Anda di halaman 1dari 17

PERUBAHAN-PERUBAHAN MENDASAR DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

OLEH : RINNY VIANY

(B11111060)
MANAJEMEN (B) MATA KULIAH : PEREKONOMIAN INDONESIA

TINJAUAN UMUM
Indonesia paling lambat menjalani koreksi dan pemulihan dibandingkan dengan negara-negara lain yang sama-sama terkena krisis moneter. Faktor penyebab lambatnya pertumbuhan ekonomi setelah krisis, yaitu

Sistem politik yang tertutup dan otoriter Birokrasi yang korup Penegakan hukum yang lemah Korupsi disegala bidang Sistem kapitalisme yang semu Struktur perbankan yang manipulatif Sektor rill yang kurang mendapatkan perhatian

Dilihat dari Gross Domestic Product (GDP), atau Produk Domestik Bruto (PDB), pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah berjalan on the track Indikator-indikator makroekonomi yaitu :

Tingkat pertumbuhan ekonomi (GDP) Tingkat pertumbuhan investasi Persentase investasi terhadap GDP Rata-rata kurs Ekspor Impor Saldo neraca perdagangan Cadangan internasional Tingkat inflasi Persentase saldo anggaran terhadap GDP Persentase saldo anggaran terhadap GDp Tingkat pengangguran Tingkat kemiskinan

EMPAT PERUBAHAN MENDASAR


PENURUNAN INVESTASI RIIL PERUBAHAN SALDO DAN KOMPOSISI NERACA BERJALAN PENURUNAN DAYA SAING PERTUMBUHAN EKONOMI YANG TIDAK SEIMBANG

PENURUNAN INVESTASI RILL


Tingkat investasi riil di Indonesia cenderung terus turun, baik dalam pertumbuhannya sendiri, maupun persentase terhadap GDP. Jika investasi turun, maka kegiatan-kegiatan produksi secara nasional akan ikut turun , output nasional juga akan turun, dan laju pertumbuhan secara keseluruhan akan merosot .

Indonesia lemah dalam melakukan pemupukan investasi tetap (fixed investment) Investasi tetap secara langsung menetukan investasi riil (real investment) atau investasi langsung (direct investment), yakni investasi langsung yang berkaitan dengan produksi ( berupa pendirian pabrik, pengadaan teknologi baru, pembukaan lahan baru, perekrutan tenaga kerja baru, dsb yang secara langsung akan menciptakan produksi baru atau menambah produksi yang ada) baik investor dalam maupun luar neegeri.

Investasi secara langsung (FDI, Foreign Direct Investment)merupakan kekuatan utama dalam perkonomian. Keberadaan FDI berhubungan langsung dengan pertumbuhan ekspor, dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Selain menerima investasi dari luar negeri, Indonesia juga melakukan investasi ke luar negeri. Investasi berupa investasi portofolio, karena yang diterima hanya laba. Sementara penambahan output fasilitas produksi termasuk infrastruktur, penciptaan lapangan kerja, dan stimulus kegiatan perekonomian dinikmati oleh negara penerima investasi.

Situasi penurunan investasi langsung menjadi lebih berbahaya jikan dalam waktu bersamaan tingkat petumbuhan tabungan domestik tidak banyak mengalami perubahan. Jika tabungan dometik lebih besar dari investasi yang disalurkan, maka jumlah tabungan masyarakat melebihi alokasi kredit. Artinya, dana yang terhimpun lebih besar daripada dana yang disalurkan untuk membiayai investasi. Wujud investasi portofolio atau nvestasi finansial yaitu berupa pembelian saham, obligasi ( ritel dan SUN), Sertifikat Bank Indonesia (SBI)

Lending to deposit ratio (LDR),atau persentase dana deposito yang dislaurkan sebagai kredit di Indonesia pasca krisis moneter benar-benar terpuruk. Penyebabnya adalah suku bunga kredit perbankan yang relatif mahal. Selisih antara suku bunga simpanan masyarakat dan suku bunga kredit (spread atau interest margin) yang merupakan sumber keuntungan bank di indonesia selalu paling tinggi. Dengan tarif kredit yang mahal, maka tingkat keuntungan bank dari pengelolaan asetnya (ROA, return on assets) sangat tinggi. Buktinya dilihat dari tingginya syarat kecukupan modal atau rasio kecukupan modal terhadap aset (CAR, Capital Adequcy Ratio) yang juga tinggi.

Tingginya pengangguran di Indonesia disebabkan oleh terbatasnya investasi produktif, yang jumlah maupun persentasenya terhadap GDP terus susut. Hal tersebut dikarenakan banyaknya investasi portofolio yang mendatangkan laba bagi pemiliknya, namun tidak meenyumbangkan apa-apa bagi peningkatan produksi dan penciptaan lapangan kerja.

SALDO TRANSAKSI BERJALAN


Saldo transaksi berjalan (current account) setelah krisis mencatat surplus Cadangan internasional gunanya bukan cuma untuk menjamin nilai tukar mata uang nasional, tapi juga perubahan tau tranformasi kedua dalam perekonomian indonesia pasca krisis, yang juga mengandung konsekuensi dan menimbulkan damapak yang sangat luas.

Perubahan diikuti oleh perubahan pada perhitungan dan metode penanggulangan defisit pada tiga neraca utama yang menjadi penjabaran dari neraca pembayaran, yakni neraca anggaran, neraca transaksi berjalan, dan neraca modal. Adagium sebelum krisis yang ditinjau dari sisi pengeluaran, output nasional sama dengan konsumsi ditambah investasi, ditambah belaanja pemerintah dan selisih antara ekspor dan impor. Sedangkan dari sisi penerimaan, output nasional sama dengan plus tabungan nasionalplus pajak.

Y= C + I + G + (X - M) Y= C + S + T (I S) + (G T) = (X M) Adanya tiga sumber defisit yang harus diwaspadai yaitu : (I S) = selisih tabungan dan investasi (defisit neraca modal ) (G T) = defisit anggaran pemerintah (X M) = defisit perdagangan internasional. Cara pemerintah untuk menutup defisit yaitu

Pinjaman luar negeri ( pemerintah, lembaga internasional, atau swasta dar pasar modal internasional ) Investasi langsung (investasi produktif), dan tak lansung atau investasi portofolio.

Setelah krisis, persamaaan yang lebih banyak digunakan adalah yang lebih memperhitungkan sisi pendapatan Y= C + I + G + (X - M) Y= C + S + T I+G+XM=S+T (G T) = (I S) + ( M X ) Penerbitan Surat Berharga Negara ( SBN) merupakan langkah yang lebih baik ketimbang menarik utang luar negeri yang umumnya mengikat. Kurang lakunya SBN disebabkan melemahnya pasar obligasi dalam dan luar negeri sebagai imbas dari krisis keuangan global

PENURUNAN DAYA SAING


Indonesia mengalami penurunan daya saing dan hampir menyentuh paling dasar. Pengelompokan negara oleh UNCTAD ( United Nations Conference on Trade and Development)berdasarkan kualitas kerja.

KINERJA POTENSI
POTENSI INVESTASI TINGGI

KINERJA INVESTASI TINGGI KELOMPOK PAPAN ATAS : BRUNEI DARUSSLAM, CINA, HONGKONG, MLAYSIA, SINGAPURA DI ATS RATA-RATA : AZERBAIJAN, TAJIKISTAN, VIETNAM

KINERJA INVESTASI RENDAH DI BAWAH RATA-RATA : IRAN, ISRAEL, KUWAIT, FILIPINA, TAIWAN , THAILAND KELOMPOK PALING PAYAH : BANGLADESH, INDIA, INDONESIA, PAKISTAN,SRILANKA.

POTENSI INVESTASI RENDAH

Indikator daya saing


Kinerja ekonomi Efesiensi pemerintah Efesiensi bisnis Kondisi infrastruktur

PERTUMBUHAN EKONOMI YANG TIDAK SEIMBANG

Pertumbuhan tidak seimbang adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia terlalu bertumpu pada perkembangan sekto-sektor jasa-jasa yang tidak dapat diperdagangkan secara internasional dengan leluasa (non-tradable), sedangkan sektor barang yang erat kaitannya dengan produksi dan perdagangan ( sektor tradable ) mengalami pertumbuhan yang sangat terbatas. Pertumbuhan yang bertumpu pada sektor nontradable buruk bagi Indonesia karena,
Khas bagi negara maju yang sudah mempunyai sarana dan prasarana ekonomi relatif lengkap Berbagai sektor ekonomi sudah berkembang cukup mapan Tingkat kesejahteraan rata-rata penduduknya sudah tinggi Tingkat pendidikan maupun akses rata-rata penduduk terhadap sumber-sumber daya ekonomi relatif merata.