Anda di halaman 1dari 17

PRESIDEN

PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN


Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat. (Pasal 6A (1)) Diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu sebelum pemilu. (Pasal 6A (2)) mendapatkan suara > 50% jumlah suara dalam pemilu dengan sedikitnya dua puluh persen suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi (Pasal 6A (2))

PEMILU

PRESIDEN DAN WAPRES

Dalam hal tidak ada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih Pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dalam pemilu Pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak kedua dalam pemilu Pasangan yang Memperoleh Suara terbanyak (Pasal 6A (4))

PEMILU

P E M I L I H A N P R E S I D E N

1. Calon Presiden dan Wakil Presiden harus seorang WNI sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri, tidak pernah mengkhianati Negara, serta mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Presiden dan Wapres. 2. Presiden dan Wapres dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat. 3. Pasangan Calon Presiden dan Wapres diusulkan oleh Parpol atau gabungan Parpol peserta pemilu sebelum pelaksanaan pemilu. 4. Pasangan calon Presiden dan Wapres yang mendapat suara lebih dari 50% dari jumlah suara dalam pemilu dengan sedikitnya dua puluh persen suara di setiap propinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah propinsi di Indonesia, dilantik menjadi Presiden dan Wapres.

5. Dalam hal tidak ada pasangan calon Presiden dan Wapres terpilih, dua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilu dipilih oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang memperoleh suara rakyat terbanyak dilantik sebagai Presiden dan Wapres. 6. Tata cara pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wapres lebih lanjut diatur dalam undang-undang. 7. Presiden dan Wapres memegang jabatan selama 5 (lima) tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.

PENGUSULAN PEMBERHENTIAN PRESIDEN DAN/ATAU WAKIL PRESIDEN


DPR
Pendapat DPR bahwa Presiden da/atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaranhukum ataupun telah tidak lagi memenuhi syarat (Pasal 7B (2)) Pengajuan permintaan Dewan Perwakilan Rakyat kepada MK hanya dapat dilakukan dengan dukungan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota (Pasal 7B (3)) DPR menyelenggarakan sidang paripurna untuk meneruskan usul pemberhentian kepada MPR (Pasal 7B (5))

MPR
Wajib menyelenggarakan sidang untuk memutuskan usul DPR paling lambat 30 hari sejak usul diterima (Pasal 7B (6))

Presiden dan/atau Wakil Presiden terus menjabat

terbukti

Tidak terbukti

Keputusan diambil dalam rapat paripurna dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 dari jumlah anggota, disetujui kurangnya 2/3 jumlah yang hadir, setelah Presiden dan/atau Wakil Presiden diberi kesempatan menyampaikan penjelasan (Pasal 7B (6))

Usul DPR tidak diterima

Usul DPR diterima

MK
wajib memeriksa, mengadili, dan memutuskan paling lama 90 hari setelah permintaan diterima (Pasal 7B (3))

Presiden dan/atau Wakil Presiden diberhentikan

P E M B E R H E N T I A N Presiden

1. Presiden dan Wapres dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh MPR atas usul DPR, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap Negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wapres.

2. Usul Pemberhentian presiden dan /atau Wapres dapat diajukan oleh DPR kepada MPR hanya dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada Mahkamah Konstitusi untuk memeriksa, mengadili, dan memutus pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wapres telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap Negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela; dan/atau pendapat bahwa Presiden dan/atau Wapres tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wapres.

3. Pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wapres telah melakukan pelanggaran hukum tersebut ataupun telah tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wapres adalah dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan DPR.
4. Pengajuan permintaan DPR kepada Mahkamah Konstitusi hanya dapat dilakukan dengan dukungan sekurang-kurangnya 2/3 ari jumlah anggota DPR yang hadir dalam siding paripurna yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota DPR.

5.Mahkamah Konstitusi wajib memeriksa, mengadili dan memutus dengan seadil-adilnya terhadap pendapat DPR tersebut paling lama sembilan puluh hari setelah permintaan DPR itu diterima oleh Mahkamah Konstitusi.

6. Apabila Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa Presiden dan/Wapres terbukti melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap Negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela; dan/atau pendapat bahwa Presiden dan/atau Wapres tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wapres, DPR menyelenggarakan Sidang Paripurna untuk meneruskan usul pemberhentian presiden dan/atau Wapres kepada MPR. 7.MPR wajib menyelenggarakan sidang untuk memutuskan usul DPR tersebut paling lambat tiga puluh hari sejak MPR menerima usul tersebut.

8.

Keputusan MPR atas usul pemberhentian Presiden dan/atau Wapres harus diambil dalam rapat paripurna MPR yang dihadiri sekurang-kurangnya dari jumlah anggota yang hadir, setelah Presiden dan/atau Wapres diberi kesempatan menyampaikan penjelasan dalam rapat paripurna MPR.

9. Jika Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia digantikan oleh Wakil Presiden sampai habis masa jabatannya. 10. Dalam hal terjadi kekosongan Wapres, selambat-lambatnya dalam waktu empat puluh hari, MPR menyelenggarakan Sidang untuk memilih Wapres dari dua calon yang diusulkan oleh Presiden.
11. Jika Presiden dan Wapres mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara bersamaan, pelaksana tugas kepresidenan adalah Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Pertahanan secara bersama-sama. Selambat-lambatnya tiga puluh hari setelah itu, MPR menyelenggarakan sidang untuk memilih Presiden dan Wapres dari dua pasangan calon Presiden dan Wapres yang diusulkan oleh Parpol atau gabungan parpol yang pasangan calon Presiden dan Wapresnya meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilu sebelumnya, sampai berakhir masa jabatannya.

PEMILIHAN WAKIL PRESIDEN DALAM HAL TERJADI KEKOSONGAN WAKIL PRESIDEN (PASAL 8 (2))

PRESIDEN

MENGAJUKAN DUA CALON WAPRES

MPR Selambatlambatnya dalam waktu 60 hari menyelengga rakan sidang MPR untuk memilih Wapres

WAPRES TERPILIH

PEMILIHAN PRESIDEN WAPRES DALAM HAL KEDUANYA BERHALANGAN TETAP SECARA BERSAMAAN (PASAL 8 (3))

Parpol atau gabungan parpol yang pasangan calon Presiden dan Wapresnya meraih suara terbanyak pertama dalam pemilu sebelumnya

Mengusulkan pasangan calon Presiden dan Wapres

Presiden dan Wapres

MPR
Selambat-lambatnya dalam waktu 30 hari menyelenggarakan sidang MPR untuk memilih

Parpol atau gabungan parpol yang pasangan calon Presiden dan Wapresnya meraih suara terbanyak kedua dalam pemilu sebelumnya

Mengusulkan pasangan calon Presiden dan Wapres

KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA


DPR
Dengan persetujuan

PRESIDEN
Menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain dan internasional lainnya (Pasal 11 (1) dan (2)) Menyatakan keadaan bahaya (Pasal 12) Dengan pertimbangan Mengangkat dan menerima duta (Pasal 13 (2) dan (3)) Memberi grasi dan rehabilitasi (Pasal 14 (1)) Memberi amnesti dan abolisi (Pasal 14 (2)) Memberi gelar, tanda jasa dan lainlain tanda kehormatan yang diatur dengan undang-undang (Pasal 15)

MA

Dengan pertimbangan

Dengan pertimbangan

Kekuasaan Presiden sebagai Kepala Negara


1. Presiden memegang kekuasaan tertinggi atas Angakatan Darat, Angakatan Laut dan Angkatan Udara. 2. Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain.

3. Presiden dalam membuat perjanjian internasional harus dengan persetujuan DPR.

4.
5.

Ketentuan lebih lanjut tentang perjanjian internasional diatur dengan undang-undang.


Presiden menyatakan keadaan bahaya. Syarat-syarat dan akibatnya keadaan bahaya ditetapkan dengan undang-undang. Presiden mengangkat duta dan konsul

6.

7. Dalam hal pengangkatan duta, Presiden memperhatikan pertimbangan DPR.

8. Presiden menerima penempatan duta Negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR. 9. Presiden memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung. 10.Presiden memberi Amnesti dan Abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR. 11.Presiden memberi gelar, tanda jasa, dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dalam undangundang. 12.Presiden membentuk suatu dewan pertimbangan yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden, yang selanjutnya diatur dalam undang-undang 13.Presiden mengangkat dan meberhentikan Menterimenteri.

Wakil Presiden Dalam melakukan kewajibannya Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden. Jika Presiden meninggal dunia, berhenti, diberhentikan atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatan yang telah ditentukan, maka wakil presiden menggantikan kedudukan presiden sampai habis masa jabatannya. 1) Membantu presiden dalam melakukan kewajibannya; Tugas dan wewenang wapres, meliputi :
2) Menggantikan presiden sampai habis masa jabatannya jika presiden meninggal dunia, berhenti, diberhentikan atau tidak dapat melaksanakan kewajibannya dalam masa jabatan yang telah ditentukan;

3) Memperhatikan secara khusus, menampung masalah-masalah yang perlu menyangkut bidang tugas kesejahteraan rakyat; dan

4) Melakukan pengawasan operasional pembangunan, dengan bantuan departemen-departemen, lembagalembaga non departemen, dalam hal ini inspektur jenderal dari departemen yang bersangkutan atau deputi pengawasan dari lembaga non departemen yang bersangkutan.

KEMENTRIAN NEGARA DAN DEWAN PERTIMBANGAN


PRESIDEN

Membentuk suatu dewan pertimbangan yang bertugas memberikan nasehat dan pertimbangan kepada presiden (Pasal 16)

Dibantu menterimenteri negara (Pasal 17 (1))

Yang diangkat da diberhentikan oleh Presiden (Pasal 17 (2))


Membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan (Pasal 17 (13)

Pembentukan, pengubahan, dan pembubaran kementrian negara diatur dalam undang-undang (Pasal 17 (4))