis efektif. Untuk sefalosporin pada pasien dengan BB >70 kg, dosis sebaiknya dua kali lipat (contoh, 70 kg: cefazolin 1 g IV, >70kg: cefazolin 2 g IV). 7. Pelaksanaan pembedahan sampai tiga jam atau kurang, cukup diberikan dosis tunggal. Apabila pembedahan lebih dari tiga jam, maka memerlukan dosis efektif tambahan. 8. Vancomycin dapat diberikan untuk pasien dengan alergi penisilin/sefalosporin.

DAFTAR PUSTAKA Ananthanarayam, R.C.K.2000. Textbook of microbiology 6th edition. Orient Longman Limited, Himayatnagar.Hyderabad. 251,254. Anonim. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Media Aeculapius. Jakarta : UI press. 478 Cooper, RA. Understanding wound infection, in Canale, ST., editor. Campbells Operative Orthopaedics. 10th ed, Philadelphia: Mosby; 2003, 643-59. Culver, D., Horan, T., and Gaynes, R. Surgical wound infection rates by wound class, operation and risk index in US hospital 1986-90. Proc of 3rd intl conference on nosocomial infections, Atlanta, 1990. Dipiro, Joseph T (editor), 2005 Pharmacotherapy: A Pathophisiology approach, 3rd edition, McGraw Hill, New York. Djojosugito, MA. Infeksi luka operasi nosokomial, penentuan faktor risiko, kuman penyebab dan cara surveilans serta penentuan pengaruhnya terhadap biaya langsung perawatan rumah sakit. Disertasi KFUI, Jakarta, November 1990. Garibaldi, RA. Risk factors for postoperative infection. Proc of 3rd intl conference on nosocomial infections, Atlanta, 1990. Haley, RW., Culver, DH., Morgan, WM., White, JW., Emori, TC., and Hooton, TM. Identifying patients at high risk of surgical wound infection. A simple multivariate index of patient susceptibility and wound contamination. Am J Epidemiol 1985, 121:2;206-15. Katzung, B G. 2001. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Salemba medika. Kharisma and Sikma Ratih. Prophylaxis antibiotic utilization study in orthopaedic surgery which cases are open fracture grade II and III (Study at SMF Orthopaedic and Traumatology Dr. Soetomo Hospital Surabaya, 2006).

Mangatas AM, Ketut suwitra, 2004 . Diagnosis Dan Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih Terkomplikasi,availableat. http://www.dexamedica.com/test/htdoes/dexamedica/article_files/isk.pdf Mayhall, CG. Surgical infection including burns, in Wenzel, RP. Prevention and control of nosocomial infections, William and Wilkins Baltimore 1987;344-84. Price, S. Anderson. Lorraine McCathy Wilson. 1994. Patofisiologis Konsep Klinis ProsesProses Penyakit, edisi ke empat, diterjemahkan oleh Peter Anigrah. Jakarta: EGC. Shulman, Standford T.John P Phair. 1975. Dasar Biologis Dan Klinis Penyakit Infeksi diterjemahkan oleh Samik wahab, Yogyakarta. UGM press. Suyono, Salmet. 2001. Buku Ajar Penyakit Dalam edisi ke tiga. Jakarta: UI press.