Anda di halaman 1dari 2

Melena Melena adalah adanya darah yang telah tercerna di dalam feses.

Umumnya feses berwarna hitam atau coklat tua seperti tar. Faktor risiko penyakit ini adalah pemberian kortikosteroid atau NSAID, misal untuk terapi arthritis. Penyebab Erosi atau ulserasi gastrointestinal Neoplasia (lymphosarcoma dan adenocarcinoma), Infeksius (infeksi fungal atau parasit), Inflamasi (benda asing, gastritis akut, gastroenteritis hemoragis), Obatobatan (NSAID atau kortikosteroid). Penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan ulserasi gastrointestinal Gagal ginjal, Penyakit Hepar, Pankreatitis, Hipoadrenokortisism, Neoplasia (gastrioma dan tumor sel mast), Shock. Ingesti darah Diet, Lesi oesophagus (neoplasia, oesophagitis), Lesi oral atau faringeal (neoplasia atau abses), Lesi nasal (neoplasia, rhinitis fungal), Lesi respirasi (torsio lobus pulmo, neoplasia, hemoptysis, pneumonia) Koagulopati Trombositopenia, Faktor beku abnormal (von Willebrnads disease, ingesti rodentisida, defisiensi faktor beku), Disseminated Intravascular Coagulation . Patofisiologi Melena umumnya terjadi akibat perdarahan pada gastrointestinal bagian depan. Namun dapat juga terjadi bila hewan mengingesti darah dari rongga mulut atau saluran respirasi. Bahan Ajar Penyakit Gejala Klinis Melena biasanya berkaitan dengan vomit, anoreksia, berat badan turun atau membrana mukosa pucat. Pemeriksaan fisik yang ditemukan bergantung pada penyebab penyakit. Diagnosis Hemogram menunjukkan anemia mikrositik hipokromik bila pasien mengalami perdarahan yang kronis, neutrofilia atau trombositopenia. Gambaran biokimia darah menunjukkan penyebab melena ekstraintestinal (gagal ginjal atau penyakit hepar). Urinalisis biasanya normal. Pemeriksaan lain profil koagulasi biasanya abnormal. Pemeriksaan feses menunjukkan penyebab (parasit). Prognosis sangat bergantung pada penyebab. Pada kasus ulserasi akibat obat, parasit, benda asing, hipoadrenokortisism prognosisnya baik. Pada kasus gagal ginjal, penyakit hepar atau DIC prognosisnya infausta bergantung terhadap respon terapi. Pada kasus keracunan rodentisida prognosisinya baik. Terapi Diperlukan terapi cairan bila terjadi hipovolemia karena kehilangan darah. Gunakan larutan elektrolit yang seimbang dengan suplementasi kalium. Lakukan transfusi darah atau packed cell bila terjadi perdarahan yang hebat. Lakukan transfusi darah atau plasma bila terjadi koagulopati. Bila pasien mengalami ulserasi gastrik berikan protektan mukosa seperti H2 receptor antagonis (Cimetidine, Ranitidine), Sucralfate.

Dyschezia dan Hematochezia Dischezia adalah kesulitan defekasi yang disertai rasa hematochezia adalah adanya darah segar pada feses. sakit, sedangkan

Penyebab Penyakit rektum dan anus Striktura, anal sacculitis atau abses, fistula perianal, pseudocoprostasis, benda asing, prolapsus rektum, proctitis, neoplasia, trauma (gigitan). Penyakit kolon Neoplasia (adenocarcinoma dan lymphosarcoma), idiophatic megacolon, inflamasi (inflamatory bowel disease), konstipasi. Penyakitpenyakit lain Faktur pelvis atau kaki belakang, penyakit prostat, neoplasia intrapelvis. Faktor risiko dyschezia atau hematochezia adalah hewan mengingesti rambut, tulang atau benda asing yang memicu terjadinya konstipasi dan menyebabkan dyschezia. Patofisiologi Ada keterkaitan dengan penyakit-penyakit pada daerah kolon, rektum, anus. Gejala Klinis Tenesmus, feses sangat keras jika pasien mengalami konstipasi. Pasien dengan gejala hematochezia biasanya ditemukan adanya massa atau polip melalui palpasi digital pada rektum. Diagnosis Diferensial diagnosis, bedakan dari dysuria dan stranguria. Terapi Berikan antibiotika untuk mengatasi infeksi bakterial. Berikan antiinflamasi untuk mengatasi kolitis (sulfasalazine atau prednisone). Berikan laksatif (lactulosa, docusate, docusate calcium). Sebaiknya tidak memberikan bahan yang dapat meningkatkan isi feses (serat) kecuali memang ada indikasi, seperti pada kasus kolitis. Laksatif digunakan untuk memudahkan defekasi pada penderita penyakit rektoanal. Penyakit rektoanal (fistula perianal atau hernia perinealis) membutuhkan tindakan operatif. Pada penderita striktura dapat dilakukan dengan baloon dilation.