Anda di halaman 1dari 16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Daur Hidrologi
Secara sederhana, daur hidrologi adalah gerakan air laut ke udara,

kemudian jatuh kepermukaan tanah dan akhirnya mengalir ke laut kembali. Melalui penguapan, air menjadi uap dan naik ke atmosfer setelah mengalami transportasi dan presipitasi (hujan, embun, salju). Air yang jatuh di daratan sebagian akan menguap, sebagian akan meresap kedalam tanah, dan sebagian pula akan mengalir dipermukaan menuju sungai dan seterusnya ke laut (Amin, 2002). skematik pada gambar 2.". aur !idrologi digambarkan secara

#ambar 2."

aur !idrologi (Sosrodarsono, "$$%)

2.2

Sistem Penyaliran
%

&engertian dari sistem penyaliran tambang adalah suatu usaha yang diterapkan pada daerah penambangan untuk mencegah, mengeringkan, atau mengeluarkan air yang masuk ke daerah penambangan. 'paya ini dimaksudkan untuk mencegah terganggunya akti(itas penambangan akibat adanya air dalam jumlah yang berlebihan, terutama pada musim hujan. Selain itu, sistem penyaliran tambang ini juga dimaksudkan untuk

memperlambat kerusakan alat, sehingga alat)alat mekanis yang digunakan pada daerah tersebut mempunyai umur yang lama (Su*andhi, 200+). Sumber air yang masuk ke lokasi penambangan dapat berasal dari air permukaan tanah maupun air di ba*ah tanah. Air permukaan tanah merupakan air yang terdapat dan mengalir di permukaan tanah. ,enis air ini meliputi, air limpasan permukaan, air sungai, ra*a atau danau yang terdapat di daerah tersebut, air buangan (limbah), dan mata air. Sedangkan air di ba*ah tanah merupakan air yang terdapat di ba*ah permukaan tanah (#autama, "$$$). Secara hidrologis air di ba*ah tanah dapat dibedakan menjadi air pada daerah jenuh dan air pada daerah tak jenuh. aerah tak jenuh pada

umumnya terdapat pada bagian teratas dari lapisan tanah dicirikan oleh gabungan antara material padatan, air dalam bentuk air adsorpsi, air kapiler, dan air infiltrasi serta gas-udara. aerah ini dipisahkan dari daerah

jenuh oleh jaringan kapiler. Air yang berada pada daerah jenuh disebut air tanah (Amin, 2002). &enanganan masalah air dalam suatu tambang terbuka dapat dibedakan menjadi dua (!artono, 200.) yaitu/ 1. Mine drainage Merupakan upaya untuk mencegah masuknya air ke daerah

penambangan. !al ini umumnya dilakukan untuk penanganan air tanah +

dan air yang berasal dari sumber air permukaan. 0ara yang biasa digunakan untuk mencegah agar air permukaan adalah dengan membuat saluran-paritan di sekeliling tambang atau lantai jenjang. 2. Mine dewatering, Merupakan upaya untuk mengeluarkan air yang telah masuk ke daerah penambangan. 'paya ini terutama untuk menangani air yang berasal dari air hujan. 1eberapa metode penyaliran mine dewatering adalah sebagai berikut/ a. Sistem 2olam 3erbuka Sistem ini diterapkan untuk membuang air yang telah masuk ke daerah penambangan. Air dikumpulkan pada sumur ( sump),

kemudian dipompa keluar. b. 0ara &aritan &enyaliran dengan cara paritan ini merupakan cara yang paling mudah, yaitu dengan pembuatan paritan (saluran) pada lokasi penambangan. &embuatan parit ini bertujuan untuk menampung air limpasan yang menuju lokasi penambangan. Air limpasan akan masuk ke saluran4saluran yang kemudian dialirkan ke suatu kolam penampung atau di buang langsung ke tempat pembuangan dengan memanfaatkan gaya gra(itasi. c. Sistem Adit 0ara ini biasanya digunakan untuk pembuangan air pada tambang terbuka yang mempunyai banyak jenjang. Saluran horisontal yang dibuat dari tempat kerja menembus ke shaft yang dibuat di sisi bukit untuk pembuangan air yang masuk ke dalam tempat kerja.

&embuangan dengan sistem ini biasanya mahal, disebabkan oleh biaya pembuatan saluran horisontal tersebut dan shaft. 5

2.3

a!tor"#a!tor yang $em%engaru&i Sistem Penyaliran

6aktor)faktor yang harus dipertimbangkan dalam merancang sistem penyaliran pada tambang terbuka adalah (!artono, 200.) /

2.3.1 'ura& Hu(an


0urah hujan merupakan salah satu faktor penting dalam suatu sistem penyaliran, karena besar kecilnya curah hujan akan mempengaruhi besar kecilnya air tambang yang harus diatasi. 1esar curah hujan dapat dinyatakan sebagai (olume air hujan yang jatuh pada suatu areal tertentu, oleh karena itu besarnya curah hujan dapat dinyatakan dalam meter kubik per satuan luas, secara umum dinyatakan dalam mm. &engamatan curah hujan dilakukan oleh alat penakar curah hujan. Angka)angka curah hujan yang diperoleh sebelum diterapkan dalam rencana pengandalian air permukaan, harus diolah terlebih dahulu. ata

curah hujan yang akan dianalisa adalah besarnya curah hujan harian maksimum. &engolahan data curah hujan meliputi/ a. &eriode ulang hujan . 0urah hujan biasanya terjadi menurut pola tertentu dimana curah hujan tertentu biasanya akan berulang pada periode tertentu yang dikenal dengan periode ulang hujan. &eriode ulang hujan didefinisikan sebagai *aktu dimana curah hujan dengan besaran tertentu akan disamai atau dilampaui sekali dalam jangka *aktu tertentu. Misalnya periode ulang

hujan "0 tahun, maka peristi*a yang bersangkutan (hujan, banjir) akan terjadi rata)rata sekali setiap periode "0 tahun. 3erjadinya peristi*a tersebut tidak harus "0 tahun, melainkan rata)rata sekali setiap periode "0 tahun, misal "0 kali dalam periode "00 tahun, 25 kali dalam 250 tahun dan seterusnya. &eriode ulang ini memberikan gambaran bah*a semakin besar periode ulang semakin tinggi curah hujannya. &enetapan periode ulang hujan sebenarnya lebih ditekankan pada masalah kebijaksanaan yang perlu diambil sesuai dengan perencanaan. &ertimbangan dalam penentuan periode ualang hujan tersebut adalah resiko yang dapat di timbulkan bila curah hujan melebihi curah hujan rencana. b. !ujan rencana. alam perancangan sistem penyaliran untuk air permukaan pada suatu tambang, hujan rencana merupakan suatu kriteria utama. !ujan rencana adalah hujan maksimum yang mungkin terjadi selama umur dari sarana penirisan tersebut. !ujan rencana ini ditentukan dari hasil analisa frekuensi data curah hujan, dan dinyatakan dalam curah hujan dengan periode ulang tertentu. Salah satu metode dalam analisa frekuensi yang sering digunakan dalam menganalisa data curah hujan adalah metode distribusi ekstrim, atau juga dikenal dengan metode distribusi #umbel (Su*andhi 200+). &ersamaan #umbel tersebut adalah sebagai berikut/ 888888888888888 (2.")

imana / XT = Perkiraan nilai curah hujan rencana (mm) X = urah hujan rata!rata (mm) = "impangan #aku (standar de$iati%n) = "tandar de$iasi dari reduksi $ariate (standar de$iati%n %f the 9

reduced $ariate), nilain&a tergantung dari jumlah data 'n = (ilai reduksi $ariat dari $aria#le &ang diharapkan terjadi pada peri%de ulang tertentu 'n = )%reksi rata!rata (reduced mean) Simpangan baku dihitung dengan rumus /

8888888888888888888. (2.2) imana / X n = "tandar de$iasi = (ilai $ariat = (ilai rata!rata hitung $ariat = *umlah data

:ilai reduksi (ariat dihitung dengan menggunakan rumus / 8888888888888888. (2.%) imana / ' = (ilai reduksi $ariat dari $aria#le &ang diharapkan terjadi pada peri%de ulang tertentu T= Peri%de ulang 2oreksi rata)rata (+educed mean) dihitung dengan menggunakan rumus / 8888888888888. (2.+) imana / 'n = )%reksi rata!rata (reduced mean) n = *umlah data m = ,rutan data (1,2,-,.) :ilai koreksi simpangan (reduced standard de$iati%n ) ditentukan dengan rumus / 88888888888888888.. (2.5) .

imana /

= "tandar de$iasi dari reduksi $ariate ( standar de$iati%n %f the reduced $ariate), nilain&a tergantung dari jumlah data 'n = )%reksi rata!rata (reduced mean) = (ilai rata!rata 'n n = *umlah data

c. ;ntensitas curah hujan ;ntensitas curah hujan adalah jumlah hujan per satuan *aktu yang relatif singkat, dinyatakan dalam mm-jam, mm-menit, mm-detik. ;ntensitas curah hujan biasanya dinotasikan dengan huruf <;< , yang artinya tinggi atau kedalaman yang terjadi dalam *aktu satu jam adalah sekian mm. 1esarnya curah hujan " (satu) jam dihitung dengan cara Partial "eries yaitu pengolahan data dilakukan dengan mengambil data curah hujan yang melebihi suatu nilai tertentu dengan mengabaikan *aktu kejadian hujan yang bersangkutan. &erhitungan intensitas curah hujan satu jam dilakukan dengan menggunakan rumus M%n%n%#e (Su*andhi, 200+) / 88888888...888888888 (2.7) sebagai berikut

imana / +2/ Tc

= urah hujan rencana perhari (2/ jam) = 0aktu k%nsentrasi (jam)

d. =aktu konsentrasi =aktu konsentrasi adalah *aktu yang diperlukan hujan untuk mengalir dari titik terjauh ketempat penyaliran. =aktu konsentrasi dapat dihitung dengan rumus dari >2irpich< . 88888888888888.. (2.9)

88888888888..888888888. (2..) $

imana / Tc ? *aktu terkumpulnya air (menit) @ ? ,arak terjauh sampai titik pengaliran (meter) A! ? 1eda ketinggian dari ttik terjauh sampai ketempat berkumpulnya air (meter) " ? gradient

2.3.2 Daera& Tang!a%an Hu(an


aerah tangkapan hujan adalah luas permukaan yang apabila terjadi hujan, maka air hujan tersebut akan mengalir ke daerah yang lebih rendah menuju ke titik pengaliran. Air yang jatuh kepermukaan sebagian meresap kedalam tanah, sebagian ditahan oleh tumbuhan dan sebagian lagi akan mengisi liku)liku permukaan bumi, kemudian mengalir ketempat yang lebih rendah. Semua air yang mengalir dipermukaan belum tentu menjadi sumber air dari suatu sistem penyaliran. 2ondisi ini tergantung dari daerah tangkapan hujan dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kondisi topografi, rapat tidaknya (egetasi dll. aerah tangkapan hujan merupakan

suatu daerah yang dapat mengakibatkan air limpasan permukaan mengalir kesuatu tempat (daerah penambangan) yang lebih rendah. &enentuan luas daerah tangkapan hujan berdasarkan peta topografi daerah yang akan diteliti. aerah tangkapan hujan ini dibatasi oleh pegunungan dan bukit)

bukit yang diperkirakan akan mengumpulkan air hujan sementara. Setelah daerah tangkapan hujan ditentukan, maka diukur luasnya pada peta kontur, yaitu dengan menarik hubungan dari titik)titik yang tertinggi disekeliling tambang membentuk poligon tertutup, dengan melihat kemungkinan arah mengalirnya air, maka luas dihitung dengan menggunakan komputer dan planimeter atau millimeter blok (Su*andhi, 200+).

2.3.3 Air )im%asan


Air limpasan adalah bagian dari curah hujan yang mengalir diatas permukaan tanah menuju sungai, danau atau laut. Aliran itu terjadi karena "0

curah hujan yang mencapai permukaan bumi tidak dapat terinfiltrasi, baik yang disebabkan karena intensitas curah hujan atau faktor lain misalnya kelerengan, bentuk dan kekompakan permukaan tanah serta (egetasi. 6aktor)faktor yang berpengaruh adalah / a) 0urah hujan yaitu banyaknya curah hujan, intensitas curah hujan dan frekuensi hujan b) 3anah yaitu jenis dan bentuk toprografi c) 3utupan yaitu kepadatan, jenis dan macam (egetasi. d) @uas daerah aliran 'ntuk memperkirakan debit air limpasan maksimal digunakan rumus rasional yaitu / 1 = 2,234 5 imana / 1 = = 6 = 7 = 5 6 5 7 888888888888. (2.$)

de#it air limpasan maksimum (m-8detik) k%efisien limpasan (Ta#el 2.1) 6ntensitas curah hujan (mm8jam) 9uas daerah tangkapan hujan (km2) merupakan bilangan yang menunjukkan

2oefisien

limpasan

perbandingan besarnya limpasan permukaan dengan intensitas curah hujan yang terjadi pada daerah tangkapan hujan (Amin, 2002). 2oefisien limpasan tiap)tiap daerah berbeda, dapat dilihat pada 3abel 2.". 3abel 2." 2oefisien limpasan (Sosrodarsono, "$$%) 2oefisien Macam permukaan @impasa n @apisan batubara (coal seam) ,alan pengangkutan asar pit dan jenjang pit (pit floor B bench) @apisan tanah penutup (fress o(erburden) @apisan tanah penutup yang di tanam (re(egetated o(erburden) !utan (natural rain forest) " 0,$ 0,95 0,75 0,55 0,5 ""

1eberapa faktor)faktor yang harus diperhatikan adalah / 2erapatan (egetasi aerah dengan (egetasi yang rapat, akan memberikan nilai 0 yang kecil, karena air hujan yang masuk tidak dapat langsung mengenan tanah, melainkan akan tertahan oleh tumbuh)tumbuhan, sedangkan tanah yang gundul akan memberi nilai 0 yang besar. 3ata guna lahan @ahan persa*ahan atau ra*a)ra*a akan memberikan nilai 0 yang kecil daripada daerah hutan atau perkebunan, karena pada daerah

persa*ahan misalnya padi, air hujan yang jatuh akan tertahan pada petak)petak sa*ah, sebelum akhirnya menjadi limpasan permukaan.

2emiringan tanah aerah dengan kemiringan yang kecil (C%D), akan memberikan nilai 0 yang kecil, daripada daerah dengan kemiringan tanah yang sedang sampai curam untuk keadaan yang sama (!artono, 200.).

2.3.* Air Tana&


Air tanah adalah air yang bergerak dalam tanah yang terdapat di dalam ruang)ruang antara butir)butir tanah dan didalam retak)retak batuan (Sosrodarsono,"$$%). 1eberapa istilah penting (Amin, 2002) / ") 7:uifer adalah lapisan tanah yang permeabel atau lolos, sehingga dapat meloloskan air. 3iga a:uifer yang dikenal /

"2

a) Akuifer pori yaitu akuifer yang kelolosanya disebabkan oleh pori)pori di antara butir)butir padatan. b) Akuifer rekahan yaitu akuifer yang kelolosannya dipengaruhi oleh rekahan)rekahan yang terdapat pada lapisan batuan. c) 2arstakuifer yaitu akuifer yang terdapat pada batu gamping karst. 2) 7:uifuge adalah lapisan tanah-batuan yang impermeabel - tidak lolos air sehingga tidak memiliki kemampuan untuk menyimpan dan meloloskan air. %) 7:uiclude adalah lapisan tanah yang dapat menyimpan air tetapi tidak dapat mengalirkanya. +) 7:uitard merupakan aEuifer yang secara regional mempengeruhi

neraca air tetapi tidak cukup untuk dimanfaatkan.

2.* Saluran Penyaliran


Saluran penyaliran berfungsi untuk menampung dan mengalirkan air ke tempat pengumpulan (kolam penampungan) atau tempat lain. 1entuk penampang saluran umumnya dipilih berdasarkan debit air, tipe material serta kemudahan dalam hal pembuatannya. yang perlu Merancang bentuk lain / saluran dapat

penyaliran,

beberapa

dipenuhi

antara

mengalirkan debit air yang direncanakan, mudah dalam penggalian saluran. &erhitungan kapasitas pengaliran suatu saluran air dilakukan dengan rumus Manning sebagai berikut / 1 = 18n 5 +28- 5 "182 5 7 88888888888888 (2."0) imana / 1 = de#it (m-8detik) + = jari!jari hidr%lik (m) " = kemiringan saluran (;) "%

7 n

= 9uas penampang #asah (m2) = k%efisien kekasaran manning (Ta#el 2.2) 3abel 2.2 2oefisien kekasaran dinding saluran Manning (Amin, 2002) 3ipe inding Saluran !arga n 0,0"0 0,0"+ 0,0"" 0,0"7 0,0"2 0,020 0,0"% 0,0"9 0,020 0,0%0 0,020 0,0%5 0,25 0,0+0 4 4 4 4 4 4 )

Semen 1eton 1atu 1esi 3anah #ra(el 3anah yang ditanami

alam sistem penyaliran itu sendiri terdapat beberapa bentuk penampang penyaliran yang dapat digunakan. 1entuk penampang

penyaliran diantaranya bentuk segi empat, bentuk segi tiga dan bentuk trapeFium (!artono, 200.). 1entuk)bentuk penampang dapat dilihat pada gambar 2.2. 1eberapa macam penampang saluran / ". 1entuk segi empat @ebar dasar saluran (b) @uas penampang basah (A) ? 2 d 2eliling basah (&) 2. 1entuk segi tiga Sudut tengah ? $0o
2

? 2d
2

? /d

@uas penampang basah (A) ? d ,ari)jari hidrolis (G) 2eliling basah (&)

? d8 2<2 ? 2d . <2 "+

%. 1entuk trapesium alam menentukan dimensi saluran bentuk trapesium dengan luas maksimum hidrolis, maka luas penampang basah saluran (A), jari)jari hidrolis (G), kedalaman aliran (d), lebar dasar saluran (b), penampang sisi saluran dari dasar kepermukaan (a), lebar permukaan saluran (1), faktor kemiringan (F) dan kemiringan dinding saluran (H), mempunyai hubungan yang dapat dinyatakan sebagai berikut / 7 =#.d=>.d + = 2,? . d @ = # = 2> . d #8d= 2 A(1 = >2)2,? ! >) a = d8sin
2

P =#=2d

+ =

#ambar 2.2 1entuk)bentuk penampang saluran (#autama, "$$$)

"5

1entuk penampang saluran yang paling sering digunakan dan umum dipakai adalah bentuk trapesium, sebab efisien dan stabilitas kemiringan dindingnya dapat disesuaikan menurut keadaan daerah. 'ntuk dimensi penyaliran dengan bentuk trapesium dengan luas penampang optimum dan mempunyai sudut kemiringan 70 0 (#ambar 2.%), maka faktor kemiringan adalah / F ? "-tg ? "- tg 700 ? 0,5. Sehingga harga b-d adalah / b-d? 2 I(" J F2)0,5 ) FK ? 2 I(" J 0,5.2)0,5 4 0,5.K ? ","5

#ambar 2.% &enampang saluran bentuk trapeFium (#autama, "$$$) 2emiringan dasar saluran ditentukan dengan pertimbangan bah*a suatu aliran dapat mengalir secara alamiah tanpa terjadi pengendapan "7

lumpur pada dasar saluran, dimana menurut &.fleider ("$7.) kemiringan antara 0,25 D 4 0,5 D sudah cukup untuk mencegah adanya pengendapan lumpur berupa adanya pengendalian. alam hal ini maka harga kemiringan

saluran (D) merupakan syarat agar tidak terjadi pengendapan partikel padatan.

2.+ Sump ,Sumuran"ump berfungsi sebagai tempat penampungan air sebelum dipompa keluar tambang. imensi sump tergantung dari jumlah air yang masuk serta

keluar dari sump. &elaksanaan kegiatan penambangan biasanya dibuat sump sementara yang disesuaikan dengan keadaan kemajuan medan kerja (fr%nt) penambangan. ,umlah air yang masuk ke dalam sump merupakan jumlah air yang dialirkan oleh saluran)saluran, jumlah limpasan permukaan yang langsung mengalir ke sump serta curah hujan yang langsung jatuh ke sump. Sedangkan jumlah air yang keluar dapat dianggap sebagai yang berhasil dipompa, karena penguapan dianggap tidak terlalu berarti. Lptimalisasi antara input (masukan) dan %utput (keluaran), maka dapat ditentukan (olume dari sump. imensi sump yang digunakan adalah sump

yang berbentuk trapeFium dengan (olume (M) sebagai berikut (Amin, 2002)/ B%lume = ( 9uas atas = 9uas #awah ) 5 C tinggi 888..(2."") "ump ditempatkan pada ele(asi terendah atau floor

penambangan, jauh dari aktifitas penggalian batubara sehingga tidak akan menggangu produksi batubara.

2.. Pom%a
&ompa berfungsi untuk memindahkan atau mengeluarkan air dari tempat yang rendah yaitu air yang ada pada kolam penampungan ( sump)

"9

pada lantai kerja penambangan ke tempat yang lebih tinggi (keluar tambang) (Amin, 2002). Sesuai dengan prinsip kerjanya, pompa dibedakan atas / a) +ecipr%cating Pump 2euntungan jenis ini adalah efisien untuk kapasitas kecil dan umumnya dapat mengatasi kebutuhan energi (julang) yang tinggi. 2erugiannya adalah beban yang berat serta perlu pera*atan yamg teliti. &ompa jenis ini kurang sesuai untuk air berlumpur karena katup pompa akan cepat rusak. Lleh karena itu jenis pompa ini kurang sesuai untuk digunakan di tambamg. #) entrifugal Pump &ompa ini bekerja berdasarkan putaran impeller di dalam pompa. Air yang masuk akan diputar oleh impeller, akibat gaya sentrifugal yang terjadi air akan dilemparkan dengan kuat ke arah lubang pengeluaran pompa. &ompa jenis ini banyak digunakan di tambang, karena dapat melayani air berlumpur, kapasitasnya besar, dan pera*atannya lebih muda. c) 75ial Pump &ada pompa aksial, Fat cair mengalir pada arah aksial (sejajar poros) melalui kipas. 'mumnya bentuk kipas menyerupai baling)baling kapal. &ompa ini dapat beroperasi secara (ertikal maupun horiFontal. ,enis pompa ini digunakan untuk julang yang rendah.

".