Anda di halaman 1dari 7

Artikel Penelitian

Peranan Penggunaan Bahan Bakar terhadap Katarak pada Ibu Rumah Tangga di Indonesia

Lusianawaty Tana, Delima, Antonius Yudi Kristanto


Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI

Abstrak: Katarak adalah kekeruhan lensa mata yang dapat menimbulkan gangguan penglihatan dari ringan sampai buta. Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan terjadinya katarak. Sumber pajanan lingkungan dapat berasal dari bahan bakar yang digunakan dalam kegiatan memasak di rumah tangga (RT). Tujuan penelitian adalah menilai peranan penggunaan jenis bahan bakar RT dengan katarak pada penduduk dengan pekerjaan ibu RT di Indonesia. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain belah lintang menggunakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. Kriteria inklusi adalah ibu rumah tangga dan berusia 30 tahun ke atas. Diagnosis katarak berdasarkan hasil wawancara, dengan batasan operasional diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan dan/atau dengan gejala katarak dalam periode 12 bulan terakhir. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria sebanyak 95 800 orang. Jenis bahan bakar berhubungan dengan peningkatan katarak (p<0,05). Dibandingkan dengan proporsi katarak pada responden yang menggunakan bahan bakar gas, terjadi peningkatan proporsi katarak pada yang menggunakan bahan bakar arang/briket (OR 1,83; 95%CI 1,43-2,34), kayu bakar (OR 1,49; 95%CI 1,31-1,68), dan minyak tanah (OR 1,37; 95%CI 1,22-1,54) (p<0,05). Sedangkan katarak pada responden yang menggunakan bahan bakar listrik dan lainnya tidak berbeda dibandingkan bahan bakar gas (p>0,05). Upaya intervensi untuk memperlambat katarak diperlukan melalui penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku berkaitan dengan faktor risiko katarak, khususnya jenis bahan bakar yang dipakai RT untuk memasak. Kata kunci: bahan bakar rumah tangga, katarak, lingkungan, riskesdas

Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 8, Agustus 2009

363

Peranan Penggunaan Bahan Bakar terhadap Katarak pada Ibu Rumah Tangga

The Association of Fuel Use and Cataract Among Housewives in Indonesia: National Basic Health Research 2007 Lusianawaty Tana, Delima, Antonius Yudi Kristanto
Center of Biomedical and Pharmaceutical Research and Development National Institute of Health Research and Development, MOH RI

Abstract: Cataract is a lens opacity that can cause visual problems, from mild visual acuity disorder until blindness. Environmental factor is one of many factors associated with cataract formation. One of the environmental sources of exposure is the type of fuel used in household. The objective of this study was to evaluate the association of household fuel and cataract among housewives in Indonesia. A cross-sectional study was conducted using National Basic Health Research (Riskesdas) 2007 data. The study involved housewife aged 30 years and above. Cataract diagnosis was based on interview result and was defined as presence of history of cataract diagnosed by the health professionals and/or had cataract symptoms in the past 12 months. There were 95,800 samples that fulfilled the study criteria. The type of household fuel were associated with cataract (p<0.05). Compared to housewives using gas fuel, cataract was more prevalent in housewives using charcoal (OR 1.83; 95%CI 1.43-2.34), wood (OR 1.49; 95%CI 1.31-1.68), and kerosene (OR 1.37; 95%CI 1.22-1.54) (p<0.05). But the proportion of cataract in housewives using electricity and other types of fuel were not significantly different from housewives using gas fuel (p>0.05). Efforts to delay cataract development are needed; for example through education to increase knowledge, attitude, and practice related to cataract risk factors, especially the use household fuel for cooking. Key words: cataract, environmental, household fuel, National Basic Health Research

Pendahuluan Katarak merupakan suatu kelainan berupa kekeruhan lensa mata yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan dari ringan sampai berat (kebutaan).1 Katarak merupakan penyebab utama kebutaan (0,78%) di antara penyebab kebutaan lainnya.2 Pada umumnya kebutaan karena katarak terjadi pada usia lanjut, namun menurut hasil penelitian dilaporkan bahwa 16%-22% buta akibat katarak di Indonesia terjadi di usia produktif (di bawah 50 tahun).1,3 Prevalensi katarak di Indonesia yang dilaporkan oleh Survei Kesehatan Rumah Tangga-Survei Kesehatan Nasional (SKRT-SURKESNAS) 20014 sebesar 4,99%. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 20075 melaporkan prevalensi katarak pada umur 30 tahun ke atas sebesar 17,4%. Banyak faktor dikaitkan dengan katarak yaitu umur sebagai faktor utama dan faktor lainnya antara lain penyakit diabetes mellitus (DM), pajanan kronis terhadap sinar ultra violet (sinar matahari), konsumsi alkohol, nutrisi, merokok, tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan, asupan multivitamin, dan pekerjaan. 6-9 Riskesdas 2007 5 melaporkan prevalensi katarak cukup tinggi pada jenis pekerjaan tertentu, yaitu petani/nelayan/buruh sebesar 17,8% dan ibu rumah tangga (IRT) sebesar 16,1%. Persentase jenis pekerjaan sebagai IRT sebesar 22,5% dan merupakan salah satu dari

dua jenis pekerjaan yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia setelah pekerjaan petani/nelayan/ buruh (38%).8 Pekerjaan IRT tidak terlepas dari pekerjaan menyiapkan makanan bagi keluarga, yaitu memasak dengan menggunakan bahan bakar. Saha et al10 melaporkan adanya hubungan antara bahan bakar dengan kejadian katarak, dan bahan bakar kayu merupakan faktor penting sebagai penyebab katarak yang bergantung pada umur (OR 2,12; 95% CI 1,0-4,34). Pokhrel et al11 melaporkan penggunaan bahan bakar padat pada dapur yang tidak mempunyai saluran asap berhubungan dengan peningkatan risiko katarak pada perempuan yang melakukan pekerjaan memasak. Katarak merupakan gangguan penglihatan yang dapat dicegah di dunia. Operasi katarak merupakan pilihan yang aman dan efektif untuk memperbaiki penglihatan.12 Namun di Indonesia terjadi penumpukan penderita katarak yang cukup tinggi (backlog), yang antara lain disebabkan oleh daya jangkau pelayanan operasi yang masih rendah, kurangnya pengetahuan masyarakat, tingginya biaya operasi, serta masih terbatasnya ketersediaan tenaga dan fasilitas kesehatan mata. 3 Banyak upaya dilakukan untuk mengidentifikasi faktor risiko katarak, yang diharapkan dapat membantu dalam

364

Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 8, Agustus 2009

Penggunaan Bahan Bakar terhadap Katarak pada Ibu Rumah Tangga menentukan langkah-langkah pencegahan kejadian katarak terutama pada tahap dini dan menentukan strategi yang tepat.13 Sehubungan dengan itu, maka dilakukan analisis lanjut penelitian determinan katarak di Indonesia Riskesdas 2007. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan bahan bakar yang dipakai dalam rumah tangga dengan katarak pada pekerjaan sebagai IRT di Indonesia. Metode Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dilakukan dengan belah lintang, menggunakan data Riskesdas 2007.5 Kriteria penelitian adalah IRT berumur 30 tahun ke atas. Variabel berasal dari beberapa kuesioner yaitu Kuesioner RKD07.RT (Kuesioner Riskesdas 2007 Rumah Tangga), Kuesioner RKD07.IND (Kuesioner Riskesdas 2007 Individu), Kuesioner RKD07.Gizi (Kuesioner Riskesdas 2007 Gizi, dan Kuesioner Susenas 2007 VSEN2007.K (Kuesioner Survei Sosio-ekonomi Nasional 2007 Sensus 2007). Data karakteristik individu diperoleh dari Kuesioner RKD07.RT. Data katarak dan gejala katarak, penyakit glaukoma, penyakit DM, merokok, konsumsi alkohol, dan kebiasaan makan buah sayur diperoleh dari Kuesioner RKD07.IND. Data konsumsi rumah tangga (RT) diperoleh dari Kuesioner RKD07.Gizi. Data tingkat pengeluaran perkapita rumah tangga dan data bahan bakar utama yang dipakai untuk memasak dalam rumah tangga diperoleh dari Kuesioner Susenas 2007 VSEN2007.K.5,14 Data asupan vitamin A individu berasal dari data asupan vitamin A RT yang dihitung kembali berdasarkan jumlah individu dalam RT, kriteria kecukupan asupan vitamin berdasarkan umur dan jenis kelamin. Tingkat sosial ekonomi diukur dari tingkat pengeluaran perkapita RT yang dibagi menjadi 5 kuintil. Diagnosis katarak pada penelitian ini berdasarkan 2 butir pertanyaan, yaitu apakah 1 atau 2 mata didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan yang lalu dan apakah dalam 12 bulan terakhir mengalami gejala penglihatan berkabut/berasap atau tidak jelas dan mempunyai masalah penglihatan berkaitan dengan sinar, seperti silau pada lampu/ pencahayaan yang terang.14 Data dianalisis dengan program SPSS. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat (bagi variabel yang memenuhi persyaratan p<0,25 atau p>0,25 tetapi secara teori berpengaruh). Tingkat kemaknaan ditetapkan sebesar 0,05 dan interval kepercayaan sebesar 95%. Hasil Jumlah responden umur 30 tahun ke atas dan dengan pekerjaan ibu rumah tangga sebanyak 95 800 orang. 1. a. Karakteristik responden. Proporsi responden berdasarkan karakteristik sosiodemografi. Berdasarkan karateristik responden, ternyata tidak semua variabel katarak diperoleh pada semua responden. Data untuk umur dan tipe daerah diperoleh 95 800 (100%). Data untuk pendidikan didapatkan 95 498 (99,7% dari total) dan data tingkat pengeluaran perkapita masingmasing didapatkan 95 502 (99,7% dari total). Proporsi responden paling banyak pada kelompok umur 30-40 tahun yaitu sebesar 46,8% (Tabel 1). Sebanyak 63,6% responden berpendidikan <SD, 50,1% tinggal di pedesaan, dan 62,6% memiliki tingkat pengeluaran perkapita per bulan RT rendah (kuintil 1-3). b. Proporsi responden berdasarkan bahan bakar utama yang dipakai RT untuk memasak. Berdasarkan jenis bahan bakar didapatkan hanya 95.502 (99,7% dari total). Proporsi responden yang menggunakan bahan bakar minyak tanah sebagai bahan bakar utama dalam RT untuk keperluan memasak sebesar 42,7%, diikuti kayu bakar sebesar 41,9%, listrik sebesar 12,4%, gas sebanyak 1,8%, arang/briket sebanyak 1%, dan bahan lainnya 0,3%. c. Proporsi responden berdasarkan penyakit dan perilaku (merokok, konsumsi alkohol, konsumsi buah dan sayur), dan asupan vitamin. Berdasarkan riwayat DM, riwayat glaukoma, perilaku merokok, konsumsi alkohol, konsumsi buah dan sayur, dan asupan vitamin A individu, ternyata tidak semua variabel diperoleh pada semua responden. Data untuk variabel riwayat DM didapatkan 95 630 (99,8% dari total), riwayat glaukoma didapatkan 94 654 (98,8% dari total), perilaku merokok didapatkan 95 605 (99,8% dari total), konsumsi alkohol didapatkan 95 214 (99,4%), konsumsi buah dan sayur didapatkan 90 419 (94,4% dari total), dan asupan vitamin A individu didapatkan 81.823 (85,4% dari total). Proporsi responden dengan DM sebesar 2,3% sedangkan yang dengan glaukoma sebesar 0,7% (Tabel 2). Proporsi responden yang merokok (merokok setiap hari, merokok kadang-kadang, dan mantan perokok) sebesar 5,9% sedangkan yang mengkonsumsi alkohol dalam 1 tahun terakhir sebesar 0,5%. Responden yang mengkonsumsi buah dan sayur kurang (<5 porsi sehari) sebanyak 93,9% dan yang mengkonsumsi buah sayur cukup (>5 porsi sehari) sebanyak 6,1%, yang dengan asupan vitamin A individu dalam kriteria cukup (sesuai dengan angka kecukupan gizi individu perhari) sebesar 37,4% dan yang kurang sebesar 62,6%. d. Proporsi katarak pada responden Proporsi responden dengan katarak sebesar 14,4%, sedangkan yang tidak katarak sebesar 85,6%. Faktor risiko katarak. Hasil analisis hubungan bivariat antara karakteristik responden, jenis bahan bakar RT, penyakit, perilaku merokok, konsumsi alkohol, konsumsi buah dan sayur, dan asupan vitamin A dengan katarak disajikan dalam Tabel 1 dan 2. 2.

Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 8, Agustus 2009

365

Penggunaan Bahan Bakar terhadap Katarak pada Ibu Rumah Tangga a. Hubungan antara karakteristik responden dengan katarak. Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa proporsi katarak meningkat secara bermakna dengan meningkatnya usia, pada kelompok pendidikan rendah, pada kelompok bertempat tinggal di perdesaan, dan pada kelompok dengan tingkat pengeluaran perkapita RT yang rendah. Pada tingkat pengeluaran perkapita kuintil 1-3 mempunyai risiko katarak 5% lebih tinggi dibandingkan kuintil 4-5. b. Hubungan antara bahan bakar RT, riwayat DM, riwayat glaukoma, perilaku merokok, konsumsi alkohol, konsumsi buah sayur, dan asupan vitamin A individu dengan katarak. Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa proporsi katarak pada responden yang menggunakan bahan bakar arang/briket, kayu bakar, minyak tanah, dan bahan bakar lainnya meningkat dibandingkan dengan responden yang menggunakan bahan bakar gas.

Tabel 1. Hubungan Karakteristik Responden dengan Katarak Karakteristik Jumlah f Katarak (%) Ya Tidak OR 95%CI p

Kelompok umur (tahun) >50 41-50 30-40 Pendidikan <SMP SMP+ Tipe daerah Perdesaan Perkotaan Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1-3 Kuintil 4-5

23026 27127 45647 35458 60040 55714 40086

28,9 15,4 6,3 18,1 8,1 16,4 12,5

71,1 84,6 93,7 81,9 91,9 83,6 87,5

6,05 2,73 Referens 2,52 Referens 1,37 Referens

5,67-6,45 2,55-2,92

<0,001

2,37-2,68

<0,001

1,29-1,46

<0,001

60012 35490

14,7 14,0

85,3 86,0

1,05 Referens

1,00-1,11

0,051

Tabel 2. Hubungan Jenis bahan bakar RT, DM, Glaukoma, Merokok, Konsumsi Alkohol, Konsumsi Buah Sayur, dan Asupan Vitamin A dengan Katarak Variabel Jumlah f Katarak (%) Ya Tidak OR 95%CI p

Bahan bakar RT Listrik Minyak tanah Arang/briket Kayu bakar Lainnya Gas DM Ya Tidak Glaukoma Ya Tidak Merokok Ya Tidak Konsumsi alkohol Ya Tidak Konsumsi buah sayur <5 porsi/hari >5 porsi/hari Vitamin A Kurang Cukup

1445 36813 1327 45619 228 10070 2073 93557 714 93940 5357 90248 763 94451 84671 5748 48849 32974

11,8 13,1 18,3 17,3 20,2 9,2 29,2 14,1 37,7 14,2 25,1 13,8 23,2 14,4 14,4 12,2 15,0 14,1

88,2 86,9 81,7 82,7 79,8 90,8 70,8 85,9 62,3 85,8 74,9 86,2 76,8 85,6 85,6 87,8 85,0 85,9

1,37 1,62 2,54 2,11 2,65 Referens 2,52 Referens 3,65 Referens 2,10 Referens 1,79 Referens 1,22 Referens 1,08 Referens

1,10-1,72 1,46-1,79 2,05-3,14 1,91-2,34 1,65-4,27

<0,001

2,21-2,87

<0,001

2,92-4,55

<0,001

1,92-2,29

<0,001

1,44-2,23

<0,001

1,09-1,35

<0,001

1,02-1,14

0,011

366

Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 8, Agustus 2009

Penggunaan Bahan Bakar terhadap Katarak pada Ibu Rumah Tangga Proporsi katarak meningkat secara bermakna pada responden dengan riwayat DM, pada responden dengan riwayat glaukoma, pada responden dengan perilaku merokok, pada responden yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi alkohol, pada responden dengan kebiasaan mengkonsumsi buah dan sayur kurang dari 5 porsi sehari, dan pada responden dengan asupan vitamin A individu dengan kriteria kurang. Katarak pada responden dengan asupan vitamin A individu dengan kriteria kurang, lebih tinggi 8% dibandingkan pada responden dengan asupan vitamin A individu dalam kriteria cukup. 3. Faktor determinan katarak pada responden dengan pekerjaan ibu rumah tangga. Faktor determinan katarak didapatkan dengan cara melakukan analisis multivariat. Analisis multivariat dilakukan antara faktor risiko yang memenuhi persyaratan untuk dianalisis secara multivariat. Variabel yang masuk dalam analisis multivariat adalah variabel umur, pendidikan, tipe desa, tingkat pengeluaran perkapita RT, jenis bahan bakar gas yang dipakai dalam rumah tangga, riwayat DM, riwayat glaukoma, perilaku merokok, konsumsi alkohol, konsumsi buah dan sayur, dan asupan vitamin A individu. Hasil analisis hubungan multivariat antara faktor risiko katarak dengan katarak disajikan dalam Tabel 3. Pada Tabel 3 disajikan hasil multivariat faktor risiko yang berhubungan secara bermakna dengan katarak yaitu umur, riwayat glaukoma, riwayat DM, jenis bahan bakar RT, pendidikan, konsumsi alkohol, perilaku merokok, konsumsi buah dan sayur, dan asupan vitamin A. Tingkat pengeluaran perkapita RT tidak berhubungan secara bermakna dengan katarak. Dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar gas, maka arang/briket berisiko meningkatkan katarak paling tinggi, diikuti oleh kayu bakar, dan minyak tanah. Sedangkan bahan bakar listrik dan lainnya tidak berbeda dibandingkan dengan gas.

Tabel 3. Hubungan Multivariat Beberapa Faktor Risiko dengan Katarak Determinan Katarak (%) Ya Tidak OR 95%CI p

Kelompok Umur (tahun) >50 41-50 30- 40 Pendidikan <SMP SMP+ Tipe daerah Perdesaan Perkotaan Bahan bakar Listrik Minyak tanah Arang/briket Kayu bakar Lainnya Gas Merokok Ya Tidak Alkohol Ya Tidak Buah sayur <5 porsi /hari >5 porsi /hari Glaukoma Ya Tidak DM Ya Tidak Vitamin A Kurang Cukup

28,9 15,4 6,3 18,1 8,1 16,4 12,5 11,8 13,1 18,3 17,3 20,2 9,2 25,1 13,8 23,2 14,4 14,4 12,2 37,7 14,2 29,2 14,1 15,0 14,1

71,1 84,6 93,7 81,9 91,9 83,6 87,5 88,2 86,9 81,7 82,7 79,8 90,8 74,9 86,2 76,8 85,6 85,6 87,8 62,3 85,8 70,8 85,9 85,0 85,9

5,20 2,62 Referens 1,57 Referens 1,22 Referens 1,11 1,37 1,83 1,49 1,71 Referens 1,56 Referens 1,58 Referens 1,14 Referens 2,74 Referens 1,99 Referens 1,10 Referens

4,81-5,62 2,43-2,83

<0,001

1,45-1,69

<0,001

1,12-1,33

<0,001

0,85-1,44 1,22-1,54 1,43-2,34 1,31-1,68 0,96-3,05

<0,001

1,40-1,74

<0,001

1,22-2,06

0,001

1,00-1,29

0,044

2,10-3,58

<0,001

1,68-2,33

<0,001

1,04-1,17

0,002

Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 8, Agustus 2009

367

Penggunaan Bahan Bakar terhadap Katarak pada Ibu Rumah Tangga Diskusi Pada penelitian ini dari hasil analisis multivariat diperoleh hubungan bermakna antara penggunaan bahan bakar RT dengan kejadian katarak. Hasil temuan penelitian ini sesuai dengan hasil yang dilaporkan oleh kepustakaan, bahwa jenis bahan bakar yang dipakai merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian katarak.10,11 Apabila ditinjau dari metode yang dipakai pada penelitian ini dan penelitian Pokhrel et al11 terdapat perbedaan dalam hal desain penelitian dan dasar mendiagnosis katarak. Desain pada penelitian ini adalah belah lintang menggambarkan masyarakat Indonesia secara keseluruhan sedangkan penelitian Pokhrel et al11 dilakukan dengan disain kasus kontrol. Penelitian ini menggambarkan hasil yang sama dengan penelitian Pokhrel et al11 mengenai hubungan antara jenis bahan bakar dengan katarak, sekalipun dalam menetapkan kriteria diagnosis katarak berbeda. Pada penelitian ini, diagnosis katarak berdasarkan hasil wawancara. Pada penelitian Pokhrel et al 11 diagnosis katarak berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan menggunakan slit lamp dan midriatika, karena penelitian ini berbasis fasilitas kesehatan. Berdasarkan pada jenis bahan bakar yang dipakai, diperoleh bahwa proporsi katarak paling rendah pada responden yang menggunakan gas, dan tidak berbeda dibandingkan dengan bahan listrik dan lainnya. Hal ini dapat dijelaskan bahwa berdasarkan etiologi katarak, bahwa asap yang dihasilkan pada saat pekerjaan memasak, merupakan faktor yang dapat menyebabkan terjadinya katarak. Kepustakaan melaporkan ada bukti bahwa asap dapat merangsang terjadinya stres oksidatif dan mengurangi glutathion, karotenoid, vitamin C plasma yang berfungsi untuk melindungi mata terhadap pembentukan katarak.11 Penggunaan bahan bakar gas dan listrik menghasilkan asap yang relatif rendah dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar kayu api, arang/briket dan minyak tanah. Dengan demikian dapat dipahami, bahwa dengan jumlah asap yang relatif lebih tendah juga meminimalkan risiko katarak. Hal itu sesuai dengan penelitian Saha et al10 yang melaporkan bahwa pada pemakaian bahan bakar hanya LPG saja didapatkan risiko katarak lebih kecil dibandingkan dengan bahan bakar kayu saja. Hal itu diperkuat juga dengan lebih tingginya risiko katarak pada responden yang menggunakan bahan bakar arang/briket (1,8 kali) dibandingkan katarak pada responden yang menggunakan bahan bakar gas, mengingat asap yang ditimbulkan oleh bahan bakar ini lebih banyak dibandingkan dengan bahan bakar gas. Hasil tersebut sesuai dengan hasil yang dilaporkan oleh penelitian lain.11 Tingginya risiko katarak pada pemakaian arang/briket mungkin berhubungan dengan asap yang ditimbulkan oleh bahan bakar ini. Pada penelitian ini proporsi katarak pada responden yang menggunakan bahan bakar kayu bakar 1,5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan bahan bakar gas. Hasil itu sesuai
368

dengan hasil penelitian Saha et al10 yang melaporkan bahwa pada pemakaian bahan bakar kayu saja didapatkan peningkatan risiko katarak sampai 3,5 kali lipat dibandingkan dengan hanya memakai LPG. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa penggunaan bahan bakar kayu bakar menghasilkan asap lebih banyak dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar gas. Dengan demikian dapat dipahami, bahwa dengan jumlah asap yang relatif lebih tinggi dapat meningkatkan risiko terjadinya katarak. Pada penelitian ini, katarak pada responden yang menggunakan bahan bakar minyak tanah meningkat 1,4 kali dibandingkan dengan yang menggunakan bahan bakar gas. Hal ini dapat diterangkan sebagai berikut, walaupun asap yang dihasilkan oleh bahan bakar minyak tanah tidak sebanyak asap yang dihasilkan oleh bahan bakar kayu api, namun lebih banyak dibandingkan asap dari bahan bakar gas. Faktor lain yang perlu mendapat perhatian sehubungan dengan asap yang dihasilkan oleh penggunaan berbagai jenis bahan bakar rumah tangga adalah faktor jenis peralatan masak (kompor/tungku), adanya cerobong asap yang berguna untuk menyalurkan asap keluar ruangan, kebersihan alat memasak, dan adanya ventilasi. Pemakaian peralatan memasak yang kotor dapat meningkatkan jumlah asap yang terjadi. Selain itu memasak di dalam ruangan tertutup tanpa ventilasi yang memadai, dan tidak tersedianya cerobong asap, dapat menyebabkan asap yang terjadi bertahan lebih lama di dalam ruangan. Kebersihan peralatan memasak yang menggunakan bahan bakar gas dan listrik dilaporkan relatif lebih bersih dibandingkan peralatan masak yang menggunakan kayu bakar, arang/briket dan minyak tanah. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Pokhrel AK et al11 yang melaporkan adanya peningkatan katarak pada IRT yang memasak dengan menggunakan bahan bakar padat di dalam ruangan tanpa cerobong asap. Hasil penelitian ini menjadi penting dan perlu mendapat perhatian karena pemakaian bahan bakar kayu bakar di antara IRT di Indonesia sebanyak 41,9%, dan 62,6% dari IRT di Indonesia dengan tingkat pengeluaran perkapita RT yang rendah, dan 63,7% dengan pendidikan rendah. Hal lain yang perlu diperhatikan dan dapat menjadi kendala adalah biaya listrik dan gas serta peralatan kompor yang terkait dengan bahan bakar tersebut adalah relatif lebih mahal dibandingkan kayu bakar. Pada penelitian ini, data mengenai cerobong asap dan ventilasi ruangan dapur belum dapat diekploarasi secara maksimal, sehingga suatu penelitian lanjutan yang terkait dengan hal tersebut perlu dilakukan di masa mendatang. Selain itu kepustakaan juga melaporkan bahwa penggunaan arang meningkatkan risiko 2 kali lebih tinggi dalam hal menimbulkan iritasi mata.10 Suatu penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk membuktikan adanya hubungan penggunaan bahan bakar arang/briket terhadap terjadinya iritasi mata.

Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 8, Agustus 2009

Penggunaan Bahan Bakar terhadap Katarak pada Ibu Rumah Tangga Dengan demikian, sehubungan dengan faktor risiko jenis penggunaan bahan bakar yang dapat meningkatkan katarak, diperlukan suatu usaha dalam bentuk penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan dalam jenis bahan bakar yang kurang berisiko bagi kejadian katarak. Pada penelitian ini, ditinjau dari peningkatan risiko katarak lebih tinggi pada responden dengan umur yang lebih tua, pada yang menderita glaukoma, menderita DM, dengan pendidikan yang rendah, mengkonsumsi alkohol, merokok, kurang makan buah dan sayur, dan kurang asupan vitamin A. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang ada.6-9,12 Sedangkan untuk tingkat pengeluaran per kapita RT tidak berhubungan secara bermakna dengan katarak. Katarak pada kedua tingkat pengeluaran per kapita RT didapatkan hampir sama banyak. Kemungkinan kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kesadaran untuk mencari pengobatan untuk katarak, sehingga adanya gejala awal pada katarak tidak diketahui karena dirasakan tidak menganggu pekerjaan sebagai IRT, dan IRT baru mencari pengobatan setelah penglihatannya sangat terganggu. Kesimpulan Pada masyarakat Indonesia yang berumur 30 tahun ke atas dengan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, didapatkan faktor risiko katarak yang berperan adalah umur, diikuti glaukoma, riwayat DM, penggunaan jenis bahan bakar RT, pendidikan, konsumsi alkohol, perilaku merokok, konsumsi buah dan sayur, dan asupan vitamin A individu. Dibandingkan dengan proporsi katarak pada responden yang menggunakan bahan bakar gas, maka katarak pada responden yang menggunakan bahan bakar minyak tanah, bahan bakar kayu bakar, dan bahan bakar batu bara lebih tinggi 1,4 kali, 1,5 kali, dan 1,8 kali. Risiko katarak pada responden yang menggunakan bahan bakar listrik dan bahan bakar lainnya tidak berbeda dibandingkan pada responden yang menggunakan bahan bakar gas. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk pengukuran konsentrasi asap, penilaian kebersihan peralatan memasak dan ventilasi ruangan tempat memasak. Ucapan Terima Kasih Atas bantuan berbagai pihak selama penelitian, kami mengucapkan terima kasih khususnya kepada Dr.Triono Soendoro, PhD, DR. dr. Trihono, MSc, dr Atmarita, dr Emiliana Tjitra MSc, PhD, dr Erry SpM, sehingga penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan data Riskesdas 2007 Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. Daftar Pustaka
1. Departemen Kesehatan RI. Rencana strategis nasional penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan (PGPK) untuk mencapai vision 2020. Jakarta. 2003. Departemen Kesehatan RI. DitJen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina Upaya Kesehatan Puskesmas. Hasil survei kesehatan indera penglihatan dan pendengaran 1993-1996. Jakarta.1998. Departemen kesehatan Republik Indonesia. Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat. Rencana strategi nasional penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan untuk mencapai vision 2020. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1437/Menkes/SK/X/ 2005. Jakarta. 2006. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Gangguan kesehatan indera penglihatan dan pendengaran. Analisis data morbiditasdisabilitas, SKRT-SURKESNAS 2001. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Kesehatan Khusus dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Sekretariat SURKESNAS. Jakarta. 2004. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Laporan nasional Riset Kesehatan Dasar 2007. Jakarta. 2008. Indonesian Second Country in South-East Asia Region to Launch national Vision 2020 Programe. WHO experts plan regional strategy for preventable blindness for next twenty years. 2004. [cited 2004 August 20]. Available from: http://www.home. earthlink.net/-blindworld/RESEARCH/4-04-12-04.htm. Wong TY, Loon SC. Saw SM. The epidemiology of age related eye diseases in Asia. Br J Ophthal. 2006;90:506-11. Tana L. Determinan kejadian katarak di Indonesia. Riset Kesehatan Dasar 2007. Laporan penelitian. Jakarta. 2009. Kurniarz M, Mitchell P, Cumming RG, Flood VM. Use vitamin supplements and cataract: The Blue Mountains Eye Study. Am J Ophthalmol. 2001; vol 132 (Issue 1):19-26. Saha A, Kulkarni PK, Shah A, Patel M, Saiyed HN. Ocular morbidity and fuel use: an experience from India. Occup Env Med. 2005; 62(1):66-69. Amod Pokhrel AM, Smith KR, Khalakdina A, Deuja A, Bates MN. Case-control study of indoor cooking smoke exposure and cataract in Nepal and India. Int J Epidemiol. 2005; 34:702-08. Krishnaiah S, Vilas K, Shamana BR, Rao GN, Thomas R, Balasubramanian D. Smoking and its association with cataract: Results of the Andhra Pradesh eye disease study from India. Invest Ophthalmol Visual Sci. 2005;46:58-65. Sirlan F. Faktor Risiko buta katarak usia produktif: Tinjauan khusus terhadap enzym glutation reduktase dan riboflavin darah. Studi kasus di daerah pantai Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat. Disertasi. Jakarta. 2000. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar 2007. Pedoman pengisian kuesioner. Jakarta. 2007. MS

2.

3.

4.

5.

6.

7. 8. 9.

10.

11.

12.

13.

14.

Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 8, Agustus 2009

369