Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kajian Hukum Ekonomi Internasional dewasa ini semakin penting. Perkembangan bidang hukum ini bisa dikatakan paling progresif dibandingkan dengan bidang-bidang hukum lain. Peranannya pun sekarang ini bahkan semakin sentral seiring dengan arus globalisasi (ekonomi) yang cepat. Di samping itu, kemajuan teknologi dan komunikasi mengakibatkan aktivitas ekonomi tidak lagi terbelenggu oleh batas-batas negara. Namun, masalah tingkat perbedaan ekonomi dan teknologi di antara negara-negara di dunia telah menimbulkan pergeseran pada perkembangan ekonomi internasional. Perbedaan ini paling tidak memengaruhi hubungan-hubungan antarnegara, terutama apabila terdapat suatu negara yang telah maju yang memiliki kemampuan teknologi, ekonomi, atau militer yang kuat, sedangkan negara-negara lainnya tidak atau kurang memiliki kemampuan dalam bidang-bidang tersebut. Dalam situasi seperti inilah hukum ekonomi internasional memainkan peranannya untuk melindungi para pihak, terutama yang lemah, agar hubungan tersebut berjalan dengan baik. B. Rumusan Masalah Dari latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka yang merupakan rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah perkembangan dari Hukum Ekonomi Internasional?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan Setiap kegiatan pasti memiliki tujuan dan diharapkan juga memiliki manfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Seperti halnya penulisan makalah ini, ada beberapa hal yang menjadi tujuan serta manfaatnya. Yang pertama dan utama adalah bertujuan untuk memenuhi nilai tugas dari mata kuliah Hukum Ekonomi Internasional, selain itu juga bertujuan untuk menambah pengetahuan serta pemahaman dalam bidang Hukum Ekonomi Internasional khususnya dalam hal melihat sejauh mana perkembangan dari pada Hukum Ekonomi Internasional dalam arus globalisasi (ekonomi) yang semakin cepat dewasa ini dan yang terakhir untuk melatih kemampuan diri menulis.

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Perkembangan Hukum Ekonomi Internasional 1. Sebelum Perang Dunia II Menurut Verloren Van Themaat, hukum ekonomi internasional

berkembang pada abad ke 12. Klausul-klausul most-favourednation (MFN) treatment dan resipositas (timbal balik) sudah dikenal pula sejak abad pertengahan ini. Klausul MFN pertama yang didasarkan pada suatu perjanjian ditandatangani oleh Inggris dan Burgundy pada tanggal 17 Agustus 1417. Di abad pertengahan ini, prinsip-prinsip yang terdapat dalam hukum laut diakui pula telah memberikan sumbangan yang penting terhadap cikal bakal lahirnya hukum ekonomi internasional. Prinsip tersebut misalnya saja prinsip kebebasan berlayar (freedom of navigation) dan kebebasan menangkap ikan (di laut lepas). Prinsip cabotage adalah contoh prinsip lainnya. Prinsip ini

membolehkan kapal asing (yang merupakan hak bagi negara pantai untuk memberikannya atau tidak) untuk berlayar guna mengangkut barang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain dalam suatu wilayah. Abad ke-19 merupakan abad yang disebut juga sebagai zaman liberal (liberal age). Abad itu dikenal sebagai kulminasi klausul most-favourednation karena pada zaman ini menjadi common commercial law of the great European powers (Hukum Komersial Negara-negaa Eropa). Pada masa ini hukum ekonomi internasional umumnya yang berisi klausul-klausul MFN tertuang dalam bentuk perjanjian-perjanjian bilateral mengenai perdagangan dan navigasi. Tidak banyak perjanjian (konvensi) internasional yang dibentuk organisasi-organisasi internasional. Bidang-

bidang yang termuat di dalamnya juga masih sangat terbatas, yaitu bidang pengangkutan, perlindungan hak milik kekayaan dan promosi perdagangan, seperti: European Convention of the Danuble 1855, Rhine Navigation of Liberty and Artistic Works 1886, dan the Brussels Union for the Publication of Customs Tariffs 1890. Pada tahun 1914 gambarannya telah berubah: campur tangan negra dalam mengatur hubungan-hubungan ekonomi yang sifatnya lintas batas mulai tampak. Pada masa ini Liga Bangsa-Bangsa menetapkan salah satu syarat dari badan dunia ini. Dalam Pasal 23 (e) Piagamnya menyatakan perlunya equitable treatment for the commerce of all members (perlakuan yang adil dalam bidang perdagangan bagi semua negara). Bunyi ketentuanketentuan mengenai klausul MFN ini tercantum pula dalam perjanjianperjanjian perdamaian setelah Perang Dunia I. Pada masa ini ditandai pula dengan upaya-upaya LBB melakukan studi-studi ekstensif mengenai klausul MFN dan masalah-masalah

perdagangan lainnya. Antara lain, studi terhadap klausul ini yang termuat pada suatu konvensi yang ditandatangani pada tanggal 5 Juli 1980 mengenai publikasi tarif-tarif cukai (customs tariffs). Juga diselenggarakannya kongreskongres yang membahas ketentuan-ketentuan untuk kerja sama penetapan cukai. LBB juga mensponsori studi-studi mengenai formalitas-formalitas pajak (customs) di antara tahun 1923 dan 1936. Prinsip-prinsip yang dibahas dalam studi-studi ini kemudian menjadi landasan bagi perjanjian-perjanjian ekonomi internasional setelah Perang Dunia II, misalnya saja GATT. Pada masa ini, topik-topik pembahasan hukum ekonomi internasional mendapat perhatian internasional pula seperti masalah yang berkaitan dengan komunikasi telegrapik (telekomunikasi), perkembangan hak milik

perindustrian, lalu lintas, kereta api, dan lalu lintas jalan raya.

2. Pasca Perang Dunia II: Bretton Woods System Pada waktu berlangsungnya Perang Dunia II, negara-negara sekutu khususnya Amerika Serikat dan Inggris, memprakarsai pembentukan lembaga-lembaga ekonomi internasional untuk mengisi tujuan-tujuan kebijakan perekonomian internasional. Salah satu dari kebijakan tujuan itu adalah melanjutkan program yang telah dimulai sejak tahun 1930-an. Amerika Serikat, antara lain, mengeluarkan the Reciprocal Trade Agreements Act, yakni undang-undang yang mensyaratkan kewajiban resiprositas (timbal balik) untuk penguranganpengurangan tarif dalam perdagangan. Tujuan kebijakan kedua adalah memberikan kerangka hukum ekonomi internasional untuk mengurangi konflik ekonomi yang terjadi di antara Perang Dunia I dan II. Upaya pengurangan konflik ini penting karena hal ini dianggap sebagai penyebab timbulnya Perang Dunia II. Tujuan itu melahirkan diselenggarakannya konperensi Bretton Woods (1994) dan pendirian International Monetary Fund (IMF) dan the International Bank for Reconstruction and Development (IBRD). Konperensi ini, meskipun ditujukan khususnya untuk persoalan-persoalan moneter, mengakui perlunya inisiatif-inisiatif pengaturan mengenai perdagangan barang-barang. Setelah PBB didirikan pada tahun 1945, salah satu tindakan pertamanya adalah mensponsori konperensi-konperensi persiapan pada tahun 1946 dan 1947. Konperensi bertugas untuk merancang suatu Piagam Organisasi Perdagangan Internasional (International Trade Organization) (Piagam Havana). Piagam ini berhasil disahkan di Havana pada tahun 1948 namun tidak pernah berlaku karena Kongres AS tidak menyetujuinya. Pada pertemuan-pertemuan itu telh dirundingkan pembentukan GATT yang merupakan rancangan Piagam ITO. Pada mulanya GATT merupakan suatu persetujuan multilateral yang mensyaratkan pengurangan secara timbal balik tarif yang berada di bawah naungan ITO. Namun ketika ITO gagal berdiri, GATT kemudian dijadikan sebagai suatu organisasi internasional

yang diberlakukan dengan Protocol of Provisional Application yang ditandatangani pada tahun 1947 dan dibuat untuk menerapkan GATT sebagai perjanjian internasional yang mengikat. Sebagai akibatnya GATT meskipun telah menjadi lembaga

perdagangan internasional yang utama, namun ia sebenarnya tidak memenuhi persyaratan sebagai suatu organisasi. Misalnya ia tidak memiliki anggaran dasar yang menetapkan struktur organisasi atau tidak adanya ketentuan mengenai hukum acara sebagai suatu organisasi dan meskipun GATT memiliki ketentuan mengenai penyelesaian sengketa (Pasal XXII dan XXIII) namun ketentuan-ketentuan ini tidak jelas dan singkat bahkan telah mnimbulkan konflik-konflik. Di samping itu pula, the Protocol of Provisional Application masih mengizinkan negara-negara untuk melanjutkan praktik-praktik tertentu berdasarkan ketentuan-ketentuan yang ada sebelumnya (Grandfather Rights) meskipun praktik-praktik tersebut tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan GATT. Lembaga-lembaga ekonomi internasional dalam bidang uang dan perdagangan ini yaitu IMF dan IBRD dan GATT dianggap sebagai membentuk the Bretton Woods System. Di samping itu telah lahir pula the Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada tahun 1960. Badan ini dibentuk sebagai pengganti the Organization for European Economic Cooperation guna mengelola bantuan Marshall Plan. Dalam perkembangannya kemudian fungsi badan ini diperluas oleh AS untuk mencakup pula rekonstruksi atas Eropa setelah Perang Dunia II (European Recovery Program). Dewasa ini badan tersebut memainkan peranan penting dalam membahas dan merumuskan prinsip-prinsip tindakantindakan negara-negara (maju) dalam transaksi ekonomi internasional. Keanggotaan OECD mencakup negara-negar industri seperti Jepang, negara-negara Eropa Barat, AS, Kanada, Australia dan Selandia Baru. Badanbadan khusus lain telah pula diprakarsai dan dibentuk oleh PBB sehingga dewasa ini cukup banyak organisasi ekonomi internasional membentuk

kerangka yang menjadi landasan dibentuknya hukum ekonomi internasional. Dalam hal ini badan khusus yang penting adalah the United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) yang memainkan peran penting dalam mewakili kepentingan-kepentingan negara-negara sedang berkembang. Pada mulanya the Bretton Woods System ini kurang mendapat sambutan dari negara-negara Eropa Timur, termasuk Uni Sovyet yang menolak untuk ikut serta di dalamnya. Menurut mereka, organisasi ini dan organisasi-organisasi sejenisnya hanya cocok untuk negara-negara yang menganut prinsip pasar bebas (free market). Negara-negara sedang berkembang juga mengkritik lembaga-lembaga ini. Lembaga ini dituding tidak memperhatikan kepentingan atau

permasalahan-permasalahan negara-negara sedang berkembang atau miskin. Pada mulanya memang negara-negara ini menolak bergabung dengan organisasi-organisasi hasil dari International Bretton Woods. Namun secara bertahap negara-negara ini kemudian mau bergabung dan bahkan memainkan peranan aktif dan penting di dalamnya. Dalam organisasi-organisasi ini yang menerapkan sistem satu negara satu suara (one-nation-one vote), mempunyai implikasi penting bagi perkembangan kebijakan-kebijakan dari organisasi-organisasi internsional lainnya. Khususnya IMF dan IBRD, kedua badan ini memiliki sistem pemungutan suara yang diperberat (weighted voting system) supaya negaranegara industri masih memiliki pengaruh, meskipun suara negara-negara sedang berkembang tampaknya dominan. Dalam tahun-tahun belakangan ini, kritik terhadap sistem Bretton Woods ini semakin meningkat dan pada tahun 1960-an, UNCTAD dibentuk PBB sebagai jawaban atas permintaan-permintaan negara-negara sedang berkembang. Badan ini sampai sekarang berfungsi sebagai juru bicara bagi kepentingan-kepentingan negara-negara sedang berkembang. Negara-negara sedang berkembang telah berupaya bahwa harus ada suatu TEIB (Tata Ekonomi Baru/ New International Economic Order/

NIEO), yang akan mengubah beberapa norma dasar dari system Bretton Woods. Tujuannya adalah agar norma-norma dasar tersebut sesuai dengan pembangunan di negara-negara ketiga yang sangat dibutuhkan oeh negaranegara sedang berkembang.

3. Pasca Perang Dingin Perkembangan hukum ekonomi internasional setelah berakhirnya Perang Dingin antara blok Timur dan Barat, ditandai dengan adanya perubahan-perubahan politik an ekonomi yang kedua-duanya saling berkaitan. Perubahan ini memiliki pengaruh cukup penting terhadap perkembangan hukum ekonomi internasional. Perubahan-perubahan politik tampak pada proses demokratisasi pada negara-negara di Eropa Timur dan Amerika Latin. Umumnya, proses ke arah demokratisasi ini baru bisa muncul apabila adanya pertumbuhan basis ekonomi yang stabil. Dan suatu basis ekonomi ini baru bisa terbentuk manakala hukum ekonomi internasional dapat menciptakan suatu pasar terbuka dan kompetitif. Karena itulah hukum ekonomi internasional dalam masa pasca perang dingin dihadapkan kepada suatu tantangan yang cukup berat yaitu bagaimana menanggulangi praktik-praktik perdagangan yang dapat menghalangi pembangunan dan pembentukan pasar terbuka (bebas). Upaya-upaya dalam menanggulangi permasalahan tersebut merupakan kecenderungan-kecenderungan yang semakin nyata dewasa ini. Memang upaya ke arah penghapusan rintangan-rintangan perdagangan sudah tampak seusai Perang Dunia II seperti misalnya dengan dibentuknya GATT. Namun upaya nyata dan konstruktif ke arah itu baru muncul setelah selesainya perang dingin ini. Peranan hukum ekonomi internasional dalam masa ini ditandai dengan kecenderungan-kecenderungan berikut. a) Semakin berperannya organisasi-organisasi intrnasional yang melahirkan perjanjian-perjanjian internasional guna mengatur

kegiatan-kegiatan

ekonomi

internasional.

Misalnya

GATT

(kemudian dilebur ke dalam WTO) yang menghasilkan berbagai peraturan internasional secara komprehensif, atau UNCTAD dan UNCITRAL yang menghasilkan aturan-aturan atau pedomanpedoman aspek-aspek perdagangan internasional tertentu. b) Seiring dengan semakin kompleksnya hunungan-hubungan atau transaksi-tranksaksi ekonomi internasional dewasa ini telah mengakibatkan semakin kompleksnya aturan-aturan hukum ekonomi internasional yag mengaturnya. Misalnya, dengan semakin pentingnya peranan jasa, penanaman modal atau perlindungan hak kekayaan intelektual, telah

melahirkan aturan-aturan perdagangan baru, misalnya, dalam kerangka WTO. Perdagangan jasa melahirkan GATS (General Agreement on Trade and Services), perdagangan modal asing melahirkan TRIMS (Trade Related Investment Measures), atau perdagangan yang berkaitan dengan perlindungan hak milik kekayaan intelektual melahirkan TRIPS (Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights and Counterfeit Goods). c) Konsekuensi lain dari semakin intensifnya transaksi-transaksi ekonomi internasional telah menyebabkan timbulnya sengketasengketa perdagangan antarnegara. Kecenderungan ini telah melahirkan suatu perangkat hukum ekonomi internasional mengenai penyelesaian sengketa guna mengantisipasi

kecenderungan-kecenderungan tersebut. Sewaktu GATT lahir, masyarakat internasional menganggap pengaturan penyelesaian sengketa ini belum begitu penting. GATT hanya memuat dua pasal penyelesaian sengketa (Pasal XXII dan XXIII). Dewasa ini dengan lahirnya WTO (Badan Perdagangan Dunia), aturan penyelesaian sengketa mendapat tempatnya yang khusus, yaitu the

Understansing on Rules and Procedures Governing the Settlement of Disputes, Final Act of the Uruguay Round.

d) Berkaitan dengan kedudukan hukum ekonomi internasional dalam tatanan hukum nasional negara-negara di dunia. Fenomena yang muncul adalah negara-negara dewasa ini mau tidak mau telah memaksakan dirinya untuk menyesuaikan hukum nasionalnya dengan aturan-aturan hukum ekonomi internasional.

B. Perkembangan GATT/ WTO General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) dibentuk sebagai suatu dasar (wadah) yang sifatnya sementara setelah Perang Dunia II. Pada masa itu timbul kesadaran masyarakat internasional akan perlunya suatu lembaga multilateral di samping Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF). Ternyata negara-negara yang pertama kali mendirikan GATT (founding contracting parties) tidak berhasil mendirikan apa yang mereka namakan International Trade Organization (ITO). Pada mulanya ITO itu akan dibentuk sebagai Specialized Agency dari PBB. Namun demikian, ITO tidak dapat terwujud karena Kongres Amerika Serikat tidak menyetujuinya. Setelah berulang kali diusahakan oleh pihak Eksekutif Amerika Serikat, maka pada tahun 1951, indikato jelas bahwa Kongres tidak akan menyetujuinya. Dengan demikian, maka Presiden Amerika Serikat Harry Truman, menarik kembali usulan ratifikasi Piagam Havana. Kebutuhan akan adanya suatu lembaga multilateral yang khusus ini pada waktu itu sangat penting karena mengingat masyarakat internasional menemui kesulitan dalam mencapai kata sepakat mengenai pengurangan dan penghapusan berbagai pembatasan kuantitatif serta diskriminasi perdagangan. Hal ini dilakukan untuk mencegah terulangnya praktik proteksionisme yang berlangsung pada tahun 1930-an yang sangat memukul perekonomian dunia. Benih sejarah pembentukan GATT sebenarnya berawal dari waktu ditandatangani Piagam Atlantik (Atlantic Charter) pada bulan Agustus 1941. Salah satu tujuan dari piagam ini adalah menciptakan suatu sistem perdagangan dunia yang didasarkan pada nondiskriminasi dan kebebasan tukar menukar barang dan jasa.

10

Berdasarkan tujuan tersebut, serangkaian pembahasan dan perundingan mengenai tujuan itu telah berlangsung antara tahun 1943-1944, khususnya antara Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada. Pada tanggal 4 Desember, Amerika Serikat pertama kalinya mengusulkan perlunya pembentukan suatu organisasi perdagangan internasional (ITO). Tujuan organisasi ini menurut versi Amerika Serikat pada waktu itu adalah untuk menciptakan liberalisasi perdagangan secara bertahap, memerangi monopoli, dan mengkoordinasikan kebijakan perdagangan negara-negara. Usul pembentukan suatu organisasi perdagangan ini disambut baik oleh The Economic and Social Council (ECOSOC). Badan khusus PBB ini menyatakan keinginannya untuk menyelenggarakan suatu konferensi. Untuk maksud tersebut, berhasil dibentuk suatu komisi persiapan. Persidanganpersidangan komisi ini berlangsung di London mulai tanggal 18 Oktober sampai dengan 26 Desember 1946. Komisi berhasil mengeluarkan suatu rancangan piagam London (the London Draft Charter). Namun demikian, para anggota peserta pertemuan ini gagal mencapai kata sepakat untuk mengesahkan rancangan piagam tersebut. Dengan adanya kegagalan ini negara-negara besar tersebut membentuk suatu komisi perancang yng beranggotakan Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Perancis, dan negara-negara Benelux. Tugas komisi ini adalah mencari rumusan baru untuk merancang suatu organisasi perdagangan baru. Pertemuan kedua yang diadakan oleh komisi baru ini berlangsung di Lake Success, New York, mulai 20 Januari sampai 25 Februari 1947. Pertemuan tersebut membahas masalah-masalah tertentu saja, tidak membahas masalahmasalah penting. Pertemuan penting diselenggarakan di Jenewa mulai April sampai dengan November 1947. Sejak 10 April sampai 22 Agustus panitia persiapan melanjutkan tugasnya membuat rancangan Piagam ITO itu, dan sejak 10 April sampai 30 Oktober perundingan-perundingan bilateral berlangsung antarnegara anggota komisi, antara lain, Brazil, Burma, Ceylon, Pakistan, dan Rhodesia Selatan. Perundingan-perundingan mengenai konsesi timbal balik

11

(reciprocal tariff concession) yang dihasilkan dari perundingan-perundingan itu dicantumkan ke dalam GATT, dan ditandatangani pada tanggal 30 Oktober 1947. Hasil perundingan tersebut berisi suatu kodifikasi sementara mengenai hubungan-hubungan perdagangan di antara negara-negara

penandatangan. Berdasarkan persyaratan-persyaratan protokol tanggal 30 Oktober 1947, the General Agreement ditetapkan sejak 1 Januari 1948, sambil menunggu berlakunya ITO. Pertemuan penting keempat berlangsung di Havana sejak tanggal 21 November 1947 sampai dengan 24 Maret 1948. Pertemuan ini membahas Piagam ITO oleh delegasi dari 66 negara. Pertemuan berhasil mengesahkan Piagam Havana. Namun demikian, sampai dengan pertengahan tahun 1950an negara-negara peserta menemui kesulitan dalam meratifikasinya. Hal ini lebih disebabkan Amerika Serikat, sebagai pelaku utama dalam perdagangan dunia tahun 1958, menyatakan bahwa negaranya tidak akan meratifikai Piagam tersebut. Sejak itu pulalah ITO secara efektif menjadi tidak berfungsi sama sekali. Menurut Professor John H. Jackson, salah satu alasan keengganan Amerika Serikat meratifikasi Piagam tersebut adalah karena pemerintah Amerika Serikat menganggap bahwa peranan dan kewenangannya dalam mengadakan perundingan dalam organisasi internasional yang direncanakan tersebut (ITO) dibatasi oleh Kongres. Meskipun tidak pernah berlaku dan minimnya ratifikasi tersebut, tidak menyebabkan GATT menjadi tidak berlaku. Para perunding GATT mengeluarkan suatu perjanjian internasional baru, yaitu the Protocol of Provisional Application. Sejak dikeluarkan protokol inilah GATT terus berlaku sampai saat ini. Adapun tujuan utama GATT, sebagaimana terdapat pada preambule-nya adalah: 1. Meningkatkan taraf hidup manusia; 2. Meningkatkan kesempatan kerja; 3. Meningkatkan pemanfaatan kekayaan lam dunia; dan 4. Meningkatkan produksi dan tukar menukar barang.

12

Dalam pada itu, Olivier Long mengatakan bahwa tujuan GATT adalah menciptakan suatu iklim perdagangan internasional yang aman dan jelas bagi masyarakat bisnis dan menciptakan liberalisasi perdagangan yang

berkelanjutan di dalam penanaman modal, lapangan kerja, dan penciptaan iklim perdagangan yang sehat. Dengan tujuan tersebut, sistem perdagangan internasional yang diupayakan GATT adalah sistem yang dapat

meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di seluruh dunia. Sementara itu fungsi yang ingin dicapai oleh GATT adalah sebagai berikut: 1. Sebagai suatu perangkat ketentuan (aturan) multilateral yang mengatur perdagangan yang dilakukan oleh para pemerintah dengan memberikan suatu perangkat ketentuan perdagangan (the rules of the road for trade). 2. Mengupayakan agar praktek perdagangan dapat dibebaskan dari rintangan-rintangan yang mengganggu (liberalisasi perdagangan). 3. GATT adalah sebagai suatu pengadilan internsional yang para anggotanya menyelesaikan sengketa dagangnya dengan anggota-anggota GATT lainnya.

13

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Sejarah Perkembangan Hukum Ekonomi Internasional

Sebelum Perang Dunia II

Menurut Verloren Van Themaat, hukum

ekonomi internasional

berkembang pada abad ke 12. Klausul-klausul most-favourednation (MFN) treatment dan resipositas (timbal balik) sudah dikenal pula sejak abad pertengahan ini. Klausul MFN pertama yang didasarkan pada suatu perjanjian ditandatangani oleh Inggris dan Burgundy pada tanggal 17 Agustus 1417. Di abad pertengahan ini, prinsip-prinsip yang terdapat dalam hukum laut diakui pula telah memberikan sumbangan yang penting terhadap cikal bakal lahirnya hukum ekonomi internasional. Prinsip tersebut misalnya saja prinsip kebebasan berlayar (freedom of navigation) dan kebebasan menangkap ikan (di laut lepas).

Pasca Perang Dunia II: Bretton Woods System

Pada waktu berlangsungnya Perang Dunia II, negara-negara sekutu khususnya Amerika Serikat dan Inggris, memprakarsai pembentukan lembaga-lembaga ekonomi internasional untuk mengisi tujuan-tujuan kebijakan perekonomian internasional. Pada mulanya the Bretton Woods System ini kurang mendapat sambutan dari negara-negara Eropa Timur, termasuk Uni Sovyet yang menolak untuk ikut serta di dalamnya. Menurut mereka, organisasi ini dan

14

organisasi-organisasi sejenisnya hanya cocok untuk negara-negara yang menganut prinsip pasar bebas (free market). Negara-negara sedang berkembang juga mengkritik lembaga-lembaga ini. Lembaga ini dituding tidak memperhatikan kepentingan atau

permasalahan-permasalahan negara-negara sedang berkembang atau miskin. Pada mulanya memang negara-negara ini menolak bergabung dengan organisasi-organisasi hasil dari International Bretton Woods. Namun secara bertahap negara-negara ini kemudian mau bergabung dan bahkan memainkan peranan aktif dan penting di dalamnya. Negara-negara sedang berkembang telah berupaya bahwa harus ada suatu TEIB (Tata Ekonomi Baru/ New International Economic Order/ NIEO), yang akan mengubah beberapa norma dasar dari system Bretton Woods. Tujuannya adalah agar norma-norma dasar tersebut sesuai dengan pembangunan di negara-negara ketiga yang sangat dibutuhkan oeh negaranegara sedang berkembang.

Pasca Perang Dingin

Perkembangan hukum ekonomi internasional setelah berakhirnya Perang Dingin antara blok Timur dan Barat, ditandai dengan adanya perubahan-perubahan politik an ekonomi yang kedua-duanya saling berkaitan. Perubahan ini memiliki pengaruh cukup penting terhadap perkembangan hukum ekonomi internasional. Perubahan-perubahan politik tampak pada proses demokratisasi pada negara-negara di Eropa Timur dan Amerika Latin. Umumnya, proses ke arah demokratisasi ini baru bisa muncul apabila adanya pertumbuhan basis ekonomi yang stabil. Dan suatu basis ekonomi ini baru bisa terbentuk manakala hukum ekonomi internasional dapat menciptakan suatu pasar terbuka dan kompetitif. Karena itulah hukum ekonomi internasional dalam masa pasca perang dingin dihadapkan kepada suatu tantangan yang cukup berat yaitu bagaimana

15

menanggulangi praktik-praktik perdagangan yang dapat menghalangi pembangunan dan pembentukan pasar terbuka (bebas).

Perkembangan GATT/ WTO

General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) dibentuk sebagai suatu dasar (wadah) yang sifatnya sementara setelah Perang Dunia II. Pada masa itu timbul kesadaran masyarakat internasional akan perlunya suatu lembaga multilateral di samping Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF). Ternyata negara-negara yang pertama kali mendirikan GATT (founding contracting parties) tidak berhasil mendirikan apa yang mereka namakan International Trade Organization (ITO). Pada mulanya ITO itu akan dibentuk sebagai Specialized Agency dari PBB. Namun demikian, ITO tidak dapat terwujud karena Kongres Amerika Serikat tidak menyetujuinya. Setelah berulang kali diusahakan oleh pihak Eksekutif Amerika Serikat, maka pada tahun 1951, indikato jelas bahwa Kongres tidak akan menyetujuinya. Dengan demikian, maka Presiden Amerika Serikat Harry Truman, menarik kembali usulan ratifikasi Piagam Havana. Usul pembentukan suatu organisasi perdagangan ini disambut baik oleh The Economic and Social Council (ECOSOC). Badan khusus PBB ini menyatakan keinginannya untuk menyelenggarakan suatu konferensi. Untuk maksud tersebut, berhasil dibentuk suatu komisi persiapan. Persidanganpersidangan komisi ini berlangsung di London mulai tanggal 18 Oktober sampai dengan 26 Desember 1946. Komisi berhasil mengeluarkan suatu rancangan piagam London (the London Draft Charter). Namun demikian, para anggota peserta pertemuan ini gagal mencapai kata sepakat untuk mengesahkan rancangan piagam tersebut. Adapun tujuan utama GATT, sebagaimana terdapat pada preambule-nya adalah: 5. Meningkatkan taraf hidup manusia; 6. Meningkatkan kesempatan kerja;

16

7. Meningkatkan pemanfaatan kekayaan lam dunia; dan 8. Meningkatkan produksi dan tukar menukar barang.

17

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Bacaan : Huala Adolf. Hukum Ekonomi Internasional Suatu Pengantar, Rajawali Pers, Jakarta, 2005 (cetakan keempat) Nurdin MH. Indonesia Dalam Lipatan Ekonomi Global (GATT/WTO), Sophia Center, Banda Aceh, 2007.

18