Anda di halaman 1dari 6

PERILAKU ADVOKAT PADA MEDIA MASSA DITINJAU DARI KODE ETIK ADVOKAT INDONESIA (KEAI)

A. PENDAHULUAN Negara Indonesia adalah negara hukum tidak hanya berdasarkan pada kekuasaan belaka, selain itu juga berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945. Hal ini berarti Negara Indonesia menjunjung tinggi hak asasi manusia dan menjamin segala warga negaranya bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan, serta wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu tanpa ada kecualinya. Masyarakat perlu sebuah bantuan hukum untuk mencapai keadilan. Advokat adalah suatu profesi terhormat (officium mobile) dan karena itu mendapat kepercayaan penuh dari klien yang diwakilinya. Hubungan kepercayaan ini terungkap dari kalimat the lawyer as a fiduciary dan adanya the duty of fidelity para advokat terhadap kliennya. Akibat dari hubungan kepercayaan dan kewajiban untuk loyal pada kliennya ini, maka berlakulah asas tentang kewajiban advokat memegang rahasia jabatan (lihat Pasal 4 alinea 8 KEAI). Kedudukan advokat dalam system hukum Indonesia sangat berpengaruh untuk penegakan hukum. Salah satu tugas utama dari seorang advokat adalah menjaga agar dirinya tidak menerima kasus dari klien yang menimbulkan pertentangan atau konflik kepentingan (conflicting interest). Terutama dalam kantor hukum yang mempekerjakan sejumlah besar advokat, maka sebelum menerima sebuah perkara, nama calon klien dan lawan calon klien serta uraian singkat kasusnya perlu diedarkan kepada para advokat sekantor. Pada akhir-akhir pemberitahuan media masa juga berpengaruh terhadap perkembangan penegakan hukum. Media massa seperti surat kabar sering digunakan sebagai sarana bagi pihakpihak yang terlibat suatu perkara hukum. Salah satu tujuan pengumuman ini sebagai publikasi, agar khalayak ramai tahu. Pemberitahuan atau pengumuman yang dimuat pun biasanya hanya poin-poin penting. Misalnya, jika mengenai putusan pengadilan, maka yang biasanya dimuat adalah amar beserta tanggal putusannya. Walau kadang terdapat sentimen, bahwa tindakan tersebut merupakan upaya si advokat dalam beriklan.

Pendampingan Advokat pada seorang klien dalam sebuah kasus di muka pengadilan dewasa ini bukanlah hal yang asing lagi bagi dunia hukum. terkhusus dalam hal gugat cerai, dimana pihak perempuan (isteri) merupakan subyek yang berkepentingan langsung terhadap problematika rumah tangga. Peran pengacara tentunya memberi dampak yang cukup signifikan dalam lingkup pengadilan agama. Aktivitas dan perilaku advokat dalam mendampingi klien sering dan masih menimbulkan pro kontra di masyarakat. Terlepas dari rasa tanggung jawabnya, tidak semua pengacara praktek di Pengadilan Agama memiliki latar belakang pendidikan hukum Islam. Inilah yang memicu persoalan apakah kredibilitasnya bisa dipertanggungjawabkan, lebih-lebih dalam menangani kasus gugat cerai dari sebuah keluarga. Dari paparan singkat ini, kami akan mencoba memaparkan sedikit materi mengenai advokat, kode etik yang mengatur, contoh pelanggaran, begitupun dengan sanksinya.

B. PERMASALAHAN Apakah perilaku Advokat yang mengungkapkan masalah hukum kliennya pada Media Massa Melanggar Kode Etik Advokat Indonesia?

C. ANALISA Secara khusus, memang tidak ada ketentuan yang melarang pemuatan suatu pemberitahuan di media massa terkait suatu gugatan ataupun sekadar imbauan kepada masyarakat untuk tidak mengalihkan suatu aset yang dimohonkan sita jaminan. Terlepas dari apa tujuan awalnya, ada ketentuan yang harus diperhatikan sehubungan dengan pemuatan pemberitahuan tersebut. Kode Etik Advokat Indonesia Di dalam Pasal 8 huruf f Kode Etik Advokat Indonesia (KEAI) disebutkan sebagai berikut: Advokat tidak dibenarkan melalui media massa mencari publitas bagi dirinya dan atau untuk menarik perhatian masyarakat mengenai tindakan-tindakannya sebagai advokat mengenai

perkara yang sedang atau telah ditanganinya, kecuali apabila keterangan-keterangan yang ia berikan itu bertujuan untuk menegakkan prinsip-prinsip hukum yang wajib diperjuangkan oleh setiap advokat. Preseden Kasus Serupa Penjatuhan sanksi terhadap advokat sehubungan dengan pemuatan pengumuman di surat kabar pernah dialami oleh pengacara Todung Mulya Lubis dan Lelyana Santosa. Keduanya dinyatakan bersalah dan dikenai sanksi peringatan keras oleh Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) akibat mengumumkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, pada perkara Holdiko Perkasa melawan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Dalam pertimbangannya, Dewan Kehormatan Pusat (DKP) IKADIN mengatakan bahwa putusan perkara PT. Holdiko Perkasa yang diumumkan Todung merupakan putusan pengadilan yang belum berkekuatan hukum tetap dan berasal dari salinan yang tidak resmi. Selain masalah pengumuman putusan, DKP juga menilai catatan yang dibuat oleh kedua advokat tersebut, yang dipasang berdampingan dengan pengumuman putusan PN Jakarta Selatan, merupakan tindakan yang tidak etis, dan bisa dikualifisir sebagai mencari perhatian dan mencari publisitas. Berdasarkan asas sidang terbuka untuk umum maka tidak ada suatu larangan bahwa publik tidak berhak tahu mengenai adanya suatu perkara yang terdaftar di pengadilan negeri. Secara etika profesi, pemuatan pemberitahuan di media massa sepanjang berisi suatu fakta tanpa adanya bentuk publikasi yang berlebihan dapat diperkenankan. Di samping itu, berdasarkan penafsiran secara a contrario Pasal 8 huruf f KAI, advokat dibenarkan memberikan keterangan di media massa apabila keterangan-keterangan yang diberikan bertujuan untuk menegakkan prinsip-prinsip hukum yang wajib diperjuangkan oleh setiap advokat. Menurut penulis, tidak jadi soal apabila pemberitahuan yang dimuat oleh advokat untuk dan atas nama kliennya di dalam surat kabar, secara keseluruhan berisi fakta dan merupakan bentuk iktikad baik mengimbau masyarakat agar tidak mengalihkan aset yang dimohonkan sita jaminan untuk menghindari komplikasi hukum di kemudian hari.

Di samping itu, pemberitahuan tersebut bukanlah suatu bentuk penyesatan kepada publik yang mendahului putusan pengadilan dan tidak bertentangan dengan fakta yang ada. Secara tegas berdasarkan Pasal 15 dan 16 UU Advokat disebutkan advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan profesinya untuk kepentingan klien. Berdasarkan penafsiran sistematis terhadap seluruh isi UU Advokat, maka hak imunitas advokat atas tuntutan pidana atau perdata dapat diperluas tidak terbatas dalam proses persidangan saja. Selama masih relevan dengan lingkup tugasnya baik di dalam maupun di luar pengadilan, advokat berhak atas imunitas dari tuntutan hukum. Perluasan ini, sejalan dengan definisi advokat itu sendiri yang dalam UU Advokat diartikan secara luas. Sanksi-sanksi atas pelanggaran kode etik profesi ini dapat dikenakan hukuman berupa : a. Teguran; b. Peringatan; c. Peringatan keras; d. Pemberhentian sementara untuk waktu tertentu; e. Pemberhentian selamanya; f. Pemecatan dari keanggotaan organisasi profesi. Dengan pertimbangan atas berat dan ringannya sifat pelanggaran kode etik dapat dikenakan sanksi-sanksi dengan hukuman : berupa teguran atau berupa peringatan bilamana sifat pelanggarannya tidak berat; berupa peringatan keras bilamana sifat pelanggarannya berat atau karena mengulangi berbuat melanggar kode etik dan atau tidak mengindahkan sanksi teguran/peringatan yang diberikan; berupa pemberhentian sementara untuk waktu tertentu bilamana sifat pelanggarannya berat, tidak mengindahkan dan tidak menghormati ketentuan kode etik profesi atau bilamana setelah mendapatkan sanksi berupa peringatan keras masih mengulangi melalukan pelanggaran kode etik profesi.

Advokat/Penasehat

Hukum

yang

melakukan

pelanggaran kode etik profesi

dengan

maksud dan tujuan merusak citra serta martabat kerhormatan profesi Advokat/ Penasehat Hukum yang wajib dijunjung tinggi sebagai profesi yang mulia dan terhormat, dapat dikenakan sanksi dengan hukuman pemberhentian selamanya.

D. PENUTUP Berdasarkan Hasil Analisa maka penulis menyimpulkan berkaitan dengan perilaku advokat pada media massa terdapat dua pokok. Pertama, advokat dilarang untuk menyalahgunakan media massa untuk keuntungan advokat sebagai komersialisasi. Namun, disisi lain ada pengecualian pengguaan media massa oleh advokat hanya untuk kepentingan penegakan hukum semata yang mana tujuan hukum harus mencapai keadilan kepastian dan kemanfaatan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymus, 2012, Buku Pedoman Penulisan, Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang C.S.T. Kansil dan Christine S.T. Kansil, 2006, Pokok-Pokok Etika Profesi Hukum, PT Pradnya Paramita, Jakarta Sidharta, 2006, Moralitas Profesi Hukum Suatu Tawaran Kerangka Berfikir, PT Refika Aditama, Bandung Hukumonline.com, Dapatkah Advokat Dituntut Akibat Mengumumkan Gugatan di Media Massa?, (online), http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt51d152e2d84d5/dapatkah-advokatdituntut-akibat-mengumumkan-gugatan-di-media-massa-broleh--bimo-prasetio- (diakses 6 November

2013). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat Kode Etik Advokat Indonesia, 23 Mei 2003 (KAI)